Good Person

a

Cast: Kris, Kim Yoobi

Katanya pertemanan sepasang anak laki-laki dan anak perempuan itu tai kerbau, well bullshit.

Continue reading

Advertisements

We(t)dding dress

Cast: Kim Kibum, Han Sora as the reader

Genre: Unlisted

Length: Drabble

Warning!! Gaje alert.

 

 

Mendung.

Cowok itu masih berdiri di depan etalase dalam lingkungan pertokoan. Ia tahu sebentar lagi akan hujan, dan berdiri tanpa melakukan apapun disana akan membuatnya tidak bisa pulang sebab hujan tak mau menunggu lagi untuk turun.

Continue reading

Imitation

Imitation

Cast: Seo Eunkyung, Choi Minho, Others

Genre: Unlisted (?)

Rating: Limited (?)

Length: Drabble, eh?

BGM: Infinite Can You Smile (Remake)

GEJE ALERT!

Summary: I thought it wasn’t more than ‘adoring’

 

Eunkyung’s Pov

Namanya Choi Minho. Dia kakak kelasku kelas 11-5, dan suka bermain sepak bola tanpa gawang. Hanya itu yang ku tahu tentangnya, Choi Minho. Awalanya sangat aneh, hingga aku bisa sedikit tertarik atau sangat tertarik atau tertarik-tarik, atau. . . lupakan.

Dia selalu diceritakan oleh teman sekelasku. Pada awalnya aku sama sekali tidak mengerti dan tidak ingin mengerti tentang apa yang mereka bicarakan begitu hebohnya.

Siang itu, temanku Lee Hyesu menyeretku ke perpustakaan. Jangan tanyakan apa ia benar-benar menyeretku atau tidak. Di meja berbentuk persegi, dengan 4 kursi yang mengelilinginya, seorang teman yang bernama Han Mikyong tengah menanti kami di sana, sementara si kembar Jinae dan Jinhye berjalan-jalan mengelilingi perpustakaan, berlagak ingin membaca buku, padahal yang mereka lakukan hanya menarik buku dari rak, dan mengembalikannya asal, atau kata lainnya mereka bisa disebut mengacaukan perpustakaan.

Kembali ke bagian Hyesu yang menyeretku tadi. Ia mendudukkanku di sebuah kursi di samping Mikyong. Dengan antusias mereka berdua membolak-balik sebuah majalah yang ada di depan Mikyong, majalah yang kemarin baru saja dibeli Hyesu di toko buku di depan sekolah.

“Mikyong-ah, buka halaman yang tadi!” Perintah Hyesu pada Mikyong, dengan menurut Mikyong membalik beberapa halaman majalah sekaligus hingga ia berhenti di lembar yang memuat gambar 5 orang berwajah good looking alias tidak malu-maluin untuk di bawa ke kondangan (?)

Ke lima orang tersebut ternyata tergabung dalam sebuah boygroup, mereka adalah penyanyi beraliran pop contemporer. Dan berawal dari majalah itu, tiba-tiba Mikyong langsung ‘menjodohkanku’ pada seorang anggota dari boygroup tersebut.

“Eunkyung-ah, muka dia mirip pak pendeta, kau dengan yang ini saja, cocok!”

Aku menatap Mikyong skeptis, apatis, sarkastis dan tis tis yang lainnya.

“Aku dengan yang ini saja!” tunjukku pada seorang lagi, laki-laki berwajah lembut dan gaya rambut yang paling berbeda di antara ke-4 laki-laki yang lain.

“Shirreo! Dia pasanganku, kau sama pak pendeta saja!”

Dan aku hanya tersenyum kecut menanggapinya.

“Kalau Hyesu yang mana?” tanyaku.

“Aku yang ini!” tunjuknya di atas gambar sesosok laki-laki yang wajahnya hampir sama dengan 3 yang lain, bahkan aku membedakannya hanya dari baju yang mereka kenakan.

Biasa saja batinku, namun tak kuucapkan secara langsung.

“Kenapa tidak yang ini saja?” usulku pada Hyesu.

“Aku lebih suka dia, alisnya cantik(?)!” ujar Hyesu sambil senyum-senyum malu sendiri.

Anak ini! (¬.¬”)

“Jinae dengan yang mana?” tanyaku lagi.

“Yang mana ya?” gumam Hyesu sambil berose mikir keras.

“Ah, yang ini saja!” tunjuk Mikyong semangat.

Aku menarik Jinae dari acara mengacaukan rak buku bersama teman bertengkarnya, Jinhye.

“Kalian memilihkanku yang paling jelek.” Itu kalimat pertama yang terlontar dari mulut Jinae setelah dengan susah payahnya aku menyeret paksa si kembar untuk melihat majalah.

“Astaga Ae-gi, setampan ini kau bilang jelek!?” histeris Mikyong lebay.

“Kalau kubilang, muka mereka hampir sama semua.” Ujarku pelan disertai anggukan Jinae.

“Dan aku baru mau bertanya, mereka ini laki-laki atau perempuan?”

JDERRR

Jinhye melenggang pergi dengan santai setelah satu pernyataan super sarkasnya.

“Hih, apaan sih kembaranmu! Nyebelin!” sewotan Mikyong kali ini membuat ibu penjaga perpustakaan sewot juga.

“E e e e, si Mikyong nggak bisa lebih berisik ya!”

Baiklah, sangat tidak jelas memang, tapi sejak hari itu, aku pun resmi dijadikan ‘pasangan’ ‘pak pendeta’.

Ketika 2 orang teman sekelasku mengetahui kalau aku telah menjadi fans boygroup yang selama ini mereka berdua gandrungi, kami pun terkena virus fan-girling.

Browsing, surfing sana sini mencari-cari tentang segala jenis informasi tentang boygroup idola kami. Entah itu tanggal lahir, golongan darah, tinggi badan, berat badan, jumlah saudara, makanan kesukaan, warna kesukaan dan funfact yang lain.

Hingga kedua teman sekelasku memberi tahukan seorang sunbae kelas 10-4 (waktu itu) yang sangat mirip dengan idol ‘pasangan’ku alias si ‘pak pendeta’. Dan yang kulakukan hanya mencibir mereka berdua saat membicarakan orang yang mirip ‘pak pendeta’ dengan kelewat antusias.

Waktu itu, bulan Januari 2010, akhir musim dingin, aku akan segera mengikuti ujian kelulusan junior high. Sekolah mengeluarkan kebijakan untuk mengadakan pelajaran tambahan setiap kegiatan belajar rutin selesai, artinya aku harus pulang lebih lambat.

Hujan deras selama beberapa jam akhirnya mulai mereda saat bel pulang sekolah berbunyi. Aku berjalan menyusuri koridor di sepanjang kelas. Walaupun sudah tidak selebat tadi, namun langit masih menyisakan gerimis yang bisa membuat baju seragamku basah jika setengah menit saja aku berdiri di tengah ruangan  terbuka.

Setelah kami pulang, maka siswa tingkat 8, 10, dan 11 masuk, itu sebabnya sekolah sangat ramai. Aku mendatangi beberapa temanku yang kebetulan memang tidak sekelas. Begitu berbincang sebentar, kulihat kedua teman sekelasku berjalan ke arah kami. Hingga kami bukannya cepat-cepat pulang dan menghangatkan diri di rumah, malah sibuk mengobrol.

“Itu dia!” ujar Ranran pelan.

“Siapa?” tanyaku bingung, sementara yang lain ikut-ikutan melemparkan pandangan tidak mengerti pada Ranran.

“Imitasi!”

Sejumlah kepala, termasuk aku langsung menoleh mencari arah yang tadi ditunjukkan Ranran.

“Yang mana?” tanyaku penasaran akan objek yang setahun belakangan santer dijadikan objek pembicaraan kedua teman sekelasku.

“Tunggu, dia akan lewat sini, nanti kuber tahu.”

Dua orang sunbae lewat persis di depan kami.

“Itu, salah satu di antara mereka! Yang sebelah kiri!” ucap Ranran setelah mereka berlalu. Namun aku yang sedari tadi malah melihat jauh ke kerumunan orang yang akan melewati koridor tempat kami berdiri, jadi tidak memperhatikan sosok 2 orang sunbae yang barusan lewat.

“Aduh, aku masih belum lihat!” ujarku.

“Jelas, orangnya dimana, matamu dimana.” Tukas Jinhye.

“Hula! Kenapa semua ngumpul di sini?” Seunhye datang tak diundang dengan senyuman lebar tidak jelas.

“Kami mau lihat si imitasi!” Hyesu yang menjawab sementara yang lain masih ingin melihat sosok imitasi yang belum terlalu jauh.

“Aku penasaran!” seruku, detik berikutnya aku berlari kecil mengikuti 2 orang yang harus kuikuti setelah ditunjukkan Mikyong warna tasnya yang hitam dengan corak merah maroon.

Kedua laki-laki dengan tinggi yang tak jauh beda itu terus saja berjalan memunggungiku. Aku melangkahkan kakiku panjang-panjang untuk memperkecil jarak. Tetapi kulihat salah seorang dari kedua sunbae yang kukuntit membisikkan sesuatu ke temannya.

Di detik berikutnya.

“. . .”

Mereka berdua berbalik ke arahku di saat jarakku dengan mereka tidak sampai 3 meter. Saking gugupnya, aku malah cepat-cepat memutarbalik badanku 180° dengan tidak sempurna, kakiku yang memutar jadi berkelit sendiri membuatku oleng sedikit.

Aku tak tahu apa yang ada di dalam benak sunbaeku, namun yang kudapatkan setelah berbalik adalah teman-temanu dengan berbagai macam ekspresi.

Mula dari menepuk jidatnya kelewat keras,menutup mukanya, bergeleng-geleng kepala, memalingkan muka seolah tidak kenal denganku, dan menertawakanku dengan sukacita.

“Baboya, kenapa malah berbalik?” semprot Seunhye dengan pertanyaannya.

“Refleks.” Singkatku dengan melempar cengiran tak berdosa.

“Seharusnya kau pura-pura terus jalan saja!” tutur Jinae

“Sudah melihat si Choi Minho itu kan?” goda Jinhye.

Aku mengangguk 2 kali.

“Eunkyung, kau lucu sekali tadi!”

“Terima kasih Hyesu!”

“Sama-sama Kukyung!”

Well, it just started from then on.

Choi Minho, kakak kelas yang mirip dengan artis idolaku.

-Not Really End-

 

a.n:        How i miss everyone, everything that’s mentioned here

 

 

Come Here [Drabble]

Casts: Kang Eunri, Choi Minho

“Ironis sekali gadis itu, baru saja ditinggal kedua orang tuanya, dan sekarang ditinggal tunangannya tepat 2 minggu sebelum pernikahannya berlangsung.”

“Iya, sudah jatuh, tertimpa tangga.”

“Tak hanya itu, kudengar di berita perusahaan keluarganya pun bangkrut.”

“Grup Kang bangkrut? Bagaimana bisa grup sebesar itu bisa gulung tikar?”

“Ssst, jangan keras-keras, katanya ini adalah perbuatan orang dalam yang menjual saham perusahaan, aku juga tidak tahu persisnya, hanya begitu kata suamiku.”

Continue reading

Unrequited

Title : Unrequited

Author: seoeunkyung

Casts: You, Choi Minho

Rating: PG-13

Genre: Romance

Length: Drabble

“A.. aa.. aku..”

“Tolong jauhi aku.”

“Maaf.”

Hening.

Aku masih terdiam. Aku hanya bisa diam, menunduk dan menatap sepatu sambil menahan sesak.

‘Tap tap tap.’

Ia marah. Aku tahu. Aku peduli.

Namun aku juga marah.

Apa ia tahu?

Apa ia akan peduli?

Tidak

Dan tak akan pernah

Lalu kenapa aku harus tahu?

Kenapa aku harus peduli?

Kenapa harus?

Tes..

Setitik air jatuh mengenai ujung sepatuku. Kudongakkan kepala ke atas.

Langit sungguh mendung, suram, dihiasi gumpalan- gumpalan awan. Seperti kembang gula, tapi ia hitam dan gelap.

Tes tes..

Tetesan lainnya menyusul jatuh di atas pipiku. Dingin..

Detik kemudian tetesan itu semakin banyak, berjatuhan dari langit. Aku masih bergeming di tempat yang sama. Mencoba untuk menghirup aromanya, tanah yang basah. Namun hanya udara lembab yang terasa, membuat tenggorokanku semakin sakit.

Masih di tempat yang sama, dengan kemeja seragam dan rok sekolah yang hampir basah seutuhnya.

‘Glegar gluduk gluduk’

Ada apa dengan kakiku?

Kenapa tak mau bergerak?

Apa?

Apa lagi yang kuharapkan?

Apa aku akan berharap ia dengan langkah lakinya yang berlari- lari kecil  kembali kesini?

Mendatangiku dengan payungnya?

Menggenggam tanganku?

Menarik tubuhku yang sudah akan membeku dalam pelukannya?

Menutup kedua telingaku?

Agar aku tak mendengar petir-petir itu?

Apa dia tahu aku takut petir?

Apa dia tahu,

Kenapa aku harus sakit?

Kenapa harus menangis?

Simple, karena aku bodoh.

Menyukai, ah tidak, mencintai.

Aku mencintai Choi Minho!

Aku mencintai mu…

Namun tidak denganmu..

Air dari langit itu semakin deras berjatuhan, menghantam tubuhku, masih di tempat yang sama, dan aku melihatnya.

Ia, tak akan memayungiku,

Ia tak akan memelukku,

Ia tak akan menutup kedua telingaku…

Ia tak akan berbalik menghampiriku,

Tapi ia melakukannya, semuanya, pada gadis di sampingnya…

Matanya menatap, tersenyum pada gadisnya, hangat…

Bukan padaku, bukan kehangatan untukku, karena di sini, di tempat yang sama, aku tak merasa hangat, aku dingin, dingin sekali..

Aku, menangis, ini terlalu sakit, bahkan ini yang paling sakit diantara jutaan lainnya, kau buat air mataku tumpah, mengalir berbaur dengan air dari langit,

ya, itulah yang bisa kau berikan padaku….

 

 

I wish he would look at me

Just once

Please…

a.n: BWAHAHAHA.. curcol-curcol 😳