Bittersweet

Cast: Choi Minho, Kang Eunkyung (instead of Seo Eunkyung), other

Genre: Romance abal nan picisan

Rating: Rated HAHAHA

Warning: Causing upset stomach. Watch out!

“Hey, ngebutlah sedikit, kau bisa bawa motor tidak?”

“Apa pangkatmu menyuruh-nyuruh, harusnya aku tinggal saja kau biar naik bus.”

Aku diam. Mana bisa melawan kalau sudah bawa-bawa masalah tumpangan.

Minhyuk menghentikan motornya di dekat pos satpam, belum sempurna kakiku menginjak tanah, Minhyuk dan motor sialannya sudah melaju hingga aku hampir saja jatuh dibuatnya.

Kulirik Banner “SELAMAT DATANG SISWA/I BARU DI SMA KYUSHIN” di depan gerbang.

Ah, kenapa rasanya sesenang ini? Jantungku terasa begitu berdebar-debar. Detik ini, hari ini, aku resmi menjadi siswi SMA. Hey Eunkyung, kau sudah dewasa.

Aku menaikkan tas ransel yang menggantung di kedua bahuku. Dan berlari begitu kencang memasuki areal sekolah yang dengan bangga aku sebut SMA baruku!

“Eunkyung-ah!”

Aku menoleh.

“Hyesu!” Aku berlari, dia pun juga hingga tidak ada lagi jarak di antara kami.

“Kita sudah masuk SMA!”

Kami bergandengan tangan dan melompat-lompat.

“Hey, dua orang gila di sana!”

Kami menoleh berbarengan.

“Seunhye!”

Dan begitu Seunhye menghampiri kami, kami bertiga sekarang bergandengan membentuk lingkaran kecil dan melompat-lompat.

“Ah, berhentilah, aku lelah.” Ujar Seunhye.

“Aku juga.” Ujar Hyesu, mau tidak mau kami berhenti melompat-lompat.

“Banyak siswa dari SMP kita ya!” aku mengedarkan pandangan ke sekeliling lapangan basket di mana kami tengah berdiri bersama siswa-siswi baru lainnya.

“Iya, tapi lebih banyak lagi dari SMP Chansik, lihatlah orang-orang itu langsung akrab karena sudah kenal dari SMP.” Ujar Seunhye.

“Sama saja kan dengan kita. Semoga kita satu kelas!” Hyesu bersorak.

“YEAH!!”

“Siswa baru diharap berkumpul menuju aula, acara penerimaan akan segera dimulai.”

Aku langsung menarik kedua tangan teman kecilku ini.

“Memang kau tahu aulanya di mana?” tanya Hyesu di tengah-tengah langkah berlari kami.

“Tidak, tapi ikuti saja yang lainnya.”

Kami sampai di depan pintu utara aula yang besar ini.

“Ramai sekali!” gumam Hyesu.

Aku melihat-lihat ke dalam aula sambil mengangguk mengiyakan omongan Hyesu.

Dan spot mataku yang tidak fokus seakan tertarik untuk berhenti berjelalatan(?).

Seorang cowok dengan seragam SMP yang beda denganku berdiri dengan gaya acuh, ia sibuk memperhatikan temannya yang terus mengoceh.

“Eunkyung-ah, cepat ke sana, cari tempat duduk.” Aku kembali ke perhatianku pada Seunhye sekarang yang bergantian menarikku.

Ruang aula begitu gaduh suara-suara mulai dari yang kecil hingga yang besar milik ratusan orang di sini bergabung seperti suara lalat yang berdengung di dekat telingaku.

Kurasakan tangan Seunhye menarik aku hingga terduduk di sebuah bangku. Aku menurut saja.

“Semuanya duduk di kursi masing-masing dan harap tenang!”

Suara dari mikrofon menggema di seluruh sudut aula ketika aku tepat menunduk untuk mengikat tali sepatu yang entah kapan sudah terburai dan sedikit kumal karena terinjak, mungkin. Aku melihat sepasang kaki yang melangkah sepanjang space dari barisan kusiku dengan baris kursi di sebelah kiriku, kemudian ia berbelok ke kiri tepat saat aku mengangkat tubuhku kembali agar posisinya menjadi tegak, seketika itu pula suara-suara lain di dalam aula semakin meredam.

“Selamat siang semuanya!”

“SELAMAT SIANG SUNBAE!!” ratusan suara bergabung menjadi satu sapaan dengan tempo yang lambat, khas sapaan pada guru saat di sekolah dasar dulu.

Aku tidak ikut memberi salam dan malahan asyik melihat-lihat ke sekeliling.

“Semuanya semangat sekali! Kalau begitu saya akan memperkenalkan diri blablabla….”

Lagi, fokus mataku seperti ditarik ke satu spot, siswa cowok yang aku temukan di dekat pintu masuk aula duduk persis di sebelahku, tidak persis di sebelahku sih, ada jarak beberapa meter yang dibuat sebagai jalan.

Matanya menatap lurus ke depan, terlihat antusias, tapi tidak. Maksudku, pandangan matanya sayu, tapi terlihat seperti tertarik akan apa yang dilihatnya. Beberapa menit pandanganku tidak lepas dari sosoknya dan tidak menyesal menontonnya yang sedari tadi diam sebab sekarang wajah datarnya berubah menunjukkan satu ekspresi yang lain, cowok itu tertawa, dari samping dapat kulihat matanya menyipit dan ia tertawa terbahak-bahak, yang aku rasakan saat itu, aku seperti tak mendengar suara-suara lainnya bahkan Seunhye yang daritadi sudah tertawa histeris si sebelahku.

1, 2, 3 ia yang tengah tersenyum, atau tertawa menoleh tepat ke arahku. Aku meringis dalam hati, cepat-cepat memutar kepalaku menghadap arah sebaliknya, Seunhye. Tanganku meremas ujung-ujung rok seragamku selain itu badanku sedikit memanas secara tiba-tiba.

Aku dapat merasakan kalau ia sudah tak menoleh padaku, namun aku jadi sama sekali tak berani menatapnya, selama 2 jam sisa penjelasan orientasi sekolah, aku tidak menoleh ke arah kiri sama sekali.

*

“Kenapa kelas kita terpisah-pisah?”

Minggu ke-2 setelah bersekolah, Hyesu masih terus mempermasalahkan pembagian kelas yang membuat kami bertiga tidak ada yang berada dalam satu kelas.

Hyesu menumpukan dagunya di atas meja kantin dengan malas.

“Aku kan bisa sering-sering main ke kelasmu, atau sebaliknya.” Seunhye datang dengan nampan makan siangnya.

“Udangnya tidak dimakan? Untukku saja!” sumpitku langsung dihadang dengan sumpit Hyesu.

“Dasar lambung dua, sengaja kusisihkan karena aku paling suka gembul!” cerca Hyesu segera.

“Aku juga lapar, jangan harap!” Seunhye seakan dapat membaca pikiranku langsung berkoar begitu aku melemparkan tatapan ‘kasihanilah aku yang masih lapar ini’.

“Pelajaran fisika benar-benar menguras persedian energiku. Kalian tahu!” seruku penuh nada melas.

“Tidak tahu dan tidak mau tahu!” –> Seunhye

“Tidak tahu dan tidak mau tahu!” –> Hyesu

“Tsk, kalian kompak sekali”-_-

Aku beranjak dari mejaku lengkap membawa nampan yang sama sekali tak bersisa sebulir nasi pun.

“Terima kasih!” aku membungkuk pada petugas kantin setelah menyerahkan nampan kosongku.

Kuputar badanku hendak kembali ke meja di mana Hyesu dan Seunhye tengah menikmati makan siang mereka dengan super lelet.

Tapi aku masih lapar.-_-

Kuputar lagi badanku ke arah sebaliknya.

‘Bruk’

Dan, oh, astaga.

Aku menabrak orang, buruknya, aku menjatuhkan gelas tehnya hingga teh itu menumpahi piring nasi dan lauk.

“Maafkan aku!” dengan panik aku membungkuk-bungkuk.

“Tsk, kalau begini tidak bisa dimakan lagi.” Ujar siswa yang kutabrak itu. Aku merasa bersalah sekarang.

“Biar aku belikan lagi makan siangnya.” Suaraku terputus-putus, karena aku sendiri tidak yakin akan ucapanku barusan, beli dengan apa, sepeser pun tidak ada uang di kantongku dan aku menyadari itu barusan saja, takut-takut aku melirik wajah cowok yang terlihat kesal berharap ia menolak tawaranku yang tidak dipikir dulu.

“Ambil punyaku saja, aku tidak lapar.” Sebuah suara lain terdengar dari belakangku bersamaan tangan yang terjulur dengan nampan di atasnya.

“Tidak apa-apa?”

Cowok ini, berdiri tepat sejajar denganku, tinggi badanku hanya sedagunya.

“Iya.”

Mereka berdua pergi meninggalkan nampan berisi genangan air teh itu ke meja konter kantin, juga meninggalkan aku yang mematung dengan bodoh disana.

Aku pun melangkah kembali ke meja teman-temanku, tiba-tiba saja rasa laparnya tidak ada lagi.

Hyesu dan Seunhye yang asyik mengobrol mengabaikan aku yang datang dan langsung beringsut ke tempat duduk.

Dari sini jelas melihat ke arah cowok itu Choi Minho, juga teman-temannya.

“Hhhh.”

“Ada apa?” Seunhye menatapku dengan mimik bertanya.

“Eh?”

“Kenapa menghela nafas seperti kuda?” Seunhye memperjelas maksud kalimat ‘Ada apa’nya.

“Aku masih lapar, dan tidak punya uang.” Kedua tanganku terjulur menengadah ke arahnya, dia pasti tahu maksudku.

“Tsk, anggap aku tak bertanya apapun.” Seunhye melanjutkan makanannya mengabaikan aku dan Hyesu terkikik melihat kami berdua.

Aku menekuk wajahku hingga muncul beberapa kerutan di dahiku. Aku menopang pipiku dengan tangan kanan, kembali mengamati dia dari kejauhan.

*

Sepulang mengambil rapor, aku minta diantar langsung ke rumah Seunhye.

Kami janjian untuk merayakan libur kenaikan kelas, sekaligus libur natal, tahun baru dan musim dingin.

Hari-hari libur yang indah dimulai dengan sesuatu yang tidak indah sayangnya.

Sepanjang perjalanan ayah dan ibu sibuk mendumel. Nilaiku turun drastis, ranking 10 besar pun tidak sampai.

“Pokoknya selama liburan kau harus masuk bimbingan belajar.” Ayah mengakhiri ceramah panjangnya.

“Iya yah.” Jawabku ogah-ogahan.

“Ya!”

Aku menoleh dan mendapatkan wajah minhyuk tersenyum mengejek.

“KA-SI-HAN!”

Iya mengejanya dengan suara yang kecil tapi penuh penekanan.

“Tidak usah sombong, kau pikir nilaimu bagus!” balasku sewot.

“Sayangnya cukup bagus untuk mendapat hadiah kelulusanku, satu perangkat alat drum.”

“Hah, tukang pamer!” Aku memalingkan wajah ke jendela.

“Jangan acak-acak rambutku Kang Minhyuk!

Aku diturunkan di depan jalan gang rumah Hyesu.

“Lama-lama lah di rumah Hyesu ya, kami mau mampir ke rumah nenek setelah membeli hadiah Minhyuk!”

Setelah kalimat tersebut dipetuahkan kepadaku ibu menutup kaca jendela dan wuss, mobil berlalu.

Mungkin hanya ibuku yang menyuruh anaknya berada lama-lama di rumah orang.

Sepatuku berjalan sambil sesekali memainkan tumpukan salju yang ada di sisi jalan.

Suhu sangat rendah, aku bisa merasakan dinginnya menusuk hingga ke tulang bahkan dengan adanya baju hangat super  tebal ini.

Jalanannya menanjak karena kontur daerah ini yang berbukit-bukit.

Pasti karena aku jarang jalan kaki, baru sebentar saja aku sudah ngos-ngosan begini.

Nafasku yang keluar dari hidung dan mulut mengepul seperti uap dari mi ramen yang baru matang.

Aaaa, aku jadi lapar.

‘Tin’

Aku menyingkir ke pinggir jalan membiarkan mobil yang mengklaksonku lewat lebih dahulu. Mobil berhenti tidak begitu jauh dari tempatku berdiri. Di depan gerbang sebuah rumah besar, perhatianku jadi teralih ke mobil itu.

Seseorang membuka pintu mobil dari dalam dan turun. Aku masih terus melangkah, dan semakin dekat, semakin jelas aku dapat melihat siapa orang yang mengenakan hoodie biru tua itu.

Ia berbalik saat mobil yang  baru saja ditumpanginya kembali melaju.

Posisinya menghadap ke arahku.

BGM: SHINee Hello

Ia melangkah ke arahku?

Satu langkah

Dua langkah

Tiga langkah

Ia semakin dekat, apa yang harus kulakukan?

Menegurnya?

‘Apa kabar?’

Aduh, sok akrab sekali.

‘Kau dari mana?’

Itu lebih bodoh.

Ia semakin dekat. Katakan apa saja.

“Ha-“

Cowok itu berbelok menepi begitu berhadapan denganku di saat mulutku sudah terbuka hendak mengatakan ‘Halo Minho’, dan ia, cowok itu berbelok begitu saja memasukkan sesuatu ke dalam tong biru yang besar.

Ia berbalik dan kembali berjalan menuju gerbang rumah besar di depanku.

Otakku kembali memproses ulang tentang apa yang baru terjadi barusan. Hingga butuh waktu untuk cowok itu menghilang di balik gerbang rumahnya untuk aku memahami yang tadi itu, dia ingin membuang sampah ke tong yang kebetulan ada di dekatku, lalu aku menyangkanya ingin menegurku. Iya kira-kira seperti itu.

Kenapa aku membuat malu diriku sendiri?

Kupukuli kepalaku dengan gemas.

Dasar kikuk!

Aku tidak jadi melangkah saat melihat benda yang dibuang si Minho itu masih tersangkut di penutup tong sampah.

Aku mengenali benda itu! Rapor semester SMA Kyushin.

Segera kuambil buku itu, bertanya-tanya kenapa Minho membuangnya? Nilainya jelek kah?

Tapi, aku pun walau nilai ku sejelek apa pun, tentu aku tidak akan membuang raporku.

Halaman sampul kubuka, di lembar selanjutnya ada biodata singkat dan sebuah foto 3×4.

Foto Minho saat masih SMP, persis seperti saat aku pertama kali melihatnya di aula.

Choi Minho

Incheon, 9 Desember 1994 à anggap Minho lahir 3 tahun lebih lambat. wkwk

Kubalik lagi lembaran berikutnya

MTK 90

BIOLOGI 90

BAHASA INGGRIS 90

Apa-apaan, dia dapat peringkat pertama, dan membuang buku laporan nilainya?

Grep.

Aku terkejut, buku rapor biru itu direbut dari tanganku semerta-merta.

“Kau itu pemulung ya, mengambil sampah dari rumah orang.”

Minho berdiri di sampingku dengan wajah sengak, wajah yang sangat menyebalkan pokoknya.

“Kau kan sudah membuangnya.” Aku terbata sedikit berusaha menatapnya langsung ke wajahnya, ia lebih tinggi dari satu tahun yang lalu.

Cowok itu mendengus dan berlalu dari hadapanku begitu saja sambil membawa kembali buku biru di tangannya yang sedikit remuk.

Ponselku bergetar singkat.

Sebuah pesan singkat masuk.

Hyesu

“Kau lama sekali nenek Kukyung! Kami tidak sabar nonton dvdnya!”

9/12

Aku mau balas pakai apa, pulsa pun tidak cukup untuk satu kali sms saja. Kumasukkan ponselnya ke saku celana denimku.

Tapi cepat-cepat aku ambil kembali, kubuka kunci pengaman tombolnya hingga lampu display ponsel menyala.

Kamis, 9/12/11

Minho barusan saja menutup kembali pagarnya.

Dia berulang tahun hari ini.

*

“Pop Corn?”

“Checklist!”

Keripik kentang?”

“Ada.”

“Jus jeruk.”

“Ada!”

“Tissue?”

“Ini.”

“Oke, semua sudah ada, ayo nyonya-nyonya putar dvdnya.” Kulihat Seunhye lah yang paling semangat, tapi nanti dia juga yang paling kencang nangisnya.

Lampu kamar Hyesu sengaja dimatikan, supaya bisa meresepai film katanya.

Cahaya dari TV yang berubah-ubah lah satu-satunya sumber cahaya di tengah kegelapan pada siang hari di kamar Hyesu.

“Hyesu-ya!” panggilku ketika film drama tragis ini hampir setengah berjalan.

“Hmm?” ia menjawab sambil mengunyah keripik kentang.

“Kau tidak pernah cerita kalau rumahmu hanya berjarak 50 langkah dari rumah Minho.”

Hyesu menoleh dari TV.

“Kau kan tidak pernah tanya.” Balasnya acuh.

Hyesu kembali melihat ke TV, mengikuti Seunhye yang sejak tadi hanya memelototi benda petak itu.

“Tumben bicara soal rumah Minho?”

Hyesu tiba-tiba mengalihkan perhatiannya dari TV ke aku.

“Eh, itu, aku hanya bertanya.” Aku melempar satu cengiran entah dia dapat melihatnya di suasana gelap ini atau tidak.

Hyesu semakin meringsek ke arahku.

“Kau tertarik padanya?” Anak pendiam ini kenapa jadi straight to the point begini-_-

“Tertarik apa, aku hanya berpapasan dengannya di depan rumah besar yang pagarnya tinggi itu.” Aku mengambil jus jeruk milikku dan menyeruputnya.

“Apa yang selalu kau lihat ketika jam makan siang di kantin?”

Seunhye menyeletuk tanpa teralih dari film yang tengah ditontonnya. Ia menyimak percakapan kami ternyata-_-

“Hah? Memangnya apa yang kulihat?” Entah kenapa, aku merasa Seunhye akan menjawab..

“Pak Choi.”

“Untuk apa melihati Minho?”

“Seunhye tidak menyebut nama Minho Eunkyung-ah.” Cecar Hyesu.

“Aku, hanya menduganya karena barusan kita kan bicra tentang Minho.”

Hyesu melempar senyum penuh artinya.

“Haha, jarang-jarang melihat seorang Eunkyung yang tidak tahu malu tiba-tiba jadi malu-malu begini.” Hyesu mulai menggodaku sekarang.

“Jangan dia lah, tidak ada maksud apa pun, tapi kalau kau dibandingkannya, seperti rumput liar dan kupu-kupu. Mana mau kupu-kupu dengan rumput, ia pasti mencari bunga yang indah. Hiks, kasihan sekali, mereka saling mencintai, tapi cowoknya menikah dengan gadis lain di saat gadis itu ingin menyatakan perasaannya, aku jadi ingin menangis!!!”

“Kau bahkan sudah menangis dari tadi Seunhye-ya. Dan kau Eunkyung, meskipun analoginya sedikit aneh, tapi aku sependapat dengan Seunhye.” Hyesu menepuk-nepuk pundakku.

Aku meniup-niup tangannya Hyesu seperti debu.

“Kalian berimajinasi sendiri, sejak kapan kubilang aku suka dia?”

“Baiklah, Eunkyung tidak suka Choi Minho, sudah jangan nangis!”

“Dari tadi kau yang terus menghabiskan tisue dan mengeluarkan suara crot crot dari hidungmu, Seunhye!!”

*

Musim semi datang, tahun ajaran baru juga dimulai.

Aku siswi kelas 2 SMA sekarang. Minhyuk sudah KULIAH dan sudah punya pacar. Dia menyuruhku untuk pulang dan pergi ke sekolah naik bus. Hah, dan tugasnya sekarang berganti menjadi tukang antar jemput Krystal si pacar tersayangnya itu.

“Ibu! Aku berangkat!”

Aku naik ke motor sport yang ayah belikan padanya waktu baru kelas 3 SMA. Ayah selalu memberikan barang-barang yang bagus untuk Minhyuk, yah karena anak satu ini suka mencari hati orang.

“Kau tidak bawa helm?” Tanya Minhyuk sambil memakai helm besar miliknya sendiri.

“Untuk apa? Aku hanya sampai di halte depan juga.” Sengaja ku sewotkan nada bicaraku supaya ia merasa bersalah.

“Bukan untuk kau, untuk Krystal, sana ambil.”

“Sedikit sedikit Krystal, apa-apa Krystal, Tsk!!!” Aku turun lagi dari motor, berlari ke garasi dan mengambil helm satu lagi.

Aku menginjak pijakan motor untun naik ke jok motor yang tinggi dan sedikit sulit untuk dinaiki.

Bruumm.

“Aaaaa!!! Aku belum duduk di jok!”

*

“Hati-hati di jalan dongsaeng!”

Bruuummm.

“Uhuk-uhuk.” Aku menepuk-nepuk dadaku karena asap motor sialan itu terhirup ke paru-paruku.

Jika ada kontes manusia kurang ajar sedunia, Minhyuk pasti akan dapat gelar juara.

Bus besar yang warnanya hijau datang. Aku menggesek kartu penumpang dan segera mencari tempat duduk.

“Hahaha!” suara tawa itu menuntun aku untuk melihat ke arah asalnya.

“Kami bukan tertawa karena leluconmu lucu, kami tertawa karena gayamu menceritakannya sangtae!” seru suara Jonghyun, teman sekelasku waktu kelas satu disertai kekehan beberapa orang.

“Tsk, kenapa aku justru dianiyaya oleh junior.”

“Takdirmu hyung.” Ujar cowok yang rambutnya coklat madu.

Karena kuperhatikan sekian lama ke-4 cowok yang duduk di deret paling belakang itu sekilas melihat ke arahku.

Cepat-cepat aku duduk di kursi kosong di sampingku.

Choi Minho termasuk salah satu di antara mereka.

Beberapa kali aku menguap. Perjalanan ke sekolah dengan bus seolah memakan waktu 3 kali lebih lama dari pada naik kendaraan pribadi. Sebentar-sebentar pasti berhenti.

Bus mengerem membuatku terdorong ke depan. Aku langsung mengambil ancang-ancang untuk turun sebab orang yang ingin turun sudah mulai berdesak-desakan dari belakang.

Aku melompat dengan sempurna, kali ini tidak ada benjol baik saat naik ataupun turun dari bus seperti tempo hari.

Beberapa langkah dari halte, kurasakan tepukan seperti ‘puk’ ‘puk’ di bahuku.

Aku menoleh.

“Kau menjatuhkannya di bus.”

“Kam..saha.mnida.”

Ia pergi mendahuluiku menyusul teman-temannya yang telah menjauh.

16 tahun aku hidup dengan menghirup dan menghembuskan udara ke dalam paru-paruku, apa sekarang paru-paruku jadi bermasalah, karena aku sempat lupa bagaimana cara bernafas barusan.

*

Aku memasuki kelas baruku.

Lebih buruk dari tahun lalu, selain tidak sekelas dengan sobat kentalku siapa lagi kalau bukan duo Hye, dan dari sederet nama yang menjadi penghuni kelas ini, tak seorang pun berasal dari kelasku yang saat di tingkat 1.

Aku menghembuskan nafasku kencang-kencang. Tepat saat aku keluar dari kelas, seseorang dari kelas sebelah juga keluar dari kelasnya, hendak menuju ke kelasku.

Hampir bertabrakan. Hanya hampir, karena kurasa rem ku dan remnya masih sama-sama pakem.

Aku melangkah ke kiri, orang itu juga, ke kanan, dia pun tidak sengaja melangkah ke kanan.

“Lewatlah duluan.” Aku menyingkir, merapat ke pintu. Siswa yang jakung(karena tinggiku hanya sepundaknya) itu berjalan melewati celah pintu yang tersisa.

Kejadiannya berlangsung begitu cepat, seseorang berlari dari dalam kelasku sangat buru-buru dan di celah pintu yang sempit itu badannya menyeruak dan menerobos untuk lewat, 3 orang dalam celah pintu yang sama, siswa yang tadi hendak masuk ke dalam kelasku terdorong ke arahku cukup keras. Aku menutup mataku, kupikir aku sudah penyet terhimpit, tapi aku hanya merasa terdorong sedikit dan tidak seperti terjepit.

Kubuka mataku.

Kenapa aku baru sadar kalau yang lewat tadi dia. Kedua tangannya menahan di daun pintu yang aku punggungi di atas kepalaku.

Wajahnya sangat dekat, terlalu dekat. Aku bahkan menahan nafas saat udara hangat itu menyapu wajahku.

Ia segera menarik dirinya.

Aku membungkuk sedikit, secepat kilat kabur dari sana.

Tadi pagi paru-paruku, sekarang jantungku yang seperti mau lepas. Kenapa badanku jadi bermasalah semua!!

*

Aku memantul-mantulkan bola di lapangan basket indoor.

“Kita bertiga seperti tidak berjodoh. Sama sekali tidak sekelas lagi.”

Ujar Hyesu.

Aku mengangguk, tapi kemudian berusaha melempar bola ke ring basket.

Bola memantul terkena besinya.

“Kau tak berbakat di basket!” teriak Seunhye.

“Klub memasak dan debat bahasa inggris sudah mau mulai, kami pergi ya!”

Aku mengangguk sekedar saja tanpa menoleh.

Siswa maupun siswi dari berbagai kelas berdatangan ke dalam lapangan. Aku menghentikan latihan melempar bola ke gawang, tentu saja malu kalau dilihat orang lain, dengan jarak satu meter dari tiang ring, aku bahkan tak bisa memasukkan sekalipun bola.

Dari sekian siswa yang datang, tidak ada yang kukenal begitu dekat.

Mereka berbicara dan mengelompok sendiri.

Kutarik kesimpulan, anak-anak yang ikut klub ini rata-rata tipe anak populer, baik cewek maupun cowok.

Orang-orang terus berdatangan, tapi masih tak ada yang kukenal.

Entah kenapa mendadak aku jadi takut masuk klub ini. Aku meletakkan bola di lantai, aku berjalan di sepanjang pinggiran lapangan.  Dan sekarang aku telah berada di luar.

Choi Minho.

Siapa lagi sosok cuek dengan wristband abu-abu itu kalau bukan Choi Minho, ia dikelilingi teman-teman populernya masuk ke dalam ruangan yang baru saja aku tinggalkan. Aku berjalan menunduk.

Mudah-mudahan klub memasak masih menerima anggota baru.

*

Tahun ketiga di SMA Kyushin.

Kelas 3 A

Masih tidak sekelas dengan Hyesu ataupun Seunhye.

Namun, satu kelas dengan Choi Minho.

Satu meja pula dengan Choi Minho.

Hari ke tiga, tahun ajaran baru. Aku belum mengucapkan sepatah katapun, sekedar basa-basi ataupun salam padanya.

Menunggu bel berbunyi kulakukan sejak bel sebelumnya berbunyi.

Aku merasa sesak jika harus duduk lama-lama dengannya, berusaha untuk tidak menatap ke arahnya membuat leherku cukup pegal belakangan ini.

*

Pagi-pagi sudah harus berlari-lari sepanjang koridor. Ibu lupa membangunkanku, ia kira hari ini hari Sabtu, dan menyangka aku libur.

Astaga ibu. Akibatnya aku harus serba terburu-buru. Pelajaran olah raga di jam pertama sudah dimulai, namun aku baru sampai di kelas, dan belum mengganti seragam. Tidak tahu berapa km/jam kecepatanku berlari, yang penting cepat sampai di ruang ganti dan sampai ke lapangan sebelum Pak Kim datang, atau aku harus dihukum marathon lagi.

Yeah, dan aku cukup beruntung karena Pak Kim memang belum datang, bisa kulihat dari kejauhan.

Begitu aku sampai di lapangan, kepalaku seakan bertambah ringan.

Karet pengikat rambutku putus. Kedatanganku yang terlambat ini membuat semua orang menoleh ke arahku.

Dan kenapa kejadiannya seolah-olah seperti di dalam drama. Angin bertiup kencang menerbangkan rambutku.

Rambut sepinggangku yang harusnya dipotong  kalau saja ibu tidak ketiduran sore kemarin.

“Hanya aku, atau tiba-tiba anak ini jadi mirip Yoona SNSD?” celetuk Jonghyun.

“Ha, lucu Jonghyun-shi.” Aku memasang wajah kecut, padahal telingaku mulai memanas, tanda aku termakan bualannya barusan.

“Eunkyung-ah, tapi kau sangat beda lo, kau cantik sekali.” Suzy, teman sekelasku yang berdiri paling dekat denganku langsung berkomentar.

“Kenapa kalian berlebihan sekali sih?” balasku dengan muka masam.

Aku mengumpulkan rambut yang berantakan karena memang tidak aku sisir dan hanya diikat asal-asalan tadi pagi.

“Kau tidak punya karet yang lain? Pak Kim tak akan mengizinkanmu ikut pelajaran kalau rambutmu tidak diikat.” Ujar Suzy.

Aku menggeleng.

“Hey, teman-teman, apa ada yang punya karet rambut, atau apa saja untuk mengikat rambut?”

Suzy berteriak cukup kencang di sampingku tanpa memikirkan bahwa suaranya dapat menjadi polusi udara karena telah melebihi 50 db.

Semuanya menggeleng.

“Yang cowok ada yang punya karet tidak?”

Suzy mengajakku menghampiri kumpulan cowok.

“Tidak ada, kau lebih cantik begitu Eunkyung-ah.” Dongho mengedipkan matanya padaku.

Membuatku, err, agak salah tingkah.

“Hey mata keranjang, Pak Kim melarang siswi berambut panjang ikut olahraga kalau rambutnya tidak diikat!”

“Coba cari di kantin, mungkin ada.” Sungyeol, ketua kelas berujar sambil menguap.

“Oh iya, benar juga. Ayo kita ke sana!” Suzy menarik tanganku.

“Pak Kim sudah datang! Cepat berkumpul!”

“Suzy, aku cari sendiri saja, nanti kau dihukum marathon.” Ujarku sambil tersenyum.

“Tidak apa, aku ikut kau saja.” Tolak Suzy.

“Kau baru masuk kemarin karena kena demam berdarah. Kena hukum lari keliling lapangan sepak bola 15 kali karena terlambat ke lapangan kau bisa masuk rumah sakit lagi.”

“Err, baiklah. Cepat kembali ya!” Suzy melambai dan berjalan dengan  tempo yang lebih cepat menyusul rombongan teman sekelas yang telah berbaris di lapangan basket.

Yah, walaupun tidak terlambat, pada akhirnya aku akan tetap kena hukuman marathon Pak Kim. Dari pada berjalan memutari sepanjang gedung sekolah karena letak kantin dan lapangan yang ibarat dari sejauh Timur dari Barat ini, aku memutar lewat samping lapangan indoor melewati ruang janitor dan toilet.

Kantin begitu lengang waktu semua orang sedang belajar.

Aku mendekati salah satu petugas yang berseragam putih dengan topi kokinya.

“Permisi bi, apa ada karet atau pita yang bisa untuk mengikat rambut?”

“Oh, kau sedang pelajaran olah raga ya? Sebentar biar kucarikan.”

Bibi itu tersenyum ramah.

Aku duduk di salah satu bangku panjang kantin.

Bibi itu mendatangiku, aku pun berdiri.

“Sepertinya kami kehabisan karet, di bagian makanan ringan juga tidak ada, maaf ya nak.”

“Oh, gwaenchana(tidak apa) bi.” Aku membungkuk, kemana harus kucari pengikat rambut? Kenapa begitu dicari sulit sekali menemukan karet. Aku menyusuri koridor utama gedung sekolah, ingin ke ruang kesehatan dan mudah-mudahan saja ada sesuatu yang bisa dipakai untuk mengikat rambut merepotkan ini.

‘Cklek’

“Permisi!” Aku bertengger sambil memegangi handle pintu, menahan daun pintunya agar tidak terbuka lebar.

Kupikir tidak ada orang.

Aku masuk selangkah ke dalam.

Tanganku tapi malah tertarik ke belakang.

“Eh?” –> Kata yang keluar bila aku tidak tahu harus berkata apalagi.

“Kurasa ini bisa untuk mengikat rambutmu.”

Aku sadar kalau mulutku ternganga sekarang ini, dan Minho yang kulihat sedikit terengah, mungkin berlari, mendatangiku dan menyerahkan wristbandnya padaku, aku terlalu terkejut bahkan untuk merasa terkejut. à (?)

“Eh.”

Aku tak kunjung mengambil wristband itu dari tangan Minho yang terjulur padaku.

“Kenapa malah melihati tanganku?”

Dengan satu gerakan ia memutar tubuhku, sekarang aku membelakanginya.

Jari-jarinya menyentuh rambutku dengan sangat perlahan.

Apa yang dilakukannya?

Mengikat rambutku?

MINHO mengikat rambutku?

“Minho-shi, aku bisa melakukannya sendiri.” Aku memutar kembali badanku menghadapnya.

Rambutku yang berada di genggamannnya kembali buyar karena aku bergerak.

Sungguh, kenapa ia terus menatap mataku?

Badannya membungkuk, memajukan kepalanya, sebelah tangannya menangkup pipi kiriku sehingga aku menahan nafas, sementara ia terus memperkecil jarak di antara kami, hingga tidak ada semili pun space itu.

Tubuhku menegang, otakku terasa membeku, tidak sanggup untuk menyadarkan aku apa yang terjadi saat ini.

Untuk menutup mata pun aku tidak bisa. Suara detik jarum jam di dalam ruang kesehatan memenuhi kepalaku, waktu tidak berhenti, tapi tetap berjalan.

Aku benar-benar diam.

Kenapa aku diam saat ia menyentuh bibirku, sangat hati-hati dan begitu lembut, ia hanya menempelkan bibirnya, tanpa menekan, tanpa melumat, tidak ada komunikasi verbal, tapi seperti seperti sebuah pesan tersampaikan, aku tidak mengerti, tapi aku merasakannya.

“Maaf!”

Aku tak merespon. Aku masih berusaha mencerna semua ini, semuanya.

Ia terlihat mundur beberapa langkah dengan wajah yang tidak jelas aku lihat karena ia menunduk. Dan kemudian ia mengambil langkah yang panjang-panjang meninggalkan seorang gadis yang telah berubah seperti patung dengan pipi memerah.

Aku merosot pada pintu ruang kesehatan hingga terduduk di sana.

Semua campur aduk menjadi satu, aku terkejut, bingung, entah marah atau tidak, tapi, tapi, aku tidak tahu, aku merasakan sesuatu, yang sulit dijelaskan, mungkin seperti, seperti entahalah!

“Omona!”

Aku mengerang tidak jelas memukul-memukul kepalaku, membuktikan bahwa aku sedang dalam dunia nyata.

Mataku menemukan wristband abu-abu itu tergeletak di dekat ujung sepatuku.

Aku memang tidak berkhayal.

*

“Bagus, baru datang sekarang hah? Kenapa tidak sekalian membolos?”

Aku datang dengan kepala tertunduk, sudah pasti akan disemprot guru satu ini.

“Jwieoshong hamnida (Maafkan saya) songsaenim, tadi saya mencari ikat rambut.”

Aku menelan air ludahku saat menyebut kata ikat rambut, mengingatkan pada kejadian yang aneh tadi. Tak berani kuangkat kepalaku untuk melihat ke arah orang itu, yang berdiri sejajar denganku.

“Syarat utama untuk pelajaran olah raga adalah disiplin, berapa ratus kali harus kuulang-ulang? Seperti biasa, Lari 15 putaran, kalian berdua!”

Belum berlari pun kakiku sudah melemas membayangkan betapa luasnya lapangan itu.

“SEKARANG!”

Dengan bentakan bapak itu, aku yang tersentak refleks berlari pergi dari lapangan basket. Mengikuti seseorang yang telah melangkah mendahuluiku.

Gugup

Lebih dari yang biasanya. Menatap punggungnya yang bergerak semakin jauh ke depan itu pun aku jadi gugup.

“Aku harus apa sekarang!” eranganku hanya terdengar sebagai gumaman.

Aku menyeret langkahku dengan lelah, aku bahkan belum menyelesaikan satu putaran pun.

Derap langkah yang mendekat dapat kudengar, aku tahu itu miliknya. Aku menahan nafas saat ia menyalipku dari samping, aliran angin karenanya pun dapat kurasakan dengan jelas.

2 kali

3 kali

Ia terus melewatiku yang sangat lambat berlari ketimbang dia dengan langkah kakinya yang panjang.

Jantungku berdetak 3 kali lebih keras. Pertama karena kelelahan, kedua karena dia yang berjalan mendekatiku. Bodoh, kenapa harus berdebar seperti ini!!

Tujuh putaran akhirnya. Kakiku pegal sekali, dan masih sisa 8 putaran lagi.

Tertatih-tatih dan dengan nafas yang tinggal sepenggal aku menyeret kakiku.

“Haha, si kodok dihukum berlari, seharusnya kau melompat-lompat!”

Kuarahkan kepalaku ke asal suara teriakan yang berasal dari seberang lapangan sepak bola.

Itu kakak kelas, Lee Jinki dan ada Jonghyun di sana, juga beberapa gadis-gadis barbie-_-

Orang-orang itu bisa berada di pinggir lapangan, dugaanku bel pergantian satu jam pelajaran sudah berbunyi.

Aku melihat bagaimana Minho hanya melirik teman-temannya yang pasti dengan muka tidak senang.

Keringat mengalir dari pelipisku. Lelah sekali, tidak bohong, aku yang tidak pernah olahraga pasti tidak tahan, tapi Minho kan masih ikut klub basket, dan dengan latihan di sana yang berat, pasti hal seperti ini dia sudah biasa, sedikit menyesal kenapa dulu aku tidak jadi masuk klub.

Tanpa kusadari lagi-lagi, menahan nafas karena cowok itu yang memutar lapangan sudah hampir menyusulku.

Anginnya terasa menerpa tubuhku.

Harusnya aku mengatakan sesuatu.

Meminta maaf karena membuatnya ikut dihukum.

Atau mempertanyakan apa yang tadi itu.

Tapi manalah mungkin aku berani.

Ia, berhenti di dekat kerumunan teman-temannya, ia pasti telah menyelesaikan hukumannya.

Seorang gadis memberinya handuk kecil dan sebotol air minum. Dan Minho menerimanya sambil tersenyum.

Aku berlari sedikit lebih ke tengah saat melintasi sisi di mana Minho dan teman-temannya berada.

Aku melewati Minho yang tengah bersenda gurau dengan teman-temannya dengan diam. Teman-teman populernya yang kaya, cerdas, berbakat, atau apalah itu.

Kutatap rumput hijau yang membentang sepanjang lapangan.

Teringat kata-kata Seunhye dulu.

Aku hanya rumput liar, sepertinya memang begitu jika dibandingkan dengannya.

Terlalu berkutat dengan rumput-rumput hijau ini, hampir aku menabrak sosok yang tiba-tiba menghadang jalanku.

“Kita dipanggil songsaenim.”

Ia mendahuluiku.

Tapi kenapa kupu-kupu itu seolah tengah mendekati sang rumput liar? Dan membuatnya sedikit, berharap.

“Minho!”

Untuk yang pertama kali aku meneriakkan nama itu kepada pemiliknya langsung.

Ia berhenti, kemudian menghadapku.

Entah bagaimana tadi caranya aku bisa memanggil namanya seperti itu.

Kuberanikan diri menatap tepat ke matanya.

“Apa.. maksud yang tadi pagi?” akhirnya kalimat itu keluar.

Tidak ada jawaban.

Aku masih menatapnya intens, begitupun dia padaku. Dengan jarak kami yang hanya beberapa meter ini.

Suara desiran angin musim semi yang bertiup menggantikan kebisuan yang terjadi sekarang.

Jantungku berdetak, menunggu sebuah penjelasan dari bibirnya.

Aku takut aku hanya,

“Maaf, ta.. ”

Dan setelahnya terasa begitu sulit bagiku untuk mendengarnya.

*

“Tadi itu tidak sengaja. Mungkin aku terlalu terbawa suasana. Tolong anggap itu tidak pernah terjadi, karena itu tidak berarti apa-apa buatku. Aku harap kau tidak salah paham.”

“Kupu-kupu bodoh yang bermain dengan rumput.”

“Siapa yang bodoh?” Pintu menjeblak lebar dan muncullah makhluk bernama Choi Seunhye disana, tsk marganya Choi.

“Hyesu mana?” Aku bertanya hal lain alih-alih menanggapi pertanyaan Seunhye.

“Siapa yang bodoh?”

Dan Seunhye bukan tipe orang yang mudah dialihkan.

“Ah, kepalaku pusing, sebaiknya kau pulang saja sana.” Tubuhku merosot pada sandaran tempat tidur menjadi berbaring dan menarik selimut hingga ke kepala.

“Kau mengusir teman yang ingin menjenguk? Tiga hari tidak masuk padahal tampangmu sehat-sehat saja.”

Beban di tempat tidurku bertambah saat Seunhye naik ke atasnya.

Ia menyibak selimutku paksa.

Melihat mataku yang membengkak dan airmata yang tak mau berhenti.

“Eunkyung? Ada apa?”

“Aku hik bodoh hik sekali, orang sepertinya hik hanya akan mempermainkan orang hik seperti aku.”

*

Rotasi meja mingguan. AKu berdiri di depan kelas melihat kertas denah tempat duduk yang baru. Kurasakan seseorang juga berdiri di belakangku, aku berbalik, dan menemukan wajah yang paling kuhindari, walaupun dulu paling aku cari. Aku menggeser badanku ke samping dan beranjak pergi. Tempat duduk paling depan, dekat dengan guru. Kuletakkan tasku dengan gerakan sedikit membanting di meja, beberapa perhatian teman teralih padaku yang  sedikit menimbulkan suara berisik.

“Hey, kemana saja kau tiga hari ini?” Suzy datang ke tempat dudukku begitu menyadari kehadiranku di kelas.

“Hehe, hanya flu biasa.”

“Kau duduk dengan Dongho? Hati-hati ya, si playboy amatir itu akan sering menggodamu.”

“Siapa yang kau sebut playboy amatir?”

Dan sosok yang baru disebut Suzy muncul dengan bibir yang dimonyong-monyongkan.

“Kau, tuan mantan pacar!”

“Tsk, kau minta dicium ya?”

DUAGH

Tanpa segan Suzy menendang kaki Dongho.

Astaga keras sekali bunyinya.

“Auuuuuu!!”

“Dasar payah.”

“Nenek lampir gila!”

“Sudah, kalian balikan lagi saja!” seloroh Jonghyun yang langsung disambut pelototan Suzy.

Aku tersenyum, melihat tingkah mereka. Sayangnya hanya di bibir.

Aku tetap menangkap sosok Choi Minho yang berjalan menuju mejanya, dengan cepat kualihkan pandanganku.

Akan lebih baik jika tak melihatnya.

*

Seperti biasa berkumpul dan menonton film cengeng, kali ini di rumahku.

“Seharian tidak melihatmu di sekolah, dan kau memotong rambutmu sependek ini?” Teriak Seunhye dari dalam kamarku sebagai kata sambutan untukku yang sudah membawakan setumpuk camilan.

“Aku potong rambut sepulang sekolah.”

Hyesu masuk dengan nampan berisi softdrink.

“Aku bahkan menyangka salah rumah tadi.”

Nada dering ponsel Hyesu terdengar.

“Yoboseyo..”

Ia segera berlari keluar kamar.

“Kau seperti drama queen, mentang-mentang patah hati, rambutmu yang jadi korban.”

Kulempar tatapan membunuh dari kedua mataku, dan sama sekali tidak mempan untuk Seunhye.

“Cepat putar filmnya, kali ini kutemani kau menangis.”

“Teman-teman, aku harus pulang sekarang, ibu menyuruhku pulang.”

“Kenapa mendadak? Sesuatu terjadi?” Aku bertanya padanya yang tengah mengambil tas di atas ranjang.

“Entahlah, aku pulang dulu ya.” Hyesu terlihat sangat buru-buru.

“Perlu kuantar ke depan?”

“Tidak usah, kau temani saja Nona cengeng kita menangis.”

“Oh, ok.”

“Belajar melawak darimana kau Hye chan?” Seunhye berteriak sambil terus memperhatikan TV.

*

Aku duduk di halte paling dekat sekolah. Sudah masuk musim gugur, dedaunan menguning, dan berguguran menutupi jalan, menyerupai karpet.

Minhyuk berjaji menjemputku, katanya dia mau aku suruh-suruh apapun karena besok aku ulang tahun. Aku tahu, ini ada hubungannya dengan dia yang buang air sembarangan waktu hiking di mount sorak, dia pasti kesambet sesuatu.

Selama hantu itu berdampak positif untuk kelangsungan hidupku, maka aku terima-terima saja.

Sudah berapa bulan, sejak kejadian itu aku menghindar. Sebisa mungkin tidak bertemu maupun bertatap muka. Dan tidak ada pembicaraan lagi sejak saat itu.

“itu tidak berarti apa-apa buatku. Aku harap kau tidak salah paham.”

Aku memang naif.

‘Kresek’

Kepalaku menoleh. Orang itu menginjak setumpuk daun di dekat halte, orang yang paling tidak ingin aku temui.

Aku membuang mukaku, sementara ia juga kurasa tidak berniat mengambil tempat duduk di bangku panjang ini, ia berdiri tapi posisinya sebaris dengan deretan bangku.

Minhyuk kemana kau ini niat menjemputku tidak!

Hening. Hening. Hening.

Bunyi deruman mesin terdengar, bus hijau berhenti di depan halte.

Kukira ia akan segera naik, namun kenyataannya ia masih berdiri di tempat yang sama.

Bahkan hingga bus itu pergi dari sana.

Orang ini ngapain sebenarnya! Minhyuk cepatlah datang!

Masih hening. Juga tidak ada satupun orang selain kami di sini.

Hingga mobil semi sedan menepi di depan halte, supirnya turun dan membukakan pintu.

“Selamat ulang tahun!”

Jantungku berdetak lebih cepat, aku menoleh.

Tapi dia tak bereaksi, ia menatap lurus ke depan dan masuk ke dalam mobil, hingga mobil itu melaju tak lagi terjangkau oleh pandanganku,

Kenapa?

Aku tidak mengerti Choi Minho.

Tituituit

‘Kukyung! Aku tidak jadi jemput ya, Krystal minta ditemenin ke salon.’

ASDFGHJKL

*

“Eunkyung! Selamat ulang tahun ya!”

Aku terkantuk-kantuk membungkuk pada teman-teman sekelas yang memberi selamat. Kepalaku pusing sekali, kurang tidur.

“Oh iya, semalam aku ikut orangtuaku ke pesta pertunangan Minho dan Hyesu!” celetuk seorang.

Aku hampir jatuh ke lantai kalau tidak berpegangan pada meja.

Aku salah dengarkah?

“Hyesu benar-benar cantik, dan pestanya mewah sekali!”

“Tunggu, pertunangan siapa katamu?”

Suzy menjawabku.

“Minho dan Hyesu. Kau tidak tahu? Hyesu kan teman dekatmu?”

Hyesu? Minho? Bertunangan?

Suara-suara riuh itu tiba-tiba menghilang.

Sosok yang dibicarakan hadir di sana di ambang pintu.

Aku mengatur nafasku yang menyesak, sesak sekali dan tiba-tiba, karena air mata yang sejak tadi mati-matian kutahan agar tidak keluar.

“Minho, selamat  ya atas pertunangannya.”

“Minho-ya, jadi setelah lulus SMA, kau akan menikah langsung dengan Hyesu?”

“Minho, kenapa kesannya kalian terburu-buru sekali? Aku juga tak pernah melihatmu dan Hyesu bersama.”

Dapat kurasakan Minho berjalan ke arahku.

Kutata ekspresi wajahku, dan menatapnya.

“Hey, selamat ya!”

Kemudian aku berlari keluar kelas dan menangis di toilet.

Itu kata-kata terakhir yang bibi ucapkan padanya, di hari ulang tahun bibi, karena 1 minggu setelahnya bibi pindah ke Busan.

“Hiks. Bibi kasihan sekali hiks, paman dan teman bibi itu sangat jahat.” Rengek gadis kecil yang masih 4 tahun ini yang kusambut dengan anggukan persetujuan.

“Ya, Eunkyung-ah, hentikan ceritamu! Jangan meracuni pikiran polos anakku!” Kulempar senyum geli sebagai balasan pada  perempuan yang tengah sibuk merangkai bunga plastik di sofa ruang tengah.

“Kau membuat kami seolah-olah terlihat seperti orang jahat di depan Sumin!”

Aku tidak bisa menahan diri untuk tertawa saat laki-laki yang mendudukkan dirinya di samping perempuan tadi menyunggingkan senyum sinis padaku.

Aku memindahkan Sumin agar duduk di pangkuanku.

“Sumin mau tahu siapa paman dan bibi jahat itu?”

Sumin memutar badannya untuk melihatku dan mengangguk-angguk.

“Ya!” teriak sepasang perempuan dan laki-laki tadi berbarengan, mencegahku bicara lebih lanjut pastinya, tapi kuabaikan.

“Orang-orang jahat itu adalah dua orang yang duduk di hadapan kita!”

“Hah? Maksud bibi eomma adalah bibi jahat, dan paman jahatnya..”

“Hahahaha. Benar sekali.”

“Ish, eomma jahat sekali sama bibi, paman Minho juga! Kasihan bibi, masa mudanya tidak bahagia karena penghianatan cinta oleh eomma dan paman!” Aku semakin terbahak-bahak melihat Sumin yang melipat kedua tangannya di depan dada dan mengerucutkan bibirnya sambil memprotes ibunya sendiri.

“Ya! Eunkyung-ah, kenapa mengajari anakku kalimat-kalimat tadi, dia bahkan tidak mengerti artinya.”

“Sumin, bibi itu jangan didengarkan ya, dia lagi stres mau menikah.” Kali ini laki-laki itu, Minho, mendekatiku sambil berlutut dan menggendong Sumin dari pangkuanku.

Masih berlutut, dan memeluk Sumin, badannya ia condongkan ke arahku, tangan kirinya menarik tengkukku, nafas Minho mulai terasa hangat menerpa wajahku, dan aku mulai menutup mata.

“YAYAYA!! Jangan berciuman di depan anakku!”

.:END:.

Epilog

“Katanya Onew host acara orientasi, aku mau lihat apalagi lelucon tak nyambungnya kali ini, ayo masuk!”

Jonghyun dan Taemin berjalan lebih dulu, aku mengikuti mereka.

“Ambil tempat duduk depan saja ya, aku mau lihat Onew Hyung!”

“Aku ikut saja.”

Taemin benar-benar mencari tempat duduk di depan. Kami di deretan terdepan dan tepat berhadapan dengan panggung.

“Selamat siang semuanya!”

“SELAMAT SIANG SUNBAE!” ini membuatku sakit kuping.

“Semuanya semangat sekali! Kalau begitu saya akan memperkenalkan diri saya Lee Jinki dan yang disamping saya yang agak cantik ini Kim Heechul kami..”

“Apa maksudmu dengan kata agak cantik Lee Jinki? Aku ini sangat cantik!”

Apa-apaan orang-orang ini?-_-

“Abaikan saja orang sok cantik ini adik-adik.”

“Jika ada yang harus diabaikan maka itu adalah anak juragan tahu ini. Jangan mempermalukanku di depan adik-adik kelas yang masih polos ini! Kau menjatuhkan pamorku tahu!”

“Apa itu pamor? Apa itu sejenis kue dari ubi?”

“Hahaha.” Aku tahu Onew hyung bego, tapi aku tak tahu kalau dia seidiot ini.

Ekor mataku menangkap sesuatu, seperti ada yang memperhatikan. Aku menoleh ke kanan, seorang calon siswa perempuan tertangkap basah tengah melihatiku.

Begitu kutatap balik, ia memalingkan mukanya. Kenapa dia?

Anak itu dengan kakunya duduk menyamping ke kanan, sesekali meregangkan otot lehernya samar-samar kudengar teman di sebelahnya mengomel karena ia duduk miring-miring teman perempuannya itu jadi merasa sempit, segitu malunya ketahuan melihatiku? Dasar bodoh.

*

‘Bruk’

Seseorang berbalik tiba-tiba, menubruk Taemin yang tengah memegang nampan makanan.

“Maafkan aku!” Gadis yang di aula. Aku menahan senyumku melihatnya yang begitu panik dan membungkuk terus-terusan.

“Tsk, kalau begini tidak bisa dimakan lagi.” Taemin yang dari jam pertama mengeluh lapar wajar jadi kesal.

“Biar aku belikan lagi makan siangnya.”

“Ambil punyaku saja, aku tidak lapar.” Kusodorkan nampanku pada Taemin, aku pasti terlihat seperti pahlawan di depan gadis itu sekarang. Hahaha.

“Tidak apa-apa?” Tanya Taemin ragu.

“Iya.”

Taemin meletakkan nampan makanannya dan kami menyusul Jonghyun dan Onew yang sudah mengambil tempat duduk.

“Taemin-ah! Rotimu untukku ya!”

“Ya!”

“Ah, diamlah kan bekalku sudah kuberikan.”

“Tsk, tadi sok keren di depan cewek itu, ujung-ujungnya tak mau rugi.” Taemin sewot

“Memang bekal Taemin kemana?” Onew membuka suara ditengah kegiatan mengunyah makanan.

“Aku ditabrak cewek, tehnya tumpah ke nasi, dan Minho sok cool ini memberi jatah makan siangnya padaku.”

“Ehem Minho, sekarang udah ngerti perempuan ya, orangnya yang mana? Tumben sekali Minho kita begini.”

Aku tersenyum kecut.

Taemin menunjuk-nunjuk cewek yang duduk hanya selang berapa meja dari kami, tapi tangannya segera kusergah.

“Apaan sih?”

“Tak usah tunjuk terang-terangan bisa kan? Nanti dia lihat ke sini lalu kegeeran.”

Jonghyun dan Onew bertukar pandang, dan tersenyum penuh arti.

“Ini lagi, kenapa muka kalian mesum begitu!”

“Muka ganteng gini dibilang mesum!” protes Jonghyun.

“Aku sih ganteng, kau yang mesum Jjong.” Sambar Onew.

“Sesama mesum dilarang saling menjelekkan.” Taemin cengengesan.

“Jangan sok polos Taemin, history browsermu kemarin isinya aneh-aneh.”

Orang-orang ini terus berceloteh, tapi mataku masih mencuri pandang ke arah gadis itu.

“Namanya siapa?”

Ketiga temanku ini berhenti dari kegiatan debat tiba-tiba, sekarang memandangiku, dan ini membuatku merinding.

“Aku masih normal, jangan samakan aku dengan kalian!”

“Teman kita yang satu ini sedang jatuh cinta.” Jonghyun berpose lebay ala detektif.

Onew manggut-manggut.

“Sudahlah tidak jadi.” Aku membuka bungkusan roti rampokan dari Taemin, hendak makan.

“Yakin tidak jadi mau tahu?” Yang aku benci ketika Taemin mulai bicara dengan nada centilnya. Ia membuatku sakit kuping.

“Diamlah.”

“Yang mana sih Taem?” Onew berdiri dan bergaya seolah mencari-cari di kejauhan dengan tangan kanannya yang seperti menghalau cahaya silau.

“Itu, yang duduk bertiga dengan teman-temannya. Yang rambutnya kuncir ekor kuda!”

“Oh, itu! Itu kan..” Jonghyun menggantungkan kalimatnya.

“Itu kan..”

“Itu kan..”

Ketiga orang idiot ini memandangiku lagi, sengaja melihat responku.

“Jangan menyangka kalau aku penasaran dengan namanya.” Kugigit rotiku acuh. Pura-pura acuh sih.

“Seo Eunkyung, satu kelas denganku.” Ujar Jjong akhirnya.

Seo Eunkyung ya.

“Teman kita sedang mengukir nama gadis itu di hatinya agar tidak lupa, lihat wajah bodohnya tersenyum-senyum sendiri.”

Aku memasang muka datarku, aku tidak sadara kalau tadi tersenyum, serius.

“Tak kusangka Minho yang pendiam, jadi manis kalau jatuh cinta.”

“Onew, kata-katamu menjijikkan.”

“Aku anggap pujian Minho.”

*

“Minho, ibu harus menyusul ayahmu ke Jepang, kau baik-baik di rumah ya.”

Mataku tidak lepas dari jendela mobil.

Hari ini, terima laporan nilai, aku dapat peringkat pertama. Hari ini pun aku juga berulang tahun. Tapi orang tua yang sibuk mencari uang ini sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata basa-basi selamat atau apa. Ya ampun.

Sesosok gadis berjalan di depan rumah. Posturnya, rambutnya, dan aku sudah hafal. Gadis ini.

Aku diturunkan di depan pagar rumah. Haruskah ak menegurnya, tidak.

Tapi kami tidak saling kenal.

Tapi ini kesempatan kan?

Baiklah.

Aku berjalan ke arahnya, ia berhenti melangkah, dan melihati aku sekarang.

Cuaca dingin, dan ini aneh untukku karena aku berkeringat. Beberapa langkah lagi, hingga aku benar-benar berada tepat di hadapannya. Tapi pandangan gadis itu membuatku tidak tahan. Kurang lebih 3 meter lagi.

Tidak, aku menyerah. Aku membelok tepat di hadapannya, di dekat tong sampah, dan aku membuang satu-satunya benda yang aku pegang ke dalamnya, aku tidak tahu harus apa!

Aku kembali menuju rumah. Dasar bodoh. Menyapa seorang gadis saja tidak becus. Padahal semua pelajaran nilaimu sempurna di rapor. Rapor!

Dengan tergesa aku berjalan ke tong sampah. Gadis itu membuka rapornya! Jangan sampai melihat fotoku, foto dengan rambut klimis itu memalukan.

“Kau itu pemulung ya, mengambil sampah dari rumah orang.”

Aish, bodoh kata-katamu kenapa begitu kasar.

“Kau kan sudah membuangnya.”

Matanya, berkaca-kaca, ya ampun Minho, kau ini laki-laki macam apa, kau membuat seorang gadis terluka.

Aku meninggalkannya ke rumah. Begitu masuk dalam pagar, kuacak-acak rambutku tidak tahu kenapa, tapi rasanya aku campur aduk.

Gadis ini mengobrak abrik hatiku! -__- #eaaa Minho.

 

END yang bener-bener END

Advertisements

17 thoughts on “Bittersweet

  1. Yah kenapa ga dibuat twoshoot aja?

    Ga ketauan deh itu napa pertunangannya batal?
    Suka karna ada Minho vers nya.
    Cuma pas dari masa lalu ke masa sekrg nya aga bingung tadi. Ga ada pembatasnya..fufu.

    Meski beberapa typo.. Ini bagus.. Ringan bgt buat dibaca

    • biarkan pembaca berimajinasi sendiri untuk menyambung ceritanya –> bilang aja males
      iya, itu kan ceritanya si eunkyung lagi cerita sama anaknya hyesu, jadi ga pake petunjuk flashback.

      ah, typo ya, sowwy, aku ga baca ulang pas ngepostnya, tengs ya ren udah mampir lagi \*_*/

  2. IRIIIIIN BUAHAHAHAHHAHA
    udah shock aja ada akang di situ. hubungan dia sama krystal putus ga? aku siap menampung hati pilunya lahir bathin

    OOT

    suka rin!!!!!! kehidupan remaja banget. ada leluconnya pula. ternyata pak choi juga suka. gitu tuh kalo malu-malu, 3 tahun bisanya natap-natap doang.

    eh aku bingung yg pas mereka dihukum lari. kan udah kelas 3, kenapa masih ada kakak kelas lagi -dubu? trus typo tuh, pasti menghayati (?) peran jadi lupa kalo ganti marga kang xD
    trus sempet aku bingung (ntah krn aku baca lwt hape atau gmn), pas bagian pertunangan tiba tiba langsung bibi-paman segala. aku bingung awalnya. ternyata itu lagi ngedongeng toh xD tapi itu kisah beneran ga??? trus abis pertunangan itu gimana???

    (maafkan reader imbisil yg satu ini)

  3. Ga terima end seenaknya!! #maksa
    Itu jadi hyesu nikah sama siapa?
    Kok hyesu udah punya anak tapi minho sama eunkyung nya belum nikah??gantung ini.pov dari minho doang ditambah.

    • paksaan ditolak dengan paksa *kicked*
      hyesu nikah sama orang yang saya juga gatau siapa
      hyesu ngebet nikah, kalo minho sama eunkyung menikmati masa pacaran
      akunya males nambah pov minho *iket di rel*
      hehehehe.. thankyou ya udah manggil lagi, kenalan boleh, irine imnida 16 mau 17

  4. Kyyaaaaaaaaaaaaa
    nice avaaaaaa
    ga ad kekurangan sih. cukup memanjakan hati temanmu yg sedang patah ini…

    Cuku kurang satu hal. aku mau tau bnyk aoal minho! soal ikat rambut, poppo, ucapan slmt ultah, dan pertunangan!!bkin sequel nya!!!

    (kalo dak mau, boleh aku yg buat? aku sdh ado
    gambaran ni… lagian kan ak ud janji mau bkinin kw ff yg idak terealisasi hingga saat ini..wkwkwkw i think i lost my writing skill!)

  5. IRIIIINNNN!!! I read it and so much faaaalllll in love with this forever fluffy story!!! well, that was obvious klo itu pengalaman pribadi, ap lg yg di bagian awal hahahaha
    aku suka cara kau bikin kiasan, simple but right to the point! Aku suka karakter eunkyung disini. so much alike to the writer :p sm karakter hyesu & seunhye jg. they remind me to some ppl.
    and the way u wrote the kissing scene, THAT’S SO TOUCHING!! tbh rin, ak merinding haha..u shud write scene like this more. it will help ur writing skill enhancing. trust me :p
    but, ak rada bingung yg pas bgian akhir. idk but i think itu msh rada mendadak & sadly the epilogue hasn’t explained clearly about the last part.

    Overall, I LOVE LOVE LOVE THIS!! you have this talent to write such a fluffy love story haha.. keep on writing yo!! look forward for ur other stories while i’m gonna read the rest of ur stories hahah

    • owo!!!!
      don’t remind me about that kissing scene description sis >__>
      iya, bagian akhir itu gagal sekali, segera diedit lah, kalo epilog sih, rencana awal itu mau dijelasin gimana batalnya engagement pakchoi sama hyesu, tapi malah jadi absurd, melenceng sekali, dak jelas lah sis, makanya aku hapus lagi. hohoho
      i have warned you not to read this, but, at last, thanks a bunch for da compliment. it cheers me so much hehehe, you’re way more talented than me!!
      no no! don’t read the others!!!!!

  6. Rin.. Kenapa gak dijelaskan minho hyesu batal kawin?
    Ini membuat pembaca bertanya2 dan itu sangat berbahaya (?)

    overall KEREN BANGET RINNNN… d(‘.’)b
    Top daaah

  7. Pingback: [Fanfiction/Oneshot] The Sweetest « Country Chokyulate

  8. Aduh, saya suka cerita2 so swit kayak gini, bikin mesem2…
    Tapi kok endingnya saya ga ngerti =3=

    Udah sakit hati karna si Minho jadi tunangan sama sahabatnya, tapi tiba2 ada Sumin tuh anaknya Hyesu. Loh, jadi ini teh cerita toh? Hahaha. Ga ada info2 dulu nih, ato dibedain tulisannya ato gimana gitu, hehehe.

    Jadi intinya kenapa Minho bisa balik lagi sama Eunkyung? Bingunnggg @_@

    Tapi overall aku suka cerita fluffy pas sekolahnya ><

    Lagi hiatus ya? Ditunggu karya2nya selanjutnya yaaaa~

    • wahahah, langsung main kesini aja onn.

      sayangnya onnie, baca ff yang salah. ini cerita absurd, aneh, bin geje, benar2 mewakili yang nulis, gak jelas!!

      itu sebenernya sengaja gapake tanda flashback atau apalah, kenapa? karna aku pengen *lempar kulkas*

      inti kenapa pakchoi bisa balikan sama eunkyung? PELIS! jangan nanya, karna aku sendiri ga nyampe mikir ke situ —> *boleh ditendang ke korea*

      hehe, thankyou onnie, iya semi hiatus sih. makasih kunjungannya onnie.

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s