Just A Gift To..

Cast: Choi Seunhye, Cho Kyuhyun, Seo Eunkyung

Genre: Romance

Rating: PG

Length: Ficlet

Hampir setiap menit mataku terus mencuri pandang ke arah dinding paling belakang ruangan lab komputer. Jika aku diberi pilihan untuk memiliki satu kekuatan seperti tokoh di film anime, maka aku sangat ingin memiliki kemampuan ilusi waktu, tentu saja untuk membuat jarum detik berputar 100 kali lebih cepat dari semula agar aku bisa segera keluar dari penjara kolestrol ini.

Teeet.

Wajah penuh sukacita terpancar hampir pada setiap siswa di ruang ini. Setelah mematikan layar LCD monitor aku menaikkan tali tas punggung ke pundakku dan segera berjalan ke luar. Aku berjalan menunduk memperhatikan langkah kakiku yang menuruni anak tangga satu per satu, namun di undakan terakhir aku sepasang sepatu yang menghalangi jalanku, begitu aku menggeser badanku ke kanan, orang tersebut melakukan hal yang sama. Aku bergeser ke kiri, ia pun masih mengikutinya, dengan enggan aku mendongakkan kepalaku untuk melihat siapa pemilik sepatu kets abu-abu yang sedikit mencari masalah denganku ini.

“Hai nona Choi!”

“Menyingkir bodoh, atau kakimu remuk!”

“Kau lupa ini hari apa?”

“Kau tidak mengerti apa makna dari kata ‘menyingkir’?”

“Tsk, arraseo!” Kyuhyun menggeser badannya dari hadapanku dengan posisi menyamping, begitu ia melakukannya, aku pun menyelesaikan undakan terakhir tangga dan melanjutkan perjalanan menuju pelataran parkir yang tertunda. Sudah kuduga jika cowok itu mengikutiku dari belakang.

“Apa kau benar-benar lupa hari apa ini?” aku mendengarnya kembali membuka suara sambil tetap berjalan di belakangku.

“Aku tidak mungkin lupa.”

Tidak melihat pun dapat kurasakan ia tengah tersenyum lebar sekarang.

“Kajja, jangan sia-siakan waktu pada hari yang hanya datang satu tahun sekali.” Kyuhyun yang kukira masih berjarak beberapa langkah di belakangku entah sejak kapan ia berada di sampingku, tanganku yang menggantung bebas tiba-tiba sudah berada dalam genggamannya, sedikit menarikku ia berjalan dengan langkah lebar-lebar lebih ke depan daripada aku, terpaksa aku berlari kecil karena tanganku yang tak ia lepaskan.

Ia tidak tahu kalau genggaman tangannya membuatku seperti tersengat listrik.

“Pelan-pelan!!!!”

*

“Kita mau kemana?”

Aku menepuk jidatku.

“Apa yang ada di otakmu tuan? Kau menarik-narik aku dari sekolah hingga ke tempat ini, tapi sekarang kau bertanya padaku mau ke mana?”

Kyuhyun menggaruk kepalanya.

“Kau lebih tahu nona, ah ke sana saja!” aku membiarkan jarinya kembali bertaut dengan jari-jariku, ia menarikku lagi dengan tergesa.

Kami berhenti di depan etalase toko yang tadi ditunjuknya.

‘THE LADIES’

Begitu tulisan yang tertera di plang nama toko.

‘PLETAK’

Kupukul kepalanya dengan tas sekolahku dan kutinggalkan ia di depan etalase.

“Mana kutahu itu toko pakaian dalam perempuan, tunggu aku! YA!”

Cukup mudah baginya dengan tinggi badan seperti itu untuk menjejeri langkahku. Ia merangkul ke dua bahuku dari belakang

“Kita ke toko yang itu saja!”

Kyuhyun mendorongku, memaksa agar aku berjalan ke arah toko yang berjarak tidak terlalu jauh dari tempat kami berdiri.

Aku menghentikan langkahku tepat di depan toko.

“Ini boutique mahal.” Bisikku.

“Aku orang kaya nona, jangan khawatir.” Kyuhyun menarik kedua sudut bibirnya, seperti tersenyum, tapi tidak tersenyum, ia menyeringai. Lagi, ia membuat jantungku tidak bisa berkerja normal.

“Haruskah aku menarikmu terus seperti anak anjing?”

Aku menyentak tanganku dari genggamannya ketika menyadari sepenuhnya ucapan yang baru saja terlontar dari cowok itu. Aku melangkah duluan memasuki toko.

“Dasar tukang ngambek.”

Aku membalas salam penjaga toko alih-alih mengabaikan gerutuannya.

“Ada yang bisa dibantu?”

“Carikan baju yang pas untuk orang ini!” Kyuhyun mendorongku ke depan sambil mengatakannya.

Aku menatapnya tidak senang.

Gadis penjaga toko yang terlihat mengenakan kemeja putih serta rok span dan rambut yang digulung itu mengamatiku sejenak.

“Kau punya tubuh yang bagus nona.” Entah memuji atau menyindirku, aku hanya menyengir salah tingkah. Bagus apanya, dengan tinggi 171 cm begini laki-laki sudah minder duluan untuk mendekatiku. Aku melirik ke arah Kyuhyun untuk melihat apa reaksinya, tapi ia tidak begitu mendengarkan ucapan penjaga toko itu sepertinya sejak ia sibuk dengan manequin di etalase toko.

“Ayo ikut saya ke dalam!” Penjaga tokonya berjalan mendahuluiku memasuki bagian toko lebih dalam setelah memberi isyarat agar aku mengikutinya.

Aku tidak suka belanja. Tapi saat melihat begitu banyaknya gaun terusan yang begitu berkilau dan indah di tempat ini, tak bisa kubantah kalau naluri shopping itu ada pada setiap perempuan. Hahaha.

Nona penjaga toko itu mulai mengeluarkan barang dagangannya.

“Ini koleksi terbaru kami, baru datang minggu lalu dari Paris..”

Aku menahan agar mataku tidak terlihat begitu melotot saat mendengar kata Paris. Kulihat  gaun terusan yang menurutku tidak ada istimewanya itu.

“… Ini limited edition nona, perancangnya hanya  membuat 10 lembar di seluruh dunia.”

Terasa agak susah menelan air ludahku sendiri, kusentuh gaun itu dengan jari-jariku sendiri untuk merasakan bagaimana bahan gaun limited edition ini. Halus memang, tapi aku tak bisa menemukan perbedaannya dengan gaun yang eomma belikan di pasar grosir, atau aku yang memang memiliki pengetahuan menyedihkan di dunia fashion.

“Apa ada yang lain?”

Sebelum mendengar nona itu menyebutkan jumlah harga yang fantastis untuk sepotong terusan, aku menyela terlebih dahulu.

“Ehm, tentu saja.” Nona itu memasukkan kembali gaunnya ke dalam lemari yang dilapisi kaca.

“Gaun ini dari sutra cina asli, bisa rasakan sendiri halusnya.” Aku melihatnya sejenak, kemudian menggeleng.

“Sudah dapat?” Kyuhyun entah muncul dari mana begitu saja berbicara di sampingku.

“Belum.” Jawabku singkat.

“Kenapa perempuan selalu butuh waktu lama untuk memilih sepotong baju? Nona, keluarkan semua koleksi yang paling mahal!”

Aku mendelik pada Kyuhyun.

“Baiklah, tunggu sebentar tuan.”

“Kau pikir berapa harga baju di sini? Sepotong gaun mungkin setara dengan uang sekolahmu satu semester.” Cecarku begitu pelayan toko menghilang ke dalam.

Kyuhyun merendahkan tubuhnya hingga tinggi kami setara, kepalanya digeser ke samping, tubuhku menegang ketika hembusan nafasnya terasa jelas di telingaku.

“Yang beli kan aku, kenapa kau yang repot? Cukup pilih satu yang menurutmu bagus dan kita pergi dari sini.”

Aku memasang muka kesal sementara ia terlihat biasa saja saat melihat pelayan toko telah kembali dibantu dengan seorang lagi yang membawakan setumpuk pakaian.

“Coba semuanya!” perintah Kyuhyun.

Ya, aku tahu, dia memang menyebalkan.

Dengan sengaja tas sekolah yang aku gendong sejak tadi kulempar dengan keras ke arahnya.

Ia menangkapnya sambil tersenyum-senyum tidak jelas.

“Kamar pasnya di sebelah sini nona.” Aku mengikuti pelayan toko itu lagi.

Aku mengambil selembar gaun paling pinggir dari tumpukan gaun di tangan nona itu.

Setelah menghilang beberapa menit di dalam kamar pas, aku keluar lagi dan bertanya pada nona tersebut.

“Bagaimana?”

Terlihat ia berpikir sejenak, dan di saat nona pelayan itu menggeleng, Kyuhyun berseru sambil berjalan mendekat.

“Jelek.”

Aku melempar pedang dari tatapan mataku berharap bisa memotong-motongnya menjadi beberapa bagian.

Nona itu tersenyum padaku sambil menyerahkan sepotong gaun lagi.

“Pacarmu punya selera yang bagus.” Bisiknya, aku memaksakan satu cengiran dan kembali menghilang di balik pintu kamar pas.

“Yang ini?” Begitu keluar, aku bisa melihat Kyuhyun tengah memilah-milah gaun yang telah dikumpulkan oleh pelayan toko itu untuk kucoba. Jika bisa membelinya sendiri kenapa ia harus mengajak aku.>__>

Aku merasa gaun ini tidak terlalu buruk, dress biru agak tua yang jatuh sejengkal di atas lutut dengan lengan tanggung dan leher sempit.

Kyuhyun mengangkat pandangannya kepadaku.

Ia menggeleng dan kembali berkutat pada beberapa gaun di tangannya.

Aku menghela nafasku berusaha sabar.

Aku mengambil sebuah gaun lagi. Sebuah terusan panjang bertali satu.

Cukup simple memakainya, hingga aku tidak terlalu berlama-lama di dalam kamar pas.

“Kalau yang ini?”

“Dari mana kau dapatkan daster itu?” Pelayan toko itu tersenyum geli melihat Kyuhyun yang sekarang menarik-narik gaunku.

“Apa yang kau lakukan hah?”

“Hanya membayangkan kalau kau memakai bantalan di perutmu maka kau persis seperti ibu-ibu hamil tua.” Tidak tahu maksudnya mau bercanda atau apa anak satu ini memang kurang ajar.

“Aku hanya bercanda, jangan ngambek nona tukang ngambek!” Ia mendorong sebuah gaun ke arahku.

“Coba yang ini.”

Tanpa banyak bicara aku mengambil gaun itu dan segera mengepasnya. Baru beberapa lembar namun melepas-pasang baju itu membuat aku capek juga.

Aku menarik resletingnya di bagian punggung dengan sedikit susah. Kemudian aku langsung bergegas keluar dari ruangan dengan cermin besar ini. Kalau biasanya kamar pas itu hanya sebuah bilik kecil yang sesak, maka ruangan ini bisa 3 kali besarnya dari kamar pas biasa. Boutique mahal memang lain.

Aku tidak mengucapkan apa pun saat keluar, mendengar pintu yang aku buka mereka pasti sadar kalau aku telah keluar.

Ketika aku melangkah dari dalam kamar ganti, mataku langsung mencari-cari Kyuhyun, selalu seperti ini, aku tidak mengerti kenapa, tetapi kemana pun Kyuhyun mataku selalu mencarinya.

Ia tersenyum, matanya menatap mataku dengan senyum. Ia berjalan dua langkah hingga berhenti tepat di depanku.

“Yang ini saja, cantik.” Ujarnya lagi, masih sambil tersenyum.

“Ehm, akhirnya selesai juga!” Aku berbalik badan, menutupi rasa gugupku. Aku bergegas bertukar pakaian.

Kuserahkan gaun itu pada nona pelayan toko.

“Sudah kubilang kan, seleranya bagus. Sundress ini terlihat sangat pas denganmu.”

Kutanggapi dengan satu senyuman, entah apa masih bisa disebut senyuman.

Kyuhyun melakukan transaksi pembayaran sementara aku menunggu di depan toko sambil memegangi paper bag berisi gaun tadi.

“Mahal sekali, minta diskon pelajar saja tidak bisa!” Gerutu Kyuhyun sesaat setelah keluar dari dalam boutique.

“Tsk, katanya orang kaya!” Aku mengatakannya dengan penekanan yang berlebihan berharap kata-kata itu terdengar sangat sinis karena lagaknya yang sombong setengah mati saat baru datang ke boutique tadi.

“Biarlah. Tak apa. Ayo pulang!” Kyuhyun menarik tanganku memaksaku berjalan untuk mengikuti langkahnya yang panjang-panjang.

‘Tes’

‘Tes’

“Air apa ini?” Kyuhyun mendongak ke langit sedangkan aku justru menunduk ke bawah.

“Langitnya mendung, berlari lebih cepat!” Genggaman tangan Kyuhyun mengerat, kami berlari-lari di bawah tetesan air hujan yang masih jarang-jarang, namun semakin menderas yang turun bersama tetesan air lainnya.

Kami sampai di halte, hampir kehujanan kalau sebentar saja kami terlambat sampai ke sini.

“Kalau larimu lelet mungkin kita sudah basah kuyup sekarang.”

Kyuhyun mengikuti aku duduk di bangku halte yang masih kosong.

“Lap dengan ini, wajahmu basah.” Kyuhyun memberikan sapu tangannya padaku.

Aku menerimanya dalam diam. Keadaan juga hening kecuali suara terpaan air yang menghantam atap halte bus ini.

“Seunhye-ya, selamat ulang tahun!”

Aku menoleh, kembali mendapati wajahnya tersenyum lagi.

“Terima kasih juga sudah menemaniku membelikan kado untuk Eunkyung, kau pun carilah pacar, supaya ada yang memberimu kado juga.” Ia mengacak rambutku, dan kutepis dengan kasar.

“Tsk, bilang saja tidak punya uang lagi untuk membelikan sahabatmu ini hadiah, dasar, ngakunya orang kaya.”

“Hehe, salahkan ulang tahunmu yang bersamaan dengan pacarku, anggaranku kan terbatas.”

Dengungan mesin bus besar terdengar semakin jelas. Bus itu kini berhenti di depan halte.

“Sudah sana pergi, busmu sudah datang.” Aku mendorongnya berdiri.

“Tidak apa kutinggal duluan?”

“Tsk, aku tidak mau disalahkan kalau acaramu dan Eunkyung batal, sana hus-hus!” aku menyerahkan paper bag yang kupangku sejak duduk di halte padanya.

“Aku pulang duluan, kau juga langsung pulang begitu busmu datang, jangan kelayapan sendirian!”

“Ne eomma, sudah sana!”

Ia memasuki bus dan duduk di sisi yang menghadap ke arah halte. Kyuhyun tersenyum sangat lebar sambil melambai padaku hingga busnya berlalu. Bersamaan dengan itu, lelehan air mata semakin deras menuruni pipiku sudah tak terbendung lagi, saputangan milik Kyuhyun kugenggam dengan erat, karena begitu sesaknya dadaku. Pada kenyataannya, ia, Cho Kyuhyun meminta seorang gadis yang mencintainya memilih kado untuk gadis yang dicintainya, tepat ketika kedua gadis itu berulang tahun di hari yang sama.

.:END:.

Hahahaha.

Kagak berasa angstnya *acak rambut*

Gagal sudah misi balas dendam saya pada teman yang membuatkan ff Just A Pen To

Maafkan segala typo dan kalimat yang gak nyambung karena ff ini tidak dibaca ulang.

Komentar dalam bentuk apapun ditunggu dengan amat sangat. 😀

Advertisements

10 thoughts on “Just A Gift To..

  1. Hai.. 🙂
    Hehehe
    Bagus kok ceritanya… Bener2 kerasa ‘ngenes’ pas endingnya..
    Kyuuu ur so evil!! >.< Kekeke

  2. *annyeong, reader baru. Salam kenal :)*
    di awal2. Aku kira mereka pacaran. Tapi, baca ending.nya.
    Suer. Itu nyesek banget!, huwoo hampir mewek sya bca endingnya. Ceritanya bgus. Endingnya kejutan bget*hoah*

  3. Bagus banget, eonnie! Awalnya aku berpikir betapa senangnya jadi cewek yang diajak Kyuhyun ke boutique itu, tapi tahunya dia…. Ahhh! Kenapa harus sad ending, eonn? Aku suka Angst yang happy ending *nggak ada yg nanya*
    Oke, eonn, keep writing~ ^^

  4. ya tuhan aku ketipu -,-” aku kira seunhye ceweknya kyu huhuhu kalo kyu niatnya beliin buat eunkyung kenapa seunhye yg suruh coba bajunya T.T sediiiih. beneran langsung kaget aku waktu baca bagain ending. kereeen! unpredictable!
    btw salam kenal author! 6^^

    • kenapa kyu nyuruh seunhye nemenin dia, karna saya mau buat seunhye tersiksa! hahaaha
      unpredictable ya? asiik!!
      hahaha
      salam kenal juga. thankyou udah mampir 😀

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s