GLASSES (part 3/end)

Casts:
Han Mikyong

Lee Taemin

Lee Jinki

Park Ranran

Previous Part:

part 1, part 2

‘Mereka akrab sekali.’ Batinku. “Kau cemburu?” tanya seseorang. “Mungkin.” Jawabku tanpa menoleh dan terus menatap 2 orang itu dari jauh. “Aku juga!” 2 kata singkat itu sukses membuatku menoleh pada si pemilik suara.

Ranran’s pov

“Maksudmu?”

“Ha? Apa?” tanyanya balik.

“Tadi itu, kau bilang ‘aku juga’, apa maksudmu?” tanyaku.

“Ah sudahlah, itu tak penting. Bagaimana? Kau sudah minta bantuan gadis itu?” tanyanya mengalihkan pembicaraan. Aku beralih duduk di tempat yang tadi diduduki gadis itu dan Taemin sedangkan oppa tetap berdiri di sampingku. “Tadi aku mau kasih tau, tapi Taemin malah datang tiba-tiba, makanya aku langsung pergi ke sini.” Ceritaku. “Oppa!” panggilku, namun tak ada respon. “Jinki oppa!” panggilku sekali lagi dengan agak keras. “Ah, ye Ranran-ah.” Balasnya. “Kau memikirkan sesuatu?” tanyaku curiga.

Jinki’s pov

“Kau memikirkan sesuatu?” ia terlihat curiga. Aku duduk di sampingnya. “Ranran-ah, mianhe.” Ucapku menatap ke dalam matanya, namun yang kutemukan hanya kekosongan, tak ada kehidupan di dalamnya. “Ha? Kau ini kenapa sih oppa? Kau sangat aneh.” Ucapnya. “Aku, kau jadi begini karena aku.” Aku menengadahkan kepalaku ke langit, aku tak sanggup bila harus menatapnya, karena hanya akan membuatku merasa bersalah. “Haha, oppa kau ini, mestinya aku yang harus minta maaf padamu, kalau saja aku tak ceroboh waktu itu, pasti semuanya tak akan terjadi.” Ucapnya sambil tertawa garing dan sangat dipaksakan.Langit yang tadinya cerah kini menjadi gelap, rintik hujan jatuh perlahan membasahi tanah. Dan akhirnya turun lebat. Sedangkan kami, kami masih terdiam satu sama lain, terlarut dalam pikiran masing-masing. “Oppa! Kau jatuh cinta pada gadis itu kan?”

* * *

Mikyong’s pov

“UNGA! HENAFA HAK HANGUNIN AHU HIH-umma kenapa tak bangunin aku sih-? aku turun dengan tergopoh-gopoh, tangan kanan membawa tas, tangan kiri membawa kaus kaki dan mulut yang tersumpal dasi. “Ya, umma sudah membangunkanmu dari jam 5, kau saja yang tidur seperti sapi.” Balas ummaku dari dapur. Aku berlari kecil menuju pintu dan langsung duduk di lantai memasang kaus kaki dan sepatu dengan buru-buru. Umma muncul dari dapur membawa nampan berisi sebuah gelas tinggi, dan tanpa pikir panjang kuambil gelas itu dan langsung meneguk susu coklat di dalamnya. “Umma, aku berangkat dulu!” pamitku membungkuk. “Ya! Hati-hati di jalan, jangan pulang telat ya!” teriak ummaku agar aku yang sudah berlari ke pagar masih dapat mendengarnya. Kugerakkan kakiku dengan cepat menuju halte, dan “OH NO!!!! CHANKAMAN!! HOI BUS! PAK SUPIR BUS! CHANKAMAN! PENUMPANG SETIAMU INI BELUM MASUK KE BUS!” aku berteriak dan terus berlari sangat kencang, bahkan sudah kukeluarkan kecepatan lari tercepatku, namun dengan sialnya, bus hijau besar jelek itu malah semakin mempercepat lajunya. Hingga aku benar-benar tak sanggup lagi mengejarnya.

Aku berhenti berlari, dan berjongkok di jalanan. “Hosh hosh..” benar-benar kehabisan nafas. “Ya!” Ada yang menepuk pundakku dan sontak aku berbalik kemudian mendapati makhluk ini. “Ada apa? Mau mengejekku karena aku ketinggalan bus? Atau karena aku tak bisa melayang sepertimu dan dengan mudah mengejar bus tanpa perlu capek dan ngos-ngosan?” kekesalanku kutumpahkan padanya. “Anni, aku mau tanya kenapa kau tak berteriak seperti biasanya saat melihatku?” ia bertanya dengan polosnya. “Errkh, AAAAAAAAA!!” puas kau?” kesalku. Kulihat ia malah mengangguk-ngangguk senang. “Ya! Mau kemana kau?” katanya saat melihatku bangkit dan berjalan. “Kau pikir aku mau kemana?” tanyaku balik. “Hmm, ke sekolah.” Jawabnya. “Kenapa masih bertanya kalau kau sudah tau?” ucapku dengan kesal. “Sudahlah, tak usah ke sekolah, sekali-sekali bolos tak apa kan, lagipula kau pasti sudah sangat terlambat.” Ujarnya santai. “Kalau ketahuan umma sama saja dengan cari mati.” Balasku. “Makanya jangan sampai ketahuan.” Jawabnya pula.

“Annyong Ranran!” sapa seorang ahjumma. “Ah, Ahjumma! Annyong!” balas Ranran, dan aku pun jadi ikut membungkuk. “Hei, ahjumma tadi juga hantu.” Bisikku setelah ahjumma tadi menjauh. “Menurutmu?” tanyanya lagi. “Dia hantu.” Balasku. “Kalau begitu kenapa masih bertanya kalau sudah tau.” Balasnya pula “Kau mencuri kalimatku barusan.” Ujarku datar.

“Jadi?” tanyanya yang tidak kumengerti.

“Apa?” aku nalik bertanya.“Kau mau bolos atau tidak?” jelasnya.

“Oh, baiklah!” jawabku akhirnya. “O iya, Kemarin sore kau kan ingin minta bantuanku, sebenarnya kau mau minta tolong apa?” aku bertanya tentang pembicaran kami yang terputus kemarin.

“Hhmm, aku memang mau membicarakan itu, tapi kita cari tempat lain saja.” Ujarnya. “Kenapa rupanya?” tanyaku pula.

“Karena sekarang semua orang menyangka kalau kau adalah siswa yang depresi karena nilai-nilai yang buruk di sekolah, sehingga kau berbicara sendirian seperti orang gila.” Jelasnya.

Aku mengitarkan pandangan ke sekeliling, yang benar saja, para pejalan kaki yang lewat melihatiku aneh dan berbisik-bisik dengan temannya. Aku pun hanya bisa melemparkan senyum dan tawa garing, sambil terus membungkuk, kemudian menarik tangan hantu itu pergi secepatnya dari tempat ini.

Ran Ran’s pov

“Hosh, hosh, hwaa, aku lelah sekali.” Ucapnya setelah kami, err, maksudku dia lari-lari. “Dasar, baru segitu saja sudah ngos-ngosan!” ejekku. “Cepat ceritakan hantu perempun berseragam sekolah!” pintanya sambil mengambil tempat duduk di bawah pohon yang rindang. “Ya, kalau dipikir-pikir, kau belum tahu namaku kan?” tanyaku. “Err, benar juga, siapa namamu?” tanyanya. “Park Ranran, panggil Ranran saja, jangan hantu perempuan berseragam sekolah, apa kau tidak capek memanggilku dengan nama sepanjang itu.” Ujarku. “Salahmu sendiri kenapa tak memperkenalkan diri, kalo aku, namaku Mikyong, Han Mikyong!” ia pun memperkenalkan dirinya. “Sudah tahu kok, kemarin kan Taemin memanggilmu.” Jawabku.. “Taemin??? Kau kenal Taemin.” Ia terlihat heran. “Yap! Makanya dengar ceritaku.!” Pintaku. “Ya, bukankah dari tadi aku memang sudah memintamu bercerita?” ucapnya sedikit kesal. “Hehehe.. Ok, dengarkan ya!”

“Semuanya berawal dari kacamata yang sekarang kau pakai!”

“Mwo!” ia berteriak kaget.

“Sudah, jangan berisik! Coba lepaskan kacamatamu!” pintaku.

Ia pun melepasnya, kemudian mengerjap-ngerjap dan memakai kacamata itu kembali.

“Jadi aku bisa…”

“Ye, kau bisa melihatku karena kacamata itu.!” Selaku.

“Ta, tapi aku dapat kacamata ini dari temanku.” Balas Mikyong.

“Tolong bantu agar Taemin dapat merelakanku dan hyungnya!” ucapku lagi.

“Tunggu, aku tidak mengerti, apa sih sebenarnya yang terjadi?” tanyanya.

* * *

Mikyong’s pov

Aku berjalan layaknya orang kelaparan, pelan dan gontai.

“Ya, kau kenapa!” seseorang menyapaku dengan suara yang kurasa familiar.

“Jinki oppa!” pekikku begitu memandangnya.

“Hhmm, kau sudah tau semuanya ya?” tanyanya. Aku pun mengangguk.

“Sudah tahu kan kenapa tanganku selalu dingin?” ia tertawa kecil, sengaja agar pertanyaan itu lebih terdengar sebagai candaan. Aku pun tertawa garing menanggapinya. Kami berjalan berdampingan tanpa suara, jalanan ini pun entah kenapa sngat sepi. Tiba-tiba ia berhenti dan menarik tanganku, tubuhku pun kehilangan keseimbangan hingga akhirnya jatuh tepat dalam pelukan dia.Hangat. Hanya itu yang kurasakan.

Entah sudah berapa lama ia mendekapku hingga akhirnya melepaskan pelukan itu perlahan

“Saranghamnida.” Ucapnya.

“Oppa, aku…”

“Ye, aku tahu, kalau saja aku masih hidup, kau pasti tak akan kuserahkan pada orang lain sekalipun itu adikku.” potongnya.

“Gomawo oppa, walaupun kita baru kenal sebentar, aku sudah menganggapmu seperti kakakku, selama ini aku tak pernah tahu rasanya punya saudara, aku menyayangimu!” aku memeluknya sekali lagi, mungkin ini untuk yang terakhir.

* * *

Taemin’s pov

“Han Mikyong!” panggilku kektika melihatnya berdiri di dekat gerbang sekolah Dan aku juga tak tahu kenapa aku memanggilnya. “Ah, A annyong Taemin-shi!” balasnya. “Kau, kenapa baru datang sekarang?” kebetulan sekali satpam sedang tidak ada, aku memanjat gerbang sekolah setinggi 2 meter itu dan mendarat dengan sukses di hadapannya. “Naik ke punggungku!” aku berjongkok di hadapannya. “Taemin!” panggilnya pelan. “Mwo?” aku berbalik dan menatapnya. “Ayo kita bolos!” ucapnya. Dan dengan bodohnya aku malah mengangguk kemudian pergi meninggalkan sekolah bersamanya.

* * *

Mikyong’s pov

“Ayo kita bolos!” aigoo, kenapa aku malah mengajaknya bolos. Dan tak kenapa pula ia malah mengangguk saja. Haha, dasar aneh. Kami pun beranjak dari sekolah. Sepanjang perjalanan kami hanya diam, dan ini membuatku jadi gugup. “Eh, apa tidak apa kau membolos?” aku mulai membuka pebicaraan. “Tak apa. Kenapa kau mengajakku bolos, kau bukan termasuk kriteria anak badung walaupun bodoh.” Ucapnya santai, namun efeknya membuatku seperti tersambar petir saat hujan badai. “Karena orang bodoh yang ada di depanmu ini ingin membicarakan sesuatu padamu orang yang tak bodoh tapi sering bolos!” balasku geram. “Kenapa kau membalasku?” tanyanya dengan tampang pura-pura shock dan membuatku menjadi benar-benar jadi shock dengan mulut ternganga. Bagaimana bisa makhluk satu ini bisa memasang muka dengan ekspresi pura-pura terkejut yang sangat imut?

“Kau kenapa sih?” tanyanya lagi, dan kali ini nada bicara maupun tampangnya sudah normal kembali, menjadi Lee Taemin yang sok cool.

“Anni, Taemin, ayo duduk di ayunan itu!” aku menarik tangannya. Aku dan dia sudah duduk di ayunan masing-masing. Keadaan pun jadi hening lagi. Aku melepaskan tasku dari bahu dan meletakkannya di tanah sambil terus memikirkan bagaimana cara memancingnya untuk membicarakan ‘itu’. Namun Tiba-tiba Taemin bersuara,

“Sudah lama sekali aku tidak main ayunan.” Tuturnya sambil mengayun-ayunkan kakinya agar ayunan itu bergerak. “Saat itu aku dan dia baru lulus SMP dan hyungku baru lulus SMA. Kami sangat bergembira rasanya ingin terus seperti itu selamanya. Aku sudah mulai remaja dan mulai menyadari kalau aku suka padanya, pada tetanggaku itu. Aku selalu cerita pada hyungku tentangnya, hyungku bilang kalau ia akan membantu hubunganku dengannya Beberapa hari kemudian, dia dengan senangnya bercerita padaku kalau sebentar lagi akan memakai kacamata karena matanya yang memang sudah minus. Aku malah mengejeknya kalau orang yang pakai kacamata itu pasti jelek, namun dia bilang kalau orang yang pakai kacamata akan terlihat seperti orang pintar. Tapi aku terus mengejeknya, tentu saja karena aku sengaja mencari perhatian. Ia yang terlihat kesal pun akhirnya berkata, “Lihat saja! Besok kacamataku akan diambil, dan saat kau melihatku memakai kacamata itu, kau pasti akan berkata ‘Ranran nomu yeppo!’.” Aku semakin menggodanya karena ia sudah termakan omonganku. Hingga keesokan harinya, aku berangkat sekolah lebih cepat karena harus piket, sedangkan Ranran berangkat bersama hyungku. Tapi, kejadian itu terjadi begitu saja. Karena tidak sabar ingin memperlihatkan kacamata barunya padaku, Ranran berlari-lari saat menyebrang jalan dan tanpa ia sadari, kotak berisi kacamata yang digenggamnya terjatuh. Hyungku yang saat itu belum menyeberang jalan melihatnya dan saat ia hendak berusaha mengambilnya, sebuah truk pengangkut barang melintas dengan kecepatan tinggi. Kemudian…” Taemin menarik nafasnya, kemudian melanjutkan ceritanya.

‘Ranran yang melihat itu ingin menolong hyungku, namun, sudah tak sempat, truk itu menabrak tubuh Ranran dan Jinki hyung. Nyawa mereka tak tertolong saat dalam perjalanan ke rumah sakit.”

Ia berhenti sejenak, dan aku hanya diam, karena aku tahu ia belum selesai berbicara.

“Dasar, anak itu selalu ceroboh. Aku bahkan belum menyatakan perasaanku. Tapi walaupun sudah terlambat, aku ingin mengatakannya sekarang.

Saranghamnida Ranran-ah!” taemin mengucapkan itu dengan menatap ke depan dan tersenyum, Ia seperti tahu kalau di hadapannya Ranran tengah berdiri dan juga menatapnya.

“Na do Saranghae Taemin-ah!” balas Ranran sambil menyeka airmata yang hampir jatuh dari pelupuk matanya.

“Dan untukmu hyung, Aku sayang padamu! Kau benar-benar saudara terbaikku. Aku benar-benar beruntung menjadi adikmu.”

Kulihat Jinki oppa tersenyum ke arah Taemin.

“Jongmal Gomawo Mikyong-ah! Kau sahabat terbaikku” kudengar Ranran mengatakannya padaku.  Aku mengangguk membalasnya dengan senyum termanisku.

“Selamat Tinggal!” ucap Ranran dan Jinki oppa berbarengan.  Aku tersenyum pada mereka, dan perlahan-lahan tubuh mereka menghilang dibawa angin hembusan sepoi-sepoi angin sore, juga diringi senyum bahagia keduanya.

Ya, tugasku sudah selesai.

“Dan satu lagi yang paling penting!” Taemin berbicara lagi setelah agak lama terdiam mebuatku menoleh padanya. Ia bangkit dari duduknya dan mendatangi ayunanku setelah itu ia berjongkok dan memandangiku dengan wajah yang sangat serius. Dan untuk yang kesekian kalinya, aku berdebar-debar karena namja satu ini.

“SARANGHAMNIDA BABO YEOJA!”

Aku membeku, terlalu sulit mencerna ucapannya barusan. Saranghamnida? Babo yeoja? Aku masih meyakinkan diriku bahwa yang kudengar barusan tidak salah, namun tiba-tiba anak itu mulai mencondongkan tubuhnya ke depan dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“CHANKAMAAAN…  Kau mau apa? Menciumku ya? Aku kan belum menerimamu, seenaknya saja.” Refleks aku mendorong tubuhnya kuat, akibatnya Taemin sekarang terjatuh tak berdaya ke belakang. “Siapa yang mau menciummu? aku cuma heran, bukankah tadi kau memakai kacamata dan kenapa sekarang tidak, hanya itu, dasar ge-er.” Ia berusaha berdiri dan membersihkan sisa-sisa pasir di bajunya, kurasa ia sedikit kesal. Dengan malu aku meraba wajahku yang memanas, dan Taemin benar, kacamata itu sudah tidak ada, tapi penglihatanku tidak kabur sama sekali, aku bergelut dengan pikiranku sendiri tak menyadari Taemin yang telah pergi dari sini.

“Taemin! Kenapa kau meninggalkanku? Kau tidak mau tahu apa jawabanku?” tanyaku setengah berteriak. “TIDAK PERLU, AKU SUDAH TAU KAU MASIH MENYUKAIKU WALAUPUN SUDAH KUTOLAK TEMPO HARI!” teriaknya sambil terus berjalan dan tak menoleh sedikitpun padaku. Sial, telak sekali ucapannya barusan. “YA! PEDE SEKALI KAU! SEKARANG AKU SUDAH TAK SUKA PADAMU TAHU! Balasku tak mau kalah.

“GOJITMAL! NANTI KAU MENYESAL LOH!” balasnya pula dan ia masih terus berjalan.

Saat aku hendak membalasnya, angin dingin membelai tengkukku membuatku merinding, firasatku jdi tidak enak,cepat-cepat kuambil tasku,

“TAEMIN CHANKAMAN!”

aku berlari mengejarnya, namun dari arah berlawanan, lewatlah sesosok berdarah-darah mendekat padaku, nafasku tercekat, sekujur tubuhku membatu, dan kurasakan sebuah benda menggelinding menyentuh ujung sepatu yang kukenakan. Sekuat tenaga aku menolak, tapi mataku memaksa agar aku melihat ke bawah, dan…

‘TOLONG PASANGKAN AKU KE TUBUHKU!’

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

~FIN~

Advertisements

4 thoughts on “GLASSES (part 3/end)

  1. Huwwee !! ToT
    Aku pernah baca ini diffindo tapi aku ga komen maap ya .
    Maaap bgt . .
    Wkt itu aku ga bisa ngomen .
    Huaaa author maapp kan tia yaaa. . . . .
    Aku ngomen skrg aja ya??
    Authorr aku suka bgt sama ff ini . .
    Daridulu pengen ngoment tapi ga kesampean .
    Huhuhu . .
    Author, tia pengen kenalaaan .
    Boleh ga???
    Author? Author yang baik? Boleh boleh boleh???

    • aa, mian, aku baru approve commentmu, ak ga tahu kalo kamu ada koment.. heheh
      waaah… ffku ada penggemarnya/plak
      gak papa kok, lgpula ini udah komen kan.. 😀

      kamu yang kemaren koment ff aku tea for two di ffindo kan..
      nama ak irine, umur 15 tahun, bias SHINee minho..
      mari berteman.. makasih banget ya tia sudah baca dan meninggalkan jejak. kalo mau add atau follow twitterku bisa liat di page about, itu baru ak edit semalam.. *kicked* 😀 😀 😀

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s