Maple and Apple 2: Apology is..

Maple and Apple
Cast: Kim Jiwon, Oh Sehun, EXO, Sulli, Naeun
Credit: Pictures belong to the rightful owner

756991501_large

Apology is..

Bukan mau hari Senin untuk jadi hari pertama setelah hari Minggu dimana kehadirannya selalu disalahkan dan tak diharapkan oleh kebanyakan orang, sama halnya dengan apa yang terjadi pada Jiwon sekarang, sesuatu yang terjadi tanpa diinginkannya sama sekali.

Continue reading

Maple and Apple 1: Captured With Class Rep

Cast: Kim Jiwon, Oh Sehun, EXO, Sulli, Naeun

Credit Pic: Belong to the owner

Cuap: No excuse, hanya stuck ide di That Sweetest Hatred dan pengen buat ff Thehun. Wkwkwk

756981438_large

Captured With Class Rep

Matahari bersinar cerah, ini tanggal 2 april. Satu hari setelah hari kebohongan sedunia itu. Gadis bernama Kim Jiwon yang tengah duduk di atas meja miliknya di ruang kelas sejak beberapa menit yang lalu masih tercenung menatap ke depan dengan kaki yang menggantung dan berayun. Ia sendirian di dalam kelas, bangun terlalu pagi dan naik bus ke-5 yang rutenya melalui daerah rumahnya. Jam menunjukkan pukul 6 hampir lewat 20 menit. Pandangan gadis ini tidak terfokus, lurus ke depan tapi seakan menembus papan tulis hijau di depan kelas.

Continue reading

That Sweetes Hatred 3

That Sweetes Hatred

Cast: Jung Krystal, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Jung Eunji

Minor: Jung (instead of Shim) Changmin, Jung sister’s mother, let’s say Seohyun lah ya. Hahaha. And so on.

Length: On Going

Genre: Romance, wkwk.

Rating: Parents guide, baca bareng mama loh ya!

thesweetesthatred

a.n: Pas buka dari hape, ternyata tulisan yang dibuat italic nggak kebaca, jadi aku tebelin sekalian, tulisan yang ditebelin dan dicetak miring itu semacam omongan dalam hati lah.

Selamat baca!

Part 3

Krystal mulai menapakkan kakinya dengan tempo super lambat menuju halte, meskipun ia tahu 30 menit tidak cukup untuk perjalanan dari rumah ke sekolah dengan kendaraan umum. Matanya menerawang kosong, seolah tanpa pikiran justru di saat ia sedang berpikir.

Apapun yang sedang dipikirkannya saat ini, tidak lain tentang bencana yang baru didengarnya dari mulut seorang pria bernama Tuan Park. Tentang calon pendampingnya, calon pendamping? Bahasa apa itu. Calon suaminya. Calon tunangan dahulu sih.

Continue reading

That Sweetest Hatred 3 [PREVIEW]

That Sweetes Hatred

Cast: Jung Krystal, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Jung Eunji

Minor: Jung (instead of Shim) Changmin, Jung sister’s mother, let’s say Seohyun lah ya. Hahaha. And so on.

 

Length: On Going

Genre: Romance, wkwk.

Rating: Parents guide, baca bareng mamahnya ya.

Posternya punya Rara onnie @ bananajuice03.wordpress.com suwon yo mbak d^^b

 

thesweetesthatred

 

Part 3

Krystal mulai menapakkan kakinya dengan tempo super lambat menuju halte, meskipun ia tahu 30 menit tidak cukup untuk perjalanan dari rumah ke sekolah dengan kendaraan umum. Matanya menerawang kosong, seolah tanpa pikiran justru di saat ia sedang berpikir.

Apapun yang sedang dipikirkannya saat ini, tidak lain tentang bencana yang baru didengarnya dari mulut seorang pria bernama Tuan Park. Tentang calon pendampingnya, calon pendamping? Bahasa apa itu. Calon suaminya. Calon tunangan dahulu sih.

Continue reading

That Sweetest Hatred Part 2 [FULL]

The Sweetest Hatred

Cast: Jung Krystal, Jung Eunji, Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Genre: Romance

Rating: PG

Lenght: On going

Poster: Rara Onnie (Cute pixie)

 

Full chapter, finally now. Hehehe!!

 

Part 2

“Sayang, appa saja yang menggendongmu ya.”

Bapak itu berjongkok di depan gadis kecil berambut sebahu yang tidak menunjukkan wajah senang.

“Aku mau dengan eomma.” Tutur gadis itu bersikeras.

“Tapi eomma sedang tidak bisa menggendong Krystal.” Bujuk ayah muda itu, namun lagi-lagi Krystal menggeleng, kemudian ia berjalan ke sudut ruang tengah dan duduk di pojokannya sambil memeluk kaki dan menenggelamkan wajahnya, sesekali terisak dan terdengar sesenggukan.

Sementara ayahnya hendak menghampiri, sebuah tangan menahan langkah laki-laki itu.

“Biar aku saja, nanti dia tidak mau makan.”

Laki-laki itu, menoleh dengan khawatir ketika istrinya yang sedang demam tinggi berdiri di hadapannya.

“ Wajahmu pun masih pucat dan aku tidak mau terjadi sesuatu padamu dan adik Krystal, aku akan membujuknya. Ujar Changmin seraya mengelus kandungan istrinya yang telah berusia 9 bulan, dan tanpa mereka ketahui, gadis kecil mereka mendengar dan melihat yang mereka bicarakan di antara dua sisi tembok yang menjepit dirinya, ia bahkan terlalu kecil untuk menyadarinya, menyadari bahwa perhatian orang tuanya sudah terbagi.

Continue reading

That Sweetest Hatred (Part 1)

Cast: Byun Baekhyun(18), Park Chanyeol(18), Jung Krystal(18), Jung Eunji(16)

Length: Entahlah

Genre: Cinta-cintaan

Rating: Lulus sensor

Prolog 

BGM: Zhe Shi Ai Suju M Donghae and Henry

Kira-kira beginilah Krystal dan Eunji kalau pake seragam sekolah

Jung Krystal

Jung Eunji

Part 1

 

Dua pilihan emosi yang mengisi satu kehidupan. Benci dan suka. Tidak ada yang setengah-setengah, kalau pun kau bilang biasa saja pada suatu hal, tandanya kau cukup suka untuk melakukan hal tersebut. Dan kata kurang suka, mungkin hanya memperhalus kata benci.

“Maaf ya, tidak sengaja.”Sosok itu ikut berjongkok dengan bertumpuk-tumpuk buku tebal di atas tangannya. Ia meletakkan buku-buku itu dahulu dan mengambilkan tas bekal berwarna violet yang tergeletak di lantai. Ia memberikannya seraya melempar senyum yang manis kepada pemilik tas bekal itu, seorang gadis berambut hitam panjang bernama Jung Krystal.

Krystal menerima tas bekal itu tanpa satu patah, dua patah kata terima kasih. Begitu ia berdiri, cowok dengan kacamata minus di dekatnya juga berdiri sambil kembali memeluk buku-buku tebalnya. Krystal benar-benar tidak bereaksi saat cowok itu beringsut selangkah lebih dekat pada dirinya, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Krystal membuat setiap gadis-gadis di kelas tersebut menahan nafas.

“Akan sangat manis kalau kau bilang terima kasih.”

Krystal menahan diri untuk tidak memutar kedua bola matanya. Sementara Baekhyun melenggang pergi.

Mata Krystal beralih pada tempat duduk langganannya yang kini terisi sebuah tas. Apa yang dilakukan gadis itu memang sedikit menyebalkan bagi pemilik tas tadi. Ia memindahkan tas tersebut ke lantai dan duduk di bangkunya dengan nyaman, tidak ambil pusing dengan gelengan kepala dari beberapa teman sekelasnya.

Gadis pendiam dan berkepribadian buruk, predikat yang diberikan orang-orang kepadanya.

“Percuma cantik, tapi menyebalkan sepertinya.” Krystal mendengar sindiran yang ditujukan kepadanya. Gadis itu terlihat tidak terusik sama sekali.

Sesekali jari-jarinya mengetuki permukaan meja menghabiskan beberapa menit untuk menunggu pelajaran dimulai. Krystal tentu tidak benar-benar sedang menunggu pelajaran. Ia menunggu bel pulang, bahkan sebelum bel masuk berbunyi.

*

Gadis itu sibuk menggulung rambut coklatnya di depan cermin toilet perempuan dengan buru-buru, ia sedikit terlambat keluar kelas karena mendapat giliran piket sementara ekstra kulikuler balet dimulai tepat setelah jam pulang sekolah. Begitu selesai dengan rambutnya, gadis itu meninggalkan toilet dengan melupakan satu hal. Ponselnya.

“Annyeong haseo!” Ia membungkuk begitu membuka pintu ruangan eskul.

Pelatih balet hanya mengangguk sekilas dan mengisyaratkan agar ia segera berganti pakaian sebab siswi lain telah siap untuk memulai latihan.

Eunji, gadis itu segera mengganti pakaiannya dengan pakaian dari bahan karet serta rok tutu.

Ia menjejalkan seragam sekolahnya ke dalam tas dan setelah memasukkan tas itu ke dalam loker, ia menyusul ke ruang latihan.

*

Krystal duduk sendirian di undakan kedua tangga di depan gedung utama sekolah. Headset tersumpal di kedua telinganya sementara kedua tangannya memegang buku catatan yang tidak terlalu tebal. Lagi, ia harus mengulang tes kognitif pelajaran biologi. Gadis ini selalu menghabiskan jam pulang sekolahnya untuk kegiatan ‘ekstrakulikuler’ tambahan yang khusus diperuntukkan bagi siswa berotak kurang cemerlang, ulangan remedial.

Sementara membaca catatan miliknya sendiri, pikirannya lebih tertuju pada lirik-lirik lagu Lonely milik 2ne1 yang mengalun dari music player di ponselnya sementara matanya berulang-ulang hanya membaca sebaris kalimat,

“Inti generatif 2 akan membuahi inti kandung lembaga dan membentuk endosperm untuk cadangan makanan zygot”

Ia tidak fokus.

Sesekali matanya berair setelah menguap, hidungnya telah memerah karena bersin-bersin. Andai saja ia berada di dalam kamar, di atas ranjang empuk dan selimut hangat, tentu ia sudah tergeletak dengan kesadaran nol meskipun baru beberapa detik memejamkan mata.

“Tsk.”

Menyebalkan ia mendapatkan jarum pendek arlojinya tengah berada di antara angka 3 dan 4, ulangan remedialnya akan dimulai. Ia menepuk roknya dari pasir yang melekat dan melangkah melewati undakan terakhir kemudian segera menuju TKP ujiannya.

Tak seorang pun kecuali cowok berambut dark brown hampir hitam yang berdiri membelakangi pintu masuk dan menghadap ke jendela kaca transparan yang ditemukan Krystal di ruang kelas itu.

Krystal masih berdiri di ambang pintu ketika cowok yang tadi membalikkan badan hingga mereka dapat melihat wajah satu sama lain dengan jelas.

Cowok itu tersenyum. Krystal tidak.

“Kau ingin segera mengerjakan soal atau hanya berdiri di sana?”

Tangan cowok itu tidak kosong, melainkan selembar kertas putih berisi tulisan-tulisanlah yang rupanya ia pegang di tangan kirinya.

Krystal belum bisa menebak apa yang terjadi sekarang, ke mana Pak Shim, dan siswa lain yang akan ikut ulangan remedial atau ulangan susulan.

Byun Baekhyun melangkah mendekati Krystal karena gadis itu tak kunjung meresponnya. Baekhyun menyodorkan kertas yang ada padanya sedari tadi.

“Soalmu, Pak Shim menyuruhku menjagamu, maksudku mengawasimu karena ada urusan yang lebih penting dari pada mengurusi anak yang ulangan remedial.”

“Kenapa hanya satu?” Untuk pertama kalinya hari itu Krystal membuka suara.

“Sayang kau ini irit bicara, aku suka suaramu.”

Krystal punya alasan baru untuk tidak menyukai orang di hadapannya ini, Byun Baekhyun cowok yang penuh dengan omong kosong, dan cukup bodoh untuk menjawab pertanyaan dengan kalimat lain yang tidak berhubungan sama sekali.

Krystal mengambil meja terdekat dari tempatnya berdiri. Ia mengeluarkan pulpen dari dalam tas.

Kening Krystal berkerut bahkan ketika ia baru membaca tulisan di kolom identitas.

Nama:

Kelas:

 

Nomor ponsel:

Tanggal lahir:

Alamat:

Makanan kesukaan:

Warna favorit:

Ukuran pakaian:

Bunga favorit:

Hal yang paling diinginkan:

Hal yang paling dibenci:

 

Jelas 8 pertanyaan selain nama dan kelas adalah kerjaan iseng –siapa lagi kalau bukan- Baekhyun.

Sementara si pelakunya tersenyum geli ketika gadis itu wajahnya berkerut.

Krystal tahu kalau Baekhyun tengah melempar senyuman ke arahnya, untuk itu ia tidak ingin mendongak demi menghindari tampang tebar pesona Baekhyun.

Krystal mulai larut dalam soal-soal biologi, sementara Baekhyun  berjalan berputar-putar di dalam kelas, dan kali ini berhenti di meja dekat Krystal menulis. Ia duduk di atas meja sementara kedua kakinya di atas kursi. Kedua tangan cowok itu berpangku pada pipinya. Matanya menatap lurus ke arah Krystal.

“Kry..”

Sama seperti dugaannya gadis itu tidak menjawab, bukan tidak dengar melainkan pura-pura tidak dengar.

“Kau suka warna biru ya?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja saat ia mendapati pulpen, tip-ex dan kotak pensil biru muda milik Krystal.

Krystal mencoba mengabaikan Baekhyun yang menurutnya sengaja merusak konsentrasinya.

“Biru muda, kau pasti suka laut?”

“Sok tahu!” Dumel Krystal dalam hati.

“Kau ingin aku ceritakan sesuatu?” Baekhyun mengubah sikapnya menjadi duduk bersila di atas meja.

“Tidak terima kasih.” Begitulah yang dikatakan Krystal, dalam hati tentunya, suaranya terlalu berharga untuk meladeni orang macam Baekhyun.

“Kau tahu kenapa aku pindah ke sekolah ini?” Baekhyun memandang langit-langit, namun terus berbicara.

“Orang tuaku bercerai. Ibuku menikah lagi dengan seorang pengusaha kaya, rupanya mereka telah berselingkuh bertahun-tahun sebelum bercerai.”

“Dia sedang curhat hah?”

Tatapan Krystal tak lepas dari kertas, namun telinganya mendengar baik-baik cerita anak cowok yang baru satu bulan belakangan ini menjadi teman sekelas Krystal.

“Aku tidak mau tinggal dengan ibu, tapi ayah memaksa karena dia miskin. Paling tidak aku harus tinggal dengan ibu sampai lulus kuliah, begitu katanya.”

“Tapi pikiran menjalani sisa masa sekolah yang masih beberapa tahun ini dengan belajar sungguh-sungguh dan segera lulus lalu tinggal dengan ayahku rupanya tidak akan terjadi, seminggu yang lalu ayah meninggal. Dan hanya ke pemakamannya saja ibuku tidak sudi lagi.”

Krystal sedikit terkejut mendengarnya, namun suara Baekhyun tetap tenang dan datar seolah kata ayahku meninggal sama entengnya dengan ‘aku ngantuk’ atau ‘aku lapar’.

Krystal belum mengerti kemana arah pembicaraan ini, dan untuk apa Baekhyun menceritakan hal sensitif begini kepada orang lain yang sama sekali tidak saling mengenal dekat.

“Tentu saja karena dia sudah hidup senang sekarang dengan ayah tiriku, atau harus kusebut ayahnya Park Chanyeol?”

Krystal benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat Baekhyun.

Sementara Baekhyun menyeringai tipis mendapati ekspresi kaget dan bingung itu kentara terlihat dari mata gadis di hadapannya.

Krystal menyadari perubahan emosi Baekhyun. Tidak ditunjukkan cowok itu secara jelas, tapi Krystal cukup peka untuk menyadari bahwa Baekhyun menjadi orang yang lebih menakutkan dari sebelumnya.

“Kudengar Chanyeol suka padamu kan.” Baekhyun tidak bertanya, dan Krystal tidak menjawab.

Cowok itu turun dari atas meja, perlahan memperkecil jarak antara ia yang berdiri dan Krystal yang tetap duduk.

Seakan tahu apa yang akan keluar dari bibir cowok itu, Krystal merasa itu bukan hal yang baik.

“Apa yang disukai orang itu, berarti menjadi apa yang kubenci, berhati-hatilah denganku sayang.”

Byun Baekhyun memandang Krystal lekat-lekat kemudian melompat dari atas meja, meninggalkan Krystal sendirian di kelas itu beserta 4 buah soal yang masih belum selesai dikerjakan.

“Sinting.” Dengus Krystal. Ia kembali mengerjakan soalnya sambil membuka buku catatan,tidak ada yang mengawasi bukan?

*

“Coba ingat-ingat, dimana terakhir kau menggunakan teleponmu?”

Eunji mencoba mengingat-ingat, terlihat jelas raut wajahnya yang tampak berpikir keras.

“Sepertinya sebelum aku pergi kesini, ponselku masih ada, buktinya aku sempat melihat jam saat ganti baju, aha toilet lantai dasar, pasti tertinggal di sana saat aku merapikan rambut.” Refleks, gadis itu menepuk dahinya sendiri.

“Ck, dasar pelupa.”

“Hehehe, temani aku ke sana ya Sulli-ya!”

“Iyaaaa.”

Keduanya berlari-lari tanpa alas kaki kecuali stocking yang menutupi telapak kaki mereka.

Begitu menuruni tangga, mata tajam Eunji menangkap sesosok yang baru keluar dari toilet perempuan. Dan ia bisa melihat benda kotak yang ia kenali berada di balik genggaman tangan sosok itu.

“YA KAU!”

Tanpa ba bi dan bu, Eunji bergerak hendak mengejar orang tersebut. Sosok yang dicurigainya sebagai pencuri HP.

“Hey kau yang di sanaaaaaaaaaaaa..”

&^%$#@#$%^&&*

“Eunji-ya!”

Gadis itu benar-benar mendarat dengan posisi yang membuat bokongnya remuk, namun kita tahu satu hal, Eunji berhasil menghentikan pencuri(hanya asumsi sementaranya) ponsel miliknya.

PUTAR LAGU ZHE SHI AI NYA DONGHAE SAMA HENRY YANG OST SKIP BEAT ITU LO!! *agak santai*

“Pasti sakit ya?”

Eunji mendongak dari dari aktivitas mengelus bokongnya, sebab rasa ngilu itu sampai ke tulang, ia siap mendamprat orang di depannya.

“Tentu saja bodoh!”

Sosok di depannya itu tersenyum, membuat ia terlihat semakin tampan.

“Kalau begitu kenapa lari-lari?”

Eunji terperangah.

“Karena ponselku hendak dicuri orang bernama B..yun Baekhyun!!”

Baekhyun melirik seragamnya sendiri, di badge name yang terjahit  rapi di bagian dada kanannya.

“Ini ponselmu nona?”

Baekhyun menjulurkan tangannya di depan Eunji.

“Menurutmu.” Eunji merampas ponsel putihnya dari tangan Baekhyun.

“Eunji-ya, kau tak apa?” Teman gadis itu yang sedari tadi hanya melihat dari dekat tangga akhirnya mendekat menghampiri Eunji.

“Tentu aku kenapa-napa Sulli!” ujar Eunji dengan nada geram.

“Bilang pada temanmu, aku hanya ingin mengembalikan ponselnya yang kudengar berbunyi dari arah toilet saat aku lewat sini.” Baekhyun berbicara pada Sulli seolah-olah tidak ada Eunji di sana, dan gayanya ini membuat Eunji sebal.

“Eh, iya, maaf ya temanku salah sangka.” Sulli memmbungkuk sedikit, dan Baekhyun berbalik pergi begitu saja.

“Hey, kau jangan terpesona dengannya, bantu aku berdiri!”

“Demi bokongmu yang sakit, cowok itu benar-benar keren!” Sulli masih memandangi punggung Baekhyun dengan tatapan berbinar-binar.

“Demi bokongku yang sakit, tolong aku!!!!”

*

Baekhyun melenggang masuk ke dalam ruang kelas yang beberapa menit lalu baru saja ditinggalkannya, namun tidak ada siapapun di sana. Ia berjalan ke arah meja yang tadi digunakan Krystal, tergeletak kertas ulangannya yang telah terisi sempurna, beserta quesioner ngaur darinya.

Nomor ponsel: Tidak hafal

Tanggal lahir: Tanya ibuku

Alamat: Surga

Makanan kesukaan: Sedang diet

Warna favorit: Aku buta warna

Bunga favorit: Bunga bank

Hal yang paling diinginkan: Tidak bertemu denganmu

Hal yang paling dibenci: Kau dan cerita cengengmu

“Tsk, gadis ini.”

*

Krystal’s Pov

Gadis bodoh itu masih saja mengikuti kelas tarian bodohnya, sementara aku harus menunggu dan pulang bersama supaya ibu tetap menganggap dua anak perempuannya adalah kakak beradik yang akur dan baik-baik saja.

Anak manja yang suka menempel pada ayah dan ibu, sudah dewasa tapi tidak sadar umur, dikiranya dia manis bersikap memuakkan seperti itu.

Lihat bagaimana caranya berjalan dengan lelet dengan temannya yang super centil itu.

Aku berdiri dari bangku taman depan sekolah, dan melangkah duluan saat Eunji itu masih sibuk melambai ria pada temannya.

“Kita tidak naik bus, ayah menelponku akan menjemput.” Ia mengucapkan itu dengan nada yang sinis. Jika tidak kusebut sinis, maka kalimat tadi pasti terlihat biasa saja.

Begitulah, dia mengucapkan kalimatnya dalam bahasa yang sopan, dan hanya perlu mengganti nadanya menjadi tidak enak didengar jika berbicara padaku, dan hanya di depanku, bukan di depan yang lain.

Jadi, masing-masing kami memang punya sentimen satu sama lain, atau kuperjelas, aku benci dia, dia benci aku.

Mau tidak mau aku berhenti berjalan, sementara anak manja itu tengah duduk di tempat duduk yang tadinya aku gunakan, aku berjalan kembali mendekati undakan tangga, dan duduk di sana.

Anak itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya hingga berbunyi seperti plastik yang bergesek.

Sebungkus roti selai blueberry.

Dia mulai membuka kemasannya dan memakan roti itu dengan suapan kecil-kecil dengan nikmatnya, di depan mataku.

Dia tahu aku lapar, dan dia tahu aku menginginkan roti itu sekarang.

“Kenapa, kau mau?”

Aku membuang mukaku.

“Yah, tentu saja, mustahil kau bilang mau, dan mustahil aku membagi rotiku.”

Dia memang kurang ajar.

Aku melihat jam di ponsel menghindari melihatnya yang memakan roti.

Sudah hampir jam 6 sore.

Bisa kulihat dari kejauhan bentuk mobil yang sudah kuhapal, aku bangkit berdiri dan membersihkan pasir dari rok, dengan langkah yang besar-besar menghampiri mobil ayah yang semakin mendekat.

*

Author’s Pov

“Kita mau kemana appa?” Eunji akhirnya membuka suara dan bertanya hal yang paling ingin ditanyakan Krystal sejak tadi, sebab ayah mereka hanya tersenyum ketika menjemput kedua anak gadisnya dan melewati jalanan yang tidak biasa dilewati untuk menuju rumah mereka.

“Ke tempat perempuan-perempuan bersenang-senang, eomma kalian sudah menunggu di salon. Terkadang appa bingung, apa enaknya berjam-jam duduk sampai pinggang pegal di sana.” Ujar ayah dengan sedikit dumelan.

Salon?

“Ke salon? Tumben sekali kami diajak? Berarti kami boleh perawatan apapun di sana kan?

“Iya.”

“Asyik!!”

“Aduh Eunji, jangan tarik-tarik tangan appa, nanti kita bisa tabrakan.”

“Upps, maaf appa, hehe. Habis kemarin, aku minta creambath dan curly rambut dengan eomma, katanya tunggu appa gajian.”

“Iya, appa sudah gajian, nanti kau minta semuanya di sana boleh.” Appa mengusap-usap kepalanya, sementara ia menyengir seperti anak anjing yang belagak sok lucu di depan majikan. Ingin kujambak rambutnya.

“Kry, appa tidak memaksamu nak, kau yakin.”

Suara appa membuyarkan pikiranku, bisa kulihat appa menatapku dari kaca spion.

“Aku tidak merasa terpaksa, appa tidak usah khawatir.”

Kulihat appa tersenyum lega mendengarnya.

“Memangnya ada apa sih?”

Suara centil itu bertanya entah padaku atau appa.

“Tidak ada sayang, kita sudah hampir sampai.”

“Omo, ini salon yang langganannya banyak artis Hallyu, appa. Aaa, aku tidak sabar!”

“Iya, ayo kita turun.”

Lihat Kry, meskipun hanya sekali, kau harus berguna bagi orang tuamu.

*

Author’s Pov

Pria berumur hampir 50 tahunan itu meletakkan sumpit serta sendoknya, mengakhiri acara makan malamnya.

“Seorang teman ayah, yang juga merupakan rekan bisnis ayah ingin mengadakan kerjasama dengan perusahaan kita.”

Tiga pasang mata teralihkan perhatiannya kepada bapak yang yang baru saja membuka pembicaraan. Antara perasaan tidak tertarik, heran akan topik yang tidak biasanya dibawa ke dalam makan malam keluarga, ataupun yang cukup tertarik mendengarnya.

Tidak ada yang menyela karena jeda yang dilakukan bapak itu hanya untuk mengalihkan semua perhatian dan ia mulai melanjutkan.

“Perusahaannya hampir collapse, dan sebagai teman, ia meminta bantuan pada perusahaan kita.”

Di salah satu kursi, anak laki-laki dari keluarganya ini dengan tidak berminat sama sekali mendengar kelanjutan pembicaraan malam itu mengambil segelas air putih dan meneguknya dengan cepat, ingin segera pergi dari meja makan itu.

“Ia meminta agar perusahaan kita menandatangani kerjasama sebab para pemegang saham kecil di perusahaannya beramai-ramai ingin menjual saham ke pihak oposisi perusahaan tersebut, karena harga saham mereka yang anjlok dengan drastis, dan pihak saingan mereka bersedia membeli saham tersebut dengan harga normal. Perusahaan teman ayah benar-benar berada di ambang kebangkrutan, dan tidak ada jalan lain selain melakukan kerja sama untuk proyek bidang propertinya yang terancam gagal.”

Di sudut yang lain laki-laki muda mendengarkan dengan seksama, meskipun tidak begitu kentara ditunjukkan bahwa ia penasaran dengan apa yang akan disampaikan ayahnya ini.

“Jika sebagai pesaing bisnis, aku tentu tak akan membantunya karena perusahaan itu sama sekali tak memiliki prospektif yang menjanjikan, tapi pada akhirnya aku setuju untuk melakukan kerja sama.”

“Yeobo, walaupun aku tidak mengerti soal bisnis, tapi atas dasar apa kau mau melakukan kerjasama dengan perusahaan yang hampir bangkrut?” wanita dewasa satu-satunya yang berada di antara kursi meja makan itu angkat bicara.

“Aku belum selesai bicara sayang.”

Pria itu terkekeh.

Membuat semua orang di sana terlibat rasa penasaran.

“Ini karena dia adalah temanku, dan aku membantunya sebagai teman, dengan satu syarat..”

“Perjanjian pernikahan, anak kita dan anaknya.” Bapak itu menyelesaikan kalimatnya.

“Maksudnya kau menjodohkan Chanyeol dengan anak gadis temanmu itu?” Wanita itu mencoba memperjelas apa yang baru disampaikan suaminya.

“Sepertinya kalian sudah mengerti.”

Chanyeol tidak bereaksi, namun tangannya mengepal di bawah meja.

“Ternyata benar.” Cowok itu, dari wajah yang menunduk, kini ia menegakkan kepalanya menatap tanpa fokus, sementara 3 pasang mata lainnya menatap dia dengan pandangan tak mengerti

“Jika perjanjian pernikahan itu dilakukan, tentu dia akan menjadi pewaris perusahaan, dan Park Chanyeol adalah calon tunggalnya, apa ayah melupakan anak laki-laki lain di rumah ini..”

“Baekhyun-ah, jaga bicaramu.” Sentakan itu memotong perkataan cowok yang dipanggil Baekhyun.

“Atau karena aku tidak punya ikatan dengan keluarga ini? Darah memang lebih kental dari air bukan.”

“Baekhyun!”

“Yeobo, tidak apa.” Pria itu menenangkan istrinya yang hampir meledak dan beralih pada Baekhyun lagi.

“Baekhyun-ah, jika kau berpikir aku tidak menganggapmu, itu salah nak. Ayah bahkan takut kau akan merasa dianggap seperti dimanfaatkan dalam keluarga ini jika kau yang ikut dalam rencana perjodohanku, itu sebabnya aku memilih Chanyeol, tapi jika kau bersedia, aku tak akan melarangmu untuk mengikuti perjanjian ini.”

“Yeobo, kau tidak perlu melakukan itu, biar Chanyeol saja, dia kan anak kandungmu, dan dia lebih berhak atas perusahaanmu.”

“Tidak sayang, Baekhyun dan Chanyeol sama-sama anakku. Kalau Baekhyun bilang seperti tadi, aku justru merasa senang, karena ia sudah merasa memiliki keluarga ini sebagai keluarganya sendiri.”

Bapak itu melebarkan senyumnya menatap kedua putranya bergantian.

Dan Baekhyun cukup pandai untuk menyembunyikan seringaiannya.

“Dan Chanyeol, ayah tahu kau tidak begitu suka dipaksa, tapi jika kau keberatan dalam perjodohan ini, katakan saja, sebab kekhawatiran ayah tidak terbukti karena adikmu bisa menggantika..”

“Tidak, aku tidak keberatan.”

.:TBC:.

Halo semua, maaf karena aku ga bisa ngepost dalam jarak yang singkat, sebentar lagi mau ulangan semester, dan waktu pun pasti makin susah diatur.

Segala kata yang aneh dan typo mohon dimaklumi, dan tolong pahami jalan ceritanya ya, karna keterbatasanku dalam mengolah kata-kata untuk pendeskripsian tokoh, situasi, tempat ataupun suasana supaya cerita ini jadi sejelas mungkin, jadi bacanya sambil berimajinasi sendiri ya. Wkwk