Just A Gift To..

Cast: Choi Seunhye, Cho Kyuhyun, Seo Eunkyung

Genre: Romance

Rating: PG

Length: Ficlet

Hampir setiap menit mataku terus mencuri pandang ke arah dinding paling belakang ruangan lab komputer. Jika aku diberi pilihan untuk memiliki satu kekuatan seperti tokoh di film anime, maka aku sangat ingin memiliki kemampuan ilusi waktu, tentu saja untuk membuat jarum detik berputar 100 kali lebih cepat dari semula agar aku bisa segera keluar dari penjara kolestrol ini.

Continue reading

Loveless Part 5 [END]

Title: Loveless Part 5

Cast:      Choi Seunhye

Cho Kyuhyun

Lee Jinki

Seo Jinae

Others

Genre: AU

Length: Series

Rating: T

Part 1 Part 2 |Part 3 |Part 4

 

a.n:

Super Kamsha buat Shinbi onnie hihihi. Jangan kapok buatin aku poster lagi ya.

Let’s take a look. ^^

BGM: Can U Smile Infinite

 

Previous story:

“Apa ini kencan?” gumam Seunhye.

“Nde?” tanya Kyuhyun.

Ia mendekat ke arah Seunhye. Kyuhyun melingkarkan tangan Seunhye di lehernya, dibantu beberapa orang di sana ia berhasil mengangkat Seunhye ke gendongannya.

Ia membalik foto tersebut.

Cho Kyuhyun

First crush, I wish he will be the first whom i kiss with >//<

 

“As you wished, dear…”

 

Part 5

 

Aku terbangun sejenak aku menangkap remang-remang cahaya lampu di sebuah ruangan. Ketika mataku telah beradaptasi barulah aku menyadari aku sedang terbaring nyaman di ranjang kamar hotel. Aku bangkit dari posisi tidur menjadi duduk, bersamaan dengan jatuhnya sebuah benda dingin dan lembab.

Handuk kecil.

Aku memegang dahiku merasakan permukaannya sedikit benjol. Dan kejadian menabrak tiang di terminal bus kembali teringat.

Aku berjalan ke jendela menarik tirainya sedikit. Langit gelap sudah menenggelamkan matahari.

Begitu teringat sesuatu, aku langsung mencari tas selempangku, kuambil dompetnya dan memeriksa dompet itu.

“20 ribuan 3 lembar, 50 ribuan 1 lembar, uang receh 9 koin. Uh-oh! Berarti anak itu berbohong soal tidak bawa uang karena aku bisa sampai lagi di hotel tanpa sepeser pun uang berkurang di dompetku.”

‘Cklek’

“Kau sudah bangun?”

“Ne, Jinae-ya, siapa yang membawaku ke sini?”

“Kyuhyun sunbae. Kau kenapa bisa pingsan?”

“Oh, hehe, aku menabrak tiang.

“Dasar, kasihan tiangnya!”

“Hehehe. Ngomong-ngomong, kau yang mengompresku?”

Ia menggeleng.

“Aku pun baru pulang dari pantai saat melihat Kyuhyun di koridor depan kamar kita, kurasa dia yang mengompresmu.” Ujar Jinae disertai senyum kecil.

“Jangan senyum-senyum!” sewotku pada Jinae yang sebenarnya untuk menutupi rasa maluku.

“Aku mau beli minuman di bawah.”

Tanpa jawaban dari Jinae, aku memakai sandal hotel kemudian pergi keluar.

Lift belum juga terbuka. Aku mondar-mandir di depan lift. Tidak sengaja penglihatanku menemukan sosok Kyuhyun di beranda lobi. Aku menugurungkan niatku, dan ingin menghampirinya sebentar, sekedar untuk berterimakasih, kukira makhluk seperti dia akan meninggalkanku yang pingsan di terminal begitu saja.

Namun semakin aku mendekat, aku menemukan seorang lagi di sana. Jinki. Aku hendak menyapa mereka, awalnya.

“. . . Apa maumu mendekat Choi Seunhye?” aku berhenti melangkah, secara tidak sadar, kakiku melangkah ke arah sudut yang tidak bisa dilihat mereka berdua.

Kenapa namaku bisa dibawa-bawa?

“Tidak bisakah kau menebak jalan pikiranku?” kali ini suara Kyuhyun.

“Kau menjadikan dia pelarian.” Seru Jinki.

Kyuhyun tersenyum kecil sambil menggeleng.

“Kau yang menjadikannya pelarian.” Tekan Kyuhyun.

“Sudah mengerti maksudku?” lanjut Kyuhyun.

“Hhhh. . . Aku hanya ingin mengalah, kau menyukai Jinae, tapi kau juga yang menyuruhku menerimanya.” Balas Jinki.

“Kau pikir sudah berapa lama kita berteman? Mungkin awalnya kau tidak menyadarinya, kau bahkan seolah-olah menelantarkan dan tidak peduli pada Jinae, jangan salahkan gadis itu jika ia berpaling padaku yang lebih tampan darimu, tapi, kau tau? Pukulanmu tempo hari sudah cukup jelas menyatakan kau menginginkan gadis itu.”

Jinki tersenyum simpul, namun lebih bersahabat.

“Awalnya kukira aku benar-benar bisa merebutnya darimu, tapi Jinae sendiri tidak mau denganku walaupun sudah kucium.” Seru Kyuhyun terkekeh.

“Mwo, Brengsek kau! Kau mau kuhajar lagi.”

“Kau pukul aku sekali lagi, kudadukan kau pada nenek, kau akan dicabut dari daftar pewaris.”

Aku tertegun mendengarkan percakapan mereka.

“Mati kau Cho Kyuhyun, jangan pernah sentuh Jinae lagi atau kubuat kau babak belur tepat di hadapan nenek.”

“Kau pikir aku takut Tuan Lee?”

“Sudahlah, bicara denganmu seperti bicara dengan orang tak waras.”

Hening sebentar, mereka seperti larut dalam pikiran masing-masing.

“Tapi, Choi Seunhye, gadis itu baik, dan sangat menyenangkan, kupikir kau sependapat denganku karena kau selalu menginginkan apa yang ku inginkan.” Jinki kembali berucap.

“Kau seperti takut aku akan mengambil Jinae lagi dan menyodor-nyodorkan orang lain padaku.” Balas Kyuhyun skeptis.

“Aku hanya bersimpati pada sepupuku yang hanya dijadikan pelarian oleh pacarku.” Balas Jinki dengan nada sinis.

“Dia hanya gadis yang mengejar-ngejarku, merepotkan, tapi setidaknya dia sedikit berguna karena dia tidak tertarik denganmu.” Ia terlihat seolah sedang menerawang.

“Kau akan membuatnya tersinggung dengan kata-kata itu.”

“Tapi kau mengerti maksudku kan Tuan Lee.”

“Tentu saja.”

Aku mundur perlahan dari tempatku berdiri. Udara di sekitarku seperti terserap entah ke mana. Rasanya bagaikan berada di luar angkasa hampa udara. Tiba-tiba sesak.

Author’s Pov

“Choi Seunhye!”

“Songsaenim?”

“Kau ini bandel sekali, seharian pergi tanpa minta izin denganku. Pulang-pulang kau dalam keadaan pingsan. Lihat kepalamu sampai benjol begitu. Jangan diulang lagi. Arra!” celotehan panjang Han Saem hanya dibalas Han saem dengan anggukan lemah.

Melihat Seunhye yang sedikit berbeda, Han saem meletakkan punggung tangannya di dahi Seunhye.

“Astaga, kau ini sedang demam, kenapa tidak bilang padaku. Ayo cepat ke kamarmu.”

Suara Han saem yang melengking cukup membuat dua laki-laki yang berdiri di tempat yang hanya disekat pintu kaca dari mereka mendengarnya.

Kyuhyun sempat melihat Seunhye yang berjalan sambil dipegangi guru pembimbing mereka.

*

“Tidak boleh!”

“Jinae, kau cantik deh.”

“Jangan menjilat, itu sudah bawaan lahir.” Balas Jinae.

“Ayolah, aku kan hanya ingin belajar.”

“Melamun sambil melihat bintang dan bulan kau bilang belajar?” tanya Jinae remeh.

“Yeah, kenapa aku merasa kau mirip eomma sekarang. Tentu saja, aku kan lomba mata pelajaran astronomi, melihat bintang ada kaitannya.” Dalih Seunhye.

“Tapi kau masih demam, nanti aku yang kena marah Han saem kalau dia tahu kau malah berkeliaran ke luar.”

“Tenang saja, Han saem tak akan menemukanku. Boleh ya.” Seunhye berkedip-kedip tidak jelas.

“Terserah kau saja, kalau kau nanti kau pingsan lagi tanpa diketahui aku tidak tanggung jawab. Ujar Jinae akhirnya.

“Hohoho. Dadah Jinae.”

Seunhye turun dari tempat tidur, namun baru satu langkah, buru-buru Jinae memanggilnya.

“Yah!”

“Apa lagi Jinae-ya?”

“Seunhye, aku ingin minta maaf.”

“Hmm?”

“Aku tidak tahu kenapa aku bisa jadi sangat jahat padamu. Aku bahkan malu pada diriku sendiri. Bisa-bisanya aku melakukan hal itu padamu. Maafkan aku!” Jinae membungkuk.

“Mungkin kau akan sangat marah dan tidak mau memaafkanku, tapi aku hanya ingin mengaku, kalau yang menguncimu di kamar mandi toilet bandara itu. . . adalah ideku. Aku benar-benar menyesal.” Jinae masih belum menegakkan kepalanya.

“Aku tahu.”

Ia terperanjat kaget.

“Aku mendengar percakapanmu di telepon kemarin, saat itu aku tidak langsung mandi, tapi mengupingmu. Hehehe, sudahlah walaupun aku tidak dekat denganmu seperti Jinhye, tapi aku cukup mengenalmu. Dan kurasa aku tahu alasanmu.”

“Kau sudah tau, tapi masih bersikap biasa padaku?”

Seunhye tersenyum lalu mengangguk-angguk.

“Tidak perlu dipermasalahkan lagi, semua orang pasti pernah melakukan sesuatu yang salah.”

“Aku hanya iri karena Jinki mendekatimu.”

Sementara Seunhye tersenyum getir.

“Jadi, kita masih berteman?” tanya Jinae dengan sedikit ragu.

“Eng, ada satu syarat, kalau kau ingin kumaafkan, kau tidak boleh memberitahu Han saem kalau aku berkeliaran.”

“Tsk.. Kau ini.”

“Hehehe. Selamat bergumul dengan buku-buku genetika jelek itu!” Seru Seunhye, ia langsung melangkah ke luar dari ruangan kamar hotel mereka.

*

Begitu membuka pintu yang menghubungkannya ke atap, angin malam langsung menusuk kulitnya yang hanya terbalut piama berlengan panjang. Anak rambutnya berterbangan ditiup angin menutupi wajahnya, tapi dibiarkan begitu saja. Seunhye berjalan hingga ke pinggir pembatas. Pemandangan yang sangat indah, dari sini tepat menghadap ke laut, ia bisa deburan ombak menyapu bibir pantai. Ia membalikkan badannya bersender pada dinding pembatas yang hanya setinggi perutnya.Seunhye mengangkat kepalanya ke atas. Langit begitu gelap, tidak terlihat bintang sama sekali. Ia menemukan beberapa bangku dari semen yang mungkin sengaja disediakan. Seunhye melangkah ke salah satu bangku yang cukup panjang. Ia merebahkan tubuhnya di atas semen dan disambut hawa dingin di punggungnya.

Sebelah lengannya diangkat untuk menutupi matanya. Beberapa menit ia dalam kondisi seperti itu.

Tanpa menyadari kehadiran orang lain di sana, Seunhye masih tetap memejamkan mata.

Kyuhyun berjongkok di samping bangku itu, dengan wajah berpangku pada kedua tangannya yang dikepalkan. Ia begitu terlarut memperhatikan wajah Seunhye, hingga tangannya, tanpa dikomando menyeka buliran air yang tiba-tiba mengalir dari sudut mata Seunhye.

Seunhye terlonjak, ia langsung turun dari bangku, kemudian berdiri.

“Sejak kapan kau di situ?” Di situasi gelap itu Seunhye langsung mengenali Kyuhyun.

“Kenapa menangis?” Kyuhyun tak menanggapi pertanyaan Seunhye.

“Siapa yang menangis? Kau lihat sekarang mendung, sudah mulai gerimis juga. Aku mau masuk.”

“Kenapa kau menangis? Kyuhyun meraih tangan Seunhye, memaksa gadis itu berbalik menghadapnya, dan ia langsung merasakan suhu tubuh yang lebih tinggi dari normal ketika bersentuhan dengan Seunhye.

“Kau masih demam!” Baru Kyuhyun mengangkat tangannya ke dahi Seunhye, tapi ditepis gadis itu.

“Tidak perlu bersikap baik lagi padaku. Jinae dan Jinki sudah baikan bukan. Mungkin aku salah paham tentang kita yang belakangan semakin akrab, sekarang kau tidak perlu bersusah-susah mendekatiku lagi untuk sekedar menjauhkanku dari Jinki, seperti kau bilang, aku ini cukup berguna karena aku tidak mengacaukan rencanamu dengan menyukai Jinki. Karena di matamu hanya ada Jinae, melakukan apapun tidak berguna.”

“Hhhh.” Seunhye menarik nafas, dan menahannya.

“Aku tidak akan mengganggu siapa-siapa, baik Jinki, juga kau. Jadi, kau boleh menghentikan kepura-puraanmu kepadaku demi melindungi gadis yang kau sukai.”

“Sudah mau hujan, aku masuk, kau juga masuklah.”

Seunhye meninggalkan Kyuhyun yang masih bergeming di sana, sementara air mata Seunhye yang berusaha ditahannya saat berbicara di depan Kyuhyun mengalir deras tepat setelah ia membalikkan badan.

*

Seunhye’s Pov

Aku mengelap air mataku di dalam lift, menengadah ke atas supaya air mataku tidak keluar lagi.

‘TING!’

‘Bruk.’

“Mianhe.” Aku cepat membungkuk, namun tanganku ditahan.

“Ha. .n saem.”

“IYA CHOI SEUNHYE. Anak nakal. Sudah kubilang jangan berkeliaran, kau masih saja pergi malam-malam begini. Dari mana kau?”

“Aku dari belajar saem.”

“Oh ya? Tanpa buku?”

“Ha, he ehehe.”

“Tsk tsk tsk.. Seunhye! Kau membuatku stres. Badanmu masih panas, lihat matamu sampai merah. Besok mau lomba bukannya istirahat malah main kemana-mana. Cepat ke kamarmu. Sudah minum obat?”

Aku menggeleng.

“Kau ini!”

*

“Seunhye-ya, sudah sembuh?”

Aku menoleh.

“Hmm.” Kuanggukkan kepalaku.

“Aku duduk di sini tidak apa kan?”

“Ya.” Jinki sunbae menempatkan tubuhnya di kursi tepat di depanku.

Hanya dentingan sendok dan sumpit yang beradu terdengar, itu pun kurasa hanya sendok milik Jinki sunbae.

“Seunhye!”

“Ap. . .”

Sepotong daging sudah menempel di bibirku.

“Buka mulutmu!”

Mau tak mau aku menerima suapannya.

“Apapun masalahmu, makan itu tetap penting. Apa makan bersama orang tampan sepertiku tidak mempan untuk mengembalikan nafsu makanmu?”

Aku menatapnya sinis.

“Dasar narsis!”

Ia mencondongkan badannya, tanpa seizinku, tangannya sudah menepuk-nepuk kepalaku.

Jinae membawa piring sambil menguap tepat di samping meja kami, Jinki menarik tangannya dari kepalaku.

Tidak lama setelah mengambil sarapan, Jinae berjalan melewati mejaku dan Jinki, namun ia duduk di meja lain di dekat sana.

“Kau harus makan banyak daging, jangan takut gendut!” Jinki sunbae memindahkan beberapa potong daging panggang ke piringku. Tanpa sengaja mataku bersibobrok dengan sepasang mata lain. Garis senyumku tertarik sedikit.

Ketika Jinki sunbae membuat lelucon yang aku sendiri tidak tahu dimana letak kehumorisannya dan kutanggapi dengan tawa terbahak-bahak yang dibuat-buat, mata itu kembali melirik ke arah kami.

“Sunbae, bisa minta tolong sesuatu?” tanyaku tiba-tiba di saat Jinki tengah terfokus dengan makanannya.

“Sesuatu?”

“Iya, sesuatu. Usap sedikit sudut bibirku!” titahku dengan nada memerintah.

“Untuk apa?” Jinki terheran-heran.

‘DUG’

“Auww, kenapa kau tendang kakiku?”

“Mau kutendang lagi? Cepat lakukan.”

Jinki menatapku gedeg ditengah-tengah ringisannya, namun ia menurutiku.

“Permisi, aku mau lihat sekarang jam berapa!” Jinae menarik tangan kanan Jinki yang baru saja terulur ke arahku.

“Oh, sudah jam 8, sepertinya kita harus makan dengan cepat, sebentar lagi akan berangkat ke tempat lomba kan?”

Jinki tidak bisa menahan gerakan refleks mulutnya untuk menganga.

“Aduh, kenapa ada lilin di sini? Norak sekali!” Gadis itu kini mengambil sendok di meja dan memadamkan api lilin dengan sendok itu secara bar-bar.

“Sampai jumpa!”

Ulah kecil Jinae itu sontak mengundang perhatian tamu hotel yang sama-sama peserta lomba. Beberapa menatap aneh, sementara aku hanya tersenyum-senyum.

‘Dug!’

“Adooww.. Seunhye!”

“Kejar dia!”

“Mwo!”

“Tsk, koneksimu lemot sekali, kejar Jinae!”

“Hah?”

“Ahhh, lambat! Cepat kejar dia!”

Jinki mendorong kursinya ke belakang, sempat-sempatnya ia mengacak rambutku sebelum mengejar Jinae yang sedang dalam tingkat kelabilan tinggi.

*

Ruangan lomba terlihat sangat lengang ketika aku masuk. Peserta lain masih ada di luar ruangan, sementara aku cepat-cepat naik ke atas untuk mencari tempat duduk yang enak, nyaman, strategis, atau apalah. Satu-per-satu siswa dengan bermacam-macam seragam sekolah memasuki ruangan ini. Entah kenapa aku yang sebelumnya sama sekali tidak memusingkan lomba ini, tiba-tiba merasa deg-degan.

Pengawas sudah memasuki ruangan. Suasana menjadi sedikit tegang saat peserta memperhatikan setiap instruksi yang diberikan. Dan soal pun dibagikan.

Tidak terlalu lama setelah aku selesai menuliskan identitas di kolom yang tersedia,

‘Brak!’

Bunyi pintu yang dipaksa dibuka, alias didobrak menjeblak begitu saja. Yang membuatku hampir lupa bernafas adalah, orang yang menendang pintu tersebut.

3 Orang pengawas di ruangan itu sontak melotot ke arah si pembuat onar.

Firasatku semakin tidak enak.

“Apa yang kau lakukan! Cepat keluar, atau kami panggilkan security!” seorang pengawas bersuara. Namun tak digubris, orang itu berjalan seperti hanya dengan satu fokus.

“Ya!” suara pengawas yang lain bahkan hampir terdengar seperti teriakan. Dan yang kusadari adalah, tidak ada laki-laki di ruangan ini selain orang itu.

“Semalam terlalu gelap. Kau tidak mungkin bisa melihat!” Kalimat pertama yang dilontarkan begitu berada tidak kurang setengah meter di hadapanku.

Kurasakan berpuluh-puluh pasang mata menatap ke arahku, namun hanya satu tatapan tajam yang membuatku jengah.

“Kau tidak dengar hah! Cepat keluar dari ruangan ini!”

“Sebentar saja ma’am aku hanya perlu 2 menit!” serunya tanpa menoleh dariku.

“Apa yang ingin kau lakukan?” Suaraku hampir serupa dengan bisikan.

Kyuhyun tersenyum.

Ia menarik daguku, mengarahkan wajahku tepat ke depan wajahnya.

Dapat kudengar seruan kaget yang lain, yang pasti mengira orang sinting di depanku ini hendak melakukan sesuatu yang terjadi seperti di drama-drama.

Jantungku bahkan sudah seperti meledak-ledak.

“Lihat baik-baik . . siapa yang ada di mataku sekarang.”

Sentuhan lembut di bibirku itu jelas terasa sebelum yang terakhir kudengar adalah riuh teriakan memenuhi ruangan itu, dan semuanya terasa berputar kemudian gelap.

*

Author’s Pov

Seorang gadis berkulit putih dengan sackdress coklat pastel berbahu rendah dan rambut gelombang sebahu berjalan mondar mandir di tengah ruangan luas dan megah. Mata coklat almondnya bercahaya menyiratkan, antara perasaan gugup, takut, dan khawatir yang bergabung menjadi satu setiap matanya menyapu pandangan ke pintu yang menghubungkan ruangan ini dengan ruangan lain yang sama sekali tidak diketahuinya.

“Tidak perlu setegang itu! Kau sudah mondar-mandir ke toilet 3 kali!” sewot Kyuhyun

“Mana bisa tidak tegang! Bagaimana aku menghadapi keluarga mantan Presiden Korea Selatan BABO!”

“Annyeonghaseo! Choneun Choi Seunhye imnida. Anak tunggal umur 21 tahun semester akhir di fakultas psikologi Dongguk University, ayah pegawai, ibuku ibu rumah tangga biasa! Senang bertemu dengan anda.”

“Kenapa kau norak sekali! Cukup sampai Seunhye imnida saja!”

“Berisik! Biarkan aku latihan dulu!”

“Ehm . . hemm. .  Annyeonghaseo! Choneun Choi Seunhye imnida. . .hmmph” Laki-laki itu sesuka hatinya menyela, membekap bibir Sunhye.

‘Cklek’

Semua orang yang berdiri di ambang pintu tak bergerak menyaksikan pemandangan di hadapan mereka.

‘DUAGH’

“Adoouwww!!!”

Satu pukulan melayang ke kepala Kyuhyun membuatnya mau tak mau melepas gadis dalam rengkuhannya.

Seunhye buru-buru merapikan rambutnya, memperbaiki sikapnya, walaupun sebenarnya tu sudah percuma.

“A. .annyeong haseo choneun Choi Seunhye imnida!”

Sementara wanita tua yang biasanya terlihat berwibawa dan elegan itu langsung lemas melihat apa yang dilakukan cucu kesayangannya beberapa detik yang lalu.

“Aigo. . . aigo. . .”

“Eomma!”

“Istriku!”

“Nenek!”

“Nyonya!”

Tubuh nenek yang hampir tumbang langsung diangkat ke dalam oleh Jinki yang notabene satu-satunya orang terdekat dari neneknya yang cukup kuat untuk melakukan itu.

“Aigooo.. Matilah aku! Habislah aku. Huaaaa..” Seunhye mengacak-acak rambutnya dan memukuli kepalanya sendiri frustasi

“Kurasa aku benar-benar akan dicabut dari daftar pewaris.” Ujar Kyuhyun santai, kemudian sekali lagi menarik Seunhye mencoba menciumnya, dan . . .

BUAGH

KLONTANG

KDEMPRANG

MIAW (?)

DORR (?)

ASDF!*@&#!(&#!^&^@%*

 

END

Check 1 2 3. . Hulaa!!! Akhirnya part terakhir sudah selesai. Aku baru sadar kalo dari part 4 ke part 5 ini jarak postingnya 4 bulan. MIAAAAAAAAAN. Nggak heran kalo pada lupa sama ini cerita. Maaf kalo endingnya membosankan. Huaaaa. Another failed ff, but please speak up! Karena sebenarnya yang bikin author-author semangat nulis adalah komen dari teman-teman semua.

Sekian bacotan saya. Sampai jumpa di ff selanjutnya. *lambai kaos kaki*

Loveless Part 4

Title: Loveless

Author:  seoeunkyung

Genre: Romance:

Rating: PG-15

Length: On going

a.n:

Super Kamsha buat Shinbi onnie hihihi. Thankyou posternya onnie!! Jangan kapok buatin aku poster lagi ya.

Ff buat @ekaafs aka Choi Seunhye yang udah “baik” buatin aku ff berakhir tragis -__-

Let’s take a look. ^^

Part 4

Seorang gadis berambut panjang yang dikepang satu, dan topi rajutan di atas kepalanya melangkahkan kakinya mendekati mesin minuman di ujung ruangan salah satu terminal keberangkatan Incheon Airport. Lebih tepatnya gadis itu menghampiri gadis lain yang tengah sibuk memilih-milih minuman di dalam mesin.

Moon Byunghee, kelas 3 2 Yeogang High School?”

 

Gadis berambut blonde di depan mesin minuman itu  menoleh sekilas kepada si gadis berkepang satu, namun detik berikutnya ia kembali memilih-milih minuman di mesin.

 

“Kau, si nomor 2 untuk astronomi kan?”

 

Pernyataan kedua yang dilontarkan gadis berkepang satu itu membuat perhatian gadis itu teralih sepenuhnya setelah ia mengambil minuman kaleng dinginnya.

 

“Siapa kau? Apa maumu?” suara gadis itu sarat dengan nada angkuh, ditujukan pada gadis berkepang satu.

 

Senyum simpul tersungging di wajah manis gadis berkepang satu itu.

 

“Seo Jinae. Chansik High School. Aku hanya punya sebuah penawaran kecil untukmu.”

  Continue reading

Loveless Part 3

Title: Loveless

Author: seoeunkyung

Cast: Choi Seunhye, Cho Kyuhyun, Lee Jinki, Seo Jinae and others

Genre: Romance (selalu =.=)

Rating: PG-15 wkwk, rating dinaikin.. hahaha

Prev Part:

Part 1 | Part 2
Ff untuk @ekaafs yang ‘berbaik hati’ membuatkan saia ff  dengan akhir
yang tragis.

Take a look.. ^^

Cover seadanya -__- dan abaikan kedua ulzzang di atas. Ayo tebak-tebak berhadiah yang mana Seunhye yang mana Jinae. Yang bener nebaknya entar malem mimpiin saya #plak #duagh  biasnya ^^ kekeke~

Part 3

Kyuhyun melewati Seunhye begitu saja, Seunhye tak ambil pusing lalu masuk ke ruang kesehatan, kembali ke tujuannya semula. Seunhye berjongkok, merangkak di lantai ke sana ke mari mengelilingi ruang kesehatan, siapa tahu kalungnya jatuh di lantai. Ia mengintip ke bawah kolong ranjang tempatnya dibaringkan saat pingsan kemarin. Karena gelap, ia meraba saku ponselnya mencari ponselnya. Seunhye yang masih dalam posisi merangkak sedikit kesulitan mengambil ponselnya, tapi akhirnya ia mendapatkan ponsel itu dan bermodal cahaya dari display ponsel layar sentuhnya ia menyusuri setiap lantai di bawah kolong ranjang yang sempit, hingga ia harus menempelkan kepalanya ke lantai. Beberapa menit ia mencari benda berantai dan berliontin hati yang sangat kecil, namun nihil. Saat ia beranjak, dari posisinya yang membuat lelah, gadis itu kembali dikejutkan oleh seseorang. Seunhye merasa kenapa akhir-akhir ini dia selalu terkejut. Kyuhyun yang tadi keluar dari ruang kesehatan saat Seunhye masuk entah kenapa malah sudah berjongkok ria memandangi aksi mengintip tempat tidurnya Seunhye.

“Yah! Kalau datang, paling tidak ucapkan salam, annyeong haseyo, kau pikir kau hantu?” Seunhye mengelus dadanya.

Continue reading

Loveless Part 2

Title: Loveless

Author: seoeunkyung

Cast: Choi Seunhye, Cho Kyuhyun, Lee Jinki, Seo Jinae

Genre: Romance (selalu =.=)

Rating: SU

Prev part:

Part 1

Ff untuk @ekaafs yang ‘berbaik hati’ membuatkan saia ff  dengan akhir yang tragis.

Makasih buat reader tercintah yang udah ninggalin komentnya.. :* :* semoga langgeng dengan biasnya (?)

Take a look.. ^^

 

“Tutup mulutmu! Kau pasti tahu alasanku.” Suara sinis Jinki lebih menekan pada kata ‘pasti’ kemudian ia menghempas tubuh Kyuhyun ke lantai dan melangkah meninggalkannya.

Part 2

 

Kyuhyun bejalan, menjajakan kakinya melewati lapangan basket outdoor sekolah, ia hendak menuju ke pelataran parkir. Pukulan Jinki memberinya wajah memar dan berdarah. Sesekali diusapnya darah di sudut bibirnya yang merembes mengalir.

Continue reading

Loveless Part 1

Loveless

author: @seoeunkyung

Cast: Choi Seunhye, Cho Kyuhyun, Lee Jinki, Seo Jinae

Genre: Romance (selalu =.=)

Rating: SU

Hoaaa.. finally comeback for so damn long time not posting here..

Ff untuk @ekaafs yang ‘berbaik hati’ membuatkan saia ff  dengan akhir yang tragis.

gabisa ngedit foto -__-

Take a look.. ^^

Part 1

Ding dong ding dong..

“Peserta olimpiade sains Seoul harap berkumpul di ruang audio visual. Terima kasih atas perhatiannya.”

Suara milik seorang guru menggema dari speaker-speaker di ruang kelas, lorong-lorong dan segala penjuru sekolah.

Choi Seunhye, siswa kelas 10 A Chansik SHS, bersorak dalam hati karena pengumuman itu telah menyelamatkannya dari Kim Songsaenim yang berburu mencari mangsa untuk mengerjakan soal di papan tulis, yang dipastikan oleh anak berotak standar seperti Seunhye, ia hanya bisa menulis soal di papan tulis, kemudian memandangi soal itu begitu saja seraya mendengar perkataan-perkataan menjengkelkan Kim songsaenim. Ia membungkuk meminta izin pada songsaenim itu sambil tersenyum diam-diam. Sedangkan Kim songsaenim dengan tidak rela membiarkan murid “favoritnya” melewatkan soal mautnya.

Seunhye berjalan sambil bersenandung riang hingga sampai di depan ruangan dengan papan bertulis Audio Visual di atas pintunya, ia berhenti kemudian langsung masuk ke dalam ruangan yang pintunya memang dibiarkan terbuka. Beberapa gerombol siswa berkerumun  dan mengelompok sesuai bidang studi yang diikutinya untuk lomba.

Seunhye mengitarkan pandangannya ke sekitar, paling tidak ia jauh lebih beruntung berada di ruangan ini di tengah-tengah sunbae berotak cemerlang dari pada di kelas dengan guru super membosankan. Continue reading