Loveless Part 4

Title: Loveless

Author:  seoeunkyung

Genre: Romance:

Rating: PG-15

Length: On going

a.n:

Super Kamsha buat Shinbi onnie hihihi. Thankyou posternya onnie!! Jangan kapok buatin aku poster lagi ya.

Ff buat @ekaafs aka Choi Seunhye yang udah “baik” buatin aku ff berakhir tragis -__-

Let’s take a look. ^^

Part 4

Seorang gadis berambut panjang yang dikepang satu, dan topi rajutan di atas kepalanya melangkahkan kakinya mendekati mesin minuman di ujung ruangan salah satu terminal keberangkatan Incheon Airport. Lebih tepatnya gadis itu menghampiri gadis lain yang tengah sibuk memilih-milih minuman di dalam mesin.

Moon Byunghee, kelas 3 2 Yeogang High School?”

 

Gadis berambut blonde di depan mesin minuman itu  menoleh sekilas kepada si gadis berkepang satu, namun detik berikutnya ia kembali memilih-milih minuman di mesin.

 

“Kau, si nomor 2 untuk astronomi kan?”

 

Pernyataan kedua yang dilontarkan gadis berkepang satu itu membuat perhatian gadis itu teralih sepenuhnya setelah ia mengambil minuman kaleng dinginnya.

 

“Siapa kau? Apa maumu?” suara gadis itu sarat dengan nada angkuh, ditujukan pada gadis berkepang satu.

 

Senyum simpul tersungging di wajah manis gadis berkepang satu itu.

 

“Seo Jinae. Chansik High School. Aku hanya punya sebuah penawaran kecil untukmu.”

 

×××

Sebuah suara yang dipastikan milik salah satu petugas operator bandara, mengumumkan akan adanya keterlambatan pesawat terbang dengan tujuan keberangkatan Pulau Jeju selama kurang lebih setengah jam. Hal ini membuat beberapa calon penumpang berdecak karena mereka harus menghabiskan waktu lebih lama lagi untuk menunggu.

Berbagai kegiatan dilakukan oleh calon penumpang di ruang tunggu keberangkatan yang didominasi oleh pelajar dari seluruh SMA di Seoul. Mereka terlihat begitu menikmati waktu menunggunya dengan saling mengobrol, mendengar musik, melihat pemandangan di luar gedung, mencari makan, bermain game, berkenalan dengan siswa lain sekolah, tidur, bahkan ada yang memilih belajar dengan konsentrasi di sudut ruang tunggu.

Sementara di salah satu bilik toilet ruang tunggu, seorang siswi dengan malangnya harus mendekam di ruang tidak lebih seluas 2 x 1 meter persegi. Gadis bernama Seunhye ini pun punya cara tersendiri untuk membunuh rasa bosannya menanti pertolongan dari malaikat pelindungnya ataupun orang tidak dikenal yang akan menolongnya entah kapan.

“Enam ratus enam puluh satu anak domba kabur dari peternakan, enam ratus enam puluh dua anak domba kabur dari peternakan, enam ratus enam puluh tiga anak domba kabur dari peternakan, enam ratus empat puluh empat, atau enam ratus enam puluh empat? Oh astaga haruskah aku mengulang lagi! Satu anak domba kabur dari peternakan, dua anak domba kabur dari peternakan..” Ia lupa urutannya, dan kali ini yang ketiga kali baginya -__-

Langit yang tadinya mendung, semakin mendung lagi, butiran-butiran air langit mulai berjatuhan karena tidak mampu ditahan oleh udara lagi. Dan bertepatan dengan rintik hujan yang semakinn deras, speaker yang terpasang di ruang itu kembali berbunyi, memberitahukan penumpanng tujuan Pulau Jeju untuk bersiap-siap karena pesawatnya sudah mendarat. Semuanya mulai bersiap-siap dengan barang bawaan masing-masing supaya tidak ada yang tertinggal.

Seunhye sudah hampir tertidur setelah sukses menyelesaikan hitung-hitungan anak dombanya hingga keurutan 1000, tapi usil anak itu tidak sengaja menyenggol keran shower hingga kerannya terputar dan jadilah ia terbangun oleh siraman air itu.

“Aaaaaaaaaaaa.” Erang Seunhye frustasi.

“Halo? Ada orang di dalam?” Seunhye menghentikan teriakannya karena mendengar suara sayup-sayup dan gedoran pintu. Dengan cepat ia menjawab.

“Ia! Disini ada orang! Aku terkunci!” Jawab Seunhye setengah berteriak, atau memang sudah berteriak.

Petugas kebersihan bandara Incheon yang curiga karena pintu masuk menuju toilet wanita itu tertutup mendatangi pintunya. Saat kenop diputar, pintu tetap tidak bisa terbuka bisa dipastikannya toilet itu itu dikunci, setelah mendengar jawaban itu dengan sigap si petugas bergegas ke tempat penyimpanan kunci karena ia sedang tidak membawa kunci serepnya.

“Nona! Tunggulah sebentar, aku akan mengambil kuncinya dulu.” Teriak petugas.

“Ne!”

Gadis bernama Moon Byunghee mendekati gadis berkepang satu yang berjalan lebih dahulu di depannya menuju pesawat. “Senang bekerja sama denganmu.” Bisik gadis itu, kemudian ia mendahului si gadis berkepang satu, masuk kedalam badan pesawat.

Petugas kebersihan kembali ke toilet dimana Seunhye terkurung. Pintu pertama berhasil di buka.

“Nona, kau ada di bilik yang mana?” tanya si petugas kebersihan.

“Aku di sini!” teriak Seunhye, namun tidak sekencang teriakannya yang tadi.

Pintu akhirnya terbuka, menampakkan wajah lusuh dan pakaian yang agak basah Seunhye. Seunhye melompat-lompat girang dan membungkuk berkali-kali kepada si petugas kebersihan.

“Onnie, nomu kamsahe, ah tunggu.” Seunhye mengambil tasnya yang tergeletak di atas wastafel.

“Aku tidak punya uang banyak dan aku hanya punya ini, jadi kumohon terima minuman kaleng ini sebagai ucapan terimakasihku!”

“Anniyo, kau minum saja, kau pasti haus terkurung di sana.”

“Aish, baiklah kalau menolak, kebetulan aku memang sangat haus.” Seunhye yang dari lubuk hati yang paling dalam memang tidak ikhlas jika harus memberikan minuman itu pada orang lain, membuka kaleng dengan kasar dan meminum isinya bar-bar.

“Apa kau penumpang pesawat tujuan Jeju? Pesawatnya akan berangkat sekarang, sana cepat kembali ke atas!”

“Astaga, aku bahkan lupa. Sampai jumpa!” Seunhye pergi dari toilet itu setelah menghadiahi semburan minumannya ke wajah sang petugas. Sementara petugas itu mengutuk dirinya sendiri kenapa ia tadi repot-repot berbaik hati menolong anak dengan jenis yang ditolongnya barusan.

Seunhye mendapati ruang tunggu itu sudah kosong, hanya ada seorang petugas kebersihan yang tengah membersihkan lantai ruangan itu. Dengan kesal ia menghentak-hentakkan kedua kakinya ke lantai dan langsung menjatuhkan diri ke kursi terdekat Ia mengambil tempat duduk terdekat.

“Dan kali ini aku benar-benar ditinggal.” Gumam Seunhye yang sekarang berpangku tangan di atas kedua pahanya.

“…. Penumpang pesawat tujuan Pulau Jeju atas nama Choi Seunhye dimohon segera memasuki pesawat karena pesawat akan segera lepas landas..”

“Well, kenapa namaku disebut-sebut sekarang.” Gerutunya pelan.

“Seunhye-ya!” satu teriakan datang tidak jauh dari tempat Seunhye yang sedang duduk merana.

“SEUNHYE-YA!”

“Yah! Tidak perlu teriak seperti itu! Kau pikir aku tuli, hah?”

Seunhye terkesiap mendapati korban yang baru saja disemprotnya. Han songsaenim berdiri tepat di depan gadis itu memandangnya geram dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Sementara di belakangnya seorang siswa laki-laki dengan setelan casual berdiri sambil tersenyum-senyum melihat tampang shock Seunhye.

Karena kau tidak tuli, sini kubuat kau tuli sekarang juga.

“Aaaa aaadow. Saem, ampun! Sakit!” Han songsaenim menarik daun telinga Seunhye hingga gadis itu mau tidak mau berdiri dan berjalan terseok-seok dibawa Han songsaenim yang masih menjewer telinga gadis itu dengan gemas.

Jinki memungut tas selempang Seunhye yang terjatuh di lantai dekat kursi yang baru saja ditinggalkan Seunhye dan berjalan mengekor di belakang sepasang guru dan murid yang persis seperti ibu dan anak.

“Saem, aku benar-benar dikunci di kamar mandi, tadi tiba-tiba pintu kamar mandinya terkunci, aku tidak berbohong!” Suara pembelaan diri Seunhye bisa didengar sayup-sayup oleh penumpang walaupun Seunhye dan Han songsaenim belum masuk ke dalam kabin pesawat.

Begitu Seunhye menginjakkan kakinya ke dalam kabin diikuti Han songsaenim, seluruh pandangan mata tersorot ke arah gadis itu. Han saem  membungkuk meminta maaf, dan mendorong kepala Seunhye untuk ikut membungkuk atas trouble yang ditimbulkannya. Setelah itu Seunhye berjalan dituntun oleh seorang pramugari dan dipersilahkan duduk di sebuah seat sesuai kode booking atas namanya. Tepat setelah Seunhye mendudukkan dirinya diatas kursi empuk pesawat, Jinki sudah hadir di sebelahnya memberi isyarat agar gadis itu memberinya celah untuk lewat. Jinki duduk di seat tepat di samping jendela.

Jinki meletakkan tas selempang rajutan Seunhye di atas pangkuan gadis yang sedang cemberut itu. Seunhye diam saja seolah tak terusik Jinki. Tiba-tiba Jinki merentangkan tangan kirinya ke arah Seunhye, seolah ingin memeluk gadis itu.

“Pakai seatbeltnya.” Ujar Jinki pelan.

“Gomawo.” Balas Seunhye singkat, namun wajahnya tidak sekusut saat baru masuk pesawat tadi.

Pesawat ini mulai lepas landas, mengakibatkan tekanan udara menurun.

Seunhye memegang telinga bekas jeweran Han songsaenim yang masih sakit dan sekarang bertambah sakit.

“Kenapa sesakit ini?” batin Seunhye.

Kepalanya agak berdenyut pusing membuatnya semakin tersiksa. Kyuhyun yang duduk di deretan kursi yang sama dengan Seunhye dan hanya terpisah beberapa seat saja bisa melihat dengan jelas ekspresi menahan sakit Seunhye, begitu juga bagaimana Jinki meniup-niup telinga Seunhye yang merah. Sejenak Kyuhyun menolehkan kepalanya ke kanan, mendapati sepasang bola mata lain berwarna coklat kayu juga menatap ke fokus yang sama dengannya barusan. Pandangan Kyuhyun kini bersibobrok dengan bola mata coklat kayu itu, namun sang pemilik cepat-cepat mengalihkan fokus penglihatannya ke arah lain.

Seunhye terbangun dari tidurnya, ia melirik jam yang melingkar di tangan kanan Jinki. Sudah sekitar satu jam ia tertidur, dan sekarang terbangun karena kebelet. Seunhye memegang seatbelt yang terpasang di depan perutnya. Ia menarik-narik sabuk itu secara paksa, tapi tetap tidak terbuka. Ia menoleh ke samping kiri dimana tertidur. Muka polos Jinki yang terlihat sangat menikmati tidurnya membuat Seunhye tidak tega membangunkan Jinki. Seunhye menoleh ke samping kanan. Ke bangku milik seorang yang tidak dikenalnya, dan harapannya pupus ketika melihat kedua mata orang itu terpejam.

“Sumpah Seunhye! Tidak lucu kalau kau mengompol di sini. Sejam lebih kau terkurung di toilet kenapa sekarang baru ingin pipis?” Batin Seunhye berkecamuk. Kakinya bergoyang-goyang sebisa mungkin menahan kebelet pipisnya. Ia memejamkan mata berusaha kembali tidur. Namun sedetik kemudian matanya terbuka merasa ada seseorang yang mendekati kursinya.

Seunhye mendongakkan kepalanya melihat wajah -__- Kyuhyun. Kyuhyun membungkukkan badannya ke arah Seunhye.

“Cklik.” Seatbelt terbuka dengan mudahnya.

“Dasar kampungan!” desisan kecil Kyuhyun membuat senyuman yang terkembang di wajah gadis itu sirna seketika.

×××

Rombongan ini sudah akhirnya sampai di Pulau Jeju. Mereka didrop ke hotel dengan 3 buah bus. Resort tempat mereka diinapkan selama 5 hari terletak agak di pinggiran. Semakin dekat jarak yang tersisa dengan resort, pemandangan pantai karang terpampang dengan indahnya sepanjang jalan. Seunhye tidak henti-hentinya melotot ke arah jendela, seakan rugi jika ia berkedip sedetik saja.

Setibanya di hotel, semua siswa dan siswi dikumpulkan untuk diberikan kamar. Seunhye mendapat kamar nomor 417. Satu tangannya menyeret koper ukuran sedang, sedangkan tangan satunya lagi memegang kartu. Matanya menyapu pandangan ke semua pintu di lorong lantai lima.

“513, 515, 517..”

Seunhye memasukkan kartu ke dalam slot di pintu, ia membuka handle pintu dan masuk ke dalam kamar.

“Wow!” satu seruan itu terlontar begitu Seunhye melihat pemandangan pantai yang langsung terlihat dari jendela kaca transparan yang sebesar lebar kamar tersebut.Baru 5 detik Seunhye menjatuhkan badannya di salah satu ranjang single size yang menghadap ke arah jendela. Pintu kamarnya terbuka. Seunhye menoleh, dan terlihat senang melihat siapa yang datang.

“Wah, Jinae-ya! Kita sekamar!” seru Seunhye excited.

“Oh. Haha, untunglah aku dapat teman sekamar yang sudah kenal.” Sambut Jinae riang. Jinae meletakkan kopernya kemudian ikut menjatuhkan dirinya di ranjang, seperti Seunhye.

“Seunhye-ya, tadi kau memangnya kemana waktu di bandara?” tanya Jinae tiba-tiba.

“Aish, molla. Tiba-tiba ada yang mengunciku di toilet. Untung ada petugas yang menyadari aku terkunci di dalam.” Jinae mengangguk-angguk.

“Pemandangannya bagus sekali!” seru Jinae dibalas anggukan Seunhye.

“Oh astaga, aku mau mandi. Aku belum mandi dari Seoul tadi.” Seunhye bangkit dari posisi baringnya. Ia mengangkat kopernya ke atas meja dan membongkar barang-barang yang disusun eommanya. Sedangkan Jinae hanya merespon dengan senyuman.

Begitu Seunhye masuk ke kamar mandi, ponsel Jinae berdering. Melihat displaynya, Jinae langsung beranjak dari tempat tidur keluar kamar.

“Yoboseo..” Jinae berjalan menuju tangga darurat.

×××

Kyuhyun tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar yang pintunya terbuka sedikit. Baru dua langkah ia masuk ke dalam kamar, seseorang muncul dari pintu lain yang ada di dalam kamar itu.

“SING..” Keduanya terdiam. Kyuhyun melongo bodoh

“Aaaaaaaaaaaa!”

“BAG BUG DUAGH!”

Bokong Kyuhyun mendarat lantai di lorong depan pintu kamar itu.

“DASAR PERVERT!”

“BLAM.”

Setelah bantingan pintu itu menggema di sepanjang lorong, Kyuhyun berusaha bangkit berdiri. Sambil mengelus-elus bokongnya, ia mendesah pelan ketika dilihatnya pintu bernomor 515 berada tepat di sebelah pintu 517.

×××

Pukul setengah tujuh malam waktu setempat, Seunhye menutup tirai gorden jendela kamarnya, setelah mematikan TV, ia bergegas menyusul Jinae yang sudah duluan ke restaurant hotel ini untuk makan malam.

Begitu ia menutup pintu kamar, Kyuhyun juga baru  keluar dari kamarnya.

Seunhye menatap Kyuhyun dengan pandangan campur aduk, geram, kesal, ingin memukulkan kepalanya ke tembok dan lain sebagainya. Ia masih tidak terima dengan insiden tadi sore, saat ia baru keluar dari kamar mandi dengan hanya terbalut handuk putih dan menemukan laki-laki sialan -dan betapa sial Seunhye harus masih merasa deg-degan ketika melihat ke dalam matanya- bernama Kyuhyun.

“Jangan menatapku seolah-olah aku seorang maniak?” sewot Kyuhyun yang gerah dipelototi dengan tatapan yang menuduh dirinya adalah laki-laki mesum.

“Hah? Kalau begitu apa namanya masuk ke kamar seorang gadis untuk mengintipnya mandi hah?”

“Jangan berlebihan bodoh! Aku hanya salah masuk kamar, kau saja yang terlalu PD. ” Timpal Kyuhyun. Ia berjalan lebih dulu ke lift.

Seunhye mendengus melihat punggung Kyuhyun yang menjauh, namun ia akhirnya mengikuti Kyuhyun ke lift. Mereka hanya berdua di sana. Tanpa ada suara.

Tiba-tiba Lift menjadi bergoyang, berikutnya lampu langsung padam.

“Mwo? Ada apa ini?” Seunhye mulai panik. Ia beringsut ke sudut lift berdiri sambil memegang 2 sisi dinding lift.

Guncangan itu sudah berhenti. Namun justru membuat Seunhye semakin cemas, takut kalau tali lift akan putus dan ia akan menjadi peyek ketika lift ini jatuh.

“Sunbae?” panggil Seunhye pelan.

“Kyuhyun sunbae?”

“Aaaaaaaa.” Teriak Seunhye ketika permukaan lift menjadi tidak stabil dan miring ke salah satu sisi.

“Sst.. tenanglah!” di tengah kegelapan Seunhye merasakan suara jernih Kyuhyun bersamaan dengan kedua lengannya membawa tubuuh Seunhye ke pelukan hangat laki-laki itu.

“Ting!”

Dentingan lift mengembalikan kewarasan Seunhye. Dilihatnya laki-laki yang baru dilamunkannya sudah melangkah duluan keluar. Seunhye menjedotkan kepalanya ke dinding lift sebelum ia pun meninggalkan lift.

×××

Seunhye bangun pagi-pagi sekali. Setelah membersihkan diri, ia keluar kamar mandi dengan kimono yang dipinjamnya dari Jinae. Seunhye mengangkat kopernya ke atas ranjang, sebisa mungkin ia tidak membuat suara yang dapat membangunkan Jinae.

Sebentar-sebentar Seunhye merutuk melihat baju yang dibawakan eommanya. Rok! Mini skirt! Tidak ada celana jeans, dan sebuah legging. Seunhye melirik ke satu-satunya celana jeans yang teronggok di atas sofa kamar itu. Jeans itu sudah dipakai seharian kemarin, dipastikan sudah kotor. Dengan mempertimbangkan hal-hal yang tidak ada hubungannya, Seunhye pun mencomot sebuah rok dengan panjang sekilan di atas lututnya. Awalnya ia mau memakai leggingnya, namun mengingat masih 3 hari lagi ia berada di tempat asing itu, Seunhye harus menghemat pakaian. Dengan kaos lengan tanggung dan hoodie, ia merampas tas selempang lengkap dengan ponsel dan dompet.

Seunhye turun ke loby lantai dasar yang sepi. Masih jam setengah 7 pagi sekarang. Ia baru ingin melangkah, tangannya ditahan seseorang.

“Mau kemana?”

“Bukan urusanmu!”

“Bukan urusanku memang, tapi kurasa Han saem akan keberatan jika ia mengetahuinya.”

Seunhye menatap Kyuhyun malas.

“Aku ingin membeli jimat di sebuah kuil.”

“Jimat? Jimat apa? Aku ikut! Belikan aku juga!” pinta Kyuhyun namun nada bicaranya lebih cenderung memerintah daripada memelas.

“Kau tidak punya malu ya? Ambil uangmu dan beli sendiri!” Seunhye mengambil langkah pergi.

“Bukankan biasanya seorang gadis akan memberikan sesuatu pada laki-laki yang disukainya.”

Seunhye dapat merasakan sebuah batu besar menghantamnya.

“Baiklah, aku akan mengambil uangku di kamar, sekaligus meminta “IZIN” pada Han songsaenim.

Batu kedua menghantam Seunhye, kali ini dia berhenti melangkah.

“Ayo pergi, nanti Han saem bangun!” Kyuhyun mendahului Seunhye, namun matanya tajam beradu pandang dengan kedua bola mata almond milik Jinki.

×××

“Hoaaa. Sejuk sekali!” seru Seunhye di tengah perjalanan mereka di pinggir jalan tepat berbatasan dengan tebing curam. Matahari belum memunculkan dirinya. Seunhye masih betah memandang ke arah laut dengan arus yang tenang. Angin yang bertiup dari laut menimbulkan bebauan yang khas.

Resort tempat mereka menginap terletak di atas bukit, sehingga jalan yang mereka lalui adalah penurunan.

“Kau itu bodoh atau apa? Tidak dingin ya pakai rok sependek itu?” celetuk Kyuhyun menyebalkan.

“Kalau kau mau menukarkan celana panjangmu dengan rokku, aku bersedia dengan senang hati.”  Seunhye menjawab santai.

“Ini haltenya.” Seunhye mendudukkan diri ke bangku halte. Ia menghadap ke arah laut, sementara Kyuhyun ke arah jalan.

Matahari tak kunjung menampakkan dirinya. Ia bersembunyi di balik gumpalan awan yang tebal di langit. Bus angkutan umum di daerah itu berhenti di depan halte. Kyuhyun melompat duluan ke dalam bus diikuti Seunhye. Belum Seunhye duduk, bus sudah melaju kencang hingga gadis itu hampir jatuh terjengkang kalau saja tangan Kyuhyun tidak sigap menariknya ke kursi.

Jantung Seunhye melompat-lompat tidak karuan. Karena Kyuhyun tidak kunjung melepas genggaman tangannya.

“Apa ini kencan?” gumam Seunhye.

“Nde?” tanya Kyuhyun.

“Tanganmu, jelek!”

Kyuhyun menarik tangannya dengan wajah tidak senang saat dikatai jelek.

Kyuhyun dan Seunhye turun di terminal bus di kota. Walaupun tidak seramai seperti di Seoul, tetap saja mereka akan sangat kesulitan untuk bertemu jika sempat terpisah.

“Kita makan dulu ya! Aku lapar.” Ujar Kyuhyun tetap berjalan.

Segerombol orang yang baru turun dari bus menghalangi pandangan Seunhye, tubuh anak itu tertabrak-tabrak. Matanya celingak-celinguk mencari seseorang ditengah gerombolan penumpang dari salah satu bus di sana. Seunhye berusaha keluar dari kerumunan orang setelah melihat Kyuhyun yang berjarak tidak terlalu jauh di depannya. Tangannya ingin menggapai Kyuhyun, namun belum sampai, wajahnya sudah mencium tiang terlebih dahulu.

Bunyi gedebuk yang luar biasa kerasnya itu membuat orang-orang di sekitar Seunhye menoleh.

Pusing yang luar biasa menyergap Seunhye, pandangannya langsung gelap, ia tak bisa merasakan berdiri di atas kedua kakinya. Setelah itu Seunhye tak bisa merasakan apa-apa.

Tidak mendapati sosok Seunhye berkeliaran di sekitarnya, Kyuhyun berbalik lagi, dan begitu dilihatnya orang-orang berkerumun mengelilingi sesuatu. Kyuhyun menyeruak menerobos barisan manusia itu. Laki-laki itu mendengus ketika dilihatnya makhluk bernama Choi Seunhye tergeletak tanpa kesadaran.

Ia mendekat ke arah Seunhye. Kyuhyun melingkarkan tangan Seunhye di lehernya, dibantu beberapa orang di sana ia berhasil mengangkat Seunhye ke gendongannya. Menggendong Seunhye seperti itu tentu saja menarik perhatian orang-orang. Kyuhyun menjajakan kakinya ke sebuah taman yang rindang tidak jauh dari sana. Taman yang dipenuhi dengan berbagai jenis pohon dengan daun yang menguning dan cenderung kecoklatan. Sejenak ia merasa sedang berada di taman sekolahnya. Kyuhyun membaringkan Seunhye di sebuah bangku panjang dari kayu. Dengan hati-hati ia meletakkan kepala Seunhye di atas kursi. Ini adalah kali kedua baginya membawa anak itu dalam keadaan pingsan. Kyuhyun melepas jaket tebal yang dikenakannya, memasangkan jaket itu di atas mini skirt yang hanya sama sekali tidak dapat menutupi kaki jenjang Seuhnye. Intinya ia tidak menginginkan ada lelaki mata keranjang langsung berbinar-binar jika melihat Seunhye hanya dengan rok mini itu. Kyuhyun duduk di bangku yang masih tersisa. Perlahan menarik tas seunhye yang masih melilit di tubuh Seunhye.

Ia mengambil dompet Seunhye, berniat mengambil beberapa lembar won dari sana untuk dibelikan paling tidak air mineral. Begitu dompet berwarna kuning pastel itu terbuka, hal pertama yang dilihat Kyuhyun adalah sesuatu berukuran 3 cm x 3 cm. Fotonya sendiri mengenakan seragam Chansik. Ia membalik foto tersebut.

Cho Kyuhyun

First crush, I wish he will be the first whom i kiss with >//<

Kyuhyun memperhatikan wajah malaikat Seunhye dengan kedua mata yang terpejam. Detik berikutnya seringai evil tersungging manis di wajahnya.

“As you wished, dear…”

.:TBC:.

Hoam. Silakan menguap karena cerita membosankan ini.

Mian lama update! >__>

Kirain bakalan kelar sampe part 5. Dan sekali lagi. Out of target *garuk tanah*

Part selanjutnya bakal lebih lama lagi, kalo respon ff sedikit, mungkin ffnya diberhentiin karena aku harus belajar sepanjang liburan ini.  —> kesian kan ;___; 😥

Jangan salahkan saya. Salahkan semuanya pada rumput yang bergoyang #abaikan

Ayo ayo

Yang komeng disayang author

(づ ̄ ³ ̄)づ~♡           *boleh timpuk saya pake minho*

Advertisements

5 thoughts on “Loveless Part 4

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s