That Sweetes Hatred 3

That Sweetes Hatred

Cast: Jung Krystal, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Jung Eunji

Minor: Jung (instead of Shim) Changmin, Jung sister’s mother, let’s say Seohyun lah ya. Hahaha. And so on.

Length: On Going

Genre: Romance, wkwk.

Rating: Parents guide, baca bareng mama loh ya!

thesweetesthatred

a.n: Pas buka dari hape, ternyata tulisan yang dibuat italic nggak kebaca, jadi aku tebelin sekalian, tulisan yang ditebelin dan dicetak miring itu semacam omongan dalam hati lah.

Selamat baca!

Part 3

Krystal mulai menapakkan kakinya dengan tempo super lambat menuju halte, meskipun ia tahu 30 menit tidak cukup untuk perjalanan dari rumah ke sekolah dengan kendaraan umum. Matanya menerawang kosong, seolah tanpa pikiran justru di saat ia sedang berpikir.

Apapun yang sedang dipikirkannya saat ini, tidak lain tentang bencana yang baru didengarnya dari mulut seorang pria bernama Tuan Park. Tentang calon pendampingnya, calon pendamping? Bahasa apa itu. Calon suaminya. Calon tunangan dahulu sih.

“Hhhh.” Helaan nafas yang lebih terdengar seperti dengusan itu sudah ketiga kalinya terdengar sejak ia melangkah keluar dari gerbang rumah.

Angin musim panas berhembus sepoi-sepoi menerbangkan anak rambut kehitaman milik gadis itu.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.”

Krystal berteriak melengking dengan kesal, memecah kesunyian jalan perumahan di pagi hari.

Pagi itu semua terjadi sangat normal untuk kebanyakan orang, kecuali untuk orang yang mengenal Krystal, dan mendengar teriakan gadis ini barusan. Krystal juga bisa berteriak?

Terasa malas bagi Krystal untuk masuk ke dalam kelas kali ini, tidak, setiap hari gadis ini selalu enggan masuk ke kelas. Ia berdiri di depan pintu kelas, hendak menekan handle, tapi diurungkannya, rencana menghabiskan waktu hingga bel masuk berbunyi di perpustakaan terbersit, dan memang saat ini juga mau direalisasikan, sebelumnya, sebelum ia berbalik dengan serta merta membuat dirinya menabrak, atau juga tertabrak dengan sosok murid yang baru detik ini disadarinya kalau itu cowok, kemudian tahu di detik setelahnhya kalau cowok itu adalah Park Chanyeol, dan di detik berikutnya ia menarik diri mundur ke belakang, di detik yang berikutnya lagi, ia sadar bahwa rambutnya tersangkut pada sesuatu di cowok itu.

“Maaf, biar kulepaskan.”

Seharusnya sih Krystal yang harus minta maaf lebih dahulu, namun jika ingin seperti itu, maka Chanyeol harus menunggu tomat berbuah kentang dulu.

Tangan Chanyeol terangkat, ke depan dadanya, jari-jarinya mulai bergerak menariki helai demi helai panjang rambut lurus hitam yang membelit di rantai dan liontin, atau sebut saja mainan kalau kata liontin terlalu feminin. Bersamaan dengan itu aroma segar dari shampo yang dikenakan Krystal menyeruak masuk dan dapat dirasakan oleh indra penciuman cowok itu dengan baik, wangi gadis itu, jeruk. Sementara Krystal hanya berdiri di atas kedua kakinya, menunduk, diam dan kaku. Di jarak sedekat ini, Jung Krystal sedang berusaha mengingat merk pelembut pakaian milik Chanyeol yang tercium olehnya, ini pelembut yang sama dengan yang dipakai ibunya, yang disuruh beli oleh ibunya Krystal sejak 2 hari yang lalu, tapi dia lupa, dan itu teringat sekarang pun karena tidak sengaja.

“Sudah.”

Chanyeol menaikkan tali tasnya di bahu, kemudian melangkah dengan menyamping, mendahului Krystal membuka gagang pintu.

“Tunggu, Chanyeol-ssi.”

Suara Krystal menyapa di udara, dan sampai ke telinga Chanyeol. Cowok itu langsung menoleh, ini yang ke-2 gadis ini memanggil namanya, semenjak mereka berdua berada di kelas yang sama dalam semester ini.

“Apa?” Cowok itu memandang wajah Krystal dengan terang-terangan, masih seperti pendapatnya pertama kali, gadis ini cantik.

“Itu, pelembut pakaianmu merknya apa?”

Park Chanyeol tersenyum, matanya yang besar menyipit sedikit. Bukan, ia bukan tersenyum karena pertanyaannya, tapi karena ini adalah kalimat terpanjang yang Krystal ucapkan padanya.

“Sama dengan punyamu kan?”

Krystal menggenggam ujung roknya, gadis ini, sedikit, hanya sedikit, salah tingkah, bukan karena melihat senyuman Chanyeol yang sebenarnya tergolong langka, Chanyeol memang persis dirinya, tapi versi cowok, Krystal hanya merasa agak gimana, karena Chanyeol menyadarinya, menyadari pelembut pakaian mereka yang sama, yang pasti diketahuinya saat mereka berdua tadi dalam posisi yang berdekatan.

“Ehm, ya apa merknya?”

“Itu, molto ultra sekali bilas warna hijau.” àHAHAHAHA, NGAKAK!!

Gadis itu mengangguk samar, kemudian berbalik, otaknya sendiri belum mengerti kenapa gadis itu berbalik, dan hendak kemana, karena bel baru saja berbunyi, sampai suara Chanyeol kembali menyapa ketika pintu kelas sudah dibukanya setengah.

“Sudah bel, tidak mau masuk?”

Krystal membalikkan badannya lagi, dan ia tampak seperti orang linglung sekarang. Ia mengekor di belakang Chanyeol masuk ke dalam ruang kelas, sementara itu tidak sampai 10 meter dari tempat kedua orang tadi bercakap, di ujung belokan korider, seorang cowok sudah berdiri standby di situ selama beberapa saat, dan ketika pintu ruang 12 II itu tertutup, barulah ia melanjutkan langkahnya lagi dengan senyum miring yang samar tercetak di wajahnya.

“Byun Baekhyun-ssi!”

Ia, cowok itu memandang ke depan, ke arah suara yang menyerukan namanya barusan, membungkuk sedikit ketika sosok guru perempuan berkacamata yang baru mengajar di sekolah tak lebih dari dua bulan itu berhenti di hadapannya.

“Ada apa songsaenim?” Tanyanya dengan sopan.

“Begini, nanti sore akan ada konser amal yang diselenggarakan Konkuk university, kampusku dulu. Kau tahu, seharusnya aku jadi panitia bagian seksi dokumentasi, tapi tiba-tiba ada keperluan yang sangat mendesak, jadi, bisakah kau menolongku, menggantikanku di acara itu?”

“Tentu saja, serahkan saja padaku songsaenim.” Baekhyun melebarkan senyumnya, manis, seperti biasa.

“Terima kasih ketua klub fotografi, aku berhutang padamu.” Park songsaenim, guru muda itu lantas tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Baekhyun.

“Yah, sebenarnya aku sih tidak begitu suka membuat orang lain merasa berhutang padaku saem.”

Mendengar kalimat itu, Jung songsaenim tanpa sadar mengerutkan alisnya.

“Maksudmu?”

“Anda tidak perlu merasa berhutang, kalau bisa melunasinya langsung bukan?”

“Oke tuan Byun, jangan basa-basi lagi, kau mau aku melakukan apa?” Cowok itu nyengir.

“Tugas dokumentasi mana bisa dikerjakan sendirian.”

“Oh, kau tidak sendiri kok, masih ada dua temanku bertugas di bagian dokumentasi.”

“Bukan itu maksudku noona!” -_-

“Songsaenim Baekhyun, bukan noona!”

“Aku butuh seorang partner.” Jawab Baekhyun alih-alih menggubris protes dari gurunya, kakak sepupunya, dari pihak ayah.

“Ya sudah, ajak temanmu saja, siapapun bebas menonton acaranya kok, asal beli tiket.”

“Aku hanya mau dengan murid langganan remedial Bahasa Inggrismu,dan aku mau kau yang menyuruhnya.”

Ini yang kedua kalinya perempuan tinggi semampai dengan balutan blus violet muda itu mengerutkan dahinya dalam jangka waktu beberapa menit, bukan karena kalimat yang terlontar dari cowok yang notabene sebenarnya adalah muridnya itu sudah dapat digolongkan tidak sopan untuk ditujukan kepada seorang guru, tapi karena ia tengah berusaha mencerna apa maknanya.

“Tunggu sebentar. Ada yang salah di sini. Apakah sekarang ini situasinya, justru kau sedang mencoba memanfaatkanku untuk membantumu berkencan dengan seorang gadis?”

“Aku tidak bisa ditawar, kecuali kau memang berniat membatalkan acara kencan butamu hanya untuk berdiri dan foto-foto.”

“Aku tidak tahu, sejak kapan adik laki-laki kecilku yang manis tumbuh jadi seberengsek ini!”

“Terima kasih.” Itu bukan pujian dimana sebenarnya Baekhyun tidak perlu bilang terima kasih. Cowok itu meneruskan langkahnya yang tertunda sejenak sebelum guru yang akan mengisi pelajaran pertama di kelasnya masuk, guru yang masih berdiri mematung beberapa langkah di belakangnya.

Pertama kali pintu menjeblak dengan agak kasar, semua penghuni kelas ruangan itu sibuk mengubah posisi masing-masing, turun dari meja -yang duduk di atas meja- mematikan sambungan telepon –yang menelpon pacar, mungkin- ada juga yang buru-buru menyembunyikan sobekan kertas kecil yang barusan saja ditulisi tepat di meja di depan Baekhyun –bagi yang tengah membuat contekan untuk pelajaran kimia setelah ini- dan sejumlah kegiatan lain yang langsung berhenti seketika akibat kedatangan seorang Baekhyun yang disangka Park songsaenim.

“Sial kau, kukira songsaenim.” Celetuk siswa cowok itu.

“Kalau saya memangnya kenapa Kim Jongin-ssi?” Munculah Guru itu dengan mistis dan berdiri di belakang Baekhyun.

Cowok yang disebut Jongin itu tidak bisa berkomentar apapun selain menyerahkan kertasnya kepada guru yang mengajar mata pelajaran bahasa Inggris di depannya ini dengan tatapan mengintimidasi dan tangan yang terjulur ke depan, meminta kertas lecek itu. Park songsaenim membacanya sekilas, kemudian tersenyum sinis, di saat penghuni kelas yang lain sedang tertawa tertahan.

“Ingatkan saya untuk memberi Pak Jang kertasmu ini ya nanti.”

“Kau mau sampai kapan berdiri, cepat duduk!”

Baekhyun yang cengar-cengir langsung kalem saat Sandara noonanya bertingkah sok galak lagi.

Baekhyun hampir jatuh terjengkang ke depan karena bokongnya baru saja ditendang oleh si cowok yang baru saja berduka atas kertas contekannya. Sementara murid cewek yang ada di sekitar Baekhyun memekik, dan buru-buru memegangi Baekhyun.

“Songsaenim, Kai berulah lagi!” celetuk seorang cewek, yang sekarang duduk paling dekat dengan Baekhyun yang berdiri dan menunjuk Kai yang langsung mengangkat kedua tangannya ke atas berlagak bodoh menampilkan mimik –aku tidak tahu apa-apa saem- sebelum sebelah tangan Baekhyun sudah melayang menoyor kepala cowok itu dengan keras sementara tangan satunya lagi sibuk mengelus-elus bokongnya.

Belum sempat Jongin membalas Baekhyun, suara Park songsaenim, yang menurutnya sangat berwibawa, namun sesungguhnya kalo boleh jujur, lebih tepat dibilang melengking dan berisik itu telah menghentikan keduanya.

“Diam, duduk!”

Jongin masih saja mendorong-dorong Baekhyun ketika hendak duduk namun tak begitu ditanggapi karena sekarang ini mata Baekhyun tertuju pada sosok yang memandang keluar dari jendela kelas, dari belakang cowok ini hanya dapat melihat rambut hitam yang panjang itu berkilau saat cahaya matahari menerpanya.

Semuanya terlihat begitu jelas, sosok gadis yang sekarang ini masih dalam posisi miring dan membelakangi Baekhyun itu dapat dijangkau dengan baik dari tempatnya  duduk, sebelum sesuatu tiba-tiba dengan pas menutupi  gadis itu, Park songsaenim berdiri di samping Krystal dan berbicara pada seorang murid yang duduk di seberang Krystal.

*

Baekhyun menepuk pundak teman ‘baiknya’ Jongin dengan tatapan iba yang setelah ini harus pergi ke ruang guru setelah pulang sekolah karena insiden ketahuan buat contekan tadi pagi, Pak Jang langsung memberi servis khusus pada Jongin, mengerjakan ulangan di kantor guru hanya berdua dengan Pak Jang, hanya berdua.

Ia buru-buru ngibrit sebelum salah satu anggota tubuhnya kena aksi kekerasan oleh Jongin.

Matanya menangkap dua orang perempuan tengah berbincang di dekat tangga. Seolah tidak peduli, Baekhyun meneruskan langkahnya seperti biasa.

“Jadi bisakah songsaenim minta tolong padamu sekali ini Krystal-ssi?”

Krystal masih diam sejak pertama kali guru Park mengajaknya berbicara.

“Kenapa saya? Saya bukan anggota klub fotografi.”

Guru Park cepat-cepat memutar otaknya untuk membuat alasan, tepat saat si Baekhyun itu melintas setelah turun dari tangga. Sebenarnya dia bisa saja menyuruh muridnya yang lain, hanya saja, Dara noona yang baik dan sayang adik ini ingin membantu Baekhyun yang ia terka sedang tertarik pada gadis pendiam di depannya. Meskipun ia tidak benar-benar tahu, Baekhyun itu tertarik dalam hal apa. Yang ia tahu, sebenarnya ia asumsikan sendiri, Baekhyun naksir Krystal. Ya, hanya asumsinya kan.

“Karena aku tahu kau anak yang baik Krystal-ssi.”

Sok tahu. Krystal membatin, namun raut wajahnya masih sama, menunjukkan bahwa ia tidak tertarik dengan pembicaraan ini.

Sementara guru Park yang tidak bisa memikirkan alasan lebih baik untuk menjawab Krystal ini hanya berusaha melempar cengiran kikuknya, berharap segera menerima persetujuan dari muridnya yang bloon minta ampun di bahasa Inggris.

“Maaf songsaenim, tapi aku tidak bisa memotret.”

Gadis ini keras kepala, dan guru Park tentu tahu itu.

“Baiklah kalau begitu. Mungkin aku memang harus memberi tahu ibuku kalau aku tidak bisa mendukungnya di acara lomba masak nanti sore.” Guru Park memalsukan senyum terpaksanya, dalam hati sedang ber-gambling, apakah kalimatnya barusan bisa meluluhkan Krystal.

Satu langkah, dua, tiga, hingga beberapa meter jauhnya guru Park dari tempat semula, belum juga ada tanda-tanda Krystal berubah pikiran dan menyetujui permintaannya.

Perempuan 28 tahun itu mengambil ponselnya, dengan cepat mengetikkan

Aku tidak bisa membujuknya, kau jangan banyak tingkah gantikan saja aku.

Send. Terkirim.

“Songsaenim.” Dara menoleh, didapatinya murid perempuannya yang tadi.

“Saya bisa menggantikan anda tapi anda harus pergi ke tempat lomba ibu anda.”

Dara tidak bisa menahan senyumnya, senyum yang sebenarnya karena merasa geli mendengar pernyataan Krystal tentang harus pergi ke tempat lomba ibunya, tentu itu hanya akal-akalannya saja, tapi gadis polos ini malah percaya.

“Benarkan, kau memang anak baik.”

Bagi Krystal itu bukan pujian, jadi ia tidak bilang terima kasih.

*

Eunji tidak pulang dengan bus yang biasa. Sekitar 20 menit ia berjalan dari sekolah, ia sampai di kawasan Myeongdong. Masih dengan seragam sekolah gadis ini melangkah di bawah rindang pepohonan yang dari kejauhan terlihat berwarna warni oleh bunga yang bermekaran di halaman kathedral Myeongdong. Gadis itu menyelesaikan undakan terakhir di anakan tangga, ia sampai di beranda gereja dan terus melangkah menuju pintu utama.

Bunyi handel pintu yang didorong disusul dengan deritan pintu kayu yang sudah tua termakan usia menggema di seluruh sudut ruangan. Kaca yang berhias ornamen dan relief martir, misionaris yang kenamaan dibagian atap dan sekeliling dinding paling atas langsung tersapu oleh pandangan Eunji. Gadis itu mencelupkan ujung jari telunjuk dan jari tengahnya dilanjutkan membuat tanda salib dari kening ke depan dada sebelum ia melangkah masuk dan meneruskan kebiasaannya melihat-lihat ke sekeliling gereja. Ia suka sekali arsitektur bangunan gereja katolik pertama dan paling tua di Korea Selatan itu.

Dengan tenang Eunji berjalan di koridor tengah-tengah yang berujung ke altar, ia berhenti di deretan ke 6 bangku panjang dari depan sejurusnya mengambil sikap menekuk lututnya, membuat tanda salib dan segera duduk di bangku panjang terdekatnya. Ia bukanlah satu-satunya umat yang tengah berdoa di gereja itu, sepasang kakek dan nenek lanjut usia duduk di dua bangku di depannya dengan khusuk menangkupkan tangan dan berdoa dalam hati. Kali ini pandangan Eunji berhenti pada patung Bunda Maria di altar, sebelum akhirnya ia membuat tanda salib lagi, dan mulai memanjatkan doanya.

Mata Eunji terpejam, bibirnya terkatup rapat, namun hatinya tengah berbicara, menyampaikan segala keluh kesah, syukur, dan pengampunan dosa pada Tuhan. Beberapa menit dengan sikap seperti itu, Eunji akhirnya mengangkat kedua kelopak matanya, sinar matahari yang menerobos masuk dari jendela-jendela kaca membuatnya yang telah memejam cukup lama sedikit mengernyitkan dahi karena silau. Sepasang kakek dan nenek yang tadi terlihat sedang beranjak dari tempat duduknya. Kakek membantu nenek yang terlihat sudah bungkuk dan kesulitan saat ingin berdiri dengan tongkatnya.

Keduanya dengan tertatih-tatih berjalan saling berpegangan, saling menguatkan, dan Eunji segera melemparkan senyuman tulus saat kedua orang tua tersebut berpapasan dengannya dan melemparkan senyum yang ramah dibalik garis kerutan wajah tuanya. Jung Eunji hanya duduk dalam diam di dalam gereja, memandangi patung bunda Maria. Tiap waktu luang, saat perasaannya sedang tidak baik, Eunji selalu menyempatkan diri datang ke gereja untuk berdoa. Itu membuatnya bisa dibilang merasa damai. Gadis ini menyadari sedang terjadi masalah di keluarga, masalah finansial. Itu kesimpulan yang ditangkapnya saat mendengar percakapan orang-orang di restauran semalam. Mungkin ia merasa semua orang di rumah menyembunyikan masalah ini darinya, sedikit banyak, ia kesal karena tidak tahu apa-apa, tapi ia pun mengerti, kalau orang tuanya hanya tidak ingin ia memikirkan hal yang tak perlu dipikirkan anak-anak. Hanya saja, sekarang ini Eunji benar-benar merasa berada di dalam jalan cerita drama mingguan di televisi, meskipun ia bukan pemeran utamanya, benar, ia bukan pemeran utama.

Eunji beranjak dari tempat duduknya, kakinya dengan hafal menuntun gadis itu menaiki undakan-undakan tangga yang akan membawanya ke lantai dua bagian balkon dalam ruangan.

“Selamat siang suster.” Eunji mengusik seorang biara yang tengah duduk di dekat lemari  di samping piano gereja.

“Selamat siang. Oh Eunji, kebetulan sekali kamu datang, padahal aku memang ingin menelponmu setelah ini.”

Suster itu menoleh dengan senyum lebar saat tahu itu Eunji.

“Memang kenapa suster?”

Pintu gereja kembali berderit ketika dibuka dari luar, tubuh jakung seorang cowok muncul dari balik pintu. Ia menutupnya kembali dengan perlahan lalu segera melangkah mencari bangku untuk duduk. Ia menekuk lututnya, membungkuk sedikit bersamaan dengan membuat tanda salib, ia mendudukkan dirinya di bangku ke 6 dari barisan depan.

“Besok Minggu, belum ada pengiring untuk misa pagi, yang bertugas mendadak harus pergi ke Busan, apa bisa kau menggantikannya?”

“Misa minggu pagi ya? Aku bisa kok suster.”

“Baguslah, terima kasih ya. Kau bisa latihan lagunya sekarang.” Eunji menerima madah bakti dalam versi notasi balok yang baru saja diambil suster dari lemari.

“Kalau perlu sesuatu, aku ada di paroki, arrasseo.”

“Ya suster.” Eunji membungkuk singkat setelahnya berjalan ke bangku pemain piano. Ia membuka penutup piano upright warna hitam itu, dan meletakkan buku partiturnya di stand note.

Park Chanyeol menutup mata bertepatan dengan suara melodi piano yang menggema menggantikan suasana sunyi yang tadi mengisi ruangan itu. Chanyeol tidak merasa terganggu sama sekali, dan dengan khusuk terus memanjatkan doa-doanya.

*

Byun Baekhyun duduk bangku taman kampus Konkuk sebelah utara, taman yang persisi berada sepanjang sisi sungai Han. Ia duduk di bawah rindang dedaunan pohon yang sedang berbunga, masih sibuk menyetel efek untuk kamera Canon EOS 60 Dnya yang baru dia download.

Rumput-rumput bergoyang, daun bergemerisik karena angin yang juga meniup tubunnya Baekhyun. Ia mengarahkan kameranya pada objek bebas, sekedar mencoba bagaimana efek barunya.

Pertama latar di hadapannya, sungai Han yang memantulkan sinar matahari yang sudah mulai condong ke Barat.

Baekhyun membidikkan kameranya ke kanan, ke arah belakang stage yang jaraknya mungkin sekitar 50 meter atau lebih.

Kamera yang sudah terangkat di depan wajahnya itu, kembali turun saat melihat seseorang berdiri di samping stage, melihat ke kanan dan kiri, dan rambutnya dikuncir kuda.

Tante itu tidak bilang kalau dia berhasil. Baekhyun tidak tahu kalau saat ini ia sedang tersenyum.

Orang-orang terus berdatangan ke areal konser amal, situasi semakin ramai dan Baekhyun masih menikmati pemandangan di depan matanya, yang kali ini menurutnya lebih menarik dari sungai Han dengan airnya yang tenang di sore hari, seorang gadis yang celingukan seperti orang hilang. Cowok itu menaikkan tali tas ranselnya dengan tangan yang bebas.

Ia mulai melangkah meninggalkan bangku taman, dan mengubahnya menjadi lari saat gadis itu terlihat ingin beranjak dari tempatnya berdiri tadi.

Baekhyun tidak benar-benar menemui gadis itu, ia hanya berdiri beberapa meter di belakang gadis itu dan membuntutinya yang sekarang masuk ke dalam kerumunan penonton konser.

Sementara gadis itu terus merutuk dalam hati. Merutuki semua yang bisa dirutuki, mulai dari Guru Park, permintaan Guru Park, dan ide menuruti permintaan Guru Park terlebih kebodohannya yang sekarang ini tidak tahu harus apa, kemana, dan menemui siapa, Guru Park sama sekali  tidak memberi instruksi apa-apa waktu minta tolong selain tentang alamat kampus Konkuk. Satu lagi, ia tidak punya nomor Guru itu.

<BRUK>

Tidak sadar dengan keadaan sekitar, gadis itu tanpa sengaja menyenggol seorang perempuan yang membawa minuman softdrink. Minuman itu terjatuh ke tanah, meskipun kalengnya masih tersegel, tapi nampaknya pemilik minuman ini bukan orang yang ramah, karena jelas raut kekesalan sudah terpampang jelas di wajahnya.

“Lihat-lihat kalau jalan!” Gadis kuncir ekor kuda itu masih diam justru tidak berusaha meminta maaf, ataupun mengambilkan minuman itu.

“Maafkan temanku nona!” Baekhyun maju, membungkuk untuk mengambil kaleng softdrink tadi.

Ia menyerahkan minuman itu sambil mencondongkan tubuhnya ke perempuan yang sudah memegang kembali minumannya.

“Dia tidak bisa bicara.” Baekhyun tidak melupakan kedipan matanya pada perempuan yang kelihatannya sudah mahasiswi itu.

Jelas sekali, mahasiswi yang barusan membentak itu dan kedua temannya yang berdiri di sampingnya sekarang ini sedang terpesona pada Baekhyun.

“Maafkan aku, aku tidak tahu temanmu tidak bisa bicara.” Nada bicara si mahasiswi langsung melunak ketika ia berbicara menatap Baekhyun dan sekilas si gadis ekor kuda. Sementara kedua temannya masih senyum-senyum centil nggak jelas.

Baekhyun melemparkan senyuman manis.

“Kami permisi.” Ia membungkuk samar, tapi jari-jarinya sudah melingkar di pergelangan tangan gadis ekor kuda itu. Menariknya keluar dari kerumunan.

Jung Krystal sudah menarik tangannya sejak pertama kali Baekhyun menggenggamnya, tapi ditahan cowok itu. Hingga mereka berhenti berjalan di dekat tong sampah. Kenapa harus dekat tong sampah!

Baekhyun tahu gadis ini tidak akan berbicara padanya. Malah menatap cowok itu seakan-akan dia adalah pejabat negara yang terdakwa melakukan korupsi. Krystal berbicara lewat matanya. ‘LEPASKAN AKU!’ Kira-kira seperti itu dengan penuh penekanan di setiap suku katanya, kalau tatapan itu diterjemahkan, dan Baekhyun mengerti, termasuk tentang penekanan-penekanan itu. Begitu cengkraman pada tangan gadis itu dilepas, Krystal malah pergi darinya, masih tanpa a, b atau c.

Aku seperti tengah menjinakkan singa betina-_- Pikir Baekhyun.

Krystal menyapu pandangannya ke sekeliling, dimana sekarang ini ia tidak tahu dari mana tadi ia datang, benar, ia berencana untuk pulang sekarang. Ia masih celingukan sendiri, sementara Baekhyun hanya melihatinya dari belakang.

Krystal kemudian dengan langkah tergesa berjalan ke arah taman yang sepi dari pengunjung, dipikirnya kalau sepi, berarti itu jalan keluarnya. Entah pemikiran macam apa itu.

Baekhyun masih mengekor di belakang Krystal, beberapa meter, tapi cukup membuat gadis itu menyadari bahwa ia masih ada di belakangnya. Krystal pura-pura tidak tahu maka ia tetap berjalan. Krystal berhenti mendadak. Ia mengitarkan pandangannya ke sekitar lagi. Berpikir-pikir apa tadi ia lewat situ saat baru datang.

Kenapa kampus ini besar sekali!  Itulah jerit batin Krystal.

Baekhyun menyusulnya yang masih diam di tempat, padahal jam sudah menunjukkan pukul 6 sore 10 menit lagi, tepat dimana acara konser amal itu akan dimulai. Toh dia menerima permintaan Sandara noona tercintanya bukan karena ingin menolong, tapi karena ide yang lain.

“Apa kamu merasa tersesat sekarang adik kecil!”

Baekhyun membuat mimik khawatir, khawatir seolah-olah ia benar-benar berbicara pada anak TK yang hampir menangis kehilangan ibunya di pusat perbelanjaan.

Krystal mendengus. Memutar bola matanya, lalu sekarang berjalan lagi, berbalik arah.

“Kenapa pergi, ayo sini sama oppa, kita cari jalan keluarnya sama-sama!” Seru Baekhyun dengan suara yang dikeraskan supaya Krystal yang makin jauh masih bisa mendengar.

Krystal tak menghiraukan, lebih tepatnya berusaha tidak menghiraukan. Ia terus berjalan, berlari, suara bising dari kerumunan orang-orang yang ingin menonton konser sudah tidak terdengar, tandanya ia sudah berada jauh dari panggung. Ia menoleh ke sekitar, makin merasa asing dengan tempat ini, di mana ia berada di jalanan kampus yang di sebelah kanan dan kirinya hanya ada pohon pinus, yang sunyi, dan kondisi langit yang semakin meredup.

Aku benar-benar tersesat.

Gadis itu membalikkan badannya. Iya! Dia berharap UNTUK YANG PERTAMA KALINYA melihat Baekhyun masih berdiri dengan jarak tak kurang 10 langkah darinya, dengan senyum sok manis dan memuakkan –menurutnya- di belakangnya dan ngos-ngosan mengikutinya berlari-lari, tapi… tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya seorang gadis yang celingukan dengan nafas putus-putus.

Gadis itu hampir menjerit saat lampu di pinggir jalan yang berada di sampingnya menyala secara tiba-tiba. Di antara degup jantungnya yang masih berpacu cepat, gadis itu mendudukkan dirinya di trotoar jalan kecil itu, bukan jalan setapak karena mobil masih bisa lewat di sana.

Segera dikeluarkan ponselnya, namun di detik berikutnya ia malah bingung ingin ngapain.

Telpon siapa? Appa? Tidak mungkin. 911? Lebih bodoh.

Krystal menolehcepat ke kiri, ia merasa ada bayangan hitam yang seperti melintas. Refleks ia berdiri, dengan sikap yang berjaga.

“Siapa disana!” Ini kalimat pertama yang keluar dari mulutnya sejak ia sampai di Konkuk University.

Tidak ada yang menyahut. Krystal mulai merasa tidak enak, pelan-pelan ia bergerak mundur sambil tetap terlihat  siaga.

Pertama-tama lambat makin lama langkahnya makin cepat, dan ia tersandung kakinya sendiri. Krystal terjatuh di aspal.

Posisinya sekarang tidak menguntungkan, sementara ia sadar, ada sesuatu di belakangnya, terdengar seperti langkah kaki yang mendekat.

Ia tidak bohong kalau sekarang ini dia merasa sangat ketakutan.

<PUK>

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”

Chanyeol membuka matanya perlahan, menyesuaikan dengan keadaan sekitar lalu menegakkan punggungnya yang bersandar ke kursi. Ia ketiduran, mungkin 20 menitan. Tidak ada siapa-siapa lagi di ruangan itu kecuali dia. Chanyeol bergegas mengambil tasnya, tapi seorang biarawati yang dia kenal baru saja memasuki gereja dari pintu belakang.

Chanyeol membungkuk dengan sopan.

“Selamat siang suster.”

“Selamat sore, tidurnya nyenyak Chanyeol-ssi?” Koreksi suster tersebut.

Chanyeol menggaruk kepalanya, sambil tersenyum malu.

“Maafkan aku suster, aku ketiduran. Tapi kenapa aku tidak dibangunkan?”

“Karena tidurmu pulas sekali, kegiatan sekolah pasti makin melelahkan ya?”

Chanyeol tersenyum, tidak mengiyakan ataupun membantah.

“Kalau begitu aku pulang ya suster, sudah sore.”

“Iya, tapi tolong berikan ini pada pengiring lagu di lantai balkon ya, ini lagu untuk koor minggu ini, semakin tua semakin susah naik tangga.”

Chanyeol tersenyum lagi. Hari ini ia banyak tersenyum.

“Baik suster. Selamat sore suster Kim.”

“Iya, hati-hati di jalan ya, salam untuk keluargamu!”

Baekhyun mengangguk, lalu membungkuk dalam.

Suara kakinya yang menapak di tangga kayu terdengar dengan ritme yang teratur, hingga ia menyelesaikan semua anak tangga.

Tidak ada siapa-siapa di balkon lantai dua. Chanyeol mendekati piano yang masih terbuka, dan meletakkan partitur itu stand notenya. Ia langsung pergi setelahnya.

Eunji muncul dari pintu samping bertepatan saat dilihatnya seseorang baru menutup pintu utama. Ia kembali ke atas, dan menemukan sebuah partitur yang tadi tidak ada di sana.

Gadis itu meletakkan tubuhnya di atas bangku piano sambil mengambil partitur tersebut. Tadinya ia berencana pulang setelah berurusan dengan toilet, namun sepertinya ia harus menundanya sebentar lagi.

Burung-burung berterbangan. Teriakan itu menakuti burung-burung di hutan pinus itu.

Detak jantung Krystal masih meliar, ketika ia menatap nanar buah pinus yang barusan terjatuh di atas kepalanya.

“Seorang Jung Krystal bisa berteriak juga ya?”

Krystal masih terlalu terkejut untuk terkejut lagi saat ia mendapati Baekhyun kini berjongkok di depannya tanpa ketinggalan senyum yang meremehkan itu.

“Tsk tsk tsk. Sampai keringat dingin begitu.”

Krystal menghalau blitz yang menerpa wajahnya saat tiba-tiba Baekhyun membidikkan kamera ke depannya, Krystal ingin menelan seseorang sekarang.

“Jangan foto-foto orang seenaknya!” Ia  berusaha merebut kamera di tangan Baekhyun.

Baekhyun yang masih dalam posisi jongkok, berdiri, dan meninggikan tangannya ke atas, menghalau tangan Krystal.

“Ish, galaknya. Tapi sudah pernahkan kubilang kalau aku suka suaramu? Apalagi teriakanmu tadi, itu terdengar sangat seksi..”

Krystal ada dalam titik kekesalan tingkat dewa dewi yunani, ia tidak tahu bagaimana menghadapi makhluk menyebalkan yang satu ini.

“Sudah, jangan mendengus-dengus, sayang cantik-cantik kayak kuda. Ayo kuantar pulang!”

Dan cewek ini menelan gengsinya bulat-bulat. Dari pada ia hilang lagi mau tidak mau ia menuruti perkataan Baekhyun, HANYA KALI INI.

Krystal dalam diam melangkah mengikuti Baekhyun, cowok itu berhenti dia pun berhenti.

Jangan jalan di belakangku, tidak ada gunanya aku mengantarmu.

Dengan ragu-ragu Krystal melangkah hingga sejajar dengan Baekhyun.

“Kalau sedekat ini, kan kau bisa lihat jelas wajah tampanku!”

Baekhyun masih sempat melihat Krystal memutar kedua bola matanya.

“Duh lucunya kau ini, oppa bawa pulang ke rumah boleh?”

Krystal pura-pura tidak mendengar.

“Ya ya ya, stay cool, stay calm, stay jutek seperti biasa.”

Gadis berkuncir ekor kuda yang sudah berantakan itu benar-benar ingin menjadi tuli, hanya untuk selema perjalanan pulang ini.

“Byun Baekhyun-ssi?”

Keduanya, Baekhyun dan Krystal menoleh bersamaan. Cowok jakung dengan rambut gondrong ber kokarde panitia mendatangi mereka dengan langkah setengah lari.

“Kau kemana saja, acara sudah mulai dari tadi.”

Baekhyun melirik sekilas cewek di sampingnya.

“Maaf Minho-ssi, kau lihat pacarku, sepertinya dia kurang sehat, jadi aku ingin mengantarnya pulang. Sampai jumpa.”

“YAA!”

Kali ini Krystal tidak menolak, saat tangannya digenggam Baekhyun, dan tubuhnya seakan menjadi ringan ketika tangan itu menariknya berlari di bawah cahaya bulan di musim semi.

Tangan Baekhyun hangat, tangan Krystal dingin, yang hangat menggenggam yang dingin hingga mereka berhenti berlari setelah sampai di gerbang keluar Konkuk university.

Baekhyun membungkuk dan kedua tangannya bertumpu di atas lututnya, masih mengatur nafas yang ngos-ngosan, mereka berlari sangat jauh.

Krystal sendiri masih ngos-ngosan, dan tidak tahu kenapa ternyata sejak tadi gadis itu melihati Baekhyun, hingga cowok itu sadar ditatap oleh Krystal. Masih membungkuk ia menoleh ke samping, ke Krystal.

“Kenapa? Aku ganteng ya kalo lagi keringetan?” Ia nyegir lebar menggoda Krystal.

Sementara gadis itu segera memalingkan wajahnya dengan angkuh.

Ada ya orang PD overloadnya overload macam orang ini!

Baekhyun mengubah sikapnya menjadi berdiri tegak, tanpa sepengatahuan Krystal, tangan Baekhyun telah terangkat ke atas kepalanya, cowok itu mengacak-acak rambut kehitaman Krystal yang lembut, tapi berantakan, dan sekarang makin berantakan.

“Kau manis Jung Krystal.” Baekhyun masih menyengir lebar.

<PLAK>

Dan justru makin terkekeh saat tangannya dipukul Krystal.

“Apaan sih!” Krystal melangkah duluan sambil melorotkan kuncir rambutnya dan membenarkannya lagi.

“Ayo oppa antar pulang sayang!”

Krystal berbalik.

“Jangan panggil aku dengan panggilan murahan dan menjijikkan itu! Dan tidak. ”

Baekhyun tidak menyangka kalau Krystal akan menyahut dan mengucapkan kalimat yang lebih panjang dari biasanya, meskipun itu adalah kalimat marah-marah. Kapan Krystal pernah bicara dalam nada yang baik-baik padanya memang.

Krystal kembali berjalan.

Belum ada beberapa langkah, ia berbalik lagi.

“Bus ke mapo-gu nomor berapa?”

*

Sepanjang perjalanan Krystal hampir tertidur pulas kalau tidak mengangkat telpon dari ibunya yang sedang kehilangan 2 orang anak gadis di rumah. Cowok itu, si Baekhyun masih berada dalam bus yang sama dengan Krystal, tapi tidak duduk di tempat duduk yang sederet. Krystal pindah saat ia duduk di sampingnya. Posisinya, Krystal di depan Baekhyun. Yang terlihat dari belakang hanya lengan Krystal yang menempel di jendela bus. Satu jam lebih dalam perjalanan hingga bus itu berhenti di pemberhentian yeonnam dong. Dengan tergesa Krystal melompat dari dalam bus. Masih diikuti Baekhyun.

Krystal mempercepat langkahnya, sudah gerah berlama-lama dekat-dekat dengan makhluk kecentilan di belakangnya. Ia berbelok di jalan perumahan yang hanya diterangi temaram lampu jalan keoranye-an. Daerah rumah Krystal bukanlah  daerah yang ramai. Sedari tadi bahkan keduanya tidak menemukan seorang pun yang melintas di jalan itu meskipun jam baru menujukkan pukul delapan kurang. Ini masih sore untuk ukuran kota Seoul.

Baekhyun menaikkan tali tasnya yang melorot dari bahu saat ia melihat dua orang pemuda yang berjalan berlawanan arah dengannya dan Krystal. Ia mengambil langkah panjang-panjang , menyusul Krystal yang berjalan di depan, dan mengambil sisi di sebelah kirinya. Lengannya langsung melingkari bahu Krystal, ia merangkul gadis itu dan menariknya mendekat.

Krystal melirik tangan yang merangkulnya kemudian ke pemiliknya, dengan mata melotot, persis ingin menerkam cowok itu.

“Lihat preman di depan itu!” Krystal menoleh, dan dua pasang mata laki-laki yang bersebrangan dengan mereka memang terlihat tengah memperhatikan mereka berdua, gadis itu segera mengalihkan pandangannnya, tak nyaman melihat orang-orang asing itu melihatnya.

“Kita seperti sepasang kekasih ya.” Krystal menoleh ke belakang, kemudian langsung mendorong tubuh Baekhyun sampai cowok itu terhuyung mundur beberapa langkah. Preman-preman tadi memang sudah jauh di belakang mereka. Rumah Krystal tepat di dekat tiang listrik yang kira-kira  10 meter jauhnya sekarang. Dia kembali berjalan, setengah berlari.

Baekhyun tak lagi mengikuti Krystal, toh dia sendiri tahu kalau gadis itu sudah berada di depan rumahnya sendiri. Baekhyun, tentu sudah mencari tahu alamat gadis ini lebih awal.

“Selamat malam cantik! Mimpikan oppa ya.” Seru Baekhyun kencang sambil tersenyum lebar.

Dan perlahan senyum itu terurai.

“Sudah kubilang bukan, apapun yang semakin disukainya, akan semakin aku benci.”

Lirihnya, bersama angin malam ketika gadis itu menghilang di balik pagar rumahnya

“Aku pulang!” Krystal berpapasan dengan manusia yang tak ingin ditemuinya.

“Tadi pagi Chanyeol sunbae, sekarang saudara tirinya.”

Krystal lelah, tak ingin meladeni apapun sekarang ini. Ia melepaskan kaus kakinya dan menyimpan sepatu di rak.

“Yang manapun tak masalah kan? Toh appa tetap dapatkan uang untuk perusahaan. Jadi jangan merasa sok cantik, pilih satu dan jangan permainkan yang lainnya.”

Krystal menahan emosinya, ujung hoodienya sudah digenggam kuat-kuat bahkan hingga tangannya sakit.

“Tutup mulutmu kalau tidak tahu apa-apa!”

Gadis itu melangkahkan kakinya, dengan cepat menaiki tangga ke lantai dua. Benar, hari ini dia benar-benar lupa tentang perjodohan itu, bahkan karena orang yang harusnya paling membuatnya ingat tentang itu. Dan detik ini, ia ditampar untuk kembali pada kenyataan, ini memang kemauannya, hanya saja, apakah ia terlihat serendah itu?

Dia dingin, dia pendiam, dia skeptis, bertabiat buruk, tapi dia, hatinya sama seperti gadis biasa, bisa terluka, bahkan hanya oleh kata-kata.

TBC

Cuap-cuap:

Aku seneng banget karena ff ini ada penggemar setianya *eciee bahasanya* mungkin, kalo nggak ada yang selalu nagihin ini ff, pasti udah halted atau diputus semenjak chapter satu, mengingat kebiasaan aku yang paling suka ngerjain setengah-setengah. So, tengs semua! *tebar cium basah*

Anggap aja ini hadiah akhir tahun sekaligus tahun barunya ya, sekaligus salam perpisahan deh, karena aku mau hiatus total yang bener-bener total. Ini udah tahun 2013, the last minutes time before UN bok!! Aku mau, bukan, harus fokus buat belajar persiapan UN, jangan sampe gara-gara nggak konsen belajar gegara buat ff, terus Nilai kelulusan entar nggak memuaskan, dan jadi lifetime regret, kan nggak lucu tuh. I know, sounds epic funny, masa gara-gara ff aja aku bisa nggak konsen belajar? Kenyataannya emang gitu lo. Nggak tau deh, it’s only me apa enggak, yang jelas, ide buat nulis itu paling lancar dateng kalo lagi ulangan, semacam anceng lah ya, tapi emang iya, di saat aku nggak bisa buat ff, pasti hasrat dan ide buat ngetik itu dateng dalam taraf tingkat dewa, padahal kalo liburan, duh, nggak ketoleh deh itu ff, sekedar niat aja nggak ada. Mungkin pada intinya aku emang tipe queen of procrastination, yang nggak bisa ngerjain sesuatu tanpa nunda-nunda, jadi kalo ada ulangan pasti bawaanya “Ah, belajarnya entaran deh, mumpung ide ff lewat, entar keburu ilang.”

Sementara kalo lagi punya waktu luang, i am like “Malas ah lanjutin ff, nggak ada ide lagian libur enakan tidur.”

Kesimpulannya, ff itu emang sebenernya pelarian aku buat hal-hal yang skala prioritasnya lebih tinggi. Semoga deh di tahun 2013, bad habbit yang satu ini bisa segera lepas dari badan. *saya tahu, ini diragukan*

So, this is the 3rd chapter, i wish you guys will be satisfied enough. Sorry for any typo and misconnected (?) words.

SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU 2013!

Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi di tahun 2013 besok(sekarang tanggal 31)

(lirik jam setengah dua pagi)

OKAAYYYY, TIME TO BOBOK CANTIK. Paipai~

Advertisements

42 thoughts on “That Sweetes Hatred 3

  1. Lanjutttttt … Seru nih… Eh sebenarnya si baekhyun Ada maksud apa sih ? Aq lebih suka ma chanyeol .. Kalem hehe …. Baekhyun rada preman sih … :p … Merry xmas n happy New year 2013 …

    • tengs tengs.
      baekhyun ada udang di balik bakwan. wkwkw
      heheheheeee preman kalo ganteng saya mah nggak nolak *mupeng*

      happy new year jugaaaaa

  2. *pasangmukaD.O* O_O
    this is one of the longest fun chapter! too much baekstal, uhhh ma feeeels ;~;
    udeh ahh eunji sm yeol, baek sm krys aja, ridho dunia akhirat aku haha xD
    baek tanpa dia sadari mulai ada hati sm krys (walopun masih sok sok benci -____-v)
    tp ak suka sikap gentleman baek walopun itu uda terencana
    dan td uda ngarep bgt eunji tatap muka sm yeol, ehh malah engga
    pdhl klo dia ga trlalu sinis sm kakakny ak trimo aja dia sm baek (d sangka emakny)
    tp opposite do attrack rite?makany ak setuju baek sm krys, polar opposite xD
    *dan ini longest komen juga kyknya -___-v*
    sukse UN nya saeng :*
    sempat sempatin update yg 1 ini dong hehe :3

    • the longest and the boring-est onn.

      kalo minho sama eunkyung, ikhlas lahir batin juga nggak onn? *ditendang ke pangkuan minho*

      plot cerita ini belum terencana onn, apa yang muncul di kepala saya, ya itu yang saya nulis, yang artinya kalo nggak muncul apa-apa, ya nggak bisa dilanjutin —> bilang aja manget – malas ngetik HAHAHAA

      tengs onnieee, nggak apa kok, makin panjang makin baik (?)

      if possible, tapi nggak janji ya~

  3. A-yo~
    finally^^

    astaga baekstal-___- *gaplokinsatu-satu*

    jadi baekstal masih keras kalo mreka saling benci?
    oh my god, somplak lah. ahahaha XD

    jadi eunji ama krystal (sepertinya) sama-sama suka ama chanyeol? atau eunji aja yg naksir chanyeol?

    baekhyun ama krystal nyebelin bgt sumpah >.<
    tp eunji ama irine lbh nyebelin, wahahah xD

    whud?
    hiatus?
    2013 penuh?
    :3
    yaudah deh T-T
    smoga dapet hasil yg memuaskan ya^^

    kenalan?
    ok.
    aku szena, 98line, fangirl no fandom, banjarmasin, calon istri sehun, pacarnya taemin, tunangannya kyuhyun. waks.

    • soal hubungan di antara mereka ber4 sebenarnya aku juga masih bingung ^^V
      aku nggak nyebelin kok, cuman menjengkelkan *kedip innocent*

      hiatus setengah tahunan lah, abis selesai dengan urusan sekolah.
      Makasih szena –> ribet amat ini nama -_-

      ciyee biasnya maknae semua ini.

  4. Readers baru, salam kenal ^^
    vitri nuryanti 18th ^^

    mian thor aku bru smpet komen di chap ini coz bru tau cranya ngomen di wp itu gmana *kepo*
    aku uda bc dr part 1 bhkan ff ini judulx aq save d hape biar gak lupa kalo cr chap slanjutnya, hahaha. .

    Ff.nya bagus thor, lanjutkan 🙂

    • hai kak vitri, aku irine 17 tahun.
      nggak apa, santai aja kayak di pantai. ahaha.
      di chapter selanjutnya harus kasih komentar lagi kalo gitu ya.

      Makasih, ditunggu aja.

  5. Seru saeng,aku suka moment baekstal..
    Apalagi yang baekhyun bilang selamat malem buat krystal..
    Si eunji cmburu tuh ama krystal..
    D tunggu kelanjutannya saeng..
    Happy new years 2013 saeng

  6. eon, FFnya daebak^^
    ditunggu chapter selanjutnya…
    Hiatusnya jangan lama-lama ya, gak sabar baca next partnya Kkk~
    Keep fighting eon!!! Semoga nilainya memuaskan ya nanti 😀

  7. KAKAAAAAAAAKKKK /bawaspanduk/ /kicked/ doh udah berapa lama aku ga mantau ff ini kakaaaaak TT
    aku sukaaak sama ff ini dari chapter pertama ajaa udah bikin aku jatuh cintrong.. sayangnya kakak selalu mengapdet lama sekali TT sampai aku lupa kaaan TT

    ahtapi gpp, aku langsung nyengir lebar begitu dapet apdetan baru lagi! /tebarbunga/
    gatau yah disini peran Chan belum nonjol yah? yang nonjol itu masih perannya si Baek, dan entah kenapa aku ngerasa kok main castnya itu si BaekStal ya -__-

    si Eunji suka Chan, tapi Chan suka sama Krys, sedangkan disisi lain Baek juga ngincer Chan, Krys gatau suka sama siapa .__. tapi kasian juga sih Krys, dia disangka jelek sama saudara kandungnya, padahal dia itu baik banget ;__; yah namanya juga saudara kandung, perempuan lagi kedua-duanya, pasti ada keirian TT
    kekesalan Krys ke Baek itu nyata banget disini! dan, aku bayangin Baek disini itu kaya cowo lembek gitu ya, bayangin dia itu persis kaya di foto teaser XOXO .___.

    endingnya bakalan menguras ember deh .___. /apalagiini/ /plakplak/ hihi, akhir kata AYOOOK KAAAK CHAPTER SELANJUTNYAAA!!

    PS: nanti kalau chapter empat keluar setelah aku komen, aku kasih Minho buat kakak deh:3 /dordor/

    • *tendang*
      *tebar sesajen kembang tujuh rupa*

      oke, biar aku ceritain.
      jaman buat ff ini, aku sama sekali nggak tau dengan exo, sebatas hapal nama pun, enggak, apalagi hapal muka, apalagi kenal dengan image mereka.
      let’s clearly say, ff ini ngasal, karna cuman iseng ikut2an yang lain pada buat ff eksoh *boleh tendang saya juga*

      nah, makin kesini, ya lumayan tau tau dikit lah ttg ekso, dan gimana image mereka.
      utk baekhyun, ya, lumayan mendekati lah, ga jauh beda, tapi,,,,,,,,,,,,,, untuk park chanyeol ini, aku bener-bener menyimpang.
      gimana bisa aku buat happy virus jadi manusia freezer yang sok malah senyumnya, padahal biasa diobral juga *berasa baju* wkwkwk

      agak terpengaruh juga dengan fakta kalo chanyeol ini bener2 nabrak dengan yang di cerita, jadi sedikit banyak, atau sebenernya emang sangat banyak, aku kesulitan buat menegaskan karakter chanyeol di ff ini. —->penulis gagal.

      yah, jadi begitchu ceritanya.

      dan soal update yang lama, mohon maaf lahir batin, ini memang penyakit kronis saya. diksi yang kurang, ide yang cuman mampir semenit dan pergi begitu saja, juga kesibukan di dunia nyata, serta semesta yang juga ikut berkonspirasi menggagalkan niatan ngelanjutin ff ini, semisal, lagi banyak ide, mood oke, tapi besoknya ulangan kimia 2 bab, terpaksa kan nggak bisa nulis. Nah, ini juga diperparah dengan keadaan ketika nggak ada ulangan atau tugas, saya nggak pernah kedatangan ide atau pun hasrat buat berfanfic-fanfican.
      sekian pembelaan dari saya.

      tapi syeneng deh baca komentar ini ternyata, ada juga yang mau baca ff saya, padahal semakin kesini, semakin gak pd sama cerita di ff ini, makin gak jelas. terharu deh :”) *ditendang lagi*

      oh ya, fyi aku juga semakin dapet karakter baekhyun di foto teasernya FUFUFUFUFUFU, tapi aku malah makin suka sehun, tapi luhan juga unyu, tapi aku rasa i shud stop ngebacot di sini, karna komentar aku udah kayak drabble.

      thankyouuuuuuuuuu udah mampir avi!!! minho tarok di freezer dulu, saya mau selingkuh sama mas Kris. xD

      • hai authorrr…. *lambai-lambai
        mian yah.. baru komen sekarang, sebenernya aku baru nemu nih epep, bacanya juga baru kemaren, tapi baru sempetnya sekarang, jadi aku save dulu do Bookmarks.. hehe
        aku suka gaya bahasa sama penulisannya, rapih banget! O.O
        dan bener-bener kreatif bikin konflik yang serba komplikasi didalemnya/hah? .. aduhh.. pokoknya unik deh..
        apalagii yang jadii Maincast ultimate biasku!! :3
        aaaaaaaa Baekki ama Kryss! smoga diending mereka bersatuhh! kekekeke … tapi aku kurang ngerti nih ama statement.nya Baekk.. semakin dia suka, bakal semakin dibenci ama Baekk? dia itu maksudnya Chanyeollie? yeolkan suka sama Kryss, so Baekki bakal ngebenci Kryss???? O.O
        ohmyGhostt!! jangan-jangan entar pas Kryss mulai suka ama Baekk dan milih dia buat jadii tunangan, Baekk malah XGGHDRJFDT Kryssie O.O /ngelantur -_-

        terserah deh.. yang jelas banyakin Baekstal momentt yaaw! lanjutnya juga cepett..
        aku Intro yahh.. /-_-
        Novi imnida, 98~, from Banjarmasin, Ultimate bias Krystal,Minho,Myung,Baek,Sehun, aku ngeship AnyStal.. except Kaistal.. muka Kai kayaa nepsong gituhh#ditabok XD

  8. suka deh baca komentar yang riweuh gini wkwkwk.
    karna aku bingung mau balas apa komentar kamu yang komplikasi juga *kicked*, jadi aku kasih tau intinya aja. Intinya… cerita ini belum tau mau dibawa kemana. HAHAHAHA!! tapi rencananya memang akan menjurus ke prediksi kamu. *tebar sajen* (?)

    irine imnida 95 line di jambi. aku pernah ke banjarmasih loh sekali bener ga sih kalo bahasa banjar bodoh itu bungul? ya kan yakan?? kalo bukan, tolong diiyain aja ya #ngok

    kalo aku ngeship minkyung couple Minho dan Eunkyung #heninglama

    tengs ya udah mampir noviiiiiiiiiiiii c:

    • hahahaha maafin yah, komen aku belibet bangett XD
      wahh.. hipotesa aku hampir bener dongg!! U.U kalo emang ceritanya bakal kaya gitu, aku seneng bangett!! rumit tapii unik :3

      oh oke.. Halo ka Irine!!/telat -_-
      hahaahaha bener kok! emang pas ke Banjarmasin kaka ngapain?/Kepo XD

      Minkyung? ohh nooo XD
      okesip! next chap cepet yoo^^

  9. kyaaaaa ….
    Baekstal ..
    aku suka baekstal, lanjut ya chingu …
    aku akan selalu setia menunggu ffmu!

  10. Huaaaaaa!!!!!!!!! FF-nya bikin pnsrn akut >< kl bs cpt lanjutin ya ya ya *puppy eyes dan kl bisa Baekhyun diksh ke Eunji aja (?) BaekStal krg cocok masa xD *plokk… Pkknya hdp BaekJi!!!!! Jjang!!

    • kalo bisa baekhyun saya kasih ke saya sendiri, ngapain kasih eunji wkwkw *tendang*
      hehe maaf ya, mungkin kalo ada ilham baru tak terusin lagi ffnya heheheh tengkiu udah main ke sindang cyinn. *melambai*

  11. Semacam membuka lembaran masa lalu baca ff ini tuh /apa atuh/. Terakhir baca udah setaun yang lalu (lebih deh kayaknya) dan kalau gak salah yang aku inget di sini tuh krys sama eunji jadi saudara, terus chanbaek juga jadi sodara, terus baekhyun-nya…….masih ya, ngeselin abis. Inget baca ff ini tuh gemes ampun-ampunan sama baekhyun, sama krys juga.
    Gatau kenapa lebih pro ke chanstal hihi apalagi pas momen rambut kesangkut itu sumpah ya feel romantisnya rusak hanya karena kamu mau promosi molto sekali bilas rin. Apa atuh, orang lain mah kayak gitu deg-degan ini malah inget merk pelembut pakaian, sedih ^___^
    Masih abu-abu ini krys bakal sama siapa, kalo liat di sini cukup puas sama baekstal-nya tapi bakal lebih seneng lagi ff ini dilanjutin……..plis rin udah setaun orz. Sekarang udah gak sibuk sama un, snmptn, dan teman-temannya yang lain dong ya? /kedip-kedip nista/
    Tapi setuju deh sama curhatan kamu di atas hahaha aku juga kayak gitu soalnya, kalo lagi mepet-mepet mau ngapain ide ngalir aja gitu lancar, tapi pas giliran punya waktu luang males banget heuheu i feel u lah.
    Ya udah pokoknya seneng kalau ff ini mau dilanjut hihi /lempar minho/.

  12. “Semacam membuka lembaran masa lalu baca ff ini ” –> semacam lebay ah dit -_-
    kalo kata pepatah inggeris sih, you are like elephant. *tendang* your memory like elephant’s dit. pelis emang ada pepatah gituan. ngarang bat lu riiin
    gpp deh, berhubung dulu saya udah selingkuh dari molto ke softener soklin, lumayan kenang2an promosiin molto.
    eits, itumah emang udah engga lagi, tapi sekarang kan udah kuliah dong. HAHAHAHAA
    hiks you know me sowell deh dit. i feel youtu deh.

    • itu bukan aku yang bikin, yang bikin kak shinbi, aku lupa nulis creditnya kayanya, coba buka that sweetest hatred chapter 2 atau 1 kayanya ada credit di situ.

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s