Propose Her

Title: Propose Her (sekali lagi, saya bermasalah dengan pencarian judul)

Cast: Han Shinbi, Kim Kyoung Jae aka Eli

Genre: AU, Romance hahaha

Rating: PG

Length: Ficlet

Note: Yay, ff buat Shinbi onnie, nggak kelar-kelar dari jaman batu, setelah jadi cuman ficlet doang. *sujud* Maapkan saya onnie jika hasilnya jelek.

Dan ini ff pertama saya yang nggak mengandung unsur SHINee. HAHAHAHA.. Harap maklum aja ya kalo agak aneh, aku aja bahkan baru tau hari ini nama asli Eli itu siapa -__-||||

Cekiprot!

Author’s Pov

Lengkingan alarm dari jam weker bemotif sederhana yang bertengger di meja nakas di samping ranjang single size satu-satunya di ruangan itu membuat penghuni ranjang bangun dari tidur nyenyaknya. Ia bangkit mengadap ke arah meja. Dalam keadaan di ambang dunia nyata dan dunia mimpi, tangannya meraih-raih benda berisik di atas meja, setelah berhasil digapai, alarmnya memang dimatikan, namun sejurus kemudian ia kembali bergumul dengan bantal, guling dan selimut.

Shinbi, nama gadis itu mencoba untuk tidur kembali, namun belum berapa menit ia siap untuk berlayar, satu gangguan lagi membatalkan niat tidur sehariannya.

Ponsel flip biru muda miliknyamenjerit-jerit dengan volume yang disetting paling kuat tepat dari bawah bantal dimana telinga Shinbi menempel.

Boss calling’

 

“Yoboseo!”

“Buatkan satu buket alba 21 tangkai, antarkan ke alamat di note di atas meja kasir jam setengah delapan.”

‘Clik’

Shinbi memindahkan ponsel dari telinganya ke depan wajah.

07.05 KST

“ AAAAAA bahkan hari minggu pun aku tidak bisa bersantai!”

Terpaksa Shinbi menapakkan kakinya ke atas lantai yang dingin, ia menyahut handuk yang tersampir di atas kursi dan meluncur ke kamar mandi.

Shinbi mengoleskan pasta gigi di atas sikat giginya, kemudian membuka mulut lebar-lebar dan menyikat giginya. Tepat saat ingin berkumur, tak setetes pun air keluar dari wastafel.

“Aarrrhhh”

‘Brak’ setelah erangan kecil yang diikuti suara bantingan pintu itu terdengar, sekarang bunyi bel milik Apartemen sebelahnya lah yang berbunyi-bunyi. Dengan tidak sabar Shinbi memencet bel itu berharap penghuninya segera dengan baik hati membukakan pintu karena busa pasta gigi itu terasa semakin pedas di mulut Shinbi akibat sensasi mintnya.

‘Cklek’

“Ahu numhang… eh, aheong eongonginim!” (trans bahasa planet ini: Aku numpang… eh, annyeong eommonim)

Shinbi langsung mengubah sikapnya begitu melihat orang tualah yang sedang diajaknya bicara.

Perempuan paruh baya di depan pintu  apartemen yang dibuat berisik oleh Shinbi tadi terheran-heran melihat makhluk sejenis Shinbi pagi-pagi sudah ada di rumahnya, tambahan, dengan mulut penuh busa.

“Shinbi-ya, kenapa kau tidak berkumur dulu?”

“Ahu mahuk ya.” (aku masuk ya)

Dan Shinbi melesat begitu saja ke kamar mandi di rumah itu. Perempuan paruh baya yang dipanggil eommonim itu pun menutup pintu dan masuk ke dalam rumah.

“Air di rumahmu mati lagi ya?” ujar eommnim sambil melanjutkan memotong sayur di dapur pada Shinbi yang sedang berada di kamar mandi yang tidak jauh dari dapur.

“Ne eommonim.”

Shinbi keluar dengan muka yang lebih segar setelah cuci muka.

“Mungkin pipanya beku karena musim dingin.” Sambung Shinbi kemudian.

“Ya! Kau tidak mandi?” tanya eommonim saat melihat Shinbi yang begitu cepat selesai dengan urusan kamar mandinya.

Sementara hanya dibalas cengiran Shinbi.

“Wangi apa ini? Eommonim masak apa? Aaa aku lapar.” Ujar Shinbi manja.

“Ya sudah, kau jangan pulang dulu supnya sebentar lagi masak.”

“Ah, aku juga ingin begitu, tapi aku harus ke florist karena ada pesanan untuk jam setengah delapan. ASTAGA! Eommonim, aku pulang dadah.” Shinbi melesat pergi ketika matanya tak sengaja menangkap jam yang menempel di dinding pastel ruangan itu bahkan sebelum eommonimnya sempat mengucapkan hati-hati di jalan.

Shinbi berlari menerobos udara musim dingin ke florist yang berjarak kurang lebih setengah kilometer dari tempat tinggalnya. Hingga ia tiba di florist itu, nafasnya sudah putus-putus. Tanpa berlama-lama Shinbi membuka pintu kaca degan label close yang artinya toko itu seharusnya tutup. Kedatangan Shinbi disambut bebunyian lonceng yang dipasang di atas pintu. Semerbak wangi bunga menyeruak ke dalam penciuman Shinbi, sejenak seperti aroma terapi baginya.

“Bos? Aku sudah datang!”

Teriak Shinbi, namun tidak ada sahutan. Melihat waktu yang semakin mepet, Shinbi lantas melupakan di mana keberadaan bosnya yang sangat tumben meninggalkan toko dalam keadaan kosong.

Shinbi berjalan ke halaman belakang toko dimana semua bunga hidup ditanam di sana. Dengan gunting khusus, Shinbi memotong beberapa tangkai mawar putih atau sering disebut alba yang ditanam dengan media air.

“Aduh.”

Duri-duri mawar itu tak sengaja menggores jari manisnya, darah segar keluar, namun cepat dihisapnya  supaya tidak menodai bunga yang sudah ia ambil.

Shinbi membawa semua bunga itu dengan sedikit sulit karena hanya menggunakan satu tangan. Ia duduk di depan meja kasir, mengambil plastik, pita, jarum, dan pot khusus untuk buket.

Ia kemudian memasangkan plaster luka di laci meja kasir. Bosnya, atau pemilik florist itu lah yang selalu menyimpan plaster di sana. Biasanya ada 2 jenis, satu bergambar dan satunya lagi polos.

“Kau pakai yang polos, yang bergambar punyaku. Jangan pakai yang bergambar.”

Shinbi ingat sekali perkataan bosnya itu saat pertama kali ia bekerja di florist ini, di hari pertamanya ia mendapatkan 3 goresan duri bunga, melihat di laci tergeletak plaster bergambar itu, ia pun segera memakainya, dan ketika bosnya melihat itu, tanpa basa-basi sang bos melepas plaster di jari Shinbi dengan paksa sehingga luka Shinbi terasa sakit dan berdarah lagi, hal itu pula yang membuat Shinbi memukul kepala bosnya di hari pertama ia bekerja di florist ini.

Namun Shinbi tetap memakai plaster bergambar itu, ia hanya perlu memukul kepala bosnya sekali lagi jika si bos melepas plaster itu nanti.

Shinbi bekerja dengan cekatan, hingga sentuhan terakhir, yakni pita emas sudah diikatnya rapi .

“Mawar putih ya, apapun yang terjadi, gadis itu harus menerima bunga dan lamaran pasangannya karena aku sudah membuatnya susah payah!” ujarnya sendiri. Ia mengambil satu-satunya kertas kecil yang seperti nota bekas di atas meja kasir, kemudian melangkah ke depan toko.

“Dan dia terlalu pelit untuk mengeluarkan uang sedikit saja demi kesejahteraan pegawainya.” Desis Shinbi sinis ketika melihat sepeda butut dengan keranjang di bagian depan dan belakang. Kendaraan operasional florist itu -_-

Di saat florist-florist lain bahkan mengantarkan pesanan bunga mereka dengan motor bahkan mobil, florist antik milik bos Shinbi itu masih setia dengan sepedanya.

Setelah mengunci rolling door florist, Shinbi pun menggoes sepedanya hingga melaju kencang di jalanan.

*

Berulangkali Shinbi membaca alamat di kertas kecil lusuh itu. Kemudian matanya beralih ke pintu apartemen bernomor 655 di depannya.

Masih kurang yakin, Shinbi memelototi kertas itu kembali, bahkan membaca alamatnya  per huruf.

‘Cklek’

“Shinbi? Sudah pulang lagi? Eommonim mau pergi keluar, kalau mau makan kau masuk saja, supnya ada di atas kompor.”  Perempuan paruh baya yang sama dengan yang diumpai Shinbi tadi pagi itu terlihat terburu-buru dengan baju hangatnya yang kelewat tebal.

“Ne eommonim.” Ujar  Shinbi sekedar, setelah punggung eommonimnya menghilang di belokan, Shinbi terlihat kaget begitu ia mengalihkan pandangan ke depan pintu apartemen itu dan sesosok makhluk sudah bertengger di sana sambil bersedekap.

Shinbi menatap orang itu dengan pandangan -___-

“Apa maumu?” ujar Shinbi kesal.

“Mauku?” balas sosok di depannya.

“Mengganggu tidur hari mingguku, membuatku marathon, dan ternyata merangkaikan bunga untukmu hah?”  geram Shinbi

“Ambil saja bunganya untukmu.” Jawab orang itu sekenanya kemudian masuk ke dalam rumah.

Shinbi refleks menahan pintu yang didorong orang itu, dan masuk menyusul.

“Hey bos!” teriak Shinbi.

“Kubilang bunganya untukmu!” Eli kini duduk dengan nyaman di sofa ruang tengah dengan kaki yang terangkat manis ke atas meja dan mengganti-gant channel TV.

“Kim Kyoung Jae-ya, aku ini serius!”

Eli menatap ke arah Shinbi yang masih berdiri dengan buket mawar putih yang indah itu di kedua tangannya.

“Mana kertas kecil yang berisi alamat rumah ini?”

Shinbi merogoh kantung kemeja yang ia kenakan di tengah kebingungannya.

“Ini?” ujar Shinbi meyakinkan.

“Baca!” Perintah Eli.

“Jalan hansengding gedung jongguman lantai…”

“Ya! Baca yang sebaliknya!” potong Eli kesal.

Shinbi membalik kertasnya kemudian membaca tulisan dan angka yang ada di sana.

Dan detik berikutnya ia kembali melihat Eli dengan tatapan penuh kebingungan.

“Itu bukti pembayarannya, ambil cincin nikah itu besok!”

Shinbi masih terpaku, otaknya sedang dalam proses loading untuk mencerna semua ini.

“Oh, please Shinbi, kau mau berapa lalat masuk ke mulutmu jika terus seperti itu?” sindir Eli dengan segala kesinisan dalam nada bicaranya.

“Kau, aku, ini..”

Disorientasi membuat Shinbi masih tak mampu berkata-kata dengan jelas, dan itu membuat Eli tidak tahan.

Eli melangkahkan kakinya hingga di depan Shinbi yang masih terpekur, ia mengambil alih buket bunga itu kemudian diletakkannya di lantai, tangannya sudah berada di kedua pipi Shinbi, tubuh tingginya membungkuk perlahan memperkecil jaraknya dengan Shinbi, keduanya memejamkan mata saat nafas satu sama lain menghempas ke wajah, hingga tersisa beberapa mili lagi dan

‘Ctak’

“Adoww!!”

“Kau belum mandi!”

Shinbi menatap Eli beringas.

“Aku belum mandi gara-gara bos diktator sok galak dan sok tampanku sibuk menyuruhku membuat buket bunga bodoh itu tau.” Ujar Shinbi sambil mengelus-elus dahinya yang memerah karena disentil Eli.

“Sayangnya aku memang tampan nona!”

Eli menarik tangan Shinbi.

“Ya! Siapa suruh kau pake plasterku?”

“Mau bagaimana, plasterku habis, dan tanganku berdarah.”

“Kau selalu ceroboh! Cepat lepas atau aku yang lepas.”

“Kau lepas, aku pukul kepalamu dengan buket itu!”

“Kau pukul aku, gajimu aku potong 100%”

“Kau, begini kah perlakuanmu pada orang yang kau lamar 5 menit lalu?.”

“Aku hanya menyuruhmu mengambil cincin, bukan melamar.”

“Mwo? Kau..”

Eli membekap Shinbi, mendaratkan ciumannya sehingga menghentikan pertengkaran tidak bermutu pasangan ini.

-END-

Note: Salah satu arti singkat mawar putih “cinta yang abadi – cinta lebih kuat daripada kematian, cinta yang kekal”

 

A.N: Komen kalian itu sesuatu banget yah. Syahrini mode:on

Advertisements

6 thoughts on “Propose Her

  1. Ahh, eonnie. Bagus!! *again*
    Apalagi kalau dibuat chapter bla bla bla *digetok*, pasti tambah bagus
    Haha, maunya…

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s