Loveless Part 2

Title: Loveless

Author: seoeunkyung

Cast: Choi Seunhye, Cho Kyuhyun, Lee Jinki, Seo Jinae

Genre: Romance (selalu =.=)

Rating: SU

Prev part:

Part 1

Ff untuk @ekaafs yang ‘berbaik hati’ membuatkan saia ff  dengan akhir yang tragis.

Makasih buat reader tercintah yang udah ninggalin komentnya.. :* :* semoga langgeng dengan biasnya (?)

Take a look.. ^^

 

“Tutup mulutmu! Kau pasti tahu alasanku.” Suara sinis Jinki lebih menekan pada kata ‘pasti’ kemudian ia menghempas tubuh Kyuhyun ke lantai dan melangkah meninggalkannya.

Part 2

 

Kyuhyun bejalan, menjajakan kakinya melewati lapangan basket outdoor sekolah, ia hendak menuju ke pelataran parkir. Pukulan Jinki memberinya wajah memar dan berdarah. Sesekali diusapnya darah di sudut bibirnya yang merembes mengalir.

Langit mulai menenggelamkan matahari. Ia berbelok mendekati lapangan indoor, yang siang tadi ia datangi, Pintu rolling doornya terbuka sedikit, menarik Kyuhyun untuk masuk ke dalam.

Di tengah-tengah ruangan itu ada seseorang yang hanya diterangi oleh cahaya remang-remang dari ponsel. Kyuhyun berjalan ke arah saklar, dan semua lampu dan lampu sorot yang terpasang secara seri menyala terang benderang. Kyuhyun menyipitkan matanya sedikit, beradaptasi dengan cahaya, namun orang yang tadi Kyuhyun lihat gelap-gelapan, terlihat menoleh ke arah Kyuhyun yang masih di dekat pintu masuk lapangan indoor. Kyuhyun bisa melihatnya mematikan lampu flash di ponselnya, kemudian Kyuhyun mendekat. Sejenak ia mengenali wajah gadis itu, gadis yang ia bawa ke ruang kesehatan karena pingsan terkena bola, Seunhye.

“Annyeong haseyo.” Seunhye membungkuk begitu melihat Kyuhyun mendekat.

“Kau sedang apa? Sendirian di sini, ini sudah malam.” Kyuhyun menjawab tanpa menghiraukan salam Seunhye.

Seunhye menegakkan badannya, ia terlonjak sedikit begitu melihat Kyuhyun yang ada tepat di hadapannya dengan wajah biru lebam, ia baru menyadarinya, karena tadi tidak terlihat jelas dari jauh.

“Sana pulang!” perintah Kyuhyun menghiraukan tatapan –demi-Tuhan-kenapa-mukamu- dari Seunhye, juga menahan nyeri saat ia bicara karena luka di bibirnya.

“Aku mencari kalungku!” tutur Seunhye cepat ketika Kyuhyun berbalik ingin meninggalkannya. Kyuhyun tidak merespon, ia malah terus berjalan.

“Yah! Kau tidak melihatnya waktu menggendongku ke ruang kesehatan?” tanya Seunhye lagi, kini ia berteriak supaya Kyuhyun yang semakin menjauh tetap mendengarnya. Kyuhyun berhenti seketika, ia menghampiri keranjang penuh bola basket yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tas selempang di bahunya merosot hingga jatuh ke lantai. Ia mengambil sebuah bola dari keranjang itu, dengan gerakan cepat Kyuhyun berbalik, ia melempar bola di tangannya sekuat tenaga ke ring basket, bola yang meleset memantul dengan suara yang sangat keras dengan papan.

Seunhye terdiam, terkejut karena suara yang begitu keras, tubuhnya terpaku ketika bola yang memantul melesat hanya berjarak 3 jengkal dari kepalanya. Dan tanpa apapun, Kyuhyun keluar menyisakan Seunhye yang terbengong.

×××

“Aku pulang!” Seunhye melepas sepatu dan kaus kakinya, menggantinya dengan sandal rumah kemudian langsung masuk ke kamar mengabaikan pertanyaan-pertanyaan eommanya tentang ia yang pulang lebih terlambat. Seunhye melempar tasnya asal lalu mengambil charger ponselnya di atas meja, ia memasukkan ujung kabel chargernya ke ponsel, kemudian langsung menghidupkan ponsel yang mati karena kehabisan batre. Seunhye mengetikkan nomor yang sudah dihapalnya luar kepala. Menunggu sambungan terhubung, ia menarik sebuah kursi beroda dan menghempaskan diri di kursi itu.

Telepon yang dituju tidak mengangkat hingga terdengar suara perempuan.

“Yoboseyo, Hyesu sedang sibuk,tinggalkan pesan atau telpon nanti..”

Seunhye meletakkan kembali ponselnya, dan pergi keluar kamar ke dapur. Eommanya sedang menyiapkan makan malam. Seunhye mengambil gelas dan menuangkan air dingin dari kulkas. Lalu duduk di kursi meja makan.

“Seunhye-ya! Darimana kau kenapa pulang terlambat,” tanya eommanya yang menyadari Seunhye sedang duduk tidak jauh darinya.

“Busnya terlambat datang eomma.” jawab Seunhye kemudian menenggak air putihnya lagi.

“Eomma, motorku sudah diambil?”

“Motormu masih di bengkel, bukan bannya saja yang rusak, entah apa tadi kata appa yang rusak, pokoknya belum bisa dipakai jadi kau naik bus dulu.” Eomma masih tetap berkutat dengan sup tahunya.

“Oh iya, bagaimana lombamu kemarin?”

“Ah, sudahlah, apa-apaan soal lomba itu, susah sekali. Aku saja datangnya sudah terburu-buru, jadi tidak konsen lagi.”

“Yah, jangan alasan, kau itu memang dasar tidak pernah belajar. Kerjaanmu tiap malam melihat bintang bulan, tentu saja kau tidak akan bisa menjawab soal-soal lomba kemarin.” Eomma berbalik dan berkacak pinggang.

“Mwo, asal eomma tahu, melihat bintang itu juga belajar, aku kan lomba mata pelajaran astronomi, jadi yang kulihat bintang-bintang, bukan berhitung seperti matematika.” Kilah Seunhye.

“Dug!”

“Aish, eomma appoyo!” ringis Seunhye dan mengelus-elus kepalanya yang digetok sendok sayur eomma.

“Kau pikir eomma tidak pernah sekolah heh? Alasan saja,  sudah sana mandi!” eomma masih mengacung-acungkan sendok sayurnya.

“Aish, lapar, makan dulu saja. Ya ya ya!” tawar Seunhye.

“Siapa bilang kau boleh makan malam ini, badanmu itu gendut, mana ada anak gadis perutnya buncit seperti kau, kupastikan kau pasti tidak punya pacar.” Ujar eomma telak.

“Waktu eomma seumurmu dulu, eomma selalu dikelilingi kakak-kakak kelas yang tampan-tampan, Laki-laki mengantri ingin jadi kekasih eomma, eomma bahkan sudah pacaran sejak masih 12 tahun. Lihat dirimu, kau sama sekali tidak mewarisi darah eomma, dasar payah.”

Seunhye gondok setengah mati melihat tingkah ibunya ini. Diam-diam dia meninggalkan dapur dan kembali ke kamar  meninggalkan eommanya yang sedang bernostalgila mengenang masa lalu yang katanya menjadi pujaan pria.

Seunhye’s Pov

Baru menutup pintu kamar, ponselku bergetar di atas meja, dengan segera aku menjawabnya.

“Yobosseyo..”

“Seunhye-ya, tadi aku sedang mandi, kenapa menelpon?” jawab suara Hyesu dari seberang telepon.

“Oh, aku mau cerita sesuatu..” ujar Seunhye.

“Sesuatu?”

“Itu, aku mau cerita.. tadi kalungku hilang di sekolah, kalau ada yang menemukan tolong kasih tau aku ya. Aku mau mandi sayonara bye bye.”

Telepon kumatikan. Kurasa aku tidak perlu menceritakan Kyuhyun tadi.

Aku merebahkan badanku ke ranjang super empuk hingga badanku tenggelam di dalamnya.

Tadi itu Kyuhyun  sangat aneh, beda sekali, ia terlihat, agak menakutkan buatku. Atau mungkin itu memang dia yang sebenarnya? Bukan Kyuhyun yang cuek dan kekanak-kanakan seperti selama ini kukira.

Ah! Jangan-jangan dia berkepribadian ganda. Tapi tadi mukanya terluka, seperti habis berkelahi, well kurasa Kyuhyun memang bukan seperti yang selama ini kubayangkan.

Aigoo, berarti dia bukan anak baik-baik? Berkelahi sampai luka seperti itu, jangan-jangan dia memang berandalan? Tapi tampangnya sama sekali tidak terlihat seperti berandalan?

Oh Seunhye, kau tidak kenal dengannya, mana tahu kau dia orang seperti apa.

Ckck, aku suka dengan orang yang salah. Lebih baik aku melupakannya. Lagipula dari dulu memang tidak ada kemajuan sama sekali.

×××

Author’s Pov

Pagi menjelang, matahari belum muncul, masih betah di tempat peraduannya, padahal sudah jam 6 pagi. Seunhye sudah siap dengan segalanya. Entah ada angin apa anak itu terbangun jam 4 subuh, langsung mandi dan berpakaian. Eomma dan appanya bahkan belum bangun pagi itu. Siapa yang menyiapkan sarapannya? Tidak ada. Tidak ada kebiasaan sarapan pagi di rumah ini karena sang nyonya besar terlalu malas untuk bangun pagi, ada yang protes? Tidak ada. Kenapa? Tidak berani. Karena kebiasaan ini, baik Seunhye maupun appanya sudah terbiasa tidak makan pagi.

Seunhye pergi ke halaman belakang rumahnya. Kontur daerah perfektur rumah Seunhye memang berbukit-bukit, sehingga dari halaman belakang Seunhye bisa melihat pemandangan kota Seoul. Angin bertiup sangat sejuk, menerbangkan rambut sebahunya yang dibiarkan terurai. Pikirannya masih random, roh anak satu ini belum berkumpul semua di dalam badannya. Sesekali ia menguap dan mengucek-ngucek matanya. Matahari sudah mulai naik. Seunhye yang memang sudah siap dengan tas ransel dan sepatunya keluar rumah lewat pintu samping. Ia melangkahkan kaki di jalan perumahan yang masih sepi. Di ujung gang ia sampai di pinggir jalan besar. Hanya beberapa meter ia mendapatkan halte bis. Seunhye mendudukkan dirinya di situ sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung. Lalulintas juga belum terlalu ramai, mungkin beberapa menit lagi barulah kesibukan warga kota Seoul terlihat. Seunhye duduk dengan bosan terkantuk-kantuk.

“Brum..” suara dengungan motor yang melintas ngebut di jalan depannya menghilangkan kantuk Seunhye seketika. Ia melihat dengan mata melotot ingin memarahi pengendara motor yang kebut-kebutan tidak sopan.

“Anak muda zaman sekarang.” Batin Seunhye geleng-geleng kepala. Ia masih memperhatikan motor yang semakin menjauh karena lajunya cukup ngebut. Melihat anak perempuan yang diboncengi di motor tadi ia jadi teringat seseorang. Temannya, Seo Jinhye, apalagi seragam sekolah yang gadis itu kenakan sama dengan yang dikenakan Seunhye. Seunhye mengelus-elus dagunya dengan jari telunjuk kanan, posenya seperti orang yang sedang berpikir keras.

“Jinhye bukan ya? Dengan siapa dia?”

“Tin.”

Sibuk dengan pikirannya sendiri, Seunhye terlonjak berdiri saat klakson bervolume memekakkan telinga milik bus biru besar menyapa telinganya. Seunhye langsung melompat ke dalam bus yang masih plong, belum dijejali penumpang yang terlalu banyak. Seunhye menempatkan posisinya di baris sebelah kanan. Seiring bus berjalan, matanya tetap memandang ke luar, ke jalan. Bus berhenti di pemberhentian selanjutnya, beberapa penumpang masuk, hampir memenuhi seluruh ruang di bus ini.

“Nona, boleh geser tas mu?”

Seunhye mengambil tasnya, meletakkan di pangkuan. Lalu menoleh ke pemilik suara yang sekarang duduk di sampingnya.

“Mwo, sunbae?” tegur Seunhye. Orang yang ditegur menoleh. “Oh, kau.” Ujar Jinki, dia pun tidak menyadari kalau Seunhyelah yang duduk di sampingnya. Jinki membenahi letak kacamatanya yang melorot.

“Kau sering naik bus? Kenapa aku tidak pernah melihatmu?” tanya Jinki.

“Oh, itu, aku jarang pakai bus, biasanya naik motor, tapi motorku lagi rusak.” Jawab Seunhye seraya melemparkan senyum manis. Ia merasa Jinki mempunyai aura yang bagus, moodnya pun terbawa menjadi baik.

“Sunbae, mana mobil mewahmu kemarin? Kenapa ada mobil bagus malah memilih naik angkutan umum.” Seunhye bertanya spontan, mengungkapkan yang ada di pikirannya sambil tetap tersenyum. Namun sedetik kemudian setelah otak lemotnya memikirkan ulang apa yang baru terlontar dari mulutnya, senyumnya menghilang. Dalam hati gadis itu mengutuk dirinya sendiri dan pertanyaan bodohnya yang terdengar seperti cewek matrealistis.

“Hahaha, itu bukan mobilku, mobil ayahku.” Jinki menanggapinya dengan tawaan renyah.

“Oh geez! Aku baru menyadari kharismanya begitu kuat.” Batin Seunhye masih tetap memandang Jinki.

“Yah, kenapa melihat seperti itu?” tanya Jinki mengusik Seunhye.

“Uh-oh, anni, kacamatamu minus berapa?” jawab Seunhye sedikit gelagapan karena kepergok memandangi Jinki, begitu melihat kacamatanya, pertanyaan itu terlintas begitu saja.

“Eum, ini?” Jinki melepas kacamata berframe hitam dari wajahnya.

“Coba pakai.” Seunhye diam saja begitu Jinki memakaikan kacamatanya ke wajah Seunhye.

“Netral?” tanya Seunhye ragu setelah ia memakai kacamata itu tanpa ada perubahan berarti pada penglihatannya, juga sama sekali tidak membuat kepalanya pusing.

“Aku pakai kacamata supaya kelihatan seperti orang pintar.” Jinki menggaruk kepalanya perlahan, dan

“HAHAHAHA!” tawa Seunhye meledak begitu saja membuat seisi bus melihat ke arah mereka terganggu.

“Yah, kecilkan tawamu.” Ujar Jinki kemudian menoleh ke arah penumpang lain dengan mengangguk dan melemparkan tatapan minta maaf. Jinki beralih lagi pada Seunhye yang sudah mulai tenang, walaupun masih terkikik-kikik sendiri.

“Yah! Segitu lucunyakah? Jangan membuatku terlihat seperti orang bodoh.” Suara Jinki yang ingin menegur malah terdengar seperti rengekan bagi Seunhye, itu membuatnya ingin tertawa lagi.

Seunhye pun heran sendiri, moodnya jadi naik drastis pagi ini setelah mengobrol dengan Jinki.

Kebanyakan tertawa, Seunhye pun terbatuk, keselek air ludahnya sendiri.

“Uhuk..uhuk.” tangannya menggapa-gapai. Jinki dengan sigap membuka resleting tas ranselnya, memberikan Seunhye sebotol air mineral.

Seunhye menerima botol itu dan meminum airnya brutal.

“Dasar payah!” Jinki mengacak-acak rambut Seunhye saat ia minum dengan gemas, membuat gadis itu tersedak lagi, lebih parah. -__-

×××

Seunhye’s Pov

Aku melempar tasku dari ambang pintu, dan mendarat tidak mulus di mejaku, terpaksa aku mendatangi mejaku dan memungut tasku dari lantai, kemudian menggantungnya di pengait samping meja. Suasana sekolah masih sepi sekali, kulirik jam dinding di atas papan tulis.

Jam 06.35

“Pantas saja.” Gumamku.

Aku berjalan sesekali melompat ringan ke tangga. Awalnya aku mau ke perpustakaan, tapi aku teringat kalungku yang belum ketemu. Akhirnya aku kembali lagi ke tangga dan turun ke lantai dasar. Matahari tertutup awan, jadi suasananya agak mendung.

Dan aku hanya berharap mudah-mudahan hari ini tidak hujan, karena aku lupa bawa payung. Ketika sampai di koridor depan ruang kesehatan, baru saja aku mau masuk, seorang tiba-tiba menerobos keluar, hampir menabrakku.

“Jinae-ya? Tumben sudah datang, mana Jinhye?”  tanyaku begitu melihat bahwa siswa yang hampir menabrakku adalah Jinae.

Namun Jinae tidak menjawab, malahan kabur.

“Ckck, dasar, takut sekali kutagih hutangnya.” Gerutuku pelan.

Baru aku mau melangkah masuk, sesosok tubuh yang tinggi muncul dengan mengejutkan di hadapanku tergesa.

Aku bersumpah serapah saking kagetnya, baru saja mau mengumpat orang tersebut, tapi kuurungkan begitu melihat Cho Kyuhyunlah orangnya.

.:TBC:.

a.n: huahaha, part yang pendek, mianhe, besok terima rapor sih —-> apa hubungannya?

Yang masih bertanya-tanya kenapa Onew ngebabuk Kyuhyun, mungkin di part selanjutnya baru agak jelas, atau mungkin udah bisa nebak-nebak sendiri. Kekeke.

Comments are appreciated highly

Comments mean appreciate me highly

Comments = ❤ ❤ ❤

Mian kalo ada typo >__>

Sampai jumpa di part selanjutnya *lambai-lambai sapu ijuk* :D :D

Advertisements

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s