Maple and Apple 1: Captured With Class Rep

Cast: Kim Jiwon, Oh Sehun, EXO, Sulli, Naeun

Credit Pic: Belong to the owner

Cuap: No excuse, hanya stuck ide di That Sweetest Hatred dan pengen buat ff Thehun. Wkwkwk

756981438_large

Captured With Class Rep

Matahari bersinar cerah, ini tanggal 2 april. Satu hari setelah hari kebohongan sedunia itu. Gadis bernama Kim Jiwon yang tengah duduk di atas meja miliknya di ruang kelas sejak beberapa menit yang lalu masih tercenung menatap ke depan dengan kaki yang menggantung dan berayun. Ia sendirian di dalam kelas, bangun terlalu pagi dan naik bus ke-5 yang rutenya melalui daerah rumahnya. Jam menunjukkan pukul 6 hampir lewat 20 menit. Pandangan gadis ini tidak terfokus, lurus ke depan tapi seakan menembus papan tulis hijau di depan kelas.

<CKLEK>

Gagang pintu terbuka dan dua orang menyembulkan kepalanya dari balik pintu dengan cepat hingga begitu melihat Jiwon yang tengah berayun di atas meja, keduanya hampir menjerit histeris.

“Astaga. Kenapa kau benar-benar mirip sadako!” Gadis pertama berujar sambil memelototkan matanya begitu mengenali sosok ketua kelas yang merenung sendirian di kelas tanpa penerangan lampu, meskipun sinar matahari pagi sudah mulai menerobos lewat jendela hanya saja suasana di kelas itu masih cukup redup.

Kim Jiwon, gadis ini menoleh dengan wajah tanpa dosa, ia tidak sadar ada dua orang teman sekelas yang sudah dibuatnya jantungan.

“Sadako anak siapa?” Naeun, gadis kedua yang bersama gadis dengan potongan rambut bob di sebelahnya memukul jidatnya, niatnya dipukul pelan, apadaya dia kelewat semangat hingga bekas kemerahan di jidatnya itu tak terelakkan lagi setelah terdengar suara ‘PLAK’ dan erangan ‘ADUH’  milik oknum yang sama, tapi dua sumber yang beda, satu jidatnya, satu mulutnya.

Jiwon meringis melihat teman sekelasnya yang artis tapi bloon.

“Persediaan krim memar milik artis memang banyak ya?” Ungkap Jiwon dengan pernyataan spontan yang melintas di kepalanya, gadis yang polos.

Gadis pertama berambut pendek dengan tumbuh yang sama ramping namun lebih tinggi itu tertawa terkikik-kikik, sebenarnya tawanyalah yang lebih mirip hantu sekarang ini.

“Kalian ini sungguh menyebalkan.” Naeun mengelus-elus dahinya yang jenong itu sambil mendumel menuju tempat duduknya. Sementara Jinri hanya mesem-mesem.

“Apa yang kau lakukan sepagi ini ke sekolah sih? Tumben, biasa datang hampir-hampir bel bunyi juga.” Jinri melangkah mendekati saklar lampur kelasnya hingga cahaya lampu mendominasi ruangan yang tadi terlihat sedikit suram dan dingin, meskipun dengan pendingin ruangan yang mati.

“Tidak ada, aku bangun kepagian. Eonniedul memangnya kenapa datang pagi?” Balas Jiwon tanpa melihat Jinri, melainkan memperhatikan Naeun yang tengah bercermin mengusap-usap dahinya memastikan ia tidak membuat wajahnya sendiri cacat barusan, dasar artis, berlebihan.

“Kami mau ulangan susulan bahasa inggris.” Jinri menyahut sambil berjalan menuju jendela yang menghadap ke pekarangan sekolah, ia membuka jendelanya dan membiarkan angin pagi masuk ke kelas setelah terlebih dahulu menyapi wajahnya.

“Jinri eonni, kau seperti tengah melakukan photoshoot untuk majalah!” Gadis yang dipanggil Jinri, alias Sullinya girlband bernama f(x) ini berbalik dan menatap ketua kelasnya Kim Jiwon antara bangga, secara dia habis dipuji, dan juga bingung.

Gadis itu melihat Jiwon kini kembali duduk di atas mejanya dan berayun-ayun sambil menatap kosong ke depan.

Jinri bertukar pandang pada Naeun yang telah selesai bercermin dan baru saja mengeluarkan seperangkat amunisi ulangan harian berupa contekan untuk diselipkannya di pulpen.

Jiwon terlihat begitu kosong dan rohnya seperti tengah melayang-layang sekarang ini. Jinri dan Naeun dapat menebak perkaranya dengan mudah, ini masih tentang peristiwa kemarin, april mop.

“Aduh Jiwon sayang, yang kemarin itu hanya lelucon kan, jangan dipikirkan.” Jinri menghampiri dan memberikan tepukan pukpuk di atas kepala Jiwon. Naeun ikutan berdiri di samping Jiwon, ikut memberikan pukpuk pada ketua kelas mereka.

“Tapi aku jadi dibenci sama dia.” Lirih Jiwon dengan mata yang berkaca-kaca. Ya, dugaan Jinri dan Naeun tepat sasaran.

“Jiwonnie, kami sudah menjelaskan sejelas-jelasnya, dia sudah mengerti kalau itu hanya lelucon april mop biasa, jadi jangan sedih lagi ya!” Naeun merangkul teman sekelas yang diberi label classmate little sister itu (ini agak maksa) dan menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. Kim Jiwon, dua tahun lebih muda dari teman teman seangkatannya, yang membuatnya jadi yang termuda di kelas itu bukan karena mengikuti kelas akselerasi dan lain sebagainya, tapi murni karena kesalahan ayahnya yang mendaftarkan dia  yang masih berumur 4 tahun di sekolah dasar, bukan taman kanak-kanak seperti yang seharusnya, di daerah pedesaan di gwangju. Sedikit tidak masuk akal, namun begitulah kenyataanya. Kim Jiwon tumbuh menjadi anak perempuan yang selalu terlihat lemah karena ia selalu menjadi yang termuda di lingkungannya, meskipun begitu anak gadis satu-satunya Pak Kim ini bukanlah tipikal gadis yang manja. Ia sudah belajar mencuci pakaiannya sendiri sejak umur 5 tahun, dan mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan sempurna sejak umur 8 tahun. Ibunya meninggal begitu melahirkan gadis ini ke dunia sehingga keadaan menuntutnya untuk hidup penuh kemandirian. Meskipun tak pernah merasakan bahagianya tumbuh dengan kasih sayang seorang ibu, Jiwon tidak kekurangan perhatian dan kasih sayang karena semua orang yang berada di dekatnya sangat menyayanginya. Seperti ada sesuatu yang menarikmu untuk melindunginya, kira-kira begitulah, uh sungguh mengharukan. Namun kenapa bisa gadis ini justru dijadikan ketua kelas? Simpel. Alasannya karena dia satu-satunya yang cukup polos di kelas itu untuk disuruh-suruh oleh guru. Tapi Jiwon sendiri merasa tidak keberatan karena katanya dia memang senang disuruh-suruh karena menurutnya itu membantu orang lain. Antara polos dan bodoh hanya beda tipis.

Jinri kemudian mencubit kedua pipi putih yang kenyal seperti bakpau milik Jiwon dengan gemas. Kedua teman sekelasnya ini memperlakukannya seperti adik kecil mereka, tapi Jiwon tahu keduanya hanya berusaha menghibur dia.

Ini paradoks, dimana teman-teman sekelas memperlakukan dia dengan baik, tapi sering pula mempermainkan gadis ini karena kelewat polos seperti anak tanpa dosa, termasuk tentang hari april mop kemarin.

<BRAK>

Tiga orang yang berada di kelas itu terlonjak kaget oleh bantingan pintu yang sama sekali nggak nyantai  itu.

Di celah pintu itu muncul  seorang dengan tinggi badan yang menjulang dan seragam Seoul Art Performance School.

“Selamat pagi cewek-cewek yang sedang terpesona akan kegantenganku!”

Naeun dan Jinri kompak muntah berjamaah.

“Selamat pagi Kim Jongin sun..bae.” Jiwon satu-satunya yang membalas salam tidak baik Jongin dengan baik-baik hingga suku kata terakhir yang terucap begitu pelan begitu mengetahui kehadiran sosok lain yang baru memasuki kelas.

Jiwon menunduk, dia tidak berani melihat sosok cowok rambut coklat kayu itu.

“Nah ini yang baru diomongin, hey Sehun-ah, kau tidak marah sama Jiwon kan?” Sehun menoleh sekilas kepada Jinri, sedikit pada Jiwon, hanya sepersekian detik tanpa menjawab ataupun memberi isyarat iya ataupun tidak, Sehun melengos keluar kelas lagi begitu tasnya ia letakkan di atas kursi miliknya.

“Woi Oh Sehun jelek! Ish, dia kira dia keren apa sok pura-pura nggak dengar.” Sungut Naeun karena Sehun tak mengindahkan pertanyaan Sulli ataupun panggilannya.

Jiwon yang melihat hal itu semakin terlihat murung.

“Kenapa Jiwon, soal kemarin?” Pemilik nama Kai, nama beken Jongin, bertanya sambil melempar asal tasnya ke salah satu kursi yang ada di kelas itu, ia bertanya pada siapa saja yang mau menjawab, dan Naeun yang menajawab dengan sebuah anggukan. Kai menyerobot posisi Naeun dan menggantikannya berdiri di samping Jiwon.

Naeun misuh-misuh begitu didorong seenak jidat sama Kai.

“Jiwonnie, si Sehun itu lagi dapet tamu bulanan, makanya agak sewot. Dia nggak marah kok sama Jiwon, lagian kalo mau marah mestinya marahnya bukan sama kamu, tapi sama kami, jadi Jiwon jangan sedih ya!”

Kai baru saja melayangkan tangannya di udara untuk menarik tubuh Jiwon ke dalam pelukannya hingga rambutnya dijambak Naeun dan Sulli yang menjauhkan Jiwon darinya.

“ADOOW. Hey, aku hanya ingin memberikan pelukan semangat seorang kakak pada adik perempuannya.”

“Kedok.” Desis Naeun singkat sebelum menyeret Kai pergi.

Jiwon tersenyum sedikit terhibur oleh tingkah teman-temannya ini.

Jinri melirik jam dinding di tembok belakang kelas.

“Jiwon, kami ke ruang guru dulu ya, ulangannya udah mau mulai ini. Kau jangan pikirkan soal Sehun lagi arraseo!”

Jiwon menghela nafasnya tanpa sadar. Pintu kelas terbuka dan teman-temannya yang lain mulai berdatangan.

“Pagi Jiwon-ah!” seru seorang teman sekelas perempuannya dengan riang.

Jiwon menoleh, mencoba tersenyum dan menjawab salam.

“Hey, eonni minta maaf ya yang kemarin, kau jadi sasaran konspirasi licik anak-anak kelas ini.”

Jiwon tersenyum dan menggeleng.

“Tidak apa eonni, semoga Sehun sunbae tidak membenciku.”

“Jiwon, dia pasti mengerti kalau ini hanya lelucon, tapi kalaupun dia menjahatimu, laporkan pada siapapun di kelas ini, kami akan menghajarnya. Arraseo.”

“Iya.” Jawab Jiwon seadanya, menghargai kalimat menghibur salah seorang teman sekelasnya.

Bersamaan dengan waktu yang semakin dekat dengan bel mulainya jam pelajaran, teman-teman Jiwon yang sudah berdatangan meminta maaf pada gadis itu dan semuanya sehati untuk meyakinkan Jiwon bahwa Sehun tidak akan marah. Namun setelah berlaku manis pada gadis 158 cm itu, mereka memanfaatkan Jiwon pula untuk melakukan birokrasi pada Pak Jung, guru mata pelajaran pertama mereka hari ini kelas seni rupa untuk melakukan meditasi saja selama dua jam pelajaran dalam rangka mencari inspirasi. Alasan yang sungguh tidak masuk akal, dan sekali lagi Jiwon menuruti teman-teman sekelasnya itu, gadis ini berpegang teguh pada pendiriannya sebagai ketua kelas, atau wakil dari murid-murid di kelasnya yang diberi mandat untuk menyuarakan pendapat dalam rangka mencapai demokrasi.

*

Cowok kurus yang hanya terbalut kemeja lengan pendek musim semi yang berantakan dan lecek dengan keringat itu berlari-lari kecil mengejar bola karet warna hitam yang memantul jauh keluar lapangan ketika sedang dimainkan olehnya dan siswa-siswa lainnya. Bolanya masih bergulir hingga berhenti di samping tong sampah tak jauh dari pohon cherry blossom yang tengah mekar-mekarnya itu. Tempat dimana kira-kira beberapa jam lebih dari 24 jam yang lalu dia tak sengaja tertidur di bawah pohon itu ketika lari dari pelajaran bahasa koreanya guru Shin. Ya suasananya persis seperti sekarang, angin musim semi hangat berhembus sepoi-sepoi bagaikan membelai dan meninabobokkan dirinya saat. Sehun menggelengkan kepalanya ketika ia hampir mengingat ulang hal kemarin. Sehun baru saja berbalik badan dengan kedua tangan yang memegangi bola basket milik sekolah itu sebelum ia kembali terlonjak akan kehadiran seseorang yang hampir akan bertubrukan dengannya.

Beberapa benda-benda ringan seperti plastik berhamburan di sekitar tempat cowok bernama Sehun itu berdiri

“Maaf, ma..afkan saya sunbae, saya benar-benar tidak sengaja.”

Sehun mendengus.

“Tidak berguna.” Desis cowok itu dengan acuh ia melenggang pergi membiarkan gadis yang membawa serok sampah berisi plastik bekas kemasan makanan dan minuman yang dipungutinya sukarela untuk membantu bibi Lee, petugas kebersihan sekolah.

Dia Kim Jiwon, dengan hati yang sedih gadis ini berjongkok memunguti kembali sampah-sampah plastik tersebut dan terpekur beberapa saat masih dalam posisi berjongkok. Ia yakin sekali teman sekelas bernama Oh Sehun yang menjadi satu-satunya orang di kelas yang tidak begitu dekat dengannya itu akan semakin membencinya. Meskipun seluruh orang bilang Sehun tidak marah padanya, tapi perlakuan Sehun terang-terangan menyataan ketidaksukaannya pada Jiwon. Gadis itu bangkit berdiri, ia merasa harus melakukan sesuatu untuk menebus rasa bersalahnya. Terkadang memiliki perasaan yang terlalu halus itu justru merepotkan. Dan gadis ini rasanya memang sedikit berlebihan

*

Siang itu Sehun terduduk sendirian menyandar di bawah pohon cherry blossom, memandang bosan ke arah gedung utara sekolah. Kedua telinganya tersumpal headset dengan lagu dari ponselnya yang terputar acak. Sunyi sekali di sana hanya terdengar sesekali gesekan dedaunan oleh angin yang menggerakkannya. Perlahan tapi pasti mata Sehun mulai terasa berat hingga akhirnya ia sudah memejamkan keduanya sepenuhnya, tubuhnya yang lelah dan kurangnya waktu istirahat membuatnya tidur seperti orang mati

Sunyi, tenang, ia terlelap namun ketenangan yang tak begitu berlangsung lama itu mulai terusik oleh suara-suara tidak jelas.

“Lakukan Jiwon, hanya kau yang pernah belajar pertolongan pertama!”

“Tapi aku..”

“Nanti dia bisa mati.”

“B..baiklah, akan kulakukan.”

Hingga suara-suara itu semakin terdengar lebih jelas dan mengganggu, Sehun berusaha untuk membuka matanya. Roh-rohnya masih berterbangan, dengan tingkat kesadaran yang tipis, Sehun berusahan untuk bangun dan memarahi siapapun itu yang berisik dan berani mengganggu tidurnya. Ia belum membuka mata sama sekali saat tiba-tiba merasakan sesuatu mendekat ke arah wajahnya, sesuatu yang dingin dan sedikit bergetar menyentuh pipinya. Sehun benar-benar ingin segera membuka mata untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, namun kemudian sesuatu yang dingin itu telah menarik dagu dan bagian pipi dekat rahang atasnya, menuntunnya untuk membuka rongga mulutnya, dan  begitu Sehun berhasil membuka mata, ia tengah mendapatkan seseorang menempatkan  bibirnya pada… bibirnya.

<BUG>

“Eunghh.”

“Bangun, kita ada jadwal pagi ini, cepat mandi.” Erangan dari mulut Cowok yang masih tergolek dalam posisi terlentang di dalam selimut tebalnya yang terlihat begitu nyaman disusul sebuah suara tenor cowok lainnya.

Sehun masih terpejam dan cahaya lampu membuatnya membuka matanya yang sembab dan terasa lengket, kurang tidur lagi, semalam ia dan rekan segrupnya pulang ke dorm pukul 1 pagi dan kelelahan hingga tidur tanpa mengganti pakaian sama sekali.

Sehun hampir sepenuhnya sadar. Ia sedang berusaha mendapatkan ingatan tentang mimpinya barusan, karena mitos mengatakan mimpi yang berusaha diingat sebelum 5 menit, dapat diingat kembali, dan akan hilang setelah 5 menit jika tidak ada usaha untuk mengingatnya sebelumnya.

Pohon cherry blossom, gadis itu. Sehun mengingatnya dengan jelas. Ia menyentuh bagian mulutnya dan dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ia merasa bodoh karena sedetik tadi, ia sempat berpikir seperti, seperti, menyesal tak membiarkan gadis itu berlama-lama menyentuh bibirnya.

“AKU PASTI SUDAH GILA!”

*

Cowok bernama Sehun ini baru keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan wangi sampo daun mintnya menguar segar. Ia berjalan menuju dapur dimana 4 orang tengah duduk manis menyantap sarapan yang dibuatkan sang ibu, ibu dalam tanda petik.

Sehun mengambil susu putih vanila yang baru diantar tadi pagi oleh pengantar susu langganan mereka, masih hangat dan sangat enak.

Sambil menyedot susu kemasan miliknya, cowok jangkung yang kulitnya membuat kaum perempuan bahkan iri karena sangat lembut dan putih seperti susu yang tengah diminumnnya ini berjalan kembali ke dalam kamar yang ditempatinya dengan leader grupbandnya, yang tadi pagi menghantam wajahnya dengan bantal guling, ritual harian untuk membangunkan dia.

Tangannya meraih smartphone yang tergeletak di meja dekat pojokan kamarnya.

Begitu jempolnya menyeret simbol gembok, di lockscreen ponselnya itu, Oh Sehun hampir saja menyemburkan susu yang masih ada di dalam mulutnya keluar.

Cowok ini keluar dari kamar dengan ponsel di tangannya dan langsung memiting Kai yang terlihat baru bangun tidur sempoyongan berjalan menuju meja makan.

“Aduh-aduh, apaan sih orang baru bangun tidur ini?” Kai yang tidak terima mengerang dengan suara paraunya, berusaha melepaskan pitingan Sehun pada lehernya akhirnya dua orang berbody jangkung kerempeng itu kini bergulat.

“Apa-apaan kepalamu, apa maksudmu mengambil foto itu!” Baekhyun dan Chanyeol menonton gulat dadakan di depan mereka dengan manis, hingga ia melihat ponsel yang diketahuinya milik Sehun tergeletak dengan screen yang aktif, dan menampilkan gambar wallpaper yang cetar ulala.

“Sehun, kau pacaran?” Chanyeol yang masih seru memperhatikan Kai dan Sehun kini menoleh pada cowok sipit di depannya. Belum sempat menjawab, Chanyeol menyela duluan.

“Apaan sih Baek?” Chanyeol merebut ponsel milik Sehun dan setelahnya melemparkan tatapan mencibir pada Sehun.

“Kau cari mati Sehun.” Chanyeol beranjak dengan ponsel Sehun dan memanggil-manggil nama seseorang, Kim Joonmyun, sebelum Sehun menjelaskan semuanya. Sehun sempat menjitak Kai sebelum ia mengikuti Chanyeol.

5 menit setelahnya, ke 6 cowok most irresistablenya EXO K ini telah berkumpul di ruang tengah.

“Jelaskan siapa gadis di foto itu dan apa yang terjadi” perintah Kim Joonmyun, cowok ganteng yang paling tua di antara mereka berenam.

“Bukan hal penting. Hanya lelucon bodoh manusia-manusia bodoh di kelasku, termasuk anak ini.” Sehun menuding Kai, Kai mesem-mesem.

Yang lain masih menunggu Sehun untuk bercerita lebih jelas. Sehun hanya dapat melemparkan tatapan malas, ia benar-benar malas membahas ini. Seperti pendapatnya, tidak penting. Tidak penting tapi sampai-sampai terbawa  mimpi. hagzhagzhagz

“Dia, teman sekelas yang kelewat bodoh yang mau-maunya dibodoh-bodohi anak-anak yang lain buat kasih nafas buatan ke aku yang dibilang mereka pingsan, padahal aku cuman tidur.”

“Dia tiduran di bawah pohon karena bolos pelajaran bahasa korea hyung, coba dia nggak bolos, ya kami juga nggak ada kesempatan ngerjain dia.”

Kai malah ngomporin.

Yang lain manggut-manggut setuju sama ucapan Kai.

“Sekarang masalahnya itu foto ini, mau Sehun ciuman sama nenek-nenek ngepot juga kalo nggak ada saksi mata ataupun bukti sih nggak papa, lah ini ada foto begini.” Kyungsoo yang dari tadi diem mencerna rumusan masalah sidang konferensi tanpa meja mereka ini akhirnya angkat bicara, tapi sekali bicara, padat, singkat, penting, dan lumayan nyelekit.

“Nggak nenek-nenek juga kali hyung, emang eike cowok apaan!” Balas Sehun tersinggung. Kyungsoo hanya mampu memberi cengiran terdashyatnya untuk menanggapi.

“Perumpamaan kali Hun, sensi amat.”

“Soal foto aman kok hyung, ini foto cuman aku saja yang punya, iseng buat ngancem-ngancem Sehun ini.”

Sehun  menatap Kai garang, serasa pengen menelan bocah bernama Kim Jongin ini setengah hidup.

“Tuh, dia yang nyari masalah hyung.” Tuding Sehun.

“Iya sih Kai, kalo foto kayak gini sampe kesebar, abis deh EXO kena skandal. Fotonya dihapus aja.”

“Jangan deh hyung, kesempatan buat ngerjain Sehun ini, sayang kan fotonya dihapus cuma-cuma, sekalian buat ngancem dia supaya cepat bangun tiap pagi juga bisa kan.” Penolakan justru datang dari mulut member yang tingginya sering jadi malapetaka buat dia, karena sering kepentok kalo masuk ke ruangan kayak rumah-rumah tradisional korea yang berkusen rendah.

Begitu ide Chanyeol itu tercetus, yang lain pada senyum penuh arti, raut wajahnya menyimpan suatu makna yang apapun itu Sehun tau, akan mengancam kehidupan damai dan sentosanya.

“Eh, kalian pada nggak mikir apa? Kalo aku kena skandal, EXO juga bakalan kena.”

“Ya, kita nggak mungkin buat publikasiin fotonya ke media, kalo cuman buat ngancem sih, cukup nyerahin fotonya ke CEO aja.” 5 cowok-cowok di ruangan itu tersenyum bengis. Sehun pasrah, ia harus mempersiapkan mentalnya akan keadaan yang tidak menguntunkan buatnya ini dan sewaktu-waktu dapat disalahgunakan oleh hyung-hyungnya.

Sehun merebut ponselnya yang tergeletak di atas meja dan kembali ke kamar dengan sumpah serapah yang membuat kakak laki-lakinya tertawa-tawa.

(bersumbang..)
Advertisements

4 thoughts on “Maple and Apple 1: Captured With Class Rep

  1. Sebenernya sebenernya sebenernya rada ngehindarin baca ff sehun soalnya suka menimbulkan kecemburuan gitu /apalah, tapi pas baca ini malah jadi gemes sekaligus prihatin ke jiwon. Mbok kok ya mau aja dikerjain temen-temennya haduh. Kalau aku jadi jiwon pasti udah ngamuklah sama mereka, ngamuk-ngamuk hepi soalnya bisa nyium sehun wkwkwkwkwk. Terus hyung-hyung-nya sehun sama aja bikin ngeselin (apalagi kai hih), kyungsoo jahat banget diam-diam nyelekit. Kok gitu sih mas dio ngomongnya jahat sama thehun :-(…………….tapi aku setuju. Lanjut ke next chap dulu yah hohoho.

    • kalo aku jadi jiwon, ga cuci muka seminggu dan jerawatan juga ikhlas lahir batin.
      kyungsoo? semenjak keluar sm*sh job2 udah pada kurang, jadi ya sering uring2an gitu deccchhh si doi.
      yuks monggo

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s