Recall

Disebut apakah dia yang melakukannya semua dalam diam-diam. Dulu menyangkal, sekarang meluap-luap tak terbendung.

Hypocrite?

Aku tak ingat kapan mulai secara jelas. Yang muncul dalam otakku pertama kali tentang dia, ratusan anak berkumpul di lapangan. Bergerombol dari lapangan basket, ke jalan, hingga ke lapangan voli dekat sebuah pohon -yang sudah pernah kulihat ketika umurku kala itu hanya membuatku pantas duduk di bangku taman kanak-kanak- bernama pohon cinta. Semua tahu itu terdengar konyol. Yang lebih konyol lagi, lingkungan gedung berlantai dua yang letaknya tidak jauh dari bandar udara kotaku itu, punya dua, maksudku tiga pohon cinta. Dua lainnya, berada tepat berseberangan dari sisi pohon cinta pertama, dipisahkan jarak lapangan bulu tangkis dan voli yang sejajar, yang rindang dahan dan daunnya seolah menyatu di atas menyerupai bentuk hati. Jangan tanyakan kenapa pohon pertama disebut pohon cinta juga.

Waktu itu, semuanya mengenakan seragam, lucunya berbeda-beda. Seingatku, itu hari pertama kami, yang baru lulus dari sekolah dasar, di sekolah menengah pertama yang terasa asing dengan sejumlah teman yang dikenal dengan baik, tentu yang asalnya dari satu sekolah dasar yang sama denganku.

Memang, bagian dari ingatan masa lalu yang tak begitu kuingat dengan baik. Tinggal berkas-berkas kabur yang terlihat.

Aku pertama, menyadari bahwa ia ada di sana dengan seragam yang tak sama ketika kulihat milikku, bersama anak-anak lain berpakain persis dirinya, tersenyum lebar dan sumringah, pendar sukacita dan tawa. Tak jauh beda dengan yang aku rasakan saat itu, dengan beberapa anak perempuan berpakaian senada denganku. Bajunya putih, sementara rokku yang putih, anggap saja rok kecil yang punya bekas lengketan permen karet itu, masih putih)

Aku murid SMP sekarang, dulu.

Kesadaran yang tak disengaja, dengan sadar dibiarkan berlarut-larut hingga, kupikir aku terlalu naif mengakuinya, sekarang. Meskipun kadang tertutup oleh suatu hal dan lain sebagainya, atas segala bentuk rasa dan asumsi litotes, sebut saja minderku, padanya.

Dia yang terlihat di antara ratusan lainnya dari jarak yang sedekat itu, ternyata memang hanya sebatas itulah semuanya terjadi. Dia, sejauh pandanganku. Dalam kebisuanku. Anak laki-laki itu.

11:11 am overcast

Jakarta, Thu January 16th 2014

Boyce Avenue, On my way.

Sadly  it’s not me, the way you’re heading to…

tumblr_mtfb4xAZSG1qz4d4bo1_500

credit: to the righful owner @ weheartit

Advertisements

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s