It’s Love

Cast:      Seo Eunkyung

Choi Minho

Kang Eunri

Genre: Romance, Hopefully Angst hahaha, A Lil Fantasy

BGM: Kim Ryeowook If  You Love Me More Spy Myung Gol Ost

Aku melihatnya, duduk di tribun ke tiga dari puncak. Berulang kali ia mengeluarkan ponsel dari saku kemeja sekolah, sekedar untuk melihat jamnya, mungkin.

“Oper bolanya Eunkyung!”

Belum menoleh, sebuah bola kuning dapat kurasakan menggeliding mengenai ujung sepatuku.

Aku menendang bola ke arah rekan se timku. Begitu bola berpindah, segera kularikan kakiku di atas lantai kayu lapangan basket indoor yang sementara dijadikan lapangan futsal darurat.

Mataku mengikuti kemana pun bola ditendang. Karena posisiku sebagai striker, otomatis aku harus terus mengawasi bola, mencari celah mendapat peluang untuk mengeshoot sebanyak-banyaknya ke gawang lawan.

Riuh suara penonton yang tak lain teman sekelas laki-laki yang menonton di bench tribun ataupun siswa lain yang kabur dari jam pelajaran dan menonton kami semakin semarak ketika timku sudah menguasai separuh lebih lapangan, hampir mendekat ke gawang. Mataku mencuri pandang ke tribun dekat puncak di bagian selatan.

“Kang Eunri! Hwaiting!”

Aku tersenyum. . .  kecut.

Saat kurasakan sejumlah aura lain seperti mendekat, kukembalikan pandanganku ke lapangan. Bola kuning itu berhenti mungkin hanya dengan jarak 2 meter dariku.

Saat ini keadaan terasa semua orang bergerak dengan gerakan yang diperlambat hingga 3 sampai 4 kali dari gerakan aslinya bagiku.

“Eunkyung-ah! Tembak!”

Aku menoleh mendengar suara seorang rekan.

Kutapakkan kaki kananku, disusul kaki kiri, bergantian dengan tempo yang semakin lama semakin cepat.

Dapat!

Bola sudah 100% dalam kekuasaanku. Kuangkat kaki kananku, mengarahkan tenagaku sepenuhnya.

“Eunri! Tangkap bolanya!”

Suara itu!

Bola sudah sepenuhnya terlepas dari kakiku, meluncur dengan cepat menembus udara, namun dengan kurang terkontrol. Suara itu, benar. Mengacaukanku hanya dengan hitungan detik.

Semua seperti terdiam, tanpa berbuat apa-apa hanya memandangi bola yang baru kutendang mengarah ke gawang.

“DUG!”

Badanku terkaku.

“Aaarrkh!”

Belum semua orang tersadar dari masa spacing outnya. Seorang seperti menerobos  menyisakan angin meniupkan rambut dari sisi kananku.

Amat jelas terlihat dari tempatku berpijak.

“Eunri-ya!”

Suara itu sarat kekhawatiran.

“Eunri-ya!”

Hingga  sosoknya yang berlutut di lantai, menepuk perlahan pipi putih gadis dalam pangkuannya tertutupi satu persatu orang yang mendekat dan semakin banyak sekarang.

Tak lama, sosoknya bangkit berdiri menjulang bersamaan dengan mundurnya beberapa orang yang berkerumun.

Tangannya kokoh menahan tubuh yang tengah berada di gendongan ala bridal style. Berlalu, dari ruangan besar yang kurasakan bertambah sesak, membuatku kesulitan untuk menghirup dalam-dalam udara bebas di sekitar.

“Eunri-shi, mianhamnida!”

Aku membungkukkan tubuhku, dalam dan cukup lama.

“Hey, it was just an accident, apa yang kau lakukan? Tegakkan kepalamu!” Pinta gadis itu, disusul kedua tangan yang menyentuh bahuku. Gadis itu merangkulku dengan bersahabat.

“Maaf.” Aku menunduk.

“Eunkyung-shi! Kalau kau terus meminta maaf seperti ini, aku tak akan memaafkanmu, lagipula ni memang resiko jadi goal keeper bukan?”

“Tetap saja aku yang bersalah. Maafkan aku!”

“Astaga. Kau begitu keras kepala. Sudahlah, anggap saja itu tidak pernah terjadi. Aku justru berterima kasih padamu.” Kulihat ia tak mampu menyembunyikan garis senyuman dari bibirnya.

“Maksudnya?”

“Yah, paling tidak pingsan dan mimisan sebentar sebanding dengan perlakuan Minho oppa padaku.” Senyumannya semakin merekah, dibumbui rona merah yang  tergurat dari kedua pipinya.

“Maaf. Tolong maafkan aku.”

“Ya, Eunkyung-shi kau..”

“Aku tidak tahu, mengalir begitu saja. Harus dihentikan, aku akan mencoba, bukan. Aku sudah mencoba, berpura-pura tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Seharusnya begitu. Maaf. Aku menyukai, tidak, terlalu dangkal. Aku mencintainya. Hari ini benar, aku tidak sengaja. Tapi tangga berminyak, pot dari atap, rak buku perpustakaan yang roboh, mengunci di kamar mandi, semuanya, selama dua tahun. Semuanya perbuatanku.Maafkan aku.”

Aku tidak sanggup lagi, aku berlari menerobos keluar dari pintu ruang kesehatan. Ia terlihat sangat shock. Kakiku masih terus berlari tanpa arah. Apa masih ada tempat yang bisa menyembunyikanku dari semua ini.

Aku berhenti. Peluh mengalir dari pelipis bercampur dengan air mata.

Isakan tertahanku kulepas semuanya. Aku meluapkan semua sesak, beban, semuanya.

Aku merosot, terduduk entah di mana. Menangis.

“Mon. . ster se. . .per. . timu ti. . .dak layak untuk me. . nangis.”

Butiran putih melayang-layang tampak kabur oleh air mata di mataku. Sangat perlahan sekujur tubuhku terasa lemas, pusing mendera kepalaku, menusuk, nafasku semaikin tersengal.

“Salju pertama.” Bisik suara itu.

Suara itu!

Kepalaku sungguh sakit, belum sempat menoleh ke belakang suara itu menyapa telingaku lagi, seirama dengan hembusan hangat melingkupi seluruh tubuhku.

“Sama dengan 2 tahun yang lalu.”

“Minho.”

Sekuat tenaga aku melafalkan nama itu, terlalu lirih.

Aku seperti melayang, seseorang mendekapku, sangat hati-hati. Mataku yang mengabur terlalu biasa untuk sekedar mengenali sosok ini bahkan hanya dari rambutnya yang kecokklatan. Ia menaikkanku pelan ke atas punggungnya.

“Ini lebih romantis dari bridal style bukan?”

Aku tidak menjawab, namun mengangguk pelan sekali, dan. .  tersenyum?

Dia melangkahkan kakinya membawa kami berdua di bawah hujan salju pertama.

“Minho, maaf, aku. . .”

“Hentikan.”

Halus, tapi menekan. Suaranya, tepat, hanya sebuah gelombang, tapi begitu mengikatku, tak pernah bisa membantahnya.

Keterdiaman mengisi ruang waktu di sekitar kami. Kepalaku terus berdenyut menghujam, hingga ke ubun-ubun.

“Sakit.” Bisikan yang seperti angin itu, entah kenapa Minho bisa mendengarnya. Ia menurunkanku, mendudukkanku di suatu tempat, bangku? Tidak tahu.

“Minho, aku. . .”

“Stop.”

“Aku. .”

“Demi Tuhan, Eunkyung! Berhenti.”

“Hahaha.” Entah darimana kekuatan itu datang, buktinya aku masih sanggup tertawa seperti ini.

“Masih bisa tertawa, huh?”

Aku melihat wajahnya, dari samping, sementara ia menerawang lurus ke depan.

“Kau punya mata panda.” Gurauku.

Ia menoleh, tersenyum, dan itu dilakukan dengan matanya. Jantungku berdetak seperti dipacu dan melompat dari rongga, merosot hingga ke perut.

“Itu membuatku terlihat semakin tampan.”

“Kau bercanda.”

Aku bersumpah ini sakit sekali.

Sejurus kemudian kudapati aku sudah berada dalam pelukannya.

“Sesakit itukah?” ujarnya gusar.

Aku bahkan tidak mengucapkannya secara verbal.

“Eunri, gadis yang baik.”

“Aku mencintai Seo Eunkyung.

“Aku juga mencintaimu.”

* * *

Epilog:

“Jangan sampai gagal, yang terburuk, jatuh cinta padanya”

“Tidak akan!”

“Siapa kau?”

“Kenalkan, namaku Seo Eunkyung.”

“Siapa yang menanyakan namamu penyelinap!”

“Ada kebocoran pada jantung putra anda.”

“Kenapa mengikutiku terus! Kau suka aku?”

“Hey, aku malaikat pencabut nyawa!”

“Jangan melihatku dengan tatapan ingin menangis!”

“Menjauh dariku! Kau bisa mati!”

“Konsekuensinya?”

“Enyah, seperti debu.”

“Kenapa?”

“Kau menyerahkan jiwamu untuk pengganti nyawanya. Itu arti cinta bagi kaum kita.”

FIN

As expected, nggak ada yang ngerti. Ini ff super absurd kayak authornya ( __ ___||| )

Miaaan. Ini penjelasannya 😀

Eunkyung adalah seorang malaikat penjemput nyawa yang ditugaskan dari dunianya ke bumi dan jadi manusia untuk mengambil nyawa Choi Minho. Choi Minho sendiri sudah mendapat vonis sakit, kebocoran di jantung. Jadi selama ini Minho emang nyari donor jantung, tapi ga dapat, kenapa? Karena ia sudah ditakdirkan untuk tidak mendapat jantung itu supaya nggak tertolong alias meninggal. Eunkyung nggak bisa-bisa nyabut nyawa Minho, sekali lagi kenapa?

Dia jatuh cinta sama Minho.

Dan, sebaliknya.

Minho menjauh dari Eunkyung, dia coba dekatin Eunri supaya Eunkyung nggak mati.

Minho memang bebas ngungkapin ke Eunkyung dia suka sama Eunkyung sebanyak-banyaknya, tapi dengan satu kali pengakuan Eunkyung baik verbal maupun non verbal, konsekuensinya Eunkyung menghilang, dari semua dunia, dunia manusia, dunia atas, dunia bawah, semuanya.

Minho nggak meninggal, karena Eunkyung ngasihin jiwanya.

Yah, mudah-mudahan yang ini bisa dimengerti penjelasannya.

Thank’s for appreciating this ff 😀

a.n:        Kalo masih  ada yang tidak dimengerti, langsung tanya aja.

Advertisements

7 thoughts on “It’s Love

  1. iyo sih rada susah mengerti
    aku ngerti apa mksd kau. tapi kalo ff kayak gini lebih bagus di fimkan
    jadi lebih jelas
    kalau ff kan cuman bisa penyampaian lewat tulisan
    dan belum tentu apa yang kita pikirkan sama dengan yang kita suarakan / kita tuliskan
    tapi overall bagus kok 😀

    p.s :
    karena terinspirasi sebuah film, sbnrnya aku mw buat ff yang kayak gini juga. tapi keburu kw sudah buat, jadi aku dak mau buat lagi. hahahaah
    dak ado waktu sama sekali -_-

  2. Aku baru ketemu link blog ini hehe.
    Aku pembaca baru, he he he salam kenal 😀

    FF ini emang sedikit membingungkan, munkin krn buru2 kali ya *sok tau =_=*. Kenapa gak coba buat lebih panjang? Padahal idenya bagus banget loh..

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s