Rain Fairy (2)

Casts:

Seo Eunkyung

Choi Minho

Recommended song:

Dan Moon – TVXQ

“Joeunah chimineyo songsaenim.” Teriak kelas. “Ye, Joeunah chimineyo anak-anak. Ottoke? Apa kalian sudah siap ulangan hari ini?” tanya songsaenim. “Sudah!” koor murid-murid itu patuh. “Belum!” celetuk seorang anak perempuan yang menjawab bertolak belakang seperti teman-temannya yang lain sehingga seluruh isi kelas itu melihat ke arahnya. “Waeyo Eunkyung-ah kau belum belajar?” tanya songsaenim lagi.

“Ha, err ah maksudku tadi aku belum sarapan songsaenim.” Jawab anak itu berbohong. “O, ya sudah ayo kita mulai ulangannya.” Seru songsaenim dan membagikan kertas soal ke meja murid-muridnya.

Eunkyung pov

“Omona, aku lupa kalau hari ini ada ulangan, aku belum belajar, kemarin aku tidur seharian. Mana tadi cuma aku yang mengaku belum belajar. Aaaaa, bagaimana nanti kalau nilaiku jelek, aku bisa dimarahi, apa aku menyontek saja ya? Ah anni, aku takut, aku kan belum pernah menyontek. Eotteokhajyo?” Di saat pikiranku tengah bergelut, songsaenim datang ke mejaku dan membagi kertas soal. “Gwenchanayo Eunkyung-ah? Wajahnmu pucat sekali.” Tanya songsaenim khawatir. Tiba-tiba sebuah ide terbersit. “Kepalaku pusing songsaenim. Err, sebenarnya aku masih sakit, kemarin aku demam tinggi, tapi aku ingin masuk karena ingat hari ini ada ulangan.”Aku berbohong. “Kalau masih sakit kenapa masuk?” songsaenim yang khawatir menempelkan punggung tangannya di keningku. “Memang agak hangat.” Kata songsaenim itu. “Ya sudah, sekarang kau pulang saja biar songsaenim yang telpon orang tuamu.” Tutur songsaenim. “Andwae! Eh, maksudku aku istirahat di ruang UKS saja songsaenim, siapa tahu nanti aku baikan, aku bisa belajar lagi, dari pada di rumah, aku pasti ketinggalan pelajaran.” Kataku lagi. “Ya sudah, kau memang anak rajin Eunkyung-ah!” puji songsaenim. “Mau diantar ke UKS?” tanya songsaenim. “Ah aku pergi sendiri saja, lagipula kan mau ulangan.” Balasku. “Ye, tidur dan istirahat ya, jangan main-main.” Seru songsaenim. Aku membungkuk dan pergi ke UKS. “Aish, apa aku tadi bohong ya? Tapi aku memang sakit kan? Berarti aku cuman bohong waktu bilang ingin ke sekolah karena ingat ada ulangan. Aish sudahlah, lain kali aku tak boleh bohong, tapi sepertinya aku sedang beruntung.” Aku tersenyum-senyum sendiri dan berjalan menuju UKS. Aku berjalan menuju ruang UKS, di sini sangat sepi karena murid yang lain sedang belajar di dalam kelas.

‘Kreet’ pintu tua itu berderit saat aku menekan gagangnya. “Silyehamnida!” tuturku sebelum masuk, namun sepertinya tidak ada orang karena tidak ada yang manjawab, Park agasshi, perawat yang biasa menjaga ruang UKS juga sepertinya sedang tidak ada. Aku terus masuk ke dalam menuju ranjang. Tapi aku salah, aku melihat seseorang sedang duduk di atas ranjang persis di sebelah jendela besar ruangan UKS yang menghadap ke padang rumput di bukit belakang sekolah. “Annyeong.” Aku mencoba memberitahukan keberadaanku. Namun orang tadi tak menoleh, sepertinya ia sedang asyik sendiri. Saat aku ingin menepuk pundaknya, orang tadi berbalik menghadapku. “Ya, kau yang waktu itu kan?”seruku. Ia mengangguk 2 kali. “Kau murid di sini?” tanyaku lagi karena ia tak memakai seragam sekolahku, ia memakai hanbok lagi seperti yang kemarin. “Bukan.” Jawabnya. “Lalu kenapa kau bisa kesini?” heranku. “Untuk menemuimu.” Jawabnya singkat. “Aku bukan hantu.” Serunya tiba-tiba menjawab pertanyaan dalam benakku. Aku pun melihat kakinya yang menyentuh tanah. “Hehehe, habisnya kau sangat aneh, datang tiba-tiba, perginya juga tidak bilang-bilang.” Aku menggaruk-garuk kepalaku. “O ya, Aku Eunkyung. Seo Eunkyung, kau?” aku memperkenalkan diri padanya. “Aku Ch…, aku peri hujan.” Balasnya. “Hahahaha, apa karena kemarin aku bertanya tentang peri hujan, makanya sekarang kau mengaku-ngaku sebagai peri hujan.” Aku tertawa mendengar jawabannya yang mengatakan bahwa ia adalah peri hujan. Ia sedikit kesal. “Ya sudah kalau tak percaya, aku pergi saja.” Ucapnya turun dari ranjang hendak melangkah, namun kutahan lengannya. Ah, ye ye, aku percaya kau peri hujan.” Aku berusaha menahan tawaku dan pura-pura berkata serius. “Tapi mukamu sungguh bertolak belakang dengan ucapanmu.” Katanya lagi, ia menggembungkan pipinya. “Hahahahahaah…. Aku yang sudah tak tahan malah kelepasan dan tertawa sambil memegangi perutku. “Berhenti menertawaiku, tak ada yang lucu tau!” mukanya memerah. “Ctarrr gluduk gluduk!!!” “Kyaa!” aku terlonjak dan memeluk sesuatu entah apa di sampingku karena terlalu terkejut. Beberapa saat setelah itu aku menyadari yang kupeluk ini sangat lembut dan hangat. “Lepaskan aku, kau membuatku sesak nafas.” Tutur sebuah suara. Aku pun melepas pelukanku, pada sesuatu lebih tepatnya seseorang yang tak lain adalah anak laki-laki aneh tadi. “Hehe, mian, aku takut petir.” Kataku tanpa dosa. “Tapi kau memelukku erat sekali babo. Itulah akibatnya menertawakan peri hujan.” Katanya dengan nada mengejek. “Jadi kau benar-benar peri hujan?’ tanyaku. “Kan sudah kukatakan dari tadi.” Balasnya. “Petir tadi itu kau yang membuatnya?” tanyaku lagi mulai mempercayainya. “Tentu saja!” ia berkata tak acuh. “Waw, keren sekali! Bisa kau ajarkan padaku?” tanyaku semakin tertarik. “Dasar aneh, katamu kau takut petir?” tanyanya heran. “Memang, tapi kan kalau aku sepertimu aku jadi bisa mengendalikannya, jadi aku tak perlu takut disambar petir lagi.” Jawabku. “Aish, mana mungkin, kau kan bukan peri hujan sepertiku.” Ia mengucapkannya seperti mengejekku, tapi aku tak tahu. “Ya, dibanding aku, kau lebih tak mirip peri hujan, biasanya kan peri itu perempuan cantik sepertiku, mana ada peri laki-laki.” Sambungku tak mau kalah. “Ya, apa maksudmu? Apa aku masih kurang meyakinkan seperti peri hujan?” ia mulai terlihat kesal lagi. “Yup, tepat sekali. Lagipula, mana sayapmu? Peri itu pasti memiliki sayap, dasar palsu, kau bukan peri!” aku semakin mengolok-oloknya, tapi tak serius tentunya, aku hanya senang melihat muka kesalnya yang lucu itu. “Dasar semua anak perempuan memang cerewet.” Sindirnya. “Sendirinya juga cerewet, padahal awalnya kukira kau anak pendiam yang keren, ternyata kau namja yang sangat cerewet dan sama sekali tidak keren.” Ledekku. Ia menarik tanganku dan keluar dari ruang UKS. “Mau kemana?” ia terus menarik tanganku hingga kami setengah berlari sama seperti kemarin. Aku menyadari kini telah ada di atas bukit yang nampak dari jendela tadi. “Aku itu peri hujan, kau harus percaya itu, seperti kata halmonimu aku adalah takdirmu.  Bila kau bahagia, maka aku akan bahagia, hujan turun turun dengan deras tanpa petir seperti luapan perasaan senang kita, kalau kau sedih, aku pun akan sedih, dan petir akan menyambar-nyambar. Makanya jangan pernah bersedih, nanti banyak petir. Kau takut petir kan?” tanyanya. Aku menatapnya bingung namun tetap mengangguk. “Satu lagi yang paling penting Kau tak boleh melupakanku, ara!” tanyanya lagi “Araseo.” Lagi-lagi aku tak mengerti maksud perkataannya. Sakit kepalaku mulai berulah, dan kali ini sangat menyiksaku, aku serasa melayang, kulihat anak tadi menopang tubuhku yang ambruk, ia menatapku cemas. Setelah itu ku dengar suara yang meneriakkan sebuah nama.

“EUNKYUNG-AH!!”

***

“Eunkyung-ah” samar-samar aku mendengar namaku dipanggil. “Aku membuka mataku, berat sekali. “Umma!” panggilku sedikit lemah. “Umma, kok aku di rumah, tadi kan aku di bukit, dan umma, kenapa menangis?” tanyaku melihat beberapa tetes air mata yang yang jatuh dan membuat alur di pipi umma. Umma memelukku dan sekarang tangisnya semakin menjadi. Aku bingung sekali, namun semakin umma menangis, aku makin merasa buruk. “Halmoni sudah tak ada, ia sudah pergi menyusul haraboji.” Umma berbicara di tengah isakannya. Sejenak aku mencerna arti ucapan umma barusan. Dan hanya bisa terdiam. Aku tak dapat memikirkan dan merasakan apapun. Kepalaku seperti kosong. Hingga saat dibawa ke rumah duka, aku masih hanya diam. Suasana duka menyelimuti tempat ini. Appa baru saja datang. Entah bagaimana caranya ia ke sini, appa terlihat sangat sedih tak beda dengan semua orang di sini. Ia menghampiri aku dan umma.

Keesokan harinya pemakaman baru dilaksanakan karena menunggu keluarga dari luar kota. Pukul 3 sore, pemakaman telah selesai dilakukan. Langit mendung menghantarkan kepergian halmoni. Yang tadinya hanya gerimis, telah jadi rintik hujan dan sekarang benar lebat. Semua orang telah berpulangan, sementara yang tersisa hanya umma, appa dan keluarga yang lain, itu pun akan segera meninggalkan tempat ini karena hujan benar-benar besar. Petir dan kilat berdatangan. Saat kami sudah melangkah menjauh, kakiku menggerakkanku kembali ke makam halmoni. Barulah tangisku pecah. Kesedihanku mengalahkan rasa takutku pada petir yang terus menyambar. Tubuhku basah kuyup, Air mata dan air hujan telah menyatu. Aku memeluk gundukan tanah itu, kemudian umma dan appa mengejarku kembali ke makam, umma memelukku yang basah kuyup dan kotor, sementara appa memayungi kami.

***

Seminggu telah berlalu. Keadaan sudah mulai seperti dulu. Kesedihan perlahan-lahan pergi, appa juga tidak pergi bekeja lagi. Katanya wajib militernya sudah selesai. Dan selama seminggu ini, aku juga tak bertemu dengan peri hujanku lagi. Ia menghilang entah kemana, waktu di bukit itu terakhir kalinya kami bertemu. Waktu kutanyakan pada songsaenim, ia bilang aku hanya sendirian waktu ditemukan pingsan di bukit itu. Aish, dasar suka datang dan pergi semaunya.

“Eunkyung-ah!” panggil appa. “Ye appa.” balasku. “Eunkyung, ayo siap-siap, besok kita akan pindah ke Seoul, karena apaa akan bekerja di sana.” Ucap appa.

tbc

Advertisements

4 thoughts on “Rain Fairy (2)

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s