Melodies of Life (Part 2)

Casts:

Han Mi Kyong

Lee Taemin (SHINee)

Other casts:

Seo Eunkyung

Choi Minho (SHINee)

Genre: Romance (again)

Length: On going

Disclaimer:        I do own nothing, but story.

Yuhuu… bisa ngapdet lagi, hujan-hujan membawa berkah untuk ngelanjutin ff yang hampir tidak da minat untuk dilanjutkan lagi.

Gong xi gong xi !!

Happy Chinese and Lunar New Year!!

*nodong angpao isi koment*

yo wis, monggo dibaca..

Laki-laki itu, laki-laki pegawai toko itu sedang memainkan sebuah lagu dengan sangat menghayati. Tiba-tiba ia melihat ke arahku dan berjalan ke luar.

“Eh, hai, aku hanya kebetulan lewat. Haha, sampai jumpa!” Aku nyengir dan membungkuk sekilas setelahnya langsung berlari pulang ke rumah.

Aku menghentikan langkahku, well, ternyata bila kau berlari, hanya butuh kurang lebih 5 menit untuk sampai ke rumah. “Hhhh, hhh, capek sekali, Aaaaaaaaaaaaaaa!”

Spontan aku berteriak ketika sebuah tangan menggapai bahuku dan sukses membuat aku terkejut. “Ah, mianhe, ini tadi ada bungkusan tertinggal di depan toko, kupikir milikmu?” balas orang itu. “Aku melihat ke arah tangannya, dan ke.. wajahnya. “Kau yang tadi? Kau ikut berlari mengikutiku sampai sini?” heranku setengah takjub, orang bodoh mana yang rela mengantar sebuah bungkusan asing milik orang asing aneh yang tadi ketahuan mengintip ke dalam tokonya?

“Iya, kenapa?” jawabnya singkat sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Aduh, maaf, aku benar-benar merepotkan! Kenapa kau tidak biarkan saja, kan bisa kuambil besok.”

“Karena kalau menunggumu besok mengambilya mungkin ramyun tak bisa dimakan lagi.” -_-

“Oh iya, haha.” Aku hanya tertawa bodoh di depannya.

“Noona?” adikku tiba-tiba sudah muncul menyembulkan kepalanya di antara pagar kayu rumahku.

“Aku pulang dulu, selamat malam.” Ia berbalik dan berlari menjauh.

“Noona, pacarmu ya? Kau sudah punya pacar? Jelek sekali, kurus lagi aku masih lebih tampan darinya.”

“Hahaha, dasar kau, dia bukan pacarku! Ayo masuk, noona dapat ramyun dari Kim Ajusshi.”

“Mana? Kenapa tidak bilang dari tadi, kkaja!”

***

Pulang sekolah aku langsung ke kedai ramyun tanpa ke rumah dahulu, hari ini kedai buka lebih cepat dan tutup lebih cepat pula. Eunkyung belum pulang karena dia ada kegiatan klub drama, jadi aku bekerja sendirian hari ini.

“Mikyong-ah, kenapa belum ganti baju?” tanya ajhussi begitu melihatku. “Oh, aku tidak bawa baju ganti, karena hari ini Eunkyung tidak ada kalau aku pulang dulu ke rumah ahjussi bisa repot kalau sendirian.” Ucapku sambil mengambil apron. “Seharusnya kau pulang dulu, hari ini keponakanku membantu di sini.” Ujar ahjussi lagi. “Keponakan?”

“Ahjussi, kimchi-kimchi ini mau ditaruh dimana?”

Seorang laki-laki kurus dan jangkung datang dari arah dapur mengalihkan pembicaraanku dan Kim Ahjussi. “Berikan saja pada Mikyong, Mikyong, ini keponakanku.”

“Oh hai, kau yang semalam kan?” tanyanya seraya tersenyum. “Hah, eh, oh, iya.” Jawabku kikuk, entah kenapa aku jadi salah tingkah ditatapnya seperti itu. “Ya sudah, kalian bekerjalah, aku masuk ke dalam dulu.” Ahjussi meninggalkan kami berdua. “Eng, jadi kimchinya diletakkan dimana?” tanyanya lagi. “Eh, sini berikan padaku.” Aku mengambil alih baskom berisi sayuran yang difermentasi itu. Ia menyusulku berjalan. Sementara aku mengambil lap untuk mengelap meja, laki-laki keponakan Kim ahjussi itu terus mengikutiku.

“Hei, kau kenapa mengikuti terus?”

“Jadi aku harus melakukan apa?” tanyanya balik.

“Oke, kau lap saja meja-meja itu dengan lap ini, aku akan mengepel lantai.”

Ia mengangguk 3 kali sambil tersenyum lagi. Kami bekerja di ruangan yang sama tetapi sama sekali tidak mengobrol. Aku tidak begitu pandai mengobrol dengan orang sebayaku, aku justru lebih mudah bergaul dengan orang-orang tua ataupun anak kecil. Dia juga sepertinya bukan tipikal orang yang banyak bicara. Bagaimana ini, suasananya jadi canggung seperti ini. Eunkyung, andaikan ada anak itu di sini pasti akan lebih baik.

“Mikyong-ssi”

“Mikyong-ssi!”

“Mikyong-ssi!”

“Hah! Ne?” jawabku agak terkejut.

“Kau tidak menanyakan namaku?”

“Hah?” alisku bertaut.

“Eng, namaku, kau tidak menanyakan namaku?” laki-laki itu memperjelas.

“Haruskah?” balasku bertanya.

“Oh, kalau kau tidak mau, tidak apa-apa.”

Ada sedikit kekecewaan tersirat dari sorot matanya, apa aku salah bicara?

Setelah itu laki-laki itu melanjutkan pekerjannya begitu juga aku dalam diam, sama seperti sebelumnya, suasana canggung merayapi ruangan ini lagi.

“Eng.. jadi kau bekerja di toko musik itu?” Mau tidak mau aku berusaha mencari bahan obrolan, aku tidak tahan jika berdiaman saja.

“Ehm.” Dia mengangguk tanpa minat. “Kau masih sekolah?” ia kembali mengangguk, namun tanpa menoleh padaku. “Kau sekolah di mana?” Barulah ia menoleh padaku. “Aku kakak kelasmu!”

“Jinjayo? Aku tidak menyadarinya. Siapa namamu?” tanyaku tertarik.

“Tadi kau tidak mau menanyakan namaku.” Ia menatapku dari ekor matanya dengan seringai bodoh tersungging di wajahnya.

“Ya sudah kalau tidak mau.” Aku mengambil kain pel membawanya ke belakang, dia sedang menertawakanku.

Pelanggan sudah mulai berdatangan, walaupun tidak seramai kemarin malam, tetap saja aku kerepotan melayani pembeli. Keponakan Kim ahjussi itu tidak bisa bekerja, ia sudah 2 kali memecahkan mangkuk dalam waktu 2 jam. Bukannya membantu malah memperlambat. Alhasil ia hanya melihatik bekerja.

‘Mikyong-ssi!” panggilnya di sela-sela jam tutup toko, kami-sebenarnya hanya aku- sedang membersihkan kedai ini.

“Apa?” jawabku enggan.

“Kau tidak mau tahu namaku?” Aku menoleh ke arahnya yang sedang bertopang dagu memandangiku dengan intens.

“Siapa namamu?”

“Lee Taemin!” jawabnya kalem.

Aku tidak memberi tanggapan dan melanjutkan kerjaku begitu juga dia. Melanjutkan pekerjaannya melihatiku.

“Kau sedang ada masalah?” ia kembali mengusikku. “Tidak.” Balasku singkat. Dan dia masuk ke dapur.

“Ahjussi, aku pulang ya!”

“Oh, kau tidak mau makan ramyun dulu?”

‘Tadi sudah, besok aku datang lagi ahjusi!”

“Apa eommamu tidak marah?”

“Tidak. Lagipula hari ini aku hanya duduk-duduk saja.”

“Ya sudah pulanglah!”

“Sampai besok.”

“Ya ya..”

Aku terkejut ketika laki-laki bernama Taemin membuka pintu. Ia menuju keluar tanpa berkata-kata lagi. Setelahnya aku pun membawa peralatan seperti kain pel dan lap ke belakang, aku melepas celemek menggantungnya dan mengambil tas sekolahku. Aku pamit pada Kim ahjussi dan bergegas pulang.

Lewat jalan yang sama. Aku sedang berada depan di toko musik itu, padahal sekarang baru jam 8 malam, tapi toko ini sudah tutup, pasti karena pegawainya yang alih profesi menjadi pelayan kedai ramyun.

“Kau tidak mau masuk?”

Suara seseorang dari belakangku benar-benar membuatku kaget.

“Tidak, aku kan memang tidak pernah masuk ke toko ini, lagipula tokonya sudah tutup karena pegawainya pergi merecoki sebuah kedai ramyun.” Balasku datar.

“Ia merogoh saku celananya mengeluarkan sekumpulan kunci dan melangkah mendekati pintu. Pertama ia membuka gembok yang mengunci rolling door dan pintu besi, lalu masuk ke dalam toko itu. Aku hendak beranjak dari sana tapi tanganku ditarik oleh-siapa lagi kalau bukan Lee Taemin- masuk ke toko itu. Tapi aku diam dan menurut saja.

Aku baru pertama kali masuk. Toko ini tidak terlihat seperti toko musik kebanyakan. Alat musiknya tidak banyak. Hanya ada 1-3 masing-masing dari tiap jenis alat musik. Lantainya dari kayu, lalu di sudut ruangan terdapat sofa berwarna pastle senda dengan cat dindingnya yang dihiasi motif-motif not balok. Di langit-langit juga terdapat hiasan yang digantung . Ini lebih seperti tempat kursus musik anak-anak atau malah studio musik pribadi. Ia menuju tempat display toko ini, dimana grand piano putih itu ada, permukaan lantai tempat piano itu dibuat lebih tinggi sedikit. Dia duduk, membuka penutup piano. Ia melirik ke arahku memberi isyarat agar aku mendekatinya. Aku menurut lagi, berjalan ke arah Taemin dan berdiri di sampingnya. Ia meletakkan jarinya di atas tuts piano itu, sekejap, rangkaian nada yang indah berdenting memenuhi ruangan itu bersamaan dengan gerakan jari Taemin yang menari dia atas balok hitam putih itu. Aku suka sekali! Gerakan jarinya sangat gemulai berpindah dari satu tuts ke tuts yang lain. Taemin mengakhiri lagu itu.

“Sangat indah!” 3 kata itu terlontar begitu saja dari mulutku.

“Dari tadi siang, kau baru tersenyum sekarang” Balasnya padaku.

“Hah?”

“Kau pernah dengar lagu yang barusan?” ia mengalihkan pembicaraan.

“Ehm.” Aku mengangguk. “Aku pernah mendengarnya dari music box milik temanku, tapi aku lebih suka yang barusan, judulnya apa?” tanyaku.

Für Elise.” Jawabnya, tiba-tiba ia menyentuh punggung tanganku membuatku sangat terkejut, refleks aku menepisnya.

“Maaf, aku hanya ingin melihat tanganmu!” ucapnya karena terkejut juga kurasa. “Ha? Oh, iya, aku sedikit terkejut. Kenapa tanganku” Balasku agak salah tingkah.

“Jarimu lentik.” Ia melirik ke arah tanganku. Aku mengangguk saja karena tidak tahu harus menjawab apa.

“Sebaiknya aku pulang, ini sudah terlalu malam. Sampai jumpa!” aku membungkuk dalam-dalam dan meninggalkannya. Angin malam yang dingin tidak terlalu terasa dingin, tubuhku masih terasa panas yang kurasa efek saat dia tadi menyentuh tanganku, rasanya seperti dialiri listrik.

Lee Taemin..

Orang yang sedikit aneh. Awalnya kukira ia sangat dewasa, tapi sebentar kemudian tingkahnya berubah seperti adik laki-lakiku saja. Tapi kurasa dia orang yang baik. Dan, sedikit, oke tidak sedikit, dia sangat tampan dan, menggoda?

Astaga, Han Mikyong, kuarasa kau harus cepat-cepat pulang ke rumah dan mandi sebelum kau memikirkan hal yang lebih aneh lagi!

.:TBC:.

Again and again, ini pendek banget, idenya stuck lagi + komplikasi  sakit pingang, punggung , kaku leher, iritasi mata karna kelamaan di depan komputer. (_ _)

Advertisements

6 thoughts on “Melodies of Life (Part 2)

  1. gibe,taemin putih nian >.< !! foto yg bagus chingu !
    taemin baik sekali ! mau ngejar si mikyong .. padahal mikyong berlari untuk menurunkan berat badan , nanti taemin makin kurus la #plakk

    betul chingu .. pendek .. di chapter berikutnya diperpanjang ya .
    btw , good ff..
    dekatkan lagi mikyong dan taemin

  2. KYYAAAAAAA!!!!
    seneng ny!!1
    oe HYESU,slam kenal….jika anda berpikir bahwa saya gendut,it brarti pikiran and slah 100%!gezzz…..hei eunkyung,adikku it minho y?kyaaaa,kw tw gk wktu taemin bilg jari ku lentik,wktu bacanya aku sambil teriak!!kyaaaa!!!pendek NIANNN!!!pelit listrik nian kw tu!!panjangin lh1!!!!

    • wkwkwk..
      fefe hanya mengatakan fakta bren.. :mrgreen:
      MANALAH!! minho bukan adk kw..
      oke, sebenarnya waktu aku ngetik yang ttg jari kw lentik tu, jari aku keseleo, maknya ketulis itu.. anw thanks for reviewing Ir Ir–>W W.. 😀

  3. ooo,tak jd masalh,itu berarti memang saya ditakdir kan Tuhan berbdn lgsig,jd Tuhan bertitah spya jari anda keseleo n menulis nskah sperti itu,hahhhahahha!!hei,mksdny reviewing ir ir t apan?saya tidk mengerti artiny,kok malah ad insinyur sih? ^.~hihihi

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s