Hey Baby.. Sitter [End]

Hey Baby.. Sitter

Cast: Seo Eunkyung, Choi Minho, Lee Taemin, Krystal Jung and others

Rating: SU

Genre: fluff, failed romance -__-

Prev. Part: Part 1

Summary:

SMent BANGKRUT *ayeyy* dan asetnya tercecer :mrgreen:

Part 2

 

Author’s Pov

“Oek.. oek.. huk.. hik..”  *sekali lagi, anggap aja ini suara nangis bayi*

Eunkyung ter(paksa)bangun karena suara berisik yang sangat dekat dengan telinganya. Jiseok rewel lagi. Kemarin 3 kali Eunkyung terbangun. Malam ini mau berapa kali?

“Cup.. cup.. Jisokie, mworagoyo?” Eunkyung mengangkat tubuh kecil Jiseok dari ranjang.

Refleks Eunkyung ketika pertama kali tangannya menyentuh basah baju bayi Jiseok adalah, dia hampir melepaskan tanganku dari Jiseok atau dengan kata lain HAMPIR MEMBANTING JISEOK KE LANTAI.

Dengan jantung masih berpacu karena kaget, Eunkyung meletakkan Jiseok yang masih menangis ke ranjang, kemudian segera mengambil sepasang baju bayi dari lemari.

Setelah urusan mengganti baju Jiseok selesai, ia menarik seprai dari ranjang dan menggantikannya dengan yang baru. Tangisan Jiseok sudah berhenti, sudah hampir tertidur lagi malah.

“Enak sekali kau ya, sudah pipis sembarangan, kau hanya perlu menangis dan seseorang akan menggantikanmu baju setelah itu langsung tidur lagi! Baiklah, aku mengigau sekarang! Aaaa kenapa aku lupa memakaikanmu popok!”

Eunkyung mengambil seprai di lantai, hendak membawan Eunkyung mengambil seprai di lantai, hendak membawanya ke tempat cucian kotor.

Kedua kaki Eunkyung terseok menarik badannya berjalan. Namun mata 5 wattnya seperti menangkap satu sosok menggelepar di lantai dekat sofa ruang  TV. Eunkyung tak mengambil pusing lalu pulang lagi ke kamar.

^^^

“Oek.. Oek.. OEKK..”

Tidur tidak nyenyak Eunkyung bertambah tidak nyenyak karena suara tangisan bayi yang tak lain tak  buka berasal dari satu-satunya bayi yang ada di rumah itu.

“Wae guraeyo?”

“Aish.” Eunkyung mengacak-acak rambutnya bar-bar.

Ia menggendong Jiseok menepuk-nepuk pantat kecilnya, tapi si bayi sama sekali tak berhenti mengeluarkan tangisan.

“Kau lapar ya?”

Sambil menggendong Jiseok, Eunkyung pergi ke dapur, karena Jiseok menolak ditinggal di ranjang.

Eunkyung memasukkan beberapa sendok susu formula ke dalam dot, mengisinya dengan air hangat-hangat kuku dan mengocok susunya hingga tercampur.

Jiseok  langsung diam saat dot itu sudah menyumpal mulutnya. Susu itu diminum dengan cepat olehnya.

Eunkyung segera kembali ke kamar, namun dilihatnya makhluk yang sama masih menggelepar di lantai sama seperti beberapa waktu yang lalu.

Jam sudah menunjukkan pukul 4 subuh. Ingin sekali Eunkyung memejamkan matanya dan bermimpi indah jika setan kecil di gendongannya tidak minta macam-macam tengah malam, atau lebih tepatnya tengah subuh.

Eunkyung melangkahi badan Minho dengan semena-mena. Ia terlalu ngantuk untuk membangunkan Minho dan minta izin untuk melangkahinya. *apasih*

*****

Minho terbangun dengan sekujur tubuhnya terasa pegal. Ia mendapati dirinya terbaring menelungkup semalaman di lantai. Ia mencoba berdiri walaupun limbung.

“Cih, apa yang dilakukan si pengasuh anak itu di sini?” Minho mendekati Eunkyung yang masih tertidur, begitu pun Jiseok.

Minho melepas Jiseok perlahan dari pelukan Eunkyung, kemudian memindahkan bayi itu ke box bayinya. Minho kembali ke ruang TV. Diliriknya Eunkyung yang tertidur sangat nyenyak.

Dan beberapa detik kemudian ia sudah berada tepat di samping Eunkyung.

“KAU! PENGASUH PEMALAS! BANGUN!!!!” Teriakan Minho hanya berefek…. tidak ada.

Minho baru saja mengambil gelas untuk menyiram Eunkyung dengan air sebelum ponselnya berbunyi. Laki-laki itu dengan membawa gelas kosong berjalan kembali hendak mengambil ponselnya. Tapi orang lain malah mendahuluinya.

“Ya! Kenapa kau sembarangan mengangkat telpon orang?”

Eunkyung menoleh dengan mata sayunya dan melempar, sekali lagi MELEMPAR ponsel Samsung anycall hitam di genggamannya ke arah Choi Minho dengan jarak masih 5 meter darinya.

Minho yang kaget masih sempat-sempatnya berpose menangkap ponselnya seperti penjaga gawang FC Seoul, ia melotot ganas Eunkyung namun hanya sekilas karena ia langsung berbicara pada penelpon pagi buta itu.

“Krystal-ah, ada apa?”

^^^

Kumpulan laki-laki bersinar ditambah seorang gadis berkilau dilengkapi bayi kecil nan imut tak ketinggalan pengasuh kumalnya  menginjakkan kaki mereka girang di taman hiburan terbesar se Korea Selatan, Lotte World.

“AUWOOOO!” teriak Onew sinting.

“Hello Hello~” kali ini si Jonghyun.

“Kenapa kita datang bahkan sejam sebelum tempat ini dibuka?” muram Eunkyung.

“Begini Eunkyung-ssi, karena kami adalah public figure, jadi kami harus pintar-pintar menyiasati jika ingin pergi ke tempat umum, karena kau orang biasa kau pasti tidak pernah merasakan babak belur dikejar fans-fans fanatikmu.” Jawab Krystal.

“SOK ARTIS!” jerit batin Eunkyung.

Setelah mereka berlumutan, akhirnya pintu gerbang Lotte world dibuka. Semuanya langsung menyerbu masuk meninggalkan Eunkyung yang mendorong kereta Jiseok.

Tempat itu masih amat sangat sepi. Belum ada satu pun wahana yang dibuka, namun berbekal ketenaran dan wajah cantik maupun tampan mereka, petugas Lotte World dengan senang hati menjalankan wahana-wahana di sana entah dengan sogokan foto bersama, tanda tangan ataupun tanda kaki.

“Eunkyung-ah, tolong jaga barang-barang kami ya!” ucap Key setelah satu per satu dari mereka menitipkan segala macam bawaan mereka pada Eunkyung.

Setelah itu Eunkyung hanya bisa melongo melihat mereka semua pergi berhamburan ke wahana roller coster menyadari tujuan ia diajak pergi adalah untuk menjaga barang mereka selagi mereka semua bersenang-senang. Eunkyung mendorong kereta Jiseok dengan segala barang tersangkut di tangan dan lehernya. Menonton dari bangku semen di dekat counter makanan. Roller costernya baru saja dijalankan.

Teriakan-teriakan mantan-mantan artis itu terdengar riuh bergabung dengan suara mesin roller costernya.

Eunkyung gondok duduk sendirian di sana. Ia menggendong Jiseok yang mulai tidak betah berada di kereta dorong.

Wahana itu sudah berhenti berputar, ke-7 orang itu bukannya mendatangi Eunkyung malah terlarut dengan kesenangan mereka sendiri. Mereka mencari wahana-wahana lain.

“Seharusnya aku tidak datang!”

Eunkyung menghempaskan semua bawaan yang bukan miliknya ke dalam kereta Jiseok. Jiseok sendiri ia gendong dengan sebelah tangan. Ia menyeret kereta itu mengikuti ke mana “teman-teman” barunya pergi.

Akhirnya sama sekali tidak ada yang mengingat Eunkyung yang merana. Jiseok sibuk bersuara

“Nana bu anya nya” dari tadi sambil bergerak lasak di gendongan Eunkyung.

Sebuah tepukan di pundaknya membuat Eunkyung menoleh.

“Kau rupanya.”

Taemin melempar cengiran lebarnya.

“Kau tidak mau ikut main?” tanya Taemin.

“Jika kau mau menggantikanku menjaga Jiseok dan setumpuk barang teman-temanmu, dengan senang hati aku akan mencoba semua wahana di sini Taemin! -_-“

“Oh, haha.”

Tiba-tiba tangisan Jiseok pecah lagi.

“Kenapa dia?” Taemin semakin mendekat ke tempat Eunkyung duduk untuk melihat Jiseok.

“Molla.” Jawab Eunkyung sambil menenangkan Jiseok.

“Mungkin ia lapar, kau bawa susunya?” tanya Taemin.

“Iya, coba kau cari si sana.” Eunkyung menunjuk kereta bayi itu sekilas.

Setelah mendapat botol susu Jiseok, Taemin membawanya pada Eunkyung. Ia mengarahkan dotnya ke mulut kecil Jiseok. Namun Jiseok menolaknya.

“Taemin-ah! Bisa kau gendong Jiseok sebentar? Kurasa ia pipis.” Pinta Eunkyung.

Tanpa banyak protes, Taemin mengulurkan kedua tangannya ke arah Jiseok kecil yang menangis. Posisi mereka begitu berdekatan saat Taemin mengambil Jiseok dari Eunkyung.

“Aigoo, pasangan muda yang sangat manis!” sontak Taemin dan Eunkyung menoleh bersamaan ke arah kumpulan ibu-ibu yang membawa anak balita mereka.

Taemin melemparkan senyum manisnya ke ibu-ibu tadi sementara Eunkyung yang niatnya ingin tersenyum,sialnya  wajahnya malah terlihat seram membuat anak-anak balita ibu-ibu yang melihat mereka menjadi takut dan menarik ibunya pergi dari sana.

“Apa!?” sentak Eunkyung saat Taemin tertawa melihat anak-anak tadi ketakutan karena Eunkyung.

“Anniya, cepatlah ambil barang yang kau cari.” Ujar Taemin yang tengah menggendong Jiseok dengan sedikit canggung karena tidak biasa.

Eunkyung mengambil popok cadangan di  tas jinjing berukuran sedang berisi perlengkapan simple untuk bayi.

“Kau buka perekat popoknya!” perintah Eunkyung.

“Eh, caranya bagaimana?”

“Sini Jiseok aku yang gendong, kau tolong letakkan kain itu di kursi untuk alasnya Jiseok.”

Taemin kembali menyerahkan Jiseok pada Eunkyung, otomatis posisi mereka kembali menjadi sangat dekat seperti berpelukan.

“Jpreet”

Suara itu mengejutkan mereka berdua.

“Astaga, Krystal, kupikir ada netizen atau wartawan.” Ujar Taemin.

Krystal tersenyum sambil memamerkan foto dari kamera polaroidnya. Di belakangnya ada Minho yang berjalan dengan kaki diseret malas.

“Lihat foto ini, kalian berdua persis pasangan suami istri muda!” tutur Krystal.

Eunkyung tertawa ringan menanggapinya namun kembali fokus pada Jiseokie untuk mengganti popoknya.

“Kau mau ini?” Taemin mengangkat popok dengan kotoran bayi itu ke depan muka Minho.

“Tidak, untukmu saja, itu kan favoritmu.” Balas Minho sekenanya.

“Aku lapar, mana yang lain?” sambung Minho lagi.

“Molla, Jinki, Kibum dan Jonghyun oppa sudah tidak nampak lagi sejak kita berpisah tadi.” Jawab Krystal seraya ingin menggendong Jiseok.

“Mereka bertiga sudah pulang.” Taemin yang dari tong sampah (?) menyahut tiba-tiba sambil menunjuk ponselnya.

“Barusan Onew hyung menelponku.”sambungnya lagi.

“Drrt..drrt..”

Getaran dari kantung jeans Eunkyung membuatnya merogoh kantungnya mengambil ponsel putih polos itu.

“Taemin?” alis Eunkyung bertaut ketika membaca nama pengirim pesan yang sekarang berdiri tidak sampai 4 meter di hadapannya.

Kalau kubilang kita pulang duluan, kau menurut saja ya, nanti baru kujelaskan.

 

 

                                                                                                                                    

Ketika Eunkyung mendongak, pandangannya bersibobrok dengan Taemin yang mengedipkan sebelah mata padanya. Eunkyung hanya menatap heran, namun mengangguk samar juga.

“Jadi sekarang kita mau apa? Atau langsung pulang?” tanya Minho.

“Kau kan sudah lapar, cari makan saja dulu, lagi pula sebentar lagi memang jam makan siang.” Sanggah Taemin.

“Ya sudah, ayo kita makan.” Ajak Minho lagi.

“Kalian makan berdua saja, aku harus pergi sekarang dengan Eunkyung.”

“Mwo?” refleks Minho cepat.

“Aku dan Eunkyung ada ingin pergi ke suatu tempat.”

“Tempat apa? Kalau dia pergi, siapa yang menjaga Jiseok?” ujar Minho.

“Jiseok denganmu saja, toh kemarin kau sudah janji padanya, kau bilang kau mau mengajaknya jalan-jalan dengan ahjumma yang cantik kan?” Eunkyung berkata sambil melirik Krystal, Eunkyung memikirkan kembali, barulah ia menyadari bahwa ucapannya barusan sama saja mengatakan Krystal itu cantik dan dia tidak.

“Kau kan pengasuhnya, jangan coba-coba kabur dari tanggung jawabmu!”

“Sudahlah, tidak apa, sekalian kita ajak Jiseok jalan-jalan.” Sahut Krystal sedikit melemparkan tatapan entah apa maksudnya pada Eunkyung..

“Kalau begitu kita pulang saja, makan di rumah saja.” Ujar Minho lagi.

“Kau mau makan bantal sofa dan bunga plastik hah? Di rumah tidak ada makanan dan sesuatu yang bisa dijadikan makanan.” Balas Eunkyung pula.

“Kenapa kalian tidak ikut makan bersama kami saja, kalian juga belum makan kan?”

“Baiklah, kami mau kencan!” 2 pasang mata melotot ke arah Taemin, sementara Taemin malahan mengaitkan tangan kiri Eunkyung di lengannya.

“Oh, ya sudah, bilang yang jelas dari tadi.” Minho menarik tangan Krystal dan berbalik meninggalkan Taemin dan Eunkyung yang masih bertaut-tautan (?).

“Yah! Keretanya!” Panggil Eunkyung, namun Minho tetap saja berjalan dan Krystal mengikutinya dengan cukup susah karena sambil menggendong Jiseok.

“Cish, perjanjiannya kan Jiseok satu paket dengan keretanya!” gerutu Eunkyung.

“BOO!”

“…”

“Kalian tidak terkejut?” tanya Onew kemudian melihat tidak ada respon dari Eunkyung dan Taemin.

“Tidak.” Jawab taemin singkat.

“Hey bocah! Lepaskan tanganmu dari Eunkyung! Kau makin pintar cari-cari kesempatan ya.” ujar Jonghyun tiba-tiba sambil menunjuk-nunjuk tangan Eunkyung yang Taemin peluk.

Taemin nyengir, sementara Eunkyung pun tidak sadar tangannya masih dipegang-pegang jadi salting sedikit.

“Kata Taemin kalian semua sudah pulang duluan?” heran Eunkyung.

“Anni, kami hanya bersembunyi di balik tanaman hias itu! Sampai aku digigiti nyamuk. Kujamin nyamuk-nyamuk itu berjenis kelamin perempuan semua, mereka terpesona dengan ketampananku. Tapi jam segini masih saja ada nyamuk, keseimbangan ekosistem memang sudah terganggu!” Onew sudah melantur kemana-mana namun sama sekali tidak memberikan jawaban yang diinginkan Eunkyung.

“Ini semua permintaan Krystal, ia meminta tolong pada kami untuk merencanakan semua ini, kau tahu, cinta lokasi.” Sambung Key.

“Krystal akan menembak Minho hari ini.” Ujar Taemin.

“Ha, oh.” Sependek itu respon dari Eunkyung.

“Ayo pulang ke apartemen Minseok hyung!” teriak Jonghyun.

“Apa yang kau sebut pulang? Rumah orang kau bilang pulang!” sindir Key.

“Kau pikir kau tinggal dimana 3 hari ini pak kunci?”

“Di rumah Onew hyung, setidaknya bukan di loteng!”

“Ya!”

*****

Minho’s Pov

“Aku pulang!”

Aku melepas sepatu meninggalkannya begitu saja tanpa disusun ke rak. Berapa langkah saja bungkus makanan ringan dan kulit kacang kutemukan berserakan.

“Cih, mereka semua bersenang-senang di rumah orang rupanya.”

Jiseok tertidur sejak dari mobil, kelelahan mungkin. Aku meletakkan tas bayi di atas meja ruang tengah sambil geleng-geleng melihat rumah yang super berantakan.

Kutaruh Jiseok di boxnya kemudian keluar kamar mencari-cari siapa lagi kalau bukan pengasuh bayi itu yang sekarang tidak terlihat sama sekali.

Di kamar mandi, dapur, kamar hyung dan noona, di ruang tv tidak ada.

Seseorang masuk, itu pasti dia.

“Ya! Dari mana saja kau, baru ditinggal sebentar saja sudah pergi entah kemana. Rumah berantakan seperti kapal pecah, kenapa kau biarkan laki-laki idiot itu berpesta di sini?”

“Maaf, aku membeli karbol lantai. Aku akan membereskan semuanya.” Dahiku mengernyit, tumben anak itu kalem.

Aku masuk ke kamar, mengganti celana panjang yang membuat gerah siang-siang begini dengan celana pendek. Aku merogoh saku jaketku yang kupakai pergi tadi, tanganku meraba benda seperti kertas.

Setelah dikeluarkan rupanya beberapa foto yang diambil Krystal di Lotte World  Aku memindahkan foto itu ke atas meja sementara jaketnya dan baju lain yang tergantung di belakang pintu ku ambil.

“Cucikan bajuku!” aku melempar baju-baju itu ke lantai dimana Eunkyung tengah berjongkok memunguti sampah.

Ia diam dan mengangguk tanpa protes. Aku pergi ke dapur mengambil sekaleng soda dari kulkas. Saat kembali ke ruang tengah kulihat ia tengah menyedot debu dengan vacum cleaner.

Aku mengambil remote TV dan meletakkan minumanku, kemudian berselonjor di atas sofa. Hari ini entah kenapa panas sekali.

Sebentar-sebentar kulirik Eunkyung yang bekerja dalam diam. Tumben sekali mulutnya itu tidak mengeluarkan kicauan menyebalkan. Ia sudah beralih mengepel sekarang. Aku beranjak dari sofa dengan minuman sodaku, dengan sengaja aku menjatuhkan minuman itu di atas lantai yang telah ia pel.

Eunkyung melihat minuman itu mengotori kembali lantai yang sudah mengkilap. Tanpa komentar ia memungut kaleng minumanku untuk membuangnya dan kembali mengepel lantai itu.

Anak ini sakit ya?

Aku mondar mandir dari ruang tamu, ke balkon, ke ruang tengah, lalu lalang di atas lantai yang tengah ia pel. Tapi masih saja tidak ada protes darinya dan ia masih adem ayem mengulangi mengepel pada lantai yang kotor oleh jejak kakiku.

Ish, anak ini membuatku merinding. Dia kesurupan apa selama sendirian di rumah tadi?

Tangisan Jiseok menggema dari dalam kamar.

“Aku saja yang ambil, kau teruskan saja.” Eunkyung mengambil gagang pel yang baru saja diletakkannya.

Aku menggendong Jiseok yang menangis, ingin kubawa ke ruang tengah. Ponselku bergetar dari dalam saku celana. Aku merogoh seluruh kantung celana pendekku.

“Yoboseo!?”

“Yoboseo, ya? Itu suara Jiseok? Kau apakan Jiseok hah? Berikan telponku padanya!” teriak Jisun noona.

Kuaktifkan loud speaker di ponselku.

“Jiseokkie!! Ini eomma sayang. Jiseokkie kok nangis sayang? Minho ahjussi nakal ya? Blablabla…”

Sementara nona Choi itu sibuk menjelek-jelekkan aku pada anaknya, Jiseok pun sudah mulai reda tangisannya, mungkin ia rindu ibunya juga. Aku melirik Eunkyung yang mengepel di dekat tangga, ia terlihat memungut sesuatu.

“Apa itu?” tanyaku, ia menoleh.

“Hah? Ada apa?”  ujar suara di telepon.

“Anniya, aku bicara pada Eunkyung, sudah dulu ya.”

“Ya.. chanka.. klik”

 

Aku berjalan ke arah Eunkyung, mengambil benda di tangannya. Foto ku dan Krystal di bianglala dengan gaya peace sign kami, eng ditambah krystal yang mencium pipiku.

“Pasti tadi tertinggal di kantung jaketku dan terjatuh di sini.” Ujarku menambahkan.

“Sudah cepat selesaikan pekerjaanmu, setelah itu masak!”

Drrt..

“Wae gurae?”

“Wae gurae kepalamu! Dasar kurang jelek! –> O.o aku belum selesai bicara seenak jidat kau putuskan telponnya… blablabla”

*****

“Minho-ssi!”

“…”

“MAAF!”

“BLAM!”

“Cklek.”

“Lain kali ketuk pintu dulu!” tekanku.

“Arraseo. Maaf.”

“Kau melihatnya?”

“Hah? Hanya yang motif polkadot pink itu sekilas kok.”

“Kau melihatnya. (¬.¬”) Mau bilang apa?”

“Besok aku harus ke kampus. Aku lupa kalau besok ada kuis. Kumohon kau mau menggantikanku sebentar saja menjaga Jiseok.” Bahasa formalnya membuat kupingku sakit.

“Kalau aku tidak mau?”

“Sebentar saja Minho-ssi!” pintanya agak melas.

“Aku sibuk besok. Maaf ya.” Aku berjalan mendahuluinya ke meja makan.

Aku sudah duduk anteng, namun ia tak kunjung datang.

“Hey! Baiklah besok aku yang jaga Jiseok sudah jangan nangis, ayo makan!” teriakku.

Eunkyung mendatangi meja makan bersama Jiseok. Ia mendudukkan Jiseok di pangkuannya dan menyuapi bubur bayi usia 6 bulan pada Jiseok.

Entah hanya perasaanku atau memang benar, dia jadi pendiam hari ini.

^^^

Jam 2 malam aku terbangun. Tenggorokanku serasa tercekat, haus sekali. Aku bangkit dari kematian #DUAGH dan kegelapan di dalam kamarku. Siluet cahaya lampu dari luar merambat masuk ke kamarku dari ventilasi. Begitu keluar kamar, ruang tengah memang masih terang benderang. Dari lantai 2 dapat kulihat ruang tengah masih berpenghuni. Aku menuruni tangga berjalan ke sofa. Buku-buku berserakan di atas meja aku pun hampir menginjak kertas miliknya yang berhamburan di lantai. Badan Eunkyung menyandar di sofa, namun kepalanya tertunduk, pasti sudah tidur.

Kuambil buku yang masih terbuka di atas pangkuannya.

“Metabolisme? Heh? Dia mahasiswa hukum(?) Astaga. (-_-“)”

Mataku menangkap setitik noda di atas buku itu, kuusap sedikit malah meleber. Aku langsung melemparkan buku itu asal. Kutegakkan kepalanya yang tertunduk, darah segar masih mengalir dari hidungnya. Aku mengambil tissue lalu kuusaap hidungnya. Wajahnya lelah, kurasa kurang tidur.

“Ck, merepotkan! Makanya kalau belajar jangan sistem kebut semalam!” dan sambil menggerutu aku mengangkat badannya untuk dipindahkan ke kamar.

“Makan apa lah kau ini, berat sekali!”

Aku meletakkannya perlahan ke atas ranjang di samping box Jiseok. Kuturunkan bantalnya hingga ke leher supaya mimisannya berhenti. Selimutnya kutarik sampai ke dada.

Sumpah! Entah terbawa suasana atau otakku korsleting  atau aku ini memang masih belum bangun, atau apapun lah demi sup kimchi yang kumakan waktu makan malam tadi, hampir saja aku mencium keningnya.

MINHO! KEMBALI KE KAMARMU! SEKARANG!!!

*****

“Ding dong ding dong odong odong”

“SABAR!!!”

Taemin nyengir di depan pintu.

“Aku tidak ikut jogging hari ini. Sudah ya!”

“Ya hyung, chankamanyo!” cegahnya saat pintu mau kututup, dan ia langsung menyelip masuk ke dalam.

“Ya! Mau apa kau? Pagi-pagi rusuh di rumah orang!” aku membanting pintu mengejar Taemin yang sudah kabur ke dalam.

“Annyeong Eunkyung-ah!” ujarnya sok manis pada Eunkyung di dapur.

“Cih, dasar centil!”

“Annyeong Taemin-ah, kebetulan aku sedang buat susu Jiseok, ini takaran air dan susunya, airnya hangat-hangat kuku saja ya, maaf merepotkan, aku kan pulang secepat mungkin jika urusan di kampus sudah selesai, jadi…”

“YA!” aku menginterupsi percakapan mereka.

“Kau menelpon rambut merah ini untuk menjaga Jiseok?” tanyaku.

“Ne.” Jawab Eunkyung singkat.

“Nomu kamsahe Taemin-ah. Aku pergi dulu.” Eunkyung melengos pergi melewatiku begitu saja.

“De! Sampai jumpa semoga kuismu sukses.” Teriak Taemin dengan gaya centilnya.

Aku melotot melihat Taemin.

“Cungkring kau pulang gih, di sini kau akan buat kacau saja.” Usirku.

“Shireo, aku sudah diberi kuasa dari Eunkyung. Jadi kau diam saja di sana tidak usah ikut-ikutan.” Tolaknya.

“Terakhir kau membelikan Yoogeun susu untuk lansia waktu Hello Baby, sebaiknya kau pulang sebelum kau meracuni keponakanku.”

“Shireo!”

“Lee Taemin!”

^^^

Sudah jam 12 siang, Eunkyung masih belum pulang. Bocah tengil satu itu sudah 3 kali hampir membunuh Jiseok, mulai dari air susu mendidih, Jiseok yang hampir jatuh dari sofa, ia yang hampir tergelincir di tangga saat menggendong Jiseok.

“Hyung, Jiseok buang air! Aku tidak bisa ganti popoknya!” teriak Taemin dari kamar.

“Sudah kubilang kau pulang saja!” gerutuku.

“Hyung aku lapar!”

“Aku seperti menjaga 2 bayi kalau begini.” Aku membawa 2 mangkuk ramyun instan yang baru kumasak ke hadapan Taemin yang bermain dengan Jiseok di lantai.

Taemin tidak begitu menanggapi karena ia begitu fokus menulis sesuatu.

“Kau sedang apa?”

Cepat-cepat ia menyembunyikan kertas itu, namun kakinya menyenggol ramyun yang panas tadi hingga tumpah. Dengan sigap aku menangkap Jiseok yang terduduk percis di samping mangkok Taemin.

“YAH TAEMIN-AH!”

^^^

Akhirnya ramyunku dimakan Taemin dengan imbalan aku boleh melihat apa yang ia tulis tadi.

“Ramyunmu sudah habis, perlihatkan apa yang kau tulis tadi?” pintaku.

“Ck, hyung, kenapa kau selalu mau tahu urusan orang.”

Aku merampas secarik kertas pink mudanya itu.

Matamu yang bening, rambutmu yang acak-acakan saat pertama kali kita bertemu membuatku tak bisa mengalihkan pikiranku dari wajahmu yang penuh iler saat itu.

Oh, pujaan hati, walau pertemuan kita sangat singkat, tapi tawamu, senyummu, lirikan matamu selalu sukses membuat jantungku serasa lepas dari rongganya karena dentumannya seperti marching band saat festival. Semuanya.. sangat membekas.

Otak, jantung, hati, paru-paru, lambung, usus halus atau usus besarku pun sekalian hanya untukmu.

I know right those words even heard so weird, at least i wanna tell you that you are the one and only. Saranghae Seo Eunkyung, plis be mine..

 

                                                                                                                                     Sincerely, handsome Taemin

Aku menatap heran, ingin tertawa, ingin boker saking takjubnya dengan satu paragraf berisi tulisan ternorak sejagat raya yang originally karangan pujangga gagal yang sedang cengo di depanku ini.

“Maaf Lee Taemin.. hmmph… hh BRUAKAKAKAKAKAAKAKAKAAKAKAKA!!!!!”

“Apa yang lucu Minho?” tanyanya berlagak sok sengak.

“Kumohon, jangan bilang semua gadis itu kau berikan surat dengan kenorakan tingkat dewa seperti ini?”

“Kalau iya, kenapa? Toh sampai sekarang aku belum pernah ditolak.” Ujarnya santai kemudian merebut kertas itu dari tanganku lagi.

“Aku ini seorang cassanova sejati hyung.” Masih dengan gayanya yang sok cool ia mengatakannya.

“Aigoo, Taeminnie, perutku sakit, stylemu itu tempo dulu sekali.”

“Well,  just watch and see. Kau orang pertama yang kutraktir setelah aku diterima.” Ujarnya yakin.

*****

Aku duduk di meja makan berdua saja dengan Eunkyung.

“Jiseok oppa dan Jisun onnie akan sampai malam ini.” Ujarnya memecah keheningan di antara kami.

“Ne.” Balasku singkat.

Ponselku berbunyi nyaring.

“Yoboseo! Ne, humm. Aku sedang makan… Hahaha… Baiklah… Annyeong Krystal-ah, aku titip salam dengan ibumu.”

Sambungan teleponku terputus.

“Baga..”

Ucapanku terputus karena kulihat Eunkyung yang sepertinya tadi baru memakan beberapa suap mengangkat mangkuknya ke bak cuci, tak lama pun aku melakukan hal yang sama, selera makanku yang gila-gilaan malah hilang sekarang.

Aku menonton TV mencoba mencari channel yang bagus. Pertandingan bola final liga Inggris yang disiarkan di salah satu channel pun kutemukan, aku bahkan sudah lupa kalau pertandingannya hari ini.

“Krieet..”

Suara pintu itu terdengar.

“Yoboseo.” Aku mencuri dengar Eunkyung yang berbicara dengan seseorang.

“Taemin-ah mworago? Oh.. tidak usah, kebetulan aku ingin ke mini market, kita bertemu di sana saja.”

Aku pura-pura fokus menonton.

“Minho-ssi.” Panggilnya.

“Hmm?”

“Aku pergi keluar sebentar, tolong jaga Jiseok ya.”

“Hmm.” Balasku acuh.

Pintu apartemen ditutup.

“Ada urusan apa dia dan Taemin?”

“Bukan urusanku.”

Aku menonton layar yang menampilkan lapangan hijau opening ceremonial yang hampir selesai dilakukan.

Aku kembali berkonsentrasi.

Baiklah!!!!  TIDAK BISA KONSENTRASI.

Mau tidak mau aku juga memikirkan perkataan Taemin tadi siang. Bagaimanapun, di antara SHINee, bukanlah Jonghyun, melainkan Taemin si magnae sok polos yang merupakan player sesungguhnya.

“Tidak, kurasa tidak.”

“Tapi bagaimana kalau dia memang serius dengan Eunkyung?”

“Astaga, suratnya! Jangan bilang Taemin ingin memberikan suratnya. Holy shit!”

Aku berlari keluar. Lift masih jauh berada di lantai dasar.

Aku melompat ke arah tangga darurat, sampai di lantai 3 aku mengejar lift yang hampir tertutup, masuk ke liftnya.

“Jangan sampai Lee Taemin. Awas saja kau dan surat norakmu itu akan aku robek-robek.”

Aku berlari melangkahkan kakiku selebar-lebarnya.

Author’s Pov

“Ke mini market tadi dia bilang.” Minho bergumam sendiri.

Ia berlari hingga sampai di hadapan seorang gadis berbaju lengan panjang dan celana training yang sedang berjalan.

“Hhhh hah hah ahh hossh hahh, kau! Mana Taemin hhh..?” nafas lelaki Jakung itu sudah tinggal sepenggal.

“Sudah pulang, barusan.” Dahi Eunkyung berkerut mendapati Minho dengan wajah susahnya yang sekarang semakin tampak susah karena terengah-engah

Minho menatap Eunkyung dengan pandangan campur aduk membuat Eunkyung menatap orang itu horor.

“Aish, apa ia memberikanmu sesuatu?” tanya Minho lagi tak sabar.

“Hmm? Tidak ada.” Balas Eunkyung pula singkat sekali.

“Kalau begitu apa itu!!” tunjuk Minho ke arah bungkusan yang dipegang-pegang Eunkyung dan sekarang disembunyikan di balik badannya.

“Bukan apa-apa.” Sanggahnya.

“Bohong, pasti apa-apa. Sini aku mau lihat.” Minho mengulurkan tangannnya berusaha mengambi bungkusan itu namun dihalangi Eunkyung.

“Ya! Apa yang kau lakukan!” pekik Eunkyung saat insiden tarik- menarik di pinggir jalan sudah terjadi

sekarang.

“Itu pasti surat dari Taemin kan!” tuduh Minho.

“Surat apa? Kau ini mabuk atau apa?”

“Jangan berlagak tidak tau apa yang kumaksud, kubilang berikan saja! Kenapa kau tidak mau menurut!” sentak Minho tak mau kalah.

Saking dashyatnya kekuatan Minho dan Eunkyung, plastik putih itu sobek hingga isinya jatuh ke aspal.

Cepat-cepat Eunkyung mengambil benda itu namun ia kalah cepat dengan tangan panjang Minho.

“Berikaaaaan!” pekik Eunkyung kedua tangannya menggapai-gapai namun sebelah tangan Minho menghalang-halanginya.

“Extra large 30 cm plus sayap, cegah bocor samping dengan daya serap 3x lebih baik. Harga promosi, beli 8.. da..pat…2.” Suara Minho semakin melambat dam pelan pada akhir kalimat.

“Eng, ini..”

BAGH

BUGH

DUAGH

“KENAPA KAU SELALU INGIN TAHU URUSAN ORANG!!!”

Dengan emosi yang sudah lepas dari ubun-ubun, Eunkyung memungut pembalut korban sesungguhnya dari persaingan tarik-tarikan tadi yang sekarang tidak berdaya tergeletak di jalan.

“Ya, auw, aduh. Sakit sekali!” Minho menangkap tangan Eunkyung sambil mengaduh ria.

“Wae gurae!” sentak Eunkyung dengan mata yang ingin melompat keluar.

“Jadi mana surat dari Taemin? Aigoo, nomu apposo.” Rengek Minho.

“JELEK!  Dari tadi bilang surat-surat, Taemin tidak memberikanku apapun apalagi surat yang kau sebut. Dia menelponku pinjam uang karena dia lupa bawa dompet ke mini market itu saat lewat di daerah sini. Tidak ada surat-suratan!”

Grepp.

Detik berikutnya Minho malah menarik Eunkyung jatuh tenggelam ke pelukannya.

“Aaaaa!! Kenapa memelukku!” untuk ke sekian kalinya Eunkyung memekik pada Minho hari itu.

Mendengar itu, Minho pun refleks melepas pelukannya mendorong Eunkyung hingga gadis itu terhuyung beberapa langkah ke belakang.

“Apapun bagaimanapun, jangan mau terima surat pink norak dari Taemin!” perintah Minho.

“K-a-u!” ujar Eunkyung penuh penekanan.

“Kau ini kenapa! Sudah punya pacar masih peluk-peluk orang lain! Menyuruh-nyuruh! Kau!Pria centil! Kaus kaki! Kimchi busuk! Kaki belalang! Tahu lembek! IDIOT!” Eunkyung berteriak menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah Minho.

“Kenapa kau marah-marah! Dan siapa yang bilang aku punya pacar?”  sanggah Minho.

“Aaaaaaaaaaaa! Aku pusing! Aku mau pulang!” Eunkyung mengacak-acak rambut panjangnya frustasi lalu melangkah dengan hentakan keras meninggalkan Minho.

“Chankamanyo! Kau.. kau cemburu pada Krystal? Ya kan! Mengaku!” Minho mengekor.

“Lupakan!” ujar Eunkyung dengan nada kejam.

“ Belakangan ini kau jadi pendiam! Kau cemburu padaku! Kau suka aku!”

“Kau bermimp..”

Minho menangkap Eunkyung, memeluknya dari belakang menginterupsi Eunkyung yang kaget.

“Aku suka padamu! Aku cemburu waktu Taemin bilang ingin menjadikanmu pacarnya. Aku kesal sendiri waktu kau dekat-dekat dengan Taemin, dan aku sama sekali bukan pacar Krystal. Aku tidak tahu kenapa walau pertemuan kita sangat singkat, tapi tawamu, senyummu, sukses membuat jantungku ingin lepas dari rongganya. Otak , jantung, hati, paru-paru, lambung, usus halus atau usus besarku pun sekalian hanya untukmu.” (—> plagiat)

Duagh

“Auuw!” Minho menjerit melepas pelukannya pada Eunkyung, kali ini kakinya yang jadi korban.

“Kau pikir aku tukang jual jeroan sapi hah!” Jika saja bulan yang menyaksikan mereka malam itu bisa bicara, ia pasti akan memberitahukan Minho bahwa Eunkyung  hampir kejang-kejang saat dipeluknya tadi!! -__-

“Kau tidak ada romantis-romantisnya! Sudahlah jangan gengsi!” balas Minho.

“Apa yang kau sebut gengsi! Kau dan si garam itu, aku tidak perduli!! Dan satu lagi anak bayi seperti Jiseok pun tahu kalau kata-kata norakmulah yang terlalu jauh dari standar kategori romantis!”

“Jiseok?”

“Astaga! CHOI MINHO! JISEOK DI MANA?”

*****

“Jiseokie.. eomma pulang sayang!” Teriak Jisun dari ruang tamu. Minseok sibuk menggeret koper besar mereka. Namun ia malah disambut suara tangisan bayi dari kamar.

“Minho! Eunkyung!” Panggil Jisun lagi yang langsung melesat ke kamar.

Jisun menemukan Jiseok hampir jatuh dari ranjang.

”MINHOOOOOOO!!”

“EUNKYUUUUUUUUUUUUNG!!”

.:END:.

a.n:  So damn late! Mian mian. Minggu lalu aku lagi banyak ulangan. Sebenarnya udah nyicil-nyicil juga buat lanjutin ini, dan beginilah hasilnya, garing -__- maaf kalo endingnya tidak sesuai harapan, kepanjangan dan membosankan. Hiksu 😥

Advertisements

2 thoughts on “Hey Baby.. Sitter [End]

  1. Hahaha
    kocaak sumpah…!
    SMEnt gulung tikar? Haha gak dapat bayangin..!!
    Trus… Syaini, suju, snsd, f(x) pada pensiun dan jadi pengangguran nih? Ha ha ha

    hai..hai aku datang lagi, hehe
    ini di postnya udah agak lama ya? Bulan agustus, gapapa ya aku baru baca sekarang? ^^v
    maklum..baru menemukan

    ffnya lucu~ ini bisa jadi obat badmood deh, jadi ngakak2 sendiri bacanya 😀
    buat lagi yg kayak gini ya~

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s