A Friend To Kiss

Cast: Lee Taemin, Yoon Jisun, Seo Eunkyung, Son Naeun

Rating: PG

Length: Oneshot

Disc: Inspirasi dari mana saja, dari berita di Allkpop yang judulnya SHINee Taemin Would Kiss His Friend.

Yoon Jisun belongs to Rara onnie, pinjem nama onn! Wkwk.

Continue reading

Advertisements

I am Part 2

Cast:

___ (Whoever)

Lee Taemin

Kim Jongin / Kai

Others

Genre: i hate to mention romance! Abal-abal pula. Padahal mau buat yang dark action ada angst angstnya atau apalah, ujung-ujungnya balik lagi ke romance. AAAAA

Rating: Parents guide (Ajak mamanya baca bareng)

Lenght: Short series yang seharusnya dibuat oneshot, tapi karna authornya ngebet pengen post, jadi dibuat bersambung.

Previous: 1

“Kyaaa! Ada yang mengintip!”

‘Tempat biasa, aku membawa seorang teman.’

Ia malah mengedip menjijikkan. Muka dua, kepribadian ganda.Hanya karena ia klienku, kalau tidak aku tak sudi dekat-dekat dia.

Part 2

___’s pov

Aku memasuki kawasan sebuah klub malam terselubung. Bangunannya hanya terlihat seperti sebuah minimarket biasa dari luar.

Begitu sampai di ruangan belakang, aku ditahan oleh dua orang security, namun setelah melihat wajahku, mereka mempersilakanku masuk.

Langkahku kupercepat sepanjang koridor yang hanya diterangi temaram cahaya dari lampu 5 watt. Aku tak suka gelap. Semakin mendekat ke ujung lorong, suara hiruk pikuk dan dentuman musik disco mulai terdengar.

Kental sekali aroma alkohol. Satu lagi yang aku tidak suka. Baru sampai di depan pintu masuk, seseorang melambai kepadaku, tanda kedatanganku memang sudah ditunggu. Berjalan menyebrang dari depan pintu masuk ke meja counter bar yang hanya dipisahkan jarak tidak lebih dari 10 meter terasa sangat sulit karena gerombolan orang mabuk yang menari-nari di atas lantai membuatku sulit untuk menyeruak.

Klub ini lebih banyak didatangi orang-orang muda, dengan umur berkisar 16-30 tahun.

“Hai sayang.”

Aku tak merespon, melainkan duduk di kursi tinggi di depan meja counter minuman.

“Ingin minum apa nona?”

Aku menggeleng dan bartender itu kembali menekuni pekerjaannya mengelap gelas sloki.

“Di mana temanmu?”

Cowok beroutfit branded yang berdiri dengan tangan menopang di atas meja dan memegang segelas wine ini tersenyum kemudian menelengkan kepalanya ke arah sofa di sudut klub di mana seorang cowok duduk diapit beberapa orang perempuan yang mencekokinya minuman yang sudah jelas berupa alkohol.

“Your turn.”

Aku turun dari kursiku, mendatangi sofa tempat cowok yang dibawa Kai itu duduk. Kedua perempuan bar yang masih seumuran denganku menyingkir, memberiku celah untuk duduk.

“Hai, aku ___.” Aku mengambil tempat duduk hampir mendempetnya. Cowok itu mendongak menatapku.

“Halo.” Nafasnya bau alkohol, sudah mabuk rupanya. Aku menatap cowok ini, bukan tipikal anak nakal pembuat onar, sekali lagi Kai menjerumuskan anak yang baik.

“Jadi siapa namamu tampan?” Aku tak yakin suaraku benar-benar terdengar menggoda.

“Hahaha, namaku ya? Namaku tidak penting, karena julukan ‘Nerd’ sudah menjadi namaku sekarang. Aku mau minum itu lagi!”

Kuambil sebotol bir yang isinya sudah berkurang setengah, menuangnya ke dalam gelas yang sedari tadi dipegang anak itu.

“Memangnya mauku menjadi kaum tersingkir, setiap hari, diolok-olok, diperlakkan seperti binatang? Siapa yang mau seperti itu! Makanya berhenti menghinaku!”

Frustasi dengan kehidupan? Baiklah, tugasku menunggunya menyelesaikan racauan tidak penting ini dan aku bisa pulang.

“….mereka tidak punya otak.” Ia sudah berhenti mengoceh.

“Sudahlah, aku bisa membuatmu melupakan semua itu dengan ini.” Aku mengeluarkan bungkusan berisi serbuk putih yang sudah kugenggam dari tadi.

“Itu, apa?” ia bertanya dengan mata yang meram melek.

“Ini, bisa membuatmu senang, membuatmu lebih rileks dan melupakan semua masalahmu.”

“Aku harus bayar berapa?”

Target locked.

“Ambil saja, gratis untuk teman baruku.” Aku menyodorkan bungkusan itu dan menyelipkan secarik kertas.

“Kau baik sekali.” Aku menyeringai samar mendengarnya.

Dan bagaiamana ia terlihat asing menggunakan barang itu, menyatakan kalau dia memang baru pertama ini memakainya, aku merasa ada sesuatu yang aneh, entah kenapa, aku hanya merasa kalau yang aku lakukan itu tidak baik, benarkah? Memang masih ada hal baik yang pernah aku lakukan sekarang?

Aku beranjak meninggalkan sofa menuju pintu keluar, kepalaku terasa sedikit berat, aku ingin cepat sampai rumah.

“___!”

“___!”

Namaku dipanggil berulang kali, sebenarnya aku telah mendengar panggilan pertama dari Kai semenjak di dalam bar, tapi aku pura-pura tak mendengar, namun di koridor yang sepi ini aku tak punya pilihan selain menoleh.

“Maaf, aku merasa tidak sehat, aku sudah boleh pulang bukan?”

Wajah Kai yang tidak terlalu jelas terlihat, menunduk mendekat ke wajahku, hingga kulit  kami bersentuhan,  dan ia membiarkannya sebentar.

“Kuantar, kau agak hangat!”

Pernyataannya perintah, bukan tawaran, ia merangkul badanku dan menuntunku berjalan.

“Aku hanya demam Kai, jangan perlakukan aku seperti nenek lansia.” Kutepis tangannya dari bahuku.

“Baiklah, bagaimana dengan ini?”

Aku bahkan tidak sempat berontak ketika tangannya sudah menopang tubuhku hingga aku tak lagi berpijak pada tanah. Kai menggendongku.

“Terserah kau sajalah.”

Ia tersenyum.

“Memang, dan akan terus begitu sayang.”

Kepalaku terasa semakin berat.

*

Author’s pov

Gadis kecil itu merangkak berusaha pergi menjauh, namun rambutnya ditarik dan dijambak dengan sangat kasar hingga ia berdiri.

“Hiks..hiks, ampun nyonya, bukan aku yang mencuri!”

PLAK PLAK!

“Tidak ada ampun untuk pencuri sepertimu, dasar tidak tahu diri!”

Pipinya membiru, bercak darah menghiasi sudut bibirnya.

Masih belum puas wanita dewasa yang tengah menarik rambut panjang gadis itu menampar berkali-kali.

Gadis lain yang terlihat beberapa tahun lebih tua melempar senyum sinis, sambil memegang sejumlah uang di belakang tubuhnya.

Pandangan wanita itu terarah pada sebuah gunting yang tergeletak di atas meja. Ia mengambil gunting itu dan memotong rambut gadis kecil yang hampir tak sadarkan diri di dekat kakinya.Wanita itu kemudian meninggalkan gadis kecil tadi.

Gadis itu meringkuk di ruangan gelap di belakang toko sendirian. Entah sudah berapa lama matanya terpejam, terlelap namun bukan pingsan. Ia terjaga karena dinginnya lantai yang menusuk kulit hingga ke tulang. Sekuat tenaga, ia menopang tubuhnya dengan tangan yang menyangga di lantai, tanpa sengaja menyentuh helaian rambut panjangnya yang telah digunting dengan brutal, ia berusaha menegakkan tubuhnya. Hingga ia berhasil berdiri di atas kedua kakinya yang sangat lemas dalam kegelapan.

Tubuhnya tidak seimbang, ia merosot ke lantai beberapa kali. Rasa pusing dan lapar yang amat sangat benar-benar menyiksa gadis kecil itu. Air matanya masih meleleh dari kedua matanya yang membiru. Tangannya meraba-raba sampai ia menemukan setumpuk kardus, ia berpegangan pada kardus itu, meniti jalan mencari letak pintu keluar.

Di tengah kegelapan malam, kedua kaki kecilnya melangkah  menyusuri emperan toko yang hanya diterangi cahaya lampu jalan.Ia terjatuh untuk ke sekian kalinya, tanpa sisa tenaga kali ini, ia tak sanggup berdiri lagi. Perlahan tapi pasti matanya meredup, kesadarannya memudar, namun belum hilang sepenuhnya.

Samar-samar matanya masih menangkap sebuah mobil yang menepi di pinggir toko. Gadis itu mengerjap lagi, beberapa sosok turun dari mobil tersebut.

Salah seorang di antaranya berjongkok di dekat tubuh gadis itu.

Dan gadis itu benar-benar pingsan seutuhnya.

Gadis itu mengerjap, pusing langsung menerjang kepalanya, membuat kelopak matanya semakin terasa sakit untuk dibuka.

“Kau sudah bangun?” suara bass seorang pria dewasa dengan setelan formal menyapa telinga gadis itu setelah tidur panjangnya hampir seharian penuh.

Kedua mata gadis itu memancarkan kesenduan, bibirnya rapat terkunci, ia merasa sangat asing dengan orang yang mengajaknya bicara itu, juga tempat dan suasana di mana ia berada.

“Paman tidak akan berbuat jahat, jangan takut.” Suara itu kembali berseru dengan irama yang lebih lembut.

Pelan-pelan gadis itu merasa yakin, kalau ia bisa mempercayai orang di hadapannya.

“Siapa namamu gadis kecil?”

Walaupun masih dengan takut, gadis itu akhirnya membuka suara.

“___.” Ujarnya sangat pelan.

Pria itu tersenyum.

“Mulai sekarang kau mau kan tinggal di sini?” Dengan nada yang lembut, gadis kecil itu sekali lagi merasa bahwa orang itu tidak akan menyakitinya.

Kepala gadis itu mengangguk-angguk pelan.

Pria itu tersenyum sekali lagi dan membelai rambut pendek gadis kecil itu.

CKLEK

Pintu ruangan kamar itu terbuka, sesosok anak laki-laki kecil melangkah masuk sambil memegangi robot mainannya.

“Appa, dia siapa?”

Anak laki-laki itu berdiri di dekat pintu.

Ayahnya yang duduk di kursi di pinggir ranjang tempat gadis kecil yang masih dipenuhi luka lebam di wajahnya berbaring beranjak berdiri mendekati bocah laki-laki itu. Pria itu menggendong anak laki-laki satu-satunya, tersenyum.

“Teman barumu Jongin, dia milikmu.”

TBC

p.s: Pendek yah. Sekali lagi, ff ini dikerjakan dengan mood, maaf kalo berantakan dan bahasanya kacau/ sulit dimengerti, jalan ceritanya juga mengalir seadanya.

Tetem gak muncul di sini, tapi di part selanjutnya ada kok.

I will update as soon as possible ^^


I am

Cast:

___ (Whoever)

Lee Taemin

Others

Genre: i hate to mention romance!

Rating: Parents guide (Ajak mamanya baca bareng)

Length: Short series yang seharusnya dibuat oneshot, tapi karna authornya ngebet pengen post, jadi dibuat bersambung.

credit: google

Kenapa ada Kai?

Karena dia ganteng *digantung*


Part 1

Aku, terlalu banyak berkhayal. Membayangkan, mengukir sebuah angan yang tentu hanya dapat menjadi mimpi. Terkadang aku duduk di atas bangku halaman belakang waktu subuh menjelang pagi, ketika aku sengaja bangun lebih awal untuk mengerjakan PR yang tak sanggup lagi kukerjakan di malam sebelumnya, aku menatap langit gelap, dan membiarkan udara dingin menyapu seluruh badanku. Dan di saat itu pikiranku akan melayang tentang bagaimana rasanya memiliki kehidupan sempurna layaknya hidup seorang gadis pemeran utama di drama-drama kebanyakan.

Sekarang kedua tungkai kakiku tengah melangkah menyusuri jalanan gang yang setiap hari secara rutin kulewati. Music player yang dulu kudapat setelah melakukan penghematan habis-habisan hampir selalu menyala memutar lagu-lagu ballad yang bertempo lambat dan bernada sedih selalu berhasil memancingku untuk berkhayal lagi. Apa yang kupikirkan adalah, seorang cowok most wanted jatuh cinta padaku, teman SMPnya yang antisosial dan tidak populer. Tapi cowok itu sudah punya kekasih, si cewek manja yang kaya raya. Dan ketika cewek itu dipermalukan habis-habisan di pesta ulang tahunnya oleh pacarnya sendiri –si cowok most wanted- karena pacarnya memutuskan ia tepat di acara puncak, aku si gadis cupu yang sengaja diundang untuk dikerjai di pesta ulang tahun itu, menjadi bulan-bulanan sang putri manja. Aku di dorong ke kolam renang –bukankah pesta ulang tahun orang kaya selalu memiliki latar kolam renang hotel mewah berbintang- dengan sadis oleh si cewek manja. Tentu saja sang cowok most wanted tanpa banyak berpikir melompat langsung ke dalam kolam masih komplit dengan setelan formalnya karena ia terlalu panik saat mendapati gadis yang membuat ia berpaling –tentu saja aku- kehabisan nafas dan meronta di dalam air. Cowok itu sukses membawaku dan mengangkatku ke tepi kolam renang. Tangannya menepuk-nepuk pipiku, namun ketika ia menemukan bercak merah yang mengalir dari pelipisku, dengan semakin panik ia menggendongku, berlari membawaku yang tengah pingsan dan berdarah menuju lift. Sementara tamu undangan hanyan menyaksikan kejadian itu seperti sebuah episode drama.

Semua lamunanku buyar begitu sebuah tangan melambai di depan mukaku. Aku menatap pemilik tangan itu sinis. Cowok jakung dengan rambut hitam yang setiap hari selalu kutemui di gang ini masih seperti biasa, menyedot dan menggigit sedotan yang menancap pada botol susu pisang yang rasanya seperti bubur bayi bagiku.

Aku melepas sebelah tali tas ransel dari bahuku, dan mengaduk isi tasku, mencari benda yang akan ditagih olehnya.

Sebuah pulpen. Dan ia tersenyum penuh arti menerima pulpen itu, lalu menyelipkan beberapa lembar won ke tanganku.

“Gomawo.”

Ia berlalu dari hadapanku.

Begitupun aku, kulanjutkan khayalan yang tertunda barusan, aku harus koma karena pendarahan akibat benturan di dinding kolam renang, atau langsung meninggal saja?

*

“___!”

“___!”

Aku mendongak sejumlah pasang mata tengah memandangi aku, hingga aku melihat guru bahasa inggris yang tengah berkacak pinggang berdiri di depan papan tulis.

“Silakan keluar.”

Aku membereskan tasku yang ringan dan pergi keluar ruangan kelas tanpa membungkuk.

Sambil menguap aku melangkah menuju toilet. Aku tertidur dari pelajaran pertama, dan yang membangunkanku adalah guru di pelajaran ketiga, ini membuatku merasa kebelet pipis dan sedikit lapar.

Sejenak aku berbelok ke toilet, aku mengurungkan langkahku karena pintu ke ruang ganti sedikit terbuka tidak sengaja kulihat sesosok tubuh tengah berjinjit di pinggir sekat bilik.

“Kyaaa! Ada yang mengintip!”

Begitu suara jejeritan histeris itu terdengar sosok yang dipastikan berjenis kelamin bukan perempuan itu melompat turun dari atas tumpukan kardus lalu lari menuju pintu yang berhubungan dengan toilet perempuan.

“Hai cantik!”

Ia lari terburu-buru, namun masih sempat-sempatnya melempar senyum mesum menjijikkan padaku.

Segerombolan murid perempuan yang tadi sedang ganti baju mulai keluar.

“Kau apa lihat ada laki-laki yang baru keluar dari sini?”

“Tidak tahu, aku baru masuk.”

Aku masuk ke salah satu bilik toilet sebelum mereka lebih berisik lagi.

Aku mencucui tangan dan membasuh wajahku dengan air dari wastafel tepat ketika ponselku bergetar.

“Aku butuh barangnya, kapan kita bisa bertemu?”

Kuketik sebuah alamat dan kukirim pesan balasan.

*

Masih terbalut seragam sekolah, aku menyusuri trotoar jalan. Langit gelap, matahari telah tenggelam beberapa jam yang lalu. Sekolah juga harusnya telah berakhir 2 jam yang lalu. Kuedarkan pandanganku ke sekitar. Jalanan begitu ramai dengan mobil-mobil yang melintas, toko-toko serta cafe dan tempat lainnya begitu disesaki oleh pengunjung. Hiruk pikuk dan aktivitas warga kota masih terasa hingga sekarang. Ramai.

Aku membiarkan kakiku melangkah. Dan di taman hangang lah aku sekarang.

“Bruk.”

Seorang bocah kecil terjatuh tak berdaya setelah menabrak kakiku.

Aku membungkuk karena ia mulai menangis.

“Merepotkan.” Desisku.

“Dimana ibumu?” Aku berjongkok dan membantunya berdiri.

Bocah itu terus menangis.

“Ya!” Anak itu memperkeras tangisannya, kurasa aku membentak di saat yang kurang tepat.

“Hey nona, kenapa kau ini, memarahi anakku sampai menangis!” Ibu  itu menggedong anaknya yang sangat cengeng dan melotot sebelum benar-benar pergi.

Aku duduk di bangku taman yang menghadap langsung ke sungai han, airnya begitu suram, gelap dan tenang, tapi pantulan cahaya lampu-lampu entah dari gedung atau, lampu jalan, atau lampu taman membuat sungai itu menjadi bagus.

Aku duduk dalam diam. Mengganti lagu secara acak, hingga berhenti di sebuah lagu yang aku sendiri tak tahu apa judulnya. Paling tidak lagu sedih ini cukup mendukung suasana untuk melamunkan hal-hal sedih.

Membayangkan apa yang tertangkap oleh mataku sekarang, seorang bocah laki-laki di gandeng oleh sepasang pria dan wanita sambil berjalan-jalan, jika terjadi padaku, akan bagaimanakah rasanya?

Apakah jika aku punya ibu, aku akan melawan dan memakinya karena melarangku pergi ke klub malam?

Jika aku punya ayah, apakah ia akan duduk di ruang tamu selama sejam mengintrogasi setiap laki-laki yang datang ke rumah?

Getar ponsel menghentikan lagu yang terputar sejenak.

‘Tempat biasa, aku membawa seorang teman.’

Baiklah, drama tentang gadis yang tak punya orang tua bersambung di sini, kembali bekerja.

*

“Permisi, toilet ada di sebelah mana?”

“Di sebelah sana nona.”

“Terima kasih.” Aku berjalan memasuki bagian dalam cafe menuju toilet, dengan cepat mengganti kemeja dan rok sekolah dengan pakaian yang kubawa dari rumah. Kusumpal begitu saja baju seragam ke dalam tas sambil berjalan keluar, tak sengaja badanku menubruk orang lain.

“Mian.” Ujarku singkat.

“Kau terburu-buru sekali cantik.”

Aku menegakkan kepalaku, Lee Taemin dan wajah bodohnya.

“Kukira kau hanya suka mengintip di toilet perempuan sekolah.”

Aku mendahuluinya.

“Terima kasih toiletnya.”

“Iya, sama-sama.” Tukas kasir cafe itu ramah.

“Silakan datang kembali nona.”

Aku menoleh sekilas padanya. Ia malah mengedip menjijikkan. Muka dua, kepribadian ganda.Hanya karena ia klienku, kalau tidak aku tak sudi dekat-dekat dia.

TBC

p.s: Halo! FF ini ff yang dikerjakan dengan mood, harap maklum kalau nggak ada lanjutannya.

Hey Baby.. Sitter [End]

Hey Baby.. Sitter

Cast: Seo Eunkyung, Choi Minho, Lee Taemin, Krystal Jung and others

Rating: SU

Genre: fluff, failed romance -__-

Prev. Part: Part 1

Summary:

SMent BANGKRUT *ayeyy* dan asetnya tercecer :mrgreen:

Part 2

 

Author’s Pov

“Oek.. oek.. huk.. hik..”  *sekali lagi, anggap aja ini suara nangis bayi*

Eunkyung ter(paksa)bangun karena suara berisik yang sangat dekat dengan telinganya. Jiseok rewel lagi. Kemarin 3 kali Eunkyung terbangun. Malam ini mau berapa kali?

“Cup.. cup.. Jisokie, mworagoyo?” Eunkyung mengangkat tubuh kecil Jiseok dari ranjang.

Refleks Eunkyung ketika pertama kali tangannya menyentuh basah baju bayi Jiseok adalah, dia hampir melepaskan tanganku dari Jiseok atau dengan kata lain HAMPIR MEMBANTING JISEOK KE LANTAI.

Continue reading

Melodies of Life (Part 2)

Casts:

Han Mi Kyong

Lee Taemin (SHINee)

Other casts:

Seo Eunkyung

Choi Minho (SHINee)

Genre: Romance (again)

Length: On going

Disclaimer:        I do own nothing, but story.

Yuhuu… bisa ngapdet lagi, hujan-hujan membawa berkah untuk ngelanjutin ff yang hampir tidak da minat untuk dilanjutkan lagi.

Gong xi gong xi !!

Happy Chinese and Lunar New Year!!

*nodong angpao isi koment*

yo wis, monggo dibaca..

Laki-laki itu, laki-laki pegawai toko itu sedang memainkan sebuah lagu dengan sangat menghayati. Tiba-tiba ia melihat ke arahku dan berjalan ke luar.

“Eh, hai, aku hanya kebetulan lewat. Haha, sampai jumpa!” Aku nyengir dan membungkuk sekilas setelahnya langsung berlari pulang ke rumah.

Aku menghentikan langkahku, well, ternyata bila kau berlari, hanya butuh kurang lebih 5 menit untuk sampai ke rumah. “Hhhh, hhh, capek sekali, Aaaaaaaaaaaaaaa!”

Continue reading

GLASSES (part 3/end)

Casts:
Han Mikyong

Lee Taemin

Lee Jinki

Park Ranran

Previous Part:

part 1, part 2

‘Mereka akrab sekali.’ Batinku. “Kau cemburu?” tanya seseorang. “Mungkin.” Jawabku tanpa menoleh dan terus menatap 2 orang itu dari jauh. “Aku juga!” 2 kata singkat itu sukses membuatku menoleh pada si pemilik suara.

Ranran’s pov

“Maksudmu?”

“Ha? Apa?” tanyanya balik.

“Tadi itu, kau bilang ‘aku juga’, apa maksudmu?” tanyaku.

“Ah sudahlah, itu tak penting. Bagaimana? Kau sudah minta bantuan gadis itu?” tanyanya mengalihkan pembicaraan. Aku beralih duduk di tempat yang tadi diduduki gadis itu dan Taemin sedangkan oppa tetap berdiri di sampingku. “Tadi aku mau kasih tau, tapi Taemin malah datang tiba-tiba, makanya aku langsung pergi ke sini.” Ceritaku. “Oppa!” panggilku, namun tak ada respon. “Jinki oppa!” panggilku sekali lagi dengan agak keras. “Ah, ye Ranran-ah.” Balasnya. “Kau memikirkan sesuatu?” tanyaku curiga.

Continue reading

GLASSES (part 2)

Casts:
Han Mikyong

Lee Taemin

Lee Jinki

Park Ran Ran

Previous part:

part 1

sebelumnya:

Saat berjalan keluar kelas, aku sangat terkejut, bahkan hampir jatuh ke belakang. Ada orang yang lewat, namun orang ini sangat pucat dan berlumuran sesuatu berwarna merah, yang kupikir itu darah, aku melihat orang itu berjalan gontai, teman-temanku yang ada di depan kelas tak ada yang terkejut sepertiku mereka bersikap biasa-biasa saja, kemudian di dekat tangga, aku melihat seseosok perempuan berambut panjang duduk di sana. Ada yang lebih aneh, seseorang lewat di sampingku dan masuk ke kelas sebelah, ada sebilah pisau yang tertancap di kepalanya yang berlumuran darah. Kupikir mereka sedang melakukan cosplay. Tapi aku melihat seorang yeoja yang sedang berdiri dan  memakai seragam sama sepertiku, aku kira dia anak baru, saat aku hendak menyapanya, teman sekelasku berjalan dan menembus tubuh yeoja tadi.

“MWO!”

Continue reading