Melodies of Life (part 1)

Casts: Han Mi Kyong, Lee Taemin

Other casts: Seo Eunkyung, Choi Minho

Rating: PG-13

Genre: Romance, and a little angst

Length: short story

I do own nothing but this story

Author pov

Seorang gadis sedang berdiri menatap etalase sebuah toko musik yang tidak terlalu besar dengan bangunan bernuansa eropa yang kayunya mulai lapuk termakan usia, namun malah menambah kesan klasik, di depan toko itu juga ada sebuah pohon tua dengan daun rimbun melindungi bangunan toko sehingga menjadi teduh, namun karena sekarang sedang musim gugur, daun-daun pohon menguning dan berjatuhan satu per satu menutupi jalanan di depan toko seperti sebuah karpet. Tangan gadis itu ragu-ragu menyentuh kaca etalase yang dingin yang memajang sebuah benda besar berwarna putih di dalamnya. Kurang lebih 15 menit ia hanya memandangi piano putih itu dengan senyum yang mengembang di wajahnya, dan detik kemudian ia buru-buru merapatkan jaketnya dan berlalu diringi semilir angin yang membelai rambut panjangnya. Tanpa diketahuinya, seorang laki-laki dengan perawakan tinggi dan lumayan kurus telah menatapnya sedari tadi hingga gadis itu pergi dengan tatapan lembut.

Mikyong pov

“Mianhe ahjussi aku terlambat.” Kataku tak enak dengan Lee ahjussi. “Tak apa, cepat kau bantu Eunkyung melayani pembeli, kedai kita sedang ramai sekali.” Kata Kim ahjussi. “Ne.” kataku. Setelah menyimpan jaketku,aku memakai celemek kedai kami dan menghampiri eunkyung yang terlihat sibuk mencatat pesanan pembeli. “Ya Eunkyung-ah, dari mana kau baru datang sekarang, hari ini kedai ramai sekali, tolong bantu aku mencatat pesanan di sebelah sana, aku mau memberikan ini pada ahjussi.” Tukasnya panjang lebar. “Ne.” jawabku. Aku setengah berlari dari satu meja ke meja lain mencatat macam-macam pesanan yang banyak. “Ya, nona! Aku pesan ramyun kimchi, kenapa kau antar ramyun daging.” Protes seorang pembeli. Aku mendatangi pembeli itu dan melihat semangkuk ramyun daging yang ditunjukkan olehnya. “Mianhe tuan, akan segera aku ambilkan pesanan anda.” Kataku membungkuk 2 kali pergi ke tempat paman. Belum sampai ke tempat paman, ada lagi pembeli yang memanggilku. “Nona, kami tadi pesan ramyun dagingnya 3, tapi yang diantar baru 2.” “Oh ne tuan, ini pesanan anda.” Aku memberikan ramyun daging yang akan aku berikan ke paman pada pembeli itu. “Eunkyung, tolong antarkan semangkuk ramyun kimchi ke meja dekat pintu masuk.” Kataku pada Eunkyung. “Ne, ne.” balasnya. “Noona, boleh aku minta sumpit? Sumpitku terjatuh.” ucap seorang adik kecil padaku. “Ini adik kecil.” Kataku tersenyum ramah. “Mikyong-ah! Berapa  semuanya?” tanya seorang ahjumma yang kukenal. “Semuanya 9000 won ahjumma.” kataku ramah. “Ini.” Kata ahjumma itu menyodorkan selembar uang seharga 10.000 won. “Mohon tunggu sebentar ahjumma, kembaliannya akan kuambilkan.” “Tidak usah, untuk kau saja.” Katanya. “Gamsahamida ahjumma.” Kau masih sekolah kan? Belajarlah yang rajin ya.” “Ne, ahjumma.” Kataku. “Sampai jumpa noona.” teriak 2 anak laki-laki sambil melambaikan tangan padaku. “Sampai jumpa! Hati-hati di jalan dan sering mampir ke sini ya!”kataku sambil tersenyum dan melambaikan tangan pada si kembar dan ibunya. “Ne!” kata si kembar. Lee ahjumma dan anaknya memang pelanggan tetap di kedai ini, aku, Eunkyung dan paman juga sudah kenal baik dengan mereka. Pembeli sudah mulai berpulangan. Akhirnya aku, Eunkyung dan paman bisa duduk dan istirahat, mungkin karena cuaca yang dingin, kedai kami menjadi ramai karena memang cocok makan yang panas-panas seperti ramyun. Sudah jam setengah 9 malam, kami bersiap-siap menutup toko. “Ahjussi, ini penghasilan hari ini dan juga uang tipsnya.” Kataku menyerahkua uang pada ahjussi. Eunkyung juga melakukan hal yang sama denganku. “Wah! Banyak sekali penghasilan kita!” “Mikyong, Eunkyung, kalian ambil saja tipsnya, itu kan diberikan kepada kalian.” “Benarkah? Gomawo ahjussi!” kata Eunkyung. “Gomawo ahjussi.” Kataku juga. “Oh iya, ini gaji kalian bulan ini.”kata ahjussi menyerahkan masing-masing amplop kepada kami Aku dan Eunkyung menerimanya. “Gomawo ahjussi.” Kataku. “Gomawo lagi ahjussi! Kau tau saja aku sudah tidak punya uang lagi.” Kata Eunkyung senang. Ahjussi tersenyum. “Ya sudah, pulanglah kalian, hari ini sangat melelahkan. Ini masih ada 3 bungkus ramyun kimchi, siapa yang mau?” tawar ahjussi. “Untuk Mikyong saja ahjussi, kan bisa ia berikan pada adik dan ibunya.” Kata Eunkyung. “Ah bilang saja kau sedang diet.” Kataku. “Hehehe.” Eunkyung hanya cengengesan. “Ini Mikyong.” Kata paman menyerahkan sebuah kantong plastik yang lumayan besar. “Terima kasih paman.” Kataku lagi. “Ne, sudah berapa kali kau bilang terima kasih padaku.” “Hehehe.” Aku pun tertawa garing. “Kami pulang dulu paman!” kataku dan Eunkyung serempak. “Ne! Hati-hati di jalan, dan langsung pulang ke rumah sudah malam.”kata paman. “Ne!” balas kami bersamaan.

Di jalan

“Mikyong, kau sudah buat PR matematika untuk besok?” tanya Eunkyung. “Sudah, kenapa?” tanyaku. “Aku belum buat, besok aku pinjam ya, aku tidak sanggup buat PR lagi, aku sangat ngantuk.” Katanya. “Iya.” “Besok datang lebih awal, nanti aku tidak sempat menyalin.” Katanya lagi. “Iya Seo Eunkyung!” Kau ini cerewet sekali, mana mau Minho denganmu.” Kataku lagi. “Ya Mikyong, aku tidak suka padanya.” Katanya dengan muka merah. “Tidak suka, tapi mukamu langsung merah hanya karena mendengar suaranya.” Godaku padanya. “Ya, mana mungkin aku suka pada manusia es itu.” Katanya lagi. “Ne ne, aku percaya.” Kataku sambil tersenyum. “Mikyong, aku pulang dulu ya! Rumahku kan tidak searah dengan rumahmu. Hati-hati di jalan.” Katanya. “Ne, kau juga hati-hati di jalan.” Aku melambaikan tangan dan berjalan pulang ke rumah.

Seperti biasa aku pulang melewati jalan di mana toko musik itu berada. Ya, sebuah toko musik favoritku, aku suka sekali dengan toko itu. Aku menyukai bangunannya yang tua, aku menyukai cat dindingnya yang mulai terkelupas, aku menyukai pohon besar di depan toko itu, aku menyukai pintu berputar tokonya, aku menyukai grand piano putih di balik etalase toko itu, aku menyukai atmosfir sejuk yang ada di sana, aku menyukai toko tersebut karena toko itu tak memiliki nama dan kurasa aku juga  menyukai seorang laki-laki muda yang mungkin adalah pegawai toko itu, bukan suka yang macam-macam, tapi maksudku aku suka senyum ramah dan tulusnya saat ia menyambut tamu, saat ia tersenyum aku dapat merasakan kehangatannya. Orang yang ramah pikirku. Diam-diam aku tidak hanya sering memperhatikan piano putih toko itu, namun juga mulai memperhatikan laki-laki penjaga toko tersebut. Memang aku tidak pernah masuk ke toko itu, aku hanya melihatnya dari luar. Toko itu juga tidak terlalu ramai, aku pernah melihat beberapa anak kecil yang sering ke toko itu. Saat aku hampir sampai di toko itu, aku mendengar sesuatu. Ya, aku mendengar sebuah alunan piano dari toko itu, sangat lembut dan indah namun juga terdengar memilukan. Kakiku terus bergerak seperti dikendalikan oleh sesuatu dan tanpa sadar aku telah berdiri di depan toko itu, aku mengintip ke dalam toko dari balik kaca etalase, dan ternyata…

————tbc————

Read + Comment = :D

gomawo *bow*

서 은큥

Advertisements

4 thoughts on “Melodies of Life (part 1)

  1. Wooo~ Keren bgt.. Mian bru bca >.< abisnya bru liat dr ffindo… tp bgs kok onn^^

Put Your Comment Here

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s