Tea For Two [Part 1]

Casts: Choi Minho, Kang Eunri, Kang Minhyuk

a.n: Dalam rangka melunasi hutang sama Widdy aka flameunrii(pake bintang)

bagi nama yang bersangkutan, suka ga suka harus suka, kalo ga suka ya disuka-sukain.. /slapped

Oh iya, mungkin judul ff ini nggak nyambung dengan ceritanya, karena aku author yang nggak bisa buat judul daan dengan ke-naas-an lagu ini yang terputar di player saya waktu pusing buat mikirin judulnya, maka dengan sangat tidak beruntung  saya resmikan lagu tea of two menjadi judul ff saya.. —> author gila

Mari,  diminum tehnya berdua dengan bias masing-masing :D :D :D

‘Nak.. kau sudah dewasa dan aku sudah tua, apa lagi yang kau tunggu?’

‘….’

‘Minho?’

‘Ibu saja yang carikan, aku mau tidur. Selamat malam.’

‘Ah, benarkah. Ya sudah. Selamat malam.’

*

‘Mati kau Lee Jinki!’

‘Bodoh!’

‘PRANG’

‘Kau itu bodoh.. bodoh!’

‘BRAK’

‘AAAAAAA’

‘@#!&^#$’

‘Eunri kau.. wow?’ Minhyuk mengintip dari celah pintu dengan ragu.

‘APA JELEK?’

‘Eng.. aku tak peduli kenapa kau membanting porselen 2 juta won ibu, tapi ibu menyuruhku bertanya. Jadi apa kau setuju?’ tanyanya ragu.

‘Setuju apa bodoh?’

‘Mana aku tahu, aku hanya disuruh bilang begitu, ibu sedang menelpon seseorang, menghalangiku di depan TV dan..’

‘AAAAAAAAAAA, terserah ibu saja! Dan pergi kau!’

‘Bruk’

Kamus bahasa mandarinku gagal mendarat di muka Minhyuk dan menghantam pintu karena pintunya sudah keburu ditutup.

*

‘Minho!’

‘Ya Bu?’ jawabku. ‘Kau mau kemana?’tanya ibu.. retoris. ‘Kerja.’ Jawabku.

‘Aku pergi bu.’ Ibu mengangguk kecil. Kemudian mendekatiku ia mengusap-usap kepalaku. ‘Bu, aku sudah 25.’ Ibu tersenyum. ‘Ibu tahu, jangan pulang terlalu malam Minho, kita akan kedatangan tamu.’ ‘Iya bu, dan aku harus ke kantor sekarang.’ ‘Ne, jangan lupa, sebelum jam 7 malam kau harus tiba di rumah.’ Titah ibu sambil aku terus memasang kaus kaki. ‘Minho jangan lupa, jam 7 malam!’ teriak ibu lagi saat aku sudah keluar menuju pagar.

‘Minho..’

‘Iya bu, jam 7 malam.’ Potongku tak sabar. ‘Tidak perlu menunggu jam 7 malam kau akan pulang lagi kalau kau pergi dengan sandalku!’

O.O

*

“Astaga Eunri! Ireonna! Pemalas! Kau tahu gadis malas jodohnya jelek.” Kakiku ditepuk-tepuk seseorang, tak kugubris aku semakin menggulung diri dalam selimut, menyamankan diri.

‘Eunri! Ireonna!”

‘Ck, anak ini.” Suara srek srek semakin menjauh, haha, ibu kalah lagi.Zzz

‘Eunri! Pinjam SLR mu!” ck, siapa lagi sih yang menggangguku? ‘Eunri! Kameramu mana?’ sayupsayup suara ini terdengar makin jelas, hhh.. si jelek Minhyuk. ‘Eunri!’

‘Aaaaaaaaaaaaaaaaaarrrh, Minhyuk!’ Minhyuk menyibakkan selimutku dan menarik telapak kakiku untuk digelitiki. Ish dia tahu sekali cara terampuh membangunkanku. Aku masih menendang-nendang ke arahnya dan mencak-mencak tidak jelas. ‘Oi, cepatlah, mana SLRmu?’ tanya Minhyuk tak sabar, tapi sialnya ia masih menggelitiku. ‘Aaaarrafaj!@#%#$%$ di kulkas! Aku mau tidur! Jangan ganggu.’ Jawabku asal tapi kakiku masih terus ditarik-tariknya. ‘Ya, kau pikir aku minta es krim? Yang serius, aku buru-buru, aku ada kelas 20 menit lagi.’ Jawabnya masih intens menggelitiki kakiku sampai seprai dan ranjangku sudah tak karuan karena aku terus menggeliat dan menghentak-hentak menahan geli. ‘Hais, Ye!’ Dengan linglung aku bangun dari tempat tidurku dan mengambil kamera di lemari. ‘Ini.’ Ujarku, dan ia merampasnya tergesa-gesa. ‘Kau tahu? Membangunkanmu 5 menit sama dengan menghabiskan cairan tubuh dengan bersepeda selama setengah jam untung ibu mau membelikanku pocary sweat 2 liter dan memperbolehkanku bebas memakai mobilnya seharian. Hahahahaha.’ Lihatlah, dosa apa aku punya saudara kembar idiot yang sekarang tertawa menggaruk-garuk bokongnya -.-

Aku memungut selimut yang tersungkur tak berdaya di lantai, niatku sih mau tidur lagi sebelum si jelek ini menahanku dan menarikku, ke luar kamar. ‘Kau tahu Eunri, anak gadis yang suka bangun siang jodohnya nanti jelek.’ Kuarasa aku tahu siapa yang mengajarinya pepatah tak bermutu ini. ‘Aish, jangan ngomong tentang jodoh-jodohan, kau membuatku ingat si ayam.’ Ujarku. ‘Ayam? Onew ya? Ckck, sudahlah seharusnya kau itu tahu diri kalau tampangmu pas-pasan, Onew itu hanya main-main denganmu.’ Hampir saja aku menggigitnya sebelum Minhyuk melanjutkan ‘Ngomong-ngomong tentang jodoh.. eng, tidak jadi. ‘Sampai jumpa nanti malam saudara kembar!’ Ok, dan aku menyesal kenapa tadi tidak jadi menggigitnya kalo ujung-ujungnya dia tidak jadi bicara.

*

“Ibu, aku tidak tahu kenapa, tapi kenapa ibu yang biasanya pelit bisa baik sekali hari ini? Shopping dan treatment ke salon. Well, ibu selalu bilang ini menghabiskan uang jika aku pergi bersama teman-temanku. Astaga, apa ayah naik pangkat bu?” aku menolehkan pandanganku dari cermin langsung menatap ibuku percis di sampingku. Sementara ibu menatapku menggulung majalah kemudian memukul kepalaku, maksudku nyaris ke kepalaku, karena kepalaku berada dalam alat steam sekarang. Dan jadilah aku diomelin sampai seisi salon ini mendapat tontonan gratis. Bahkan pegawainya terlalu sibuk tersenyum-senyum. Melupakan untuk berkomentar atas alat steam yang dipukul ibu tadi. Kurasa ibu masih menganggap aku ini anak balita yang tidak mengerti rasa malu karena dimarahi di depan umum. –.–

*

“Yoboseo.. Ne. Iya bu.”

“…”

“Iya bu, aku mendengarnya.”

“Ne.”

Sambungan telepon sudah terputus. Kulirik jam tanganku 05.30 Aku membereskan mejaku seadanya. Setengah berlari aku menuju lift. Ck, sial sekali. Aku meninggalkan lift yang baru sampai lantai 5, lift itu akan turun dulu baru naik lagi, tak akan sempat. Aku setengah berlari menuju tangga. Dari lantai 6. Sampai di loby lantai dasar aku langsung berlari keluar, gedung, menyebrang jalan. Aku terus berlari, sekitar 10 meter lagi aku berteriak pada seseorang di depan sebuah toko. “Maaf tuan, tokonya sudah tutup.” Gadis itu berhenti menutup rolling door yang baru setengh tertutup. “Agashi, kumohon satu buket saja. Mawar merah.” Masih terengah-engah aku mencoba untuk mengatur nafasku. Sejenak gadis itu berpikir dan sejurus kemudian ia tersenyum mengangguk, menaikkan kembali rolling door toko dan membuka kunci pintu toko itu. Aku mengikutinya masuk toko, terdenngar bunyi lonceng di atas pintu. Penuh bunga dan.. wangi. “Silahkan duduk di sana saja tuan.” Ujar gadis itu sementara aku hanya mengangguk, berjalan menuju kursi di dekat display toko yang ditunjuk gadis itu. Aku tak begitu memperhatikan gadis itu, lebih ke ruangan ini, aku melihat-lihat ke sekeliling, wangi sekali di sini.. ada banyak bunga tapi selain mawar, aku tidak tahu nama yang lainnya. Aku.. ini pertama kalinya aku ke florist. “Tuan, ini bunganya.” Gadis itu mendatangiku dan memberikan sebuket mawar merah dengan pita silvernya. “Terima kasih, padahal aku tahu toko ini seharusnya sudah tutup.” Ujarku agak segan karena memang toko ini seharusnya sudah tuutp dari 20 menit lalu. “Tak apa.. Aku yakin.. istrimu akan merasa sangat senang saat menunggu suaminya pulang dari kantor dengan sebuket mawar di balik punggungnya.” Gadis itu tersenyum-senyum sendiri. O.Oa Aku hanya tersenyum kikuk dan setelah menyerahkan bebrapa lembar won, aku berterima kasih lagi lalu meninggalkan florist itu.

*

Setelah rambutku dikeriting sosis, dan wajahku dipoles make up, kami-aku-dan-ibuku- akhirnya benar-benar meninggalkan salon itu setelah hampir jam 6 sore. Dan berarti sudah 6 jam kami berada di sana. Kupikir-pikir, ibu akan mengajakku ke sebuah acara, yang kurasa acara resmi, tapi ibu bahkan tidak memberitahuku. Saat kutanya, ia hanya menjawab, “Nanati juga kau akan tahu kalau kita sudah sampai.”. Dasar ibu. ¬_¬

Kami sampai di rumah, dengan tergesa-gesa ibu mendorongku ke kamar dan memanggi Minhyuk untuk mengambil belanjaan di mobil. Tumben sekali anak itu menurut pada ibu hanya dengan satu kali panggilan. Aku duduk di pinngir ranjang saat Minhyuk masuk membawakan kurang-lebih 8 plastic bag di tangannya. Mereka menebarkan semua pakaian itu di atas ranjangku, dan karenanya aku pindah tempat duduk ke depan meja rias. Memandangi Ibu kandung dan saudara kembarku sibuk memilih-milih gaun-gaun itu. “Yang ini saja, bu!”

“Ah, tidak, ini terlalu sederhana. Bagaimana kalau yang ini?”

“Bahunya terlalu rendah bu, bisa-bisa Eunri malah masuk angin.” Ibu hanya manggut-manggut. Sialan Minhyuk jelek itu,dia pikir aku terlalu kampungan masuk angin hanya karena memakai gaun seperti itu semalaman. Dan akhirnya perdebatan mereka selesai dengan keputusan final pada satu-satunya baju tradisional Korea di antara 10 lembar gaun-gaun lain. Payah @.@a

Ibu menarik tanganku, menyodorkan pakaian tradisionl perempuan atau sering disebut hanbok. Ia menyuruhku segera berganti pakaian. Ibu dengan antusias, begitu Minhyuk menungguku berganti pakaian. Tapi bagaimana aku bisa ganti kalu si jelek Minhyuk itu masih di situ? “Ya! Kalian keluar saja!” teriakku menyadari 2 anak beranak itu masih intens melihatku.

*

“Aku pulang!” Baru sampai di depan pintu ibu sudah menyambutku. “Minho! Kau tidak lupa bunganya kan? Ya ampun, kau kumal sekali. Sana cepat mandi, ganti pakaian mu dengan pakaian yang rapi.” Aku mengangguk. Ibu mengambil buket mawar itu dari tanganku dan aku naik ke kamarku. “10 menit saja Minho! Nanti tamu kita keburu datang.” Ibu sempat-sempatnya berteriak sebelum aku masuk ke kamar.

*

Aku selesai berganti pakaian. Oh, kenapa aku baru menyadari aku ini cantik sekali? Aku memandangi cermin yang memantulkan bayangan diriku di dalamnya. Lihat saja kau Lee Jinki, kau pikir siapa dirimu seenaknya memutuskan aku. Aku akan menememukan laki-laki di acara nanti yang jauh lebih tampan darimu dan akan kusadarkan kau bahwa kauitu terlalu bodoh untuk memutuskan hubungan denganku. Huh.. Hwaiting Kang Eunri. Samar samar terdengar suara ibu yang berbicara pada seseorang, tapi kurasa ibu menelpon seseorang. Dari nada suaranya ibu juga sangat senang. Kurasa pangkat ayah yang sekarang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. ^u^

“Kang Eunri! Berhenti berkaca, sebelum cerminmu pecah, ibu memanggilmu turun, sudah mau berangkat!” -______-

*

Aku mendengar suara obrolan. Mungkin 3 sampai 4 orang dengan ibuku. Ah, ibu, aku capek sekali. Kenapa begitu penting tamu itu? Setelah mengeringkan rambutku dengan handuk, aku berpakaian segera turun ke bawah. Suara langkah kaki ku di atas tangga kayu ini mengalihkan perhatian mereka semua, sehingga sekarang hanya aku lah yang mereka lihat. “Nah, ini dia anakku. Choi Minho.”

*

“Ayah mengemudikan mobil, ibu duduk di jok samping kemudi sementara aku di belakang sendirian. Minhyuk? Dia merengek ingin ikut tapi ibu melarang. Aku tidak tahu kenapa. Mobil kami berhenti di sebuah areal gedung besar. Ini hotel bintang 5. Wah wah.. Jangan-jangan ini acara kantor ayah atas kenaikan pangkatnya. “Eunri, ayo turun!” Uh, ibu menghancurkan khayalan indahku. Aku turun dari mobil dan memasuki gedung itu. “Ayah, apakah bos ayah itu orang yang benar-benar kaya?” aku bertanya pada ayah yang dari tadi diam saja. “Ya, tentu saja dia kaya, tapi untuk apa kau bertanya akan hal itu?” ayah terlihat sedikit bingung. “Tidak apa, hanya ingin bertanya.” Jawabku ringan tanpa memusingkan kebingungan ayah.

Kami masuk ke sebuah restaurant mewah, hahaha, aku akan makan enak malam ini.

☻☻☻ TBC ☻☻☻

a.n: lanjutannya bakalan lama lo.. HAHAHAHAHA :D #labil

mian kalo banyak typo, malas ngeditnya..  /plak

Advertisements

6 thoughts on “Tea For Two [Part 1]

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s