Rain Fairy (1)

 

Casts:

Seo Eunkyung

Choi Minho

Recommended song : Day Moon – TVXQ

Eunkyung pov

“Umma, kenapa ramai sekali?” tanyaku. “Oh, besok ada upacara memohon hujan nak.” Jawab umma. “Upacara memohon hujan? Apa itu?” tanyaku masih penasaran. “Itu tradisi desa kita dari dari turun temurun. Ayo kita berangkat!” ajak umma. “Ye umma!” aku memasang sepatu. “Kkaja umma!” pintaku menarik tangan umma. “Ye, Eunkyung.” Kata umma. “Umma, bagaimana upacara memohon hujan itu?” tanyaku lagi saat kami sedang berada di dalam bus. “Upacara ini dilakukan oleh orang-orang desa saat mulai masa tanam supaya ladang mereka jadi subur, dulu halmoni juga bilang pada umma bahwa hujan pertama saat musim panas adalah hujan yang membawa berkat, karena saat itu peri hujan juga turun bersama hujan itu.” Tutur umma. “Peri hujan? Apakah dia cantik?” tanyaku.

“Dia bukan perempuan Eunkyung, peri hujan adalah seorang laki-laki. Ah, kita sudah sampai, ayo turun.” Umma menggenggam tanganku, kemudian kami turun dari bus.

“Umma, aku mau kue beras.” ucapku saat kami tengah berjalan. “Nanti umma belikan, kita ke rumah sakit dulu ya.” Bujuk umma.

Kami pun sampai di rumah sakit daerah, yang jauh dari desa, umma segera membawaku ke tempat suster-suster, kemudian aku masuk ke sebuah ruangan. Umma berbicara dengan seorang ahjussi yang memakai baju putih, kurasa ia seorang dokter. Sementara itu aku hanya duduk sambil melihat-lihat. Lalu ada suster yang mengganti pakaianku, pakaiannya agak aneh. Aku pun dibawa untuk berbaring ke ranjang dan dokter memakai alat yang aneh di telinganya, ia menempelkannya  beberapa kali ke perutku, alat itu dingin sekali. Kemudian suster itu menyuntikku. Aku bukan anak cengeng, jadi aku tidak akan menangis kalau cuma disuntik, rasanya hanya seperti digigit semut. Dokter memeriksaku lagi dengan alat-alat lain, aku tidak tahu itu apa, yang pasti alat-alat itu terlihat sangat keren, sudah kuputuskan aku ingin menjadi dokter. Setelah semuanya selesai, suster membawaku untuk berganti pakaian lagi, sedangkan umma mengikuti ke ruangan dokter.

***

Doctor’s room

Author pov

“Bagaimana hasilnya dokter?” tanya umma. “Tadi ibu bilang Eunkyung sering mimisan dan mengeluh kepalanya pusing kan? Begini bu, saya belum bisa memberi tahu Eunkyung menderita sakit apa karena hasil lab baru keluar besok. Sebelumnya ibu jangan terlalu takut dan cemas, tapi dari diagnosa saya sesuai keluhan Eunkyung, saya menduga bahwa ia menderita kanker darah atau leukimia.” Tutur dokter sangat hati-hati perlahan. Umma yang tadinya antusias mendengar hasil pemeriksaan Eunkyung menjadi lemas. Ia bersandar ke punggung kursi, mukanya menjadi pucat. “Bagaimana bisa dokter? Selama ini Eunkyung sehat-sehat saja, ia mengeluh pusing hanya beberapa waktu belakangan ini.” Tutur umma. “Maaf bu, ini baru diagnosa saya, ibu jangan terlalu khawatir, hasil yang sebenarnya akan keluar besok, lebih baik kita berdoa saja bahwa semua diagnosa saya itu salah.” Jelas dokter itu mencoba menenangkan ibu pasien, walaupun sering berhadapan dengan situasi seperti ini, dokter itu tetap merasa sedih bila menyampaikan kabar yang buruk mengenai pasiennya seperti sekarang. “Ye dokter, gamsahamnida mudah-mudahan Eunkyung tidak kenapa-napa.” Balas umma. Tiba-tiba pintu ruangan dokter terbuka dan muncul seorang suster muda bersama anak perempuan berumur 6 tahunan yang sangat manis dan tak lain adalah Eunkyung. “Ahjussi dokter, alat-alat yang tadi itu apa saja keren sekali? Lalu yang ada di leher ahjussi dokter itu apa? Tadi waktu di perutku itu dingin sekali, ada esnya ya?” tanya Eunkyung polos. “Ho, yang ini, ini namanya stetoskop Eunkyung, kamu mau lihat?” tanya dokter. “Ye aku mau!” seru Eunkyung dengan mata berbinar, kemudian ia meraih stetoskop itu dari tangan dokter dan memakainya di leher. “Suster, aku seperti ahjussi dokter kan?” tanyanya pada suster yang berdiri di samping Eunkyung. “Ye, Eunkyung, kamu cocok sekali, jadi mirip ahjussi dokter.” Tutur suster sambil berjongkok menyetarakan tingginya dengan Eunkyung. “Sekoskop ini untuk apa ahjussi dokter?” tanya Eunkyung lagi. “Stetoskop Eunkyung.” Kata umma. “Ah iya stetoskop, untuk apa?” “Stetoskop itu untuk mendengar detak jantung, caranya seperti ini.” Dokter itu mendekati Eunkyung dan memakaikan stetoskopnya ke telinga Eunkyung kemudian menempelkan ke dada sebelah kiri Eunkyung. “Aku mendengar dug dug dug ahjussi dokter.” Kata Eunkyung serius. “Hahahaha, kenapa kau jadi serius sekali, itu tadi bunyi jantungmu.” Kata dokter lagi. “Oooo… tapi telingaku jadi sakit karena ditekan stetoskop.” Kata Eunkyung. “Memang seperti itu, nanti kalau sudah biasa pasti tidak sakit lagi.” Jelas dokter. “Ya sudah Eunkyung, ayo pulang, katanya mau kue beras.” Ajak umma tersenyum. “Ah iya, aku lupa. Ahjussi dokter dan suster aku pulang dulu ya? Sampai jumpa kapan-kapan aku ke sini lagi.” Kata Eunkyung membungkuk. “Ya, sampai jumpa Eunkyung!” balas dokter dan suster membungkuk pula. “Kami pulang dulu pak dokter, suster!” pamit umma. Akhirnya Umma dan Eunkyung keluar dari rumah sakit. “Umma, aku mau jadi dokter kalau sudah besar nanti!” celetuk Eunkyung saat mereka keluar dari rumah sakit. “Ye, sekolahlah yang rajin supaya nilaimu bagus dan bisa jadi dokter.” Kata umma. “Tentu umma!” balas Eunkyung riang. Umma hanya bisa tersenyum sedih melihat anaknya yang baru saja didiagnosa menderita penyakit parah. Namun ia menahan air matanya agar tak jatuh di depan Eunkyung. “Umma, kkaja, aku sudah lapar nih!” seru Eunkyung yang agak jauh di depan umma. “Ye Eunkyung, kau mau makan es krim? Tanya umma. “Mau, aku mau umma!” seru Eunkyung girang.

***

Eunkyung pov

“hoam!” aku mengucek mataku, aku tak melihat umma, kasurnya juga sudah disimpan. Aku melipat kasurku kemudian keluar kamar. “Halmoni, umma mana?” aku bertanya pada halmoni yang ada di teras rumah. “Eunkyung-ah! Sudah bangun? Umma tadi pergi sebentar lagi juga pulang. Enkyung-ah sana mandi, kau mau ikut upacara memohon hujan kan?” tanya halmoni. “Ah, ye halmoni.”

***

Author pov

Rumah Sakit

Dokter memberikan sebuah amplop kepada seorang perempuan berumur 29 tahun. Perempuan itu menerimanya, kemudian membacanya dengan hati-hati. Tak berapa lama air mata ibu muda itu malah mengalir. “Maaf bu, tetapi memang seperti itulah kenyataannya, anak ibu positif menderita kanker darah. Namun jangan khawatir, karena ini masih stadium awal, sel kanker masih bisa dijinakkan dengan terapi-terapi, tapi tidak tertutup kemungkinan bahwa Eunkyung tak akan bertahan lama.” Jelas dokter tersebut. “Apa yang harus saya lakukan dok, Eunkyung masih terlalu kecil?” tanya umma di sela isak tangisnya. “Ibu harus melakukan terapi-terapi yang rutin untuk Eunkyung, tapi di rumah sakit daerah, peralatannya belum lengkap. Jadi lebih baik ibu membawa Eunkyung ke Seoul untuk pengobatannya.

***

Eunkyung pov

“Halmoni, aku sudah siap.” Seruku menuju teras. “Eunkyung-ah, kau harus pakai hanbok. Kata halmoni begitu melihaku keluar rumah dengan kaos dan celana panjang. “Hah? Kenapa harus pake hanbok?” tanyaku. “Memang begitu tradisi leluhur kita. Ayo masuk ke dalam biar halmoni pakaikan hanbok.” Tutur halmoni merangkulku dengan lengannya yang ringkih. Sekitar 15 menit halmoni membantuku bersiap-siap, kemudian beliau menyisir rambutku yang tergerai panjang. “Eunkyung-ah, kau cantik sekali!” seru halmoni melihat pantulan bayanganku di cermin. “Cucu siapa dulu dong!” balasku. “Hahahah…. Ya sudah, ayo kita pergi nanti ummamu akan menyusul.” Pinta halmoni. “Kkaja halmoni!” aku menarik tangan halmoni dan keluar dari rumah, setelah memastikan semua pintu sudah dikunci, kami berdua menyusuri jalan desa menuju ladang. Pagi ini lebih ramai dari biasanya, aku melihat orang-orang desa juga memakai hanbok dan berbondong-bondong menuju ladang. “Halmoni, kemarin umma bilang kalau peri hujan akan turun pada saat hujan pertama di musim panas. Apa halmoni pernah melihat peri hujan? Orangnya seperti apa?” tanyaku penasaran. “Wah, nanti kau juga akan tahu sendiri karena ia adalah takdirmu.” Tutur halmoni. Aku yang tak mengerti ucapan halmoni barusan pun bertanya lagi. “Peri hujan takdirku? Memangnya takdir itu apa halmoni? Apa itu nama kue?” dengan polosnya aku bertanya. “Hahaha… Eunkyung-ah, nanti kalau sudah besar pasti akan mengerti, ayo kita lebih capat sebentar lagi upacaranya akan dimulai.” Kata halmoni mengusap-usap kepalaku. Aku benar-benar tak mengerti apa yang dikatakan halmoni, tapi sudahlah.

Kami telah sampai dan upacara segera dimulai, orang-orang desa berkumpul kemudian berdoa bersama-sama. Dari kejauhan aku melihat umma datang, aku melambaikan tanganku dan umma pun segera bergegas ke tempatku dan halmoni, kemudian melanjutkan sembahyang. Akhirnya sembahyang telah selesai, sekarang tinggal perayaan saja. Aku melihat tarian-tarian tradisional dari desa kami. Orang bergembira semua, namun aku tetap merasa bosan. “Umma, aku bosan.” Aku menarik-narik chima yang umma kenakan. Ya sudah, bermainlah dengan temanmu, tapi jangan jauh-jauh dari sini. Ara?” “Araseo umma!” jawabku patuh. Aku menyusup keluar dari sana dan menuju ke pinggir jalan. Aku menengadahkan kepalaku le langit. Langit pun sudah mulai mendung. Dan ketika aku menolehkan pandanganku ke depan, aku melihat seorang anak laki-laki memperhatikanku. Ia mengenakan jeogori warna biru tua sepertiku. Aku berjalan hendak menghampirinya, tapi ia malah berlari meninggalkanku. “Ya! Chankaman!” teriakku berusaha menghentikannya, namun ia tak menghiraukanku dan terus menjauh. “Aku berlari mengikutinya sambil terus berteriak. “Ya kau!!” “Chankaman!”. Tiba-tiba ia berhenti dan berbalik padaku. “Hosh hosh hosh…” aku berhenti beberapa langkah darinya menunduk memegangi lutuku dan mengatur nafas yang terengah-engah. “Hah akhirnya kau berhenti. Ada apa sih, kenapa kau berlari begitu aku ingin mendekat, kau pikir aku hantu?” aku menarik nafas lalu menghembuskannya keras-keras.

Dia hanya diam dan menatapku aneh. “Ya, kenapa melihatku seperti itu?” kataku lagi. Tiba-tiba ada tetesan air jatuh tepat di ujung hidungku, aku mendongak ke atas dan tetes tetes air turun semakin deras dan lebat, saat aku menoleh lagi ke depan, tiba-tiba anak tadi sudah ada tepat di depan mukaku. “Kyaa!!!” teriakku terkejut. “Aish, kau ini mengagetkanku saja!” kataku memegang dadaku yang berdetak cepat. Hujan semakin deras, rasanya seperti disiram dengan gayung raksasa penuh air. Anak tadi menarik tanganku kami berlari mencari tempat berteduh, dan kini aku ada di depan sebuah rumah. Aku duduk merapat ke dinding. Bajuku hampir basah seluruhnya. Anak laki-laki itu mengikuti duduk di sampingku. Aku hanya memperhatikan hujan yang kini malah semakin deras dan tidak menunjukkan tanda-tanda untuk mereda. “Hei, kata umma saat hujan pertama di musim panas, peri hujan akan turun dan membawa berkat, kau tahu itu?” tanyaku memecah keheningan. Dia mengangguk. “Lalu kata halmoni peri hujan itu takdirku. Aku tidak mengerti apa maksudnya, kau tahu apa takdir itu?” tanyaku sambil menoleh padanya. “Lihat hujannya!” ia yang dari tadi diam tiba-tiba berbicara, aku pun langsung menoleh lagi melihat hujan. “Butiran air itu sangat indah kan? Berkilauan seperti permata. Dan baunya sungguh wangi dan sejuk.” Ia mengatakannya sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya. Aku pun mengikutinya dan kurasa memang baunya wangi, sangat wangi malah. Aku pun jadi terus menghirup udara banyak-banyak dan menghembuskannya perlahan-lahan. “Lihat rumput itu!” perintahnya lagi sambil menunjuk rerumputan di depan rumah tersebut. “Rumput itu sudah berwarna kecoklatan dan hampir mati, namun hujan ini datang membagikan kesegarannya untuk mengembalikan rumput itu seperti dulu. Menjadi rumput yang hijau dan segar. Bayangkan kalau hujan ini tak turun sekarang, bisa saja besok rumput itu akan benar-benar mati. Mungkin itu yang dinamakan takdir.” Ia berbicara panjang lebar, dan lagi-lagi aku tak mengerti maksud ucapannya. “Ya, omonganmu seperti orang dewasa, tapi percuma, aku tak mengerti apa maksudmu.” Ucapku.

Aku benar-benar kedinginan sekarang, sekujur tubuhku menggigil, baju yang kukenakan pun sudah kering di badan saking lamanya menunggu hujan reda. Aku merasa kepalaku jadi pusing lagi. Aish, kepalaku benar-benar sakit. Aku memegangi kepalaku, dan anak laki-laki tadi membaringkan kepalaku di pangkuannya, setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi. Mungkin aku tertidur.

***

Aku terbangun karena mendengar kicauan burung. Kemudian mengerjap-ngerjapkan mataku dan duduk. Saat aku mau duduk, ada yang terjatuh dari kepalaku, rupanya kain yang agak basah. Aku mencoba mengingat-ingat sesuatu, aku mengingat tentang anak yang kutemukan dan berteduh bersama saat hujan, kukira itu semua hanya mimpi, namun umma tiba-tiba masuk ke kamar. “Eunkyung-ah, sudah bangun ya.” Kata umma meletakkan nampan dan menghampiriku, umma menyentuh keningku dengan punggung tangannya. “Sudah tidak demam lagi. Kemarin kenapa kau bisa tertidur di teras rumah nak? Kemarin ibu menemukanmu dengan baju sudah kering tapi rambutmu masih basah, kau main hujan-hujanan ya?” tanya umma. Aku terdiam sebentar. ‘Berarti itu bukan mimpi, dan yang kemarin itu ternyata di depan rumah.’ “Eunkyung-ah?” ujar umma mengusik lamunanku. “Ah, ye umma., aku tak main hujan-hujanan. Kemarin waktu aku pergi dari ladang, aku jalan-jalan, tapi tiba-tiba hujan turun, karena bingung, aku langsung lari ke rumah, aku menunggu di teras hingga ketiduran umma.” Ujarku berbohong. “Umma sedikit tidak yakin, tapi mungkin karena alasanku masuk akal, umma tak bertanya lagi. “Ya sudah, hari ini mau ke sekolah atau tidak? Kalau masih tidak enak badan, biar umma izinkan pada songsaenimmu, ottoke?” tanya umma. “Aku sudah sehat kok umma, aku sekolah saja, dari pada di rumah aku bosan.” Kataku. “Kalau begitu ayo mandi dan cepat siap-siap, nanti kau terlambat.” Tutur umma. “Ye umma!” balasku. “Setelah mandi makan buburnya ya, nanti umma letakkan di meja makan.” Kata umma lagi. “Ye umma! Err, umma, apa waktu aku tertidur di teras aku hanya sendirian?” tanyaku. “Ye, waeyo? Heran umma. “Ah, anni.” Aku mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.

***

Author pov

“Umma, hasil lab sudah keluar, dan Eunkyung memang divonis menderita kanker darah, meski baru stadium awal, harus dilakukan terapi dan dokter menyarankan terapi dilakukan di rumah sakit yang ada di Seoul karena peralatan di rumah sakit daerah tidak lengkap.” Ucap umma Eunkyung. “Ya Tuhan, kenapa ini semua menimpa Eunkyung, dia masih terlalu kecil.” Kata halmoni, suaranya terdengar sangat sedih. Umma mendekat ke halmoni dan mengusap-usap punggung halmoni. “Appanya Eunkyung akan menyelesaikan wajib militernya 2 bulan lagi, mungkin kami akan pindah ke Seoul.” Ucap umma Eunkyung. Kini 2 wanita itu telah menangis, air mata tak hentinya mengalir, tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang melihat mereka dengan bingung.

***

 

Eunkyung pov

 

Saat aku mau ke meja makan, tak sengaja kudengar pembicaraan umma dan halmoni di halaman belakang rumah. Aku mengintip dari pintu, dan mendengarkan pembicaraan mereka, lalu saat umma menoleh ke belakang aku melihatnya menangis, begitu juga dengan halmoni. Sungguh, aku bingung sekali, tapi aku langsung duduk di meja makan saat umma masuk ke rumah. Aku menyantap bubur dan pura-pura tidak tahu apa-apa, aku juga melihat umma menyeka matanya, tapi aku enggan bertanya kenapa umma menangis. “Umma, aku pergi dulu ya, buburnya sudah habis.” Kataku mengambil tas dan membungkuk pada umma. “Ye, hati-hati di jalan ya!” kata umma. “Halmoni mana umma?” tanyaku. “Halmoni ada di halaman belakang.” Kata umma lagi. “Aku segera menuju halaman belakang. “Halmoni, aku berangkat sekolah dulu ya! Kataku membungkuk pada halmoni. “Namun halmoni malah memelukku, bukan pelukan yang biasa, pelukan ini sangat sedih, bahu halmoni bergetar dan seragamku yang di pundak juga terasa basah, aku rasa beliau sedang menangis, pelukan ini seperti salam perpisahan. Aku tak berkata apa-apa, namun aku balas memeluk halmoni dengan erat. Pelukannya pun melonggar, aku melihat muka halmoni berlinang air mata. “Halmoni kenapa menangis?” tanyaku. “Gwenchana Eunkyung-ah. Ayo pergi sekolah, belajar yang rajin ya,kata umma Eunkyung mau jadi dokter kan? Kalau begitu harus berusaha keras. Ara?” tanya halmoni. “Araseo halmoni. O ya halmoni, sebenarnya kemarin aku bertemu dengan anak laki-laki seumuranku saat upacara memohon hujan, saat kutanya apa dia tahu peri hujan, ia mengangguk dan ia bercerita tentang hujan dan rumput.” Kataku panjang lebar. “Kau melihat anak laki-laki saat upacara memohon hujan?” tanya halmoni. “Ye, memang kenapa?” tanyaku lagi. “Eunkyung-ah, mungkin ia adalah takdirmu.” Kata halmoni, halmoni tersenyum cerah, sangat lembut dan hangat. “Aigo, lagi-lagi halmoni mengatakan takdirku, aku tak mengerti.” Ucapku menggembungkan pipiku. “Hahaha, sudahlah, ayo pergi sekolah nanti terlambat.” Perintah halmoni. “Ye, selamat tinggal halmoni.” Kataku membungkuk dan melambaikan tanganku dengan tersenyum, tapi aku merasa aneh. “Ye, selamat tinggal Eunkyung!” balas halmoni. Aku melangkah keluar dari pekarangan rumah dan berjalan kaki menuju sekolah. Namun banyak, sekali yang kupikirkan, mulai dari pembicaraan umma dan halmoni, kenapa mereka menangis, anak laki-laki yang dikatakan halmoni takdirku, lalu, ah ya! Satu lagi yang janggal dan baru kusadari, tadi aku mengucapkan selamat tinggal??

***

tbc

Please leave your comment :)

Advertisements

2 thoughts on “Rain Fairy (1)

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s