Loveless Part 3

Title: Loveless

Author: seoeunkyung

Cast: Choi Seunhye, Cho Kyuhyun, Lee Jinki, Seo Jinae and others

Genre: Romance (selalu =.=)

Rating: PG-15 wkwk, rating dinaikin.. hahaha

Prev Part:

Part 1 | Part 2
Ff untuk @ekaafs yang ‘berbaik hati’ membuatkan saia ff  dengan akhir
yang tragis.

Take a look.. ^^

Cover seadanya -__- dan abaikan kedua ulzzang di atas. Ayo tebak-tebak berhadiah yang mana Seunhye yang mana Jinae. Yang bener nebaknya entar malem mimpiin saya #plak #duagh  biasnya ^^ kekeke~

Part 3

Kyuhyun melewati Seunhye begitu saja, Seunhye tak ambil pusing lalu masuk ke ruang kesehatan, kembali ke tujuannya semula. Seunhye berjongkok, merangkak di lantai ke sana ke mari mengelilingi ruang kesehatan, siapa tahu kalungnya jatuh di lantai. Ia mengintip ke bawah kolong ranjang tempatnya dibaringkan saat pingsan kemarin. Karena gelap, ia meraba saku ponselnya mencari ponselnya. Seunhye yang masih dalam posisi merangkak sedikit kesulitan mengambil ponselnya, tapi akhirnya ia mendapatkan ponsel itu dan bermodal cahaya dari display ponsel layar sentuhnya ia menyusuri setiap lantai di bawah kolong ranjang yang sempit, hingga ia harus menempelkan kepalanya ke lantai. Beberapa menit ia mencari benda berantai dan berliontin hati yang sangat kecil, namun nihil. Saat ia beranjak, dari posisinya yang membuat lelah, gadis itu kembali dikejutkan oleh seseorang. Seunhye merasa kenapa akhir-akhir ini dia selalu terkejut. Kyuhyun yang tadi keluar dari ruang kesehatan saat Seunhye masuk entah kenapa malah sudah berjongkok ria memandangi aksi mengintip tempat tidurnya Seunhye.

“Yah! Kalau datang, paling tidak ucapkan salam, annyeong haseyo, kau pikir kau hantu?” Seunhye mengelus dadanya.

 

“Aku terlalu tampan untuk ukuran hantu.” Cibir Kyuhyun.

“Cih, tampan?” cibir Seunhye lebih sinis. Saat melihat lebam biru sisa-sisa memar yang agak samar di wajah  putih Kyuhyun, Seunhye pun mengingat bagaimana sikap Kyuhyun kemarin yang berbeda dengan hari
ini, dan ia yakin anak itu memakai make up entah foundation dan bedak untuk menyamarkannya.

“Karena gengsi, kau bilang begitu di mulut, padahal dalam hati kau mengiyakan. Dasar gadis munafik.” Kyuhyun menjawab sengit. Yang Kyuhyun katakan memang kenyataan, tapi justru membuat Seunhye semakin kesal.

“Kau mau cari ribut denganku, huh?” Seunhye menjawab  lantang
menantang Kyuhyun, entah kenapa ia jadi berani seperti ini, namun tidak dipungkirinya bahwa ia berdebar-debar berhadapan  dengan Kyuhyun.

Kyuhyun mengangkat tangannya yang mengepal, sepersekian detik Seunhye dengan konyolnya menyangka Kyuhyun akan memukulnya, namun dari genggaman tangan Kyuhyun terjulur benda untaian rantai dengan liontin hati yang sangat kecil, benda yang dari kemarin dicari-cari Seunhye. Begitu kalung itu terlepas sepenuhnya dari tangan Kyuhyun dan jatuh ke bawah, Seunhye menangkap kalung itu cepat. Baru saja mau bilang terima kasih, namun Seunhye membatalkannya
menyadari sesuatu.

“Yah! Kalung ini pasti sudah ada padamu dari kemarin sore, tapi kenapa tidak langsung kau berikan padaku waktu kutanya kemarin, malah melempar bola tidak jelas. Shoot mu tidak masuk, bolanya sedikit lagi hampir kena kepalaku. Apa coba maksudmu kemarin!!!” Cecar Seunhye
penuh kesal.

“Air ludahmu muncrat kemana-mana!” ucap Kyuhyun datar sambil mengusap
wajahnya dengan lengan seragam yang dikenakan. Seunhye tidak tahu mau bicara apa. Kesal, tapi malu karena perkataan Kyuhyun tadi. Akhirnya Seunhye memilih meninggalkan kyuhyun begitu saja.

Seunhye berlari menyongsong ketika dilihatnya kedua sahabatnya yang masih menggendong tas baru saja melewati koridor ruang kesehatan.

“Hai fans fansku!” ia menyeruak ke tengah-tengah di antara Hyesu dan Jinhye.

“Yah, siapa yang kau sebut fansmu huh?” sewot Jinhye.

“Ah, begitu saja marah.” Seunhye mencolek dagu Jinhye. Dan Jinhye berlagak seolah-olah tangan Seunhye yang menyentuh wajahnya tadi penuh virus dan kuman.

Sejurus kemudian Seunhye teringat sesuatu. “Jinhye-ya, tadi kau ke
sekolah naik apa?”

“Eng seperti biasa kan, naik mobil diantar eommaku. Wae?”

“Oh, anniyo. Cuma, tadi waktu di jalan aku seperti melihat orang yang mirip denganmu tapi dia naik motor dibonceng seseorang. Kupikir itu kau.” Balas Seunhye.

“Oh, yang kau lihat mungkin..”

“Aku putus dengan Kim Jonghyun.” Kata-kata itu terlontar dari mulut Hyesu tiba-tiba yang dari tadi hanya diam, sontak Jinhye menghentikan ucapannya. Langkah ketiga gadis itu terhenti seketika.

“Mwoya! Bagaimana bisa?” Jinhye memecah hening yang sesaat di antara mereka.

“Ah. Mollayo. Kami bertengkar lagi, dan aku memutuskannya.” Hyesu terlihat murung mengatakannya.

“Ckckck.. Kau ini, kau yang memutuskannya, tapi kau yang menyesal.” Celetuk Seunhye.

“Yah, orang yang pengalaman cintanya nol diam saja!” Semprot Jinhye telak membuat Seunhye diam.

“Okay, aku tak akan berkomentar apapun.”  Lanjut Seunhye tersungging ia mendahului kedua temannya dan masuk ke kelas.

×××

Bel tanda jam pelajaran usai, yaitu potongan nada canon menggema di sekolah. Semua guru  Semua guru yang mengajar keluar diikuti siswa yang ingin keluar untuk makan siang, bermain, ke perpustakaan atau sekedae mencari udara segar. Jinae yang sudah merapikan bukunya
mendatangi meja Seunhye di depannya.

“Kantin?” tawar Jinae.

“Tunggu..” Seunhye menjejalkan buku dan kotak pensilnya ke tas lalu mengekor Jinae ka kantin.

Suasana kantin tidak terlalu ramai. Dari kejauhan, Seunhye dan Jinae menemukan kedua teman dan sahabat kembar mereka menggelepar (?) lesu di meja. Mereka berjalan mendekati Hyesu dan Jinhye yang sekelas. Jinae yang melihat teman dan saudara kembarnya yang tidak bersemangat
malah ikut-ikutan menggelepar (?) mereka bertiga menangkupkan kepala ke atas meja kantin. Melihat aksi gelepar-geleparan (?) teman-temannya Seunhye pun gatal menarik badan mereka satu-persatu hingga duduk dengan posisi duduk. Kemudian Seunhye mengambil tempat duduk di depan mereka bertiga.

“Yah! Kenapa semuanya lesu sekali? Kalo Hyesu aku tahu penyebabnya. Jinhye! Kenapa kau jadi loyo begini? Kesambet apa kau? Jinae juga! Tadi kau baik-baik saja, kenapa ikut-ikutan?” Ketiganya menatap Seunhye malas, lalu kembali menelungkupkan kepala
masing-masing ke atas meja.

“Hey, ayolah jangan karena sekarang sedang musim gugur lantas kalian semua jadi layu begini. Seharusnya kalian meniruku, aku selalu semangat dan enerjik. Seperti bunga mawar di musim panas!!” seru Seunhye dengan semangat berkobar.

—–> Jam istirahat kedua

Seperti ayam sakit dengan gejala 5L lemah, loyo, letih, lesu, lunglai Seunhye berjalan ke kantin dari ruang audiovisual. Begitu sampai di kantin, didapatinya ke-3 temannya tengah duduk dengan kepala tertelungkup di meja yang sama saat mereka ke kantin pada istirahat pertama. Seunhye mendudukkan pantatnya ke bangku tepat di samping Jinae yang duduk di samping Jinhye, yang bersebelahan dengan Hyesu.
Empat serangkai itu menghabiskan 20 menit waktu istirahat mereka
dengan menggelepar di meja kantin dengan berbagai permasalahan yang
diderita masing-masing.

×××

Di tengah keramaian koridor depan ruang audiovisual, Seunhye berdiri di depan papan pengumuman tanpa dihiraukan siswa lain yang berlalu lalang di sana. Seunhye masih betah berdiri memelototi selembar kertas yang ditempel dengan selotip di papan pengumuman, padahal koridor
tempatnya berdiri sudah menjadi sepi. Ia memandangi kertas itu berharap dari matanya bisa dikeluarkan sinar laser yang dapat membuat tulisan Choi Seunhye tercantum di kertas itu. Namun selembar kertas tak berdaya itu tetap tak mengalami hal tersebut.

Kertas berisi pengumuman tentang siapa saja dari Chansik High School yang berhasil lulus ke tahap selanjutnya pada lomba mata pelajaran se-Korea Selatan tidak menyertakan nama Seunhye sama sekali, artinya gadis itu tidak bisa ikut ke lomba yang dengan naasnya lomba itu diadakan di resort mewah di Pulau Jeju. Seunhye sama sekali tidak menyangka bahwa even lomba pada tahun ini diadakan di luar Seoul. Seunhye belum pernah pergi ke Jeju, dulu waktu ia masih duduk di bangku sekolah dasar, seorang temannya memamerkan sebuah jimat yang ia beli di kuil di Pulau Jeju, temannya berkata kalau berdoa dengan sungguh sungguh dan selalu membawa jimat itu, permohonan yang diminta akan terkabul. Seunhye yang masih polos merengek meminta ibunya untuk liburan ke Jeju dan membeli jimat itu. Seunhye berasal dari keluarga yang berkecukupan, dalam artian cukup. Tidak kurang, tidak lebih. Tentu saja permintaan aneh-aneh seperti itu menjadi prioritas ke sekian bagi keluarga mereka. Dan teman kecil Seunhye itu sekarang sudah berada di dunia dan kehidupan yang berbeda dengan Seunhye. —-> bukan mati lo!

Sebut saja Bae Sujie, atau lebih dikenal dengan Suzy. Member sebuah girlband bernama Miss A yang baru debut baru-baru ini (pura-puranya Miss A baru debut, no protest). Hal itu membawa Seunhye ke ingatan jimat Pulau Jeju. Dan jika saja dia lolos lomba ini, ia dipastikan mendapat liburan musim panas melihat pantai karang di Pulau Jeju. “Jinae saja lolos. Coba aku lebih pintar sedikit saja. Pasti aku akan mendapatkan jimat itu seminggu lagi.” Gumamnya. Di list tersebut, ia menemukan nama Kyuhyun. Sedikit banyak Seunhye juga berharap lolos karena ada Kyuhyun. “BRAK!” suara benturan sangat keras berasal dari koridor tempat loker siswa yaitu berada di ujung belokan sebelah kiri koridor tempat Seunhye berdiri. Seunhye dengan penasaran berjalan perlahan-lahan mendekati ujung koridor. Semakin dekat, ia bisa mendengar suara seperti orang berbicara namun sangat pelan dan Seunhye tidak bisa menebak apa yang sedang dibicarakan.

“Kdemprang, klontang.” Tanpa sengaja anak itu menabrak tong sampah dari alumunium yang tidak berdosa  di depannya. Jantung Seunhye kembali berdetak kencang karena keterkejutannya. Namun tak begitu dihiraukannya, ia masih penasaran dengan suara yang tadi di dengarnya. Seunhye melompat ke tengah-tengah percabangan koridor. Tak ada apapun di sepanjang lorong loker siswa itu, Seunhye pun menoleh ke arah sebaliknya menuju tangga ke lantai 1, sama sekalitidak ada orang. Seketika bulu kuduknya meremang berdiri. Berbagai macam dan jenis rupa setan yang pernah ia tonton di film-film hantu memenuhi pikirannya, anak itu lari tunggang langgang ke tangga menuju lantai 1, sekolah saat malam hari sepertinya tidak begitu menyenangkan pikirnya.

Tanpa diketahui Seunhye, dua orang yang bersembunyi dibalik lemari loker akhirnya keluar setelah memastikan tidak ada orang di sepanjang lorong itu.

“Maaf oppa, kita tidak bisa seperti ini terus. Kumohon kau mengertiposisiku.” Salah seorang dari mereka berdua kembali bicara.

“Kau hanya menganggapku selinganmu ya?” balas suara seorang lagi. Suara tenor laki-laki.

Suara yang lain, yaitu si perempuan tidak menjawabnya.

“Tapi aku tidak.” Si laki-laki kembali berujar. Kedua tangannya mendorong bahu si perempuan hingga menabrak loker, menimbulkan suara brak yang menggema sepanjang lorong untuk yang kedua kalinya. Tangan laki-laki itu mengunci kedua tangan si gadis.

“Oppa, maafkan aku, tolong jangan begini.” Ujar gadis itu dengan suara bergetar.

Laki-laki itu tidak menghiraukan, ia semakin menunduk mendekati wajahsi gadis. Bibirnya mulai melumat kasar bibir gadis itu, namun tak lebih 5 detik berikutnya, ia menghentikannya. Setelah sesuatu yang basah, air mata gadis itu menetes mengenai pipinya. Laki-laki itu melepaskan si gadis dan pergi dalam diam, menuruni anak tangga satu persatu meninggalkan si gadis dan seorang lagi yang langsung bersembunyi di balik tangga, Seunhye. Seunhye kembali setelah mendengar suara brak yang membuat rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. Seunhye, gadis itu melihat semuanya dengan penuh kebingungan.

×××

Seunhye’s Pov

Keesokan harinya, aku sudah berencana dengan Jinhye untuk mendatangi Jonghyun diam-diam tanpa sepengetahuan Hyesu. Mau tidak mau kami berdua harus mendamaikan Jonghyun dan Hyesu LAGI. Hal ini sudah sering terjadi. Hyesu dan Jonghyun adalah teman, atau bisa dibilang musuh masa kecil. Mereka bertetangga  dan satu sekolah sejak SD. Hyesu dan Jonghyun tidak bisa dibilang akrab karena Jonghyun yang usil selalu menganggu dan membuat si pendiam Hyesu menangis. Menurut cerita Hyesu tentang Jonghyun, aku pun sudah bisa menyimpulkan Jonghyun itu cuman ingin mengajak Hyesu bermain. Hal ini terus berlangsung bahkan hingga mereka di sekolah menengah pertama. Jonghyun tumbuh menjadi anak yang keren dan populer di sekolah mereka. Jonghyun sudah mulai jarang mendatangi Hyesu ke kelasnya hanya sekedar menjambak rambut Hyesu yang dikuncir ekor kuda. Jonghyun jarang menyembunyikan sepatu Hyesu, Jonghyun juga tidak pernah merebut bekal Hyesu lagi, tidak pernah merobek komik baru Hyesu, ia lebih sering menghabiskan waktunya dengan teman-teman populernya. Hyesu semakin menjadi kesepian. Ketika Jonghyun baru saja lulus SMP, di hari kelulusannya, seorang gadis mencoba mencium Jonghyun di taman sekolah, Hyesu yang melihat itu langsung berlari ke arah mereka, dengan kejam ia menjambak rambut temannya itu dan menjauhkannya dari Jonghyun. Hyesu bilang pada Jonghyun, Hei kau kuning, dengar ya, jangan dekat-dekat perempuan lain. Ayo pulang sekarang! Siapa yang suruh kau
duduk-duduk di sini dengan perempuan itu! Dan seperti kambing Jonghyun mengikuti Hyesu yang kalem seperti domba tiba-tiba jadi beringas seperti srigala. Dan sebenarnya Jonghyun dan Hyesu tidak pernah menyatakan i love you, saranghae, aku cinta kau. Jonghyun juga tidak pernah bilang Hyesu would you be the girl of mine, atau keta-kata sejenis itu, namun mereka sudah lebih 5 kali mengatakan. Kita putus. Sudah sampai di sini saja. Lo gue end. Apalah itu. Tapi yang kutahu
pasti mereka berdua benar-benar tidak terpisahkan. Jonghyun tidak akan tahan tanpa Hyesu, begitu juga sebaliknya. Aaarrhh.. Terkadang aku iri dengan mereka. Jinhye temanku yang galak dan baru dipecat dari klub Judo kemarin sebenarnya juga memiliki kisah yang menarik. Dia sebenarnya dipecat karena memukul kakak kelas kami hingga masuk rumah sakit. Parah. Padahal Lee Donghae itu sudah menyukainya sejak lama, aku cukup salut melihat kegigihan Donghae untuk merebut hati Jinhye. Bahkan setelah Donghae keluar rumah sakit nanti, aku yakin anak itu masih belum kapok dengan Jinhye. Uh-oh, aku teringat sesuatu.

“Jinhye-ya.” Panggilku.
“Apa?”

“Jinae sudah punya pacar?” tanyaku langsung ke topik.

“Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” Tanya Jinhye balik, bukannya langsung menjwab.

“Hanya bertanya saja.”

“Eum, bagaimana ya, tapi kau janji jangan ember ya!” ujarnya kemudian.

“Ne, jadi dia sudah punya pacar?” aku mengulangi pertanyaanku.

“Pelankan suaramu. Iya Jinae sudah punya pacar.” Jinhye menjawab setengah berbisik.

“Apa aku kenal pacar Jinae?” tanyaku lagi.

“Eng, tentu saja kau kenal. Dia kakak kelas kita.” Jawaban itu membuat bahuku merosot. Berarti dugaanku benar.

“Pacarnya, Kyuhyun ya?” aku bertanya dengan nada lesu, tapi sebisa mungkin kututupi.

“Mwo? Yang benar saja, Kyuhyun kan bukannya incaranmu?” Sontak aku menoleh ke arah Jinhye, aku menatapnya bingung. Apa maksudnya ini?

“Jadi namjachingunya siapa?”

“Jangan kaget ya. Kau harus janji tidak memberitahu siapapun, ara!?”

“Aish, arraseo. Siapa?” tanyaku tidak sabar.

Jinhye menunjuk seorang di tengah kumpulan siswa kelas 11 berjarak tidak kurang 5 meter di depan kami berdua.

“Jinki sunbae?” pekikku tidak sadar.
“Yah, kenapa kau berteriak seperti itu!!”  Jinhye mendorong pelan bahuku. Namun Jinki sunbae yang merasa namanya disebut kemudian menoleh ke arahku dan Jinhye. Ia tersenyum pada kami dan mendatangi kami.

“Lihat yang kau lakukan!” bisik Jinhye.

“Seunhye-ssi, kau kenapa ke sini? Mau mencari siapa?” tanya Jinki langsung padaku.

“Ah, itu, aku mau cari Jonghyun oppa. Kami pergi dulu sunbae!” Aku pun menarik tangan Jinhye mendahului Jinki.

“Yah! Sepertinya kau akrab dengan Jinki sunbae, masa tadi dia hanya memanggilmu, aku tidak dipanggil.” Ujar Jinhye ketika kami hampir sampai di kelas Jonghyun.

“Jadi pacar Jinae itu Jinki? Bukan Kyuhyun?” aku malah bertanya hal lain, tidak menjawab Jinhye.

“Aish, kenapa dari tadi kau selalu bilang Kyuhyun pacar Jinae, kau ingin incaranmu benar-benar pacaran dengan saudara kembarku?” kesal Jinhye.

“Tentu saja tidak. Hahaha. Yah, itu Jonghyun. Jonghyun oppa!” aku memanggil Jonghyun yang kebetulan lewat, mengalihkan perhatian Jinhye untuk tidak membicarakan hal tadi. Jinhye langsung teralihkan, ia sedang berbicara dengan Jonghyun oppa, namun aku masih berkutat dengan pikiranku.

Sesekali Jinhye meminta pendapatku, dan aku hanya mengangguk saja. Lalu dari arah depan seseorang dari beberapa orang yang sedang kupikirkan memegang sebuah psp, ia berjalan sangat pelan, seluruh konsentrasinya tertuju pada benda hitam di kedua tangannya. Sesekali ia tersenyum melihat layar benda itu. Kurasa ia memenangkan gamenya. Ia melewati kami tanpa menoleh dari pspnya.

Kejadian kemarin sore kembali terbayang di benakku. Yang kutangkap, Kyuhyun menjadi sangat menyeramkan ketika sedang marah. Aku memehatikannya sampai ia masuk ke dalam kelas.

“Hhh..” helaan nafasku terdengar berat tanpa kusadari.

“Jadi menurutmu aku bagaimana? Dia itu selalu bertingkah kekanak-kanakan dan manja membuat kepalaku pusing.” Suara Jonghyun frustasi membuatku kembali memperhatikan mereka.

“Yah! Selama ini bukannya dia memang selalu seperti itu? Kalau tidak manja, bukan Hyesu namanya.” Celetukku.

“Memang apa yang membuat kalian bertengkar kali ini?” tanya Jinhye.

“Aku menonton anime gundam seed yang terbaru dengan Luna, kasetnya belum ada di Seoul, dan rupanya Luna punya. Besoknya aku cerita pada Hyesu, aku cuman mau berbagi karena dia belum nonton. Tapi entah kenapa tiba-tiba dia marah. Dia mengira aku pamer padanya.” terang Jonghyun.

“Oh Jonghyun oppaku sayang. Itu namanya cemburu. Hyesu cemburu bukan pada filmnya, tapi padamu. Kau bersenang-senang dengan perempuan lain, tentu saja dia cemburu.” Jinhye berkacak pinggang berujar.

“How silly! Aku kan tidak ada apa-apa, hanya menonton itu saja.”

Bel bernada Fur Elise kembali terdengar.

“Sudahlah, kalian tidak perlu susah-susah mendamaikan kami lagi, aku sudah lelah dengan sifat kekanak-kanakannya. Sana masuk kelas, sudah bel.” Jonghyun oppa berjalan masuk kelasnya begitu juga beberapa siswa di sana.

Mau tidak mau aku dan Jinhye pulang ke kelas kami lagi.

“Sepertinya kita tidak bisa membantu lagi.” Ujar Jinhye di tengah perjalanan.

Aku mengangguk mengiyakan.
Aku dan Jinhye berpisah di depan kelasku, dia terus berjalan masuk ke kelasnya. Tak berapa lama aku duduk di bangku, songsaenim masuk dan pelajaran kembali dimulai.

Tanpa disangka, begitu guru itu masuk, yang dilakukannya membagi selembar kertas berisi soal tidak jelas. Ulangan kimia dadakan.

Seluruh kelas langsung gaduh menolak ulangan mendadak ini. Namun songsaenim tidak perduli.

“Waktu kalian tinggal satu setengah jam.” Ujar songsaenim. Kegaduhan itu terhenti seketika. Semua siswa akhirnya memilih untuk fokus, fokus meminta jawaban satu sama lain maksudnya. Songsaenim memang tidak begitu memeperhatikan. Walaupun ia tahu tapi ia membiarkannya begitu saja.

Anggap aku sedang beruntung, semalam entah ada angin apa aku sempat membaca-baca buku catatan kimiaku.

Dari 30 poin soal, aku sudah mengerjakan yang 20 selama satu jam. Beberapa ada yang sulit seperti stoikiometri entah aku harus memakai hukum gay lussac atau dengan pereaksi pembatas, beberapa jenis soal seperti itu kutinggalkan, aku beralih ke soal yang teori.

“Seunhye-ya!”

“Seunhye-ya!” bisik-bisik yang memanggil namaku terdengar dari belakang, aku menoleh sedikit. Jinae yang memanggilku.

“Nomer 25 isinya apa?” tanyanya masih berbisik sambil sesekali menoleh ke arah songsaenim yang mulai terkantuk-kantuk.

Aku melihat ke kertas jawabanku. Sudah terisi. Aku kemudian berbalik lagi.

“Mian, aku juga tidak tahu.” Aku berbisik padanya.

“Oh, gwenchana.”

Aku kembali berkutat dengan pekerjaanku. Aku berbohong. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku benar-benar sedang tidak ingin membantunya.

Bel pulang berbunyi, dengan cepat aku melangkah keluar kelas, sengaja berjalan lewat taman sekolah. Pohon-pohon daunnya menguning dan tak sedikit yang jatuh gugur. Kulihat petugas kebersihan sekolah menyapukan daun-daun gugur itu yang sudah seperti karpet tebal melapisi tanah. Aku kembali melangkah menuju tempat parkir. Masih ramai oleh siswa yang membawa kendaraan baik motor maupun mobil. Motor Kyuhyun sunbae terparkir tidak jauh dari motorku. Aku memasang helm dan memundurkan motor.

Baru mau kutekan tombol starter tiba-tiba aku merasa seseorang melompat menduduki jok motor yang tersisa.

Aku berbalik, awalnya kukira itu kerjaan iseng Seo Jinhye, tapi salah besar, Jinki sunbae menyengir lebar padaku.

“Ayo antar aku pulang!” Serunya menggemaskan.

“Sunbae! Kau seenaknya naik motor orang lalu minta antar pulang. Bayar dulu, sekarang ini tidak ada yang gratis!” seruku pura-pura sewot.

“Aish, pelitnya.” Dia pun kemudian turun dari motorku, namun di detik berikutnya ia menurunkan standar motorku. Detik berikutnya, kedua tangan laki-laki itu sudah melingkar di perutku ia menggendongku turun dari atas motor tanpa kuduga.

“Yah, apa yang kau lakukan!” Jinki menurunkanku hingga berdiri sendiri di atas tanah dengan kedua kakiku. Ia meraih helm dari kepalaku dan memakainya, dan langsung naik ke atas motorku.

“Kalau aku yang bawa, berarti tidak bayar kan?”

“Cepat naik atau kutinggal!” belum sempat kuprotes ia langsung mengancamku. Sebenarnya motor siapa ini? (=.=”)

Tidak ada pilihan, aku naik ke atas motor dan woosh motor melaju sangat kencang.

“Pelan-pelaaaaaaan!”

×××

Sepasang mata memperhatikan kepergian Jinki dan Seunhye.

“Dia bahkan tidak memikirkanmu lagi.” Gumam Kyuhyun. Laki-laki ini menghidupkan mesin motornya dan segera meninggalkan kawasan sekolah.

×××

Hari minggu yang tenang, aman, nyaman, tentram, damai, dan segala kata yang mirip-mirip dengan kata tadi.

Di luar matahari tidak bersinar terik karena awan mendung berwarna kelabu pekat menyelimuti langit menghalangi sang surya memberi cahaya kehidupan seperti yang dilakukannya sejak berjuta-juta tahun lalu. Gadis berambut gelombang sebahu itu masih bergulung dengan selimut tebal ranjang empuknya. Ia masih berselancar di dunia bawah sadar. Ia memimpikan kalau sekarang ia berada di zaman dinasti kerajaan-kerajaan Korea terdahulu. Dan anak ini menjadi putri raja yang diperebutkan oleh 2 orang pangeran tampan. Sang putri bingung harus memilih di antara kedua pangeran itu, karena dua-duanya sama-sama memiliki credit poin tersendiri. Saat salah seorang pangeran tengah bergandengan dengan sang putri, mengajaknya berkeliling taman istana, seseorang menyeruak di antara mereka dan merebut putri ke dalam pelukannya.

Di dunia yang sebenarnya, badan Seunhye berada di bawah tumpukan bantalnya.

Seorang pangeran yang tidak terima melihat putri dipeluk pangeran lain, ia melemparkan sepatunya ke ada pangeran itu, namun meleset dan mengenai putri Seunhye.

“Seunhye! Banguuun!!!” Eomma berteriak memukul muka Seunhye dengan bantal. Sejurus kemudian Seunhye merasa melihat sesosok wajah yang mirip dengan Yang Mulia Ratu tepat di atas wajahnya.

“Yang Mulia, aku harus pilih siapa di antara 2 pangeran tampan itu?” tanya Seunhye dengan suara parau dan tingkat kesadaran yang menyedihkan.

“BANGUN TUAN PUTRI!!” teriakan melengking eomma akhirnya membuat Seunhye bangun terduduk.

“Eomma! Kenapa eomma membangunkanku? Ini kan libur.” Seru Seunhye mengucek-ngucek matanya.

“Kau ini! Benar-benar! Cepat bangun dan bersiap-siap!” Eomma menarik tubuh Seunhye paksa hingga ia berdiri di atas lantai.

“Tidak perlu mandi, sikat gigi dan ganti pakaian saja sana, eomma akan menyiapkan pakaianmu.” Seunhe eomma bergegas keluar kamar dengan setengah berlari, sementara Seunhye bergegas masuk ke dunia mimpi lagi. Seunhye yang tadinya berdiri limbung sekarang sudah menggelepar di lantai.

Tidak lama kemudian Seunhye eomma kembali ke kamar Seunhye dengan tas koper  yang didorong.

“Astaga SEUNHYEEE!” Seunhye terlonjak berdiri seketika.

Seunhye eomma kemudian mengganti baju Seunhye yang masih belum sadar sepenuhnya setelah 10 tahun ia tidak pernah memakaikan baju anak perempuannya lagi, tentu saja sambil merepet.

Setelahnya Seunhye eomma membongkar lemari pakaian Seunhye. Ia mengambil beberapa potong baju dan menjejalkannya ke dalam koper.

“Eomma, kita mau kemana sih?” Seunhye akhirnya cukup sadar dan waras sekarang, dan bertanya karena melihat eommanya yang packing secara tiba-tiba seperti mau pergi jauh.

“Demi Tuhan Seunhye, kau amnesia atau apa? Kau mau pergi ke Jeju setengah jam lagi! Eomma sangat terkejut begitu mendapati gurumu menekan bel pagi-pagi. Kau ini, benar-benar..”

“Mwoya? Jeju?”

“Kenapa terkejut begitu, sekarang guru dan teman-temanmu sudah ada di depan rumah kita, makanya..”

Belum selesai eomma bicara Seunhye langsung berlari ke luar kamar.

“Cishh, kenapa anak itu tidak pernah mendengarku sampai selesai bicara.” Gerutu Seunhye eomma.

Seunhye mengintip ada Kim songsaenim dan Han songsaenim di ruang tamu. Seunhye teringat saat ia berdiri di depan papan pengumuman memusatkan  pikirannya memelototi kertas tempo hari. Dan pergi begitu saja ketika mendengar suara Brak.

“Astaga.. Aku tidak percaya kalau aku punya kekuatan supranatural.” Gumam anak itu, seketika ia kembali ke kamarnya. Ternyata eomma sudah selesai dengan segala kebutuhan yang akan diperlukan Seunhye selama 5 hari di Pulau Jeju nanti.

“Eomma, aku pergi ya!” Seunhye mengambil alih koper dari eommanya. Ia berlari ke ruang tamu. Eomma mengikutinya dari belakang.

“Songsaenim, tolong titip Seunhye, anak ini suka merepotkan orang lain.” Ujar eomma jujur sambil tersenyum tanpa dosa.

“Ish.. eomma.” Gerutu Seunhye pelan.

“Nde, Seunhye eomma. Baiklah, kami berangkat dulu.” Pamit guru perempuan berumur 25 tahun, yaitu Kim songsaenim.

Seunhye eomma melambai dari depan pagar. Mereka bertiga, Han songsaenim, Kim songsaenik dan Seunhye berjalan meninggalkan rumah Seunhye. Di ujung gang, bus milik sekolah sudah standby.

Begitu masuk, Seunhye langsung di damprat oleh kakak kelasnya secara tidak langsung, yaitu tatapan kesal mereka akibat membuat mereka menunggu. Sementara Seunhye balas melemparkan pandangan tidak berdosanya.

“Kenapa kau selalu terlambat?” gumam seseorang. Kyuhyun. Seunhye menoleh ke arah Kyuhyun yang duduk sendirian. Baru saja ia mau duduk di sampingnya, suara Jinki menyapa telinganya.

“Seunhye-ya! Di sini saja!” Seunhye melihat Jinki yang menepuk kursi di sebelahnya yang kosong.

“Di sini saja!” gumam Kyuhyun pelan, padahal matanya menerawang keluar jendela. Seunhye mendengarnya. Sejenak ia ragu untuk duduk di samping Jinki atau Kyuhyun. Bus sudah bergerak maju, keseimbangannya oleng, Kyuhyun memegang tangan Seunhye, lalu menariknya duduk di sampingnya. Setelah terududuk, Seunhye menoleh ke belakang.

“Sunbae, aku duduk di sini saja.” Ujar Seunhye tidak enak pada Jinki.

Jinki hanya megangguk dengan seulas senyum.

Bus belum berhenti berjalan, pertanda rombongan ini memang belum sampai ke tujuannya. Seunhye duduk dengan bosan, ia melirik ke sampingnya. Anak itu malah memainkan game di pspnya.

“Apa maksud anak ini menyuruhku duduk di sini kalau akhirnya aku dicuekin. Harusnya aku tadi memang duduk di samping Jinki sunbae saja. Tapi sebenarnya senang juga sih. Hahaha.” Batin Seunhye.

Sesekali Seunhye mencuri pandang ke laki-laki dalam jaket biru tua di sampingnya. Melihat wajahnya saja jantung Seunhye sudah tidak karuan.

Terlalu lama melamun, Seunhye tidak sadar bus mereka sudah berhenti di incheon airport.

Kyuhyun mematikan pspnya dan memasukkan ke dalam tas ransel. Ia menggendong tasnya bersiap-siap turun dari bus. Namun begitu menoleh, dia mendapati Seunhye menatapnya dengan tatapan melongo. Sejenak sebuah senyum terlukis di wajah putihnya.

“Kau masih begitu menyukaiku ya?” Kyuhyun kembali memasang tampang -__-

“Nde?” Seunhye tersadar.

“ 555.***.*3* Annyeong haseyo Kyuhyun sunbae. Eng, bagaimana ya mau mengatakannya, tapi aku suka padamu. Aku tidak akan mestalkmu tenang saja. Oh iya, jangan khawatir, aku cantik kok. Hahaha.”

Kyuhyun melewati Seunhye yang terbengong mendengar perkataannya.

“Aigo aigo aigo! Jinja!”

Seunhye memukuli kepalanya sendiri. Menyadari kebodohannya yang mengirim sms menjijikkan seperti itu setengah tahun lalu.

Seunhye kemudian langsung keluar dari bus ketika menyadari tinggal dia sendirian di sana.

Setelah mengurus semuanya, rombongan itu masuk ke terminal keberangkatan. Terlihat beberapa rombongan sekolah lain berada di sana. Seunhye mengedarkan pandangannya. Ia melihat Jinae sedang mengobrol dengan teman yang ikut lomba mata pelajaran yang sama. Seunhye kembali melihat-lihat sekitar, mencari teman yang bisa diajak bicara. Namun pandangannya bertumbuk dengan Kyuhyun, cepat ia memalingkan wajahnya yang merah dan berjalan ke tempat duduk di sana. Kyuhyun hanya tersenyum dalam hati melihat tingkah Seunhye.

Merasa haus, Jinae pergi ke mesin minuman otomatis, ia merogoh saku celanany, setelah mendapat beberapa koin, ia memasukkan ke dalam mesin memencet tombol mesin itu. Sebuah minuman kaleng dingin keluar. Seunhye mengambil minumannya. Ia terlalu berkonsentrasi dengan minuman itu tanpa menyadari seseorang mendekat ke arahnya.

“Bruk”

Seunhye menabrak, atau sebenarnya ditabrak oleh seorang gadis berambut blonde. Buruknya gadis itu membawa minuman juga, dan tumpah mengenai sweater berwarna pastel milik Seunhye.

“Ah, mianhada, aku tidak sengaja.” Ujar gadis itu sambil meminta maaf, ia mengeluarkan tissue dan mengelap baju Seunhye.

“Anniyo, aku yang tidak melihat jalan.” Jawab Seunhye.

“Lepaskan saja sweatermu, biar kubersihkan.” Tawar gadis itu.

“Tidak perlu, aku bersihkan sendiri saja.” Seunhye berlari kecil ke toilet bandara. ia membersihkan sweaternya dengan air dari wastafel, namun karena sulit, ia masuk ke salah satu bilik toilet dan menghidupkan shower kecilnya, Seunhye berdiri membelakangi pintu toilet. Ketika ia sedang mengucek bagian sweaternya yang terkena tumpahan, Pintu bilik toilet itu tertutup dan langsung dikunci dari luar.

“Yah!”

Seunhye menggedor-gedor pintu toilet.

“Yah, bukakan pintunya! Kenapa aku dikunci! Tolong! Siapapun! Aku dikunci di toilet!”

Pintu itu masih tetap tidak mau terbuka. Seunhye mencoba mendobrak, namun tenaganya sama sekali tidak mampu menjebol pintu itu.

Ia meraba saku celana jeansnya, tapi sialnya handpone gadis itu ada di dalam tas selempang yang diletakkannya bersama minuman kaleng di dekat wastafel. Gadis itu terduduk di atas kloset lesu, ia begitu kesal dengan orang iseng yang entah apa alasannya menguncinya di toilet. Sementara 2 orang gadis baru keluar dari toilet. Salah seorang di antaranya memasukkan sebuah benda mengkilap ke dalam tong sampah dan pergi dari sana dengan senyum kemenangan.

.:TBC:.

a.n: kemaren kependekan, ini kepanjangan. dan membosankan. Hahaha

comment= ❤ ❤

so, gimme your comment >//<

Advertisements

5 thoughts on “Loveless Part 3

  1. Pingback: Loveless Part 4 « FFindo

  2. huwaahh…siapa tuh yg kunciin seunghye…
    Akhh,..penasaran, lanjut ke part 4.y dulu…bye.. 😀

  3. siapa tuh yg jahat ma seunghye. . .
    Kyu n jinae selingkuh dr jinki ya? Pa tu penyebab kyu d pukul jinki. . .
    Padahal berharap jinki n kyu berebutan seunghye

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s