OMO! part 2b

Title: OMO! Cast: Lee Jinki, Lee Sungyeol, Kim Hyeli Other: Keluarga Kim, Victoria Song, Lee Taemin, some others Rating: PG Length: Series Genre: AU–> genre mengarang bebas , family Poster: Felisa. Gomawo cintah 😀 😀 Part 2b Hyeli dan Sungyeol berjalan beriringan hingga sampai ke kelas, walaupun kata yang disebut berjalan bagi Sungyeol harus disamakan dengan berlari-lari kecil bagi Hyeli. “Ahh, kukira aku akan telat!!” seru Hyeli begitu memutar kenop pintu dan ia tak mendapati seorang pun berdiri atau duduk di belakang meja kebesaran guru. Begitu mendengar suara yang sudah dihafalkannya dengan baik-baik Jinki menoleh dari ponselnya. Sosok gadis yang sejak ia menginjakkan kakinya ke dalam kelas sudah menyita perhatiannya, karena tak biasanya gadis itu belum datang setelah ia sampai ke sekolah. “Harusnya aku yang bilang begitu!” Seru satu suara lain, milik Lee Sungyeol dengan mencibir pada Hyeli. Continue reading

OMO! Part 2a

Title: OMO!

Cast: Lee Jinki, Lee Sungyeol, Kim Hyeli

Other: Keluarga Kim, dll.

Rating: PG

Length: Series

Genre: AU, family –> nambah

Yang bisa buat poster, mohon bantuannya supaya foto butut berisi 2 orang ganteng (?) ini bisa dihilangkan dari peredaran.  ( ื▿ ืʃƪ)

Part 2a

Pagi yang cukup hangat untuk ukuran pagi di  musim dingin. Keluarga Kim bahkan sudah mulai ramai meskipun sekarang baru pukul 5 pagi.

Nyonya besar keluarga ini sudah bangun sejak pukul setengah empat pagi. Tanpa sempat mencuci muka, ia langsung melompat ke dapur dengan mata masih setengah terpejam. Pukul setengah 5 pagi Putri sulungnya Kim Hyeli bangun, jangan pernah berpikir bahwa gadis ini bangun pagi-pagi untuk membantu ibunya. Dengan muka berminyak dan rambut kusut ia melangkah ke ruang tengah, menyalakan lampu dan menghidupkan TV.

Continue reading

OMO!

Title: OMO!

Cast: Lee Jinki, Lee Sungyeol, Kim Hyeli

Other: Keluarga Kim

Rating: PG

Length: Series

Genre: AU

Part 1

Hampir setiap gadis merasa ia memiliki kisah cinta yang persis seperti opera sabun. Merasa dirinya adalah cewek biasa yang suka pada the most wanted guy di sekolah. Belum lagi ia akan menyesali takdir yang membuatnya terlahir sebagai seorang cewek yang tidak menarik. Hingga akhirnya ada satu hari di mana si cowok most wanted secara tidak sengaja melemparkan bola basket tepat menghantam wajah si cewek nerd, akhirnya mereka berdua menjadi dekat dan memutuskan untuk dating.

Sangat picisan.

Namun hal-hal picisan seperti ini hampir selalu diimpikan berjuta gadis-gadis.

Betapa sialnya harus kuakui, kalau aku termasuk dalam kategori gadis-gadis seperti itu.

Tas sekolah kulempar dengan bantingan kecil ke atas meja. Lagi-lagi aku harus duduk di kursi paling depan. Aku tidak pernah suka duduk di depan. Karena itu membuatku harus terus berpura-pura fokus memperhatikan setiap pelajaran yang membosankan. Satu-satunya alasanku yaitu aku tidak mau dicontek saat ulangan.

“CKLEK.”

Mataku melirik ke pintu, dan sesosok orang muncul perlahan-lahan dari sana. Seorang cowok, murid paling pendiam di kelas. Aku bahkan belum pernah bicara dengannya selama sekelas hampir satu semester kecuali waktu aku meminjam pena merah padanya. Ia berjalan menunduk dan dengan langkah yang diseret perlahan.

“Pagi.”

Ia menegakkan kepalanya melirikku, hanya sepersekian detik, dan dalam hitungan waktu yang terlalu singkat itu, kurasa ia tidak ada niatan untuk membalas salamku karena ia kembali melihat ke lantai berjalan dengan begitu malas menuju tempat duduk langganannya. Paling dekat dengan meja guru. Tepat saat ia duduk, pintu kelas terbuka pula.

Refleks yang kulakukan sama seperti sebelumnya, melihat ke arah pintu, namun kali ini ditambah sebuah senyum yang terukir sangat lebar-mugkin, karena aku tidak bisa melihatnya- saat seorang cowok jakung melewatinya.

“Selamat pagi Sungyeol!”

“Pagi Hyeli.”

Berlebihankah jika kubilang aku hampir lumer gara-gara senyumnya barusan. Cowok itu mengambil tempat duduk di sampingku.

O.O Di sampingku?

“Kau duduk di depan? Tumben?”

Ia yang baru mendaratkan bokongnya di kursi menoleh ke arahku dan hanya melemparkan satu senyuman tanpa aku mengerti maksudnya, sekaligus membuatku lumer sekali lagi. Suasana mendadak awkward saat tak seorang pun berbicara di ruangan ini.

Aku menoleh ke kanan dimana si cowok pendiam yang tengah menguap dengan mulut terbuka lebar.

Kemudian aku menoleh ke kiri ke arah salah satu cowok the most wanted di sekolah yang tengah memejamkan matanya mendengarkan musik dari earphone yang menyumpal telinganya.

Jika boleh kubuat perbandingan, maka di sebelah kananku, aku seperti melihat padang pasir yang gersang, sementara di sebelah kiri aku menemukan oasis yang indah dimana genangan air itu mampu menggantikan rasa gerah di padang pasir dengan kesejukan.

Hahaha, aku berlebihan.

Namun tanpa perlu berpikir dua kali, atau tanpa dipikir sama sekali, aku tentu lebih memilih memandangi sebuah objek yang sejuk-sejuk dari pada yang panas-panas.

Lihat bulu matanya yang panjang itu. Hidungnya, bibirnya. Hampir sempurna. Astaga kenapa Tuhan bisa menciptakan makhluk yang sangat mempesona seperti ini. Ia yang terlihat begitu menikmati alunan lagu sesekali mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja membuatku tanpa sadar jadi tersenyum. Dan sekarang kedua matanya terbuka secara perlahan. Kemudian ia menoleh dan melihat ke arahku.

“Kau melihat apa nona? Ada yang salah pada wajahku.”

“Anni. Kau sangat tampan.” Ujarku lancar dengan kedua tangan masih menopang di bawah dagu.

1 detik

2 detik

3 detik

“Aigo aigo babo!” pekikku tertahan begitu sadar atas kata-kata yang meluncur dari mulutku barusan, aku memalingkan wajahku darinya dan memukul kepalaku beberapa kali.

Aku menoleh lagi padanya. Lee Sungyeol, ia hanya tersenyum geli melihat reaksiku.

“Kalau…”

“Sungyeol-ah!” kulihat baru saja ia mau mengatakan sesuatu, namanya dipanggil seseorang dari ambang pintu.

Cowok kelas sebelah yang kuketahui bernama Choi Minho  terlihat menyebalkan dengan gaya sok kerennya bertengger di depan pintu.

“Apa?” balas Sungyeol.

Si cowok kelas sebelah melirikku sekilas kemudian pandangannya beralih kepada Sungyeol.

“Ah,abaikan. Maaf mengganggu!”

Cowok jakung itu melirikku lagi, melemparkan satu kedipan mata padaku sebelum benar-benar pergi.

‘Astaga, dipikir dia keren kedip-kedip kelilipan.’

“Hyeli!”

“Ya?”

Perhatianku beralih kembali pada Sungyeol.

“Kau…”

Sungyeol menggigit bibirnya. Kentara sekali kalau ia sedang gugup. Gugup? Untuk apa? Omo!

“Kau…”

Dia pasti ingin menembakku!

“Kau…”

Ya ampun!

“Hyeli, kau…”

“IYA! AKU MAU!”

Sungyeol menatapku dengan mata berbinar. Sesenang itu kah dia. FUFUFU

“Hyeli, kau serius?”

“Tentu saja!” aku menarik mulutku supaya bisa tersenyum selebar-lebarnya

“Hyeli-ya! Gomawoyo, kukira aku akan dapat nol untuk kuis kimia hari ini, jinja, gomawo! Aku tunggu contekanmu ya! Sampai jumpa!”

JLEGARRR

*

Author’s POV

Gadis berusia 17 tahun itu hampir selalu melakukan tindakan anarkis pada tas selempangnya yang sekarang sudah teronggok tak berdaya di atas lantai di bawah sofa ruang tamu setelah beberapa detik yang lalu dilempar oleh yang empunya dari pintu depan.

Ia melepas sepatunya kemudian membantingnya ke lantai.

“Cowok keren selalu nggak bener.”

Gadis itu melompat ke atas sofa panjang yang menghadap ke TV 32” di ruangan itu.

Tangannya terus memencet tombol remot bersamaan dengan berpindahnya chanel TV.

Kemudian ia berhenti di sebuah siaran milik stasiun tv swasta. Sebuah drama sore yang diputar 2 kali seminggu itu menjadi tontonan gadis pemilik nama Kim Hyeli sekarang.

Gadis pemeran utama yang merupakan anak baru di suatu sekolah terlihat sedang membawa setumpuk buku yang menjulang. Dari arah yang berlawanan seorang cowok sedang berlari dengan kecepatan tinggi sambil melihat jam tangannya hingga cowok itu kembali menoleh ke depan, jaraknya dengan si gadis pemeran utama sudah terlalu dekat hingga tabrakan tidak bisa dielakkan. Buku-buku yang berada di atas tangan gadis itu sudah berterbangan tak tentu arah sementara gadis itu sendiri terhuyung kehilangan keseimbangan akibat tabrakan si cowok itu begitu keras. Dan dengan penuh dramatisasi si cowok menangkap tubuh gadis itu, memeluk pinggangnya hingga jarak kedua wajah orang itu begitu dekat dan terlihat bagaimana cewek itu terlihat bodoh memandangi si cowok super keren bak malaikat turun dari khayangan menyelamatkan dia.

Sementara si cewek pemeran utama dan cowok keren itu tengah sibuk-sibuknya berpose memandangi satu sama lain, cewek bernama Kim Hyeli itu sudah mesem-mesem sendiri menggigiti dasinya seolah-olah merasakan bahwa dia adalah cewek di drama itu.

Pintu terbuka secara tiba-tiba.

Hyeli tak menggubrisnya.

“Aku pulang!”

Gadis itu masih terlihat tidak peduli. Tatapannya masih intens ke arah TV.

Ia masih tidak menyadari seseorang menjatuhkan diri di sofa tepat di sampingnya.

Namun di saat sosok itu meraih remot dan mengganti chanel TV,

“YA! JANGAN MAIN GANTI SEENAKNYA!”

“Ck. Sudah jelek, berisik, kerjaanmu hanya nonton drama percintaan, mau jadi apa kau?” suara berat milik cowok kali ini terdengar.

“Hey, kau pikir mukamu bagus? Sini remoteku!”

Cowok itu beranjak melompat dari sofa menghindar dari Hyeli, kemudian tangannya yang memegang remote TV berwarna hitam terangkat ke atas dan remote itu telah berpindah ke atas bufet.

“itu remotnya sana ambil cebol!” Sementara cowok itu tertawa-tawa, Hyeli mengambil bantal sofa yang notabene adalah barang terdekat dari tempatnya berada dan detik berikutnya bantal itu sudah melayang ke arah… bufet.

PRANG!

Lemparan yang gagal total mengenai muka adiknya malah meleset dengan sempurna menghantam sebuah vas porselene kesayangan ibu mereka.

“Err, kukira aku harus pergi ke rumah Taemin sekarang, aku pergi!” Kwangmin melangkah dengan kaki panjangnya ke arah pintu.

“BLAM”

Tinggallah Hyeli dengan puing-puing vas ibunya serta puing-puing harapan tas LV incarannya yang dijanjikan sang ibu minggu depan.

*

CKLEK

Hyeli hampir melompat saat mendengar kenop pintu yang ditekan.

“Kami pulang!” dan begitu yang terdengar suara tenor cowok diikuti dengan munculnya dua sosok manusia yang sangat ia kenali dari ruang depan, Hyeli dengan tanpa sadar menghela nafas lega.

“Eonni! Aku lapar!”

“Noona, sedang apa kau?”

Respon berbeda dari kedua orang yang baru datang tersebut bersamaan ditujukan pada kakak malang mereka, Hyeli.

“Youngmin-ah…”

“Aku memecahkan vas ibu!” Hyeli sudah hampir mewek dengan wajah suram yang berkaca-kaca.

“Hyemi duduk di sofa dulu ya, nanti kakinya kena kaca, oppa mau bantu eonnie!” Cowok yang sama jakungnya dengan Kwangmin itu melepaskan gadis kecil berkuncir dua di gendongannya ke atas sofa.

“Tapi aku lapar.” Rengek gadis itu lagi.

“Ya! Biarkan oppa bantu noona dulu arra!” Hyeli berseru sambil terus berkutat dengan puing-puing vas.

“AKU PULANG!!!”

Sebuah suara cempreng lagi terdengar.

Bocah laki-laki bertubuh cungkring berlari masih dengan tas sekolahnya melewati 3 orang kakak beradik di ruang tengah.

“MINWOO!! JANGAN LARI-LARI NANTI KAKIMU KENA KACA!! Suara seriosa Hyeli yang mungkin secara genetik diturunkan dari ibunya membuat dua adiknya yang lain menutup telinga.

“OPPA AKU LAPAR!!”

“ARRKH EONNIEEE!! KAKIKU BERDARAH!”

“IBU PULANG ANAK-ANAK!!!”

“AAAAAAAAAAAAA!!!!”

*

“Hai Hyeli!”

Begitu melihat Sungyeol melambai dengan senyuman selebar empat jari ke samping, Hyeli yang baru saja melamun sambil terkantuk-kantuk dengan sigap meraih tas selempangnya dan bergeser ke meja yang paling dekat dengan meja guru, di ujung deretan terdepan.

“HAHAHA!” tawa setan membahana berasal dari jendela ruang kelas itu, dimana makhluk tinggi menjulang yang dicurigai menyantap satang sebagai sarapan setiap pagi bertengger indah di sana menertawakan reaksi Hyeli yang seperti telah mencium gelagat buruk yang hendak dilakukan oleh sobat kentalnya Sungyeol, dan selang beberapa detik makhluk tinggi itu sudah menghilang dari jendela dengan gaib.

Cengiran 4 jari Sungyeol sirna seketika digantikan ekspresi melongo nan gondoknya, padahal hari ini ulangan Bahasa Inggris sudah menanti. Harapan terakhir mendekati Hyeli untuk dijadikan ‘kamus bahasa inggris berjalan’ pun sepertinya pupus karena gadis itu terlihat sudah dapat membaca pikirannya.

Sungyeol manyun, merasa kredibilitasnya sebagai cowok keren tukang tebar pesona paling maut ke-2 di sekolah setelah teman sejawatnya Choi Minho diragukan. Karena setengah menit yang lalu, seorang cewek biasa-biasa yang hanya sedikit lebih pintar daripada dirinya –menurut Sungyeol- menolaknya secara tidak langsung.  Setelah melempar tasnya ke deretan meja paling belakang ia berlalu dengan langkah kakinya yang panjang ke luar kelas dengan perasaan masih sedikit shock namun masih sempat-sempatnya bergaya sok keren memasukkan kedua tangannya di dalam kantung celana panjang seragam sekolah.

“BRUK”

Terlalu sibuk berkutat dengan rasa shocknya yang sangat tidak penting, Sungyeol merasa sesuatu yang sepertinya orang menabrakanya dari depan tepat di ambang pintu. Orang yang ditabrak dan menabraknya itu terasa seperti kehilangan keseimbangan, maka Sungyeol refleks menjulurkan tangannya menarik tangan orang tersebut, namun tubuh orang yang menabraknya itu malah terhuyung ke arah tubuhnya, tangan Sungyeol yang bebas pun menahan di punggung penabraknya yang hampir jatuh ke lantai, dan

“BRAK”

“BRAK”

“BRAK”

Buku-buku tebal yang terlontar dan jatuh ke lantai menambah kesan lebih mendalam dan sangat mendukung suasana.

Dan Kim Hyeli penonton tunggal yang menyaksikan adegan romantis itu menganga dengan tolol melihat bagaimana dua sejoli yang tengah asyik bertatap-tatapan.

“Sepertinya aku pernah melihat ini sebelumnya.” Gumam Hyeli.

*

“GEDEBUK”

“YA!”

“YA!”

“YA!”

Setelah bunyi gedebuk yang berasal dari hempasan tubuh sang tertabrak Lee Jinki terhadap lantai setelah pegangan dilepaskan oleh Sungyeol, seruan terdengar dari ketiga mulut orang yang ada di ruangan itu bersamaan.

“MATAMU DIMANA!” Sungyeol baru saja menyadari bahwa ia melakukan suatu adegan yang menurutnya sangat indah, namun menjijikkan jika dilakukan ke sesama jenis.

“TULANGKU HAMPIR REMUK SIALAN!” bentak Jinki mengelus-elus bokongnya yang mencium lantai duluan.

“DAN KENAPA KAU IKUT-IKUTAN TERIAK!”

Kini tatapan dari 2 pasang mata almond itu menghujam ke arah Kim Hyeli.

Hyeli menciut.

“A. . anni, terbawa suasana!” ucapnya terbata.

Dua cowok yang satu dalam posisi terduduk dan satu berdiri itu masih kompak untuk mengeluarkan satu ekspresi yang sama yang kira kira seperti “Puhlease deh ah”

Dengan satu kibasan rambut super centil Sungyeol pergi meninggalkan makhluk-makhluk tidak jelas di dalam kelas.

Lee Jinki mengumpulkan buku tebalnya yang berserakan dan ia bangkit berdiri sambil mengelus-elus bokongnya. Ia ber jalan ke arah meja yang setiap hari selalu ditempatinya, namun disadarinya ada sesuatu yang aneh pada meja itu. Meja yang biasanya selalu kosong hingga dia datang dan duduk di sana, sudah terisi oleh seseorang.

Jinki menatap orang yang duduk di bangku ‘miliknya’ dengan tatapan yang entah apa maksudnya.

“Hah? Apa?” Kim Hyeli yang ditatap Jinki seperti itu menggaruk-garuk kepalanya.

Tanpa menjawab Jinki berjalan lagi dan meletakkan buku serta melepas tas ranselnya ke atas meja tepat di belakang Kim Hyeli.

Jarum pendek jam dinding di ruangan kelas masih berada di antara angka 6 dan 7, alasan mengapa suasana di kelas masih sunyi senyap. Biasanya penghuni kelas ini akan datang begitu mepet-mepet bel berbunyi. Sudah hampir terlelap dalam tidurnya lagi, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.

Hyeli mengangkat kepala dari atas lipatan tangannya.

“Apa?” Sementara Kim Hyeli mengucek-ngucek mata sembari menoleh ke belakang.

“A..ani.”

Hyeli menatap Jinki gedeg. ‘Ternyata dia memang aneh!’

Begitu Hyeli memutar tubuhnya ke depan, Lee Jinki membenturkan kepalanya ke meja.

Hampir lepas kendali, Jinki baru saja mau mengatakan ‘Kau mau jadi pacarku?’

Tentu saja setelah itu ia akan dianggap setengah tidak waras oleh gadis itu karena mereka hampir tidak pernah berinteraksi, sebenarnya setiap pagi Hyeli yang suka datang kepagian selalu menyapa semua siswa yang datang setelah ia datang termasuk dia, inilah yang menjadi alasan kenapa Jinki selalu memasang 2 buah jam weker dan 1 alarm ponsel setiap pukul setengah 5 subuh supaya ia bisa datang cepat dan berduaan dengan cewek berkacamata pink itu, tapi apa daya, sekedar membalas salam saja ia tidak bisa karena saking nervousnya ia merasa sehabis menelan batu hingga tak ada satupun suara yang keluar dari pita suaranya.

Dan yang bisa dilakukan Jinki adalah menatap rambut hitam milik cewek yang sudah hampir enam bulan belakangan merebut perhatiannya.

*

Riuh suara-suara memenuhi sepanjang lorong koridor. Hyeli mengutuk dirinya yang terlalu bodoh berlari –lari menuruni tangga hingga ke kafetaria untuk segera mengisi perut yang berisi cacing-cacing dengan festival marching band di dalamnya dan mengingat seabrek bekal yang dibuatkan oleh ibu ada di dalam tas setelah ia memulai mengantri makanan.

Dengan tergesa ia berlari melalui jalan yang sama yang dilewatinya baru saja.

“…mereka berpegangan kemudian berpelukan di depan rumah! Teman laki-lakinya itu selalu datang setiap hari, aku tak menyangka kalau tetanggaku yang baru pindah itu seorang gay!”

Hyeli tak sengaja mendengar perbincangan dua orang siswi saat mereka berpapasan. Namun perutnya yang mencari perhatian dengan berbunyi-bunyi membuatnya tak ingin memikirkan ataupun melakukan apa-apa selain kembali ke kelas dan mengambil bekal.

Hyeli membuka pintu dengan kasar hingga terbuka menjeblak, ruangan kelas yang dikira Hyeli sudah kosong ternyata masih menyisakan 2 orang penghuni.

Seorang duduk di atas kursi, dan seorang lagi berlutut di lantai sambil memegangi kedua tangan milik seorang yang duduk di atas kursi.

Melihat Hyeli yang datang begitu tiba-tiba membuat dua orang yang saling berpegangan disana sontak menarik tangan masing-masing.

“Aku… hanya ingin mengambil ini!” Kim Hyeli langsung melesat keluar setelah bekalnya sudah berada dalam tangannya.

Sementara itu dua orang yang masih tersisa di kelas kembali melanjutkan aktivitasnya, ‘merayu dan dirayu’.

“Jinki kita kan teman, masa membantu temanmu sendiri kau tak mau?”

“Kau berani bayar berapa?” Jinki, laki-laki yang dari tadi hanya duduk dalam diam dengan kedua tangan yang pasrah ditarik-tarik akhirnya angkat bicara.

“Eh, apa?”

“Kau mau bayar aku berapa? Kau pikir zaman sekarang masih ada yang gratis?” jelas Jinki dengan nada suara sengak yang sebenarnya dari tadi Sungyeol, cowok yang masih berlutut itu sudah ingin menonjok mukanya.

“Tsk, kau mata duitan ternyata.” Sungyeol terpaksa mengeluarkan dompetnya, dengan tidak rela ia mengambil 1 lembar pecahan won degan nominal paling besar.

Jinki menerima uang itu, ia menjepit ujung uang kertas itu dengan jari telunjuk dan ibu jari, kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi. Ia melihati uang itu skeptis.

“Kukira kau anak orang kaya?” ucapan Jinki yang dimaksudkan sebagai gumaman belaka, ternyata sampai ke telinga Sungyeol dengan jelas.

‘Sabar Sungyeol! Si kampret satu ini memang sialan!  Demi tiket  NBA di Staples Center yang dijanjikan ayah! Semangat  Sungyeol! Semangat!’ Sungyeol mencoba menabahkan dirinya sendiri.

“Ehm. Jadi kapan kita mulai belajar teman?”

“Senin, Rabu, Jumat pulang sekolah di rumahku!” jawab Jinki singkat.

“Hari Jumat aku latihan basket, bagaimana hari yang lain.” Tawar Sungyeol.

“Diganti Sabtu kalau begitu.”

“Ya ampun, dia pasti tidak punya pacar!” desis Sungyeol sangat pelan namun kali ini Jinki pun dapat mendengarnya.

“Aku sama sekali tidak rugi untuk sekedar mengembalikan seratus ribu…”

“Anniyo, aku tidak bilang apapun barusan. Hari Sabtu? Arraso!” potong Sungyeol cepat.

“Kau masih ada pertanyaan?”

“AH, itu, untuk ulangan bahasa Inggris hari ini, JINKI-YA! BANTULAH TEMANMU INI!!” pinta Sungyeol kencang, tapi melas.

“Anni!”

Hanya satu kata itu, Jinki kemudian hendak meninggalkan kelas, namun Sungyeol dengan sigap menahannya.

“Jinki-ya, tega sekali kau padaku!” Melihat bagaimana si sok cool Sungyeol yang sekarang memelas pada si nerd Jinki, mungkin esok harinya, pamor Sungyeol akan menurun drastis.

“Tsk, kau ini. Iya iya!”balas Jinki yang sudah tak bisa menahan kebelet pipis sementara Sungyeol masih menarik-narik kakinya.

“HAHA GOMAWO JINKI!”

Sungyeol yang kesenangan, memeluk Jinki  dengan penuh sukacita belum sempat Jinki melepaskan diri dari pelukan maut itu, pintu kelas menjeblak secara tiba-tiba –lagi-.

“Eh, aku ketinggalan ponselku!” Kim Hyelilah ternyata yang masuk, ia mengambil ponselnya di atas meja.

“Maaf mengganggu!”

*

Sepanjang perjalanan menuju bekalnya yang ada di kafetaria, ia teringat kembali akan obrolan siswi kelas sebelah yang tidak sengaja didengarnya saat ingin mengambil bekal..

“…mereka berpegangan…”

‘Lee Sungyeol memegang kedua tangan Jinki’ pikirnya

“…kemudian berpelukan…”

‘Mereka juga berpelukan barusan.’ Pikirnya lagi.

“…aku tak menyangka kalau tetanggaku yang baru pindah itu seorang gay!”

“OMO!!!!”

.:TBC:.

a.n:

Omo: semacam seruan kaya Omagah gitu kan? Kira-kira begitulah (_ __”)

Youngmin (16 th), Kwangmin(16 th) dan Minwoo(7 th) –> Dedek Minwoo semuanya bermarga Kim

Status: menunggu komentar anda. Sekian *tebar bunga*