Nostalgia

k

Credit pic: @healing_unicorn@weheartit

Recommended lagu nya: Ali-Hurt ost rooftop prince, linknya? cari sendiri jangan manja *kicked*

Cast: Kai, Moon Sera

Kacamata berbingkai tipis yang jatuh ketika tangannya bergerak di atas meja membangunkan dia bersamaan dengan pening yang amat sangat di seluruh kepala hingga tengkuknya. Hangat di seluruh badannya, kecuali ujung-ujung aksial jari-jari tangan maupun kaki gadis itu. Dia terkena demam musim panas. Tangannya meraih kacamata minusnya yang masih berada di dekat kaki meja. Begitu menegakkan tubuhnya, dering telepon yang tenggelam dalam getaran ponsel yang di setting silent menyisakan dengungan antara vibrasi benda persegi panjang itu dengan meja kayu berpelitur coklat muda bekas tempat kepala gadis ini menyandarkan kepalanya selama setengah jam yang lalu.

Continue reading

Acquainted

kai

Cast: Lee Jinhyeon, Kai, Luhan

 

Aku, Lee Jinhyeon, gadis cantik dan manis kelas 3 SMA swasta di distrik gangnam, ya sebut saja sekolah elit di mana anak-anak pengusaha disekolahkan demi menjaga sesuatu yang disebut prestise. Uang sekolahku memang mahal, tapi jangan tanya kenapa aku bisa sekolah di sekolah yang toiletnya seperti toilet hotel. Penasaran? Oh, baiklah. Tentu saja karena, karena,

AKU ANAK ORANG KAYA!

Continue reading

I am Part 2

Cast:

___ (Whoever)

Lee Taemin

Kim Jongin / Kai

Others

Genre: i hate to mention romance! Abal-abal pula. Padahal mau buat yang dark action ada angst angstnya atau apalah, ujung-ujungnya balik lagi ke romance. AAAAA

Rating: Parents guide (Ajak mamanya baca bareng)

Lenght: Short series yang seharusnya dibuat oneshot, tapi karna authornya ngebet pengen post, jadi dibuat bersambung.

Previous: 1

“Kyaaa! Ada yang mengintip!”

‘Tempat biasa, aku membawa seorang teman.’

Ia malah mengedip menjijikkan. Muka dua, kepribadian ganda.Hanya karena ia klienku, kalau tidak aku tak sudi dekat-dekat dia.

Part 2

___’s pov

Aku memasuki kawasan sebuah klub malam terselubung. Bangunannya hanya terlihat seperti sebuah minimarket biasa dari luar.

Begitu sampai di ruangan belakang, aku ditahan oleh dua orang security, namun setelah melihat wajahku, mereka mempersilakanku masuk.

Langkahku kupercepat sepanjang koridor yang hanya diterangi temaram cahaya dari lampu 5 watt. Aku tak suka gelap. Semakin mendekat ke ujung lorong, suara hiruk pikuk dan dentuman musik disco mulai terdengar.

Kental sekali aroma alkohol. Satu lagi yang aku tidak suka. Baru sampai di depan pintu masuk, seseorang melambai kepadaku, tanda kedatanganku memang sudah ditunggu. Berjalan menyebrang dari depan pintu masuk ke meja counter bar yang hanya dipisahkan jarak tidak lebih dari 10 meter terasa sangat sulit karena gerombolan orang mabuk yang menari-nari di atas lantai membuatku sulit untuk menyeruak.

Klub ini lebih banyak didatangi orang-orang muda, dengan umur berkisar 16-30 tahun.

“Hai sayang.”

Aku tak merespon, melainkan duduk di kursi tinggi di depan meja counter minuman.

“Ingin minum apa nona?”

Aku menggeleng dan bartender itu kembali menekuni pekerjaannya mengelap gelas sloki.

“Di mana temanmu?”

Cowok beroutfit branded yang berdiri dengan tangan menopang di atas meja dan memegang segelas wine ini tersenyum kemudian menelengkan kepalanya ke arah sofa di sudut klub di mana seorang cowok duduk diapit beberapa orang perempuan yang mencekokinya minuman yang sudah jelas berupa alkohol.

“Your turn.”

Aku turun dari kursiku, mendatangi sofa tempat cowok yang dibawa Kai itu duduk. Kedua perempuan bar yang masih seumuran denganku menyingkir, memberiku celah untuk duduk.

“Hai, aku ___.” Aku mengambil tempat duduk hampir mendempetnya. Cowok itu mendongak menatapku.

“Halo.” Nafasnya bau alkohol, sudah mabuk rupanya. Aku menatap cowok ini, bukan tipikal anak nakal pembuat onar, sekali lagi Kai menjerumuskan anak yang baik.

“Jadi siapa namamu tampan?” Aku tak yakin suaraku benar-benar terdengar menggoda.

“Hahaha, namaku ya? Namaku tidak penting, karena julukan ‘Nerd’ sudah menjadi namaku sekarang. Aku mau minum itu lagi!”

Kuambil sebotol bir yang isinya sudah berkurang setengah, menuangnya ke dalam gelas yang sedari tadi dipegang anak itu.

“Memangnya mauku menjadi kaum tersingkir, setiap hari, diolok-olok, diperlakkan seperti binatang? Siapa yang mau seperti itu! Makanya berhenti menghinaku!”

Frustasi dengan kehidupan? Baiklah, tugasku menunggunya menyelesaikan racauan tidak penting ini dan aku bisa pulang.

“….mereka tidak punya otak.” Ia sudah berhenti mengoceh.

“Sudahlah, aku bisa membuatmu melupakan semua itu dengan ini.” Aku mengeluarkan bungkusan berisi serbuk putih yang sudah kugenggam dari tadi.

“Itu, apa?” ia bertanya dengan mata yang meram melek.

“Ini, bisa membuatmu senang, membuatmu lebih rileks dan melupakan semua masalahmu.”

“Aku harus bayar berapa?”

Target locked.

“Ambil saja, gratis untuk teman baruku.” Aku menyodorkan bungkusan itu dan menyelipkan secarik kertas.

“Kau baik sekali.” Aku menyeringai samar mendengarnya.

Dan bagaiamana ia terlihat asing menggunakan barang itu, menyatakan kalau dia memang baru pertama ini memakainya, aku merasa ada sesuatu yang aneh, entah kenapa, aku hanya merasa kalau yang aku lakukan itu tidak baik, benarkah? Memang masih ada hal baik yang pernah aku lakukan sekarang?

Aku beranjak meninggalkan sofa menuju pintu keluar, kepalaku terasa sedikit berat, aku ingin cepat sampai rumah.

“___!”

“___!”

Namaku dipanggil berulang kali, sebenarnya aku telah mendengar panggilan pertama dari Kai semenjak di dalam bar, tapi aku pura-pura tak mendengar, namun di koridor yang sepi ini aku tak punya pilihan selain menoleh.

“Maaf, aku merasa tidak sehat, aku sudah boleh pulang bukan?”

Wajah Kai yang tidak terlalu jelas terlihat, menunduk mendekat ke wajahku, hingga kulit  kami bersentuhan,  dan ia membiarkannya sebentar.

“Kuantar, kau agak hangat!”

Pernyataannya perintah, bukan tawaran, ia merangkul badanku dan menuntunku berjalan.

“Aku hanya demam Kai, jangan perlakukan aku seperti nenek lansia.” Kutepis tangannya dari bahuku.

“Baiklah, bagaimana dengan ini?”

Aku bahkan tidak sempat berontak ketika tangannya sudah menopang tubuhku hingga aku tak lagi berpijak pada tanah. Kai menggendongku.

“Terserah kau sajalah.”

Ia tersenyum.

“Memang, dan akan terus begitu sayang.”

Kepalaku terasa semakin berat.

*

Author’s pov

Gadis kecil itu merangkak berusaha pergi menjauh, namun rambutnya ditarik dan dijambak dengan sangat kasar hingga ia berdiri.

“Hiks..hiks, ampun nyonya, bukan aku yang mencuri!”

PLAK PLAK!

“Tidak ada ampun untuk pencuri sepertimu, dasar tidak tahu diri!”

Pipinya membiru, bercak darah menghiasi sudut bibirnya.

Masih belum puas wanita dewasa yang tengah menarik rambut panjang gadis itu menampar berkali-kali.

Gadis lain yang terlihat beberapa tahun lebih tua melempar senyum sinis, sambil memegang sejumlah uang di belakang tubuhnya.

Pandangan wanita itu terarah pada sebuah gunting yang tergeletak di atas meja. Ia mengambil gunting itu dan memotong rambut gadis kecil yang hampir tak sadarkan diri di dekat kakinya.Wanita itu kemudian meninggalkan gadis kecil tadi.

Gadis itu meringkuk di ruangan gelap di belakang toko sendirian. Entah sudah berapa lama matanya terpejam, terlelap namun bukan pingsan. Ia terjaga karena dinginnya lantai yang menusuk kulit hingga ke tulang. Sekuat tenaga, ia menopang tubuhnya dengan tangan yang menyangga di lantai, tanpa sengaja menyentuh helaian rambut panjangnya yang telah digunting dengan brutal, ia berusaha menegakkan tubuhnya. Hingga ia berhasil berdiri di atas kedua kakinya yang sangat lemas dalam kegelapan.

Tubuhnya tidak seimbang, ia merosot ke lantai beberapa kali. Rasa pusing dan lapar yang amat sangat benar-benar menyiksa gadis kecil itu. Air matanya masih meleleh dari kedua matanya yang membiru. Tangannya meraba-raba sampai ia menemukan setumpuk kardus, ia berpegangan pada kardus itu, meniti jalan mencari letak pintu keluar.

Di tengah kegelapan malam, kedua kaki kecilnya melangkah  menyusuri emperan toko yang hanya diterangi cahaya lampu jalan.Ia terjatuh untuk ke sekian kalinya, tanpa sisa tenaga kali ini, ia tak sanggup berdiri lagi. Perlahan tapi pasti matanya meredup, kesadarannya memudar, namun belum hilang sepenuhnya.

Samar-samar matanya masih menangkap sebuah mobil yang menepi di pinggir toko. Gadis itu mengerjap lagi, beberapa sosok turun dari mobil tersebut.

Salah seorang di antaranya berjongkok di dekat tubuh gadis itu.

Dan gadis itu benar-benar pingsan seutuhnya.

Gadis itu mengerjap, pusing langsung menerjang kepalanya, membuat kelopak matanya semakin terasa sakit untuk dibuka.

“Kau sudah bangun?” suara bass seorang pria dewasa dengan setelan formal menyapa telinga gadis itu setelah tidur panjangnya hampir seharian penuh.

Kedua mata gadis itu memancarkan kesenduan, bibirnya rapat terkunci, ia merasa sangat asing dengan orang yang mengajaknya bicara itu, juga tempat dan suasana di mana ia berada.

“Paman tidak akan berbuat jahat, jangan takut.” Suara itu kembali berseru dengan irama yang lebih lembut.

Pelan-pelan gadis itu merasa yakin, kalau ia bisa mempercayai orang di hadapannya.

“Siapa namamu gadis kecil?”

Walaupun masih dengan takut, gadis itu akhirnya membuka suara.

“___.” Ujarnya sangat pelan.

Pria itu tersenyum.

“Mulai sekarang kau mau kan tinggal di sini?” Dengan nada yang lembut, gadis kecil itu sekali lagi merasa bahwa orang itu tidak akan menyakitinya.

Kepala gadis itu mengangguk-angguk pelan.

Pria itu tersenyum sekali lagi dan membelai rambut pendek gadis kecil itu.

CKLEK

Pintu ruangan kamar itu terbuka, sesosok anak laki-laki kecil melangkah masuk sambil memegangi robot mainannya.

“Appa, dia siapa?”

Anak laki-laki itu berdiri di dekat pintu.

Ayahnya yang duduk di kursi di pinggir ranjang tempat gadis kecil yang masih dipenuhi luka lebam di wajahnya berbaring beranjak berdiri mendekati bocah laki-laki itu. Pria itu menggendong anak laki-laki satu-satunya, tersenyum.

“Teman barumu Jongin, dia milikmu.”

TBC

p.s: Pendek yah. Sekali lagi, ff ini dikerjakan dengan mood, maaf kalo berantakan dan bahasanya kacau/ sulit dimengerti, jalan ceritanya juga mengalir seadanya.

Tetem gak muncul di sini, tapi di part selanjutnya ada kok.

I will update as soon as possible ^^