The Origami Confession

Cast: Lee Jinki, Seo Jinae

Other: Kim Kibum, Seo Eunkyung

Genre: Dunno :mrgreen:

Length: Oneshot

Rating: T

Me: Hello!!! *waves* Anyone miss me?

Reader: Who are u?

Me: Who am I ? I’m Spiderwoman

Wkawkawkawka.. Ngaco..

Ooo iya, kalau ada “  * * *  ” berarti ganti point of view, point of viewnya cuma dua, dari Jinae sama Jinki. Mudah-mudahan nggak bingung. Hihihi..

Selamat membaca!!

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima puluh menit. Dan seharusnya acara ini sudah dimulai 20 menit yang lalu. Aku mondar-mandir memanggil panitia yang lain. “Mana pembawa acaranya? Kenapa belum datang?” tanyaku dengan nada yang bisa disebut marah.

“Sudah kuhubungi, tapi ponselnya tak diangkat.” Ujar salah seorang panitia itu pasrah sambil terus menekan-nekan layar ponselnya untuk menghubungi pembawa acara kami. Aku melirik jam dengan harap-harap cemas. Hingga seorang laki-laki dengan hoodie merah muda mendatangiku.

“Sorry Jinki-ya, aku terlambat! Aku seben

arnya sudah ragu untuk memakai sepatu yang kupakai sebelum sepatu yang ini karena kurang matching, jadi aku memutar arah kembali ke rumah.” Jelas Key panjang lebar dan rasanya saat itu juga aku ingin menelannya bulat-bulat.

“Tak ada waktu untuk memarahimu, cepat naik ke panggung!” dengan banyak gaya dia jalan ke atas panggung mengambil mikrofon  dan mengambil alih jalannya acara hari ini. Anak itu benar-benar!

“Sunbae, band yang pertama tidak bisa tampil pada waktunya, salah seorang personilnya belum datang.”  Baru saja aku mau duduk, seseorang mendatangiku.

“Kau alihkan saja, hubungi band yang tampil selanjutnya supaya bisa bersiap lebih dulu.”  Jawabku.

“Oh, arraseo!” aku berusaha mencari tempat duduk di belakang panggung. Namun, sekali lagi, salah seorang panitia memanggilku.

“Sunbae! Gawat!Adamasalah di bagian konsumsi. Aku baru dihubungi catering yang kita pakai, ada selisih jumlah pemesanan. Kita memesan untuk 500 porsi, namun mereka mencatat hanya 300 porsi, dan yang disiapkan pun hanya 300 porsi?” ujar anak itu panik. “Astaga, kenapa bisa? Siapa penanggung jawab seksi konsumsi?” tanyaku.

“Aku!” jawabnya dengan suara yang agak pelan plus mimik muka bersalahnya

“Apa tidak bisa ditambah lagi pesanannya?” tanyaku.

“Aku sudah berinisiatif untuk memesan lagi, tapi catering yang bersangkutan tidak sanggup memenuhinya, mereka juga mendapat order untuk acara besar.” Ujar anak itu frustasi.

“Ya! Kau!” panggilku pada salah seorang yang pasti juga termasuk panitia.

“Kau, tolong gantikan aku untuk kata sambutan, aku harus pergi dengan anak ini sebentar” perintahku.

Tanpa menunggu jawaban, aku beranjak darisanake pelataran parkir. Anak yang merupakan seksi konsumsi itu secara otomatis mengikutiku masuk ke mobil. Mobil membawa kami ke jalanankotaSeouldi pagi itu. Pertama kami menuju catering yang sudah kami order, namun mereka memang tidak bisa mendapat pesanan tambahan apalagi sebanyak 200 porsi dalam waktu yang sangat singkat. Aku meninggalkan anak tadi disanauntuk mengurusi makanan yang sudah dipesan. Kemudian aku langsung menuju entah kemana. Aku mencari-cari restaurant di sepanjang jalan, kebanyakan jam sekarang ini masih tutup semua. “Oh, ayolah!”

Mobil ini hanya berputar-putar saja.

“Ckiit..”

“Tiiiiin!”

* * *

“Halo Seo Jin Ae! Mana coklat untukku?”

“Kau siapa ya?”

“Mati saja kau!”

“Bercanda. Ini.” Aku menyerahkan sebuah bungkusan kecil pada Eunkyung.

“Hei! Ini bentuk kucing ya?” tanyanya setelah mengoyak plastik coklat handmade ku dengan brutal. “Kau itu buta atau apa? Mana ada kucing telinganya panjang seperti itu!” jawabku sewot.

“Oh, jadi ini anjing.” Ia manggut-manggut.

“Aarh.. sudahlah!” aku meninggalkannya.

“Ya! Mau kemana?”

“Ke surga, mau ikut?” tawarku.

“Ah, tidak terima kasih! Kasihan Minho kalau aku mati sekarang. Kalau kau matikantak ada yang akan merasa kehilangan dirimu.” Ujarnya setengah teriak, dan saat itu tatapan siswa lain mengarah padaku. Aku benar-benar meninggalkan teman yang sebenarnya sama sekali tak bisa disebut sebagai teman yang tak tahu diri yang bernama Seo Eunkyung itu. Kenapa aku mau berteman dengannya sih?

Aku berjalan-jalan di sekitar lingkungan sekolah. Mengunjungi satand 1 ke stand lain. Melihat-lihat barang-barang yang dijual. Aku mengangkat sebuah gantungan kunci tokoh anime bleach. Mengamati barang itu lekat-lekat. Hingga pemilik stand dengan ramahnya bertanya apa aku ingin beli atau tidak. Tentu saja kujawab tidak. Aku bahkan tak punya selembar uang pun di kantongku. Aku meninggalkan stand tersebut dengan pasti membuat kesal si penjual. Hahaha. Aku beralih ke stand makanan. Bermacam-macam kue dan jajanan ringan di sana. Hah. Gimbap, Ddeokbokki, Tteok.

“Ya! Jangan hanya dilihat, ayo dibeli!” usik si penjual.

“Galak sekali! Aku juga ingin beli kalau punya uang.”

“Hah, ya sudah minggir, kau menghalangi pembeli yang lain!” bentaknya.

“Kudoakan tak ada yang akan membeli daganganmu!” teriakku sambil kabur.

“Ya! Jin Ae-ya! Caabut perkataanmu! Ya!” si penjual kue yang juga teman sekelasku berteriak dari belakang tapi tak kuhiraukan. Aku masuk ke dalam hall sekolah. Sedang ada pertunjukan drama Romeo dan Juliette versi parodi. Semua orang tertawa terbahak-bahak saat sang Romeo yang mengira ayahnya adalah Juliette, dan bahkan hampir menciumnya. Entah di bagian mana yang lucu, aku sendiri tak tahu, hingga mereka bisa terbahak-bahak seperti itu. Aku keluar dari hall berjalan-jalan lagi mengelilingi sekolah ini.

Awalnya aku mau ke ruang kesehatan, untuk melanjutkan tidurku yang tertunda., tapi mau bagaimana, semua ranjang penuh oleh siswa lain yang sudah mendahuluiku dan melayang ke alam mimpi masing-masing. Ujung-ujungnya, aku pergi ke tempat favorit menurut orang kutu buku –yang-pasti-bukan-aku-. Perpustakaan sangat lengang. Hanya ada seorang staff yang memang bertugas perpustakaan di depan mejanya, itupun dia juga sedang tidur. Payah sekali! Aku mengambil tempat di samping jendela supaya terkena angin dari luar. Dari lantai 2 ini, bisa mengamati keadaan di bawah, yaitu orang-orang lalu lalang di dekat lapangan mengunjungi stand-stand yang ada. Awalnya, aku mau tidur. Tapi leherku malah jadi kaku waktu aku menelungkupkan kepalaku ke meja. Bosan sekali. Kemudian aku melihat buku pengisi pengunjung perpustakaan di meja petugas perpustakaan yang sedang tidur itu. Pelan-pelan aku mengambil bukunya, merobek hampir ¼ kertas di buku itu dan membawa kertas-kertas itu dengan sukses keluar. Aku naik ke atap, angin bertiup sangat kencang, mungkin karena sekarang sedang mendung. Aku mengeluarkan kertas-kertas tadi, merobeknya menjadi 2 bagian, dan aku mulai berorigami. Kelihatan bodoh dan sangat membosankan, tapi sebenarnya ini jauh lebih menyenangkan dari pada membaca novel sastra setebal 3cm.

* * *

Aku mengerem mendadak hingga mobil di belakangku mengklakson panjang. Aku berbelok menepikan mobilku di depan sebuah bangunan. Restaurant ayam goreng langgananku ternyata sudah buka. Aku yang sudah kenal baik dengan semua pegawai, mulai dari waitress sampai kokinya langsung menuju dapur dan memesan 200 porsi makanan pada sang koki. Kukira aku sudah bisa berlega, namun ternyata tidak sma sekali. Restaurant itu hanya dapat menyanggupi setengah dari 200 porsi saja dalam waktu kurang lebih 2 jam. Mau bagaimana lagi, aku tetap menyanggupinya dan cepat-cepat pergi dari tempat itu, untuk mencari restaurant lainnya. Tak lama setelahnya, aku mendapati restaurant makanan khaskoreayang baru saja buka. Dengan cepat, aku melalukan pemesanan dan transaksi. Oke, mereka bersedia, tapi tidak bisa mengantar semua pesanan makanan karena mobil operasionalnya sedang rusak. Mau tidak mau aku harus rela menghabiskan waktu 2 jam ke depan untuk duduk dan bengong di restaurant ini. Kalau aku pulang lagi, bisa saja kena macet. Aish melelahkan sekali.

* * *

“Yak, songsaenim dan teman-teman semuanya, mungkin di hari kasih sayang ini di sekolah kita akan bertambah lagi pasangan-pasangan baru, mohon kerjasama dari songsaenim kalau nanti di minggu pertama setelah valentine ini akan terjadi penurunan nilai dan minat belajar siswa karena memilih untuk jalan dengan pacar masing-masing dari pada duduk diam di depan meja setumpuk PR dan tugas, untuk itu diperlukan pengertian dari songsaenim untuk paling tidak mengurangi jumlah tugas yang diberikan daripada mubazir tidak dikerjakan.”

Suara norak yang kuyakini 100% pemiliknya bernama Kim Kibum dengan nama (sok) kerennya Key alias kunci yang sekali lagi dengan naasnya aku harus mengakui bahwa anak itu adalah sepupuku itu menggema dari dalam hall. Dari sini pun aku tahu bahwa hall itu sudah jadi tidak karuan dengan teriakan-teriakan yang sampai di sini terdengar seperti teriakan suporter fanatik FC Seoul. Origami burung yang kubuat sudah menumpuk di samping tempatku duduk, kertasnya juga sudah habis, tapi, jam makan siang sepertinya masih lama.

Perutku sudah menyanyi tidak jelas. Aish apa aku harus menggoda seorang siswa untuk mentraktirku makan? Atau mengemis? Karena kalau aku hutang dengan reputasiku yang baik sebagai penunggak hutang, aku tidak akan mendapat pinjaman sama sekali. Baiklah, sebaiknya aku tidur, karena tdak ada obat penunda lapar yang gratis selain tidur

* * *

“Apa kubilang, macetkan!” gerutuku sambil memukul stir dengan kesal. “Yobo, aku terjebak macet.. Ne, masih 100 porsi lagi di sini.. Ya sudah, yang ada dulu saja, panitia jangan makan dulu.. Ne.”

Bau makanan memenuhi mobil ini, aku lapar! Hah. Ngomong-ngomong makanan, aku teringat sesuatu! Aku menoleh ke belakang mencari-cari sesuatu berbentuk kotak. Aku tak bisa menemukan benda itu di jok belakang, dan mobil di belakang terlanjur mengklakson menyuruh aku menjalankan mobil ini karena mobil di depanku sudah maju beberapa meter meyiskn jarak yang cukup jauh dari mobilku. Setelah itu aku berbalik lagi ke belakng dan barulah benda yang tadinya berbentuk kotak itu kutemukan tertimpa panci berisi lauk di lantai mobil dengan bentuk yang sudah tidak kotak lagi. Cepat-cepat kupegang panci itu berniat untuk mengangkatnya, tapi sedetik kemudian, ku tarik lagi tanganku sambil mengumpat. Aku mengambil sapu tangan dari saku celanaku menghiraukan suara klakson dari belakang, dengan melapisi tanganku dengan sapu tangan, aku menggeser panci itu. Akhirnya kotak itu berhasil kuambil, aku meletakkannya ke jok samping kemudi dan kembali menjalankan mobil sebelum pengemudi di belakangku lebih kesal lagi. Jalan yang kulalui sudah lepas dari kemacetan, aku berusaha fokus mengemudi, namun rasa panas dan perih menjalari telapak tangan kiriku yang baru kusadari sekarang. Yeah, telapak tanganku sudah memerah sekarang karena panci panas tadi. Kemudian aku melirik sekilas ke jok samping, ke arah benda coklat berisi coklat yang remuk itu. Aku menghela nafas. “Hhhh.. Sukses apanya.”

* * *

Perlahan-lahan kedua kelopak mataku terbuka, yang pertama kali ku lihat dengan samar-samar adalah sebuah layar berwarna biru dengan degradasi dan dihiasii corak oranye. Oh Jinae, itu langit bodoh! Aku bangkit dari posisi tidur menjadi duduk, sambil mengumpulkan kesadaranku, aku mengucek-ngucek mata berusaha mengingat apa yang kulakukan sebelum tidur. Angin sepoi-sepoi membelai tubuhku, menerbangkan anak rambut yang kubiarkan tergerai, aku tidak suka kalau dikuncir, rasanya seperti dijambak. -__-

Baiklah, sekarang aku masih ada di atap sekolah. Sekarang aku berdiri dan melihat ke bawah, sekolah ini sudah sepi dan sekarang sudah sore, kurasa aku tidur terlalu lama tadi.

“Krrruyuuk”

“Ah.. Lapar sekali!” Aku berjalan ke tempat tadi aku tidur dan mengambil tas selempang yang kugunakan sebagai bantal waktu tidur. Aku mau pulang, namun saat melihat tumpukan origami burung yang aku lipat tadi aku jadi teringat cerita rakyat dari Jepang.

Aku mengumpulkan semua origami itu deng       an kedua tanganku membawa lipatan-lipatan kertas itu ke pembatas di atap.

* * *

Aku datang sangat terlambat. Acara sudah selesai, dan berita baiknya, 400 porsi makann itu cukup untuk memberi makan tamu undangan, namun berita buruknya, semua panitia terkapar lemas karena mereka memang kularang untuk makan sebelum aku datang. Sku melempar kunci mobilku pada seseorang yang langsung ditangkapnya, enyuruh untuk mengambil makanan di mobil. Setidaknya mereka bisa makan sepuas-puasnya bahkan sampai muntah, karena 100 porsi makanan untuk 30 orang.

“Ya! Ketua!”

“Ne?”

“Adaapa dengan coklat itu bisa sampai remuk, kau belum memberikannya?”

“Tidak sempat.”

“Makanlah, kau belum makankan?” anak nyentrik itu menyodorkanku sebuah kotak makan.

“Thanks Kibum!”

“Key, Jinki!” ralatnya.

“Haaah, terserah… Au..”

“Hah, kenapa pula tanganmu?”

“A bit accident.”

“Ini kunci ruang kesehatan, cepat obati tanganmu.” Key memasukkan sebuah kunci ke dalam saku kemejaku karena dua tanganku sudah penuh dengan bawaan lain.

“Tidak usah, nanti saja di rumah.” Tolakku.

“Sanabodoh! Nanti tanganmu bisa diamputasi.”

“Tidak lucu Key.”

“Makanya obati.”

“Iya, ini.” Aku menyodorkan kotak coklat yang remuk dan kotak makan darinya.

“Bawa saja sendiri, kenapa menyuruhku, aku masih banyak pekerjaan.” Kata Key sebelum berbalik meninggalkanku.

“Kenapa anak itu membantu tapi setengah-setengah.” Gerutuku.

* * *

“Kalau ada orang di bawahsanayang membawa makanan, jika ia perempuan, akan kujadikan sahabat, kalau ia laki-laki aku jadikan pacarku!” Hahaha, kau memang gila Jin Ae.

“GLEGERR!”

* * *

“GLEGERR!”

Astaga.. Hhh, kenapa ada petir saat aku tepat di tengah-tengah lapangan. Aku berhenti sejenak ketika menyadari aku sedang di tengah-tengah lapangan basket yang lengang. Seharusnya aku menembak anak bernama Seo Jinae itu di tempat ini hari ini.

“Puk”

Tiba-tiba sebuah kertas mendarat di ujung kakiku, kemudian disusul kertas-kertas lainnya. Aku mendongak ke atas dan berteriak.

“YA! Yang di atas! Jangan buang sampah sembarangan!” teriakku.

* * *

Mati kau Jinae! Suara laki-laki. Aku cepat-cepat merunduk sehingga tidak akan terlihat dari bawah.

Aish, kenapa aku bicara aneh-aneh sih, mana tadi ada petir.

“Baiklah, nanti kubuang, kau bawa makanan atau tidak?” balasku masih tetap bersembunyi di balik pembatas.

“Kalo iya, kenapa?”

GREAT!!!!

Kau harus mempertanggungjawabkan ucapanmu Jinae.

Aish, nae pabbo gateun. Aku hanya berharap semoga laki-laki di bawah itu masih cukup waras untuk menolak pernyataan cinta dari orang asing tak dikenal yang tiba-tiba menembak begitu saja setelah bertanya ‘Bawa makanan atau tidak.’ Padanya.

Sambil menutup mata, pelan-pelan aku berdiri hingga siapapun orang di bawah itu bisa melihatku dengan kaus “Tom and Jerry” biru muda yang sedang kukenakan ini. Aku menarik nafas dalam-dalam. Demi kau supaya tidak dikutuk jadi burung seperti Putri di cerita itu!

“Kau mau jadi pacarku tidak?”

“….”

“TENTU SAJA SEO JINAE!!”

Habislah kau! Orang di bawah itu tidak waras. (-__-)”

 

END

Advertisements

6 thoughts on “The Origami Confession

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s