Maple and Apple 2: Apology is..

Maple and Apple
Cast: Kim Jiwon, Oh Sehun, EXO, Sulli, Naeun
Credit: Pictures belong to the rightful owner

756991501_large

Apology is..

Bukan mau hari Senin untuk jadi hari pertama setelah hari Minggu dimana kehadirannya selalu disalahkan dan tak diharapkan oleh kebanyakan orang, sama halnya dengan apa yang terjadi pada Jiwon sekarang, sesuatu yang terjadi tanpa diinginkannya sama sekali.

Jiwon berdiri dengan gelisah di depan ruang IGD sebuah klinik terdekat dari sekolah. Wajahnya menyiratkan kecemasan, tangannya yang menggantung di kedua sisi tubuhnya tak berhenti meremas-remas rok sekolah. Semuanya berawal saat Jiwon dengan kerelaan hatinya membawakan setumpuk kamus bahasa Inggris dari perpustakaan untuk dibawa ke ruang kelasnya. Karena begitu tingginya tumpukan buku ber-hard cover tebal itu, ia kesulitan melihat jalan di depannya, dan semuanya menjadi bertambah sulit saat ia harus turun ke lantai 2, tempat kelasnya berada. Jiwon melangkah dengan ekstra hati-hati menuruni satu per satu anakan tangga yang akan menuntunnya ke lantai dua. Mulanya ia melakukan semuanya dengan baik hingga semuanya menjadi tak terkontrol saat sebuah dorongan dari belakang membuatnya kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke depan bersamaan dengan buku-buku tebalnya, semuanya terlalu cepat untuk gadis itu melakukan sesuatu selain menutup mata, meneriakkann “AAAAA” dan membiarkan tubuhnya jatuh di angin, kemudian mengenai sesuatu, bukan seseorang. Seseorang dari bawah yang dengan naasnya harus ditabrak, dan ditimpa manusia bonus dengan buku-buku tebalnya.

Bunyi gedebuk beberapa kali terdengar begitu keras diikuti erangan dua orang yang saling tumpang tindih.

Dan di sinilah Jiwon beserta ‘korbannya’ berakhir, klinik kesehatan.

Jiwon masih berjalan mondar-mandir, sementara si malang korban kecelakaanya  masih ditangani paramedis di dalam sana.

Jiwon meringis ketika sesuatu yang dingin dan sedikit basah terasa di pipi sebelah kirinya, ia menoleh.

“Terima kasih sunbae.”

Jiwon menerima minuman susu arbei kaleng dari tangan cowok tinggi yang juga memegang minuman yang sama dan hendak membukanya.

“Kau tidak ada yang luka kan?” Cowok itu meneliti tubuh Jiwon dari kepala hingga kaki.

Jiwon mengangguk dua kali.

“Apa dia baik-baik saja?” Jiwon masih memegangi minuman dinginnya tanpa niat untuk meminumnya.

“Tak perlu khawatir, jatuh sedikit begitu bukan masalah.” Kai, si cowok tinggi mencoba meyakinkan Jiwon, tapi itu tak berhasil, terutama ketika mereka berdua masuk ke dalam ruang IGD dan menemukan Sehun dengan lengan kiri di-gips dan pinggang yang berbalut perban berteriak,

“JAUHKAN PEMBAWA SIAL ITU TAK KURANG RADIUS 20 METER DARIKU!”

Beruntung pasien lain di ruang yang sama tak ada yang memiliki riwayat sakit jantung. Teriakan histeris Sehun, luar biasa.

Kai sempat menjitak kepala Sehun yang mengganggu ketenangan, kedamaian, keamansentosaan, dan kebersihan klinik dengan menciptakan polusi suara sebelum ia membungkuk-bungkuks seksi pada pasien lain dan pergi keluar untuk menyelesaikan urusan administrasi.

Kim Jiwon sendiri, gadis itu dengan penuh rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam, berjongkok di dekat vendor machine, yang menurutnya sudah di atas radius 20 meter dari ruangan emergency.

Gadis itu langsung berdiri saat mendapati Kai membantu Sehun berjalan menuju ke arahnya. Dia menunduk saat Sehun dengan muka yang sebal meliriknya kemudian langsung membuang muka.

“Ayo Kai!”

“Jiwonnie, kau bisa pulang sendiri kan?” Kai mengabaikan Sehun yang sekarang mendengus.

Jiwon mengangguk dan melirik Sehun yang sama sekali tidak mau menatap ke arahnya.

“Cepatlah Kai!”

“Aish diamlah, jalan sendiri kalau mau cepat!” Ancam Kai dan cukup untuk membungkam Sehun yang hampir tak dapat merasakan pinggangnya lagi.

*

Sehun dan Kai dijemput sebuah mobil van warna putih, sedang Jiwon sudah pulang duluan. Hal pertama yang didapatkan Sehun begitu sampai di mobil adalah ia mendapati dirinya menjadi bahan tawaan teman-teman segrupnya.

“Kasihannya kakek Sehun, pinggangnya sampe encok.” Baekhyun menoel-noel pinggang Sehun yang membuat anak laki-laki itu berjengit kesal kemudian mengaduh karena gerakannya membuat pinggangnya sakit lagi.

“Ngomong-ngomong, Sehun ketiban gadis yang sama dengan yang menciumnya ya?” Kyungsoo bertanya dengan spontan, sebenarnya tidak begitu murni 100% spontan, Kyungsoo sengaja menambahkan kata yang sedikit hiperbolis dalam kalimatnya.

Kata yang saat ini membuat Sehun merasakan darahnya seperti naik ke kepala.

“Diamlah, aku sedang tidak mood.” Sehun menyumpalkan kedua headset pada telinganya, namun sepertinya dia melakukan kesalahan lagi sekarang.

Lockscreen Sehun terbuka, hingga terpampang nyatalah foto keramat itu. Sehun lupa menggantinya, ponsel itu dicas dan mati sejak kemarin.

Sehun cepat-cepat menutup layar ponselnya, namun terlambat, keempat anak laki-laki berisik lainnya sudah menyadari hal tersebut, mereka menggoda Sehun kompak dengan senyum najong sejuta arti.

“Jangan salah paham. Hpku mati sejak kemarin, lupa kuhapus.” Kilah Sehun, berusaha kalem.

“Iya, kami percaya.”

Detik itu juga Sehun tahu kalau tidak ada yang percaya. Pukpuk dedek Thehun.

*

Mereka sampai di dorm dan Sehun langsung ditinggal sendiri lagi karena lima anak laki-laki penghuni lain dorm itu harus pergi latihan.

Setelah mengganti seragam dengan kaos oblong dan celana training yang diambilkan Suho hyungnya dari lemari, Sehun menempatkan dirinya di kasur, bergulung di selimut dan mencari posisi paling nyaman. Suhu kamar yang dingin membuat anak laki-laki itu tak butuh waktu lama untuk segera kehilangan kesadarannya sebelum bebunyian dari ponselnya terdengar. Sehun meraih ponsel di atas nakas itu.

Kudengar ada yang habis jatuh dari tangga, retak tulang dan encok pinggang.

Apa cuma akal-akalan untuk tidak latihan?

Kkkk~

Cepat sembuh bro!

Sender: Luhan Ge

Sehun tersenyum simpul, tangannya mengetik dengan tempo lambat.

Sekali-kali kau harus mencoba ketiban anak orang di tangga kalau malas latihan.

Xie xie bro!

 

                To: Luhan Ge

Tidak lama ponselnya bergetar lagi.

Ketiban orang? HAHAHAHAHAHAH Kai tidak bilang yang ini,aku harus berterimakasih padanya sudah membuatmu menderita xD

Kok bisa?

                Sender: Luhan Ge

Kau sama saja dengan yang lain ge, apa kalian tidak pernah diajarkan untuk bersimpati pada orang yang kena musibah?

Jangan tanya, menyebalkan.

                To: Luhan Ge

Sehun membenamkan wajahnya ke bantal, sakitnya mengharuskan anak ini tidur dengan posisi tengkurap. Ia dapat mencium bau samponya sendiri di bantalnya lalu mendongak dari bantal ketika terdengar lagi notifikasi sms.

Memang laki-laki apa perempuan?

                Sender: Luhan Ge

Apa bedanya? Mau perempuan mau laki, ketiban orang ya sama-sama sakitlah.

                To: Luhan Ge

Dengan cepat, cowok tanggung itu mendapat balasan lagi.

Beda dong, kalo perempuan kan enak. Kkkkk. xD

                Sender: Luhan Ge

Sehun tertawa tanpa suara, mengerti betul maksud sebaris teks dari Luhan.

Parah!!!!

                To: Luhan Ge

Masih tanpa butuh waktu lama balasan sudah didapat Sehun.

Sepertinya memang perempuan sih. Cantik?

                Sender: Luhan Ge

Sehun membaca tulisan di layar ponselnya dengan muka sedatar pohon palm.

Kenapa kau mau tau sekali ?

Tenang saja, aku tak akan selingkuh kok… ❤

                To: Luhan Ge

Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering, dan Sehun sedang berjuang untuk bangkit tanpa menyakiti pinggang atau tangannya sekarang. Begitu bisa berdiri dengan sempurna, ia membawa ponsel di tangannya yang bebas dan berjalan dengan terseok-seok ke dapur. Ponsel di tangannya bergetar lagi.

Awas saja kalau kau sampai berani melakukannya. HAHAHAHAH

Minggu depan kami ke Seoul, ingat kau berhutang satu traktiran. Sudah ya, latihannya sudah mulai lagi.

 

Sehun membuka kulkas dan menuangkan air dingin ke gelas yang diambilnya di lemari terlebih dahulu, meletakkan ponselnya di atas meja counter dapur. Ia mengembalikan airnya ke kulkas dan mendengar ponselnya meneriakkan dering sms yang sama seperti yang sudah-sudah.

Air dingin itu terasa melewati kerongkongannya membuat Sehun berjengit sedikit merasakan dinginnya. Jari-jarinya yang panjang menyentuh-nyentuh layar ponselnya lagi, dikiranya masih sms dari Luhan.

Selamat sore, ini Kim Jiwon.

Aku minta maaf, aku sudah sangat menyusahkanmu Sehun-ssi.

                Sender : xxx-xxx-xxx

Anak laki-laki jakung ini meletakkan kembali ponselnya dengan tidak niat juga sedikit melempar. Ia mencari-cari apa ada yang bisa dimakan sekarang ini, menyadari dia memang belum makan sejak siang, sementara sekarang sudah jam 4 sore.

Namun entah memang dia kurang beruntung hari ini atau memang karena sudah akhir bulan dan belum ada yang sempat berbelanja, dia, Sehun tak menemukan apapun yang dapat dimakan dan memenuhi ‘Hasrat Ingin Makan’ nya yang sedang menggebu.

Ponselnya berbunyi lagi, Sehun mengambilnya, membaca pesannya, dan dari nomor pengirim yang sama dengan yang barusan, teman sekelasnya, pelaku utama yang bertanggung jawab atas cidera yang dideritanya. Kim Jiwon yang hampir tak pernah terasa kehadirannya dan belakangan justru menemukan gadis itu telah berada dalam zona yang mendapat perhatiannya, terlebih untuk hal yang kurang menyenangkan, intinya beberapa hari belakangan ini, gadis itu tiba-tiba menjadi sangat menyebalkan bagi seorang Oh Sehun.

*

Jiwon berlari-lari sepanjang jalan di depan pertokoan yang tidak seramai biasanya. Tangan kanannya menenteng sebuah bungkusan berisi mi hitam dan toppoki dari warung tenda pinggir jalan yang dekat dengan toko kecil satu-satunya sumber mata pencaharian milik keluarganya. Toko ikan hias. Sesekali Jiwon melirik bungkusan di tangan kanannya memastikan makanan berkuah itu tidak tumpah. Sementara tangan kirinya memegangi payung karena langit tak begitu bersahabat sore ini. Setelah berlari-larian hampir lima 3 menit, ia berhenti dengan nafas yang putus-putus. Gadis itu masih berdiri di trotoar dan sejenak memandang gedung yang berdiri menjulang dalam jarak beberapa meter di hadapannya. Jiwon menggerakkan kakinya mendekati box telepon umum tak jauh dari tempatnya berdiri dan menyandarkan payungnya di sana. Ia merogoh kantong celana jeansnya untuk mendapatkan ponsel. Tangannya bergerak cepat menyentuh-nyentuh layar ponsel, ia menatap ponselnya sebentar lalu melihat ke sekeliling, matanya tertumbuk pada sebuah toko bunga di seberang jalan, dengan plang nama dan alamat tokonya. Gadis ini memasukkan kembali ponselnya, dan mengambil payungnya lagi sebelum melangkah memasuki pelataran halaman milik bangunan besar di depan sana. Ia disapa oleh security dan membalasnya dengan anggukan ramah. Pintu kaca transparan gedung itu terbuka secara otomatis saat Jiwon mendekat, ia menyeret kakinya masuk dan segera  mencari lift.

Ia bergerak keluar dari lift melewati lorong-lorong di lantai 10 apartemen ini, kakinya melangkah sementara matanya celingukan memperhatikan tiap nomor ruangan di kanan dan kirinya. Ia mengapit payungnya karena dua tangan yang ada sudah disibukkan untuk memengang bungkusan dan ponsel.

Jiwon memandang sebuah nomor di samping pintu di hadapannya bergantian dengan layar ponselnya. Memastikan sesuatu, kemudian dengan sikutnya ia bergerak berusaha menekan bel.

Sementara itu anak laki-laki berambut coklat yang tergeletak di sofa dengan posisi tengkurap dan kaki-kaki panjangnya yang tertekuk ke atas itu hampir saja terlelap dalam tidurnya kalau tidak dikejutkan suara bel yang nyaring. Ia mengedipkan matanya malas, sayup-sayup suara TV yang menyala bisa memasuki pendengarannya dan ia masih berpikir-pikir apakah harus jalan ke ruang depan dan membukakan pintu atau mempertahankan posisi enaknya sekarang ini, dengan pikiran toh kakak-kakaknya tau kode kunci.  Awalnya, ia memang sangat berniat untuk melanjutkan tidur, namun begitu mengingat untuk apa  manusia-manusia ganteng yang kata Sehun tidak lebih ganteng darinya itu memencet bel pintu, membuat cowok ini bergerak-gerak untuk bangun. Dan Sehun kali ini entah kenapa mengabaikan sakit pinggangnya demi berjalan lebih cepat ke pintu.

Sehun menemukan sebuah figur yang berdiri di depan pintu apartemen mereka, memegang bungkusan dan berdiri memunggunginya.

Jari telunjuk dia terangkat untuk menekan mikrofon di layar, bahkan sebuah kalimat singkat yang kalau berbunyi akan terdengar begini,

“Letakkan makanannya di depan pintu dan segera pergi.”

yang telah sampai di ujung lidahnya, ditelan kembali, seperti mengalami Presque vu.1 Anak laki-laki itu berjalan perlahan ke pintu. Tangannya kembali bergerak meraih handel pintu, baru satu langkah hendak di ambilnya, tali perban yang membebat tangan kirinya tersangkut di handelnya, Sehun kehilangan keseimbangan, hingga ia dengan tangan satunya yang baik-baik saja menggapai apapun yang bisa digapai saat itu, termasuk bahu seorang gadis yang belum sempat berbalik badan  saat mendengar suara pintu dibuka.

Jiwon, gadis itu seketika kaget mendapati beban yang menempel di balik tubuhnya, membuatnya terdorong sedikit untuk mempertahankan keseimbangan, dan ia berhasil.

Posisi sekarang itu, Jiwon di depan Sehun, sementara anak laki-laki itu, tangannya mencengkram bahu Jiwon dengan kepala yang menempel di tengkuk Jiwon.

Posisi yang benar-benar akan membuat siapapun bisa salah paham kalau Sehun sedang memeluk seorang gadis dari belakang dengan sekali lihat, ya termasuk 5 orang anak laki-laki yang berdiri menolol di ujung lorong.

Sehun baru saja melepaskan satu helaan nafas lega, karena ia terhindar dari jatuh yang kedua kali untuk hari ini sebelum mendengar seruan kompak dari arah sebelah kanannya.

“YA OH SEHUN?”

*

Sepasang anak laki-laki dan perempuan duduk di ujung dua sisi sofa ruang tengah sebuah apartemen lantai 10, dikelilingi 5 orang lainnya yang dengan penuh perhatian memberikan tatapan introgasi seperti keduanya baru saja tertangkap basah sehabis mencuri. Situasinya mirip dengan beberapa hari yang lalu, tentang peristiwa foto terlarang Sehun, bedanya, mereka mendapat satu terdakwa tambahan.

Sehun baru saja menceritakan kronologis kejadian barusan dan belum seorang pun bersuara di antara mereka, satu-satunya gadis yang ada dalam ruangan itu hanya duduk dalam diam dengan tidak nyaman dan terus melihat ke lantai.

“Jadi, intinya, kalian ini pacaran atau tidak?” Akhirnya Kim Joonmyun selaku penanggung jawab kelima penghuni apartemen tempat mereka berada ini memperdengarkan suaranya yang merdu bagai suara siulan burung gereja di pagi hari yang berisik namun menentramkan hati yang mendengar, tapi tidak untuk Sehun dan Jiwon kali ini.

Sehun mendecih dengan malas.

“Tidak.” Jawabnya tanpa embel-embel lain, karena semenit lalu mulutnya sudah berbusa menjelaskan segala kesalahpahaman yang disaksikan kakak laki-lakinya, hampir frustasi, bicara panjang lebar, dan masih ditanya juga pertanyaan yang sama. Sehun heran kenapa tidak ada pertanyaan lain selain ‘Apa kalian pacaran’

Joonmyun menoleh pada anak gadis yang terdiam sejak tadi.

“Kau, Kim Jiwon ya.”

Jiwon tersentak dan mendongak, kemudian mengangguk dua kali.

Seperti memberikan otoritas penuh pada Joonmyun untuk mengurus perkara ini, Chanyeol, Baekhyun, Kyungsoo, dan Jongin hanya diam sambil cengar-cengir.

“Aku sudah melihat fotomu dengan Sehun kemarin, dan kejadian hari ini, mungkin semuanya memang tidak sengaja, tapi tetap saja kau bersalah dalam hal ini.” Hampir semuanya melihat ke arah Joonmyun kemudian bergantian untuk melihat gadis bernama Jiwon ini, agak di luar dugaan kalau Joonmyun akan bicara sedikit ketus begitu, hal yang sama dengan Sehun, meskipun ia kesal pada gadis itu, tapi semuanya memang benar hanya sebatas ketidaksengajaan, tidak bisa mempersalahkan salah satunya begitu saja.

Jiwon masih diam, kentara sekali semakin merasa tidak nyaman, terutama setelah mendengar pernyataan Joonmyun barusan, tidak salah jika bisa saja ia akan membuat grup EXO ini mendapat skandal kalau-kalau yang melihat dia dan Sehun tadi bukanlah EXO sendiri melainkan orang lain, netizen misalnya.

Ada jeda yang singkat sebelum Joonmyun melanjutkannya.

“Kau tahu kesalahanmu Kim Jiwon-ssi? Kau hanya membawa satu porsi mi hitam padahal kami di sini berenam.”

Semua yang ada di sana minus Jiwon dan Joonmyun gondok berjamaah, ingin membenturkan kepala anak laki-laki paling tua di antara mereka ke kulkas dua pintu di dapur.

Jiwon bingung sendiri, Joonmyun malah terkekeh-kekeh.

“Woi hyung, muka dia sampai tegang begitu tau.” Celetuk Kyungsoo.

“Hehehe, maafkan aku Jiwon-ssi, yang tadi itu hanya bercanda.” Joonmyun nyengir kuda, Kai melempar wajah leader mereka dengan bantal kursi.

Meskipun masih tidak mengerti tentang situasi yang terjadi saat ini, Jiwon cepat-cepat menggoyang-goyangkan kedua tangannya membuat penolakan.

“Tidak, tidak apa-apa, justru saya yang minta maaf karena sudah membuat kalian repot. Maafkan saya.” Jiwon membungkuk dalam dengan posisi duduknya.

“Santai saja Jiwon-ssi, dia hanya bercanda kok.” Chanyeol menanggap sambil tersenyum lebar dan menunjuk-nunjuk Suho dengan kemoceng entah dari mana.

Sehun beranjak dari sofanya, tanpa ada yang tahu kalau anak laki-laki ini sedang menyesali, mungkin menyangkal dirinya bahwa tadi sempat ada (sebut saja) perasaan khawatir menelusup di dalam hatinya terhadap Jiwon, karena mimik muka Joonmyun tadi berhasil membuatnya yakin kalau kakak laki-lakinya ini benar-benar menyalahkan Jiwon, mungkin mengadukannya pada manajer dan ia tertipu.

“Ya, kau mau kemana?”

Sehun tidak menghiraukan Joonmyun dan tetap berjalan sambil terseok ke kamar, ia terlihat sewot sekarang.

Jadi, begitu Sehun menghilang di balik kamar, perhatian kembali mengarah pada Jiwon yang pun masih bingung sendiri.

“Jiwon-ssi, ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa sampai ke sini.” Semua menoleh pada Baekhyun lalu Jiwon, menunggu jawaban, sementara Kai yang juga penasaran bagaimana Jiwon bisa tahu asrama mereka pindah duduk ke sisi sofa yang baru ditempati Sehun, ia berpikir tidak mungkin kalau Sehun sendiri yang memberikannya. Tapi dugaannya itu terealisasi dengan sempurna saat mendengar penuturan Jiwon.

“Oh, itu, Sehun-ssi meminta tolong saya untuk membawakan makanan, dia juga memberikan alamat dalam pesannya.”

Terasa agak aneh,  Sehun menyuruh orang asing untuk mendatangi asrama, tidak seperti Sehun yang biasanya.

“Tsk anak itu ada-ada saja. Aku minta maaf ya karena Sehun sudah merepotkanmu.” Suho meminta maaf.

Lagi-lagi Jiwon membuat gerakan tidak setuju dengan kedua tangannya dengan kuat-kuat.

“Sungguh tidak apa-apa, ini tidak sebanding dengan aku yang sudah mencelakai Sehun.” Nada penyesalan tersirat dalam kalimat Jiwon yang kaku.

“Kau terlalu sungkan Jiwon, biar saja. Biarkan saja anak yang susah diatur itu susah sekali-kali.” Celetuk Joonmyun.

Baekhyun memandang ke bungkusan yang masih tergeletak di meja dan membukanya.

“Ini wangi sekali, boleh kucoba?” Baekhyun meminta izin pada Jiwon, tapi belum sempat Jiwon menjawab, sudah ada yang menyahut.

“PUNYAKU HYUNG, AWAS KALAU KAU MAKAN.” Sehun berteriak dari dalam kamar.

“TERIMA KASIH SEHUN, KAU YANG TERBAIK.” Dan dalam hitungan detik, Baekhun telah membuka bungkusannya, sedang Chanyeol duduk merapat, Baekhyun mematahkan sumpit kayunya sementara Chanyeol mencicipi toppokinya.

“Ini enak sekali.” Chanyeol tersenyum lebar pada Jiwon. Jiwon meresponnya dengan senyuman canggung.

“Mi hitamnya juga.” Sahut Baekhyun.

“Masa sih? Bagi dong.” Pinta Kyungsoo. Akhirnya Kai dan Suho ikut-ikutan merapat.

Semangkuk mi hitam dan sepiring snack pedas khas Korea itu jadi perebutan 5 anak laki-laki ganteng nan rupawan.

“Jiwon-ah, kau benar-benar bersalah hanya membawa satu porsi.”Canda Kai dengan mulut penuh dan saus yang belepotan di sekitar bibirnya.

Jiwon tertawa singkat menanggapinya, sebelum kemudian dia melihat seseorang muncul di antara mereka dengan muka kusut, sekusut kain perban putih yang melilit tak beraturan di tangan kirinya.

Ia menyeruak dan membawa pergi mi hitam yang tinggal seperempat itu ke dapur,  Sehun terlambat menyelamatkan toppokinya.

*

Jiwon duduk di bangkunya yang biasa sambil menunggu bel masuk, sambil menunggu seseorang juga, mungkin. Ia tidak lagi menawarkan diri untuk membawakan kamus Bahasa Inggris hari ini.

Seperti biasa, ia datang dari pagi buta dan tidak melewatkan seorang teman sekelas pun untuk diucapkan salam selamat pagi yang ramah.

Jarum panjang hampir mencapai angka 12 di jam dinding di belakang kelas. Jiwon belum menemukan orang yang ia tunggu, hingga anak laki-laki bernama Jongin itu datang sambil bersiul-siul.

“Selamat pagi sunbae.”

Jongin menoleh, merasa terpanggil.

“Oh, pagi Jiwon.” Balasnya sambil melemparkan senyum maut dengan frekuensi gelombang yang dapat menggetarkan hati gadis manapun.

Jiwon membalas tersenyum kalem. Namun, ia masih tak menemukan siapapun di dekat Jongin sehingga dia akhirnya berinisiatif untuk menanyakan Sehun. Ia memutar badannya ke belakang, Jongin baru saja meletakkan tasnya di meja di belakang Jiwon, hanya berselang satu meja dari Jiwon.

“Sunbae, apa Sehun sunbae masih sakit?”

Jongin tersenyum miring, senyum khasnya, senyum yang efeknya masih sama dengan senyum yang barusan.

“Begitulah, akal-akalannya saja sih supaya tidak masuk sekolah.”

Jiwon mengangguk dan membalikkan badannya.

*

Tebak apa yang dilakukan seorang anak laki-laki tanggung berwajah di atas rata-rata berkulit mulus bak bintang iklan pemutih kulit, bertubuh jakung yang tegap menjulang, hidungnya yang bangir, alisnya cukup tebal membingkai matanya yang beriris hitam, dagunya lancip, dan tulang rahangnya yang tegas ini?

Sehun tengah menyentuh bibirnya ketika bel asrama terdengar. Sejak beberapa menit yang lalu, anak laki-laki ini berdiri di depan cermin tegak di ruang wardrobe, ia sedang meneliti setiap inchi lekuk wajahnya sendiri dan mengagumi salah satu kesempurnaan karya Sang Pencipta pada wajahnya. Sehun berkaca, dan mengagumi wajahnya sendiri.

Ia menurunkan jarinya yang sedang menyapu lower lip merah mudanya yang lebih penuh dari bibir atasnya. Menurut Sehun, bagian bibir ini yang membuatnya lebih seksi. Menurut Sehun.

Sehun dapat merasakan ada yang masuk, pikirnya itu adalah Kai karena sekarang memang sudah memasuki jam-jam ia akan tiba ke rumah setelah pulang sekolah.

Dugaan Sehun memang tidak salah, saat mendengar Kyungsoo menyebut nama Kai, namun suasana asrama yang tadinya sunyi dan berganti menjadi lebih bising, membuat anak itu menyudahi ritual bercerminnya.

Ia berpapasan dengan 5 orang anak laki-laki yang sedang tersenyum lebar, dan seorang perempuan berseregam kuning di antara mereka.

Mood baik Sehun atas hari ‘Menjauh dari buku pelajaran’ tiba-tiba jatuh ke level terendah hanya dengan melihat sepasang bola mata coklat kayu yang menatapnya takut-takut.

Entah kenapa, Sehun agak terhibur dengan satu fakta, kalau ia dapat menebak dengan mudah, gadis bernama Kim Jiwon di hadapannya ini terlalu canggung dan segan pada dirinya. Setidaknya hal itu membuktikan bahwa aura seorang Oh Sehun terbukti dapat mengintimidasi orang lain. Satu lagi pengakuan untuk Oh Sehun, dari Oh Sehun, atas asumsi pribadi Oh Sehun.

Ketika Jiwon yang kala itu tengah tersenyum saat menerima sambutan hangat dari teman-teman barunya, sosok yang menjadi tujuannya datang ke tempat dimana ia berada sekarang membuat ia mengatupkan bibirnya dengan cepat.

“Annyeong haseo Sunbae.” Gadis itu menmbungkuk 90 derajat di hadapan Sehun.

“Siapa yang menyuruh orang ini menjengukku!”

Satu kalimat dingin dengan perasaan ketidak sukaan di setiap suku katanya itu meluncur begitu saja dari siapa lagi kalau bukan Sehun.

“Menjengukmu? Permisi Bapak Oh Sehun yang tidak lebih ganteng dariku, Jiwon datang kesini bukan karna mau repot-repot melihatmu yang tidak penting, dia kesini membawakan mi hitam dan toppoki untuk kami!”

Sehun gondok setengah mati, tapi dia masih pura-pura biasa saja meskipun melihat empat orang kakak-kakakknya sudah tertawa terbahak-bahak, mendapat tatapan bengis dan sinis dari Kai, dan sebuah tatapan yang tidak begitu dia pedulikan dari Jiwon.

Sehingga sebelum semuanya menyadari muka dan telinga Sehun yang akan memerah karena malu, Sehun pergi dari sana terseok-seok ke ruang depan, entah kemana, yang jelas mereka mendengar bantingan pintu yang menggema dari depan.

“Ayo kita lanjutkan makan-makannya!”

*

“Appa, aku pulang.”

Rambut Jiwon yang panjang ikut menjuntai saat ia menunduk untuk melepas sepatu dan kaus kaki.

“Kenapa lama Jiwon, cuci kaki dan makanlah, setelah itu jaga tokonya ya, appa akan pergi sebentar.”

Ayah Jiwon menjawab sambil mencari-cari sesuatu di dekat tumpukan kardus berisi makanan ikan.

“Baik appa.” Jiwon merasakan kepalanya diusap-usap sekilas oleh appanya dan ia segera naik ke atas. Mereka tinggal di lantai dua sebuah ruko, dimana lantai dasarnya adalah toko ikan hias, usaha satu-satunya keluarga ini untuk menghidupi mereka berdua.

Jiwon tidak punya ibu sejak ia masih bayi, mereka tinggal berdua saja di Seoul. Tidak punya keluarga karena ayah Jiwon adalah anak tunggal, kakek dan nenek Jiwon berada di Busan, sementara itu keluarga dari pihak ibu ada di Cina. Jiwon tidak begitu mengenal keluarga dari ibunya. Ia bahkan baru sekali bertemu dengan kakek dan nenek dari pihak ibunya yang datang untuk mengunjungi makam ibu Jiwon, sekitar 10 tahun yang lalu. Jiwon tidak begitu mengerti, tapi sepertinya kekerabatan dengan keluarga ibunya tidak begitu baik.

Kim Jiwon menguncir longgar rambutnya lalu segera mengganti baju dengan celana jeans ¾ dan kaos berlengan panjang. Ia menemukan semangkuk sup yang baru dipanaskan di microwave. Jiwon mengambil mangkuknya dan mengisi mangkuk itu dengan nasi putih panas yang mengepul asapnya di rice cooker.

Ia membawa makan-sore-menjelang-malamnya ke depan meja rendah di depan TV.

Begitu duduk, ia langsung menyalakan TV lalu menonton sambil makan. Jiwon berhenti di channel nomor 4, acara memasak. Dia begitu konsentrasi menonton ibu-ibu gendut yang terlihat heboh memotong bawang prey dengan cepat menggunakan pisau yang terlihat sangat tajam.

Menjadi perempuan yang hanya tinggal berdua dengan ayahnya, bukan berarti semua orang boleh menganggapnya pasti terampil dalam semua pekerjaan perempuan. Sebenarnya benar, tapi tidak terlalu benar. Jiwon ini anak gadis yang rajin dan terampil dalam melakukan pekerjaan rumah tangga seperti bersih-bersih, namun tidak dengan hal memasak.

Jiwon tidak bisa memasak. Tidak peduli ratusan kali menonton acara memasak, membaca buku resep dan berlatih di dapur, Kim Jiwon akan berakhir dengan suatu makanan yang pasti tidak beres, entah itu keasinan, kurang air, terlalu lembek, gosong, atau mentah sekalipun.

Kata ayahnya, ibunya pun juga tak bisa masak sama sekali meskipun sudah belajar dengan keras, sehingga dulu, ayah Jiwon harus menelan masakan yang tidak genah-genah rasanya ataupun bentuknya. Tapi, dalam sebuah rumah tangga memang harus ada pengertian dan pengorbanan. Untuk menghargai usaha sang istri, ayah Jiwon pun tetap berusaha sekuat tenaga untuk menghabiskan makanan itu semua. Namun seiring berjalannya waktu, dimana ibu Jiwon tak kunjung membaik dalam hal memasak, akhirnya urusan dapur diserahkan pada ayah Jiwon, dan ibunya mengurusi urusan rumah yang lainnya. Meskipun tidak handal seperti chef di televisi, paling tidak masakan ayah Jiwon lebih layak untuk dikonsumsi.

Karena membosankan, Jiwon mengganti channelnya dan ia berhenti di sebuah stasiun televisi yang sedang menayangkan acara musik. Lagu yang tidak asing, TV arirang itu sedang memutar music video dari lagu MAMA, yah lagu dari grup dua orang teman sekelas Jiwon.

Melihat bagaimana EXO terlihat berkharisma di video tersebut, sesaat ia tersadar kalau baru saja ia berada di antara artis yang saat ini tengah naik daun dan digilai oleh gadis-gadis Korea bahkan mancanegara beberapa saat yang lalu, Jiwon menyesal tadi ia tidak minta tanda tangan EXO K. Namun lebih dari itu, Jiwon sangat senang mengenal mereka. EXO K yang ditemuinya di asrama barusan terlihat sama saja seperti remaja normal lainnya saat berada tidak di depan kamera. Lalu anak gadis ini terlihat lebih senang lagi sekarang, akan satu hal yang baru terpikir olehnya. Ia sudah dua kali menginjakkan kakinya di asrama grup EXO yang terkenal itu. Dua kali, untuk ukuran orang biasa dan bukan siapa-siapa sepertinya, hal ini terlalu luar biasa. Jiwon selesai dengan makanannya tanpa sisa sebutir nasi pun di mangkuk. Supnya yang hanya dihabiskan sebagian, ia kembalikan lagi ke lemari makan. Jiwon mencuci piringnya. Setelah itu ia meminum sesuatu dari dalam kulkas  yang berwarna oranye.

Sejujurnya Jiwon tidak pernah menyukai wortel. Ia ingin sekali saja menyisihkan wortel-wortel itu dari piringnya jika ia tidak membutuhkannya.

Jiwon menjepit hidungnya dengan jari telunjuk dan jempol, ia menahan nafasnya, lalu dengan cepat menenggak jus wortel itu segelas penuh hingga habis.

Jiwon hampir mengeluarkan air matanya dan ingin muntah, tapi ia tahan. Ia tidak pernah cocok dengan wortel.

Setelah mencuci tangannya dengan bersih, gadis ini kembali ke kamar. Ia berdiri di depan cermin di dinding.

Tangannya terangkat ke wajah, pelan-pelan jari telunjuknya mendekat ke mata, bahkan hingga menyentuh. Jiwon dengan hati-hati menarik jarinya, dan ia mendapatkan satu lembar tipis berbentuk bulat dari matanya, Jiwon memakai lensa kontak.

Ia menyimpan lensa kontak coklat kayunya itu ke wadah berisikan cairan steril, setelahnya Jiwon melakukan hal yang sama untuk mata kirinya. Jiwon menutup wadah kecil berisi lensa kontaknya. Kini dia dapat melihat bayangannya yang terpantul di cermin dengan jelas.

Gadis berkulit putih dan berambut hitam itu, punya irish berwarna abu-abu yang indah.

*

Sehun merasakan guncangan di bahunya beberapa kali hingga dengan berat hati ia membuka matanya.

Yang terjadi sekarang adalah Sehun dibangunkan petugas kebersihan yang mendapatinya tertidur di anakan tangga darurat apartemen.

Dengan malu Sehun membungkuk dan meninggalkan tempat tidur sorenya. Ia hendak kembali ke dorm hingga ia menemukan Kim Joonmyun berjalan dari arah yang berlawanan.

“Kau dari mana?” Sehun bertanya dari jauh, ia sampai duluan di depan pintu kamar asrama mereka. Sehun tidak menjawab, wajahnya yang suntuk juga tidak membuat Joomyun bertanya lagi.

Joonmyun membuka pintu, diikuti Sehun yang langsung masuk ke kamar dan tidur tengkurap lagi, pinggangnya masih lumayan nyeri jika harus tidur terlentang.

Anak laki-laki itu langsung merasakan sesuatu yang kaku seperti buku di wajahnya. Ia mengangkat kepala lalu mengambil benda yang mengganggunya.

Joonmyun melirik Sehun dari tempatnya berdiri.

“Itu dari Jiwon-ssi, dia mencatatkanmu pelajaran hari ini agar kau tidak perlu repot-repot menyalin catatan lagi.” Joonmyun berbicara sambil memencet-mencet tombol di remot pendingin ruangan.

Sehun meletakkan buku itu tanpa minat di nakas dekat ranjang, lalu menenggelamkan wajahnya lagi.

“Dongsaeng, lain kali jangan bicara kasar seperti itu lagi pada orang lain, apalagi temanmu. Kim Jiwon-ssi memang datang untuk menjengukmu sebenarnya.”

Dan Sehun sempat merasakan tangan kakak laki-lakinya tersebut mengacak rambutnya sebentar sebelum terdengar suara pintu yang tertutup.

Sehun bangun untuk duduk di pinggir ranjang. Tangannya meraih buku tulis tipis di atas nakas. Setelah beberapa detik memperhatikan sampul buku itu, ia membuka halamannya yang pertama.

Tulisan tangan Jiwon rapi.

“Bodoh, dia kira dia hidup di zaman apa, mesin fotokopi bahkan sudah ditemukan puluhan tahun lalu.”

Sehun berhenti di halaman terakhir catatannya.

Semoga cepat sembuh, dan.. maaf.

“Maaf saja, tapi tak termaafkan. Hoaaam!”

(bersumbang)

BB69_330x370

Advertisements

4 thoughts on “Maple and Apple 2: Apology is..

  1. UHUHUHUHUHU DEMI APAPUN INI MANIS BANGET ;A; DAN SEHUNNYA BIKIN GONDOK SUPER BANGET BANGET BANGET /geplak. Suka deh karakternya sehun di sini kalau kata aku emang mendekati aslinya, sok dingin gitu tapi idiot /cium. Gak tahan sama adegan dia ngaca terus ngagumin dirinya sendiri hih minta di-unstan! Kasian jiwon, selalu ada di waktu dan tempat yang salah jadinya disalahin mulu. Ah sehun idiot dasar gak punya nurani padahal jiwon udah care banget sama dia hih /jambak. Baca ini jadi flashback pas dia belum lulus sekolah, ganteng maksimal dengan warna rambutnya yang masih normal jadi bener-bener kebayang dan nge-feel (dibanding dengan kenyataan pahit saat ini rambutnya masih blonde gak jelas mana jelek gitu potongannya). Ini published tanggal 3 kemarin? Wah, seneng jadi komentator pertama hihiw alamat bakal ada kelanjutannya nih, ditunggu ya irine plis plis plis ^w^

    • muka si sehun ngeselin dit, jadi kalo mau dibuat image gentle juga susah. wkwkwk
      sorry hun, kenyataan selalu pahit.
      wkwkwkwwk lanjutin ga yaaaaaaaa
      okedeh makasih bu komentator pertama, dulu ff ini sepi sekali, semenjak komentar seorang ditongfang muncul secara gaib, akhirnya ff ini punya komentar di bawahnya.
      *mengheningkan cipta dimulai*
      tengkiu yah dit udah mampir. intinya, aku gak menebar janji palsu. sukasuka ini dilanjutin apa engga 😀 :p

  2. annyeong author-ssi
    baru nemu ff ini karena baru ngefans sehun bbrapa waktu lalu
    miian
    #telaaaaaat oiiii

    iyaa saya emg telat banget ngefans dia
    #nyesel

    jadi saya lngsung baca 2 chap sekaligus
    daaaaan
    ff ini baguuuus
    daebak

    sehun si muka innocent gituu ternyata narsis
    apalagi jiwon nya yg terlalu polos
    ni couple kyeopta deh kalo bareng
    dan aku suka moment sehun-jiwon dari chapter satu
    mulai dari jiwon yg nyium sehun gegara temen”nya smpe wktu ngga sengaja sehun kaya meluk jiwon
    aigooooo
    waktu baca bagian ituu ak ampe guling” di kasuuur
    maniiiiiis banget interaksi mereka
    sehun juga cuek bebek gitu tapii secara ngga sadar dia mau terus”an sama jiwon
    hyung” sehun juga selalu ngebuat jadii ceri dan ada di pihak jiwon
    #daebak

    dan aku ngga nemuin typo disini
    susunan kata juga baguus
    pokoknya ff ini daebak
    \^o^/

    ak juga ngga sabar mau baca chap 3 dan chap selanjut”nya
    cepet apdet yaa author-ssi
    #aegyoo

    keep writing
    FIGHTING
    😀

    • aigoooo. paling ngerasa bersalah dah kalo nemu komentar yang udah muji2 gini taunya aku ga ngelanjutin ffnya wkwkwkwk
      welcome to the jungle yak *tendang* maksudnya welcome to the kotak kebahagian. Jadi nama blog ini HAENGBOX kalo haengbok kan bahagia, box kotak, jadi biar blog ini membawa kebahagian bagi pembacanya, tapi karna saya selaku author tunggal, dan bukan ganda campuran *krik* yang selalu buat ff setengah2 alias putus tengah jalan, suka bikin pembaca yang mampir kesel, jadi bukannya bikin seneng malah bala. wkwkw

      makasih yaa komentar dan reviewnya. biasanya aku paling bermasalah sama typo masa. wkwkwkwkw

      dan salam kenal yaaa 😀

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s