Hey Baby.. Sitter

Hey Baby.. Sitter

Cast: Seo Eunkyung, Choi Minho, Krystal Jung and others

Rating: SU

Genre: fluff, failed romance

Summary:

SMent BANGKRUT *ayeyy* dan asetnya tercecer :mrgreen:

 

Part 1

Pagi yang cerah untuk jiwa-jiwa sesat penghuni ruangan berukuran 6 m x 5 m di apartemen dinobatkan sebagai penyandang predikat Dorm SHINee.

“BRAK! SELAMAT PAGI PARA PEMALAS!” suara melengking seorang pria yang dulunya bercita-cita sebagai main vocal untuk sebuah boyband bernama Syaini namun tidak kesampaian itu bergema di ruangan yang masih disesaki 5 orang bocah beranjak lansia dan udzur #plak

Tidak ada perubahan yang berarti, kelima makhluk dengan julukan “Berkilau” itu masih menggelepar ria di ranjang masing-masing.

“Okay, masih ada 1 menit sebelum aku mengunci dorm ini. Terserah kalau kalian ingin menjadi penghuni “abadi” apartemen ini.”

Dengan tidak rela, 5 tubuh mulai bangkit dari tempat bersemayamnya satu-persatu.

“Hyung! Kasihanilah kami! Kami tidak bisa pulang ke rumah karena kendala, rintangan dan cobaan sudah menunggu jika kami pulang.” Seru sang leader maniak ayam bernama Onew.

“Hyung, kau mau saat comeback nanti aku kembali kesini dengan 2 anak dan seorang perempuan yang harus kusebut anae?” sambung seorang lagi yang sangat bangga dipanggil dengan kunci.

“Gembok sayang, mungkin setelah ini kalian tidak akan mengalami yang namanya comeback lagi.”

“Hyung, sumpah, tidak elit sekali kalau nanti “Mantan pacar Shin Sekyung secara resmi akan menetap di loteng rumah kakak iparnya” jadi headline utama di majalah-majalah gosip selama seminggu berturut-turut.” si beling berkoar kali ini.

“Jonghyun, kenapa tidak tinggal di rumah orang tuamu saja?”

“Oh manajer, orang tuaku bahkan menumpang dengan kakakku.”

“Baiklah, itu deritamu nak. Apa Taemin?”

Taemin menurunkan tangannya.

“Aku tidak mau satu kamar lagi dengan si tukang mengorok Lee Taesun hyung.” Protes Taemin menggebu-gebu.

“Minnie, si hantu ayam itu bahkan memiliki suara grook grook yang lebih mengerikan.” Manajer Jang melirik sinis The Dorky Onew membuat anak satu itu menghentikan aksi upil-mengupilnya.

“Dan kali ini apa alasanmu Minho?” Manajer Jang berkacak pinggang menatap Minho yang kembali bergulung di balik selimut.

“Solidaritas antar pekerja yang baru diPHK.” Racau pemilik badan jakung berlubang hidung 2 dari balik gulungan selimutnya.

“Hyung, aku tinggal di rumahmu saja ya!” bujuk Key mesra[?]

“Hell NO! Bisa-bisa istriku selingkuh denganmu. Sudah no excuse, no protest, cepat angkat kaki kalian dari sini.”

“Huuu!” Sorak para laki-laki “Bersinar” sambil mendorong koper berisi pakaian dan barang masing-masing.

Semuanya sudah berpakaian rapi dan sudah mandi kecuali Onew dan mereka hanya pura-pura tidur saat manajer Jang datang untuk mengeksekusi apartemen yang telah ditinggali mereka 4 tahun terakhir.

Diantara mereka, hanya Jinki alias Onew yang memiliki mobil pribadi, dan jadilah ia sebagai supir mengantarkan adik-adik yang bukan adiknya ke rumah orang tua masing-masing. Sementara mantan penyandang gelar The Almighty Key harus puas pulang ke rumah orang tuanya di Daegu dengan angkutan umum bernama bus.

Minho yang terakhir diantar ke Incheon melambai tidak jelas mengiringi kepergian mobil jeep putih Jinki. Ia membuka pagar rumahnya. Dengan asumsi pintunya tersangkut Minho masih mencoba membuka pintu. Namun mata suramnya menangkap rantai lengkap dengan gembok terpasang indah di pintu gerbang. Sedetik berikutnya ponsel samsung berwarna hitam Minho bergetar di dalam saku celana jeansnya.

Minho menyentuh layar sentuh ponselnya, pesan singkat itu terbuka.

“Minho-gun, appa dan eomma menang undian pasta gigi liburan gratis 3 hari di pemandian hokaido, setelah itu kami akan tinggal berkunjung ke rumah bibimu yang di Tokyo, kau tinggal di rumah Minseokie saja ya, appa lupa memberitahumu lebih awal. Kami sudah mau masuk pesawat.”

Minho mendengus melihat isi pesan itu, setelahnya ia menggerakkan kakinya menyusuri jalan perumahan hingga sampai di pertigaan yang menghubungkan dengan jalan raya. Tidak jauh dari sana ada halte bus dan di saat bersamaan Minho berlari mengejar bus yang sudah berhenti di depan halte dan terlihat ingin segera pergi dari sana. Sebisa mungkin Minho berlari mendapati bus itu, dengan kakinya yang panjang, ia berhasil masuk ke bus dan seketika bus pun melaju.

Minho menyusuri koridor panjang di dalam sebuah mension. Matanya mencari-cari pintu bernomor 303. Hingga ia menemukan ruangan itu dengan pintu yang terbuka, tanpa basa-basi, ia masuk dan merebahkan diri ke sofa ruang depan yang dijadikan ruang tamu oleh pemilik ruangan itu.

“Astaga! Kenapa kau muncul secara ajaib hah?” Minho melirik ke asal suara sebentar, kemudian melepas ransel dari bahu kirinya dan baring dengan sepatu masih terpasang di kedua kakinya.

“Di rumah tidak ada orang. Aku disuruh ke sini.”

“Oek.. oek”

“Anae, Jiseok rewel lagi!” teriak suara tenor laki-laki yang berasal dari kamar sesaat setelah suara tangisan bayi terdengar.

Nyonya Choi yang berdiri tak jauh dari Minho kini beralih ke dapur segera membuatkan sebotol susu formula meninggalkan Minho yang hampir tertidur di sofa.

Namun tangisan bayi yang kencang membuatnya terusik mendatangi asal suara.

“Anae, mana susunya?” Minseok langsung bertanya ketika merasa seseorang masuk ke dalam kamar tanpa melihat.

“Susu yang mana yeobo?” jawab Minho ngasal dan sok mesra dengan suami orang!

Minseok berbalik mendapati laki-laki bertubuh lebih tinggi darinya berdiri menjulang dengan cengiran tidak jelas.

“Ya! Kenapa kau muncul seperti setan? Kapan kau datang?” heran Minseok di sela-sela tangis Jiseok

“2 menit yang lalu.” Ujar Minho seraya mengambil alih Jiseok dari gendongan ayahnya.

“Ada apa datang ke sini mendadak?” Minseok bertanya dengan diliputi perasaan tidak enak.

“Jangan bilang ia mau tinggal si sini! Jangan sampai dia mau tinggal di sini!” batin Minseok berulang-ulang, namun takdir berkata lain karena sejurusnya laki-laki jakung itu mengatakan,

“Disuruh appa tinggal di rumahmu.”

“Aish! Kenapa jadi aku yang harus menampung pengangguran sepertimu!”

Minho menatap Minseok dengan seakan mengumpat –sialan kau!- terlebih karena mendengar kata ‘pengangguran’.

“Memangnya ibu dan ayah kemana?” sambung Jisun dengan sebuah botol susu bayi di tangannya dari dapur.

“Bulan madu ke-2 kali!” jawab Minho ngasal lagi.

“Ya!”

“Dapat undian pasta gigi ke Jepang lalu mampir ke rumah bibi di Tokyo.”

Jisun meraih Minseok dari Minho dan setelahnya bayi 6 bulan itu menjadi tenang karena mulutnya tersumpal dot. Minho yang gemas melihat keponakannya yang kelihatan lapar sekali mencium pipinya.

“Kau malah terlihat seperti ayahnya!” sewot Minseok melihat tingkah Minho. Namun tak diacuhkan Minho. Sementara Jisun hanya tersenyum-senyum.

“Noona, kau punya sesuatu yang bisa dimakan?” Minho berkata seraya keluar kamar.

“Hyung! Kenapa banyak koper di sini?”

“Noona! Kenapa kulkas dan lemarimu kosong?” Ujar Minho masih teriak-teriak.

“Minho! Berisik!”

“DING DONG DING DONG!”

“Noona ada tamu!” Minho masih berteriak-teriak dari dapur.

“Kenapa anak itu cerewet sekali!” rutuk Jisun dibalas Minseok dengan satu gerakan mengangkat bahu.

Jisun melihat siapa tamunya dari layar yang terhubung dengan kamera di depan pintu. Kemudian ia segera membukakan pintunya.

“Annyeong haseo.” Ujar suara itu seketika pintu terbuka.

“Annyeong Eunkyung-ah, ayo masuk.”

“De!” Gadis berusia awal 20an itu terlihat sedikit repot menarik kopernya masuk.

“Siapa yang datang anae?” tanya Minseok.

“Oh, Eunkyung sudah datang?” ujarnya lagi basa-basi.

“De oppa.” Balas Eunkyung sambil melempar sebuah senyuman.

“Kenapa bisa di dapur hanya ada susu dan bubur bayi? Kalian berdua juga makan makanan itu ya?” teriak satu suara bass lagi beriringan dengan pemiliknya mendatangi ruang tamu.

Dua pasang mata menatap gemas Minho sementara sepasang lagi melihatnya terkejut setengah mati.

“Oh, ada tamu. Yeobo, siapa dia?” tanya Minho lagi lebih menyebalkan dengan suaranya yang dibuat-buat manja pada Minseok.

“Eunkyung-ah, mungkin akan ada perubahan rencana.” Jisun kembali bersuara menghiraukan Minho.

“Mungkin kau akan tinggal dengan anak tidak tahu diri ini.” Sambung Minseok.

“DE??” respon Eunkyung dan Minho sama persis.

“Makanya duduklah dan dengarkan baik-baik!” perintah Minseok.

Minho menurut dengan kakak sulungnya dan duduk di samping Jisun.

“Begini Eunkyung, kenapa bisa ada mantan artis di sini karena SM ent bangkrut, dia jadi tidak bisa tinggal di dorm sementara ayah dan ibu pergi ke Jepang beberapa hari, dan pengangguran ini tidak punya tempat yang dituju selain rumah ini, jadi..”

“Aku tinggal selama 5 hari dengannya?” sambung Eunkyung dengan nada yang tidak bisa disebut santai.

“Eng, kurang lebih seperti itu.” Jawab Jisun.

“Memangnya kalian mau kemana? Kenapa pakai acara memanggil pembantu?” tutur Minho dengan sama sekali tidak merasa berdosa.

GUBRAK BLETAK DORR!!!!

Mendengar Minho berkata seperti itu, Eunkyung merasa gondok setengah mati.

“Memangnya tampangku ada potensi jadi tampang pembantu apa?” rutuk Eunkyung dalam hati.

Melihat perubahan air muka Eunkyung, Minseok langsung bertindak.

“Bodoh, jangan menyangka orang sembarangan.”

“Eunkyung-ah, kumohon jangan dimasukkan ke hati ucapan anak bodoh ini ya.” Ujar Jisun

Eunkyung hanya tersenyum paksa, padahal kesal juga.

“Minho, aku dan Minseok akan pergi ke Cina. Minseok pergi karena pekerjaannya, aku pergi karena pekerjaanku, tapi kami sama-sama ke Cina. Di sana akan sangat sibuk dan kami tidak mungkin membawa Jiseok. Jadi, aku meminta Eunkyung untuk mengasuhnya selama kami tidak ada. Dan dia bukan pembantu bodoh, dia mahasiswa sekaligus tetanggaku yang sudah seperti adikku sendiri. Artinya derajatmu itu sama dengannya! Dan dengan tinggalnya kau di sini, jangan harap kau bisa bersantai-santai saja. Kau, tugasmu membersihkan rumah, menyapu, mencuci piring, mencuci baju..”

“Mwo?” potong Minho.

“Tidak ada penolakan. Dan Eunkyung, tugasmu hanya mengurus Jiseok saja. Kuharapa kau tetap merasa nyaman tinggal di sini walaupun ada si bodoh ini.”

Eunkyung mengangguk 2 kali, walaupun sebenarnya ia ragu apakah ia masih bisa tinggal dengan nyaman jika idol utamanya akan tinggal bersama dia. Dan sekarang pun Eunkyung  yakin ia tidak akan kuat berdiri karena kakinya masih lemas efek mendengar sesuatu yang menurutnya gila. Tinggal serumah dengan Choi Minho. Berdua! Sebenarnya bertiga, tapi keberadaan seorang bayi tentu tidak mengubah apapun.

“Mworago! Kenapa tugasnya hanya menjaga Jiseok, sementara aku banyak sekali!” protes Minho.

“Kau tidak sedang dalam posisi untuk menawar CHOI MINHO!” tekan Jisun noona.

Minho pundung lagi.

“Eunkyung, kau yang mengawasi Minho, kalau dia macam-macam padamu, jangan ragu-ragu untuk menelpon polisi.” Tambah Minseok.

“Kau pikir aku kriminal hyung!” sekali lagi Minho tidak dogubris sepasang suami istri,  kakak kandung dan kakak iparnya.

Eunkyung  tertawa garing saking shocknya.

“Eunkyung-ah, kau yang memegang kartu kredit dan ATMku, laporkan padaku kalau Minho memaksamu memberikan uang padanya. Oke, jadi semuanya sudah clear bukan?”

Minho diam saja, sudah malas memprotes, melihat 2 lawan 1, ia tidak akan bisa membela diri walaupun sudah dipojokkan dengan tuduhan-tuduhan yang menurutnya tidak benar, walaupun kenyataannya BENAR.

“1 jam lagi pesawatku dan Minseok  take off, kami harus ke bandara sekarang. Minho karena kau kebetulan di sini, kau antar kami ya!” nada Jisun yang cenderung memerintah daripada meminta tolong terdengar begitu menyebalkan di telinga Minho.

“Apa Jiseok sedang tidur?” tutur Eunkyung kemudian.

“Tidak, dia sedang minum susu kok.” Balas Minseok santai.

“Sendirian?”

O.O

*****

Eunkyung mengangkat tangan kecil Jiseok membuat gerakan melambai pada ayah dan ibunya, begitupun Jisun melambai-lambai, tapi sedetik kemudian, ibu muda itu kembali menghampiri Eunkyung, masih tidak rela meninggalkan babynya yang baru didapat 6 bulan lalu. Setelah dibujuk-bujuk Minseok, akhirnya dengan berat hati mereka berdua memasuki terminal keberangkatan.

“Ayo pulang!” ajak Minho singkat. Eunkyung masih salah tingkah berjalan mengekor di belakang Minho. Oke, dia memang terkejut saat mengetahui tetangga yang sudah seperti onnienya menikah dengan kakak laki-laki artis idolanya, namun sekarang ia lebih terkejut lagi harus –bukan hanya bertemu dan berdekatan seperti ini- tapi juga akan tinggal serumah. Sekali lagi Eunkyung meyakinkan dirinya bahwa ia sedang tidak bermimpi.

Eunkyung mengikuti Minho dengan pandangan kagum khas milik seorang fans fanatik. Begitu mereka masuk ke mobil, Minho tidak kunjung membuka suara. Mobil sudah melaju di jalan raya Seoul, masih tidak ada perbincangan di antara mereka. Suasana awkward ini membuat Eunkyung sedikit bingung mau berbuat apa. Mengajak berkenalan? Tidak mungkin, paling tidak seharusnya Minho sudah tahu siapa namanya karena Jisun dan Minseok sudah menyebut-nyebut namanya beberapa kali. Berkata bahwa ia fans Minho? Lupakan. Norak sekali!

Akhirnya Eunkyung memilih bermain dengan Jiseok. Tanpa menyadari Minho membelokkan mobil ke arah yang berlawanan dengan “rumah mereka” Eunkyung dengan bodohnya bertanya-tanya sendiri kenapa perjalanan pulang mereka terasa jauh lebih lama dibanding saat mereka ke bandara tadi. Baru saja ingin bersuara, Minho tiba-tiba menepikan mobil hitam metalik itu di depan pertokoan.

“Mau ke mana?” tanya Eunkyung.

“Aku mau bertemu temanku, hanya sebentar. Kau tunggu di sini saja.” Minho melepas seatbelt dan beranjak pergi masuk ke dalam sebuah restauran tak jauh dari sana.

Dan benar saja, tidak sampai 5 menit, Eunkyung melihat Minho keluar dari restauran itu, tunggu, tidak sendirian, seorang gadis mengikutinya sambil tertawa-tawa. Mereka berjalan ke arah mobil dan dengan sangat amat jelas, Eunkyung  melihat wajah gadis itu. Kristal, member girlband f(x), dan tentu saja sekarang sudah menjadi mantan member, karena tidak ada lagi girlgroup itu semenjak Sment gulung tikar.

Bagaimana pun juga, style gadis itu terang sekali menunjukkan ia bukan jenis orang biasa yang berpakaian seadanya tanpa perhatian khusus terhadap penampilan. Minho membuka pintu mobil.

Eunkyung’s Pov

“Kau pindah ke belakang sana!” perintah Minho.

“Eh?”

“Pindah ke belakang, jangan ah eh ah eh.” Tambahnya dengan nada malas.

Aku  menurut saja, dan begitu aku keluar dari mobil, gadis bernama Kristal itu membungkuk seraya menyapaku.

“Annyeong!” sapanya sopan.

Aku mengangguk sekilas.

“Wah, Jiseok sudah besar ya. Terakhir kulihat ia masih bayi merah.” Ujarnya lagi.

Aku tersenyum kikuk, merasa mati gaya berdiri di hadapan gadis ini. Jika seseorang melihat kami berdiri, maka aku akan disangka pembantunya. Geez.

“Krystal-ah, ayo masuk.” Panggil Minho.

Aku diam saja masih terpaku di tempatku.

“Ya! Kau, cepatlah masuk.” Usik Minho, kali ini padaku.

Huh, apa-apaan dia, ketus sekali.

Aku masuk dengan membanting pintu mobil. Sepanjang perjalanan mereka berdua asyik mengobrol, tanpa melibatkanku sedikit pun. Yeah, aku memang seperti pengasuh anak mereka sekarang.  Kami sudah sampai di rumah Jisun onnie dan Minseok oppa, aku masih saja mengikuti sepasang orang tenar ini. Aaa, apa gosip mereka pacaran memang benar ya?

“BRAK”

Astaga! Sumpah anak satu bernama Choi Minho itu brengsek sekali. Hampir saja wajah cantikku ini mencium pintu yang semena-mena ia tutup bertepatan saat aku masuk.

Aku melihat Jiseok yang aneh sekali karena ia tidak terbangun, tapi untung juga, aku yang susah kalau ia rewel.

Aku memutar kenop pintu dan langsung berjalan ke kamar melewati 2 orang itu yang sedang duduk-duduk di ruang TV.

Baru saja aku mau merebahkan diri di samping Jiseok, idol ku itu muncul tiba-tiba di daun pintu.

“Buatkan minum untuk aku dan temanku.” Sumpah nadanya sangat tidak enak kudengar bossy sekali.

“Ya! Kau tuli?” sentaknya.

“Ne ne ne.” Aku berjalan melewatinya dengan tatapan tajam yang kubuat sesinis mungkin.

Well Minho, jadi ini lah kelakuan asli sang flaming charisma. AHA seharusnya dulu aku tidak pindah bias dari Jonghyun!

Aku mengaduk teh yang akan kusuguhkan pada si sialan Minho itu. Oke, dia memang tampan tapi sialan!

“CRING” anggap saja sebuah lampu sedang menyala terang di atas kepalaku.

Aku memasukkan 2 sendok garam ke cangkir yang belum diberi gula dan mengaduk tehnya. HAHAHA. Aku tidak sabar.

Aku membawa kedua cangkir teh dengan baki ke ruang TV, namun begitu aku hadir di sana, aku malah tidak menemukan seorang pun.

Aku ,meletakkan baki di atas meja, dan Minho berjalan mendatangiku dari depan.

“Lama sekali kau buat minuman, Krystal sudah pulang.” Ujarnya sepintas lalu, ia mengambil cangkir teh di meja kemudian menyeruput tehnya.

Kenapa wajahnya tenang-tenang saja?

“Apa lihat-lihat?” sewotnya

Aku menggeleng. Hah dia tidak minum yang pakai garam.

“Minum saja teh yang satunya, mubazir daripada dibuang.” tuturnya.

Mati aku, itu yang pakai garam.

“Ya! Minumlah.” Bentaknya lagi dengan muka berkerut.

Senjata makan tuan Eunkyung!

Aku mengangkat cangkir teh yang sudah mulai mendingin. Perlahan-lahan mendekatkan cangkir ke bibirku.

Hoek, tanpa diminum pun asinnya sangat terasa.

“Lain kali, kalau buat teh jangan pakai garam.”

-__-

Dia melihatnya tadi.

*****

“Hey masak! Aku lapar.”

Sayup-sayup kudengar suara memanggilku.

“Sore-sore kau malah enak-enakan tidur. Bayi di sampingmu bahkan sudah bangun dan kau masih tidur.”

Aku sadar sekarang. Itu suara milik Choi Minho. Aku menoleh menatapnya yang berdiri menggendong Jiseok di  ujung ranjang dengan mata ngantuk.

“Masak apa?”

“Kau bertanya seakan kau bisa masak apapun.”

Ck, anak ini.

“Kalau kumasak daging manusia apa kau mau? Bagus-bagus aku bertanya.” Gerutuku saat ia sudah meninggalkan kamar.

^^^

Aku duduk sambil menggendong Jiseokie, sementara Minho makan dalam diam di depanku. Hanya dentingan sendok dan sumpit yang terdengar.

“Hey, sup ikan ini terlalu asin, kuah tahunya terlalu kental. Ckck, kau benar-benar tidak pandai memasak.” Protesnya.

Lihatlah betapa tidak tahu malunya orang ini. Ia menghabiskan semuanya tapi masih menggerutu.

Aku menghabiskan nasi dan membawa mangkuk ke bak cuci.

Eh, tunggu, ini bukan tugasku.

Aku berjalan ke ruang TV menemukan ia dengan santainya berselonjor di atas sofa.

“Minho-ssi, kau harus cuci piring!”

“Tidak mau!”

“Kau!”

“Apa?”

*****

Aku terbangun pagi-pagi sekali. Jiseok belum bangun dan masih tidur di boxnya.

“Aigo, anak ini tampan sekali. Wajahnya sangat damai, dia mirip seseorang.. baiklah. Anak ini mirip Minho. Astaga! Jangan-jangan ini anak Minho! Hah, lupakan.”

Aku mengikat rambutku asal keluar dari kamar untuk cuci muka dan membuat susu saat Jiseok bangun nanti. Aku keluar kamar dengan muka lusuh, iler dimana-mana serta belek yang menumpuk di sudut mata.

Ketika aku menuruni anak tangga dengan agak limbung, suara hentakan kakiku di tangga kayu ini menimbulkan bunyi yang membuat 1, 2, 3, 4 orang menoleh secara refleks ke arahku.

Aku memperhatikan mereka satu per satu dengan kesadaran yang masih belum sempurna. Detik kemudian ketika 9 rohku yang berterbangan genap berkumpul lagi ke dalam tubuhku, aku sangat ingin berteriak. Namun tidak ada suara yang keluar dari mulutku yang sudah melongo.

Kakiku sudah seperti agar-agar.

“Syaini?” desisku pelan.

“Annyeong.” Mereka memberi salam bersamaan.

Aku masih bengong.

“Jadi, kau babysitter sementaranya Jiseokie?” tanya lelaki yang berambut blonde. Kukenal dengan baik wajah itu. Kibum.

“Hah? Oh, ne. Ha..ha…ha.” aku menggaruk kepalaku.

“Kau sudah kenal kami bukan?” Aigo, suara Jonghyun terdengar lebih merdu jika kau mendengarnya langsung.

“Ne.” Aku tersenyum sangat, maksudku terlalu lebar! Tanganku masih berpegangan ke tangga karena jika kulepas, aku mungkin bisa jatuh.

“Kau shineeworld ya?” tanya leader Onew.

Aku mengangguk sangat kencang, entahlah 6 kali atau 7 kali.

“Kentara sekali ya kalau aku shawol?” tanyaku kikuk.

“Tertulis jelas di dahimu. AKU CINTA SHINEE.”

Minho tiba-tiba ada di sampingku dengan pakaian training sama seperti 4 orang yang lain.

Aku meliriknya sinis, well aku DEG DEGAN! Ini jarak terdekatku selama ini dengannya. Astaga. Kenapa si sial ini harus menjadi idolku?

“Ehm, wajar saja kan. Aku kan seorang fans fanatik. Tapi maaf-maaf saja ya, aku sangat benci satu orang di SHINee.”

“Kau benci aku?” celetuk Taemin tiba-tiba.

“Heh? Ah, bukan, bukan kau kok. Kau sangat mengagumkan, tampan dan penuh bakat Taemin-ssi.”

“Jinja?” Taemin ikut-ikutan naik ke tangga. Dan wuuush.

Terlalu kilat!!!

Taemin mencium pipiku!

Aku melongo, mengeratkan peganganku dengan tangga.

“Fan service!” ia mengacak-acak rambutku sekarang.

Ya ampun!

“Such a playboy.” Desis Minho dan ia melengos pergi ke ruang tamu.

“Ya! Taeminnie, lihat dia, sampai shocked begitu, kau ini minta dijitak ya!” tutur Jonghyun.

Taemin nyengir kuda. Onew malah ngupil, sementara Key memberi dakwah kilat pada anaknya untuk memberikanku ciuman 2 kali, bukan hanya sekali. *MUPENG*

^^^

Author’s Pov

Setelah berkenalan dengan Eunkyung plus fanservice secara singkat, SHINee yang tidak bersinar lagi (karena emang udah bangkrut) akhirnya benar-benar meninggalkan apartemen itu untuk jogging alias ngeceng pagi hari. Sementara Eunkyung yang masih dalam keadaan setengah melayang, mengelus-elus pipinya. Ia menepuk jidatnya kelewat kencang menyadari bahwa Taemin tadi menciumnya saat ia belum cuci muka, sementara ilernya masih belepotan. Wad the hell!

*****

Masih tersisa waktu 3 X 24 jam lagi sebelum masa-masa penyiksaan Eunkyung berakhir. Kesepakatan bersama yang dilakukan Jisun terlalu diabaikan Minho. Kini pekerjaan Eunkyung adalah babysitter merangkap pembantu.

“Sumpah! Kau jahat sekali, paling tidak gendong lah Jiseok sementara aku mengepel, kau tidak kasihan padanya?” rutuk Eunkyung pada Minho yang sedang menghisap esnya.

“Kau tidak minta dari tadi!”

Eunkyung hampir terjatuh mendengarnya. Ia sudah berteriak ribuan kali minta tolong Minho untuk menggendong Jiseok sementara ia bekerja, laki-laki itu yang pura-pura tidak dengar dan sekarang berkata seperti itu.

Minho berjalan menghampiri Eunkyung, ia menggigit esnya sementara kedua tangannya terjulur meraih Jiseok dari gendongan Eunkyung.

“Anya bu..” racau Jiseok.

“Kau bilang apa Jiseokie?” tanya Minho idiot.

“Nyaa a buu.” Jiseok kembali mengeluarkan suara lucu dari mulut mungilnya.

“Ahjumma itu jelek dan bau?”

JLEGERR kira-kira seperti itu bunyi petir yang menyambar sebuah pohon *jika ada pohon* di samping Eunkyung

“Ya ampun Jiseok! Ternyata kau selama ini juga sependapat denganku. Kasihan sekali Jiseoki,  tenang saja, besok ahjussi ajak jalan-jalan sama ahjumma cantik.” Seru Minho lagi, disambut tawaan imut bayi yang berasal dari Jiseok.

Sementara Eunkyung sudah seperti teko berisi air mendidih yang kompornya tidak dimatikan hingga berasap-asap.

Dalam hitungan 1, 2 3

BLETAK!!!

Minho setengah menmenjerit esnya terlepas dan jatuh, tangannya langsung mengelus kepala korban kekerasan Eunkyung. Dan Jiseok tersenyum lebar dengan senang sambil bertepuk tangan melihat tontonan itu.

*****

Eunkyung’s Pov

Aku baru saja selesai menyapu, mengepel, mengelap jendela, menguras kamar mandi dan pekerjaan household lainnya yang membuat pinggangku serasa ingin lepas. Kuhempaskan badanku ke sofa yang empuk nan nyaman.

“Surga.”

“Surga kepalamu.”

“Brukk” setumpuk benda menggunung di atas wajahku.

“Cuci semuanya!”

Aku menyingkirkan semua baju dia atas mukaku.

“Apa yang kau maksud dengan “Cuci semuanya” HAH?” bentakku tak santai.

“Kau terlalu bodoh untuk mengerti kalimat “Cuci semuanya” ya?” ia menjawab tak kalah sarkas.

“Hey, aku tidak dibayar untuk mencuci bajumu!” tolakku.

“Hukuman karena kau sudah berani main fisik denganku. Kepalaku benjol hingga aku tidak bisa melakukan apa pun.” Setelah seenak jidatnya menyuruh-nyuruh, seperti biasa dia langsung menghilang ke kamar.

“Aaaaa.”

Aku mulai memungut pakaian Minho satu per satu yang  tercecer di lantai. Aku heran memandangi baju-baju ini benar-benar kotor atau tidak karena aroma yang tercium hanya bau wangi, wangi maskulin Minho dari parfum-parfum kelewat mahalnya itu.

Bingung juga, kenapa aku menurut saja disuruh-suruh olehnya dari kemarin, walaupun sempat protes, tapi  ujung-ujungnya aku tetap mengerjakan yang ia perintahkan sial, mentalku ini apa memang mental pembantu?

Pakaian-pakaian ini kupeluk untuk dibawa ke kamar mandi, namun aku menginjak sesuatu, kurasa ada baju yang tertinggal. Aku berjongkok dengan sedikit sulit. Tangan kiriku menahan pakaian, kemudian tangan kananku meraih benda yang kuinjak tadi.

Aku mengangkat benda itu. Melongo.

“Ya!” Minho turun tangga buru-buru dan merampas underwarenya dari tanganku kemudian menyembunyikan di balik badannya dan setengah berlari kembalike kamar.

“Blam.” Suara pintu dibanting.

Dia malu ya?

.:TBC:.

Advertisements

2 thoughts on “Hey Baby.. Sitter

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s