Tea For Two [Part 2]

Casts: Choi Minho, Kang Eunri, Seo Eunkyung

Genre: Romance

Length: Short Story

Disclaimer : [?]

Dalam rangka melunasi hutang sama Widdy aka flameunrii(pake bintang)

bagi nama yang bersangkutan, suka ga suka harus suka, kalo ga suka ya disuka-sukain.. /slapped

Hahastaga.. Minho monyong monyong gini makin mirip dengan imitasinya >,<

Ehm..ehm.. silahkan diminum (^u^)

Eunri’s pov

Dan terkejutnya aku menemukan sepasang orang tua duduk membelakangi kami. Nenek dan kakek. Dan tidak hanya itu. Bibi, paman serta sepupu yang tidak begitu akrab denganku juga berada di sana. Aku senang sekali, sudah lama kami tidak pulang ke Incheon. Tapi ada apa, tiba-tiba berkumpul seperti ini? Bibi dari Jepang pun datang. Kumpul keluarga? Kenapa Minhyuk tidak diajak?

Makan malam berlangsung. Ibu mengobrol dengan bibi dan paman, serta ayah dengan nenek dan kakek. Aku diam saja, dan memakan makananku. Kukira ini makanan yang enak, tapi aku tidak begitu menikmatinya. Padahal tadi aku lapar. Aku melirik saudara sepupuku. Namanya Seo Eunkyung. Sejak kecil kami tidak dekat, bila kami berkunjung ke Jepang, atau mereka yang berkunjung ke rumah kami, atau kami sama-sama ke rumah nenek, kami tidak pernah bicara dan main bersama. Introvert? Tidak, hanya sedikit tertutup mungkin. Tapi dia sedikit dekat dengan Minhyuk. Biasanya bila ada Minhyuk, barulah aku juga mengobrol dengannya. Hanya sebatas basa-basi. Tidak pernah ke omongan pribadi, atau lebih serius. Lucu juga. Padahal dia dan aku itu seumur. Dan kami satu sama lain tidak mempunyai sepupu lain. Maksudku. Ibu hanya 2 bersaudara dengan bibi. HPku bergetar. Aku membuka pesannya.

“Minta nenek bungkuskan aku makanan. Harus yang mahal!”

 

Dahiku berkerut sedikit. Karena isi pesannya, berarti Minhyuk sudah tahu kalau kami pergi bertemu nenek. Dan sesaat kemudian, pelayan mengambil kembali sisa makanan dan piring kotor serta menggantinya dengan dessert. Semua orang mulai sedikit tenang sekarang. “Pasti kalian sudah tahu apa maksud makan malam ini!” Nenek menjeda perkataannya, ini semakin membuatku ingin menyelanya, tapi kuurungkan. “Kami akan memilih salah satu dari kalian, Eunkyung dan Eunri untuk dijodohkan dengan anak laki-laki anak angkatku, dia..”

“Maaf, aku tahu aku sangat lancang. Tidak peduli siapapun itu, tapi aku benar-benar tidak bisa menerima perjodohan ini.”

Hanya dalam hitungan detik, seperti dalam sebuah drama yang diputar dengan mode slow motion sepupuku Eunkyung mendorong kursinya dan berlari, yang kuyakin ke arah pintu keluar. Dan saat itu pula, semuanya ikut berlari mengejarnya, kecuali aku, nenek dan kakek yang sama-sama kaget. Mereka terlalu tua untuk berlari-lari malam mengejar cucu perempuannya yang kabur saat makan malam bersama. Bisa-bisa pinggang kakekku lepas saat dia berlari. Aku tetap di sini karena ibu menyuruhku menjaga nenek dan kakek tadi, walaupun dia tidak bilang begitu, aku juga tidak akan ikut-ikutan lari. Nenek duduk dengan gelisah, sebentar-sebentar ia meremas-remas jarinya sendiri, sedangkan kakek, kepalanya terkulai lemas di sandaran kursi.. ia sudah menutup mata, mulutnya terbuka dan.. mendengkur keras -.-” Meja yang kami tempati tadi memang sempat menjadi perhatian pengunjung tempat makan elit ini karena insiden larinya Eunkyung barusan, namun seorang kakek yang tidur dengan pulas di sampingku inilah fokus mereka sekarang.

“Nek, Minhyuk minta dibawakan makanan, katanya harus yang mahal.”

“PLETAK”

*

Aku keluar dari resto ke loby dan keluar dari hotel itu, aku tetap berlari dan baju ini memang merepotkan sekali. Agar tidak tersusul aku lari tanpa menoleh lagi aku menabrak bebrapa orang, aku tidak tahu, yang jelas aku harus berlari terus.

“Hhhh.. hhhh…”

Aku mengatur nafasku badanku membungkuk bertumpu pada lutut.

Aku tidak tahu bagaimana nasibku. Karena aku sama sekali tidak tahu Korea. Aku lahir dan tinggal di Jepang, pulang ke sini hanya setahun sekali atau bahkan tidak sama sekali dalam setahun. Aku, ini, semua ini refleks saja. Aku bahkan tidak terpikir di kepalaku kalau aku senekat ini untuk kabur. Harus kemana aku sekarang?

Aku duduk di pinggir jalan. Sudah jam setengah sebelas sekarang. Mobil tidak terlalu ramai, mungkin karena ini jalan perumahan. Aku bangkit dari trotoar, melanjutkan jalanku, mudah-mudahan ada tempat yang bisa dipakai untuk istirahat. Malam semakin larut. Aku masih berjalan tidak jelas. Tanpa uang dan ponsel di tempat asing, sempurna. Lapar, lelah dan ngantuk bersatu dalam tubuhku, terlalu besar menutupi rasa takut entah pada penjahat, ataupun.. hantu mungkin. Masih terseok-seok aku berusaha mendorong tubuhku berjalan.

“Bruk!”

Badanku ambruk. Kesadaranku sudah hilang separuh, aku terbaring telungkup di atas sesuatu yang kasar. Gelap. Aku masih di situ entah sudah berapa lama. Aku hampir tertidur, setitik cahaya samar-samar terlihat. Semakin dekat. Semakin silau. Aku menyadari, aku ada di tengah-tengah jalan sekarang, dan sekedar untuk menyeret tubuhku ke pinggir pun aku sudah tidak berdaya. Silau.

*

“Kami pulang!” seruku.

Nenek, kakek, bibi serta paman menginap di rumahku malam ini. Semuanya tampak kacau. Eunkyung si cucu, keponakan, anak, dan sepupu yang tidak tahu diri itu merepotkan semua orang. Terutama paman dan bibi, sedari tadi mereka berharap-harap cemas menunggu kabar baik dari orang suruhannya. Semuanya berkumpul di ruang tengah. Minhyuk yang sudah tidur pun bangun lagi, dia bahkan menawarkan mencari Eunkyung. Dan sekarang dia sudah pergi dengan paman. Hello, bahkan saudara kembarku lebih perhatian pada sepupunya dari pada saudara yang selama 20 tahun 9 bulan  14 hari menemaninya. Ah, pikiranku kacau sekarang. Lebih baik aku memikirkan nasibku bila sepupuku itu bersi keras tidak mau dijodohkan, dipastikan akulah yang jadi korban perjodohan itu.

Ck, kenapa aku bisa lupa kalo ibu pernah membicarakan perjodohan ini? Ternyata bukan guyonan belaka. Uh-oh, aku memang baru putus dengan pacarku, tapi bukan berarti aku tidak laku lagi sampai harus dicarikan pendamping hidup bukan?

*

Aku terbangun. Dengan kondisi badanku teraasa remuk dan di atas ranjang ukuran single dalam ruangan bernuansa coklat kayu yang asing. Aku melihat ke sekeliling, aku menemukan jam dinding yang menunjukkan pukul 4 subuh. Aku pelan-pelan bangun, awalnya terasa sedikit pusing. Lalu setelah menginjakkan kaki di lantai, aku berjalan dengan mengendap, membuka kenop pintu ruangan itu, dan menutupnya kembali dengan berusaha tidak menimbulkan suara. Aku menyadari ruangan ini berada di lantai 2, setelahnya aku menuruni tangga kayu dan sampai di ruangan seperti dapur. Rumah siapa ini? Aku berjalan ke depan, kemudian menemukan ruangan lagi, seperti ruang TV. Masih melihat ke sekeliling aku pun menemukan ruang tamu rumah ini serta pintu masuknya. Di dekat pintu itu tergeletak sepasang sepatu milikku.

“Ckek!”

“…”

“…”

“Kau sudah bangun ya? Kau tadi malam ditemukan pingsan supir truk pengangkut sampah di depan rumahku.”

“Arigatou, maksudku kamsahamnida?” ujarku membungkuk.

“Siapa kau? Namamu?” tanya orang itu.

“Aku..” sejenak terlintas ide dalam benakku.

“Aku tidak tahu namaku.”

Balasku.

“Kau jangan berpura-pura, setelah ini mau bilang kau tidak tahu siapa dirimu dan dari mana?” tanyanya dingin.

“Glek.”Aku menelan air ludah, kenapa dia tahu aku berpura-pura. “Aku tidak tahu.” Balasku agak terbata. “Aku tidak tahu kenapa kau pingsan di tengah jalan, dan apa tujuanmu. Tapi kurasa kau punya niat buruk kalau kau bersikap berpura-pura amnesia pada kami.” Balasnya pula. Aku tidak punya pilihan. Aku bukan aktris yang baik ternyata. (-.-)”

“Apa tujuanmu?” ia bertanya dengan tatapan menyelidik.

“Sebelumnya, aku minta maaf karena mencoba berbohong tadi, tapi sungguh, aku tidak punya maksud jahat. Namaku Seo Eunkyung.” Aku membungkuk pada orang itu. “Kau bukan dari Korea ya?” tanyanya, sikapnya pun masih waspada.

“Aku orang Korea, tapi aku tinggal di Jepang.” Jawabku jujur. “Kenapa kau bisa ada di sini?” orang itu seperti mengintrogasiku. “Aku tersesat, aku tidak tahu bagaimana pulang. Aku tidak punya uang dan ponsel untuk menghubungi keluargaku.” Ia masih diam menunggu ceritaku. Aku pun menceritakan bagaimana kejadiannya pada dia. Bagaimana aku yang dijodohkan dan kabur dari acara makam malam dengan keluarga besarku. Setelah aku mengakhiri ceritaku, ia hanya diam saja, mungkin masih tidak percaya. “Kau mau membantuku kan?” tanyaku tiba-tiba.

“…”

Ia diam saja namun dari dahinya yang berkerut aku tahu ia minta  kelanjutan atas kata-kataku barusan. “Biarkan aku bersembunyi di rumahmu!” Bisa kulihat ekspresi penolakan tercermin di wajahnya. “Kumohon, bantu aku! Aku tak ingin pulang dan dinikahkan dengan orang yang tak kucintai tanpa alasan yang jelas!” Kali ini aku memohon di kakinya. Masa bodoh dengan harga diri. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi saat ini. “Lepaskan kakiku! Sudahlah, pulang sana!” Ia menarik-nrik kakinya karena sedang kutarik-tarik sekarang. “Kumohon! Hanya kau satu-satunya harapanku, aku bersedia jadi pembantu di rumah ini kalau perlu, tanpa gaji juga tidak apa, asalkan kau mau menyembunyikanku di tumahmu.” Pintaku lagi dengan ekspresi lebih memelas. ‘Sudahlah, pulang sana!” Ia masih terus menolak. “Ayolah, bantu aku!” aku menatapnya dengan ekspresi ter-menyedih-kan yang kumiliki.

“…”

“Hhh.. terserah kau saja, lepaskan kakiku!” ujarnya dataar. “Ha! Terima kasih! Ataga, kau memang orang baik, aku doakan kau akan menjadi orang sukses.” Ucapku menggebu-gebu. “Ck, kau ini berlebihan dan tidak nyambung, aku akan memberi tahu ibuku bahwa kau akan tinggal di sini dan..” “JANGAN!” potongku langsung. “Apanya yang jangan?” herannya. “Aduh, begini, kalau ibumu tahu tentang masalahku, ia pasti tidak mengizinkanku tinggal sementara di sini.” Aku memberi alasan.

“Jadi bagaimana?” tanyanya pasrah.

“Kita.. harus berbohong, bilang saja kalau aku ini benar-benar amnesia.” Tawarku. “Kau bercanda! Aku tidak mau berbohong, apalagi pada orang tua.” Dan dengan tegasnya orang itu menolak tawaranku.

“…’

Dan kami terdiam lagi, cukup lama.

“Ya sudah lah, mungkin ini memang nasibku. Mau bagaimana lagi. Terima kasih sudah menolongku dari jalan.” Aku membungkuk padanya sedikit, kemudian kembali mengambil sepatuku dari lantai. Aku pun memutar kenop pintu keluar dari rumah itu.

Selangkah, dua langkah, tiga langkah

“Kajima! Kau boleh tinggal di sini!”

You got it Eunkyung!

TBC

nb:

oi Widy!! mianhada, ffnya jelek (_ _) i know, i’m not the talented one >__>

setelah aku baca ulang dan ternyata melenceng banget dari plot awal… *acak-acakrambutfrustasi*

perasaan part ini udah pendek terus banyakan scene akunya O.Oa *diciuminho*

Advertisements

4 thoughts on “Tea For Two [Part 2]

  1. Moahahah xD nyadar juga dikau kyung *plkkk
    Siapa itu? siapa orang itu kyung? Siapa yang tolong-tolong eunkyung? -____-v minho yaaa, hem? Krek! Krek!! -__-” *urat putus*
    Moahahahah xD si kakek sempet-sempetnya tidoor -_- *tampar kakek* cucu mau dijodohiiiii ini kakek XD
    wkwkwk~ enggak mautau pokoknya ini lanjutannya musti diapdet secepatnya kyung >_<
    aku penasaran sama orang yg tolong2 kyung (pirasat buruk)
    Lanjoooot ga eunkyung bebeeeh B-) *cekek kyung* <- cast kurang ajar.
    Eunkyung lanjooot *pijetin kyung*

    • komentmu seperti biasa.. :mrgreen: ..gaje /plak
      spkah yang menolong diriku yang tak berdaya itu? *sok puitis mode:on*
      feelingmu emang selalu jelek teman! *dibabuk*
      yaudadah,, ga janji ya dilanjutin apa kagak.. 😆
      aku takut post di ffindo, tapi abis ini aku mau post disana.. 😀 *plinplangajelas*
      thankyou sudah mampir cast utama saya..

  2. haahahahah
    lucu” poo
    paling lucu pas kau komen ttg foto minho yang monyong kyk gitu
    ahhahahaha…mirip imitasi?
    ga jg kali
    (eh ak lupa gimana wajahnya ding)
    berbahagialah besok sekolah, bs liat dy lagi
    hahahaah

    d tunggu part selanjutnya
    (ps : kau harus beli hp!)

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s