Posted by: seoeunkyung on: 6 July 2011
SELAMAT DATANG! 
Ayeyy, setelah sekian lama, akhirnya berakhir juga masa pencarian (?) saya.
Tanggal 5 Juli 2011 pukul 21.47 WIB blog berdomain seounkyung.wordpress.com ini dengan bangga #apabangetlah saya beri nama
HAENGBOX
Kinda weird eh?
Ngeliat blog tetangga yang punya nama bagus-bagus, aku jadi iri karna nama blog mereka itu unik-unik dan mencerminkan kepribadian (?) blog mereka.
Paling sirik liat greeting wordsnya, misal Welcome to *Nama Blog* ayayay.. 
Setelah mengubek-ngubek merangkai segala macam kata yang layak untuk diberikan pada blog tercintah, dan ujung-ujungnya ended up dengan suatu kegagalan pencarian nama *belibet*
Bagaimana tetangga-tetangga saya bisa punya ide untuk nama blog mereka? 
Boojaeland, Country Chokyulate, Flameunrii *lirik blogroll*
Namun pemirsah suatu siang bolong saat saya tengah semedi guling-guling sambil ngupil di lantai, tiba-tiba cring *bayangin aja ada lampu keluar dari kepala kayak di komik* muncullah sebuah kata yang jadi kandidat nama blog ini. Wkwk —> bukan ketawa, kamsud saya entar nama blognya “Wkwk” Iya, tau kok, enggak banget. ._.
Pokoknya singkat ceritalah *karna keterbatasan durasi* saya nemuin kata haengbox.
Haengbox? Haengbok?
Yay, dari kata haengbok alias happiness aka kebahagiaan, lagu suju juga, dimana pertama kali nonton mvnya saya masih gak bisa ngebedain 12 makhluk-makhluk yang perasaan lebih centil dari perempuan menari dan menyanyi, kecuali tampang si ikan mokpo dan calon pendeta gagal dengan perut 6 kotak. *ampun*
BACK TO DA TOPIC
Jadi, nama blog ini maksudnya kotak kebahagian #lebe kan haengbok artinya happiness, lalu bok nya diganti jadi box alias kotak, semacam tempat atau wadah buat tulisan tak jelas saya.
Tadinya URL addressnya juga mau kuganti, tapi bakal banyak perubahan di search enginenya, yasutralah, biarkan saja. Jadi nama beken korea saya juga tetep eksis
Sedikit trivia blog ini:
Nama: Haengbox
Founder: Seo Eunkyung aka Nyonya besar Choi
TTL: Dunia maya, 14 Maret 2010 *postingan hello world* *and i forgot it’s 1st anniversary
![]()
Asal-usul: konon tercipta waktu dulu pingin masuk ke blok seenakwon unnie yang diprotect, karna saya kagok dan gaptek, akhirnya coba-coba buat blog wordpress supaya bisa masuk ke blog seena unnie pake password buat masuk dashboard wp saya. *bego*
Okelah, blog ini emang gak populer dan isinya juga gak banyak padahal udah lumayan lama, dari total visitor yang mampir, dipastikan 75% nya adalah saya sendiri *miris* -__-”
Makanya kalo udah mampir, komeng aja yayaya! Jadi kan kitanya entar bisa temenan *mata berbinar* 
yang baca: *muntah*
Akhir kata
WELCOME TO HAENGBOX ^^

Posted by: seoeunkyung on: 17 May 2012
Cast: Byun Baekhyun(18), Park Chanyeol(18), Jung Krystal(18), Jung Eunji(16)
Length: Entahlah
Genre: Cinta-cintaan
Rating: Lulus sensor
BGM: Zhe Shi Ai Suju M Donghae and Henry
Kira-kira beginilah Krystal dan Eunji kalau pake seragam sekolah
Jung Krystal
Jung Eunji
Part 1
Dua pilihan emosi yang mengisi satu kehidupan. Benci dan suka. Tidak ada yang setengah-setengah, kalau pun kau bilang biasa saja pada suatu hal, tandanya kau cukup suka untuk melakukan hal tersebut. Dan kata kurang suka, mungkin hanya memperhalus kata benci.
“Maaf ya, tidak sengaja.”Sosok itu ikut berjongkok dengan bertumpuk-tumpuk buku tebal di atas tangannya. Ia meletakkan buku-buku itu dahulu dan mengambilkan tas bekal berwarna violet yang tergeletak di lantai. Ia memberikannya seraya melempar senyum yang manis kepada pemilik tas bekal itu, seorang gadis berambut hitam panjang bernama Jung Krystal.
Krystal menerima tas bekal itu tanpa satu patah, dua patah kata terima kasih. Begitu ia berdiri, cowok dengan kacamata minus di dekatnya juga berdiri sambil kembali memeluk buku-buku tebalnya. Krystal benar-benar tidak bereaksi saat cowok itu beringsut selangkah lebih dekat pada dirinya, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Krystal membuat setiap gadis-gadis di kelas tersebut menahan nafas.
“Akan sangat manis kalau kau bilang terima kasih.”
Krystal menahan diri untuk tidak memutar kedua bola matanya. Sementara Baekhyun melenggang pergi.
Mata Krystal beralih pada tempat duduk langganannya yang kini terisi sebuah tas. Apa yang dilakukan gadis itu memang sedikit menyebalkan bagi pemilik tas tadi. Ia memindahkan tas tersebut ke lantai dan duduk di bangkunya dengan nyaman, tidak ambil pusing dengan gelengan kepala dari beberapa teman sekelasnya.
Gadis pendiam dan berkepribadian buruk, predikat yang diberikan orang-orang kepadanya.
“Percuma cantik, tapi menyebalkan sepertinya.” Krystal mendengar sindiran yang ditujukan kepadanya. Gadis itu terlihat tidak terusik sama sekali.
Sesekali jari-jarinya mengetuki permukaan meja menghabiskan beberapa menit untuk menunggu pelajaran dimulai. Krystal tentu tidak benar-benar sedang menunggu pelajaran. Ia menunggu bel pulang, bahkan sebelum bel masuk berbunyi.
*
Gadis itu sibuk menggulung rambut coklatnya di depan cermin toilet perempuan dengan buru-buru, ia sedikit terlambat keluar kelas karena mendapat giliran piket sementara ekstra kulikuler balet dimulai tepat setelah jam pulang sekolah. Begitu selesai dengan rambutnya, gadis itu meninggalkan toilet dengan melupakan satu hal. Ponselnya.
“Annyeong haseo!” Ia membungkuk begitu membuka pintu ruangan eskul.
Pelatih balet hanya mengangguk sekilas dan mengisyaratkan agar ia segera berganti pakaian sebab siswi lain telah siap untuk memulai latihan.
Eunji, gadis itu segera mengganti pakaiannya dengan pakaian dari bahan karet serta rok tutu.
Ia menjejalkan seragam sekolahnya ke dalam tas dan setelah memasukkan tas itu ke dalam loker, ia menyusul ke ruang latihan.
*
Krystal duduk sendirian di undakan kedua tangga di depan gedung utama sekolah. Headset tersumpal di kedua telinganya sementara kedua tangannya memegang buku catatan yang tidak terlalu tebal. Lagi, ia harus mengulang tes kognitif pelajaran biologi. Gadis ini selalu menghabiskan jam pulang sekolahnya untuk kegiatan ‘ekstrakulikuler’ tambahan yang khusus diperuntukkan bagi siswa berotak kurang cemerlang, ulangan remedial.
Sementara membaca catatan miliknya sendiri, pikirannya lebih tertuju pada lirik-lirik lagu Lonely milik 2ne1 yang mengalun dari music player di ponselnya sementara matanya berulang-ulang hanya membaca sebaris kalimat,
“Inti generatif 2 akan membuahi inti kandung lembaga dan membentuk endosperm untuk cadangan makanan zygot”
Ia tidak fokus.
Sesekali matanya berair setelah menguap, hidungnya telah memerah karena bersin-bersin. Andai saja ia berada di dalam kamar, di atas ranjang empuk dan selimut hangat, tentu ia sudah tergeletak dengan kesadaran nol meskipun baru beberapa detik memejamkan mata.
“Tsk.”
Menyebalkan ia mendapatkan jarum pendek arlojinya tengah berada di antara angka 3 dan 4, ulangan remedialnya akan dimulai. Ia menepuk roknya dari pasir yang melekat dan melangkah melewati undakan terakhir kemudian segera menuju TKP ujiannya.
Tak seorang pun kecuali cowok berambut dark brown hampir hitam yang berdiri membelakangi pintu masuk dan menghadap ke jendela kaca transparan yang ditemukan Krystal di ruang kelas itu.
Krystal masih berdiri di ambang pintu ketika cowok yang tadi membalikkan badan hingga mereka dapat melihat wajah satu sama lain dengan jelas.
Cowok itu tersenyum. Krystal tidak.
“Kau ingin segera mengerjakan soal atau hanya berdiri di sana?”
Tangan cowok itu tidak kosong, melainkan selembar kertas putih berisi tulisan-tulisanlah yang rupanya ia pegang di tangan kirinya.
Krystal belum bisa menebak apa yang terjadi sekarang, ke mana Pak Shim, dan siswa lain yang akan ikut ulangan remedial atau ulangan susulan.
Byun Baekhyun melangkah mendekati Krystal karena gadis itu tak kunjung meresponnya. Baekhyun menyodorkan kertas yang ada padanya sedari tadi.
“Soalmu, Pak Shim menyuruhku menjagamu, maksudku mengawasimu karena ada urusan yang lebih penting dari pada mengurusi anak yang ulangan remedial.”
“Kenapa hanya satu?” Untuk pertama kalinya hari itu Krystal membuka suara.
“Sayang kau ini irit bicara, aku suka suaramu.”
Krystal punya alasan baru untuk tidak menyukai orang di hadapannya ini, Byun Baekhyun cowok yang penuh dengan omong kosong, dan cukup bodoh untuk menjawab pertanyaan dengan kalimat lain yang tidak berhubungan sama sekali.
Krystal mengambil meja terdekat dari tempatnya berdiri. Ia mengeluarkan pulpen dari dalam tas.
Kening Krystal berkerut bahkan ketika ia baru membaca tulisan di kolom identitas.
Nama:
Kelas:
Nomor ponsel:
Tanggal lahir:
Alamat:
Makanan kesukaan:
Warna favorit:
Ukuran pakaian:
Bunga favorit:
Hal yang paling diinginkan:
Hal yang paling dibenci:
Jelas 8 pertanyaan selain nama dan kelas adalah kerjaan iseng –siapa lagi kalau bukan- Baekhyun.
Sementara si pelakunya tersenyum geli ketika gadis itu wajahnya berkerut.
Krystal tahu kalau Baekhyun tengah melempar senyuman ke arahnya, untuk itu ia tidak ingin mendongak demi menghindari tampang tebar pesona Baekhyun.
Krystal mulai larut dalam soal-soal biologi, sementara Baekhyun berjalan berputar-putar di dalam kelas, dan kali ini berhenti di meja dekat Krystal menulis. Ia duduk di atas meja sementara kedua kakinya di atas kursi. Kedua tangan cowok itu berpangku pada pipinya. Matanya menatap lurus ke arah Krystal.
“Kry..”
Sama seperti dugaannya gadis itu tidak menjawab, bukan tidak dengar melainkan pura-pura tidak dengar.
“Kau suka warna biru ya?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja saat ia mendapati pulpen, tip-ex dan kotak pensil biru muda milik Krystal.
Krystal mencoba mengabaikan Baekhyun yang menurutnya sengaja merusak konsentrasinya.
“Biru muda, kau pasti suka laut?”
“Sok tahu!” Dumel Krystal dalam hati.
“Kau ingin aku ceritakan sesuatu?” Baekhyun mengubah sikapnya menjadi duduk bersila di atas meja.
“Tidak terima kasih.” Begitulah yang dikatakan Krystal, dalam hati tentunya, suaranya terlalu berharga untuk meladeni orang macam Baekhyun.
“Kau tahu kenapa aku pindah ke sekolah ini?” Baekhyun memandang langit-langit, namun terus berbicara.
“Orang tuaku bercerai. Ibuku menikah lagi dengan seorang pengusaha kaya, rupanya mereka telah berselingkuh bertahun-tahun sebelum bercerai.”
“Dia sedang curhat hah?”
Tatapan Krystal tak lepas dari kertas, namun telinganya mendengar baik-baik cerita anak cowok yang baru satu bulan belakangan ini menjadi teman sekelas Krystal.
“Aku tidak mau tinggal dengan ibu, tapi ayah memaksa karena dia miskin. Paling tidak aku harus tinggal dengan ibu sampai lulus kuliah, begitu katanya.”
“Tapi pikiran menjalani sisa masa sekolah yang masih beberapa tahun ini dengan belajar sungguh-sungguh dan segera lulus lalu tinggal dengan ayahku rupanya tidak akan terjadi, seminggu yang lalu ayah meninggal. Dan hanya ke pemakamannya saja ibuku tidak sudi lagi.”
Krystal sedikit terkejut mendengarnya, namun suara Baekhyun tetap tenang dan datar seolah kata ayahku meninggal sama entengnya dengan ‘aku ngantuk’ atau ‘aku lapar’.
Krystal belum mengerti kemana arah pembicaraan ini, dan untuk apa Baekhyun menceritakan hal sensitif begini kepada orang lain yang sama sekali tidak saling mengenal dekat.
“Tentu saja karena dia sudah hidup senang sekarang dengan ayah tiriku, atau harus kusebut ayahnya Park Chanyeol?”
Krystal benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat Baekhyun.
Sementara Baekhyun menyeringai tipis mendapati ekspresi kaget dan bingung itu kentara terlihat dari mata gadis di hadapannya.
Krystal menyadari perubahan emosi Baekhyun. Tidak ditunjukkan cowok itu secara jelas, tapi Krystal cukup peka untuk menyadari bahwa Baekhyun menjadi orang yang lebih menakutkan dari sebelumnya.
“Kudengar Chanyeol suka padamu kan.” Baekhyun tidak bertanya, dan Krystal tidak menjawab.
Cowok itu turun dari atas meja, perlahan memperkecil jarak antara ia yang berdiri dan Krystal yang tetap duduk.
Seakan tahu apa yang akan keluar dari bibir cowok itu, Krystal merasa itu bukan hal yang baik.
“Apa yang disukai orang itu, berarti menjadi apa yang kubenci, berhati-hatilah denganku sayang.”
Byun Baekhyun memandang Krystal lekat-lekat kemudian melompat dari atas meja, meninggalkan Krystal sendirian di kelas itu beserta 4 buah soal yang masih belum selesai dikerjakan.
“Sinting.” Dengus Krystal. Ia kembali mengerjakan soalnya sambil membuka buku catatan,tidak ada yang mengawasi bukan?
*
“Coba ingat-ingat, dimana terakhir kau menggunakan teleponmu?”
Eunji mencoba mengingat-ingat, terlihat jelas raut wajahnya yang tampak berpikir keras.
“Sepertinya sebelum aku pergi kesini, ponselku masih ada, buktinya aku sempat melihat jam saat ganti baju, aha toilet lantai dasar, pasti tertinggal di sana saat aku merapikan rambut.” Refleks, gadis itu menepuk dahinya sendiri.
“Ck, dasar pelupa.”
“Hehehe, temani aku ke sana ya Sulli-ya!”
“Iyaaaa.”
Keduanya berlari-lari tanpa alas kaki kecuali stocking yang menutupi telapak kaki mereka.
Begitu menuruni tangga, mata tajam Eunji menangkap sesosok yang baru keluar dari toilet perempuan. Dan ia bisa melihat benda kotak yang ia kenali berada di balik genggaman tangan sosok itu.
“YA KAU!”
Tanpa ba bi dan bu, Eunji bergerak hendak mengejar orang tersebut. Sosok yang dicurigainya sebagai pencuri HP.
“Hey kau yang di sanaaaaaaaaaaaa..”
&^%$#@#$%^&&*
“Eunji-ya!”
Gadis itu benar-benar mendarat dengan posisi yang membuat bokongnya remuk, namun kita tahu satu hal, Eunji berhasil menghentikan pencuri(hanya asumsi sementaranya) ponsel miliknya.
PUTAR LAGU ZHE SHI AI NYA DONGHAE SAMA HENRY YANG OST SKIP BEAT ITU LO!! *agak santai*
“Pasti sakit ya?”
Eunji mendongak dari dari aktivitas mengelus bokongnya, sebab rasa ngilu itu sampai ke tulang, ia siap mendamprat orang di depannya.
“Tentu saja bodoh!”
Sosok di depannya itu tersenyum, membuat ia terlihat semakin tampan.
“Kalau begitu kenapa lari-lari?”
Eunji terperangah.
“Karena ponselku hendak dicuri orang bernama B..yun Baekhyun!!”
Baekhyun melirik seragamnya sendiri, di badge name yang terjahit rapi di bagian dada kanannya.
“Ini ponselmu nona?”
Baekhyun menjulurkan tangannya di depan Eunji.
“Menurutmu.” Eunji merampas ponsel putihnya dari tangan Baekhyun.
“Eunji-ya, kau tak apa?” Teman gadis itu yang sedari tadi hanya melihat dari dekat tangga akhirnya mendekat menghampiri Eunji.
“Tentu aku kenapa-napa Sulli!” ujar Eunji dengan nada geram.
“Bilang pada temanmu, aku hanya ingin mengembalikan ponselnya yang kudengar berbunyi dari arah toilet saat aku lewat sini.” Baekhyun berbicara pada Sulli seolah-olah tidak ada Eunji di sana, dan gayanya ini membuat Eunji sebal.
“Eh, iya, maaf ya temanku salah sangka.” Sulli memmbungkuk sedikit, dan Baekhyun berbalik pergi begitu saja.
“Hey, kau jangan terpesona dengannya, bantu aku berdiri!”
“Demi bokongmu yang sakit, cowok itu benar-benar keren!” Sulli masih memandangi punggung Baekhyun dengan tatapan berbinar-binar.
“Demi bokongku yang sakit, tolong aku!!!!”
*
Baekhyun melenggang masuk ke dalam ruang kelas yang beberapa menit lalu baru saja ditinggalkannya, namun tidak ada siapapun di sana. Ia berjalan ke arah meja yang tadi digunakan Krystal, tergeletak kertas ulangannya yang telah terisi sempurna, beserta quesioner ngaur darinya.
Nomor ponsel: Tidak hafal
Tanggal lahir: Tanya ibuku
Alamat: Surga
Makanan kesukaan: Sedang diet
Warna favorit: Aku buta warna
Bunga favorit: Bunga bank
Hal yang paling diinginkan: Tidak bertemu denganmu
Hal yang paling dibenci: Kau dan cerita cengengmu
“Tsk, gadis ini.”
*
Krystal’s Pov
Gadis bodoh itu masih saja mengikuti kelas tarian bodohnya, sementara aku harus menunggu dan pulang bersama supaya ibu tetap menganggap dua anak perempuannya adalah kakak beradik yang akur dan baik-baik saja.
Anak manja yang suka menempel pada ayah dan ibu, sudah dewasa tapi tidak sadar umur, dikiranya dia manis bersikap memuakkan seperti itu.
Lihat bagaimana caranya berjalan dengan lelet dengan temannya yang super centil itu.
Aku berdiri dari bangku taman depan sekolah, dan melangkah duluan saat Eunji itu masih sibuk melambai ria pada temannya.
“Kita tidak naik bus, ayah menelponku akan menjemput.” Ia mengucapkan itu dengan nada yang sinis. Jika tidak kusebut sinis, maka kalimat tadi pasti terlihat biasa saja.
Begitulah, dia mengucapkan kalimatnya dalam bahasa yang sopan, dan hanya perlu mengganti nadanya menjadi tidak enak didengar jika berbicara padaku, dan hanya di depanku, bukan di depan yang lain.
Jadi, masing-masing kami memang punya sentimen satu sama lain, atau kuperjelas, aku benci dia, dia benci aku.
Mau tidak mau aku berhenti berjalan, sementara anak manja itu tengah duduk di tempat duduk yang tadinya aku gunakan, aku berjalan kembali mendekati undakan tangga, dan duduk di sana.
Anak itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya hingga berbunyi seperti plastik yang bergesek.
Sebungkus roti selai blueberry.
Dia mulai membuka kemasannya dan memakan roti itu dengan suapan kecil-kecil dengan nikmatnya, di depan mataku.
Dia tahu aku lapar, dan dia tahu aku menginginkan roti itu sekarang.
“Kenapa, kau mau?”
Aku membuang mukaku.
“Yah, tentu saja, mustahil kau bilang mau, dan mustahil aku membagi rotiku.”
Dia memang kurang ajar.
Aku melihat jam di ponsel menghindari melihatnya yang memakan roti.
Sudah hampir jam 6 sore.
Bisa kulihat dari kejauhan bentuk mobil yang sudah kuhapal, aku bangkit berdiri dan membersihkan pasir dari rok, dengan langkah yang besar-besar menghampiri mobil ayah yang semakin mendekat.
*
Author’s Pov
“Kita mau kemana appa?” Eunji akhirnya membuka suara dan bertanya hal yang paling ingin ditanyakan Krystal sejak tadi, sebab ayah mereka hanya tersenyum ketika menjemput kedua anak gadisnya dan melewati jalanan yang tidak biasa dilewati untuk menuju rumah mereka.
“Ke tempat perempuan-perempuan bersenang-senang, eomma kalian sudah menunggu di salon. Terkadang appa bingung, apa enaknya berjam-jam duduk sampai pinggang pegal di sana.” Ujar ayah dengan sedikit dumelan.
Salon?
“Ke salon? Tumben sekali kami diajak? Berarti kami boleh perawatan apapun di sana kan?
“Iya.”
“Asyik!!”
“Aduh Eunji, jangan tarik-tarik tangan appa, nanti kita bisa tabrakan.”
“Upps, maaf appa, hehe. Habis kemarin, aku minta creambath dan curly rambut dengan eomma, katanya tunggu appa gajian.”
“Iya, appa sudah gajian, nanti kau minta semuanya di sana boleh.” Appa mengusap-usap kepalanya, sementara ia menyengir seperti anak anjing yang belagak sok lucu di depan majikan. Ingin kujambak rambutnya.
“Kry, appa tidak memaksamu nak, kau yakin.”
Suara appa membuyarkan pikiranku, bisa kulihat appa menatapku dari kaca spion.
“Aku tidak merasa terpaksa, appa tidak usah khawatir.”
Kulihat appa tersenyum lega mendengarnya.
“Memangnya ada apa sih?”
Suara centil itu bertanya entah padaku atau appa.
“Tidak ada sayang, kita sudah hampir sampai.”
“Omo, ini salon yang langganannya banyak artis Hallyu, appa. Aaa, aku tidak sabar!”
“Iya, ayo kita turun.”
Lihat Kry, meskipun hanya sekali, kau harus berguna bagi orang tuamu.
*
Author’s Pov
Pria berumur hampir 50 tahunan itu meletakkan sumpit serta sendoknya, mengakhiri acara makan malamnya.
“Seorang teman ayah, yang juga merupakan rekan bisnis ayah ingin mengadakan kerjasama dengan perusahaan kita.”
Tiga pasang mata teralihkan perhatiannya kepada bapak yang yang baru saja membuka pembicaraan. Antara perasaan tidak tertarik, heran akan topik yang tidak biasanya dibawa ke dalam makan malam keluarga, ataupun yang cukup tertarik mendengarnya.
Tidak ada yang menyela karena jeda yang dilakukan bapak itu hanya untuk mengalihkan semua perhatian dan ia mulai melanjutkan.
“Perusahaannya hampir collapse, dan sebagai teman, ia meminta bantuan pada perusahaan kita.”
Di salah satu kursi, anak laki-laki dari keluarganya ini dengan tidak berminat sama sekali mendengar kelanjutan pembicaraan malam itu mengambil segelas air putih dan meneguknya dengan cepat, ingin segera pergi dari meja makan itu.
“Ia meminta agar perusahaan kita menandatangani kerjasama sebab para pemegang saham kecil di perusahaannya beramai-ramai ingin menjual saham ke pihak oposisi perusahaan tersebut, karena harga saham mereka yang anjlok dengan drastis, dan pihak saingan mereka bersedia membeli saham tersebut dengan harga normal. Perusahaan teman ayah benar-benar berada di ambang kebangkrutan, dan tidak ada jalan lain selain melakukan kerja sama untuk proyek bidang propertinya yang terancam gagal.”
Di sudut yang lain laki-laki muda mendengarkan dengan seksama, meskipun tidak begitu kentara ditunjukkan bahwa ia penasaran dengan apa yang akan disampaikan ayahnya ini.
“Jika sebagai pesaing bisnis, aku tentu tak akan membantunya karena perusahaan itu sama sekali tak memiliki prospektif yang menjanjikan, tapi pada akhirnya aku setuju untuk melakukan kerja sama.”
“Yeobo, walaupun aku tidak mengerti soal bisnis, tapi atas dasar apa kau mau melakukan kerjasama dengan perusahaan yang hampir bangkrut?” wanita dewasa satu-satunya yang berada di antara kursi meja makan itu angkat bicara.
“Aku belum selesai bicara sayang.”
Pria itu terkekeh.
Membuat semua orang di sana terlibat rasa penasaran.
“Ini karena dia adalah temanku, dan aku membantunya sebagai teman, dengan satu syarat..”
“Perjanjian pernikahan, anak kita dan anaknya.” Bapak itu menyelesaikan kalimatnya.
“Maksudnya kau menjodohkan Chanyeol dengan anak gadis temanmu itu?” Wanita itu mencoba memperjelas apa yang baru disampaikan suaminya.
“Sepertinya kalian sudah mengerti.”
Chanyeol tidak bereaksi, namun tangannya mengepal di bawah meja.
“Ternyata benar.” Cowok itu, dari wajah yang menunduk, kini ia menegakkan kepalanya menatap tanpa fokus, sementara 3 pasang mata lainnya menatap dia dengan pandangan tak mengerti
“Jika perjanjian pernikahan itu dilakukan, tentu dia akan menjadi pewaris perusahaan, dan Park Chanyeol adalah calon tunggalnya, apa ayah melupakan anak laki-laki lain di rumah ini..”
“Baekhyun-ah, jaga bicaramu.” Sentakan itu memotong perkataan cowok yang dipanggil Baekhyun.
“Atau karena aku tidak punya ikatan dengan keluarga ini? Darah memang lebih kental dari air bukan.”
“Baekhyun!”
“Yeobo, tidak apa.” Pria itu menenangkan istrinya yang hampir meledak dan beralih pada Baekhyun lagi.
“Baekhyun-ah, jika kau berpikir aku tidak menganggapmu, itu salah nak. Ayah bahkan takut kau akan merasa dianggap seperti dimanfaatkan dalam keluarga ini jika kau yang ikut dalam rencana perjodohanku, itu sebabnya aku memilih Chanyeol, tapi jika kau bersedia, aku tak akan melarangmu untuk mengikuti perjanjian ini.”
“Yeobo, kau tidak perlu melakukan itu, biar Chanyeol saja, dia kan anak kandungmu, dan dia lebih berhak atas perusahaanmu.”
“Tidak sayang, Baekhyun dan Chanyeol sama-sama anakku. Kalau Baekhyun bilang seperti tadi, aku justru merasa senang, karena ia sudah merasa memiliki keluarga ini sebagai keluarganya sendiri.”
Bapak itu melebarkan senyumnya menatap kedua putranya bergantian.
Dan Baekhyun cukup pandai untuk menyembunyikan seringaiannya.
“Dan Chanyeol, ayah tahu kau tidak begitu suka dipaksa, tapi jika kau keberatan dalam perjodohan ini, katakan saja, sebab kekhawatiran ayah tidak terbukti karena adikmu bisa menggantika..”
“Tidak, aku tidak keberatan.”
.:TBC:.
Halo semua, maaf karena aku ga bisa ngepost dalam jarak yang singkat, sebentar lagi mau ulangan semester, dan waktu pun pasti makin susah diatur.
Segala kata yang aneh dan typo mohon dimaklumi, dan tolong pahami jalan ceritanya ya, karna keterbatasanku dalam mengolah kata-kata untuk pendeskripsian tokoh, situasi, tempat ataupun suasana supaya cerita ini jadi sejelas mungkin, jadi bacanya sambil berimajinasi sendiri ya. Wkwk
Posted by: seoeunkyung on: 6 May 2012
The title heard kinda lame-_-
Cast: Byun Baekhyun(18), Park Chanyeol(18), Jung Krystal(18), Jung Eunji(16)
Length: Entahlah
Genre: Cinta-cintaan
Rating: Lulus sensor
Eunji disini Apink, anggap dia lebih muda dari Krystal.
Posted by: seoeunkyung on: 14 April 2012
Cast: Choi Seunhye, Cho Kyuhyun, Seo Eunkyung
Genre: Romance
Rating: PG
Length: Ficlet
Hampir setiap menit mataku terus mencuri pandang ke arah dinding paling belakang ruangan lab komputer. Jika aku diberi pilihan untuk memiliki satu kekuatan seperti tokoh di film anime, maka aku sangat ingin memiliki kemampuan ilusi waktu, tentu saja untuk membuat jarum detik berputar 100 kali lebih cepat dari semula agar aku bisa segera keluar dari penjara kolestrol ini.
Posted by: seoeunkyung on: 7 March 2012
Cast:
___ (Whoever)
Lee Taemin
Kim Jongin / Kai
Others
Genre: i hate to mention romance! Abal-abal pula. Padahal mau buat yang dark action ada angst angstnya atau apalah, ujung-ujungnya balik lagi ke romance. AAAAA
Rating: Parents guide (Ajak mamanya baca bareng)
Lenght: Short series yang seharusnya dibuat oneshot, tapi karna authornya ngebet pengen post, jadi dibuat bersambung.
Previous: 1
“Kyaaa! Ada yang mengintip!”
‘Tempat biasa, aku membawa seorang teman.’
Ia malah mengedip menjijikkan. Muka dua, kepribadian ganda.Hanya karena ia klienku, kalau tidak aku tak sudi dekat-dekat dia.

Part 2
___’s pov
Aku memasuki kawasan sebuah klub malam terselubung. Bangunannya hanya terlihat seperti sebuah minimarket biasa dari luar.
Begitu sampai di ruangan belakang, aku ditahan oleh dua orang security, namun setelah melihat wajahku, mereka mempersilakanku masuk.
Langkahku kupercepat sepanjang koridor yang hanya diterangi temaram cahaya dari lampu 5 watt. Aku tak suka gelap. Semakin mendekat ke ujung lorong, suara hiruk pikuk dan dentuman musik disco mulai terdengar.
Kental sekali aroma alkohol. Satu lagi yang aku tidak suka. Baru sampai di depan pintu masuk, seseorang melambai kepadaku, tanda kedatanganku memang sudah ditunggu. Berjalan menyebrang dari depan pintu masuk ke meja counter bar yang hanya dipisahkan jarak tidak lebih dari 10 meter terasa sangat sulit karena gerombolan orang mabuk yang menari-nari di atas lantai membuatku sulit untuk menyeruak.
Klub ini lebih banyak didatangi orang-orang muda, dengan umur berkisar 16-30 tahun.
“Hai sayang.”
Aku tak merespon, melainkan duduk di kursi tinggi di depan meja counter minuman.
“Ingin minum apa nona?”
Aku menggeleng dan bartender itu kembali menekuni pekerjaannya mengelap gelas sloki.
“Di mana temanmu?”
Cowok beroutfit branded yang berdiri dengan tangan menopang di atas meja dan memegang segelas wine ini tersenyum kemudian menelengkan kepalanya ke arah sofa di sudut klub di mana seorang cowok duduk diapit beberapa orang perempuan yang mencekokinya minuman yang sudah jelas berupa alkohol.
“Your turn.”
Aku turun dari kursiku, mendatangi sofa tempat cowok yang dibawa Kai itu duduk. Kedua perempuan bar yang masih seumuran denganku menyingkir, memberiku celah untuk duduk.
“Hai, aku ___.” Aku mengambil tempat duduk hampir mendempetnya. Cowok itu mendongak menatapku.
“Halo.” Nafasnya bau alkohol, sudah mabuk rupanya. Aku menatap cowok ini, bukan tipikal anak nakal pembuat onar, sekali lagi Kai menjerumuskan anak yang baik.
“Jadi siapa namamu tampan?” Aku tak yakin suaraku benar-benar terdengar menggoda.
“Hahaha, namaku ya? Namaku tidak penting, karena julukan ‘Nerd’ sudah menjadi namaku sekarang. Aku mau minum itu lagi!”
Kuambil sebotol bir yang isinya sudah berkurang setengah, menuangnya ke dalam gelas yang sedari tadi dipegang anak itu.
“Memangnya mauku menjadi kaum tersingkir, setiap hari, diolok-olok, diperlakkan seperti binatang? Siapa yang mau seperti itu! Makanya berhenti menghinaku!”
Frustasi dengan kehidupan? Baiklah, tugasku menunggunya menyelesaikan racauan tidak penting ini dan aku bisa pulang.
“….mereka tidak punya otak.” Ia sudah berhenti mengoceh.
“Sudahlah, aku bisa membuatmu melupakan semua itu dengan ini.” Aku mengeluarkan bungkusan berisi serbuk putih yang sudah kugenggam dari tadi.
“Itu, apa?” ia bertanya dengan mata yang meram melek.
“Ini, bisa membuatmu senang, membuatmu lebih rileks dan melupakan semua masalahmu.”
“Aku harus bayar berapa?”
Target locked.
“Ambil saja, gratis untuk teman baruku.” Aku menyodorkan bungkusan itu dan menyelipkan secarik kertas.
“Kau baik sekali.” Aku menyeringai samar mendengarnya.
Dan bagaiamana ia terlihat asing menggunakan barang itu, menyatakan kalau dia memang baru pertama ini memakainya, aku merasa ada sesuatu yang aneh, entah kenapa, aku hanya merasa kalau yang aku lakukan itu tidak baik, benarkah? Memang masih ada hal baik yang pernah aku lakukan sekarang?
Aku beranjak meninggalkan sofa menuju pintu keluar, kepalaku terasa sedikit berat, aku ingin cepat sampai rumah.
“___!”
“___!”
Namaku dipanggil berulang kali, sebenarnya aku telah mendengar panggilan pertama dari Kai semenjak di dalam bar, tapi aku pura-pura tak mendengar, namun di koridor yang sepi ini aku tak punya pilihan selain menoleh.
“Maaf, aku merasa tidak sehat, aku sudah boleh pulang bukan?”
Wajah Kai yang tidak terlalu jelas terlihat, menunduk mendekat ke wajahku, hingga kulit kami bersentuhan, dan ia membiarkannya sebentar.
“Kuantar, kau agak hangat!”
Pernyataannya perintah, bukan tawaran, ia merangkul badanku dan menuntunku berjalan.
“Aku hanya demam Kai, jangan perlakukan aku seperti nenek lansia.” Kutepis tangannya dari bahuku.
“Baiklah, bagaimana dengan ini?”
Aku bahkan tidak sempat berontak ketika tangannya sudah menopang tubuhku hingga aku tak lagi berpijak pada tanah. Kai menggendongku.
“Terserah kau sajalah.”
Ia tersenyum.
“Memang, dan akan terus begitu sayang.”
Kepalaku terasa semakin berat.
*
Author’s pov
Gadis kecil itu merangkak berusaha pergi menjauh, namun rambutnya ditarik dan dijambak dengan sangat kasar hingga ia berdiri.
“Hiks..hiks, ampun nyonya, bukan aku yang mencuri!”
PLAK PLAK!
“Tidak ada ampun untuk pencuri sepertimu, dasar tidak tahu diri!”
Pipinya membiru, bercak darah menghiasi sudut bibirnya.
Masih belum puas wanita dewasa yang tengah menarik rambut panjang gadis itu menampar berkali-kali.
Gadis lain yang terlihat beberapa tahun lebih tua melempar senyum sinis, sambil memegang sejumlah uang di belakang tubuhnya.
Pandangan wanita itu terarah pada sebuah gunting yang tergeletak di atas meja. Ia mengambil gunting itu dan memotong rambut gadis kecil yang hampir tak sadarkan diri di dekat kakinya.Wanita itu kemudian meninggalkan gadis kecil tadi.
Gadis itu meringkuk di ruangan gelap di belakang toko sendirian. Entah sudah berapa lama matanya terpejam, terlelap namun bukan pingsan. Ia terjaga karena dinginnya lantai yang menusuk kulit hingga ke tulang. Sekuat tenaga, ia menopang tubuhnya dengan tangan yang menyangga di lantai, tanpa sengaja menyentuh helaian rambut panjangnya yang telah digunting dengan brutal, ia berusaha menegakkan tubuhnya. Hingga ia berhasil berdiri di atas kedua kakinya yang sangat lemas dalam kegelapan.
Tubuhnya tidak seimbang, ia merosot ke lantai beberapa kali. Rasa pusing dan lapar yang amat sangat benar-benar menyiksa gadis kecil itu. Air matanya masih meleleh dari kedua matanya yang membiru. Tangannya meraba-raba sampai ia menemukan setumpuk kardus, ia berpegangan pada kardus itu, meniti jalan mencari letak pintu keluar.
Di tengah kegelapan malam, kedua kaki kecilnya melangkah menyusuri emperan toko yang hanya diterangi cahaya lampu jalan.Ia terjatuh untuk ke sekian kalinya, tanpa sisa tenaga kali ini, ia tak sanggup berdiri lagi. Perlahan tapi pasti matanya meredup, kesadarannya memudar, namun belum hilang sepenuhnya.
Samar-samar matanya masih menangkap sebuah mobil yang menepi di pinggir toko. Gadis itu mengerjap lagi, beberapa sosok turun dari mobil tersebut.
Salah seorang di antaranya berjongkok di dekat tubuh gadis itu.
Dan gadis itu benar-benar pingsan seutuhnya.
Gadis itu mengerjap, pusing langsung menerjang kepalanya, membuat kelopak matanya semakin terasa sakit untuk dibuka.
“Kau sudah bangun?” suara bass seorang pria dewasa dengan setelan formal menyapa telinga gadis itu setelah tidur panjangnya hampir seharian penuh.
Kedua mata gadis itu memancarkan kesenduan, bibirnya rapat terkunci, ia merasa sangat asing dengan orang yang mengajaknya bicara itu, juga tempat dan suasana di mana ia berada.
“Paman tidak akan berbuat jahat, jangan takut.” Suara itu kembali berseru dengan irama yang lebih lembut.
Pelan-pelan gadis itu merasa yakin, kalau ia bisa mempercayai orang di hadapannya.
“Siapa namamu gadis kecil?”
Walaupun masih dengan takut, gadis itu akhirnya membuka suara.
“___.” Ujarnya sangat pelan.
Pria itu tersenyum.
“Mulai sekarang kau mau kan tinggal di sini?” Dengan nada yang lembut, gadis kecil itu sekali lagi merasa bahwa orang itu tidak akan menyakitinya.
Kepala gadis itu mengangguk-angguk pelan.
Pria itu tersenyum sekali lagi dan membelai rambut pendek gadis kecil itu.
CKLEK
Pintu ruangan kamar itu terbuka, sesosok anak laki-laki kecil melangkah masuk sambil memegangi robot mainannya.
“Appa, dia siapa?”
Anak laki-laki itu berdiri di dekat pintu.
Ayahnya yang duduk di kursi di pinggir ranjang tempat gadis kecil yang masih dipenuhi luka lebam di wajahnya berbaring beranjak berdiri mendekati bocah laki-laki itu. Pria itu menggendong anak laki-laki satu-satunya, tersenyum.
“Teman barumu Jongin, dia milikmu.”
TBC
p.s: Pendek yah. Sekali lagi, ff ini dikerjakan dengan mood, maaf kalo berantakan dan bahasanya kacau/ sulit dimengerti, jalan ceritanya juga mengalir seadanya.
Tetem gak muncul di sini, tapi di part selanjutnya ada kok.
I will update as soon as possible ^^
Posted by: seoeunkyung on: 3 March 2012
Cast:
___ (Whoever)
Lee Taemin
Others
Genre: i hate to mention romance!
Rating: Parents guide (Ajak mamanya baca bareng)
Length: Short series yang seharusnya dibuat oneshot, tapi karna authornya ngebet pengen post, jadi dibuat bersambung.
Kenapa ada Kai?
Karena dia ganteng *digantung*

Part 1
Aku, terlalu banyak berkhayal. Membayangkan, mengukir sebuah angan yang tentu hanya dapat menjadi mimpi. Terkadang aku duduk di atas bangku halaman belakang waktu subuh menjelang pagi, ketika aku sengaja bangun lebih awal untuk mengerjakan PR yang tak sanggup lagi kukerjakan di malam sebelumnya, aku menatap langit gelap, dan membiarkan udara dingin menyapu seluruh badanku. Dan di saat itu pikiranku akan melayang tentang bagaimana rasanya memiliki kehidupan sempurna layaknya hidup seorang gadis pemeran utama di drama-drama kebanyakan.
Sekarang kedua tungkai kakiku tengah melangkah menyusuri jalanan gang yang setiap hari secara rutin kulewati. Music player yang dulu kudapat setelah melakukan penghematan habis-habisan hampir selalu menyala memutar lagu-lagu ballad yang bertempo lambat dan bernada sedih selalu berhasil memancingku untuk berkhayal lagi. Apa yang kupikirkan adalah, seorang cowok most wanted jatuh cinta padaku, teman SMPnya yang antisosial dan tidak populer. Tapi cowok itu sudah punya kekasih, si cewek manja yang kaya raya. Dan ketika cewek itu dipermalukan habis-habisan di pesta ulang tahunnya oleh pacarnya sendiri –si cowok most wanted- karena pacarnya memutuskan ia tepat di acara puncak, aku si gadis cupu yang sengaja diundang untuk dikerjai di pesta ulang tahun itu, menjadi bulan-bulanan sang putri manja. Aku di dorong ke kolam renang –bukankah pesta ulang tahun orang kaya selalu memiliki latar kolam renang hotel mewah berbintang- dengan sadis oleh si cewek manja. Tentu saja sang cowok most wanted tanpa banyak berpikir melompat langsung ke dalam kolam masih komplit dengan setelan formalnya karena ia terlalu panik saat mendapati gadis yang membuat ia berpaling –tentu saja aku- kehabisan nafas dan meronta di dalam air. Cowok itu sukses membawaku dan mengangkatku ke tepi kolam renang. Tangannya menepuk-nepuk pipiku, namun ketika ia menemukan bercak merah yang mengalir dari pelipisku, dengan semakin panik ia menggendongku, berlari membawaku yang tengah pingsan dan berdarah menuju lift. Sementara tamu undangan hanyan menyaksikan kejadian itu seperti sebuah episode drama.
Semua lamunanku buyar begitu sebuah tangan melambai di depan mukaku. Aku menatap pemilik tangan itu sinis. Cowok jakung dengan rambut hitam yang setiap hari selalu kutemui di gang ini masih seperti biasa, menyedot dan menggigit sedotan yang menancap pada botol susu pisang yang rasanya seperti bubur bayi bagiku.
Aku melepas sebelah tali tas ransel dari bahuku, dan mengaduk isi tasku, mencari benda yang akan ditagih olehnya.
Sebuah pulpen. Dan ia tersenyum penuh arti menerima pulpen itu, lalu menyelipkan beberapa lembar won ke tanganku.
“Gomawo.”
Ia berlalu dari hadapanku.
Begitupun aku, kulanjutkan khayalan yang tertunda barusan, aku harus koma karena pendarahan akibat benturan di dinding kolam renang, atau langsung meninggal saja?
*
“___!”
“___!”
Aku mendongak sejumlah pasang mata tengah memandangi aku, hingga aku melihat guru bahasa inggris yang tengah berkacak pinggang berdiri di depan papan tulis.
“Silakan keluar.”
Aku membereskan tasku yang ringan dan pergi keluar ruangan kelas tanpa membungkuk.
Sambil menguap aku melangkah menuju toilet. Aku tertidur dari pelajaran pertama, dan yang membangunkanku adalah guru di pelajaran ketiga, ini membuatku merasa kebelet pipis dan sedikit lapar.
Sejenak aku berbelok ke toilet, aku mengurungkan langkahku karena pintu ke ruang ganti sedikit terbuka tidak sengaja kulihat sesosok tubuh tengah berjinjit di pinggir sekat bilik.
“Kyaaa! Ada yang mengintip!”
Begitu suara jejeritan histeris itu terdengar sosok yang dipastikan berjenis kelamin bukan perempuan itu melompat turun dari atas tumpukan kardus lalu lari menuju pintu yang berhubungan dengan toilet perempuan.
“Hai cantik!”
Ia lari terburu-buru, namun masih sempat-sempatnya melempar senyum mesum menjijikkan padaku.
Segerombolan murid perempuan yang tadi sedang ganti baju mulai keluar.
“Kau apa lihat ada laki-laki yang baru keluar dari sini?”
“Tidak tahu, aku baru masuk.”
Aku masuk ke salah satu bilik toilet sebelum mereka lebih berisik lagi.
Aku mencucui tangan dan membasuh wajahku dengan air dari wastafel tepat ketika ponselku bergetar.
“Aku butuh barangnya, kapan kita bisa bertemu?”
Kuketik sebuah alamat dan kukirim pesan balasan.
*
Masih terbalut seragam sekolah, aku menyusuri trotoar jalan. Langit gelap, matahari telah tenggelam beberapa jam yang lalu. Sekolah juga harusnya telah berakhir 2 jam yang lalu. Kuedarkan pandanganku ke sekitar. Jalanan begitu ramai dengan mobil-mobil yang melintas, toko-toko serta cafe dan tempat lainnya begitu disesaki oleh pengunjung. Hiruk pikuk dan aktivitas warga kota masih terasa hingga sekarang. Ramai.
Aku membiarkan kakiku melangkah. Dan di taman hangang lah aku sekarang.
“Bruk.”
Seorang bocah kecil terjatuh tak berdaya setelah menabrak kakiku.
Aku membungkuk karena ia mulai menangis.
“Merepotkan.” Desisku.
“Dimana ibumu?” Aku berjongkok dan membantunya berdiri.
Bocah itu terus menangis.
“Ya!” Anak itu memperkeras tangisannya, kurasa aku membentak di saat yang kurang tepat.
“Hey nona, kenapa kau ini, memarahi anakku sampai menangis!” Ibu itu menggedong anaknya yang sangat cengeng dan melotot sebelum benar-benar pergi.
Aku duduk di bangku taman yang menghadap langsung ke sungai han, airnya begitu suram, gelap dan tenang, tapi pantulan cahaya lampu-lampu entah dari gedung atau, lampu jalan, atau lampu taman membuat sungai itu menjadi bagus.
Aku duduk dalam diam. Mengganti lagu secara acak, hingga berhenti di sebuah lagu yang aku sendiri tak tahu apa judulnya. Paling tidak lagu sedih ini cukup mendukung suasana untuk melamunkan hal-hal sedih.
Membayangkan apa yang tertangkap oleh mataku sekarang, seorang bocah laki-laki di gandeng oleh sepasang pria dan wanita sambil berjalan-jalan, jika terjadi padaku, akan bagaimanakah rasanya?
Apakah jika aku punya ibu, aku akan melawan dan memakinya karena melarangku pergi ke klub malam?
Jika aku punya ayah, apakah ia akan duduk di ruang tamu selama sejam mengintrogasi setiap laki-laki yang datang ke rumah?
Getar ponsel menghentikan lagu yang terputar sejenak.
‘Tempat biasa, aku membawa seorang teman.’
Baiklah, drama tentang gadis yang tak punya orang tua bersambung di sini, kembali bekerja.
*
“Permisi, toilet ada di sebelah mana?”
“Di sebelah sana nona.”
“Terima kasih.” Aku berjalan memasuki bagian dalam cafe menuju toilet, dengan cepat mengganti kemeja dan rok sekolah dengan pakaian yang kubawa dari rumah. Kusumpal begitu saja baju seragam ke dalam tas sambil berjalan keluar, tak sengaja badanku menubruk orang lain.
“Mian.” Ujarku singkat.
“Kau terburu-buru sekali cantik.”
Aku menegakkan kepalaku, Lee Taemin dan wajah bodohnya.
“Kukira kau hanya suka mengintip di toilet perempuan sekolah.”
Aku mendahuluinya.
“Terima kasih toiletnya.”
“Iya, sama-sama.” Tukas kasir cafe itu ramah.
“Silakan datang kembali nona.”
Aku menoleh sekilas padanya. Ia malah mengedip menjijikkan. Muka dua, kepribadian ganda.Hanya karena ia klienku, kalau tidak aku tak sudi dekat-dekat dia.
TBC
p.s: Halo! FF ini ff yang dikerjakan dengan mood, harap maklum kalau nggak ada lanjutannya.
Posted by: seoeunkyung on: 11 January 2012
Title: OMO! Cast: Lee Jinki, Lee Sungyeol, Kim Hyeli Other: Keluarga Kim, Victoria Song, Lee Taemin, some others Rating: PG Length: Series Genre: AU–> genre mengarang bebas , family Poster: Felisa. Gomawo cintah
Part 2b Hyeli dan Sungyeol berjalan beriringan hingga sampai ke kelas, walaupun kata yang disebut berjalan bagi Sungyeol harus disamakan dengan berlari-lari kecil bagi Hyeli. “Ahh, kukira aku akan telat!!” seru Hyeli begitu memutar kenop pintu dan ia tak mendapati seorang pun berdiri atau duduk di belakang meja kebesaran guru. Begitu mendengar suara yang sudah dihafalkannya dengan baik-baik Jinki menoleh dari ponselnya. Sosok gadis yang sejak ia menginjakkan kakinya ke dalam kelas sudah menyita perhatiannya, karena tak biasanya gadis itu belum datang setelah ia sampai ke sekolah. “Harusnya aku yang bilang begitu!” Seru satu suara lain, milik Lee Sungyeol dengan mencibir pada Hyeli. Read the rest of this entry »
Posted by: seoeunkyung on: 26 December 2011
Title: OMO!
Cast: Lee Jinki, Lee Sungyeol, Kim Hyeli
Other: Keluarga Kim, dll.
Rating: PG
Length: Series
Genre: AU, family –> nambah
Yang bisa buat poster, mohon bantuannya supaya foto butut berisi 2 orang ganteng (?) ini bisa dihilangkan dari peredaran. ( ื▿ ืʃƪ)
Part 2a
Pagi yang cukup hangat untuk ukuran pagi di musim dingin. Keluarga Kim bahkan sudah mulai ramai meskipun sekarang baru pukul 5 pagi.
Nyonya besar keluarga ini sudah bangun sejak pukul setengah empat pagi. Tanpa sempat mencuci muka, ia langsung melompat ke dapur dengan mata masih setengah terpejam. Pukul setengah 5 pagi Putri sulungnya Kim Hyeli bangun, jangan pernah berpikir bahwa gadis ini bangun pagi-pagi untuk membantu ibunya. Dengan muka berminyak dan rambut kusut ia melangkah ke ruang tengah, menyalakan lampu dan menghidupkan TV.
Gimme Comment