GLASSES (part 2)

Casts:
Han Mikyong

Lee Taemin

Lee Jinki

Park Ran Ran

Previous part:

part 1

sebelumnya:

Saat berjalan keluar kelas, aku sangat terkejut, bahkan hampir jatuh ke belakang. Ada orang yang lewat, namun orang ini sangat pucat dan berlumuran sesuatu berwarna merah, yang kupikir itu darah, aku melihat orang itu berjalan gontai, teman-temanku yang ada di depan kelas tak ada yang terkejut sepertiku mereka bersikap biasa-biasa saja, kemudian di dekat tangga, aku melihat seseosok perempuan berambut panjang duduk di sana. Ada yang lebih aneh, seseorang lewat di sampingku dan masuk ke kelas sebelah, ada sebilah pisau yang tertancap di kepalanya yang berlumuran darah. Kupikir mereka sedang melakukan cosplay. Tapi aku melihat seorang yeoja yang sedang berdiri dan  memakai seragam sama sepertiku, aku kira dia anak baru, saat aku hendak menyapanya, teman sekelasku berjalan dan menembus tubuh yeoja tadi.

“MWO!”

Ran Ran pov

“Mwo!” pekik seorang yeoja. Semua murid yang lewat di sana melihat yeoja itu heran, sekarang ia malah menatapku dengan matanya yang sipit namun kini membelalak lebar. “Kau bisa melihatku?” tanyaku padanya. Untuk sesaat ia masih terdiam, syok kurasa. Namun sejurus kemudian ia malah berlari menjauhiku. “Ya!” teriakku, Tapi yeoja tadi tidak menghiraukan dan berlari semakin kencang. Aku menyusulnya, ada untungnya jadi hantu, aku tak perlu capek-capek berlari. Aku melayang di atas tanah dan mengejarnya. “Chankaman agasshi!” teriakku. Sesekali yeoja tadi menoleh ke belakang, “Aaaaa” teriaknya ketika ia melihatku semakin dekat, ia malah mempercepat larinya.

Mikyong pov

“Aaaaa.” Teriakku. ‘makhluk’ apa itu tadi, kenapa ia mengejarku?’ aku terus berlari sambil berteriak keliling sekolah ini. Sebodoh amat dengan orang-orang yang memberikan tatapan –ia seperti orang gila- padaku. Mereka saja yang aneh karna tak melihat aku sedang dikejar-kejar makhluk seperti hantu perempuan berseragam sekolah yang melayang-layang di atas tanah. “Chankaman agasshi!” teriaknya sekali lagi. Aku langsung naik ke tangga hendak ke atap. Makhluk itu masih belum menyerah mengejarku. ‘Blam’ pintu yang menghubungkan ke atap akhirnya terbuka, dan “Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!” teriak kami bersama-sama. “Ya, kau membuatku kaget!” Mestinya aku saja yang teriak, kenapa kau malah ikut-ikutan?” tanyaku sambil mengatur nafasku yang sudah putus-putus efek lari-larian tadi dan juga karena terkejut. “Mwo, aku juga terkejut, memang kau saja yang boleh teriak-teriak?” balasnya sedikit kesal. “Oh, baiklah. Aaaaaa!! Apa maumu? Kenapa kau mengejarku dari tadi? Kenapa kau melayang-layang? Kenapa kau bisa sampai di sini duluan, kenapa kau…” “Ya kau berisik sekali!” potongnya. “Apa kau hantu?” tanyaku ragu sambil melempar pandanganku dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. “Kalo iya, kenapa?” balasnya enteng. Sedangkan aku hampir pingsan karena kata-katanya barusan. “Kau benar-benar hantu?” tanyaku lagi berharap ia akan menjawab “Tentu saja aku bukan hantu, aku hanya memakai sebuah alat yang dapat membuatku terbang sehingga aku bisa melayang di udara” namun kenyataannya, “Aku benar-benar H A N T U!!!” ia melafalkan kata hantu dengan mengeja dan memberi penekanan pada kata itu. ‘Ok Han Mikyong, mestinya kau memang tak usah bertanya lagi apa dia hantu atau bukan, karena kau  tentu sudah tahu jawabannya.’ Tuturku dalam hati. “Kalau kau hantu, kenapa aku bisa melihatmu?” tanyaku. “Entahlah, aku juga tak tahu, tapi aku ingin minta tolong sesuatu, kau bisa membantuku?” tanyanya. “Anni, kenapa pula aku harus membantumu, suruh orang lain saja.” tolakku langsung. “Aish kau ini, cuma kau yang bisa membantuku.” Serunya. “Wae?” tanyaku lagi. “Karena Cuma kau yang bisa melihatku. Bantu aku ya! Jebal!” mohonnya. “Tidak! Aku tak mau.” Aku tetap menolak. “Ayolah, ini menyangkut hidup dan matiku!” melasnya. “Lo, kau kan memang sudah mati?” tanyaku bingung. “Aish, bukan itu, maksudku, aish lupakan. Jebal agashi!” ia memohon lagi.

‘Teet teet…’

“Ah, sudah bel, aku mau masuk dulu. Babay!” ucapku dan meninggalkannya. Saat di tangga tiba-tiba saja ada yang lewat, bulu kudukku berdiri, dan saat itu juga aku langsung mari pontang panting ke arah kelas.

Ran Ran pov

“Ran Ran!” panggil seseorang ketika aku hendak mengejar yeoja tadi. Aku menoleh ke belakang. “Oppa!” seruku mendekatinya yang kini duduk di tembok pembatas atap, seandainya yang melakukan hal itu adalah manusia, semua orang pasti bergidik ngeri karena kalau jatuh ke bawah, dipastikan tak bisa selamat karena ini adalah lantai 5. “Oppa, dia.” “Ye, dia orangnya!” potongnya.

Mikyong pov

“Hosh hosh..”

“Ya, kenapa ngos-ngosan begitu?” tanya seorang teman. “Gwenchnana!” balasku. “Aku pun menghampiri mejaku dan langsung duduk.

“Annyeong anak-anak!”

“Waaaaaaaaaa!” teriakanku membuat songsaenim dan siswa lainnya sontak memandangku. “Mwoya Han Mikyong?” “Songsaenim! Cepat lari, ada hantu tanpa tangan melayang di belakangmu!” teriakku. 1 detik, 2 detik, “Hahahahahahahahaaha…” riuh tawa memenuhi ruang kelas itu. “Sudah, diam semua! Mikyong-sshi, sebaiknya kau tidak usah mengada-ada dan membuah keributan di ke..” “Aaaaaaaaaaaaaa!!” teriakku menendang-nendang lantai hingga omongan guru setengah baya itu terpotong. “Ada apa lagi Han Mikyong?” guruku bertanya dengan nada kesal. “Tadi ada kepala berdarah-darah menggelinding di kakiku! Sudah kubilang, di sini banyak hantu, ayo kita panggil paranormal, atau pendeta, songsaenim!” kini aku sudah berdiri dan panik sendiri. “Cukup! Keluar dari kelasku!” bentak songsaenim. “Ta tapi, aku tak bohong, aku..” “Keluar, kau membuat kegaduhan karena tak suka pelajaranku kan? Ayo keluar!” perintah guru itu dengan nada penuh tekanan. Aku mengambil dan menyandang tasku. Aku berjalan pelan sambil sesekali menutup mukaku dengan sebuah buku. Hanya jaga-jaga kalau tiba-tiba ada makhluk tak jelas yang menampakkan dirinya. Kini aku ada di pinggir lapangan basket outdoor sekolah dan duduk di atas tangga semen di antara gundukan tanah setinggi 3 meter yang mengelilingi lapangan basket itu. Baru saja ingin menenangkan detakan jantungku, angin sepoi musim gugur yang sekarang bertiup malah terasa seperti angin kutub. ‘Apa lagi  sekarang?’ batinku. Kutolehkan kepalaku ke kanan, kiri, dan belakang. “Huh, aman!” ucapku karena tak menemukan tanda-tanda munculnya makhluk aneh lagi. Namun sepertinya aku kurang beruntung, karena saat kutolehkan kepalaku ke depan, “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!” lagi-lagi kami teriak berbarengan. “Hais, kenapa aku harus bertemu kau lagi sih?” kesalku. “Makanya bantu aku, setelah itu aku janji tak akan mengganggumu lagi.” Ucapnya santai. “Percaya sama manusia saja susah, apalagi sama makhluk tidak jelas sepertimu, lagi pula, kalau aku tak membantumu, kau mau apa?” tantangku padanya. “Ya sudah, kalau tak mau membantuku, maka seumur hidup kau akan dihantui oleh roh-roh gentayangan!”  balasnya. “Mwo? O, jadi yang menyuruh hantu-hantu tak jelas tadi menakut-nakutiku itu pekerjaanmu?” tanyaku mulai kesal. “Ye!” jawabnya enteng. “Hwaa, kalau sama hantu seganteng member SHINee sih digentanyangin seumur hidup aku nggak bakal nolak, lha ini, ada yang kepalanya nggak ada, ada yang tangannya butung, ada yang berdarah-darah, kau ingin aku mati muda karena spot jantung tiap hari.” Kesalku. “Hehehe, boleh juga kau mati muda, biar aku ada teman.” Balasnya sambil cengengesan. “Hais, dasar kau hantu.” Umpatku. “Lha, memang aku hantu, aku butuh bantuanmu supaya aku bisa pergi.” “Pergi saja sesukamu, kenapa harus butuh bantuanku?” selaku. “Tidak bisa.” Raut mukanya kini berubah serius. “Waeyo?” aku pun mulai tertarik juga.

“Karena…”

“Han Mikyong-sshi!” panggil seseorang. Aku menoleh ke belakang dan menemukan, ‘Wow, dia?’ batinku, dan langsung berdiri. “Eh, err, eng, ada apa Taemin-sshi?” balasku yang entah kenapa tiba-tiba aku jadi grogi. Dia tak menjawab malah langsung duduk di sampingku. Aku bingung apa harus pergi, atau duduk lagi di sampingnya. “Duduklah!” perintahnya tanpa menoleh padaku. Akhirnya aku duduk lagi di sampingnya. Dan kini, dapat kurasakan saraf-saraf simpatikku mulai bekerja dengan mengencangkan detakan jantungku hingga aku dapat mendengarnya dengan jelas. “Kau, kenapa ada di sini? Bukankah pelajaran Kim Songsaenim belum selesai?” Kuputuskan untuk berbicara karena aku takut ia bisa dengan mudah mendengar detakan jantungku dalam suasana hening seperti tadi. “Kubilang aku tak suka pelajarannya, dan aku meminta untuk dikeluarkan dari kelas sepertimu.” Ia menjawab sambil terus menatap mataku dengan raut muka yang sulit aku tebak. Hampir 1 menit ia tak melepas pandangannya dari mataku hingga aku jadi salah tingkah, dan kupastikan wajahku sangat merah.

Teett… Teett…

“Sudah bel, sampai jumpa ya!” ia berdiri membersihkan celananya dari sisa-sisa pasir yang menempel, kemudian mengambil tasnya dari tanah dan pergi dari hadapanku. Aku terus memperhatikannya dan tiba-tiba ia menoleh ke belakang. “Kacamata itu… ah lupakan. Sampai jumpa!” Ia pun semakin menjauh hingga hilang dari pandanganku. Dan barulah aku menyadari. Sepertinya aku melupakan sesuatu. ‘Ah, ya, hantu perempuan berseragam sekolah tadi mana ya?’ akucelingak-celinguk sendiri. ‘Sudahlah, besok juga bertemu lagi, lebih baik aku pulang sebelum melihat hal-hal yang aneh lagi.’ Batinku. Aku berjalan menuju halte, dan sialnya sekarng malah gerimis, kupercepat langkahku menjadi berlari, untung saja, bus yang kutunggu sudah ada di depan halte. Aku pun langsung masuk ke bus dan mencari tempat duduk yang nyaman. Saat bus mulai melaju, kulepas kacamataku yang terkena air hujan karena aku hendak mengelapnya, aku memperhatikan kacamata ini dan kembali ingat pada Jinki oppa, padahal baru tadi pagi ia mengantarku, tapi rasanya sudah kangen sekali. ‘Lho? Kenapa lagi aku ini?’

* * *

Ran Ran pov

“Karena…”

Baru saja aku hendak memberitahunya, seorang namja memanggil yeoja itu. Saat perhatian yeoja itu teralih, cepat-cepat aku melayang ke balik pohon tak jauh dari situ. ‘Mereka akrab sekali.’ Batinku. “Kau cemburu?” tanya seseorang. “Mungkin.” Jawabku tanpa menoleh dan terus menatap 2 orang itu dari jauh. “Aku juga!” 2 kata singkat itu sukses membuatku menoleh pada si pemilik suara.

“Maksudmu?”

Tbc

Advertisements

2 thoughts on “GLASSES (part 2)

  1. Pingback: GLASSES (part 3/end) « Seo Eunkyung's Blog

  2. Huwe !! ToT
    Aku pernah baca ini dffindo tp aku g komen maap ya .
    Maap bgt . .
    Wkt itu aku g bsa ngomen.
    Huaaa author maapkn tia ya…
    Aku ngomen skrg aja ya??
    Author aku ska bgt sm ff ni.
    Dridlu pngen ngoment tpi ga ksampean .
    huhu..
    Author, tia pengen knlan.
    Blh g?

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s