OMO! part 2b

Title: OMO! Cast: Lee Jinki, Lee Sungyeol, Kim Hyeli Other: Keluarga Kim, Victoria Song, Lee Taemin, some others Rating: PG Length: Series Genre: AU–> genre mengarang bebas , family Poster: Felisa. Gomawo cintah 😀 😀 Part 2b Hyeli dan Sungyeol berjalan beriringan hingga sampai ke kelas, walaupun kata yang disebut berjalan bagi Sungyeol harus disamakan dengan berlari-lari kecil bagi Hyeli. “Ahh, kukira aku akan telat!!” seru Hyeli begitu memutar kenop pintu dan ia tak mendapati seorang pun berdiri atau duduk di belakang meja kebesaran guru. Begitu mendengar suara yang sudah dihafalkannya dengan baik-baik Jinki menoleh dari ponselnya. Sosok gadis yang sejak ia menginjakkan kakinya ke dalam kelas sudah menyita perhatiannya, karena tak biasanya gadis itu belum datang setelah ia sampai ke sekolah. “Harusnya aku yang bilang begitu!” Seru satu suara lain, milik Lee Sungyeol dengan mencibir pada Hyeli. Jinki kembali melirik ke ponsel yang dimainkannya di bawah meja saat melihat Hyeli mengitarkan pandangan ke sekitar. Bangku dan meja yang tersisa hanya tinggal sepasang, di pojokan kelas. Tempat duduk langganan Sungyeol, sementara Sungyeol telah menduduki bangku kesayangannya, Hyeli merasa ia tidak punya pilihan selain duduk di bangku terbelakang itu. Bel berbunyi ketika Hyeli baru menghempas dirinya ke bangku kelas. “Selamat pagi!” koar guru perempuan muda bermarga Song dengan dandanan simple dan terkesan berantakan ini. “NE SONGSAENIM!” “NE YEPPO SONGSAENIM!” sekelas(yang berjenis kelamin laki-laki) kompak membalas. “Astaga, haruskah kuingatkan kalau aku hanya 2 tahun dan 3 tahun umur korea lebih tua dari kalian setiap aku masuk ke kelas ini?” ceramah gadis itu dengan mengacung-acungkan penghapus papan tulis yang entah kapan telah berada di tangannya. “Oke, abaikan. Berapa jumlah murid di kelas ini?” “21 noona!” ujar seorang siswa cowok. “Ara, kalau begitu dibagi jadi 2, eh 4, atau  6, atau siapa yang tahu 21 dibagi berapa saja supaya hasilnya bulat?” guru muda bernama  lengkap Victoria Song itu membuat setengah dari penghuni kelas membenturkan kepala ke meja. “Dibagi 3 atau 7 onnie!” Hyeli menjawab setengah berteriak. “Oke, terimakasih bantuannya murid entah siapa namamu.” Hyeli manyun, gondok, mengingat Vic onnienya itu tinggal hanya berjarak satu blok dari rumahnya, hingga hampir tiap sore Hyeli menyapanya yang sedang mengangkat jemuran, bahkan tidak mengetahui namanya. “Bentuk kelompok masing-masing 3 orang, aransemen lagu pop, dianjurkan lagu-lagu f(x) saja karena lagunya keren-keren, membernya juga oke-oke, apalagi leadernya yang cantik luar binasa itu. Minggu selanjutnya langsung tampil ya. Ah ada pertanyaan?” “Onnie, aku..” “Baiklah kalau tidak ada yang mau tanya.” Serobot Vic menghiraukan seorang gadis bernama Kim Hyeli yang dalam jarak waktu berdekatan telah dibuatnya merasa gondok 2 kali. Vic melirik jam tangan yang melingkar di lengan putihnya yang ramping. “Aku harus pergi sekarang, kerjakan tugas kalian dengan baik arraso!” “Kau mau kemana noona, sini aku yang antar, ke ujung dunia pun aku rela.” Gombalan Sungyeol sontak disambut olokan siswa notabene yang laki-laki saja. “Tidak terima kasih. Aku ingin kencan dengan Nickhun, doakan dia menembakku hari ini ya anak-anak!” “AAAAAAANDWAAEEEE!!” suara penuh kekecewaan kembali menggema seisi kelas, dan kali ini pun mayoritas hanya laki-laki yang menjawab. “MUAH, DADAH SEMUA, JANGAN LUPA TUGASNYA YA!” Vic nyengir lebar kiss bye sambil lari-lari keluar kelas diikuti siswa laki-laki yang kalau di drama-drama tengah mengejar gadis yang mereka cintai karena gadis itu hendak menikah dengan pria lain yang dijodohkan orang tuanya. Dengan kompak mereka menyanyikan lagu neorago-nya Super Junior  sambil berpose memegang dada dengan ekspresi terluka. Siswa perempuan hanya memperhatikan tingkah lebay nan menjijikkan cowok-cowok autis di kelas mereka. Hyeli lalu berdiri dari tempat duduknya menghampiri beberapa siswi yang tengah sibuk berdiskusi tentang kelompok seni. “Jiyeon-ah, aku bisa sekelompok dengan mu?” tanya Hyeli sambil senyum-senyum najong. “Eh, mian Hyeli-ah, kami sudah bertiga, aku Suzy dan Jieun.” Tolak Jiyeon memasang tampang tidak enakan dalam hati berkata, “Nilaiku bisa hancur kalau sekelompok sama si cempreng satu ini.” “Arraso, gwaenchanayo!” Hyeli tersenyum. Ia pindah lagi ke gerombolan lainnya untuk menanyakan hal yang sama. Tapi sayangnya ia pun mendapat penolakan yang sama. Berkali-kali ditolak, Hyeli mulai curiga kalau teman sekelasnya hanya bohong untuk menghindari sekelompok dengannya belaka. Jinki memperhatikan Hyeli yang berjalan sedikit gontai kembali ke mejanya di pojokan belakang setelah gagal mendapatkan kelompok. Dengan pertimbangan yang sangat matang, Jinki akhirnya memutuskan untuk mengajak Hyeli satu kelompok dengannya. “Hyeli-ah, kau sudah dapat kelompok? Kami kurang satu orang lagi.” Jinki harus menelan suaranya yang sudah sampai di ujung lidah saat Krystal mendahuluinya. Hyeli menoleh pada Krystal yang berjarak beberapa meja darinya. “Belum, baiklah, aku bergabung denganmu ya.” Jinki hanya memandang Hyeli yang tengah menyengir tanpa bisa menahan senyum. Ada cabe yang menempel di gigi Hyeli. * Kelas telah berakhir ditandai deringan bel dari speaker-speaker sepanjang lorong koridor sekolah. Semua siswa segera mengemasi barang-barang mereka dan langsung menghambur keluar ruangan kelas. Pukul 3 sore, dan Jinki teringat ia harus berurusan lagi dengan makhluk bernama Lee Sungyeol jam 5 nanti. “Kenapa mau-maunya aku terima permintaan si bodoh itu?” gumam Jinki pada dirinya sendiri. Namun orang yang baru dipikirkannya menepuk bahunya pelan. “Jangan lupa nanti ya!” seru Sungyeol bersemangat dengan satu kedipan mata. Jinki melihat tangan Sungyeol yang menyentuh pundaknya dengan jijik dan menatap Sungyeol dengan muka malas, tapi Hyeli yang masih sibuk membereskan buku di barisan meja paling belakang memperhatikan teguran singkat Sungyeol pada Jinki yang baginya terasa begitu mesra. Hyeli merinding seketika, ia melewati Jinki yang hendak pulang juga, memandang Jinki sedikit aneh. “Ada apa?” Jinki menyadari Hyeli berada di samping mejanya bertanya  dengan nada dingin untuk menutupi perasaan sambil salah tingkah. Bukannya menjawab Hyeli malah ngibrit keluar kelas. Hari ini jadwal Hyeli menjemput adik bungsunya dari sebuah tempat yang memiliki banyak permainan seperti ayunan dan seluncuran, jungkat jungkit juga bangunan yang bercat warna-warni, namun disebut sekolah. Hyeli menggosok-gosok tangannya yang terbuka tanpa sarung tangan. Salju turun sedikit deras. Temperatur udara sepertinya turun beberapa derajat, padahal pagi tadi cuacanya tidak begitu menggigit. Ia berhenti di depan mesin minuman untuk membeli segelas coklat panas di loby. “Omo! Ya, hampir minumanku tumpah.” Seru Hyeli kencang. “Oh, maaf.” Sungyeol menggeser badannya ke samping membiarkan Hyeli melewatinya. Gadis itu hendak menyeruput minumannya sedikit sambil berjalan ke depan TV besar di lobby bergabung dengan beberapa murid yang enggan untuk pulang karena cuaca dingin. “Aktor Korea terkenal xxx dikabarkan menikah dengan pasangan sejenisnya di New York. Hal ini mencuat ke publik ketika wartawan berhasil mendapatkan beberapa foto mereka di sebuah hotel mewah di kota New York…” “Memangnya New York memperbolehkan pasangan gay menikah ya? Hyeli menoleh ke belakang dimana Sungyeol berdiri. Kali ini ia merinding lagi, memandang Sungyeol dengan tatapan yang campur aduk. Ia berlalu dengan cepat dari hadapan Sungyeol yang ternyata sudah asyik dengan acara gosip yang nama kerennya berita infotainment. * Gadis itu berjalan mondar mandir dan terus menggosok kedua tangannya. Hampir setengah jam ia menunggu di halte untuk mendapatkan bus yang akan mengantarnya ke sekolah adik tercinta. Tak kunjung satu bus pun datang. Padahal, seharusnya sekarang ini ia sudah berada di sekolah Hyemi. Ia takut Hyemi tinggal sendirian di sekolahan sementara belakangan ini sangat banyak kasus penculikan anak yang akan diperjual belikan organ-organ tubuhnya. Mengingat hal ini Hyeli semakin khawatir, khawatir eommanya akan mengamuk lebih tepatnya. Berjarak kira-kira 50 meter dari tempat Hyeli mondar-mandir, seorang cowok tengah mengintainya dari dalam sebuah mobil sedan hitam metalik yang tergolong mewah. Lee Jinki, cowok yang duduk di belakang kemudi mobil itu menggembungkan pipinya. Jarinya mengetuk-ngetuk stir, sesekali ia menguap, semalam ia menghabiskan waktu menamatkan game Sally’s Spa (Feminim sekali gamenya!!!!) di komputer sampai jam setengah tiga subuh. Ia menunggitkan cup kopi instan yang dibeli di mesin minuman tadi ke mulutnya, tapi tak setetespun melewati tenggorokannya. Satu cup kopi sudah habis, tapi tidak berefek terhadap rasa kantuk yang semakin mendera. Hyeli yang sudah frustasi dan hampir beku oleh udara musim dingin berinisiatif untuk kembali ke areal sekolahnya untuk menelpon orang rumah dengan telpon umum, atau mencari orang yang dengan baik hati mau meminjamkan ponselnya pada Hyeli. Melihat Hyeli yang berjalan mendekat, Jinki was-was sendiri, mengira bahwa Hyeli telah menyadari kalau Jinki selalu mengawasinya sepulang sekolah hingga ia mendapatkan bus. Jinki merundukkuan kepalanya dengan segera membuat suara JDUK yang keras terdengar akibat benturan kepalanya dengan kemudi. Ia meringis dalam hati karena Hyeli sudah berada tepat disisi luar mobil. Namun perkiraan Jinki meleset. Hyeli tetap berjalan, Jinki beranjak keluar dari dalam mobil sambil mengurut dahinya yang besok pagi pasti akan benjol. Ia mengikuti Hyeli diam-diam persis seorang stalker yang menguntit artis. Hyeli berusaha menemukan orang yang setidaknya ia ketahui namanya supaya ia bisa segera meminjam ponsel. Namun jam bubar sekolah yang sudah cukup lama hanya menyisakan sedikit siswa yang masih betah berkeliaran. Hyeli berjalan memutar hendak menuju taman, tapi saat melewati lapangan indoor ia melihat Sungyeol yang sedang memegang bola basket. Hendak dipanggilnya Sungyeol, tapi ia menemukan seorang lagi di dalam lapangan, seorang gadis yang sedang menunduk malu-malu. “Aduh, bagaimana ya, bolehkah kuambil bolanya tapi kau kutolak?” Ujar Sungyeol sambil menggaruk kepalanya canggung. Mulut Hyeli menganga. “Ya ampun, tidak berperasaan!” gumam Hyeli kesal sendiri. “Gwae.. gwaenchanayo sunbae.” Hyeli melihat gadis yang menurutnya seorang adik kelas yang hanya tertipu dengan penampilan luar Sungyeol itu berlari ke arah pintu keluar, Hyeli menggeser badannya membiarkan gadis itu pergi. “Kau benar-benar tidak tahu malu ya, sudah menolak orang, hadiahnya masih diambil.” Hyeli langsung berkoar begitu masuk ke dalam lapangan indoor. Sungyeol menoleh. “Aku boleh pinjam ponselmu? Ponselku ketinggalan.” Pinta Hyeli langsung. “Ini.” Ia melempar benda yang baru dirogoh dari saku celananya, namun kali ini respon Hyeli lebih baik daripada saat Sungyeol melemparnya sebuah helm. “Yoboseyo…” Sementara Hyeli menelpon, Jinki berdiri di tempat yang sebelumnya ditempati Hyeli di dekat pintu keluar-masuk lapangan indor. “Eomma, aku tidak bisa menjemput Hyemi, busnya terlambat lagi. Sudah ya, nanti pulsa temanku habis.”  Hyeli mengembalikan ponsel Sungyeol seraya berterima kasih. “Hey nona, pulang denganku saja, jalanan tertutup salju, kau mau menunggu bus sampai malam pun belum tentu bisa pulang.” Sungyeol bicara sambil memantul-mantulkan bola di tangannya dan memberikan three  point shoot ke ring yang sangat sukses memantul keluar ring. “Ish, bola itu pasti murahan!” Sungyeol menggerutu sendiri sambil mengejar bola yang menggelinding bebas. “Bolanya yang murahan atau kau yang tidak bisa main?” sindir Hyeli kejam. Sungyeol menangkap bola basket dan melemparnya ke arah Hyeli, tapi Hyeli malah menghindar dan gantian ia yang memungut bola dan berusaha melempar bola itu tepat mengenai kepala Sungyeol. Jinki seorang diri menyaksikan pemandangan yang membuat dadanya sungguh terasa sesak. Garis wajahnya memancarkan rasa sakit yang mendalam persis seperti akting Kim Kibum di music video Norageo. Selama mengagumi Hyeli -yang author sendiri nggak tahu dimana letak sisi yang pantas buat dikagumin- dalam kurun waktu yang tak sebentar, Jinki menyadari kalau Hyeli tertarik dengan Sungyeol. Dan fakta ini membuatnya semakin panas sekarang. “Lee Jinki! Kau tak akan membiarkan dirimu kalah sebelum berperang, alias ditolak sebelum menyatakan cinta bukan? Lakukan sesuatu! Gunakan otak cemerlangmu, kalaupun kurang, gunakan fasilitas dari orang tuamu yang kaya itu. Sewa pembunuh bayaran untuk menghabisi laki-laki bernama Lee Sungyeol, atau carilah dukun santet dari Indonesia yang telah teruji kemutakhirannya dan telah disertifikasi untuk memelet Kim Hyeli!” Sisi iblis Jinki yang mulai memprovokasi dirinya agar terjerumus ke hal yang buruk. Jinki mengepalkan tangannya dengan mimik muka yang menunjukkan ia setuju dengan usulan setan tersebut. “Jinki, jangan dengarkan si setan sialan itu, kau tidak perlu melakukan hal-hal yang akan membuatmu menyesal nantinya. Kalau kau memang benar-benar menyukai Hyeli, seharusnya kau berusaha dengan sportif untuk merebut hati gadis itu, kau hanya belum mencoba menunjukkan perasaanmu, bagaimana mungkin Hyeli bisa membalasnya kalau ia sendiri tidak tahu kau menyukainya. Kalaupun memang sudah frustasi dan tidak punya cara lain, sewa dukun yang murah-murah saja.” Jinki meragukan bahwa sisi malaikatnya masih layak disebut sisi malaikat. “Lee Jinki? Apa yang kau lakukan di sana?” Cowok yang tengah dilanda dilema itu tersadar. Ia melirik Hyeli sangat sekilas. “Suka-suka aku mau apa di sini, kenapa kau sewot?” Jinki melengos pergi. “Ck kenapa anak itu, PMS?” “Tapi dia laki-laki.” Jawab Hyeli dengan muka-_- “Bercanda, aku tidak bodoh-bodoh amat, sistem reproduksi itu materi favoritku waktu SMP! Ayo pulang!” * Sungyeol berdiri di depan sebuah pintu. Berulang kali ia menekan bel, tapi sang empunya rumah tak menunjukkan tanda-tanda untuk segera membuka pintu. Selama 5 menit menekan-nekan bel nonstop, akhirnya otak Sungyeol yang membeku mulai mengencer sedikit, ia mengambil ponselnya dan langsung mengkontak nomor Lee Jinki. “Yoboseo!” “YA!!!” Di sebrang ponsel Sungyeol, Jinki menjauhkan telinganya dan melihat display ponselnya untuk mengetahui siapa orang tidak sopan yang tiba-tiba berteriak begitu ia mengangkat telpon. Jinki mendengus melihat nama Sungyeol tertera di layar. “Kau tidak mengenal etika bertelpon hah?”“Kau cukup membukakan pintu apartemenmu saja karena sudah 5 menit aku menggedor pintumu!” Jinki melempar ponselnya ke sofa ruang TV begitu Sungyeol mematikan sambungan dengan tiba-tiba. Ia berjalan  ke ruang tamu sambil mengacak-acak rambutnya dengan handuk. “Ck, baru mandi hah? Apakah kau luluran dulu tadi!!” Saat pintu dibuka Sungyeol menyelonong seenaknya, ia langsung masuk menuju ruang TV dan mendudukkan dirinya di sofa. “Kau bahkan belum kusuruh masuk!” Jinki muncul dari depan setelah menutup pintu terlebih dahulu. “Rumahmu lumayan, kau tinggal dengan orang tuamu? Ah aku minta ini ya!” Sungyeol menyerocos tak menghiraukan sindiran Sungyeol ia pun tanpa sungkan-sungkan merampas cemilan di atas meja. Sungyeol tiba-tiba bangkit berdiri. Ia berjalan mendekat ke Jinki yang sedang topless. “Astaga, kau punya abs?” Seru Sungyeol tak percaya. Tangannya hendak menyentuh bagian perut Jinki namun ditepisnya. Sungyeol malah membuka bajunya hingga perutnya terlihat juga. “Abs ku bahkan belum begitu terbentuk.” Tangan Sungyeol hendak menyentuh perut Jinki lagi namun sebelum Jinki memprotes suara tenor yang menyerukan kata ‘AKU PULANG!’ terdengar disusul kehadiran pemiliknya. Taemin mendapati hyungnya dengan seseorang yang belum pernah ia lihat. Seseorang yang tengah membuka baju hingga ke dada, dengan tangan satu lagi yang meraba perut kakaknya yang tak terbalut kaos dan tangan Jinki yang tengah mencengkram tangan orang asing itu.

.:TBC:.

a.n: Jelek, boring, garing, keriting(?) dan gak berasa gregetnya yah. Mian. Oke, pertama-tama marilah berterima kasih pada teman-teman yang sudah meninggalkan jejak baik comment maupun like nya di ff ini. Kalau habis ngepost, aku selalu cek komennya hampir tiap 10 menit sekali. Kkk, jangan heran kalau ff ini masuk daftar yang banyak diliat, karna selalu aku bukain. Pokoknya seneng lah kalau liat ada komen baru yang masuk, jadi semacam hiburan tersendiri. Kamsahamnida! Saya mau hiatussssssss, karena nggak ada waktu buat berkhayal lagi. Jangan salahkan saya, salahkan waktu yang kenapa cuma 24 jam sehari, kenapa enggak 30 jam dengan 6 jam tambahan untuk ngetik ff . #maunya. Yah begitulah, nasib anak sekolahan yang KATANYA kewajibannya buat belajar doang seperti saya. Aku paling nggak bisa yang namanya ngatur waktu, makanya sekarang keteteran sama jadwal sekolah yang ternyata semakin padat, hiks baru liburan padahal. Intinya, ff ini diberhentiin. Walaupun nggak bener-bener diberhentiin. FF ini dilanjutin lagi kalo udah selesai alias fin alias tamat. Karena kalau dipost dengan jarak posting yang jauh, entar malahan pada lupa semua sama ceritanya. Kayak ff aku dulu, jarak postingnya 4 bulan, dan ternyata banyak yang udah lupa, kalo yang ini salahin saya aja. Hahaha. 4 bulan coba, wajar kan udah lupa semua. Makanya dari pada kejadian lagi, aku ambil alternatif kayak gini. Segini aja note saya, kalo kebablasan bisa lebih panjang dari ffnya. Once more maap deh ya. Bukannya mau banyak tingkah, tapi ya memang beginilah keadaanya kita tak mungkin bersama *meleset lagi* Maaaaaaaaaf ceman-ceman! Sincerely Nyonya besar Choi Minho *dibuang*

Advertisements

5 thoughts on “OMO! part 2b

  1. Hai hai,,,,saya datang
    mian menuh2in coment disini…mau isi daftar hadir hehe

    as ussual, q dah coment di ffindo, tapi tangan gatel pingin coment disini sih..gapapa yak hehehe 😀

    dan saya cuma mau bilang…Poor Jinki-Sungyeol, dan lagi lagi kalian dikira maho…bahkan oleh dek Taemin yg nampak syok hihihi

    next part ya 😀

      • Ancur apanya? Bagus bgt malah eon..
        Aku selalu suka ff mu..kkk.. Pertamanya aku baca apa ya *lupa* di ffindo,trus aku buka,aku ubek2 nama author seoeunkyung. Makanya pas aku komen telat semua komenku..kkk..

        Ayo author! Semangat!!!

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s