SUMMER

Casts: Kim Kibum, Choi Young Il

Other Casts: Choi Minho, Park Tae Hyo

Rating: PG-13

Genre: Romance

Length: Oneshot

 

Young Il pov

“Akhirnya besok libur musim panas! Yeah! Selamat tinggal buku-buku yang memuakkan! Selamat datang laut! Senangnya. Jadikan lusa ke pantai?”tanyaku pada temanku yang sedang duduk di depanku. “Entahlah.” “Ya kau ini, kenapa tak semangat sekali? Apa kamu lebih senang masuk sekolah hah?” tanyaku. “Tentu saja aku lebih senang waktu sekolah. Aku kan bisa melihat wajahmu setiap hari.” Jawabnya dengan tersenyum amat sangat manis.”Jangan tersenyum seperti itu, kau membuat kakiku lemas.” Aku memalingkan muka darinya. Tiba-tiba ada sepasang tangan yang mengangkat tubuhku, seketika aku merasa melayang. “Ya! Apa yang kau lakukan?” tanyaku. “Menggendongmu.” Jawabnya singkat. “Aku tahu kau sedang menggendongku, tapi untuk apa?” tanyaku kesal. “Kau bilang kakimu lemas, berarti kau tak bisa jalan kan? Ya sudah, aku gendong saja. Ada masalah?” tanyanya dengan muka innocentnya. “Turunkan aku!” teriakku

memukul-mukul badannya tak peduli bahwa banyak yang memperhatikan kami. Ia menurunkanku kemudian bertanya, “Kakimu sudah tidak lemas?” “Tidak” jawabku gemas. “Ya sudah, ayo pulang!” ajaknya padaku, tapi ia malah mendahuluiku dan berjalan duluan. “KIBUM KAU MENYEBALKAN!” teriakku mengejarnya.

Sepanjang perjalanan pulang aku diam saja karena masih kesal. Angin musim panas membelai tubuhku yang tengah melaju kencang bersama sepeda yang dikendarai Kibum. Aku memegang erat bahunya dan berdiri di atas pijakan yang ada di sisi kanan dan kiri ban sepeda. Rasanya sungguh menyenangkan.

Ia mengerem tiba-tiba hingga badanku menubruknya. Ckitt. Bruk. “Ya kau sengaja ya!” teriakku kesal memukul bahunya. “Siapa yang sengaja? Cepat turun!” perintahnya. “Enak saja! Aku tak mau turun.” Tolakku. “Sudah sampai bodoh!” balasnya. Aku melihat kanan dan kiri dan turun dari sepedanya. “Hehe sudah sampai ya? Gomawo, sampai jumpa!” kataku cengar-cengir. Ia hanya memasang tampang datar dan mulai mengayuh pedal sepedanya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun ia berlalu dari hadapanku. Aku melihat punggungnya semakin menjauh, hingga  menghilang sepenuhnya di ujung belokan jalan. Sialan anak ini, padahal sejam yang lalu ia bertingkah sangat manis, dan sekarang, super duper wuper hiper menyebalkan.

“Aku pulang!” sapaku melepas sepatu mengganti dengan sandal rumah dan naik ke atas.

Ku hempaskan tas dan tubuhku ke ranjang. Capek sekali. Aku memandangi langit-langit kamarku.

Flashback

Liburan musim panas tahun lalu

Seorang gadis berjalan kebingungan melihat kanan dan kiri. Tangannya menjinjing sebuah kantong plastik putih. Ia terus berjalan dan tak jarang bertanya pada orang-orang yang lewat. Saat itu waktu telah menunjukkan pukul setengah enam sore. Matahari mulai merendah. Ia semakin panik dan bingung. Akhirnya ia terduduk lemas di pinggir pantai.

Menyaksikan tenggelamnya matahari ditelan laut biru.

Young Il pov

“Aish, pabo Young Il, masa kau bisa tersesat sih.” Rutukku dalam hati. Aku menenggelamkan mukaku di antara dua kakiku putus asa.

“Choi Young Il kelas 10-2?” ucap sebuah suara.

“Ye, aku. Wae?” tanyaku masih tetap membenamkan kepala. Namun sejurus kemudian aku tersadar dan langsung mendongak dan mendapati seorang namja kurus berdiri melihatku. “Kim Kibum.” Aku melihat name tag panitia yang dikalungi olehnya. “Kyaa… Aku selamat!” Ucapku melompat kegirangan.

“Kau merepotkan!” ucapnya datar dan berlalu meninggalkanku.

“Mwo? Chankaman sunbae, tunggu aku! Nanti aku tersesat lagi.” Aku beranjak dari tempatku berdiri dan segera menyusulnya.

“Yoboseo, songsaenim, aku sudah menemukan Choi Young Il. Ye songsaenim.”

Aku mengikutinya dari belakang. “Huh. Dingin sekali, orang ini.” Batinku. Aku masih menggenggam kantung plastik berisi es krim yang sekarang pastinya sudah mencair.

Bunyi desir ombak, tiupan angin laut sepoi-sepoi mengiringi langkah 2 orang yang tak saling kenal. Dipayungi langit senja, kaki mereka menyusuri pasir lembut yang tak hanya meninggalkan jejak langkah namun meninggalkan jejak-jejak cinta. Yeah muncul begitu saja seperti bunga matahari mekar saat musim panas.

End of flashback

“Noona! Ayo makan!” teriak adikku.

“Ye, sebentar lagi aku turun.”

* * *

“Appa mana umma?” tanyaku.

“Appamu lembur, mungkin baru pulang tengah malam nanti”

“Noona, kau ikut ke pantai lusa nanti?”

“Ye, tentu saja.”

“Kau juga ikut kan Minho?” tanya umma.

“Anni umma?”

“Wae?” heranku

“Aku ada pertandingan basket musim panas di Paran High School.”

“Kok mendadak sekali?” tanyaku.

“Entahlah, aku tak mungkin tak ikut pertandingan, aku kan anggota inti.”

“Bilang saja kau sedang naksir yeoja di Paran High School? Namanya Eunkyung kan? Seo Eunkyung?” godaku

“Jinja Minho? Anak umma sudah dewasa.”

“Anni umma, aku tak suka siapa-siapa.” Elak adikku

“Mengaku saja, tak usah malu-malu kau, umma tahu, pemilik grup seo yang terkenal itu adalah appanya Eunkyung.” Godaku.

“Wah, pintar sekali kau memilih gadis!” ucap umma semakin menggoda Minho.

“Dasar, yeoja di rumah ini tukang gosip semua.”

“Ya, siapa yang kau bilang tukang gosip hah?” kesalku.

“Bagi yang merasa saja.” Jawabnya cuek.

“Err, mati saja kau, mana mau Eunkyung padamu.” Balasku.

“Sudah sudah, jangan bertengkar, ayo makan lagi.” Ujar ummaku.

* * *

Drrt…drrt aku membuka ponselku yang bergetar

To: Young Il

Hai nona burung beo! Sedang apa?

Sender: Kibum

Jari-jariku langsung mengutak-atik keypad ponsel dengan cepat

To: Kibum

Aku lagi packing untuk besok tuan burung beo.

Kau lagi apa?

Sender: Young Il

Aku menekan tombol send.

Tak lama kemudian ia membalas

To: Young Il

Siapa itu tuan burung beo?

Tadi aku mau makan, tapi karena lihat hp jadi ingin smsan denganmu.

Sender: Kibum

“Hah, ada-ada saja.” Pikirku. Tak butuh waktu lama, aku membalas pesannya.

To: Kibum

Tuan burung beo itu kau, siapa lagi kalau bukan kau.

Makanlah, lalu siap-siap untuk besok, nanti kalau kau sakit, kita tidak jadi pergi.

Sender: Young Il

Drrt drrt

To: Young Il

Ye umma! ^_^

Sender: Kibum

Aku memilah-milah pakaian yang akan dipakai besok. Sekolahku selalu mengadakan libur musim panas ke pantai tiap tahunnya, dan besok aku akan pergi 2 hari semalam di sana.

Setelah semuanya selesai, aku menuju balkon. Langitnya cerah dan banyak bintang.

Flashback

“Semuanya berkumpul membentuk lingkaran!” perintah ketua osis dengan toa pada kami yang sedang berkumpul di tepi pantai. “Malam ini adalah acara puncak, yaitu pesta kembang api.” Masing-masing akan di berikan kembang api yang kecil, kemudian kita akan menyalakan kembang api utamanya.” Sambung sang ketua osis. Kami memegang kembang api yang telah menyala sehingga keadaan di sekeliling menjadi terang benderang, kemudian satu per satu kembang api mulai padam dan menjadi gelap gulita lagi. Semuanya tak sabar menunggu kembang api. Dan tiba-tiba ada yang menarik tanganku dari rombongan. “YA! Nuguseyo? Mau apa kau?” kataku sedikit berteriak. Namun tak ada yang mendengarku di tengah kegelapan itu karena di sana gaduh sekali. Orang itu terus membawaku pergi. Aku mulai takut dan ingin melepaskan diri. Namun sesaat kemudian, aku seperti melewati jalan yang agak terjal dan ketika orang yang menarikku berhenti, kami telah berada di subuah tempat yang lebih tinggi. Bertepatan dengan itu, keadaan jadi terang benderang lagi. DUAR!! DUARR!! DUAAR!!  Kembang api yang sangat besar meledak-ledak di langit yang penuh bintang, sangat indah, selama 10 menit kembang api yang besar itu tidak berhenti menyala-nyala, dan dari atas sini terlihat sangat jelas. Sejenak aku melupakan bahwa tadi aku telah ditarik orang asing yang tidak kuketahui. Kemudian aku yang baru tersadar langsung menoleh ke samping. Aku mendapati siluet wajah seseorang yang diterangi cahaya kembang api. Ia yang sedang memperhatikan kembang api kemudian beralih kepadaku. “Kau sunbae yang kemarin menolongku kan?” pekikku. “Ye bodoh! Katanya sambil meletakkan sesuatu yang dingin ke atas kepalaku.

“Aku seperti es krim ini. Begitu dingin. Tapi kau datang seperti matahari di musim panas yang bersinar hangat. Dan kehangatanmu telah membuat es krim ini meleleh, sama seperti hatiku sekarang. Untuk itu, kau harus bertanggung jawab. Bertanggung jawab untuk terus menghangatkan hatiku agar tidak dingin seperti es krim. Aku mau kau menjadi matahariku, err, maksudku yeojachinguku.” Ucapnya begitu lembut dengan suara rendahnya. Suara yang terdengar begitu bening di telingaku. Sekarang Jantungku yang berdebar-debar seperti ledakan kembang api itu. Kata-katanya begitu aneh, tapi aku suka. Dan aku menjawab, “YE!” Ia meraihku dalam pelukannya. Entah apa yang kupikirkan saat itu, yang kutahu aku tak punya kata-kata lain dalam otakku untuk menjawabnya selain kata iya. Aku hanya berharap mudah-mudahan suara kembang api ini dapat menutupi suara debaran jantungku. Ia memelukku hingga kembang api terakhir selesai dinyalakan.

End of flashback

Drrt drrttt

Aku meraih ponsel dari saku celanaku.

To: Young Il

Umma, aku sudah makan. Kau sudah tidur? Aku tak bisa tidur.

Sender: Kibum

To: Kibum

Kenapa tidak bisa tidur?

Sender: Young Il

To: Young Il

Aku memikirkanmu >_<

Sender: Kibum

Yup dua kata itu mampu membuat mukaku merah sekarang. Laki-laki ini aneh. Kadang ia sangat dingin, kadang sangat menyebalkan, kadang menjadi orang yang hangat, bahkan jadi gombal seperti sekarang. Aku bingung mau membalas apa. Aku berjalan ke dapur mengambil air putih sambil memikirkan balasan untuk Kibum. Akhirnya aku membalas.

To:Kibum

Memikirkan apa?

Sender: Young Il

To:Young Il

Memikirkan apakah besok kau akan memakai bikini.

Sender: Kibum

Croott…Aku menyemburkan air yang ada di mulutku tepat ke hadapan Minho yang tengah duduk di sampingku di sofa ruang tv.

“Arrrrkh!!!! Noona apa-apaan kau?” teriaknya.

“Mian mian Minho, aku tak sengaja.” Ucapku penuh sesal dan berusaha mengelap baju dan mukanya yang basah akibat semburan airku dengan tissue.

“Apanya yang tidak sengaja? Jelas-jelas kau sengaja menyembur air di depanku.” Ucapnya kesal.

“Minho Jongmal mianhe, aku benar-benar tidak sengaja, tadi itu aku sangat terkejut.” Ucapku penuh sesal. “Aaaaaa. Aku tak mau tahu, kau harus minta maaf.” Ucapnya.

“Ya, dari tadi kan aku sudah minta maaf pabo.” Balasku lagi. “Kalo cuma ngomong semua orang juga bisa. Aku mau 1 kotak full es krimmu yang di kulkas.” Katanya

“Mwo! Enak saja, itu tak sebanding, kau mau memerasku ya?”

“3/4 ?”

“Anni ½ saja.”

“2/3 ?”

“ ½ dan tak ada tawar menawar lagi?” balasku.

Ia terlihat berpikir sejenak, kemudian langsung meraih hpku yang tergeletak di meja. Ia langsung membacanya, aku pun berusaha sekuat tenaga menarik bajunya dan merebut kembali ponselku. Namun ia semakin mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan masih berusaha membaca pesan di ponselku sehingga aku tak dapat meraihnya. Kemudian ia terbahak-bahak. “HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA……. Kau bicara apa yang aneh-aneh dengan Kibum hyung ya? Tanyanya di sela-sela tawanya.

“Anni, bukan seperti itu! Bantahku langsung.” Mendengar ribut-ribut, ummaku keluar dari kamar.

“Aduh, kalian ini kenapa ribut sekali, ini sudah malam.” Ujar umma.

“Umma, noona dan kibum hyung hmphh… hmphh….. hmmpphh….” Aku membekap mulut Minho sebelum ia berkata yang aneh-aneh.

“Ya Young Il, kenapa adikmu?” heran ummaku.

“Anni umma, kami hanya sedang bermain-main.” Ucapku asal.

“Bohong umma, noona dan, hmmph… hmmph.” Aku membekapnya lagi saat ia berhasil melepaskan diri dariku, kemudian aku berbisik. “Baiklah, 1 kotak full.” Ia mengangguk-angguk. Aku melepaskan bekapan tanganku. “Kalian ini kenapa? Young Il kenapa kau membekap adikkmu, sepertinya tadi ingin bilang sesuatu. Minho, tadi kau menyebut-nyebut noona dan Kibum-ah, apa yang mau kau bicarakan sebenarnya?” tanya umma penasaran. Aku menatap Minho ganas. “Ah, anni umma, noona dan Kibum hyung itu saling mencintai, mungkin saja mereka nanti akan menikah kelak kan?” dalih Minho. “Umma kira ada apa, rupanya itu. Umma setuju kalau Kibum denganmu, dia anaknya baik. Umma suka, tapi kau harus lulus sma dan kuliah dulu. Ara?” kata umma.

“Hah ara ara.” Jawabku agak bingung. Umma mau tidur, Minho kalau appa sudah pulang, kau bukakan pagar ya!” perintah umma. “Ye umma!” balas Minho patuh.

“Ya, kau kenapa bicara aku akan menikah dengan Kibum segala?” kesalku pada Minho.

“Jadi kau ingin aku beri tahu umma tentang isi smsmu dan Kibum nyung?” godanya.

Aku hanya memasang tampang ingin membunuhnya. Ia pun hanya tersenyum menang. “Sini ponselku.”

“Ini noona!” balasnya manis seraya menyerahkan ponselku. Aku meninggalkannya ke kamar dengan kesal.

“Gomawo es krimnya noona!” ejeknya semakin membuatku kesal.

* * *

“Ayo masuk ke bus kalian. Kita akan segera berangkat!” Aku masuk ke bus, tanganku digandeng kibum. Kami duduk dalam diam.

“Hei! Apa maksud smsmu semalam?” tanyaku gugup.

“Yang mana?”

“Yang terakhir.”

“Yang terakhir itu yang mana?”

“Itu, yang, yang tentang bi… bikini.” Ucapku sepelan mungkin atau lebih tepat berbisik.

“O.” balasnya singkat.

“Aku tak mau kau pakai bikini atau baju renang.” Tuturnya setelah kami terdiam cukup lama.

“Kau tak pantas pakai itu, lagipula tubuhmu kan rata seperti papan, kau lebih cocok pakai hanbok” Sambungnya santai.

“Ya! Sialan kau kim Kibum kau pikir aku mau menikah!” teriakku sehingga semua orang di bus itu melihat kami berdua dengan tatapan aneh. Aku malu sekali, sedangkan makhluk tak berperasaan di sampingku ini hanya diam menatap ke jendela seolah tak terjadi apa-apa.

Akhirnya sampai juga di pantai… (Ga tau nama pantainya) pantai yang sama dengan tahun lalu. Tapi aku tidak bosan datang ke sini, karena panta ini benar-benar indah. Aku semakin merasakan suasana musim panas. Dan sejenak kepenatan dalam perjalanan tadi hilang begitu saja. Kami segera mengikuti rombongan masing-masing menuju penginapan. Setelah dari bus, aku tak melihat keberadaan Kibum lagi, mungkin karena letak penginapan perempuan dan laki-laki cukup jauh jadi aku tak melihatnya. Dan sekarang adalah acaara bebas sebelum makan malam.

Aku berjalan-jalan sendirian di pesisir pantai membiarkan gulungan ombak menyapu kakiku yang telanjang. Aku sengaja melepas sepatuku agar bisa merasakan butiran-butiran pasir. Aku mengeluarkan ponselku dan menekan tombol speed dial. Tapi nomor yang kuhubungi sedang tidak aktif. Aku pun mengsmsnya.

To: Kibum

Hei, jam setengah 6 kutunggu kau di tempat pertama kali kita bertemu, aku ingin

melihat sunset denganmu. ^0^

Sender: Young Il

Aku menekan tombol send. Mudah-mudahan ia membacanya. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya. Bau udara pantai tidak seperti di kota, lembab dan sedikit amis.

Namun ketika menoleh ke belakang, tubuhku membeku, mataku terpaku melihat apa yang terjadi. Seorang namja yang sangat kukenal sedang berciuman dengan seorang gadis. Aku tidak tahu gadis itu siapa karena ia membelakangiku. Namun yang pasti bahasa tubuhnya mengisyaratkan mereka tengah berciuman. Untuk beberapa saat aku terpaku, hingga laki-laki itu menyadari bahwa aku telah lama memperhatikannya. Ia pun segera berlari ke arahku. Refleks aku melangkahkan kakiku menjauhinya. Ia terus mengejarku dengan langkahnya yang panjang-panjang dan kini ia telah berhasil meraih tanganku.

“Semua tidak seperti yang kau lihat, sungguh, aku tidak bohong!” ucapnya menatap mataku dalam-dalam dan terengah-engah Aku hanya menunduk menahan air mata. Nafasku terengah-engah karena lari. Tenggorokannku sakit menahan tangis tapi hatiku lebih sakit lagi. Mataku tak mau diajak kompromi, air mataku menganak sungai membasahi pipiku. Ia ingin memelukku, namun aku berontak dan segera lari menjauh. Aku ingin pulang. Aku berlari ke penginapan dan langsung menelpon Minho.

“Yoboseo!” jawab suara di seberang.

“Yoboseo, Minho bisa kau jemput aku.” Ucapku sesenggukan sekuat tenaga aku menahan tangisku.

“Noona, kau menangis? Waeyo noona? Kau tak apa?”

“Gwenchana, tolong jemput aku, kau tahu penginapan tempat kami menginap kan?” tanyaku.

“Ye, tunggu aku noona!”

Kibum pov

“Ehmm Kibum bisa ikut aku sebentar?” tanya sebuah suara yang tak lain Tae Hyo, teman sekelasku.

“Ke mana?”

“Sebentar saja! Jebal.” Pintanya.

Aku mengikutinya berjalan di sampingku hingga kami tiba di bawah pohon tepat pi pinggir pantai. Ia diam saja., begitu juga aku.

“Err.. Sebenarnya aku menyukaimu, kau mau menjadi Namjachinguku?” tanyanya ragu-ragu sekaligus malu, mukanya memerah, dan ia tidak berani mentatapku.

“Maaf, aku tak bisa.” Singkatku.

Ia mendongak melihatku. Aku dapat melihat kekecewaan di wajahnya, namun ia memaksakan tersenyum. “Gwenchana kibum-sshi harusnya aku sudah tahu kau akan menolakku, yang penting aku sudah menyatakannya. Aku pergi dulu !” pamitnya. Saat ia hendak melangkah, tali sepatunya yang tak terikat tersangkut sesuatu, hingga ia hampir jatuh, refleks aku langsung menangkap tubuhnya. Untuk beberapa saat wajah kami yang berjarak tak lebih dari 5 cm bertatapan. Tapi aku langsung menggeser tubuhnya ke samping ketika melihat seorang gadis memandangiku tanpa ekspresi. “Sial, dia pasti salah paham.” Batinku. Aku berlari mengjarnya yang mulai menjauh dan aku bisa menggapainya. “Semua tidak seperti yang kau lihat, sungguh, aku tidak bohong!” ucapku menatap mataku dalam-dalam dan terengah-engah Ia hanya menunduk, bahunya bergetar, terlihat sekali ia sedang berusaha menahan tangis, aku mencoba memeluknya tapi ia memberontak dan berlari lagi. Aku memandangi punggung yang menjauh dengan sedih.

“Arrrrrrkhh!!” teriakku frustasi

Young Il pov

1 tahun telah berlalu, ia telah lulus dan kudengar ia melanjutkan kuliah di Jepang. Aku tak ingin berhubungan dengannya lagi saat itu, aku sangat marah padanya. Hingga Tae Hyo datang dan menjelaskan semua yang terjadi. Tapi semua itu sudah terlambat.

Andai saja saat itu aku mau mendengarnya, tak mungkin semuanya akan begini. Andai saja aku tahu kalau itu salah paham, tak mungkin aku kehilangannya. Andai saja aku bisa memutar waktu, pasti aku masih bersamanya.

Saat itu adalah musim panas terburuk dalam hidupku.

Kibum pov

Young Il, coba saat itu kau tidak salah paham, mungkin sekarang kita masih bersama. Aku berdiri di tempat yang sama 2 tahun lalu ketika aku menyatakan perasaaanku pada Young Il. Satu-satunya gadis yang mengisi hatiku semenjak aku lahir. Pertemuanku dengannya sangat aneh,namun gilanya tak tahu mengapa sehari setelah bertemu dengannya aku langsung menyatakan cintaku, dan enehnya ia malah menerimaku. Tapi itu semua sudah berlalu.

Young Il pov

Aku minta diantar Minho ke pantai dimana aku mendapatkan sekaligus kehilangannya. Tanpa sadar, kakiku telah menggerakkanku sebuah tempat. Ya, aku ingat tempat ini, tempat dimana Kibum menyatakan perasaannya padaku. Aku memejamkan mataku membiarkan tubuhku dibelai angin laut dari atas bukit kecil ini, namun sesaat entah mengapa aku merasakan kehadirannya. Dan ketika aku membuka mata. “Kibum!” aku tak sanggup mengucapkannya, aku hanya menggerakkan bibirku seakan menyebut namanya.

Kibum pov

Saat aku membalikkan tubuhku untuk turun dari bukit ini, aku melihatnya. Aku melihat dia. Kukira aku berhalusinasi. Aku semakin mendekatinya yang sedang memejamkan matanya. Dan ketika aku berada di hadapannya, aku yakin ini bukan halusinasi, ia sangat nyata di mataku. Tiba-tiba ia membuka matanya dan dapat kulihat ekspresi terkejutnya sama seperti aku pertama melihatnya. Aku langsung menariknya dalam pelukanku, merengkuhnya hangat membiarkan rindu yang selama ini menyesakkan dadaku pergi begitu saja. Walaupun tak diucapkan, dari sentuhan tubuhnya aku dapat merasakan bahwa ia juga merindukanku. Aku teringat sesuatu dan melepas pelukanku. Aku meninggalkannya yang masih terpaku. Aku turun dari bukit berlari ke sebuah tempat dan aku kembali naik ke bukit tadi dengan sebuah kantung plastik putih di tanganku. Ia pun masih tepaku di tempatnya berdiri dan menatapku bingung. Kemudian aku meletakkan kantung tadi di atas kepalanya.

“Aku seperti es krim ini. Begitu dingin. Tapi kau datang seperti matahari di musim panas yang bersinar hangat. Dan kehangatanmu telah membuat es krim ini meleleh, sama seperti hatiku sekarang. Untuk itu, kau harus bertanggung jawab. Bertanggung jawab untuk……” belum selesai aku bicara, ia memotongnya dengan sebuah kecupan hangat, ya sehangat matahari yang bersinar di musim panas.

~FIN~

Read + Comment = 😀

gomawo *bow*

서은경


Advertisements

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s