3 Words 4 U

Casts:

Lee Jinki

Seo Jin Ae

Other:

Seo Dongwoon

Lee Hye Su

Han Mi Kyong

Jin Ae pov

Akhirnya sebentar lagi ujian kelulusan. Baguslah, aku tak akan melihatnya lagi. Ya, aku memang pengecut, tapi tak apalah, dari pada aku membuatnya susah lebih baik memang begini saja.

Aku pulang sekolah lebih awal karena guru akan rapat mengenai ujian akhir. Aku menjinjing tasku  dan berjalan pulang seperti siswa yang lain. Kutendangi kerikil yang ada di jalanan. “Fiuh, kenapa rasanya sedih sekali. Sebentar lagi berpisah dengannya.” Aku menghela nafas. “Apa yang kau pikirkan? Lebih baik begini kan, seharusnya kau lega karena tak akan bertemunya lagi.” Batinku. Aku menarik nafas dan menghembuskan keras-keras.

“Kalau mendengus begitu kau seperti kuda.”

Aku menoleh ke samping dan membatu. Perasaan tadi aku bisa dengan mudah menghirup nafas namun sekarang rasanya sulit sekali, dadaku sesak. Aaaaa aku tak tahan. Sekarang ia tersenyum ala bintang iklan pasta gigi padaku.

“Gwenchana?” tanyanya melihatku yang jadi aneh.

“A aku tak apa.” Butuh perjuangan yang keras bagiku untuk mengeluarkan kalimat  tadi sekarang ini.

“O, ya sudah. Aku duluan ya! Annyeong.” Pamitnya.

Aku membungkuk dan melihatnya mendahuluiku. Setelah ia menghilang di ujung jalan baru aku tersadar.

“LEE JINKI MENYAPAKU???!!!” pekikku. Aku tak peduli dengan teman-teman yang melihatiku.

“Ia tak menyapamu, tapi mengataimu seperti kuda.” Kata seseorang dengan suara menyebalkan yang tiba-tiba berdiri di sampingku.

“Sirik saja. Yang penting dia menyapaku.” Kataku.

“Kau lupa dengan kata-kata, ‘Aku menyukainya, namun aku tak mungkin pantas di sisinya, Lee Jinki, dia memang terlalu tinggi untuk ku gapai, cukup memandangnya saja aku sudah puas.’ Hah?” suara itu benar-benar terdengar lebih menyebalkan saat menirukan kata-kataku tempo hari.

“Kau merusak moodku. Lihat sikon dong, aku lagi bahagia nih!” kataku lagi. “Sesukamu sajalah asal kalau kau patah hati nanti jangan datang dan melempar seluruh barang-barang di kamarku setelah kau melempari semua barang-barang di kamarmu.” Katanya lagi dan mendahuluiku. “KALAU YANG ITU AKU TIDAK JANJI YA!!!” teriakku.

***

“Jin Ae-ya malam ini umma tak masak, umma dan appa makan di acara kantor appamu, kau dan Dongwoon beli makan di luar saja ya, ini uangnya.” Umma menyodorkan beberapa lembar uang padaku.

“Pulangnya malam ya?” tanyaku pada umma sembari menerima uang tadi. “Entahlah, umma juga tidak tahu, nanti umma bawa kunci rumah saja jadi kau tak perlu menunggu.” Kata umma lagi. “Setelah beli makan malam, jangan kemana-mana ya, langsung pulang jaga Dongwoon baik-baik.” Kata appa lag yang baru muncul. “Ye.” Aku ikut keluar rumah, setelah mobil appa keluar, aku melambaikan tangan dan menutup pagar.

“UMMA! Aku mau ikut!” teriak Dongwoon dari dalam rumah dengan piamanya. “Sudahlah, kau ikut noona saja, kita jalan-jalan dan makan enak.” Aku mendorong Dongwoon masuk ke rumah. Aku masuk ke kamarnya dan mengganti pakaiannya, kupasang pula jaket tebal, sarung tangan dan topi untuk Dongwoon. Setelah itu aku mengganti pakaianku sendiri sama dengan Dongwoon. Malam ini sangat dingin, bagaimana tidak, sekarang kan musim dingin. Sekarang kami sudah di jalan, aku dan Dongwoon memasuki sebuah kedai ramyun yang lumayan ramai dan segera mencari eja yang kosong. “Kau mau apa Dongwoon?” tanyaku. “Aku mau es krim.” Kata Dongwoon. “Ya, masa dingin-dingin begini makan es krim sih?” heranku. “Pokokknya aku mau es krim.” Kata Dongwoon lagi. “Ye, nanti noona belikan, tapi kita makan ramyun dulu ya!” bujukku. Aku berjalan hendak memesan makanan sementara Dongwoon menunggu di meja. “Ahjussi, ramyun kimchi 2, tapi yang satu setengah porsi ya.” Kataku dan tiba-tiba seorang anak kecil lari keluar kedai melewatiku, sepersekian detik aku baru sadar. “yang tadi itu, DONGWOON!!!!” teriakku. “Ahjussi, mianhe ramyunnya tak jadi. Jeongmal mianhe.” Aku membungkuk beberapa kali minta maaf dan tanpa menunggu balasan aku langsung pergi dari kedai itu. Aku tak melihat Dongwoon lagi, entah sudah menghilang kemana ia. Aku lari tanpa arah, sambil terus meneriakkan nama Dongwoon. “DONGWOON!” teriakku di tengah orang yang lalu lalang. Kemudian aku teringat tadi ia bilang ingin es krim, aku pun langsung menuju beberapa kedai es krim yang ada di sekitar sana. “Permisi ahjussi, apa kau melihat anak laki-laki memakai topi dan jaket warna biru umurnya sekitar 6 tahun, tingginya segini.” Aku menunjuk tunggi Dongwoon yang seperutku. “Mianhe agashi, aku tak melihatnya.” Kata ahjussi itu. “Gamsahanida ahjussi!” aku membungkuk sekali dan pergi dari kedai itu. Aku bertanya lagi pada beberapa orang namun mereka sama sekali tak melihatnya. “Permisi agashi, apa kau meliht anak laki-laki dengan topi dan jaket warna biru, tingginya segini? Tanyaku. “Mian, aku tak melihatnya.” Jawab orang itu. “Ah, kalau begitu boleh ku tahu sekarang jam berapa?” tanyaku lagi. “Ah, sekarang jam setengah sembilan.” “Gamsahamnida agashi.” Aku membungkuk dan berjalan lagi. Sudah 1 ½ jam aku berkeliling, tapi belu bertemu Dongwoon juga. Aku pun pergi ke taman di dekat sungai Han yang tak jauh dari tempatku berdiri sekarang. Aku berjalan gontai, cuaca makin dingin dan kini aku kelaparan. “Bagaimana ini, Dongwoon pabo, nakal sekali sih kau, noona kan jadi susah.” Kesalku. “Aku melihat butiran-butiran putih turun dari langit. “Aish, salju turun lagi, habislah aku kena marah.” Kataku pada diri sendiri. Aku berjalan tertunduk lesu. Saat aku tengah kebingungan, ada suara cempreng yang memanggilku.

“Noona!”

“Yeah, bahkan sekarang aku berkhayal bahwa Dongwoon memanggilku.” Gumamku sendiri

“Noona! Jin Ae noona!” teriak suara itu lagi. Dan aku berhenti berjalan, aku mencari asal suara, dan kulihat anak menyebalkan itu menggenggam eskrim dan kini lari ke arahku. “Noona!” ia memelukku. “Aish Dongwoon, kau dari mana saja? Kau membuat noona khawatir.” Aku berjongkok memeluknya. “Annyeong agashi, tadi kami melihat adikmu ini kebingungan, kukira ia tersesat, jadi aku mau membawanya ke kantor polisi, tapi ia bilang lapar dan ingin es krim, jadi ku belikan makanan dulu.” Kata seseorang. Aku melepaskan pelukanku dan melihatnya. “Jin Ae!” pekik Jinki. “Jinki!” aku melakukan hal yang sama dengannya.

“Wah Dongwoon, jadi ini noonamu ya?’ tanya seorang perempuan yang baru aku sadari ada di samping Jinki dan menggenggam tangannya. “Ye Hye Su noona, ini noonaku.” Kata Dongwoon lagi. Aku menatap tangan gadis itu dan tangan Jinki yang bertautan nanar. Namun Jinki malah melepaskannya cepat-cepat. “Ah, err, jeongmal gomawo Jinki-shi dan agashi kalau tidak ada kalian mungkin aku masih belum menemukan Dongwoon.” Aku membungkuk berulang kali. “Tak perlu seperti itu, kami senang kok bisa membantu. O ya, Hye Su imnida!” gadis itu mengulurkan tangannya. Aku membalasnya, “Jin ae imnida. Sekali lagi jeongmal gomawo, aku dan Dongwoon harus pulang, sampai jumpa!” aku membungkuk. Aku tak menatap Jinki lagi, entahlah, rasanya tubuhku lemas, bukan karena belum makan, tapi karena Jinki dan gadis itu. “Sampai jumpa Hye Su noona dan Jinki hyung!” pamit Dongwoon. Mereka membalasnya. Kami pun berlalu dari tempat itu. “Noona, kau tahu, Hye Su noona dan Jinki hyung itu baik sekali, mereka membelikan aku es krim, dan sup tahu, lalu aku disuapi Hye Su noona, bla bla bla.” Aku tak mendengarkan Dongwoon mengoceh, perutku benar-benar bergejolak, dadaku sesak, dan sakit. Air mataku mengalir. Ya aku menangis.

Mikyong benar, aku memang tak pantas dengan Jinki. Dia baik, tampan, pintar dan ramah. Hanya disapa seperti kemarin saja aku sudah senang bukan main, padahal dia memang baik pada semua orang, bukan hanya padaku. Memang semestinya aku tak pernah berharap. Sudah banyak sekali gadis-gadis cantik, menarik dan high level yang menyatakan perasaan padanya, tapi ditolak. Apa lagi aku. ‘Sudahlah Jin Ae, berhentilah menangis, dasar cengeng!’ batinku.

Jinki pov

‘Ia menghindar. Ya, ia menghindar dariku. Saat aku datang ke kelasnya, ia langsung pergi. Saat aku menyapanya, ia cuma membungkuk, kemudian cepat-cepat mendahuluiku. Ia pun tak pernah datang ke perpustakaan lagi setiap aku yang bertugas menjaga perpustakaan.’ batinku bertanya-tanya sendiri. Sekarang sedang ujian kelulusan, aku tak pernah melihatnya lagi karena ruang ujian kami berbeda. Bahkan saat perpisahan ia juga tidak datang. Apa aku berbuat salah padanya. Bodoh sekali aku, aku tak kenal dengn teman-temannya, aku tak tahu rumahnya, bagaimana aku bisa mencarinya?

Hari ini aku akan mulai bimbel untuk tes masuk sma, aku ingin masuk Chungdam highschool, tapi aku tak bersemangat. Hampir 2 minggu aku tak bertemu dengan Jin Ae. Jeongmal bogoshipta.

Aku masuk ke ruangan bimbel dengan lesu dan langsung mengambil tempat duduk di dekat jendela. Yang pasti saat aku masuk semua gadis menatapku, entahlah di manapun aku selalu jadi pusat perhatian. Tapi Jin Ae lain. Saat seluruh teman-teman sekelasnya sibuk meneriaki namaku dan mengerubungiku, ia hanya duduk dengan anteng dan mengobrol dengan sahabatnya. Ya, aku ,melihatnya pertama kali saat penerimaan siswa baru. Aku melihat dia dan temannya berteriak-teriak senang di depan papan pengumuman. Ia sangat senang bisa lulus masuk sekolah kami. Sejak saat itu aku suka memperhatikannya. Aku S-U-K-A padanya. Makanya semua gadis yang menyatakan perasaannya padaku selalu kutolak, karena hatiku bukan untuk mereka. Hatiku sudah direbut duluan oleh SEO JIN AE. Dasar pengecut. Namja macam apa kau Jinki, mengucapkan 3 kata yang cuma butuh waktu 3 detik saja selama 3 tahun ini kau tak bisa.

“Silyehamnida, boleh aku duduk di sampingmu?” tanya seseorang. “Anni, cari tempat duduk lain saja.” Kataku ketus dan tetap melihat ke luar jendela, biasanya seorang Lee Jinki tak mungkin seperti tadi. Ia pasti akan tersenyum kemudian berkata, “Ah, ye, duduk saja.” Tapi aku sedang patah hati, kau tahu patah hati? Entahlah, apa yang diketahui anak laki-laki yang baru saja lulus smp tentang kata ‘patah hati’ yang jelas aku sedang tidak ingin beramah-ramahan sekarang. Aku masih menatap hujan salju di luar dan sama sekali tak memperhatikan guru bimbel yang sudah masuk dan sudah bercuap-cuap.

“Annyeong songsaenim, maaf aku terlambat tadi terjebak salju di jalan.” Kata sebuah suara. “Ye, tak apa, silahkan duduk di tempat yang masih kosong.” Balas suara yang lain. “Gamsahamnida.”

“Anyeong, boleh aku duduk di sampingmu?” tanya sebuah suara lagi. “Cari tempat duduk lain.” Jawabku, dan entah kenapa leherku tak pegal-pegal karena dari tadi hanya menoleh ke jendela, mataku masih saja betah memandang ke luar. “Maaf, tapi semua tempat duduk sudah terisi selain ini.” Katanya lagi. “Duduk saja di lantai.” Aku membalas tak acuh. Tapi orang tadi tak menjawab dan langsung duduk di sebelahku. Aku langsung menoleh hendak mengusirnya. “YA PERGILAH DARI SINI KAN SUDAH KU bi  lang….” aku tak sanggup berkata-kata saking kagetnya dengan apa yang kudapatkan.

“Ya, kenapa kau berteriak-teriak, jangan mengganggu teman yang lain kalu mau bicara di luar saja.” Kata songsaenim menegurku dan tak kuhiraukan. Aku mengambil tasku dan menarik tangan Jin Ae keluar dari ruangan itu, kini aku berada di tengah jalan yang sepi karena sedang hujan salju dan melepas genggaman tanganku. Kutarik nafas dalam dalam dan

“AKU SUKA PADAMU!”

Hei, kami mengucapkannya bersamaan dan setelah itu kami tertawa-tawa garing. “Haha haha.” Kami saling diam dan menunduk. Tak kusangka aku dapat mengucapkan 3 kata yang membuatku gila selama 3 tahun itu sekarang, dan ia juga mengatakan hal yang sama dan serempak denganku.

“Err, mianhe aku menghindarimu, aku…” ia mulai berkata namun aku memotongnya. “Sudahlah, penjelasanmu itu nanti saja. Apa kau mau jadi yeojachinguku?” tanyaku lagi. “TENTU SAJA!!! Tak ada alasan untuk menolak orang yang telah kusukai selama 3 tahun dan kni telah menyatakan perasaannya yang sama padaku.” Ia berkata dengan keras, hampir berteriak.

Aku memeluknya di tengah jalan sepi ini dan diringi salju yang menari-nari dari langit. Hei, kurasa adegan ini sudah sama persis seperti drama yang sering ditonton noonaku(Hye Su).

~FIN~

Advertisements

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s