GLASSES (part 1)

Casts:
Han Mikyong

Lee Taemin

Lee Jinki

“Umma!”

“Anni!”

“Umma cantik!”

“Anni!”

“Umma baik!”

“Anni!”

“Wow, hari ini kok umma nampak lebih muda ya? Seperti yeoja umur 17 tahun.”

“Mikyong, jawaban umma sama seperti tadi, TIDAK!”

“Aish, tega sekali umma padaku. Ayolah umma!”

“Tidak.”

“Semester ini kan raporku bagus, masa umma tak mau memberiku hadiah. Ayolah umma!”

“Rapor yang merah 3 itu yang kau bilang bagus?” tanya ummaku remeh.

“Hehehe, setidaknya kan lebih bagus dari semester sebelumnya, dulu aku merah 5, sekarang merah 3 berarti ada kemajuan kan?” tanyaku cengar-cengir.

“Yang seperti itu dibilang kemajuan, kalau kau ranking 1, baru umma mau membelikanmu.” Tawar umma.

“Mwo? Umma mau membunuhku ya? Kalau umma mau aku ranking 1 pindahkan saja aku ke sekolah luar biasa.” Ucapku.

“Ya sudah, tidak ranking 1, berarti tidak ada lensa kontak.” Jawab umma cuek.

“Aiaiaiaiaiaiaia… Dasar ratu tega.” Kesalku.

“Terserah, lagipula gadis pemalas dan ceroboh sepertimu mana bisa dikasih barang seperti itu. Memangnya pakai kacamata saja kenapa? Jauh lebih efisien dan murah kan? Kalau pake lensa kontak menyimpannya tidak bisa sembarangan, mudah hilang, kalau tidak hati-hati kornea matamu bisa rusak, lalu harus diganti secara berkala, kau pikir harganya murah.” Cerocos umma, dan sekali lagi aku kalah debat dengannya.

“Blablabla… Aku pergi ke luar, cari angin!” teriakku meninggalkan umma yang masih menyerocos.

“Buk.”

“Ah mian, aku tak sengaja.” ucap seseorang yang kukira adalah penabrakku.

Aku yang saat itu jatuh ke aspal tidak begitu memperdulikannya, aku meraba mencari kacamataku, hingga “krek.” Aku mendengar bunyi sesuatu yang remuk seperti diinjak. Orang yang menabrakku tadi berseru. “Ah kau mencari kacamatamu ya?” tanyanya kebingungan. “Ye, apa kau melihatnya?” tanyaku lagi. “Aduh, bagaimana ya? Maaf nona, aku baru saja tak sengaja menginjak kacamata.” Serunya sambil memperlhatkan sesuatu ke depan mukaku. “Aaaaaa… Kacamataku, kok bisa begini.” Seruku melihat kacamataku yang hancur tak karuan. Gagangnya hampir patah, kacanya yang sebelah kanan retak parah dan yang sebelah kiri pecah berkeping-keping. “Ya kau ini, sudah menabrakku, merusak kacamataku pula. Aku tak mau tahu, pokoknya kau harus mengantarku pulang, menjelaskan pada ummaku dan mengganti kacamataku.” Bentakku padanya dengan satu kali tarikan nafas. “Nona, aku sungguh-sungguh minta maaf, aku akan mengganti kacamatamu tap mengapa harus mengantarmu pulang?” nada suaranya terdengar menyesal sekaligus heran. “O baiklah akan kujelaskan, tapi bisakah kita cari tempat duduk?” Ujarku padanya. “Ehm baiklah.” Balasnya. “Dug.. Auuw…” pekikku. Sial, aku menabrak tiang listrik di sampingku saat ingin melangkah. “Nona, kau tak apa?” tanyanya khawatir. “Tak apa bagaimana? Jelas-jelas aku kenapa-napa. Ini alasanku minta kau antarkan.” Kesalku sambil memijat-mijat dahiku yang berdenyut.

“Sini. Ikuti aku.” Ia menggenggam tanganku dan menuntunku jalan. Tangannya terasa dingin.

Ia mendudukkan ku di sebuah bangku, kemudian ia duduk di sampingku. Kepalaku masih berdenyut. Berarti kuat sekali tadi aku menabrak tiang itu.

“Nona, kenapa kau malah diam saja?” tanyanya.

Aku sadar dari lamunanku. “Ah ye, kau harus mengantarku pulang, kalau tidak ibuku bisa berpikir yang macam-macam.” Kataku. “Maksudmu?” tanyanya tidak mengerti.

“Aku terlahir dengan penglihatan yang sangat buruk, mulai dari kecil aku sudah pakai kacamata, dan penglihatanku sekarang terus bertambah buruk, kau tahu, jarak pandangku saja tidak sampai 1 meter.” Jelasku.

“Lalu?” tanyanya.

“Err, beberapa waktu terakhir, aku menyukai seseorang. Dia teman sekelasku.” Kataku malu-malu.

“Lalu?” tanyanya lagi.

“Aish, dengarkan saja, jangan potong omonganku.” Kesalku.

“Ah, ye, mian nona.” Pintanya.

“Aku sangat suka padanya, lalu aku menyatakan perasaanku padanya. Tapi..”

“Kau ditolak?” sambungnya.

“Kok kau tahu sih?” heranku.

“Hanya menebak, aku benar ya?”

“Kau seperti cenayang, ok, tapi kau benar sangat benar malah.” Sambungku. Suasana hening sejenak.

“DAN KAU TAHU ALASANNYA??? IA BILANG “MAAF, AKU TIDAK SUKA GADIS YANG BERKACAMATA.” ARRRRRRKKH.  JAWABANNYA BENAR-BENAR MENOHOK TENGGOROKANKU. SEKUAT TENAGA AKU MENGUMPULKAN SEMUA KEBERANIANKU SAMPAI-SAMPAI AKU TIDAK BISA TIDUR SEMALAMAN UNTUK MENYATAKANNYA, DAN GARA-GARA KACAMATA SIALAN INI, DIA MENOLAKKU. AAAAAAAAAA!!!!!” tiba-tiba aku meledak sendiri, aku menarik-narik kerah baju dan memukuli badan orang yang duduk di sampingku ini.

“Nona, yang menolakmu kan bukan aku, kenapa kau malah memukuliku!” serunya berusaha menghindar dari pukulanku.

“Ah, mian, entah kenapa tadi aku ingin memukuli orang.” Jawabku santai seraya mnghentikan pukulan-pukulanku.

“Pantas saja namja itu menolakmu, kau tidak ada manis-manisnya.” Gumamnya kecil tapi masih dapat kudengar.

“YA APA KATAMU?” teriakku.

“Anniya, aku tak ngomong apa-apa, ayo lanjutkan ceritanya.” tuturnya

“Jangan bohong, tadi kau bilang “Pantas saja laki-laki itu menolakmu, kau tidak ada manis-manisnya.” Iya kan?” tanyaku padanya.

“Itu sudah tahu, kenapa tadi masih nanya?” celetuknya.

“Aish, mati saja kau.” Seruku kesal.

“Ya sudah, lanjutkan ceritamu.” Pintanya.

“Anni, aku malas.” Kesalku.

“O, kalau begitu aku pulang saja.” Katanya.

“Andwe, Aish, baiklah, aku lanjutkan.” Seruku.

“Karena itu, aku minta dibelikan lensa kontak, tapi ummaku mati-matian menolaknya, padahal sudah ribuan rayuan aku katakan, tapi ujung-ujungnya aku selalu kalah dari ummaku. Dan kalau sekarang ia melihatku pulang dengan kacamata yang hancur lebur ini, ia pasti menuduhku sengaja merusaknya supaya dibelikan lensa kontak.” Jelasku.

“O, begitu. Rumahmu dimana?” tanyanya.

“Kita ada dimana?” tanyaku balik.

“Err, kita ada di depan taman komplek.” Jawab orang itu.

“Rumahku tidak jauh dari sini. Dari sini belok ke kiri kira-kira 100 meter, ada rumah yang pagarnya kayu dan ada origami burung yang digantung di pintu pagarnya.” Jelasku.

“Kajja!”ia menggenggam tanganku lagi, tangannya masih dingin.

“Ini rumahmu?” tanyanya.

Aku berjalan mendekati pagar, dan aku melihat origami burung yang aku buat waktu sekolah dasar dulu. “Ye, ayo masuk!” ajakku.

Orang itu mengikutiku, kalau sudah di rumah, aku sudah hafal betul, jadi tidak perlu dituntun lagi.

“Aku pulang!” teriakku begitu masuk rumah. Umma muncul dari dalam. “Ya, dari mana saja? Mi Kyong, siapa itu, tampan sekali?” tanya umma.

“Annyeong ahjumma!” sapa orang itu.

“Annyeong, kau namjachingunya Mi Kyong ya, siapa namamu?” tanya ummaku blak-blakan.

“Aish, umma apa-apan sih.” Tuturku kesal.

“Lee Jinki imnida, aku cuma temannya”. Tutur orang itu ramah.

“Sejak kapan kau jadi temanku, aku saja baru tahu namamu?” kesalku padanya.

“Mi Kyong, kau ini tidak baik seperti itu pada tamu.” Tegur ummaku.

“Duduk dulu nak!” kata ummaku mempersilakan orang itu duduk karena sejak tadi kami berdiri. Dan sialnya aku dicuekin.

“Ah kau mau minum apa?” tanya ummaku. “Kenapa pula ummaku ini berubah 180º jadi super ramah dan lembut seperti ini.” batinku

“Anni ahjumma tidak usah, aku cuma sebentar.” Tolak orang itu halus.

“Sudah basa-basinya, cepat ceritakan pada umma!” celetukku pada orang itu yang sedang asyik ber-ramah-ramah-an dengan ummaku.

Orang itu pun meceritakan kejadian tadi selengkap-lengkapnya dan sangat detail, sampai sampai ceritaku tentang teman sekelas yang kusuka dan tentang ummaku yang akan mengamuk kalo tahu aku merusak kacamatku.

“YA, kau kan tidak perlu menceritakan yang itu!” protesku.

Namun ia pura-pura tidak mendengar dan malah asyik bercerita dengan ummaku. Parahnya lagi, apa yang dikatakan ummaku setelah orang itu menceritakan semuanya. Umma malah menceritakan semua keburukanku, sehingga 2 orang itu kini tengah terbahak-bahak menertawakan objek yang bahkan saat ini ada di depan mata mereka.

“Sebenarnya Jinki, ahjumma mau saja membelikannya lensa kontak, tapi lihatlah, anak ini sangat bengal, ahjumma kurang percaya kalau ia bisa memakainya dengan baik, kalau tidak hati-hati memakai lensa kontak, kan matanya malah bisa rusak.” Tutur ummaku pada Jinki –orang yang tadi menabrakku yang namanya aku tahu setelah ia memperkenalkan diri pada ummaku-

“Memang pintar sekali ummaku yang 1 ini, mengatas namakan kesehatan menjadi alasannya tidak mau membelikanku lensa kontak, padahal aku tahu sekali, alasan sebenarnya karena mahal. Dasar umma.” Batinku kesal.

“Ya sudah ahjumma, aku permisi dulu, 2 hari lagi aku akan datang ke sini, dan kacamatanya pasti sudah betul. Kata Jinki.

“Ah ya, datang sering-sering ke sini juga tak apa.” Tutur umma lagi sambil tertawa tak jelas.

“Kalau begitu, aku pamit dulu. Annyeong Ahjumma!” Pamitnya sambil membungkuk.

“Ye! Mi Kyong, antarkan Jinki ke depan ya!” perintah ummaku setelah balas membungkuk.

“Ya ampun umma, rumah kita kan kecil, tak mungkin ia tersesat.” Tolakku.

Aku tak melihat umma yang sedang memelototiku namun aku segera berjalan keluar diikuti oleh Jinki. Aku hanya mengantarnya sampai ke pagar.

“Annyeong Mi Kyong-sshi, sampai jumpa besok!” Ia membungkuk. Aku membalasnya, dan Jinki pun berlalu, namun saat ia baru jalan beberapa langkah, aku malah memanggilnya.

“Jinki-sshi” teriakku.

“Ye?” ia berhenti dan berbalik lagi ke arahku.

“Err..”

“Apa?”

“Err… itu..?”

“Itu apa?”

“Jangan memotong!” kataku.

“Ya sudah, ada apa?”

“Err, lupakan. Sampai jumpa!” saat aku ingin berbalik, ia meraih tanganku. Kemudian mendekatkan wajahnya padaku sangat dekat, mungkin hanya tinggal 5-8 cm lg. Dadaku tiba-tiba berdebar kencang, aku sempat lupa bernafas selama beberapa detik.  Dan sekarang aku dapat melihat wajahnya, sangat jelas malah. Mukaku semakin panas, kurasa sekarang sudah sangat merah. “Sudah bisa lihat wajahku sekarang? Aku tampan kan” tanyanya tersenyum menggoda. Aku memalingkan mukaku. “Tapi tidak perlu sedekat ini kan?” kataku gugup. “Hahahaha..” ia malah tertawa. “Aku pulang dulu ya, sampai jumpa!” katanya dan lagi-lagi membungkuk. “Kau sudah mengatakannya tadi, sudah sana pulang.” Ucapku. Ia membalas dengan senyumnya. Samar-samar aku melihat punggungnya yang menjauh dan menghilang. Aku  mengucek mataku “Apa aku salah lihat, masa ia tiba-tiba menghilang. Mungkin memang salah lihat, penglihatanku kan sangat buruk” batinku.

“Lee Jinki!” gumamku tak sadar. “Namja aneh, dia seperti cenayang, kenapa dia bisa tahu kalau aku memanggilnya untuk melihat wajahnya dengan jelas. Aish, kenapa aku memikirkannya terus? Tapi wajahnya benar-benar tampan dan lembut, pantas saja umma jadi sangat ramah.” Pikirku. Aku mengingat kejadian tadi siang, dan mukaku memanas lagi. “Aish, kenapa aku ini?” batinku.

* * *

Mikyong pov

“Oh yeah, aku benar-benar seperti orang buta sekarang. Kejam sekali sih orang tuaku itu, sudah tau aku begini, tapi mengantar ke sekolah saja tak mau.” Aku merutuk sambil berjalan meraba-raba, sudah 2 kali aku jatuh dan 1 kali menabrak orang.

“Perlu bantuan nona?” tanya seseorang. “Ye, sangat perlu, antar aku sampai halte ya!” kataku langsung menerima tanpa berbasa-basi dulu, karna kalau seperti ini, aku tak akan sampai-sampai. Orang tadi meraih tanganku dan menuntunku. ‘tangan ini.’ Batinku. “Ya, Lee Jinki kan?” tanyaku. “Wa, kok kau tahu ini aku.” Balasnya. “Tentu saja, tanganmu itu selalu dingin, kau seperti hantu tau.” Ujarku bercanda. “Aku memang hantu.” Ujarnya. “Hahahaha…” aku menanggapinya dengan tertawa, kukira ia hanya bercanda.

“Sudah sampai.” Tuturnya. “O jongmal gomawo Jinki-ah!” aku membungkuk padanya. “Umurmu berapa.” Tanyanya tak nyambung. “16.” Jawabku. “Panggil aku oppa, aku lebih tua 3 tahun darimu.” Katanya. “Oh, ok.” Balasku. “Itu busmu sudah datang, pergilah.” Ucapnya. “Ye, sekali lagi gomawo ya!” aku membungkuk dan menuju sebuah benda besar di hadapanku. ‘Bukk!’ “Auw!” “Ya ampun Mikyong-ah, kau ini.” Ucap Jinki menopang tubuhku sebelum jatuh ke belakang. Aku meringis kesakitan memegangi kepalaku, yang kemarin saja masih lebam, sekarang sudah kejedot body bus besar itu di tempat yang sama. “Aku antarkan saja kau sampai ke sekolahmu.” Tawarnya lebih tepat paksanya padaku, kini aku sudah masuk dan duduk di dalam bus tanpa tersandung atau menabrak apapun. Selama di perjalanan kami malah tak berbicara sepatah kata pun. Entah kenapa aku malah bingung mau bicara apa.

Bus ini juga sepi sekali, sepertinya Cuma kami berdua yang ada di sini. Akhirnya kuhabiskan perjalanan ini dengan melamun. “Mikyong-ah!” seseorang memanggilku. “Ye Jinki, err maksudku o oppa.” Aku agak aneh saat menyebutnya oppa. “Sudah sampai, ayo turun!” ia menggenggam tanganku dan menuntunku, lagi. “Gomawo oppa, sampai jumpa!” aku melambaikan tangan padanya dan berjalan menuju gerbang.

Taemin pov

Ada seorang gadis sedang berjalan hati-hati dan meraba-raba sekitarnya, kupikir ia buta, tapi kenapa pakai seragam sekolah kami. Ia pun hampir tersandung beberapa kali. Awalnya sih aku tak peduli, tapi “oh baiklah.” Aku menyusulnya kemudian membantunya berjalan. “Di mana kelasmu?” tanyaku. “11 C.” balasnya. “Ia sekelasku pikirku.” Aku mengantarnya saja ke dalam kelas tanpa berkata-kata lagi.

Mikyog pov

“Di mana kelasmu?” tanya seseorang. “11 C” orang itu membantuku berjalan. ‘Ya, aku kenal suara ini. Suara yang sama dengan waktu itu, tunggu, dia tak mengenalku, bahkan menanyakan dimana kelasku. Aigoo Lee Taemin, kau itu teman sekelasku bahklan baru seminggu lalu aku menyatakan perasaanku padamu, yeah, walaupun kau tolak, tapi setidaknya ingatlah wajah teman yang sudah hampir 1 tahun ini sekelas denganmu pabbo. Tunggu, tapi dia orang baik, lihatlah sekarang dia malah membantuku, sudah kuduga, dibalik sifat diam dan dinginnya namja satu ini sebenarnya baik’ aku sibuk bergelut dengan pikiranku. “Sudah sampai.” Ujarnya. “Ye jongmal kamsahamnida Taemin-shi. Aku membungkuk padanya. “Kau mengenalku?” tanyanya balik. ‘Sudah kuduga ia akan bertanya seperti ini.’ Batinku. “Ye, aku teman sekelasmu.” Balasku sekenanya, dan tanpa menjawab, ia berlalu dari hadapanku.

* * *

Tett… tett…

“Hoam…” aku merentangkan tanganku ke depan, rupanya sudah keluar main. “Mikyong, pak satpam menemukan ini di posnya.” Teman sekelasku datang menghampiriku dan memberi sebuah bungkusan. “Dari siapa?” tanyaku. “Entahlah, pak satpam bilang ia menemukan benda itu di posnya lalu di dalamnya ada tulisan untuk Han Mikyong.” Jawabnya. “Oh, ye, gomawo ya!” ucapku. “Ye, cheonmanayo.” Balasnya meninggalkanku. “Aku membuka bungkusan itu, di dalamnya ada kotak kecil berwarna coklat dan tulisan namaku. Aku membuka kotaknya dan, ‘kacamata? Dasar Jinki, cepat juga kacamatanya jadi, biasanya aku harus menunggu minimal 3 hari kalau mau ganti lensanya.’ Batinku. Aku memperhatikan kacamata itu. ‘Bagus, gagangnya didominasi putih dan hitam, aku suka kacamata baruku ini, Jinki oppa memang tahu seleraku.’ aku tersenyum. Aku pun memakai kacamata itu dan berjalan ke kantin sebelum bel masuk berbunyi.

Saat berjalan keluar kelas, aku sangat terkejt, bahkan hampir jatuh ke belakang. Ada orang yang lewat, namun orang ini sangat pucat dan berlumuran sesuatu berwarna merah, yang kupikir itu darah, aku melihat orang itu berjalan gontai, teman-temanku yang ada di depan kelas tak ada yang terkejut sepertiku mereka bersikap biasa-biasa saja, kemudian di dekat tangga, aku melihat seseosok perempuan berambut panjang duduk di sana. Ada yang lebih aneh, seseorang lewat di sampingku dan masuk ke kelas sebelah, ada sebilah pisau yang tertancap di kepalanya yang berlumuran darah. Kupikir mereka sedang melakukan cosplay. Tapi aku melihat seorang yeoja yang sedang berdiri dan  memakai seragam sama sepertiku, aku kira dia anak baru, saat aku hendak menyapanya, teman sekelasku berjalan dan menembus tubuh yeoja tadi.

“MWO!”

—-tbc—-

Advertisements

7 thoughts on “GLASSES (part 1)

  1. Pingback: GLASSES (part 2) « Seo Eunkyung's Blog

  2. Pingback: GLASSES (part 3/end) « Seo Eunkyung's Blog

  3. Annyeong ???
    Huwwee !! ToT
    Aku pernah baca ini diffindo tapi aku ga komen maap ya .
    Maaap bgt . .
    Wkt itu aku ga bisa ngomen .
    Huaaa author maapp kan tia yaaa. . . . .
    Aku ngomen skrg aja ya??
    Authorr aku suka bgt sama ff ini.
    Daridulu pengen ngoment tapi ga kesampean.
    Huhuhu..
    Author, tia pengen kenalaaan.
    Boleh ga???
    Author? Author yang baik? Boleh boleh boleh???

  4. tabah eunkyung !
    saia dengan hyena sudah berbicara denggan si “dia” *sebenarnya hyena yang berbicara *
    dia jelas” copas karya anda ini
    itu berarti ff mu berkualitas makanya dia copas semuanya
    fighting !

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s