OMO! part 2b

Title: OMO! Cast: Lee Jinki, Lee Sungyeol, Kim Hyeli Other: Keluarga Kim, Victoria Song, Lee Taemin, some others Rating: PG Length: Series Genre: AU–> genre mengarang bebas , family Poster: Felisa. Gomawo cintah 😀 😀 Part 2b Hyeli dan Sungyeol berjalan beriringan hingga sampai ke kelas, walaupun kata yang disebut berjalan bagi Sungyeol harus disamakan dengan berlari-lari kecil bagi Hyeli. “Ahh, kukira aku akan telat!!” seru Hyeli begitu memutar kenop pintu dan ia tak mendapati seorang pun berdiri atau duduk di belakang meja kebesaran guru. Begitu mendengar suara yang sudah dihafalkannya dengan baik-baik Jinki menoleh dari ponselnya. Sosok gadis yang sejak ia menginjakkan kakinya ke dalam kelas sudah menyita perhatiannya, karena tak biasanya gadis itu belum datang setelah ia sampai ke sekolah. “Harusnya aku yang bilang begitu!” Seru satu suara lain, milik Lee Sungyeol dengan mencibir pada Hyeli. Continue reading

Advertisements

OMO! Part 2a

Title: OMO!

Cast: Lee Jinki, Lee Sungyeol, Kim Hyeli

Other: Keluarga Kim, dll.

Rating: PG

Length: Series

Genre: AU, family –> nambah

Yang bisa buat poster, mohon bantuannya supaya foto butut berisi 2 orang ganteng (?) ini bisa dihilangkan dari peredaran.  ( ื▿ ืʃƪ)

Part 2a

Pagi yang cukup hangat untuk ukuran pagi di  musim dingin. Keluarga Kim bahkan sudah mulai ramai meskipun sekarang baru pukul 5 pagi.

Nyonya besar keluarga ini sudah bangun sejak pukul setengah empat pagi. Tanpa sempat mencuci muka, ia langsung melompat ke dapur dengan mata masih setengah terpejam. Pukul setengah 5 pagi Putri sulungnya Kim Hyeli bangun, jangan pernah berpikir bahwa gadis ini bangun pagi-pagi untuk membantu ibunya. Dengan muka berminyak dan rambut kusut ia melangkah ke ruang tengah, menyalakan lampu dan menghidupkan TV.

Continue reading

OMO!

Title: OMO!

Cast: Lee Jinki, Lee Sungyeol, Kim Hyeli

Other: Keluarga Kim

Rating: PG

Length: Series

Genre: AU

Part 1

Hampir setiap gadis merasa ia memiliki kisah cinta yang persis seperti opera sabun. Merasa dirinya adalah cewek biasa yang suka pada the most wanted guy di sekolah. Belum lagi ia akan menyesali takdir yang membuatnya terlahir sebagai seorang cewek yang tidak menarik. Hingga akhirnya ada satu hari di mana si cowok most wanted secara tidak sengaja melemparkan bola basket tepat menghantam wajah si cewek nerd, akhirnya mereka berdua menjadi dekat dan memutuskan untuk dating.

Sangat picisan.

Namun hal-hal picisan seperti ini hampir selalu diimpikan berjuta gadis-gadis.

Betapa sialnya harus kuakui, kalau aku termasuk dalam kategori gadis-gadis seperti itu.

Tas sekolah kulempar dengan bantingan kecil ke atas meja. Lagi-lagi aku harus duduk di kursi paling depan. Aku tidak pernah suka duduk di depan. Karena itu membuatku harus terus berpura-pura fokus memperhatikan setiap pelajaran yang membosankan. Satu-satunya alasanku yaitu aku tidak mau dicontek saat ulangan.

“CKLEK.”

Mataku melirik ke pintu, dan sesosok orang muncul perlahan-lahan dari sana. Seorang cowok, murid paling pendiam di kelas. Aku bahkan belum pernah bicara dengannya selama sekelas hampir satu semester kecuali waktu aku meminjam pena merah padanya. Ia berjalan menunduk dan dengan langkah yang diseret perlahan.

“Pagi.”

Ia menegakkan kepalanya melirikku, hanya sepersekian detik, dan dalam hitungan waktu yang terlalu singkat itu, kurasa ia tidak ada niatan untuk membalas salamku karena ia kembali melihat ke lantai berjalan dengan begitu malas menuju tempat duduk langganannya. Paling dekat dengan meja guru. Tepat saat ia duduk, pintu kelas terbuka pula.

Refleks yang kulakukan sama seperti sebelumnya, melihat ke arah pintu, namun kali ini ditambah sebuah senyum yang terukir sangat lebar-mugkin, karena aku tidak bisa melihatnya- saat seorang cowok jakung melewatinya.

“Selamat pagi Sungyeol!”

“Pagi Hyeli.”

Berlebihankah jika kubilang aku hampir lumer gara-gara senyumnya barusan. Cowok itu mengambil tempat duduk di sampingku.

O.O Di sampingku?

“Kau duduk di depan? Tumben?”

Ia yang baru mendaratkan bokongnya di kursi menoleh ke arahku dan hanya melemparkan satu senyuman tanpa aku mengerti maksudnya, sekaligus membuatku lumer sekali lagi. Suasana mendadak awkward saat tak seorang pun berbicara di ruangan ini.

Aku menoleh ke kanan dimana si cowok pendiam yang tengah menguap dengan mulut terbuka lebar.

Kemudian aku menoleh ke kiri ke arah salah satu cowok the most wanted di sekolah yang tengah memejamkan matanya mendengarkan musik dari earphone yang menyumpal telinganya.

Jika boleh kubuat perbandingan, maka di sebelah kananku, aku seperti melihat padang pasir yang gersang, sementara di sebelah kiri aku menemukan oasis yang indah dimana genangan air itu mampu menggantikan rasa gerah di padang pasir dengan kesejukan.

Hahaha, aku berlebihan.

Namun tanpa perlu berpikir dua kali, atau tanpa dipikir sama sekali, aku tentu lebih memilih memandangi sebuah objek yang sejuk-sejuk dari pada yang panas-panas.

Lihat bulu matanya yang panjang itu. Hidungnya, bibirnya. Hampir sempurna. Astaga kenapa Tuhan bisa menciptakan makhluk yang sangat mempesona seperti ini. Ia yang terlihat begitu menikmati alunan lagu sesekali mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja membuatku tanpa sadar jadi tersenyum. Dan sekarang kedua matanya terbuka secara perlahan. Kemudian ia menoleh dan melihat ke arahku.

“Kau melihat apa nona? Ada yang salah pada wajahku.”

“Anni. Kau sangat tampan.” Ujarku lancar dengan kedua tangan masih menopang di bawah dagu.

1 detik

2 detik

3 detik

“Aigo aigo babo!” pekikku tertahan begitu sadar atas kata-kata yang meluncur dari mulutku barusan, aku memalingkan wajahku darinya dan memukul kepalaku beberapa kali.

Aku menoleh lagi padanya. Lee Sungyeol, ia hanya tersenyum geli melihat reaksiku.

“Kalau…”

“Sungyeol-ah!” kulihat baru saja ia mau mengatakan sesuatu, namanya dipanggil seseorang dari ambang pintu.

Cowok kelas sebelah yang kuketahui bernama Choi Minho  terlihat menyebalkan dengan gaya sok kerennya bertengger di depan pintu.

“Apa?” balas Sungyeol.

Si cowok kelas sebelah melirikku sekilas kemudian pandangannya beralih kepada Sungyeol.

“Ah,abaikan. Maaf mengganggu!”

Cowok jakung itu melirikku lagi, melemparkan satu kedipan mata padaku sebelum benar-benar pergi.

‘Astaga, dipikir dia keren kedip-kedip kelilipan.’

“Hyeli!”

“Ya?”

Perhatianku beralih kembali pada Sungyeol.

“Kau…”

Sungyeol menggigit bibirnya. Kentara sekali kalau ia sedang gugup. Gugup? Untuk apa? Omo!

“Kau…”

Dia pasti ingin menembakku!

“Kau…”

Ya ampun!

“Hyeli, kau…”

“IYA! AKU MAU!”

Sungyeol menatapku dengan mata berbinar. Sesenang itu kah dia. FUFUFU

“Hyeli, kau serius?”

“Tentu saja!” aku menarik mulutku supaya bisa tersenyum selebar-lebarnya

“Hyeli-ya! Gomawoyo, kukira aku akan dapat nol untuk kuis kimia hari ini, jinja, gomawo! Aku tunggu contekanmu ya! Sampai jumpa!”

JLEGARRR

*

Author’s POV

Gadis berusia 17 tahun itu hampir selalu melakukan tindakan anarkis pada tas selempangnya yang sekarang sudah teronggok tak berdaya di atas lantai di bawah sofa ruang tamu setelah beberapa detik yang lalu dilempar oleh yang empunya dari pintu depan.

Ia melepas sepatunya kemudian membantingnya ke lantai.

“Cowok keren selalu nggak bener.”

Gadis itu melompat ke atas sofa panjang yang menghadap ke TV 32” di ruangan itu.

Tangannya terus memencet tombol remot bersamaan dengan berpindahnya chanel TV.

Kemudian ia berhenti di sebuah siaran milik stasiun tv swasta. Sebuah drama sore yang diputar 2 kali seminggu itu menjadi tontonan gadis pemilik nama Kim Hyeli sekarang.

Gadis pemeran utama yang merupakan anak baru di suatu sekolah terlihat sedang membawa setumpuk buku yang menjulang. Dari arah yang berlawanan seorang cowok sedang berlari dengan kecepatan tinggi sambil melihat jam tangannya hingga cowok itu kembali menoleh ke depan, jaraknya dengan si gadis pemeran utama sudah terlalu dekat hingga tabrakan tidak bisa dielakkan. Buku-buku yang berada di atas tangan gadis itu sudah berterbangan tak tentu arah sementara gadis itu sendiri terhuyung kehilangan keseimbangan akibat tabrakan si cowok itu begitu keras. Dan dengan penuh dramatisasi si cowok menangkap tubuh gadis itu, memeluk pinggangnya hingga jarak kedua wajah orang itu begitu dekat dan terlihat bagaimana cewek itu terlihat bodoh memandangi si cowok super keren bak malaikat turun dari khayangan menyelamatkan dia.

Sementara si cewek pemeran utama dan cowok keren itu tengah sibuk-sibuknya berpose memandangi satu sama lain, cewek bernama Kim Hyeli itu sudah mesem-mesem sendiri menggigiti dasinya seolah-olah merasakan bahwa dia adalah cewek di drama itu.

Pintu terbuka secara tiba-tiba.

Hyeli tak menggubrisnya.

“Aku pulang!”

Gadis itu masih terlihat tidak peduli. Tatapannya masih intens ke arah TV.

Ia masih tidak menyadari seseorang menjatuhkan diri di sofa tepat di sampingnya.

Namun di saat sosok itu meraih remot dan mengganti chanel TV,

“YA! JANGAN MAIN GANTI SEENAKNYA!”

“Ck. Sudah jelek, berisik, kerjaanmu hanya nonton drama percintaan, mau jadi apa kau?” suara berat milik cowok kali ini terdengar.

“Hey, kau pikir mukamu bagus? Sini remoteku!”

Cowok itu beranjak melompat dari sofa menghindar dari Hyeli, kemudian tangannya yang memegang remote TV berwarna hitam terangkat ke atas dan remote itu telah berpindah ke atas bufet.

“itu remotnya sana ambil cebol!” Sementara cowok itu tertawa-tawa, Hyeli mengambil bantal sofa yang notabene adalah barang terdekat dari tempatnya berada dan detik berikutnya bantal itu sudah melayang ke arah… bufet.

PRANG!

Lemparan yang gagal total mengenai muka adiknya malah meleset dengan sempurna menghantam sebuah vas porselene kesayangan ibu mereka.

“Err, kukira aku harus pergi ke rumah Taemin sekarang, aku pergi!” Kwangmin melangkah dengan kaki panjangnya ke arah pintu.

“BLAM”

Tinggallah Hyeli dengan puing-puing vas ibunya serta puing-puing harapan tas LV incarannya yang dijanjikan sang ibu minggu depan.

*

CKLEK

Hyeli hampir melompat saat mendengar kenop pintu yang ditekan.

“Kami pulang!” dan begitu yang terdengar suara tenor cowok diikuti dengan munculnya dua sosok manusia yang sangat ia kenali dari ruang depan, Hyeli dengan tanpa sadar menghela nafas lega.

“Eonni! Aku lapar!”

“Noona, sedang apa kau?”

Respon berbeda dari kedua orang yang baru datang tersebut bersamaan ditujukan pada kakak malang mereka, Hyeli.

“Youngmin-ah…”

“Aku memecahkan vas ibu!” Hyeli sudah hampir mewek dengan wajah suram yang berkaca-kaca.

“Hyemi duduk di sofa dulu ya, nanti kakinya kena kaca, oppa mau bantu eonnie!” Cowok yang sama jakungnya dengan Kwangmin itu melepaskan gadis kecil berkuncir dua di gendongannya ke atas sofa.

“Tapi aku lapar.” Rengek gadis itu lagi.

“Ya! Biarkan oppa bantu noona dulu arra!” Hyeli berseru sambil terus berkutat dengan puing-puing vas.

“AKU PULANG!!!”

Sebuah suara cempreng lagi terdengar.

Bocah laki-laki bertubuh cungkring berlari masih dengan tas sekolahnya melewati 3 orang kakak beradik di ruang tengah.

“MINWOO!! JANGAN LARI-LARI NANTI KAKIMU KENA KACA!! Suara seriosa Hyeli yang mungkin secara genetik diturunkan dari ibunya membuat dua adiknya yang lain menutup telinga.

“OPPA AKU LAPAR!!”

“ARRKH EONNIEEE!! KAKIKU BERDARAH!”

“IBU PULANG ANAK-ANAK!!!”

“AAAAAAAAAAAAA!!!!”

*

“Hai Hyeli!”

Begitu melihat Sungyeol melambai dengan senyuman selebar empat jari ke samping, Hyeli yang baru saja melamun sambil terkantuk-kantuk dengan sigap meraih tas selempangnya dan bergeser ke meja yang paling dekat dengan meja guru, di ujung deretan terdepan.

“HAHAHA!” tawa setan membahana berasal dari jendela ruang kelas itu, dimana makhluk tinggi menjulang yang dicurigai menyantap satang sebagai sarapan setiap pagi bertengger indah di sana menertawakan reaksi Hyeli yang seperti telah mencium gelagat buruk yang hendak dilakukan oleh sobat kentalnya Sungyeol, dan selang beberapa detik makhluk tinggi itu sudah menghilang dari jendela dengan gaib.

Cengiran 4 jari Sungyeol sirna seketika digantikan ekspresi melongo nan gondoknya, padahal hari ini ulangan Bahasa Inggris sudah menanti. Harapan terakhir mendekati Hyeli untuk dijadikan ‘kamus bahasa inggris berjalan’ pun sepertinya pupus karena gadis itu terlihat sudah dapat membaca pikirannya.

Sungyeol manyun, merasa kredibilitasnya sebagai cowok keren tukang tebar pesona paling maut ke-2 di sekolah setelah teman sejawatnya Choi Minho diragukan. Karena setengah menit yang lalu, seorang cewek biasa-biasa yang hanya sedikit lebih pintar daripada dirinya –menurut Sungyeol- menolaknya secara tidak langsung.  Setelah melempar tasnya ke deretan meja paling belakang ia berlalu dengan langkah kakinya yang panjang ke luar kelas dengan perasaan masih sedikit shock namun masih sempat-sempatnya bergaya sok keren memasukkan kedua tangannya di dalam kantung celana panjang seragam sekolah.

“BRUK”

Terlalu sibuk berkutat dengan rasa shocknya yang sangat tidak penting, Sungyeol merasa sesuatu yang sepertinya orang menabrakanya dari depan tepat di ambang pintu. Orang yang ditabrak dan menabraknya itu terasa seperti kehilangan keseimbangan, maka Sungyeol refleks menjulurkan tangannya menarik tangan orang tersebut, namun tubuh orang yang menabraknya itu malah terhuyung ke arah tubuhnya, tangan Sungyeol yang bebas pun menahan di punggung penabraknya yang hampir jatuh ke lantai, dan

“BRAK”

“BRAK”

“BRAK”

Buku-buku tebal yang terlontar dan jatuh ke lantai menambah kesan lebih mendalam dan sangat mendukung suasana.

Dan Kim Hyeli penonton tunggal yang menyaksikan adegan romantis itu menganga dengan tolol melihat bagaimana dua sejoli yang tengah asyik bertatap-tatapan.

“Sepertinya aku pernah melihat ini sebelumnya.” Gumam Hyeli.

*

“GEDEBUK”

“YA!”

“YA!”

“YA!”

Setelah bunyi gedebuk yang berasal dari hempasan tubuh sang tertabrak Lee Jinki terhadap lantai setelah pegangan dilepaskan oleh Sungyeol, seruan terdengar dari ketiga mulut orang yang ada di ruangan itu bersamaan.

“MATAMU DIMANA!” Sungyeol baru saja menyadari bahwa ia melakukan suatu adegan yang menurutnya sangat indah, namun menjijikkan jika dilakukan ke sesama jenis.

“TULANGKU HAMPIR REMUK SIALAN!” bentak Jinki mengelus-elus bokongnya yang mencium lantai duluan.

“DAN KENAPA KAU IKUT-IKUTAN TERIAK!”

Kini tatapan dari 2 pasang mata almond itu menghujam ke arah Kim Hyeli.

Hyeli menciut.

“A. . anni, terbawa suasana!” ucapnya terbata.

Dua cowok yang satu dalam posisi terduduk dan satu berdiri itu masih kompak untuk mengeluarkan satu ekspresi yang sama yang kira kira seperti “Puhlease deh ah”

Dengan satu kibasan rambut super centil Sungyeol pergi meninggalkan makhluk-makhluk tidak jelas di dalam kelas.

Lee Jinki mengumpulkan buku tebalnya yang berserakan dan ia bangkit berdiri sambil mengelus-elus bokongnya. Ia ber jalan ke arah meja yang setiap hari selalu ditempatinya, namun disadarinya ada sesuatu yang aneh pada meja itu. Meja yang biasanya selalu kosong hingga dia datang dan duduk di sana, sudah terisi oleh seseorang.

Jinki menatap orang yang duduk di bangku ‘miliknya’ dengan tatapan yang entah apa maksudnya.

“Hah? Apa?” Kim Hyeli yang ditatap Jinki seperti itu menggaruk-garuk kepalanya.

Tanpa menjawab Jinki berjalan lagi dan meletakkan buku serta melepas tas ranselnya ke atas meja tepat di belakang Kim Hyeli.

Jarum pendek jam dinding di ruangan kelas masih berada di antara angka 6 dan 7, alasan mengapa suasana di kelas masih sunyi senyap. Biasanya penghuni kelas ini akan datang begitu mepet-mepet bel berbunyi. Sudah hampir terlelap dalam tidurnya lagi, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.

Hyeli mengangkat kepala dari atas lipatan tangannya.

“Apa?” Sementara Kim Hyeli mengucek-ngucek mata sembari menoleh ke belakang.

“A..ani.”

Hyeli menatap Jinki gedeg. ‘Ternyata dia memang aneh!’

Begitu Hyeli memutar tubuhnya ke depan, Lee Jinki membenturkan kepalanya ke meja.

Hampir lepas kendali, Jinki baru saja mau mengatakan ‘Kau mau jadi pacarku?’

Tentu saja setelah itu ia akan dianggap setengah tidak waras oleh gadis itu karena mereka hampir tidak pernah berinteraksi, sebenarnya setiap pagi Hyeli yang suka datang kepagian selalu menyapa semua siswa yang datang setelah ia datang termasuk dia, inilah yang menjadi alasan kenapa Jinki selalu memasang 2 buah jam weker dan 1 alarm ponsel setiap pukul setengah 5 subuh supaya ia bisa datang cepat dan berduaan dengan cewek berkacamata pink itu, tapi apa daya, sekedar membalas salam saja ia tidak bisa karena saking nervousnya ia merasa sehabis menelan batu hingga tak ada satupun suara yang keluar dari pita suaranya.

Dan yang bisa dilakukan Jinki adalah menatap rambut hitam milik cewek yang sudah hampir enam bulan belakangan merebut perhatiannya.

*

Riuh suara-suara memenuhi sepanjang lorong koridor. Hyeli mengutuk dirinya yang terlalu bodoh berlari –lari menuruni tangga hingga ke kafetaria untuk segera mengisi perut yang berisi cacing-cacing dengan festival marching band di dalamnya dan mengingat seabrek bekal yang dibuatkan oleh ibu ada di dalam tas setelah ia memulai mengantri makanan.

Dengan tergesa ia berlari melalui jalan yang sama yang dilewatinya baru saja.

“…mereka berpegangan kemudian berpelukan di depan rumah! Teman laki-lakinya itu selalu datang setiap hari, aku tak menyangka kalau tetanggaku yang baru pindah itu seorang gay!”

Hyeli tak sengaja mendengar perbincangan dua orang siswi saat mereka berpapasan. Namun perutnya yang mencari perhatian dengan berbunyi-bunyi membuatnya tak ingin memikirkan ataupun melakukan apa-apa selain kembali ke kelas dan mengambil bekal.

Hyeli membuka pintu dengan kasar hingga terbuka menjeblak, ruangan kelas yang dikira Hyeli sudah kosong ternyata masih menyisakan 2 orang penghuni.

Seorang duduk di atas kursi, dan seorang lagi berlutut di lantai sambil memegangi kedua tangan milik seorang yang duduk di atas kursi.

Melihat Hyeli yang datang begitu tiba-tiba membuat dua orang yang saling berpegangan disana sontak menarik tangan masing-masing.

“Aku… hanya ingin mengambil ini!” Kim Hyeli langsung melesat keluar setelah bekalnya sudah berada dalam tangannya.

Sementara itu dua orang yang masih tersisa di kelas kembali melanjutkan aktivitasnya, ‘merayu dan dirayu’.

“Jinki kita kan teman, masa membantu temanmu sendiri kau tak mau?”

“Kau berani bayar berapa?” Jinki, laki-laki yang dari tadi hanya duduk dalam diam dengan kedua tangan yang pasrah ditarik-tarik akhirnya angkat bicara.

“Eh, apa?”

“Kau mau bayar aku berapa? Kau pikir zaman sekarang masih ada yang gratis?” jelas Jinki dengan nada suara sengak yang sebenarnya dari tadi Sungyeol, cowok yang masih berlutut itu sudah ingin menonjok mukanya.

“Tsk, kau mata duitan ternyata.” Sungyeol terpaksa mengeluarkan dompetnya, dengan tidak rela ia mengambil 1 lembar pecahan won degan nominal paling besar.

Jinki menerima uang itu, ia menjepit ujung uang kertas itu dengan jari telunjuk dan ibu jari, kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi. Ia melihati uang itu skeptis.

“Kukira kau anak orang kaya?” ucapan Jinki yang dimaksudkan sebagai gumaman belaka, ternyata sampai ke telinga Sungyeol dengan jelas.

‘Sabar Sungyeol! Si kampret satu ini memang sialan!  Demi tiket  NBA di Staples Center yang dijanjikan ayah! Semangat  Sungyeol! Semangat!’ Sungyeol mencoba menabahkan dirinya sendiri.

“Ehm. Jadi kapan kita mulai belajar teman?”

“Senin, Rabu, Jumat pulang sekolah di rumahku!” jawab Jinki singkat.

“Hari Jumat aku latihan basket, bagaimana hari yang lain.” Tawar Sungyeol.

“Diganti Sabtu kalau begitu.”

“Ya ampun, dia pasti tidak punya pacar!” desis Sungyeol sangat pelan namun kali ini Jinki pun dapat mendengarnya.

“Aku sama sekali tidak rugi untuk sekedar mengembalikan seratus ribu…”

“Anniyo, aku tidak bilang apapun barusan. Hari Sabtu? Arraso!” potong Sungyeol cepat.

“Kau masih ada pertanyaan?”

“AH, itu, untuk ulangan bahasa Inggris hari ini, JINKI-YA! BANTULAH TEMANMU INI!!” pinta Sungyeol kencang, tapi melas.

“Anni!”

Hanya satu kata itu, Jinki kemudian hendak meninggalkan kelas, namun Sungyeol dengan sigap menahannya.

“Jinki-ya, tega sekali kau padaku!” Melihat bagaimana si sok cool Sungyeol yang sekarang memelas pada si nerd Jinki, mungkin esok harinya, pamor Sungyeol akan menurun drastis.

“Tsk, kau ini. Iya iya!”balas Jinki yang sudah tak bisa menahan kebelet pipis sementara Sungyeol masih menarik-narik kakinya.

“HAHA GOMAWO JINKI!”

Sungyeol yang kesenangan, memeluk Jinki  dengan penuh sukacita belum sempat Jinki melepaskan diri dari pelukan maut itu, pintu kelas menjeblak secara tiba-tiba –lagi-.

“Eh, aku ketinggalan ponselku!” Kim Hyelilah ternyata yang masuk, ia mengambil ponselnya di atas meja.

“Maaf mengganggu!”

*

Sepanjang perjalanan menuju bekalnya yang ada di kafetaria, ia teringat kembali akan obrolan siswi kelas sebelah yang tidak sengaja didengarnya saat ingin mengambil bekal..

“…mereka berpegangan…”

‘Lee Sungyeol memegang kedua tangan Jinki’ pikirnya

“…kemudian berpelukan…”

‘Mereka juga berpelukan barusan.’ Pikirnya lagi.

“…aku tak menyangka kalau tetanggaku yang baru pindah itu seorang gay!”

“OMO!!!!”

.:TBC:.

a.n:

Omo: semacam seruan kaya Omagah gitu kan? Kira-kira begitulah (_ __”)

Youngmin (16 th), Kwangmin(16 th) dan Minwoo(7 th) –> Dedek Minwoo semuanya bermarga Kim

Status: menunggu komentar anda. Sekian *tebar bunga*

Loveless Part 5 [END]

Title: Loveless Part 5

Cast:      Choi Seunhye

Cho Kyuhyun

Lee Jinki

Seo Jinae

Others

Genre: AU

Length: Series

Rating: T

Part 1 Part 2 |Part 3 |Part 4

 

a.n:

Super Kamsha buat Shinbi onnie hihihi. Jangan kapok buatin aku poster lagi ya.

Let’s take a look. ^^

BGM: Can U Smile Infinite

 

Previous story:

“Apa ini kencan?” gumam Seunhye.

“Nde?” tanya Kyuhyun.

Ia mendekat ke arah Seunhye. Kyuhyun melingkarkan tangan Seunhye di lehernya, dibantu beberapa orang di sana ia berhasil mengangkat Seunhye ke gendongannya.

Ia membalik foto tersebut.

Cho Kyuhyun

First crush, I wish he will be the first whom i kiss with >//<

 

“As you wished, dear…”

 

Part 5

 

Aku terbangun sejenak aku menangkap remang-remang cahaya lampu di sebuah ruangan. Ketika mataku telah beradaptasi barulah aku menyadari aku sedang terbaring nyaman di ranjang kamar hotel. Aku bangkit dari posisi tidur menjadi duduk, bersamaan dengan jatuhnya sebuah benda dingin dan lembab.

Handuk kecil.

Aku memegang dahiku merasakan permukaannya sedikit benjol. Dan kejadian menabrak tiang di terminal bus kembali teringat.

Aku berjalan ke jendela menarik tirainya sedikit. Langit gelap sudah menenggelamkan matahari.

Begitu teringat sesuatu, aku langsung mencari tas selempangku, kuambil dompetnya dan memeriksa dompet itu.

“20 ribuan 3 lembar, 50 ribuan 1 lembar, uang receh 9 koin. Uh-oh! Berarti anak itu berbohong soal tidak bawa uang karena aku bisa sampai lagi di hotel tanpa sepeser pun uang berkurang di dompetku.”

‘Cklek’

“Kau sudah bangun?”

“Ne, Jinae-ya, siapa yang membawaku ke sini?”

“Kyuhyun sunbae. Kau kenapa bisa pingsan?”

“Oh, hehe, aku menabrak tiang.

“Dasar, kasihan tiangnya!”

“Hehehe. Ngomong-ngomong, kau yang mengompresku?”

Ia menggeleng.

“Aku pun baru pulang dari pantai saat melihat Kyuhyun di koridor depan kamar kita, kurasa dia yang mengompresmu.” Ujar Jinae disertai senyum kecil.

“Jangan senyum-senyum!” sewotku pada Jinae yang sebenarnya untuk menutupi rasa maluku.

“Aku mau beli minuman di bawah.”

Tanpa jawaban dari Jinae, aku memakai sandal hotel kemudian pergi keluar.

Lift belum juga terbuka. Aku mondar-mandir di depan lift. Tidak sengaja penglihatanku menemukan sosok Kyuhyun di beranda lobi. Aku menugurungkan niatku, dan ingin menghampirinya sebentar, sekedar untuk berterimakasih, kukira makhluk seperti dia akan meninggalkanku yang pingsan di terminal begitu saja.

Namun semakin aku mendekat, aku menemukan seorang lagi di sana. Jinki. Aku hendak menyapa mereka, awalnya.

“. . . Apa maumu mendekat Choi Seunhye?” aku berhenti melangkah, secara tidak sadar, kakiku melangkah ke arah sudut yang tidak bisa dilihat mereka berdua.

Kenapa namaku bisa dibawa-bawa?

“Tidak bisakah kau menebak jalan pikiranku?” kali ini suara Kyuhyun.

“Kau menjadikan dia pelarian.” Seru Jinki.

Kyuhyun tersenyum kecil sambil menggeleng.

“Kau yang menjadikannya pelarian.” Tekan Kyuhyun.

“Sudah mengerti maksudku?” lanjut Kyuhyun.

“Hhhh. . . Aku hanya ingin mengalah, kau menyukai Jinae, tapi kau juga yang menyuruhku menerimanya.” Balas Jinki.

“Kau pikir sudah berapa lama kita berteman? Mungkin awalnya kau tidak menyadarinya, kau bahkan seolah-olah menelantarkan dan tidak peduli pada Jinae, jangan salahkan gadis itu jika ia berpaling padaku yang lebih tampan darimu, tapi, kau tau? Pukulanmu tempo hari sudah cukup jelas menyatakan kau menginginkan gadis itu.”

Jinki tersenyum simpul, namun lebih bersahabat.

“Awalnya kukira aku benar-benar bisa merebutnya darimu, tapi Jinae sendiri tidak mau denganku walaupun sudah kucium.” Seru Kyuhyun terkekeh.

“Mwo, Brengsek kau! Kau mau kuhajar lagi.”

“Kau pukul aku sekali lagi, kudadukan kau pada nenek, kau akan dicabut dari daftar pewaris.”

Aku tertegun mendengarkan percakapan mereka.

“Mati kau Cho Kyuhyun, jangan pernah sentuh Jinae lagi atau kubuat kau babak belur tepat di hadapan nenek.”

“Kau pikir aku takut Tuan Lee?”

“Sudahlah, bicara denganmu seperti bicara dengan orang tak waras.”

Hening sebentar, mereka seperti larut dalam pikiran masing-masing.

“Tapi, Choi Seunhye, gadis itu baik, dan sangat menyenangkan, kupikir kau sependapat denganku karena kau selalu menginginkan apa yang ku inginkan.” Jinki kembali berucap.

“Kau seperti takut aku akan mengambil Jinae lagi dan menyodor-nyodorkan orang lain padaku.” Balas Kyuhyun skeptis.

“Aku hanya bersimpati pada sepupuku yang hanya dijadikan pelarian oleh pacarku.” Balas Jinki dengan nada sinis.

“Dia hanya gadis yang mengejar-ngejarku, merepotkan, tapi setidaknya dia sedikit berguna karena dia tidak tertarik denganmu.” Ia terlihat seolah sedang menerawang.

“Kau akan membuatnya tersinggung dengan kata-kata itu.”

“Tapi kau mengerti maksudku kan Tuan Lee.”

“Tentu saja.”

Aku mundur perlahan dari tempatku berdiri. Udara di sekitarku seperti terserap entah ke mana. Rasanya bagaikan berada di luar angkasa hampa udara. Tiba-tiba sesak.

Author’s Pov

“Choi Seunhye!”

“Songsaenim?”

“Kau ini bandel sekali, seharian pergi tanpa minta izin denganku. Pulang-pulang kau dalam keadaan pingsan. Lihat kepalamu sampai benjol begitu. Jangan diulang lagi. Arra!” celotehan panjang Han Saem hanya dibalas Han saem dengan anggukan lemah.

Melihat Seunhye yang sedikit berbeda, Han saem meletakkan punggung tangannya di dahi Seunhye.

“Astaga, kau ini sedang demam, kenapa tidak bilang padaku. Ayo cepat ke kamarmu.”

Suara Han saem yang melengking cukup membuat dua laki-laki yang berdiri di tempat yang hanya disekat pintu kaca dari mereka mendengarnya.

Kyuhyun sempat melihat Seunhye yang berjalan sambil dipegangi guru pembimbing mereka.

*

“Tidak boleh!”

“Jinae, kau cantik deh.”

“Jangan menjilat, itu sudah bawaan lahir.” Balas Jinae.

“Ayolah, aku kan hanya ingin belajar.”

“Melamun sambil melihat bintang dan bulan kau bilang belajar?” tanya Jinae remeh.

“Yeah, kenapa aku merasa kau mirip eomma sekarang. Tentu saja, aku kan lomba mata pelajaran astronomi, melihat bintang ada kaitannya.” Dalih Seunhye.

“Tapi kau masih demam, nanti aku yang kena marah Han saem kalau dia tahu kau malah berkeliaran ke luar.”

“Tenang saja, Han saem tak akan menemukanku. Boleh ya.” Seunhye berkedip-kedip tidak jelas.

“Terserah kau saja, kalau kau nanti kau pingsan lagi tanpa diketahui aku tidak tanggung jawab. Ujar Jinae akhirnya.

“Hohoho. Dadah Jinae.”

Seunhye turun dari tempat tidur, namun baru satu langkah, buru-buru Jinae memanggilnya.

“Yah!”

“Apa lagi Jinae-ya?”

“Seunhye, aku ingin minta maaf.”

“Hmm?”

“Aku tidak tahu kenapa aku bisa jadi sangat jahat padamu. Aku bahkan malu pada diriku sendiri. Bisa-bisanya aku melakukan hal itu padamu. Maafkan aku!” Jinae membungkuk.

“Mungkin kau akan sangat marah dan tidak mau memaafkanku, tapi aku hanya ingin mengaku, kalau yang menguncimu di kamar mandi toilet bandara itu. . . adalah ideku. Aku benar-benar menyesal.” Jinae masih belum menegakkan kepalanya.

“Aku tahu.”

Ia terperanjat kaget.

“Aku mendengar percakapanmu di telepon kemarin, saat itu aku tidak langsung mandi, tapi mengupingmu. Hehehe, sudahlah walaupun aku tidak dekat denganmu seperti Jinhye, tapi aku cukup mengenalmu. Dan kurasa aku tahu alasanmu.”

“Kau sudah tau, tapi masih bersikap biasa padaku?”

Seunhye tersenyum lalu mengangguk-angguk.

“Tidak perlu dipermasalahkan lagi, semua orang pasti pernah melakukan sesuatu yang salah.”

“Aku hanya iri karena Jinki mendekatimu.”

Sementara Seunhye tersenyum getir.

“Jadi, kita masih berteman?” tanya Jinae dengan sedikit ragu.

“Eng, ada satu syarat, kalau kau ingin kumaafkan, kau tidak boleh memberitahu Han saem kalau aku berkeliaran.”

“Tsk.. Kau ini.”

“Hehehe. Selamat bergumul dengan buku-buku genetika jelek itu!” Seru Seunhye, ia langsung melangkah ke luar dari ruangan kamar hotel mereka.

*

Begitu membuka pintu yang menghubungkannya ke atap, angin malam langsung menusuk kulitnya yang hanya terbalut piama berlengan panjang. Anak rambutnya berterbangan ditiup angin menutupi wajahnya, tapi dibiarkan begitu saja. Seunhye berjalan hingga ke pinggir pembatas. Pemandangan yang sangat indah, dari sini tepat menghadap ke laut, ia bisa deburan ombak menyapu bibir pantai. Ia membalikkan badannya bersender pada dinding pembatas yang hanya setinggi perutnya.Seunhye mengangkat kepalanya ke atas. Langit begitu gelap, tidak terlihat bintang sama sekali. Ia menemukan beberapa bangku dari semen yang mungkin sengaja disediakan. Seunhye melangkah ke salah satu bangku yang cukup panjang. Ia merebahkan tubuhnya di atas semen dan disambut hawa dingin di punggungnya.

Sebelah lengannya diangkat untuk menutupi matanya. Beberapa menit ia dalam kondisi seperti itu.

Tanpa menyadari kehadiran orang lain di sana, Seunhye masih tetap memejamkan mata.

Kyuhyun berjongkok di samping bangku itu, dengan wajah berpangku pada kedua tangannya yang dikepalkan. Ia begitu terlarut memperhatikan wajah Seunhye, hingga tangannya, tanpa dikomando menyeka buliran air yang tiba-tiba mengalir dari sudut mata Seunhye.

Seunhye terlonjak, ia langsung turun dari bangku, kemudian berdiri.

“Sejak kapan kau di situ?” Di situasi gelap itu Seunhye langsung mengenali Kyuhyun.

“Kenapa menangis?” Kyuhyun tak menanggapi pertanyaan Seunhye.

“Siapa yang menangis? Kau lihat sekarang mendung, sudah mulai gerimis juga. Aku mau masuk.”

“Kenapa kau menangis? Kyuhyun meraih tangan Seunhye, memaksa gadis itu berbalik menghadapnya, dan ia langsung merasakan suhu tubuh yang lebih tinggi dari normal ketika bersentuhan dengan Seunhye.

“Kau masih demam!” Baru Kyuhyun mengangkat tangannya ke dahi Seunhye, tapi ditepis gadis itu.

“Tidak perlu bersikap baik lagi padaku. Jinae dan Jinki sudah baikan bukan. Mungkin aku salah paham tentang kita yang belakangan semakin akrab, sekarang kau tidak perlu bersusah-susah mendekatiku lagi untuk sekedar menjauhkanku dari Jinki, seperti kau bilang, aku ini cukup berguna karena aku tidak mengacaukan rencanamu dengan menyukai Jinki. Karena di matamu hanya ada Jinae, melakukan apapun tidak berguna.”

“Hhhh.” Seunhye menarik nafas, dan menahannya.

“Aku tidak akan mengganggu siapa-siapa, baik Jinki, juga kau. Jadi, kau boleh menghentikan kepura-puraanmu kepadaku demi melindungi gadis yang kau sukai.”

“Sudah mau hujan, aku masuk, kau juga masuklah.”

Seunhye meninggalkan Kyuhyun yang masih bergeming di sana, sementara air mata Seunhye yang berusaha ditahannya saat berbicara di depan Kyuhyun mengalir deras tepat setelah ia membalikkan badan.

*

Seunhye’s Pov

Aku mengelap air mataku di dalam lift, menengadah ke atas supaya air mataku tidak keluar lagi.

‘TING!’

‘Bruk.’

“Mianhe.” Aku cepat membungkuk, namun tanganku ditahan.

“Ha. .n saem.”

“IYA CHOI SEUNHYE. Anak nakal. Sudah kubilang jangan berkeliaran, kau masih saja pergi malam-malam begini. Dari mana kau?”

“Aku dari belajar saem.”

“Oh ya? Tanpa buku?”

“Ha, he ehehe.”

“Tsk tsk tsk.. Seunhye! Kau membuatku stres. Badanmu masih panas, lihat matamu sampai merah. Besok mau lomba bukannya istirahat malah main kemana-mana. Cepat ke kamarmu. Sudah minum obat?”

Aku menggeleng.

“Kau ini!”

*

“Seunhye-ya, sudah sembuh?”

Aku menoleh.

“Hmm.” Kuanggukkan kepalaku.

“Aku duduk di sini tidak apa kan?”

“Ya.” Jinki sunbae menempatkan tubuhnya di kursi tepat di depanku.

Hanya dentingan sendok dan sumpit yang beradu terdengar, itu pun kurasa hanya sendok milik Jinki sunbae.

“Seunhye!”

“Ap. . .”

Sepotong daging sudah menempel di bibirku.

“Buka mulutmu!”

Mau tak mau aku menerima suapannya.

“Apapun masalahmu, makan itu tetap penting. Apa makan bersama orang tampan sepertiku tidak mempan untuk mengembalikan nafsu makanmu?”

Aku menatapnya sinis.

“Dasar narsis!”

Ia mencondongkan badannya, tanpa seizinku, tangannya sudah menepuk-nepuk kepalaku.

Jinae membawa piring sambil menguap tepat di samping meja kami, Jinki menarik tangannya dari kepalaku.

Tidak lama setelah mengambil sarapan, Jinae berjalan melewati mejaku dan Jinki, namun ia duduk di meja lain di dekat sana.

“Kau harus makan banyak daging, jangan takut gendut!” Jinki sunbae memindahkan beberapa potong daging panggang ke piringku. Tanpa sengaja mataku bersibobrok dengan sepasang mata lain. Garis senyumku tertarik sedikit.

Ketika Jinki sunbae membuat lelucon yang aku sendiri tidak tahu dimana letak kehumorisannya dan kutanggapi dengan tawa terbahak-bahak yang dibuat-buat, mata itu kembali melirik ke arah kami.

“Sunbae, bisa minta tolong sesuatu?” tanyaku tiba-tiba di saat Jinki tengah terfokus dengan makanannya.

“Sesuatu?”

“Iya, sesuatu. Usap sedikit sudut bibirku!” titahku dengan nada memerintah.

“Untuk apa?” Jinki terheran-heran.

‘DUG’

“Auww, kenapa kau tendang kakiku?”

“Mau kutendang lagi? Cepat lakukan.”

Jinki menatapku gedeg ditengah-tengah ringisannya, namun ia menurutiku.

“Permisi, aku mau lihat sekarang jam berapa!” Jinae menarik tangan kanan Jinki yang baru saja terulur ke arahku.

“Oh, sudah jam 8, sepertinya kita harus makan dengan cepat, sebentar lagi akan berangkat ke tempat lomba kan?”

Jinki tidak bisa menahan gerakan refleks mulutnya untuk menganga.

“Aduh, kenapa ada lilin di sini? Norak sekali!” Gadis itu kini mengambil sendok di meja dan memadamkan api lilin dengan sendok itu secara bar-bar.

“Sampai jumpa!”

Ulah kecil Jinae itu sontak mengundang perhatian tamu hotel yang sama-sama peserta lomba. Beberapa menatap aneh, sementara aku hanya tersenyum-senyum.

‘Dug!’

“Adooww.. Seunhye!”

“Kejar dia!”

“Mwo!”

“Tsk, koneksimu lemot sekali, kejar Jinae!”

“Hah?”

“Ahhh, lambat! Cepat kejar dia!”

Jinki mendorong kursinya ke belakang, sempat-sempatnya ia mengacak rambutku sebelum mengejar Jinae yang sedang dalam tingkat kelabilan tinggi.

*

Ruangan lomba terlihat sangat lengang ketika aku masuk. Peserta lain masih ada di luar ruangan, sementara aku cepat-cepat naik ke atas untuk mencari tempat duduk yang enak, nyaman, strategis, atau apalah. Satu-per-satu siswa dengan bermacam-macam seragam sekolah memasuki ruangan ini. Entah kenapa aku yang sebelumnya sama sekali tidak memusingkan lomba ini, tiba-tiba merasa deg-degan.

Pengawas sudah memasuki ruangan. Suasana menjadi sedikit tegang saat peserta memperhatikan setiap instruksi yang diberikan. Dan soal pun dibagikan.

Tidak terlalu lama setelah aku selesai menuliskan identitas di kolom yang tersedia,

‘Brak!’

Bunyi pintu yang dipaksa dibuka, alias didobrak menjeblak begitu saja. Yang membuatku hampir lupa bernafas adalah, orang yang menendang pintu tersebut.

3 Orang pengawas di ruangan itu sontak melotot ke arah si pembuat onar.

Firasatku semakin tidak enak.

“Apa yang kau lakukan! Cepat keluar, atau kami panggilkan security!” seorang pengawas bersuara. Namun tak digubris, orang itu berjalan seperti hanya dengan satu fokus.

“Ya!” suara pengawas yang lain bahkan hampir terdengar seperti teriakan. Dan yang kusadari adalah, tidak ada laki-laki di ruangan ini selain orang itu.

“Semalam terlalu gelap. Kau tidak mungkin bisa melihat!” Kalimat pertama yang dilontarkan begitu berada tidak kurang setengah meter di hadapanku.

Kurasakan berpuluh-puluh pasang mata menatap ke arahku, namun hanya satu tatapan tajam yang membuatku jengah.

“Kau tidak dengar hah! Cepat keluar dari ruangan ini!”

“Sebentar saja ma’am aku hanya perlu 2 menit!” serunya tanpa menoleh dariku.

“Apa yang ingin kau lakukan?” Suaraku hampir serupa dengan bisikan.

Kyuhyun tersenyum.

Ia menarik daguku, mengarahkan wajahku tepat ke depan wajahnya.

Dapat kudengar seruan kaget yang lain, yang pasti mengira orang sinting di depanku ini hendak melakukan sesuatu yang terjadi seperti di drama-drama.

Jantungku bahkan sudah seperti meledak-ledak.

“Lihat baik-baik . . siapa yang ada di mataku sekarang.”

Sentuhan lembut di bibirku itu jelas terasa sebelum yang terakhir kudengar adalah riuh teriakan memenuhi ruangan itu, dan semuanya terasa berputar kemudian gelap.

*

Author’s Pov

Seorang gadis berkulit putih dengan sackdress coklat pastel berbahu rendah dan rambut gelombang sebahu berjalan mondar mandir di tengah ruangan luas dan megah. Mata coklat almondnya bercahaya menyiratkan, antara perasaan gugup, takut, dan khawatir yang bergabung menjadi satu setiap matanya menyapu pandangan ke pintu yang menghubungkan ruangan ini dengan ruangan lain yang sama sekali tidak diketahuinya.

“Tidak perlu setegang itu! Kau sudah mondar-mandir ke toilet 3 kali!” sewot Kyuhyun

“Mana bisa tidak tegang! Bagaimana aku menghadapi keluarga mantan Presiden Korea Selatan BABO!”

“Annyeonghaseo! Choneun Choi Seunhye imnida. Anak tunggal umur 21 tahun semester akhir di fakultas psikologi Dongguk University, ayah pegawai, ibuku ibu rumah tangga biasa! Senang bertemu dengan anda.”

“Kenapa kau norak sekali! Cukup sampai Seunhye imnida saja!”

“Berisik! Biarkan aku latihan dulu!”

“Ehm . . hemm. .  Annyeonghaseo! Choneun Choi Seunhye imnida. . .hmmph” Laki-laki itu sesuka hatinya menyela, membekap bibir Sunhye.

‘Cklek’

Semua orang yang berdiri di ambang pintu tak bergerak menyaksikan pemandangan di hadapan mereka.

‘DUAGH’

“Adoouwww!!!”

Satu pukulan melayang ke kepala Kyuhyun membuatnya mau tak mau melepas gadis dalam rengkuhannya.

Seunhye buru-buru merapikan rambutnya, memperbaiki sikapnya, walaupun sebenarnya tu sudah percuma.

“A. .annyeong haseo choneun Choi Seunhye imnida!”

Sementara wanita tua yang biasanya terlihat berwibawa dan elegan itu langsung lemas melihat apa yang dilakukan cucu kesayangannya beberapa detik yang lalu.

“Aigo. . . aigo. . .”

“Eomma!”

“Istriku!”

“Nenek!”

“Nyonya!”

Tubuh nenek yang hampir tumbang langsung diangkat ke dalam oleh Jinki yang notabene satu-satunya orang terdekat dari neneknya yang cukup kuat untuk melakukan itu.

“Aigooo.. Matilah aku! Habislah aku. Huaaaa..” Seunhye mengacak-acak rambutnya dan memukuli kepalanya sendiri frustasi

“Kurasa aku benar-benar akan dicabut dari daftar pewaris.” Ujar Kyuhyun santai, kemudian sekali lagi menarik Seunhye mencoba menciumnya, dan . . .

BUAGH

KLONTANG

KDEMPRANG

MIAW (?)

DORR (?)

ASDF!*@&#!(&#!^&^@%*

 

END

Check 1 2 3. . Hulaa!!! Akhirnya part terakhir sudah selesai. Aku baru sadar kalo dari part 4 ke part 5 ini jarak postingnya 4 bulan. MIAAAAAAAAAN. Nggak heran kalo pada lupa sama ini cerita. Maaf kalo endingnya membosankan. Huaaaa. Another failed ff, but please speak up! Karena sebenarnya yang bikin author-author semangat nulis adalah komen dari teman-teman semua.

Sekian bacotan saya. Sampai jumpa di ff selanjutnya. *lambai kaos kaki*

Loveless Part 4

Title: Loveless

Author:  seoeunkyung

Genre: Romance:

Rating: PG-15

Length: On going

a.n:

Super Kamsha buat Shinbi onnie hihihi. Thankyou posternya onnie!! Jangan kapok buatin aku poster lagi ya.

Ff buat @ekaafs aka Choi Seunhye yang udah “baik” buatin aku ff berakhir tragis -__-

Let’s take a look. ^^

Part 4

Seorang gadis berambut panjang yang dikepang satu, dan topi rajutan di atas kepalanya melangkahkan kakinya mendekati mesin minuman di ujung ruangan salah satu terminal keberangkatan Incheon Airport. Lebih tepatnya gadis itu menghampiri gadis lain yang tengah sibuk memilih-milih minuman di dalam mesin.

Moon Byunghee, kelas 3 2 Yeogang High School?”

 

Gadis berambut blonde di depan mesin minuman itu  menoleh sekilas kepada si gadis berkepang satu, namun detik berikutnya ia kembali memilih-milih minuman di mesin.

 

“Kau, si nomor 2 untuk astronomi kan?”

 

Pernyataan kedua yang dilontarkan gadis berkepang satu itu membuat perhatian gadis itu teralih sepenuhnya setelah ia mengambil minuman kaleng dinginnya.

 

“Siapa kau? Apa maumu?” suara gadis itu sarat dengan nada angkuh, ditujukan pada gadis berkepang satu.

 

Senyum simpul tersungging di wajah manis gadis berkepang satu itu.

 

“Seo Jinae. Chansik High School. Aku hanya punya sebuah penawaran kecil untukmu.”

  Continue reading

Loveless Part 3

Title: Loveless

Author: seoeunkyung

Cast: Choi Seunhye, Cho Kyuhyun, Lee Jinki, Seo Jinae and others

Genre: Romance (selalu =.=)

Rating: PG-15 wkwk, rating dinaikin.. hahaha

Prev Part:

Part 1 | Part 2
Ff untuk @ekaafs yang ‘berbaik hati’ membuatkan saia ff  dengan akhir
yang tragis.

Take a look.. ^^

Cover seadanya -__- dan abaikan kedua ulzzang di atas. Ayo tebak-tebak berhadiah yang mana Seunhye yang mana Jinae. Yang bener nebaknya entar malem mimpiin saya #plak #duagh  biasnya ^^ kekeke~

Part 3

Kyuhyun melewati Seunhye begitu saja, Seunhye tak ambil pusing lalu masuk ke ruang kesehatan, kembali ke tujuannya semula. Seunhye berjongkok, merangkak di lantai ke sana ke mari mengelilingi ruang kesehatan, siapa tahu kalungnya jatuh di lantai. Ia mengintip ke bawah kolong ranjang tempatnya dibaringkan saat pingsan kemarin. Karena gelap, ia meraba saku ponselnya mencari ponselnya. Seunhye yang masih dalam posisi merangkak sedikit kesulitan mengambil ponselnya, tapi akhirnya ia mendapatkan ponsel itu dan bermodal cahaya dari display ponsel layar sentuhnya ia menyusuri setiap lantai di bawah kolong ranjang yang sempit, hingga ia harus menempelkan kepalanya ke lantai. Beberapa menit ia mencari benda berantai dan berliontin hati yang sangat kecil, namun nihil. Saat ia beranjak, dari posisinya yang membuat lelah, gadis itu kembali dikejutkan oleh seseorang. Seunhye merasa kenapa akhir-akhir ini dia selalu terkejut. Kyuhyun yang tadi keluar dari ruang kesehatan saat Seunhye masuk entah kenapa malah sudah berjongkok ria memandangi aksi mengintip tempat tidurnya Seunhye.

“Yah! Kalau datang, paling tidak ucapkan salam, annyeong haseyo, kau pikir kau hantu?” Seunhye mengelus dadanya.

Continue reading

Loveless Part 2

Title: Loveless

Author: seoeunkyung

Cast: Choi Seunhye, Cho Kyuhyun, Lee Jinki, Seo Jinae

Genre: Romance (selalu =.=)

Rating: SU

Prev part:

Part 1

Ff untuk @ekaafs yang ‘berbaik hati’ membuatkan saia ff  dengan akhir yang tragis.

Makasih buat reader tercintah yang udah ninggalin komentnya.. :* :* semoga langgeng dengan biasnya (?)

Take a look.. ^^

 

“Tutup mulutmu! Kau pasti tahu alasanku.” Suara sinis Jinki lebih menekan pada kata ‘pasti’ kemudian ia menghempas tubuh Kyuhyun ke lantai dan melangkah meninggalkannya.

Part 2

 

Kyuhyun bejalan, menjajakan kakinya melewati lapangan basket outdoor sekolah, ia hendak menuju ke pelataran parkir. Pukulan Jinki memberinya wajah memar dan berdarah. Sesekali diusapnya darah di sudut bibirnya yang merembes mengalir.

Continue reading