Loveless Part 1

Loveless

author: @seoeunkyung

Cast: Choi Seunhye, Cho Kyuhyun, Lee Jinki, Seo Jinae

Genre: Romance (selalu =.=)

Rating: SU

Hoaaa.. finally comeback for so damn long time not posting here..

Ff untuk @ekaafs yang ‘berbaik hati’ membuatkan saia ff  dengan akhir yang tragis.

gabisa ngedit foto -__-

Take a look.. ^^

Part 1

Ding dong ding dong..

“Peserta olimpiade sains Seoul harap berkumpul di ruang audio visual. Terima kasih atas perhatiannya.”

Suara milik seorang guru menggema dari speaker-speaker di ruang kelas, lorong-lorong dan segala penjuru sekolah.

Choi Seunhye, siswa kelas 10 A Chansik SHS, bersorak dalam hati karena pengumuman itu telah menyelamatkannya dari Kim Songsaenim yang berburu mencari mangsa untuk mengerjakan soal di papan tulis, yang dipastikan oleh anak berotak standar seperti Seunhye, ia hanya bisa menulis soal di papan tulis, kemudian memandangi soal itu begitu saja seraya mendengar perkataan-perkataan menjengkelkan Kim songsaenim. Ia membungkuk meminta izin pada songsaenim itu sambil tersenyum diam-diam. Sedangkan Kim songsaenim dengan tidak rela membiarkan murid “favoritnya” melewatkan soal mautnya.

Seunhye berjalan sambil bersenandung riang hingga sampai di depan ruangan dengan papan bertulis Audio Visual di atas pintunya, ia berhenti kemudian langsung masuk ke dalam ruangan yang pintunya memang dibiarkan terbuka. Beberapa gerombol siswa berkerumun  dan mengelompok sesuai bidang studi yang diikutinya untuk lomba.

Seunhye mengitarkan pandangannya ke sekitar, paling tidak ia jauh lebih beruntung berada di ruangan ini di tengah-tengah sunbae berotak cemerlang dari pada di kelas dengan guru super membosankan. Seunhye duduk sendirian di pojok meja ruangan ini. Dia tidak memiliki teman seperjuangan, karena dia kandidat perserta tunggal dari sekolah ini untuk mata pelajaran astronomi.

Jung songsaenim, guru kimia dengan perut tambun dan rambut yang menipis di bagian depan kepalanya masuk ke kelas dengan tampang yang tidak enak dilihat. Ia masuk bersama Han songsaenim. Guru dengan kenarsisan tingkat akut, hobi ber-selca sana sini.

Semua murid langsung mengubah posisi mereka menjadi duduk dengan manis. Pura-pura menyimak segala macam hal yang disampaikan oleh kedua guru tersebut.

Mereka semua dikumpulkan untuk diberi penjelasan, bisa dibilang semacam technical meeting untuk lomba yang akan mereka ikuti keesokan harinya. Seunhye terkadang menguap mendengarkan kicauan gurunya, sialnya di detik matanya akan terpejam, ia tersentak oleh panggilan Jung songsaenim.

“Ah.. nde?” ia mengubah sikapnya begitu semua orang di ruang itu mengalihkan perhatian pada dia karena panggilan Jung songsaenim tadi.

“Besok bisa bawa mobil ke sekolah?” Jung songsaenim mengulangi pertanyaanya pada gadis berkuncir ekor kuda itu.

“Eh? Kenapa bawa mobil? Kan pake bus sekolah?” jawab Seunhye.

Ia masih menjadi pusat perhatian, beberapa diantara siswa ada yang terkikik, Seunhye mengutuk dirinya dalam hati, menyadari kalau ia salah bicara. Ia memastikan kalau ada informasi yang terlewat olehnya karena ia memang tidak memperhatikan sejak awal.

Jung songsaenim menatap Seunhye garang seperti ingin menelan anak itu bulat-bulat

“Oh, ahahaha, iya bisa kok! Haha, songsaenim tenang saja. Haha ha ha ha” Seunhye menjawab dengan suara aneh yang dibuat-buat, setidaknya ia tidak membuat suasana hati Jung songsaenim yang sedang tidak baik karena menahan lapar belum makan siang menjadi lebih buruk lagi.

“Baiklah, jadi dengan Seunhye yang membawa mobil ada 10 siswa, Dongjun, Jihwan, Ahra, bla bla bla.”

“Shit, sejak kapan aku punya mobil?” umpat Seunhye pelan, namun seseorang hanya tersenyum geli mendengarnya.

×××

“Kyuhyun-ah, besok kau denganku saja.” Laki-laki dengan potongan rambut biasa, dan kacamata minus bertengger di wajahnya menepuk pundak seorang siswa laki-laki yang acuh dan tetap konsen ke game ponselnya.

“Yah! Kyuhyun!” usik laki-laki itu lagi karena yang dimaksud tak kunjung merespon.

“Hmm..”

“Aarh.. sudahlah.”

Seunhye menghampiri motornya bersama 2 orang temannya. Mereka berhenti tepat di tempat kendaraan roda 2 yang digunakan Seunhye ke sekolah terparkir.

“Dasar payah! Jadi bagaimana besok?”

Seunhye menoleh ke arah Jinhye. “Molla.” Jawabnya sambil memainkan gantungan kunci motornya.

“Sudahlah, itu kan tidak penting, yang penting kau fokus saja untuk lomba besok. Ayo pulang!” temannya yang lain gadis berkulit putih, yang sangat putih seperti susu dengan gaya sok bijaknya menasihati Seunhye.

“Cih, bilang saja ingin cepat pulang.” Seunhye melempar sebuah helm pada gadis berkulit putih itu, dengan refleks yang baik, gadis itu menangkapnya sambil menyengir lebar.

“Ah, aku sudah dijemput, sampai jumpa! Hati-hati di jalan!” pamit Jinhye sambil berlari mundur menjauh.

Sekolah semakin sore dan semakin sepi, pelataran parkir yang biasanya terisi penuh oleh kendaraan siswa terlihar lengang, hanya tinggal tersisa beberapa kendaraan. Seunhye baru saja memasang helmnya, namun seseorang menghampiri mereka berdua.

“Seunhye-ya, anak ini pulang denganku saja. Kau hati-hati di jalan ya, terimakasih mau direpotkan anak manja ini dari kemarin.” Jonghyun tanpa basa-basi menarik Hyesu kemudian melepas helm yang sudah terpasang dengan indahnya di kepala Hyesu dan menyerahkannya kembali pada Seunhye, tanpa jawaban dari Seunhye kakak kelas mereka yang berimage bad oppa itu menyeret Hyesu dan mengabaikan penolakan dari Hyesu sendiri. Seunhye mendengus melihat pasangan yang 2 hari belakangan sedang bertengkar karena anime. Tak perlu dijelaskan secara rinci, karena sangat tidak penting dan bermutu.

Seunhye memasangkan helm yang tidak jadi dipakai Hyesu ke pengait di motor skuter matiknya.  Ia naik ke  tempat duduk, menyalakan mesin motor, motor baru dimundurkan beberapa meter, Hyesu kemudian turun, ia berjongkok memeriksa ban motor belakang.

Kemudian berdiri lagi sambil berkacak pinggang.

“Arrrrh.” Erangnya frustasi.

“Aish! Eottokhae?”

“Aaaaa..”

Duagh duagh duagh

3 kali, ban naas itu 3 kali harus menerima tendangan bertubi-tubi Seunhye. Dengan kasar ia melepas sebelah tali tas ranselnya, tangannya mengaduk-aduk isi tas itu hingga benda kecil itu ditemukannya. Ia menekan tombol keypad ponselnya menginput sejumlah digit nomor telepon rumahnya.

“Tuut..tuut..” telpon sudah tersambung, namun tidak ada jawaban.

“Ah, yobose..” ucapannya terputus begitu mendengar sesuatu dari seberang telepon dan Seunhye langsung menekan tombol batal di ponselnya brutal.

Ia berusaha menelpon orang lain, sebelah tangannya memegang ponsel dan sebelah lagi menggantung di pinggangnya menunggu jawaban dengan tidak sabar.

“Yobboseyo eomma banku kempes otte? ..Di sekolah ..Yah yah! Eomma! ..yobboseyo?”

Seunhye menjauhkan ponselnya dari telinga melihat layar ponselnya. Sambungan telepon sudah terputus. Ia menutup flip ponsel pasrah dan menjejalkannya kembali ke dalam tas. Ia menatap lagi motor itu dengan dendam. Sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan motor itu. Seunhye melirik jam tangannya dan mulai berjalan menjauhi motornya. Namun belum sampai berapa langkah, ia kembali lagi ke motor itu. Menimang-nimang sebelum akhirnya terpaksa mendorong motor itu, ia hendak memindahkannya ke koridor utama sekolah, setidaknya ia masih memikirkan nasib motor itu bila hujan turun nanti. Baru bergerak berapa meter saja keringat sudah mengalir di pelipisnya, di usapkan punggung tangannya menghapus bulir keringat itu, kemudian ia kembali mendorong motor itu. Masih ada seorang siswa di pelataran parkir, duduk di atas motornya, Seunhye melihati siswa laki-laki bernama Kyuhyun tersebut. Cho Kyuhyun, bagi Seunhye adalah satu dari satu-satunya siswa di Chansik yang menjadi incaran Seunhye sejak hari pertama ia masuk di sekolah itu. Namun sama sekali tidak ada celah baginya untuk mendekati kakak kelas tersayangnya itu.

Kyuhyun terlalu cuek, meskipun tidak dingin, tapi dia tipe yang harus benar-benar merasa terganggu baru diacuhkan olehnya. Sementara Seunhye tipe gadis “Shy-shy cat” yang maunya no pain, much gain. Anak satu itu selalu mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi, alias irasional.

“Yah! Kau!” panggilan itu menghentikan Seunhye, membuatnya berbalik ke sumber suara. Ia, seunhye mendapati seorang laki-laki tampan berseragam sama  sepertinya namun sudah berantakan dan acak-acakan, baju keluar sana sini, dasi dipasang longgar, jas sekolah juga tidak dipakai.

“Ada apa?” jawab Seunhye dengan sikap stay cool, padahal hatinya sudah melambung tinggi mendapati kakak kelasnya secara khusus mendatanginya.

“Kenapa motormu?” tanya si laki-laki itu menunjuk motor merah muda milik Seunhye dengan kepalanya.

“Bannya kempes!” jawab Seunhye lagi

Kyuhyun mendekati motor Seunhye, atau tepatnya mendekati Seunhye. Saat itu Seunhye sedang memegang kedua stang motornya dengan kedua tangannya, dan Kyuhyun sekarang tengah berdiri sangat dekat di belakang  Seunhye. Saking dekatnya, hembusan nafas milik Kyuhyun terasa di belakang telinga Seunhye, gadis itu merinding dan di detik selanjutnya Kyuhyun sudah meletakkan tangannya di atas stang motor, otomatis tangan Seunhye sekarang menempel dengan tangan milik Kyuhyun. Cepat-cepat Seunhye menarik tangannya, ia melirik ke arah Kyuhyun yang menyunggingkan senyum penuh artinya.

“Ayo, kuantar pulang.” Setelah itu motor didorong oleh Kyuhyun dan Seunhye hanya bisa terbengong memandang motor yang dibeli dari uang bonus ayahnya itu didorong Kyuhyun.

“SOWANEUL MARHEBWA.. I’M GENNIE FOR UR DREAM..”

Ringtone ponsel milik Seunhye yang menandakan panggilan masuk sukses menghempaskan Seunhye kembali ke dunia nyata.

“Yobosseyo?” jawab Seunhye seketika flip ponsel terbuka.

“Seunnie, motornya kau tinggal di sekolah saja, tidak usah dibawa.”

 

Suara cempreng sang eomma terdengar setelah tadi memutuskan telepon secara sepihak. Tanpa dibilang pun, Seunhye tidak mau susah-susah merepotkan diri mendorong motor sial itu sampai rumah.

 

“Nde.” (¬.¬) jawab Seunhye akhirnya. Dan kemudian telepon dimatikan lagi.  Seunhye rupanya masih ada di pelataran parkir, dan ia berhenti ,mendorong motor karena melamun. Ia melihat ke arah dimana Kyuhyun tadi duduk di atas motornya. Namun sudah tidak ada siapa-siapa di sana, baik Kyuhyun maupun motor bututnya.

×××

“Cip.. cip..” Seunhye berdecak pelan, pertanda ia telah bangun dari hibernasinya semalaman. Ia berguling ke kanan, memeluk gulingnya, hendak melanjutkan tidur. Namun sedetik kemudian, ia tersentak, mengingat sesuatu. Tanpa babibu ia bangkit dari tempat tidur, kamarnya masih gelap dengan gorden yang masih menutupi jendela dengan sempurna. Seunhye menekan tombol saklar di samping pintu yang sudah sangat ia hafal letaknya. Lampu terang benderang menerangi setiap sudut kamar, dan jam dinding yang tergantung damai di kamarnya.

“Jam sembilan. Mati aku.” Kalang kabut Seunhye keluar kamar, menyambar handuk yang tidak diketahuinya milik siapa lalu masuk ke kamar mandi. 3 menit kemudian ia keluar menerobos di sisi eommanya yang tengah mondar-mandir dari dapur.

“Tumben rajin, hari Minggu jam segini sudah bangun.” Teriak eomma dari dapur, sementara Seunhye walaupun dengan jelas mendengar suara itu, tetap tidak menggubris. Ia sibuk dengan seragam kancing-kancing kemeja putih, dasi yang digigit juga kaus kaki dan sisir sekaligus, dalam waktu bersamaan. Dengan penampilan yang dipaksakan rapi dalam waktu 3 menit, ia keluar dari kamar menuju dapur.

“Eomma, aku pergi!” ujar Seunhye, kemudian dengan cepat memutar arah keluar rumah.

Ia memasang sepatu dengan kilat dan berlari keluar rumah, tidak mendapati benda pink yang ia cari, barulah Seunhye teringat akan motornya yang kempes kemarin dan masih berada di sekolah.

Tanpa berpikir 2 kali ia berlari keluar rumah, dan untungnya begitu sampai halte di jalan raya, sebuah bus baru berhenti tepat di depannya.
Seunhye berulang kali bolak-balik memasukkan ponselnya ke saku jas sekolah untuk melihat jam, ia sudah terlambat hampir setengah jam.

Bus sudah mendekat ke pemberhentian Chansik, namun belum benar-benar berhenti, dan Seunhye sudah bersiap-siap keluar. Dengan sangat tergesa ia berlari memasuki kawasan sekolah yang terlihat sepi.

Saat melintasi jalan sekolah, Seunhye yang tidak menemukan tanda-tanda kehidupan di sana semakin was-was.

“Yang benar saja, masa aku ditinggal.” Teriaknya frustasi di tengah jalan itu. Dan, kenyataannya anak itu memang ditinggal.

“SOWANEUL MARHEBWA..”

“Yobo..sseyo?” Seunhhye mengangkat telpon agak ngos-ngosan akibat lari-larian dari halte ke sekolah ini.

“Mianhada.. Anni.. Nde, arasseo.” Hanya  itu yang diucapkan Seunhye selama panggilan. Dengan lega Seunhye berjalan ke gerbang, Han songsaenim lah yang menelponnya tadi. Seunhye memang ditinggal karena tidak mungkin rombongan lomba menunggunya lebih lama lagi, dan Han songsaneim menyuruh seseorang untuk menjemput Seunhye ke tempat lomba Sajum High School.

Dan begitu ia berdiri di depan gerbang, Sebuah mobil sport yang entah datang dari mana tiba-tiba memutar dan mengerem mendadak beberapa meter di depan Seunhye hingga bunyi decitan bannya dengan jalan terdengar. Baru saja detak jantung Seunhye normal setelah lari-larian, kini jantung itu harus berpacu lagi karena terkejutnya Seunhye yang merasa seperti ingin ditabrak oleh mobil hitam itu.

Baru saja mau mengumpat memarahi sang pengemudi, seseorang berkacamata keluar dari mobil, terpaksa Seunhye menggagalkan niatnya setelah melihat seragam yang dikenakan orang itu.

“Choi Seunhye?” tanya orang itu, wajahnya cukup familiar bagi Seunhye.

“De.” Ujarku singkat seraya mengangguk.

“Masuklah!”  laki-laki itu mengendikkan kepalanya ke mobil, menyuruh Seunhye untuk masuk ke mobilnya.

Dengan agak canggung Seunhye membuka pintu untuk jok di samping kemudi dan langsung duduk sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas sejenak ia merasa agak ganjal dengan permukaan jok yang ia tempati dan ruang itu menjadi sempit.

“Nona, kau mendudukiku!” sebuah suara terdengar sangat dekat mengejutkan Seunhye, sontak ia menoleh.

Glek. Seunhye menelan ludahnya mendapati wajahnya terlalu dekat dengan wajah milik seseorang dan melompat dari pangkuan orang yang didukinya dengan muka pucat saking terkejutnya.

Jinki yang melihat itu tidak bisa menahan tawanya melihat tampang kesal Kyuhyun.

Sekarang jantung Seunhye bekerja jauh lebih ekstra, lebih cepat daripada saat lari-larian tadi, juga saat ia merasa hampir tertabarak tadi. Ia bahkan lupa untuk berbasa-basi meminta maaf karena sampai saat ini ia masih sedikit disorientasi, hingga Jinki, sunbae berkacamata itu memintanya untuk cepat masuk ke dalam mobil.

Disinilah Seunhye sekarang, ia hanya berjarak tidak sampai setengah meter dari kakak kelas bernama Cho Kyuhyun yang menjadi incarannya sejak tahun ajaran baru dan dalam mobil yang sedang melaju gila-gilaan di jalanan ibu kota Korea Selatan.

Seunhye bahkan tidak berani melihat spidometer mobil itu. Sementara Cho Kyuhyun duduk anteng di jok samping kemudi mengutak-atik ponselnya.

“Kau kelas 10 apa?” tanya Jinki masih sempatnya berbasa-basi di tengah aksi kebut-kebutannya pada Seunhye.

“Eh, aku kelas 10 A sunbae.” Jawab Seunhye.

Sedari tadi ia berusaha mencuri pandang ke arah makhluk yang duduk di jok samping kemudi.

Setelahnya, tidak ada pembicaraan di antara ke-3 orang itu  karena masing-masingmemikirkan hal lain hingga mereka sampai di tempat tujuan.

Ketika mereka sampai, baru saja Jung songsaenim ingin melampiaskan marah-marahnya pada Seunhye yang merepotkan banyak orang, namun bunyi speaker menggema di sekolah itu, mengumumkan agar peserta lomba memasuki ruangan masing-masing.

Lomba pun telah berlangsung. Seunhye keluar dari ruangannya dan melihat-lihat ke sekitar, ia berjalan menuju tempat terbuka, taman Sajum High, sekolah ini memang elit, siswanya rata-rata anak pengusaha sukses ataupun pejabat pemerintahan siswa dengan berbagai macam seragam berlalu lalang. Pandangannya menangkap sesosok  laki-laki yang tengah dikelilingi siswi dari sekolah lain , sejenak ia teringat kalau tadi itu ia baru saja naik, dan diantar dengan salah satu the most wanted guy di sekolahnya.

Ia mengamati Jinki sunbae dari jauh.

“Tampan sih, tapi bukan tipeku.” Gumamnya pelan. Lalu ia mengedarkan pandangannya lagi hingga berhenti pada sebuah fokus. Laki-laki yang duduk di pinggiran air mancur, telinganya tersumpal headset sebelah tangannya memegang sebungkus roti, dan tangannya yang bebas memainkan air di kolam air mancur itu. Ia memasukkan roti itu dengan gigitan yang besar-besar hingga mulutnya menggembung.

“Itu baru tipeku.”  Gumam Seunhye lagi tanpa sadar.

“Siapa?” sebuah suara datang tiba-tiba tepat di samping Seunhye. Seunhye terlonjak sedikit. Mendengus kecil.

“Bisakah kau datang dengan cara yang normal saja?” sungut Seunhye pada seorang gadis bernama Seo Jinae yang sekarang hanya cengangas cengenges.

Seo Jinae, gadis satu ini memiliki kembaran bernama Seo Jinhye, namun Seunhye memang berteman lebih dekat dengan Jinhye.

Beberapa saat Jinae belum beranjak dari samping Seunhye, dan Seunhye sudah merasa sesuatu yang bukan hal baik akan menimpanya.

“Apa senyum-senyum begitu?” semprot Seunhye.

“Pinjam uang!” jawab Jinae tanpa basa-basi.

“Aish kau, kenapa selalu hutang padaku, minta dengan yang lain saja.” Tolakku seraya berjalan mendahuluinya.

“Seunhye-ya, aku tidak terlalu kenal dengan yang lain, tidak enak kan tiba-tiba pinjam uang begitu saja.” Jinae tidak menyerah, ia kembali mengekori Seunhye.

“Cih, kenapa harus merasa tidak enak, kau masih punya malu rupanya?” sindir Seunhye sinis.

“Iss, jahat seka..”

“Bruk” belum selesai Jinae bicara, suara bruk terdengar cukup keras. Anak itu sudah terduduk di semen sambil mengaduh.

“Jinae-ya! Kenapa sih kau selalu jatuh?” heran Seunhye sama sekali belum berniat membantunya berdiri.

“Waktu aku lahir kakiku keluar duluan.” Jawab Jinae singkat tidak nyambung, tidak ada hubungannya seraya mengulurkan kedua tangannya ke arah Seunhye, persis seperti bayi yang minta digendong eommanya.

Saat Seunhye baru mau melangkah kembali ke tempat Jinae jatuh, seorang mendahuluinya, menarik tangan Jinae hingga berdiri.

Seunhye terpaku seketika melihat bagaimana Kyuhyun menggenggam tangan Jinae.

“Kamsahamnida.” Ujar Jinae langsung sambil menepuk-nepuk rok sekolahnya dari pasir yang menempel.

“Nde.” Jawab Kyuhyun singkat dengan senyum simpul dan dia meninggalkan tempat itu dengan ditatap Seunhye.

Jinae berjalan ke tempat Seunhye, beruntung kali ini ia tidak mendapat luka karena terjatuh barusan.

“Yah! Kenapa kau bengong? Jadi pinjamkan aku uang tidak?” Jinae mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Jinae. Membuat perhatian gadis itu teralih pada Jinae.

“Eh, uhm, ini cukup?” tanya Seunhye saat menyerahkan uangnya pada Jinae.

“Seunhye-ya, aku Cuma mau beli roti sebungkus bukan 10 bungkus.”

“Ah, nde, ini.” Seunhye memasukkan uangnya yang berusan ditolak Jinae dan menyodorkan kembali selembar uang 1000 won pada Jinae.

“Ahahaha, gomawo.” Jinae merampas uang itu dari tangan Seunhye. Ia memutar meninggalkan Seunhye ke arah yang berlawanan.

Seunhye masih bisa melihat punggung Kyuhyun dari tempatnya berdiri sebelum kemudian ia dipanggil oleh Jung songsaenim untuk berkumpul.

×××

“Kyuhyun!” suara itu memanggil nama laki-laki yang tengah asyik memainkan ponselnya.

“Cho Kyuhyun!” kali ini panggilannya lebih keras, lebih terdengar seperti bentakan, mau tidak mau Kyuhyun mendongakkan kepalanya. Kang songsaenim, guru bahasa Korea itu sudah mendelik menatap Kyuhyun sementara Kyuhyun membalas tatapan itu dengan muka mengantuknya.

“Ini sudah ke 5 kali dalam bulan ini aku menegurmu, apa tidak cukup nilai semester lalu kau kuberi nilai 4?” emosi guru itu sudah memuncak, matanya melotot marah merasa seorang murid tidak menghargainya dan lebih memilih bermain game.

“Mianhada songsaenim.” Balas Kyuhyun dan belum disuruh pun oleh Kang songsaenim, ia berdiri berjalan keluar kelas.

“Tunggu.” Cegah songsaenim saat Kyuhyun baru sampai di ambang pintu. Kyuhyun menoleh pada guru berumur kepala 4 itu.

Kang songsaenim berjalan mendekati Kyuhyun. “Ponselmu!” pinta songsaenim dan menengadahkan tangannya ke depan Kyuhyun.

Padahal Kyuhyun tengah mengumpat merutuki guru di depannya ini namun ia tetap menyerahkan iPhonenya, pada sang guru. Bukan kali pertama ini terjadi. Setelah ponsel itu berpindah tangan songsaenim itu tersenyum licik.

“Kau tahu prosedurnya kan?”

Tanpa menjawab Kyuhyun mengangguk sedikit kemudian benar-benar keluar kelas. iPhone keduanya yang diserahkan pada Kang songsaenim.

Ponselnya yang dulu juga disita oleh Kang songsaenim, dan hanya boleh diambil jika orang tua Kyuhyun yang mengambil. Namun bukannya memberi tahu pada eomma atau appanya, Kyuhyun malah membeli ponsel lagi yang sama. Kang songsaenim yang gondok melihat tingkah Kyuhyun menelpon orang tua Kyuhyun dan jadilah anak itu bulan-bulanan kedua orang tuanya. Kyuhyun tidak menjawab apa-apa saat motor sportnya diambil dan digantikan dengan motor butut milik ayahnya saat muda dulu.

Kyuhyun berjalan melewati lorong-lorong kelas sambik menerka-nerka hukuman apa yang akan diberikan orang tuannya nanti jika Kang songsaenim mengadu pada appa atau eommanya. Atau mungkin saja nilai Bahasa Koreanya di rapor kali ini mendapat nilai 0.

Ia berjalan menuju lapangan basket indoor, dan menemukan lapangannya sedang tidak kosong. Sejumlah siswi yang ia kira masih kelas 10 berseragam olah raga tengah berlatih menge-shoot bola basket ke keranjang. Kyuhyun hendak melangkah keluar lagi karena sepertinya ia tidak bisa menggunakan lapangan basket itu. Sejenak ia ingin melangkah, namun diurungkannya.

Ia malah menaiki tribun penonton dan menyaksikan siswi-siswi itu.

Jang songsaenim datang dan langsung mengatur para siswi membentuk barisan beberapa bersap, suara Jang songsaenim yang kecil tidak begitu tersdengar oleh Kyuhyun yang duduk di deretan tribun ke-2 dari puncak. Tapi dari apa yang mereka lakukan Kyuhyun tahu kalau siswi itu akan bertanding. Kyuhyun menselonjorkan kakinya ke atas tempat duduk tribun di bawahnya, kedua tangannya menopang di samping, ia terlihat mulai menikmati permainan acak kadul yang bru dimulai itu. Sebentar ia terkikik sendiri karena permainan basket ini malah terlihat seperti football, dimana ada bola, di situ para pemain berkerumun. Dan ia tidak dapat menahan tawanya saat seorang siswi yang dioper bola bukannya menangkap malah menutup matanya, alhasil siswi itu kini terjatuh dengan mendapat cap bola di wajahnya.

Mendengar tawaan Kyuhyun yang sangat terbahak-bahak membahana di seluruh gedung, beberapa siswi di sana sontak menoleh ke arah Kyuhyun.

“Yah! Seunhye pingsan!” seorang siswi berteriak, dan seketika siswi yang lain mengerumuni siswi yang pingsan yang tak lain adalah Seunhye. Dan kebetulan Jang songsaenim sedang meninggalkan mereka untuk melihat siswa laki-laki yang sedang bermain di lapangan sepak bola.

“Yah! Sunbae! Kenapa kau diam saja! Cepat bantu kami!” ujar seorang siswi, Jinae pada Kyuhyun yang masih duduk anteng di kursi tribun.

Dimintai tolong begitu serta dilempari tatapan –Dasar-tidak-punya-perasaan- mau tidak mau Kyuhyun bangkit dengan malas, ia melompati kursi tribun dan turun ke lapangan. Siswi yang lain menyingkir, memberi celah untuk Kyuhyun mendekati Seunhye.

Melihat hidung gadis yang pingsan itu dipenuhi darah yang sedang dilap temannya, Kyuhyun langsung mengambil alih tubuh Seunhye dan meraihnya dalam gendongannya. Saat Kyuhyun menggendong pun hidung Seunhye yang tepat terkena bola masih mengeluarkan darah, mengotori kemeja putih Kyuhyun yang tanpa dilapisi jas sekolah.

Mereka sampai di ruang kesehatan, begitu Seunhye dibaringkan di atas kasur, dokter jaga mulai memeriksanya dan Kyuhyun keluar dari ruangan itu.

Saat berada di koridor depan ruang kesehatan, nada Fur Elise melantun singkat dari speaker, pertanda jam sekolah telah usai. Dengan kurang kerjaan Kyuhyun berjalan jalan memutar hingga perpustakaan, dan kembali lagi hingga ke ruang kelasnya, dan ia tak mendapati seorang pun di ruangan itu, termasuk tas dan jas sekolah yang tadi ia tinggla. Kyuhyun hendak keluar kelas lagi, namun ia menyadari ada bekas noda darah di kemejanya namun sesuatu berkilau lebih menarik perhatiannya, benda itu tersangkut di kancing kemeja.

“Kyuhyun-ah!” Seseorang memanggil nama Kyuhyun kemudian menghampirinya.

“Yah! Berkeliaran dimana kau dari tadi? Kau dipanggil Kang songsaenim.” Jinki datang tergopoh-gopoh dengan tangan yang penuh dengan tas dan jas sekolah yang Kyunhyun cari.

Kyuhyun menerimanya. “Ck, mau apa lagi sih dia?” rutuk Kyuhyun.

“Mana kutahu.” Balas Jinki. Mereka berdua berjalan beriringan di lorong itu, namun saat Kyuhyun hendak berbelok Jinki menahannya.

“Bugh!” sebuah tinju melayang dengan mulus ke wajah Kyuhyun. Kyuhyun oleng dan termundur beberapa langkah.

“Yah! Apa-apa..”  belum selesai ia bicara, “Bugh.” Jinki menghadiahinya lagi tonjokan di pipi kirinya. Bau anyir darah menyeruak ke hidung Kyuhyun.

Kyuhyun ambruk ke lantai dengan bibir dan hidung yang berdarah. Jinki menarik kerah Kyuhyun.

“Tutup mulutmu! Kau pasti tahu alasanku.” Suara sinis Jinki lebih menekan pada kata ‘pasti’ kemudian ia menghempas tubuh Kyuhyun ke lantai dan melangkah meninggalkannya.

.:TBC:.

 

Kay, ini ff malah kayak cerita sinetron remaja, teenlit teenlit, romance gak jelas atau apalah.. -__-

Mianhae ffnya jelek, dan cenderung pasaran daya kapasitas saia cuman segini doang. (=.=”)

Akhir kata saya ucapkan, KOMENT WOI!!! #plak #duagh #dorr

Advertisements

3 thoughts on “Loveless Part 1

  1. Pingback: Loveless Part 2 | Seo Eunkyung's Blog

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s