Good Person

a

Cast: Kris, Kim Yoobi

Katanya pertemanan sepasang anak laki-laki dan anak perempuan itu tai kerbau, well bullshit.

“Antar ini ke sebelah ya, ibu mau mandi dulu.”

Aku tidak mengiyakan tapi ibu sudah menghilang di balik pintu kamar jadi tidak ada pilihan selain pergi ke rumah sebelah mengantar semangkuk besar galbi ini kalau tidak mau mendengar ceramah tak berkesudahan ibu yang selalu tidak puas akan anak laki-laki bungsunya yang sangat pemalas katanya.

Keluar dari pekarangan rumah hanya beberapa langkah kusudah sampai di depan pagar bata keluarga Kim.

“Siapa ya?”

“Kris”

“Oh hyung.”

Terdengar bunyi mendenging kemudian pintu terbuka.

Bocah 15 tahun bernama Hyungshik yang kukenal adalah yang tadi di interkom, tapi begitu pintu terbuka, kakaknya muncul dengan hanbok.

“Oh, dari bibi ya.”Dia  mengambil alih mangkuk atau baskom atau apalah di tanganku lalu masuk ke dalam duluan, tidak mempersilahkanku masuk, tapi aku tetap masuk.

“Mau kemana pakai hanbok.”

Aku mendudukkan pantatku di sofa ruang tengah, sementara si kakak Hyungshik masuk ke dapur meletakkan galbi dari ibu.

“Ke rumah nenek.”

Kim Yoobi, kembali dari dapur membawa sekeranjang yang kurasa kutahu isinya apa. Dia meletakkannya sengaja di pangkuanku.

“Bilang bibi terimakasih ya.”

Aku membuka isi keranjang, mengambil salah satu isinya, kue bulan. Tapi Yoobi melihatiku sejak tadi membuatku sedikit terganggu.

“Kenapa sih?”

“Eii, kau belum mandi ya.”

“Bau ya?”

“Iya, bau bangkai. Mandi sana, kau mau ikut ke rumah nenekku tidak?”

“Yang penting aku ganteng.” Aku mulai mengunyah kue bulan buatan ibunya. Ibu Yoobi orang cina, ibuku orang Korea, tiap Chuseok ibunya membuatkan keluargaku makanan tradisional Cina, ibuku membuatkan yang dari Korea. Sejak 21 tahun yang lalu.

Yoobi terlihat mendecihkan mulutnya.

“Terserah kau sajalah.” Yoobi beranjak dari sana sementara aku mengambil remot TV mencari channel.

Tak lama Yoobi kembali ke ruang tengah dengan sisir  di tangannya. Dan setelahnya aku tahu apa yang akan dia lakukan.

Gadis itu menyodorkan sisirnya padaku kemudian menyuruhku menggeser duduk hingga ke sisi pojok sofa, dia duduk di sebelahku, menghadap ke arah sebaliknya.

Dan di sinilah aku menyisir rambut anak perempuan yang selalu bersamaku sejak lahir. Kami bertetangga, dan tanggal lahir kami sama. Orang tua kami saling mengenal dengan baik, selain itu ibunya dan ibuku adalah partner in crime di acara kumpul-kumpul lingkungan perumahan ini dalam hal update gosip terbaru. Jadi menyuruhku menyisir rambutnya telah menjadi kebiasaan orang ini sejak belasan tahun yang lalu, bahkan tanpa sungkan.

Melihat gadis ini sejak dia masih bocah gendut yang suka main di bak pasir taman di ujung jalan, sulit percaya sekarang dia sudah berumur 20, dan oh well menawan.

“Hyungshik mana?”

Akhirnya aku mulai menyisir rambutnya. Rambutnya panjang hitam dan lembut. Ehm, juga wangi buah.

“Mungkin mandi, kau benar-benar tidak mau ikut ke rumah nenekku?” Tangan gadis itu kini sibuk memencet remot TV.

“Sorry, ada janji kencan ala-ala tahun baru.”

Dia mengibaskan tangannya.

“No way!”

“Yes way.”

“Bertaruh 10 juta won, kau hanya akan tidur seharian di kamar hari ini.”

“Aku bertaruh 100 juta won kau tidak punya uang sebanyak itu.”

“Haha lucu Kris.”

“Terimakasih.”

“Ayolah ikut. Tidak seru tidak ada kau.”

“Malas ah, nenekmu suka genit sama aku.”

“Ya itu bagian yang seru.. akkh.”

Gadis itu memekik kaget lalu memukul kepalaku dengan remot setelah kujambak rambutnya.

“Ya, hentikan pertengkaran ala-ala pengantin baru kalian.” Hyungshik sambil lalu berjalan melewati ruang tengah ke dapur. Haha pertengkaran pengantin baru katanya.

“Mandi sana cepat, tidak mau tahu kau harus ikut.”

Yoobi beranjak dari sofa lalu naik ke atas. Dan semua kalimatnya adalah perintah bagiku. Aku segera pulang dengan keranjang kue bulan dari ibu Yoobi, mandi dan bersiap-siap jadi supir si nona Kim.

Entah sampai kapan aku akan berhenti menuruti permintaan si Kim Yoobi sahabat kecil yang sudah sejak lama tidak kulihat sebagai sahabat lagi. Yah sayangnya aku juga tidak mengerti kenapa dia tidak pernah menyadari bahwa laki-laki yang suka dia aniaya ini terlalu ganteng dan mubazir jika hanya untuk dijadikan korban kekerasan.

Hyungshik bilang, “Kau basi hyung. Payah!”

Saat kutanya bagaimana dia tahu aku menyukai kakak perempuannya, Hyungshik bilang, “Easy sir. Aku kan juga laki-laki.”

Jadi menurut Hyungshik sesama laki-laki bisa mengenali laki-laki lain yang sedang jatuh cinta, dan aku akhirnya mengerti alasan sebenarnya kenapa Paman Kim memasang teralis besi di jendela kamar  Yoobi baru-baru ini.

Supaya aku tidak bisa seenak jidat masuk ke kamar anak gadisnya diam-diam lagi. Okay Kris, tentu saja, paman Kim akan berpikir macam-macam.

Well, aku memang tidak pernah melakukan pengakuan verbal di depan Yoobi, tapi seperti kata Hyungshik, kakaknya idiot, sampai kapanpun dia tidak akan pernah menilai perhatian dibalik sifat cuekku ini lebih dari kepedulian seorang teman. Dan aku sedikit bersyukur. Hanya sedikit.

Memangnya aku mau selalu berakhir sebagai sahabat yang ganteng untuk Yoobi. Tidak.

Namun membayangkan aku dan Yoobi akan terperangkap dalam keadaan awkward yang mematikan jika objek bernama perasaan telah hadir di tengah-tengah status pertemanan,

No way.

So in this way, dia masih bisa memintaku menyisir rambutnya, dia masih bisa dengan antusias menjodohkanku dengan teman-temannya, dia masih bisa menjadikan bahuku tempat  menangis ketika anak laki-laki incarannya sudah punya pacar, dan dia masih bisa sesukanya menjadikanku samsak tinju ketika dia bilang dia sedang emosi tingkat dewa-dewi.

Sehingga dia masih bisa terus mengandalkan aku selalu seperti sejak dulu.

Sehingga aku masih bisa terus menjadi good person bagi Kim Yoobi.

Advertisements

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s