Acquainted

kai

Cast: Lee Jinhyeon, Kai, Luhan

 

Aku, Lee Jinhyeon, gadis cantik dan manis kelas 3 SMA swasta di distrik gangnam, ya sebut saja sekolah elit di mana anak-anak pengusaha disekolahkan demi menjaga sesuatu yang disebut prestise. Uang sekolahku memang mahal, tapi jangan tanya kenapa aku bisa sekolah di sekolah yang toiletnya seperti toilet hotel. Penasaran? Oh, baiklah. Tentu saja karena, karena,

AKU ANAK ORANG KAYA!

Ayahku pengusaha di bidang properti, kalau ibuku ibu rumah tangga yang tidak tahu bagaimana cara menghabiskan uang suaminya. Ayah mengambil seorang anak petani sayur dari Daegu sebagai istrinya. Sebuah roman yang sangat picisan namun nyata adanya ketika kisah dua anak manusia berbeda status dipersatukan oleh hal bernama cinta. Kata ayah, hubungannya dengan ibu dulu ditentang habis-habisan oleh tidak hanya pihak orang tua ayah, namun juga orang tua ibu. Haraboji, dari ibu sangat membenci keluarga ayah yang sejak dulu memaksa penduduk asli di desa ibu untuk pindah dari sana karena kawasan desa itu ingin dijadikan resort dan real estate, termasuk rumah haraboji yang sudah turun-temurun diwariskan. Sementara itu ayah yang masih berumur 20an, waktu itu melihat ibu yang masih berumur 19 tahun sedang menjemur pakaian, dan kata ayah benih-benih cinta itu muncul diam-diam tanpa seorang pun yang tahu, dan diam-diam sudah menyergap dua insan muda kala itu. Aku mengutip kalimat ini langsung dari penuturan ayahku. Aku tahu, ayah norak.

Tidak ada kehidupan yang lebih sempurna daripada kehidupan putri mahkota yang tiap hari hanya perlu menjentikkan jarinya untuk mendapatkan foto bersama Lee Seungi ataupun kencan satu hari bersama Kim Soohyun. Semua yang ada pada diriku selalu menjadi pusat perhatian dan kekaguman orang lain. Wajah di atas standar, mewakili sebuah idiom natural beauty yang tak pernah tersentuh pisau bedah. Hidungku asli mancung, mataku bulat dengan dua lipatan sempurna pada kelopaknya, apalagi kulitku putih sekali, tinggiku sangat ideal 165 cm, tubuh langsing dan rambutku hitam sebahu. Dengan penuh percaya diri aku sangat yakin kalau kalian semua sudah dapat membayangkan betapa cantiknya diriku.

Mungkin untuk beberapa alasan, kalimat tidak ada yang sempurna di dunia ini memang benar. Yah meskipun aku punya segala sesuatu yang diinginkan bagi semua remaja perempuan di seluruh Korea Selatan, tetap saja aku punya kekurangan. Apa kekuranganku? Aku kurang waras.

Tidak aku tidak bercanda. Aku memang kurang waras dalam arti harafiah dan sebenar-benarnya. Mungkin bukan gila, tapi mendekati gila. Aku penderita sebuah kelainan psikologi yang dalam bahasa medisnya disebut Obsessive Compulsive Disorder. Sebagian besar mungkin sudah tau apa itu penyakit ini, simpelnya, aku adalah orang yang selalu melakukan pekerjaan berulang-ulang dan memastikannya hingga benar-benar –benar-benar sudah benar. Pernahkah kau membayangkan aku harus bolak-balik dari rumah ke sekolah 5 kali. Hanya untuk memastikan apakah aku sudah mengunci loker.

Bukan hanya itu, penderitaanku yang lain adalah, aku phobia akan beberapa hal. Mungkin kebanyakan orang-orang juga memiliki ketakutan akan hal yang umum seperti takut tinggi atau takut kecoa. Dalam kasusku, aku tidak takut akan dua hal tersebut. Namun ketakutanku adalah:

Aku takut makan nasi, aku takut melihat anjing, aku takut melihat benda-benda berbentuk lingkaran, info tambahan, aku selalu pingsan setiap pelajaran olahraga permainan bola. Bola apapun.

Aku takut kegelapan, aku takut keramaian, aku takut tempat yang sempit dan gelap, jadi pastikan aku tidak berada pada satu ruangan sendirian, dan tidak juga tidak boleh terlalu ramai. Aku takut, lebih ke jijik, tapi juga takut melihat orang yang sangat keringatan, aku sendiri tidak bisa keringatan, ada semacam kelainan hipohidrosis, atau sulit berkeringat. Apa lagi ya, oh, aku takut cokelat, aku takut kebisingan, dan aku takut air yang luas, mungkin kolam atau danau, atau laut.

Satu lagi, tenang saja ini yang terakhir, akhirnya yang terakhir dan paling merepotkan. Aku punya kelainan MVP, bukan ini bukan kelainan orang yang terlalu narsis sehingga merasa menjadi Most Valuable Person, kata dokter Oh, Mitral Valves Prolaps, ada kelainan di katup jantungku, aku tidak tahu bagaimana ceritanya tapi dari yang kutangkap atas penjelasan dokter Oh, kelainan katup itu cuman semacam penanda gejala saja, efek sesunguhnya itu justru ke gejala psikosomatik, pokoknya kalau kambuh aku sering pingsan dan berdebar-debar, namanya disautonomic, kalau di pelajaran biologi sih, ada hormon yang disebut epinefrin, nah itu hormon yang keluar kalau kita sedang stres atau takut kan, benar jadi kalau aku sedang mengalami salah satu atau dua kondisi tersebut, hormon itu keluar dengan melonjak dan aku akan berakhir di tempat tidur ruang emergency rumah sakit, atau ruang kesehatan di manapun ketika terbangun.

Tidak seseram yang kedengarannya, semua keanehan yang kualami dalam tubuhku ini tidak seberbahaya kanker atau penyakit yang mengancam jiwa. Tidak sama sekali tidak. Hanya saja, juga tidak semudah itu menjalani hari-hari sebagai diriku. Bagiku, setiap hari adalah perjuangan yang melelahkan. Yang pertama kali kulakukan sejak bangun pagi adalah mandi, aku bisa mondar-mandir dari kamar mandi kembalik ke kamar beberapa kali hanya untuk memastikan apakah bibi Jung ada di dalam kamar, karena aku takut kalau akan pingsan di kamar mandi dan tidak ada yang akan menemukanku. Setelah mandi, aku harus memastikan bahwa seragamku benar-benar terpasang dengan baik, tidak ada yang robek, apalagi kotor, setelah itu aku harus menyisir rambutku berkali-kali karena aku selalu tidak yakin apakah tadi aku sudah menyisir rambut atau belum. Kemudian turun ke bawah dan sarapan bersama ayah dan ibu. Sesungguhnya aku juga tidak ingin memeriksa setiap makan pagi kami, untuk menemukan sesuatu seperti helaian rambut yang membuatku sangat jijik sehingga meminta paman Kim untuk memasak ulang sarapan kami dengan sangat higienis. Aku harus memastikan berulang-ulang segala sesuatu dan tidak akan berhenti hingga semuanya benar-benar beres sesuai standarku. Terkadang aku dimarahi ibu, saat tanganku sudah gatal memeriksa makanan di depanku, bahkan ingin mengendusnya. Ibu sangat marah, karena itu tidak sopan. Dari semua gejala kelainan, anggap saja kejiwaan, ibu adalah satu-satunya yang selalu memperlakukanku seolah aku adalah putri satu-satunya yang sangat normal. Begitu cara ibu mendidikku dengan semua keanehan  dalam diriku. Meyakinkan bahwa tidak ada yang salah dengan diriku. Dan ayah akan mengelus-elus kepalaku seperti sekarang saat ibu sedang mengomel lalu berkata,

“Sudah bu sudah, nanti ibu tambah tua kalau ngomel terus.”

Dan kemudian makan pagi dilanjutkan dengan membicarakan apa saja, mulai dari hal-hal kenapa matahari terbit dari Timur, dan manakah yang lebih duluan ayam atau telur ayam.

“Jinhyeoni, ayo turun kita sudah sampai lo.”

Suara ayah membuyarkan lamunanku. Aku turun dari motor, kemudian melepaskan helm dan memberikannya pada ayah. Ayahku yang masih muda dan tampan seperti Wonbin ini punya satu rutinitas mengantarkanku ke sekolah dengan motor Ducatinya sebelum ia kembali ke rumah dan pergi ke kantor.

“Selamat belajar anak ayah yang paling cantik sedunia”

Ayahku yang ganteng parah mirip Wonbin itu sekarang jadi pusat perhatian di depan gerbang sekolah.

Karena naik motor, aku selalu mengenakan celana training di balik rokku, dan sudah kujelaskan berulang kali pada Han songsaenim yang selalu tidak mau tahu dan memberiku detensi tiap melihatku dengan training yang katanya selalu membuatnya sakit mata dan menurunkan martabat sekolah. Jangan tanya dimana letak penurunan  martabat sekolah yang katanya elite ini hanya karena aku mengenakan celana training.

Aku berdiri di depan toilet siswa, dengan sigap melepas celana training ku dan langsung keluar dari sana sebelum aku merasa pusing.

Begitu keluar dari toilet seorang murid laki-laki terlihat berlari ke arahku kemudian tanpa seizinku dia menarikku lagi ke dalam toilet perempuan yang baru kumasuki.

Aku mau menyanggah, tapi dia segera meletakkan jari telunjukknya di depan bibir, isyarat agar aku diam dan tidak berisik. Tidak lama berselang terdengar suara derap langkah dan kebisingan di luar toilet ini disertai seruan Kai oppa eoddisso?

Aku mengenalnya, dia teman sekelasku namanya Kim Jongin, tipikal anak laki-laki populer di kalangan anak perempuan yang jago olahraga.

Nafasnya agak tersengal, kupikir dia habis berlari, kemudian sejurus aku mendapati sesuatu mengalir dari pelipisnya membasahi wajahnya, KERINGAT.

Seketika aku berjalan mundur darinya, kurasakan kepalaku mulai pusing dan pandanganku berkunang-kunang.

“Hey kau tidak apa?”

Dan setelah itu aku tidak tau apa-apa.

Aku terbangun di ruang kesehatan dengan dokter jaga yang sudah hapal betul denganku, Hyesun eonni. Dia sedang membelakangiku dan menoleh saat mendengar suara ranjang berderit akibat aku yang bangun ke posisi duduk.

“Eonni, aku pingsan lagi ya.”

“Oh, kau sudah bangun Jinhyeon-ah, sudah merasa enakan?”

Aku mengangguk dua kali, dan mengitarkan pandangan ke sekitar. Seperti tahu maksudku, Hyesun eonni melirik jam tangannya, jam 10 Jinhyeon-ah, istirahat saja dulu di sini dan masuk kelas setelah break.

“Tidak apa eonnie aku sudah tidak apa-apa kok.”

“Benarkah, ya sudah kalau begitu. Kau bawa obatmu kan?”

Aku mengangguk lagi.

“Terimakasih eonni, maaf ya sudah merepotkan.”

“Iya, tidak apa kok.”

Aku pamit dari Hyesun eonni lalu mengambil tas.

Baru beberapa langkah dari ruang kesehatan, kuteringat tiba-tiba tadi aku pingsang di toilet saat bertemu Jongin, dan siapa yang membawaku ke ruang kesehatan? Apakah aku berjalan sendiri, atau, oh, atau aku digendong Kim Jongin?

Tanpa sadar aku menghela nafas. Aku selalu merepotkan orang lain.

Mungkin penyakit dan kelainanku memang tidak berbahaya. Aku selalu terlihat sehat seperti orang lain. Tapi efeknya sangat besar ke kehidupan sosialku. Aku bukanlah orang yang anti sosial. Aku ingin berteman dan suka berteman. Masalahnya, aku tidak tahu bagaimana caranya.

Sejak kecil, berteman bagiku bukanlah hal yang mudah. Aku sering pusing dan berdebar-debar saat pelajaran olahraga, sehingga aku hanya bisa duduk di pinggir lapangan melihat teman-temanku berlari mengejar benda bulat bernama bola yang bila kusentuh dapat membuatku jatuh pingsan lagi. Pernah suatu saat ketika aku kelas 4 SD aku jatuh pingsan hanya karena kelasku yang waktu itu sedang mendapat jam kosong, dan teman sekelasku membuat keramaian berteriak dan sebagainya sehingga aku sesak nafas, dan lagi-lagi pingsan. Orang tuaku datang menjemput ke sekolah dan menjelaskan keadaanku kepada guru yang selama ini tidak tahu mengenai penyakit dan kelainanku.

Sehingga setelah itu guru-guru mengumpulkan teman sekelasku dan berkata bahwa mereka tidak boleh ribut jika ada Lee Jinhyeon di kelas. Dan bukannya membantu, semenjak saat itu, di mata anak-anak berusia 10 tahun itu, aku adalah anak yang aneh. Ketika mereka bermain, mereka tidak lagi mengajakku, karena mengingat perkataan Pak guru tempo hari, bahwa aku tidak bisa terlibat dengan keramaian.

Dan aku akan tinggal di kelas seorang diri.

Mulai saat itu seorang Lee Jinhyeon menjadi seorang yang mengasingkan diri. Aku tidak bohong kalau kubilang aku tidak punya seorang teman, maksudku teman sebaya. Karena pegawai di rumahku sekaranglah yang kuanggap sebagai teman.

Terdengar sedikit aneh tapi tetap saja menyedihkan. Bukan tidak ada yang ingin mendekatiku. Pernah ada beberapa anak perempuan sekelas yang ingin mengajakku berteman, waktu SMP, dulu aku yang sudah begitu lama tidak mengerti bagaimana rasanya berteman, justru mengalami sesak akibat kondisi disautonomic ku. Sejak saat itu tidak ada yang berani mendekatiku.

Sebuah bola sepak berwarna kuning menggelinding tepat di ujung sepatuku,  membuatku kaget, hingga terhuyung ke belakang beberapa langkah dan menubruk seseorang di belakangku.

“Kau tidak apa-apa?”

Aku mengenal suara ini.

Cepat-cepat aku berdiri  dengan sempurna orang yang kuduga tepat berada di sebelahku.

“Lee Jinhyeon apa kau tidak apa?” Wajahnya merendah ke arahku melihatku lebih dekat. Ya ampun, sesak langsung menyergapku, pusing dan berdebar-debar.

Aku hendak membuka mulutku mengatakan kalau aku baik-baik saja, namun bukan sebuah kata yang keluar, justru aku semakin memegangi dadaku yang berdebar-debar. Yang bila orang lain melihat, seolah aku benar-benar sangat kesakitan, sebenarnya tidak, tapi sebenarnya juga iya.

Oke Jinhyeon, tahanlah, kau baru saja bangun dari pingsan.

“Luhan, ada apa?”

Dan semuanya menjadi gelap.

Kai ingin mengisi perutnya ke kantin namun ia teringat oleh teman sekelasnya yang tadi pagi pingsan saat bersamanya, ia ingin mampir sebentar ke ruang kesehatan sekedar ingin melihat keadaan gadis bernama Lee Jinhyeon ini.

Sebelum sampai ruang kesehatan, dia mengenal tas Jansport warna merah yang sama dengan yang dikenakan Jinhyeon, dan Luhan, anak kelas sebelah tengah berdiri di sana memegangi bahu Lee Jinhyeon.

Kai memanggil Luhan dan berlari ke arah mereka, dan tepat begitu sampai di hadapan Luhan, Lee Jinhyeon jatuh pingsan lagi.

Luhan menangkap Jinhyeon dan segera membopong gadis itu ke ruang kesehatan lagi.

Selama 3 tahun bertugas di sekolah elite itu, Hyesun telah mengenal Jinhyeon sejak hari pertamanya, gadis itu mungkin bisa disebut queen of insanity, bisa pingsan dimana saja, kapan saja. Namun baru kali ini ia mendapati gadis itu pingsan dua kali dalam satu hari.

Hyesun segera memasangkan selang oksigen pada Jinhyeon, ia melonggarkan kemeja atas Jinhyeon dan memeriksa tekanan darah serta denyut nadi gadis itu. Kemudian memberikan suntikan beta blocker untuk menurunkan denyut jantung gadis itu.

Sementara Luhan dan Kai berdiri di dekat ranjang mengamati dokter cantik sekolah yang masih muda ini.

Begitu Hyesun selesai , dia menyuruh Luhan dan Kai untuk kembali ke kelas dan membiarkan Jinhyeon istirahat.

Luhan yang masih mengenakan pakaian olahraga pamit dari sana untuk mengganti pakaian. Sementara Kai malah duduk di pinggir ranjang menghadap Hyesun.

“Kau tidak ke kelas Kai?” tanya Hyesun sambil mengambil sesuatu di lemari obat. Kai juga pelanggan tetap di ruang kesehatan, pelanggan ruang kesehatan untuk tidur siang maksudnya.

Meskipun berulangkali dimarahi Hyesun untuk tidak sembarangan masuk ruangannya dan tidur siang seenaknya, Kai selalu berdalih sakit perut dan butuh tempat tidur untuk mengistirahatkan perutnya dari pelajaran yang rumit. Dan Hyesun bertanya-tanya, apakah otak Kai berada di perut atau di kepalanya.

“Noona, gadis ini sakit apa sih dia sering sekali pingsan.”

“Tanya sendiri saja orangnya.”

“Jinhyeon-ssi kau sakit apa?”

“Dia tidak menjawab noona.”

“Aish, Kai kalau kau sedang bosan sana ke ruang guru dan ngobrol dengan Han songsaenim daripada menggangguku.”

“Sebenarnya aku lapar, kau sudah sarapan belum, temani aku makan yuk!” Untuk ukuran bocah, Kim Jongin yang selalu ingin dipanggil Kai ini memang tidak tau sopan santun bicara dengan bahasa informal kepada Hyesun. Namun Hyesun sudah terlalu lelah mengingatkan bocah satu ini, yang bahkan sangat sering menggodanya.

Kai hanya akan menjawab,

“Hyesun noona sangat manis sih, aku sering lupa kalau kau lebih tua 6 tahun dariku.”

Kai menolehkan pandangannya ke Jinhyeon yang masih memejamkan mata, tanpa sengaja melihat paha Jinhyeon yang tidak tertutupi rok, Kai berdeham memalingkan wajahnya, lalu mengambil selimut di ujung ranjang dan melemparnya asal menutupi kaki Jinhyeon.

Hyesun yang melihat itu hanya tersenyum kecil.

“Dasar bocah.” Gumamnya.

Hyesun mengambil air putih di ruang sebelah,  meninggalkan Kai yang kembali mengamati gadis paling pendiam di kelasnya tersebut. Dalam sekali lihat, Kai setuju, Jinhyeon cantik, sangat cantik malah bila  diperhatikan lebih lama. Hanya saja entah kenapa Jinhyeon kurang menarik di mata kebanyakan orang, mungkin karena sifatnya yang tertutup dan sangat pendiam, sepengetahuan Kai pun gadis ini juga sangat jarang berkumpul ataupun bergosip dengan anak perempuan di kelasnya, Kai tidak suka perempuan gengges tukang gosip.

Kedua kelopak mata Jinhyeon bergerak sedikit, hingga akhirnya membuka sempurna.

“Noona, dia sudah bangun!” teriak Kai.

“Kai jangan teriak-teriak apa.”

“Hehe maaf songsaenim.”

Jinhyeon mengedipkan matanya, tangannya bergerak memegang selang oksigen di hidungnya, hendak melepasnya, namun ditahan oleh Hyesun.

“Biarkan saja dulu Jinhyeon-ah.”

“Tidak perlu eonni, aku sudah baikan.”

Jinhyeon pelan-pelan bangkit dan duduk, sedikit kaget melihat Kai ada di hadapannya.

“Maaf eonni, aku merepotkanmu lagi, aku akan kembali ke kelas.”

“Apa kau merasa lebih baik? Atau ingin pulang saja?”

Jinhyeon tersenyum dan menggeleng.

“Tidak perlu eonni, kalau aku pulang nanti ibu malah khawatir.”

“Baiklah, tapi paling tidak minum ini dulu, kau pasti belum minum obat pagi bukan.”

Jinhyeon hanya nyengir mengiyakan.

“Oh Kai, karena kebetulan kau di sini, pastikan dia selamat sampai ke kelas ya.”

“Arraso sayang.” Kemudian sebuah jitakan dihadiahkan di kepala Kai oleh Hyesun.

Jinhyeon hendak mengambil tasnya tapi sudah disambar oleh Kai lalu anak laki-laki itu sudah keluar duluan sebelum Jinhyeon berkata lagi.

“Sudah biarkan saja dia yang bawa tasmu. Ini surat izin untuk gurumu ya.”

“Baik eonni terimakasih banyak ya.”

Di depan ruang kesehatan, Kai sudah menunggunya. Dengan canggung Jinhyeon berjalan beriringan di samping Kai.

“Terima kasih ya Jongin-ssi, sudah menggendongku dua kali hari ini, aku sangat merepotkan ya.” Akhirnya Jinhyeon bisa mengatakan sesuatu pada Kai, dan beruntung dia tidak pingsan lagi sekarang.

Sudah sangat lama Jinhyeon tidak bicara dengan anak laki-laki dan itu membuatnya salah tingkah sekarang bersama dengan Kai.

Disautonomicnya bisa saja kambuh kalau dia sedang grogi. Dan Jinhyeon sama sekali kehilangan muka kalau dia akan pingsan lagi setelah ini.

“Ya santai saja, tapi aku hanya menggendongmu satu kali, tadi pagi, kalau yang barusan Luhan yang membawamu.” Kai menjawab.

“DEMI APAPUN!”

Kai kaget, gadis yang suaranya jarang ia dengar di sebelahnya ini tiba-tiba memekik, Jinhyeon yang sadar akan apa yang dia lakukan sekarang segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Untung jam istirahat masih berlangsung, kalau tidak seluruh kelas di lorong koridor ini bisa mendengar teriakannya barusan.

“Haha, kenapa kau Jinhyeon-ssi.”

“Kau serius yang membawaku adalah Luhan, Xi Luhan kelas sebelah kita kan?” Jinhyeon bertanya kali ini dia tanpa sadar telah menatap Kai, biasanya Jinhyeon tidak pernah berani menatap lawan bicaranya yang belum dikenal seperti ini, dia akan gugup dan disautonomicnya bisa kambuh. Ya begitulah repotnya jadi Jinhyeon.

Kai terkekeh sambil mengangguk.

“Memalukan Jinhyeon.” Desis gadis itu yang masih didengarnya. Dan Kai terkekeh lagi, sekali tebak juga sudah kelihatan gadis ini ada apa-apanya dengan si Luhan anak kelas sebelah.

Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, Luhan sedang berjalan dari arah berlawanan.

“Nah itu Luhan sedang berjalan ke sini, sana bilang terimakasih padanya.”

“Aaandwe, aku malu, aku pasti terlihat seperti orang aneh.” Jinhyeon berjalan ke belakang Kai, berusaha sembunyi dari Luhan yang berjalan semakin mendekat.

“Lah, apanya yang aneh sih, lebih aneh kalau orang menolongmu tapi tidak bilang terimakasih, dan kenapa kau malah sembunyi? Luhan-ssi!”

“Yaa! Kenapa malah kau panggil!” Jinhyeon memekik tertahan.

Luhan, anak laki-laki pindahan dari Cina yang manis itu menoleh ketika namanya dipanggil.

“Terlambat dia sudah kesini, sana bilang terima kasih.”

Kai menarik lengan Jinhyeon mendorongnya ke depan tepat di hadapan Luhan sekarang.

“Oh kau sudah tidak apa-apa?”

Jinhyeon punggung Jiyeon seperti tersengat listrik, telinganya memanas, dan dia malah menunduk saja alih-alih menjawab apalagi menatap Luhan yang sudah berbaik hati menanyakan kabarnya.

Melihat itu, Kai dengan kurang ajar mendongakkan kepala Jinhyeon untuk menatap Luhan yang tengah  tersenyum dengan sangat manis.

“Aa, ee, eh, ee..”

Kai dalam hati mengurut dadanya, payah sekali gadis ini pikirnya. Dia meletakkan kedua tangannya di atas bahu Jinhyeon.

“Luhan-ssi, dia mau berterima kasih karna sudah membawanya ke ruang kesehatan tadi, iya kan Jinhyeon.”

Jinhyeon mengangguk cepat.

Kemudian membungkuk formal seperti membungkuk pada pak guru.

“Terimakasih Luhan-ssi, maaf aku sudah merepotkanmu.”

“Eh, iya sama-sama, aduh, santai saja Jinhyeon-ssi, tidak perlu begitu.”

Luhan mendekati Jinhyeon menegakkan badannya, sentuhan di pundaknya kali ini oleh Luhan, membuat ia merasa seperti tersengat.

Dan untuk yang  pertama kali Jinhyeon dapat melihat langsung ke kedua bola mata coklat Luhan yang teduh. Dan tambahan, dia tidak pingsan.

“Yang penting kau sudah sehat. Kalau begitu aku duluan ya.”Jinhyeon masih bisa melihat senyum sejuta watt Luhan yang begitu mempesona, sebelum tangannya menggapai sesuatu di dekatnya karena ia merasa hampir mau jatuh pingsan lagi.

Jinhyeon berdebar, sangat berdebar, sampai ia takut mau pingsan lagi, tapi idiom kupu-kupu yang berterbangan di perut di novel-novel percintaan yang sering dia baca itu sekarang ada di perutnya sendiri.

Kai hanya berdecak melihat aksi malu-malu-in gadis yang sebelumnya tidak pernah berinteraksi dengannya ini.

“Hey, ayo ke kelas, Luhan sudah pergi dari tadi, aigoo, kau seperti anak sd yang jatuh cinta saja. Adikku yang kelas 3 sd saja bahkan bisa bersikap jauh lebih elegan di depan anak laki-laki yang disukainya.”

“A..apa maksudmu. Aku tidak suka Luhan.”

“Lah, memangnya aku bilang kau suka Luhan?”

“Kau tidak bilang secara langsung, tapi menjurus ke situ.”

“Tsk, pendiam apanya, ternyata kau ini tukang pingsan yang sangat berisik.”

“Tunggu, apa kau sedang mengataiku sekarang?”

Kai berjalan duluan mendahului Jinhyeon yang tidak sadar kalau sekarang ia sedang meneriakkan nama Kim Jongin dengan sebal.

Mungkin teriakan kedua setelah yang tadi, selama bersekolah di sekolah ini.

Jadi, hari itu, hari ke 10 di bulan Februari, Jinhyeon telah memiliki seorang teman yang sudah lama tidak dimilikinya.

 

My notes:

Hai, ini postingan pertama di tahun 2015.

Baca ff dan pengen nulis lagi, dan jadilah cerita ini, i am not going to make any promise, jadi ini tidak ada tanda bersambung atau tanda berakhir, lanjut kalau memang pengen kulanjutin, dan stop, kalo emang ga ada ide -seperti-biasanya-

Apa ya, udah lama ga nulis cerita, kosakataku jadi miskin, yaudahlah ya, ini juga cuman iseng, karna aku ga bakal bisa kayanya bikin karya tulis yang apik dan tertata hehehe.

Dan apa ada yang pernah denger MVP atau disautonomic

I have both hehe, yet ga selebay di cerita ini yaa.

Emang ga berbahaya, tapi chest painnya emang annoying dan cukup membuatku ga bisa naik halilintar dan wahana ekstrim lainnya di dufan, even, bianglala yang gede. LOL

Kai ganteng yak. HAHAHA

 

Advertisements

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s